Kheil Abraham Leight adalah mimpi buruk bagi Peony Madeline Hart sejak kejadian musim panas sepuluh tahun yang lalu. Peony berharap tak akan lagi bertemu dengan pria yang telah menghancurkan harga dirinya itu. Namun, bagaimana jika takdir berkata lain? Kheil muncul di hadapannya dengan pesona yang semakin sulit untuk diabaikan. Haruskah Peony menampik pesona Kheil? Atau justru Peony harus kembali jatuh untuk kali ke dua saat kenangan kebersamaan mereka muncul satu per satu dalam ingatan? *** Petualangan Cinta Sang Pewaris Leightown Property Siapa yang tidak tahu Leightown Property, salah satu perusahaan real estate terbesar di dunia. Perusahaan itu didirikan berpuluh tahun yang lalu oleh Callum Leight, dan menjadi perusahaan turun temurun keluarga Leight sampai saat ini. Leightown Property semakin berkembang pesat. Terlebih selama lima tahun ini Kheil Abraham Leight menjabat sebagai CEO sekaligus pewaris Leightown Property. Namanya sudah tidak diragukan lagi di dunia bisnis. Tampan, ambisius, dan kaya raya. Itulah gambaran sosok Sang Pewaris. Selain mahir dalam dunia bisnis, Kheil Abraham Leight juga mahir dalam memikat wanita. Kheil Abraham Leight… kembali kedapatan mengundang wanita ke gedung perusahaannya. Setelah petenis cantik Chara Pavin, kali ini artis seksi Mila Jonas terlihat keluar dari gedung raksasa tersebut. Mila Jonas yang menggunakan gaun mini berwarna merah muda cerah, menebar senyum pada media saat ia melangkahkan kaki ke luar dari Leightown Property Tower ( LPT ). Jika foto keduanya disandingkan, banyak yang beranggapan mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Apakah kali ini petualangan cinta Sang Pewaris akan berakhir pada Mila Jonas? Apakah Kheil Abraham Leight akhirnya melepaskan masa lajang yang selama ini ia banggakan di usia dua puluh delapan tahun? Peonye Madeline Hart menghela napas panjang setelah membaca berita panas sebuah majalah yang dibelinya di perjalanan menuju taman kota yang ia datangi saat ini. Matanya tertuju pada sampul majalah yang memperlihatkan seorang pria tampan pemilik bola mata hitam legam dan tatapan tajam yang mampu menusuk ke jantung bagi siapa pun yang melihat. Ini bukan kali pertama CEO Leightown Property itu digosipkan memiliki hubungan romantis. Selama lima bulan Peony kembali ke kota besar ini setelah sepuluh tahun berlalu, mungkin sudah ada lebih dari dua puluh wanita yang digosipkan memiliki hubungan dengan pria itu. Entah itu dari kalangan selebritis, atlet, sampai anak rekan bisnisnya. Gosip itu berembus karena para wanita tersebut kedapatan keluar dari gedung LPT. Banyak yang mengatakan jika di dalam ruang kerjanya, Keil Abraham Leight memiliki tempat khusus untuk bercinta. Karena itu pula Kheil disebut sang petualang cinta. Petualang cinta? Memang sejak kapan Kheil Abraham Leight percaya cinta? Kheil yang Peony kenal adalah pemuda yang tak percaya cinta setelah perceraian kedua orang tuanya. Pemuda itu tak pernah suka dengan kata ‘cinta’ atau hal-hal berbau romantis. Jadi wajar rasanya sampai usia dua puluh delapan tahun, pria itu masih betah melajang. Ah… Peony mengerang di dalam hati. Sepertinya ‘betah melajang’ bukan karena seseorang tak percaya cinta seperti Kheil. Buktinya, Peony yang percaya adanya cinta saja masih ‘betah melajang’ di usianya yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun. Bukan karena tidak ada yang tertarik padanya, tapi karena prinsip kuno yang Peony punya, membuatnya tak pernah bisa dekat dengan para pria yang menginginkan sentuhan sebelum menikah. Di jaman modern seperti ini, amat sangat jarang orang-orang yang memiliki prinsip seperti Peony. Kedua orang tuanya adalah orang yang taat beragama dan kolot. Terlebih mendiang ayahnya. Pria itu selalu menekankan, hanya ada sentuhan setelah pernikahan. Walaupun pria itu sudah pergi untuk selama-lamanya, tapi Peony dan sang ibu tetap menjaga hal itu. Peony menggeleng. Kenapa ia jadi membahas tentang dirinya? Bukankah ini tentang Kheil? Si pria yang tak percaya cinta. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa mengubah prinsip seseorang. Mungkin saja Kheil yang sekarang adalah pria yang percaya pada cinta. Buktinya banyak sekali wanita yang menjadi ‘teman tidur’ pria itu dari gosip yang beredar. ‘Ah… Peony… kenapa kau bodoh sekali?! Jangan samakan kau dan Kheil! Pria itu tak perlu menikah jika hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Bukankah kebanyakan pria dan wanita tak butuh cinta untuk melakukan hal-hal dewasa? Sepertinya Kheil adalah pria yang seperti itu. Lihatlah gosip yang beredar, pria itu seakan tak pernah melewatkan wanita cantik mana pun. Dasar playboy!’ Dengusan kasar keluar dari mulut wanita berwajah bulat serta memiliki bola mata hazel ini. Entah sudah berapa lama ia duduk bawah pohon besar yang saat ini menjadi sandarannya. Coat navy miliknya menjadi alas bokong indah wanita cantik ini. Peony meraba rumput-rumput yang tumbuