Pemilik Hati Tuan Mafia
Bab 1 Part (1) Siksaan Ibu Tiri

Gadis itu perlahan mulai menjauh. Tetesan darah mengalir dari kening dan lengannya. Matanya menatap tajam pada tongkat yang baru saja membuatnya terluka, tepat pada bagian wajah itu. Wajah yang akan selalu diingatnya, senyum tipis tersirat dalam bibir dengan goresan luka. “Bahkan, dia bukan manusia!” pekik hatinya. Air matanya mengalir menghujani pipi yang memang sudah basah sedari tadi. Bahkan seluruh tubuhnya basah kuyup. Livia menatap anak tirinya, Belle dengan tatapan tajam dan tangan yang masih memegang erat tongkat yang ujungnya telah di penuhi darah. Lantai sudah ada jejak darah. Namun, hatinya masih belum puas. Kekesalannya masih belum sepenuhnya terlampiaskan. Sejenak ia berpikir, penyiksaan apa lagi yang harus dilakukannya kepada sang anak tiri. Eleird baru saja pulang dari luar kota setelah perjalanan bisnis yang ia lakukan terselesaikan. Di pinggir toko, ia samar melihat sosok putrinya. Eleird membubarkan lamunannya. Bahwa tidak mungkin, anaknya akan makan di pinggir toko dengan raut wajah ketakutan. Eleird hendak memacu mobilnya pergi. Gadis itu berdiri membuang bungkus roti di tempat sampah tak jauh darinya. Eleird memperhatikan dengan seksama, itu benar putrinya. Eleird langsung turun dari mobil dan menghampiri Belle. “Belle!” panggilnya. Betapa terkejutnya Eleird ketika mendapati gadis yang makan di pinggiran itu ternyata benar putrinya, dari istri pertama. Sontak ia berlari memeluk putrinya dengan erat, seketika tangis itu pecah. Seakan banyak hal yang telah terjadi kepadanya, Eleird mengusap air mata Belle dan membawanya masuk ke mobil. Eleird pergi ke seberang jalan untuk membeli air minum, kemudian kembali ke mobil dan memberikannya kepada Belle. “Apa yang terjadi, Nak!” tanyanya. Eleird Meletakkan tangannya di kepala Belle. Belle meminum air yang diberikan Ayahnya, “Shhkk, a-aku lapar ....” Eleird segera menyalakan mobilnya menuju sebuah restoran. Di sana ia membelikan beberapa makanan untuk Belle. Eleird menatap wajah putrinya yang makan dengan lahap, seperti seseorang yang tidak makan beberapa hari. Hatinya terkikis, ingin tahu apa yang terjadi dengan putrinya. “Belle, ada apa?” Eleird bertanya, “kenapa makan di pinggir seperti tadi? Di rumah tidak ada makanan?” Belle kembali menangis dengan tersedu-sedu, ia menceritakan semua yang terjadi kepadanya dan sikap Ibu tirinya. Hanya Ayahnya yang mau mendengarkan keluh kesah dan tangisnya. Mentalnya sangat terguncang dan rahang itu semakin terlihat jelas. Entah berapa lama dia belum makan. Eleird terdiam, setelah putrinya selesai makan ia membayar bill dan beranjak pulang. Tangannya mengepal sudah siap untuk sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, ia malah mendapati istri-putranya Reval sedang asik makan dan tertawa. Mereka tak memikirkan Belle sama sekali. Eleird duduk di sofa meremas dengan erat jaket yang ada di tangannya. Livia membelalak tak percaya ketika Belle pulang bersama Eleird. Namun, ia tetap yakin sepenuhnya jika suaminya akan tetap menyalahkan Belle. Terlebih lagi, Livia telah memberinya anak laki-laki yang siap menjadi penerusnya. Belle dan Reval naik ke kamar mereka masing-masing. Livia mendekati Eleird dan duduk di sampingnya, merangkul tubuh itu dengan lembut. Eleird berdiri, jaket yang ia pegang juga disingkirkan. Tangannya yang sudah panas sedari tadi, menampar pipi kanan istrinya dengan keras. ‘Plakkk’ “Dasar bodoh ... beraninya kau melakukan itu kepada anakku!” teriak Eleird kepada Livia, istrinya. “Apa yang kau lakukan ... kau menamparku?” bentak Livia tak terima. “Sejak awal kita sudah membuat kesepakatan bukan, dan kau juga berjanji akan merawat Belle seperti anakmu. Tapi, mulutmu hanya penuh kebohongan saja!” tegasnya. Sembari mencengkram tangan kanan Livia.

Bab 2 Part (2) Dendam di hati Livia

Reval yang sedari tadi mengintip dari balik pintu kamarnya berlari menghampiri kedua orang tuanya. Ia berusaha melepaskan tangan Ayahnya yang melingkar menahan pembuluh darah Ibunya. “Lepaskan, Ibu tidak bersalah!" suara kecilnya dengan tangisan. Eleird melepaskan cengkramannya, “Ingat ini baik-baik!” tegasnya. Kemudian masuk ke kamar menutup pintu dengan keras. “Ibuuuu ....” lirih Reval memeluk Ibunya. Dendam di hati Livia telah membara, ia bersumpah akan membalas semua ini. Ia memeluk anaknya dengan erat dan matanya mulai memerah, mengeluarkan air mata. Keesokan paginya, Belle turun bersama Ayahnya dengan tas di pundaknya. Bersiap pergi ke sekolah. Ia berjalan di belakang Ayahnya menuju ruang tengah. Livia menatap tajam pada Belle yang berada di balik Eleird, dan kemudian berpaling menyiapkan makanan untuk putranya. Eleird masih belum lupa kejadian semalam, ia langsung menggandeng Belle untuk segera berangkat. Namun, ia tak langsung menuju sekolah Belle, mereka menyempatkan sarapan pagi di Cafe D'Artio yang tak jauh dari rumah mereka. Pemilik cafe mengenal Eleird dan mereka cukup akrab. Suasana pagi cafe yang masih sepi pelanggan itu menjadi hangat. Belle memperhatikan bagaimana pemilik cafe memarahi karyawannya yang datang terlambat. Pemilik cafe itu sangat posesif dan mudah marah, ia memperhatikan setiap hal dengan teliti dan tidak ada yang terlewat. “Nak, mungkin benar waktu itu seharusnya Ayah tidak menikah lagi.” ucap Eleird, “jika ini terjad, datang ke sini dan makan pakai kartu ini.” Belle mengambil kartu yang diberikan Eleird, “Ayah kenapa bekerja jauh sekali?” “Suatu saat, Belle bisa tahu segalanya.” tutur Eleird. Setelah selesai sarapan mereka beranjak pergi, Eleird mengantarkan Belle hingga depan gerbang sekolahnya. Sebelum pergi Eleird juga memberikan putrinya sejumlah uang untuk membeli kebutuhannya. Belle menatap mobil Ayahnya yang kian menjauh. Ia berbalik dan berjalan masuk ke sekolahnya. Di koridor kelas ia bertemu dengan Dahlia, sahabatnya sejak smp. Dahlia memiliki aura positif yang langsung membuat Belle merasa bahagia. Sekejap, Belle melupakan semuanya. Saat akan berjalan masuk ke dalam kelas. Seorang gadis dengan baju berantakan dan permen di mulutnya, sengaja menabrakkan lengannya ke arah Belle. Belle hanya diam memandangi Khaira yang terlebih dahulu masuk ke dalam kelas. Khaira juga temannya sejak masih smp. Dulu mereka sangat akrab dan sikap Khaira tidak seperti ini. Sejak masuk sma dia berubah menjadi liar dan seorang pembully. Guru-guru tidak bisa memberi peringatan, atau untuk sekedar menegur. Ayah Khaira adalah pemegang saham sekolah sebanyak 45% dan bahkan kepala sekolah juga temannya. Belle duduk di bangku bersama Dahlia. Mereka bersiap untuk memulai pelajaran meskipun bel masuk belum berbunyi. “Hey,” panggil Khaira, “kemarin aku pergi ke makam, tiba-tiba saja aku teringat dengan Ibu kalian.” Belle dan Dahlia hanya diam. teriakan itu tertujukan kepada mereka. “Kasian sekali, sahabat yang bernasib sama. Sama-sama tidak punya Ibu.” lanjut Angel. Belle menatap mejanya sendu. Perkataan itu sangat menusuk mentalnya, bahkan Dahlia sudah menangis. Belle menggenggam dengan erat tangan Dahlia. Mencoba menenangkannya meskipun ia sendiri sedang tak karuan. “Ya, memang sangat cocok.” lontar Khaira. Keduanya tertawa, menertawakan kehidupan Belle-Dahlia. Dahlia menundukkan kepalanya, masih memikirkan apa yang Khaira dan Angel katakan. Itu sangat menyakiti hatinya. Terlebih lagi ia masih tak bisa menerima bahwa Ibunya sudah tiada.

Bab 3 Part (3) Bunga yang pergi

Seorang gadis berlari menuju kamar Ibunya, gadis yang berusia 14 tahun itu membuka knop pintu. Ia duduk di sebelah wanita yang sedang terbaring lemah di ranjang. “Ibuuu ... lihatlah apa yang aku dapatkan.” ucapnya dengan bahagia. Memunjukkan piala yang sedang dibawa kepada sang Ibu. Ibunya mengusap kepalanya lembut, “Pintarnya, anak Ibu sudah besar sekarang, sudah bisa mandiri.” “Aku tidak ingin menjadi besar,” Dahlia memurungkan wajahnya, ia tak suka jika harus membahas hal ini. “Kenapa? Bukankah jadi besar itu menyenangkan?” Ibunya membenarkan posisi. Mengangkat dagu anaknya agar bisa memperhatikan wajah itu dengan jelas. Dahlia mengerutkan alisnya, “Jika aku menjadi besar, aku harus berpisah dengan kalian. Aku ingin selamanya bersama kalian.” ungkap Dahlia. Mimpi sederhana seorang anak, hanya ingin bersama kedua orang tuanya. Kata-kata Dahlia membuat Ibunya terdiam. Gadis polos itu masih tak menyadari jika Ibunya sedang sakit parah dan kemungkinan hidupnya tak lama lagi. Dahlia memeluk Ibunya. Memeluk dengan sangat erat seakan ia benar-benar tak mau berpisah, setelah itu beralih meletakkan pialanya di dalam lemari dan keluar dari kamar Ibunya. Berselang empat hari setelah kejadian itu. Kondisi Ibu Dahlia semakin memburuk dan ia harus dilarikan ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Dahlia hanya bisa diam ketika mobil ambulans menjemput Ibunya. Ia menyusul dengan Ayahnya mengikuti ambulans. Mereka sampai di sebuah rumah sakit. Dahlia melihat Ibunya yang terbaring lemah masuk menuju sebuah ruangan yang bertuliskan ICU. Dahlia memandang Ibunya dari balik jendela ruangan, tubuh Ibunya penuh dengan alat bantu. Sekejap matanya mulai buram dipenuhi air mata. “Hey,” Ayahnya menepuk pundak Dahlia. Seakan menyampaikan bahwa semua baik-baik saja. “Apa aku tidak bisa bertemu Ibu lagi?” Dahlia menatap Ayahnya. Berusaha menyingkirkan rasa takut yang membelenggunya dalam kecemasan. “Dahlia sayang dengan Ibu?” tanya Ayahnya. “Sayang, lebih dari apapun.” “Berarti Ibu selalu ada di pikiran Dahlia, benar?” Dahlia mengangguk, dan kembali menatap Ibunya. Mulai mengusap pelupuk matanya dan tersenyum. “Aku sayang Ibu, cepat sembuh dan kita akan pergi jalan-jalan dengan Ayah.” batinnya. Keesokan harinya, Dahlia dengan seragam sekolah berdiri di depan jendela ruangan Ibunya. Dahlia selalu mencium Ibunya sebelum berangkat sekolah. Membawa bekal yang disiapkan oleh Ibunya. Namun, kali ini ia hanya bisa memandang pilu. “Aku akan berangkat sekolah, tapi aku akan kembali dengan cepat. Tunggu aku, Bu!” ucapnya lirih. Ayahnya yang berdiri di belakang hanya bisa berpaling menghapus sendunya. Ia tak tahu harus mengatakan apa kepada putrinya. Dahlia menggenggam tangan Ayahnya, dan mereka segera berangkat ke sekolah. Akan tetapi, sebelum jam pulang. Supir menjemput Dahlia untuk segera pulang. Dahlia berpikir jika Ibunya sudah pulang ke rumah dan sedang menunggunya. Di perjalanan ia sangat senang, bahkan tak henti-hentinya bertanya pada supir. Supir hanya diam tak menanggapi karna ia sendiri masih tak bisa menerima hal ini. Mereka sampai, di depan rumah. Dahlia melihat ada banyak karangan bunga. Ia berjalan masuk ke dalam, mendapati neneknya sudah berada di sofa dengan tatapannya kosong. Saat melihat Dahlia, neneknya langsung berlari memeluk cucunya dan tangisannya pecah. Dahlia mulai merasa sangat takut, tubuhnya membeku. Suara ambulans perlahan mulai terdengar, Dahlia melepaskan pelukan neneknya dan berlari menghampiri ambulans. Dahlia sangat terkejut ketika mendapati para petugas rumah sakit membawa tubuh Ibunya yang sudah terbaring masuk ke dalam. Dahlia tertunduk di dekat Ibunya, tangannya membuka kain yang menutupi wajah Ibunya. Ibunya tidak bangun, meskipun Dahlia telah mencium pipinya, atau sekedar memanggilnya kecil. Tubuhnya sangat dingin. Dahlia menempatkan telinganya di dada Ibunya, ia tak mendengar detak jantung. “Akh! Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin!” Dahlia berteriak. Air mata melesat turun membasahi pipinya, sembari menundukkan kepala di hadapan sang Ibu. “Ibu ... Ibu!” serunya mengguncang tubuh yang tak merespon itu. “Tidak ... ibu bangun!” tangisnya. Dahlia memeluk Ibunya dengan sangat erat, menolak fakta jika Ibunya sudah tiada. Neneknya menarik Dahlia masuk ke dalam kamar, dan menenangkannya agar Ayahnya bisa menyelesaikan proses peristirahatan terakhir. “Dahlia ... dengarkan nenek sayang,” Neneknya berusaha menahan tubuh Dahlia yang terus memberontak. “Lepaskan, Ibu harus bangun!” tolaknya. Dahlia mendengar penjelasan neneknya dan mulai berhenti menangis.

Lanjut baca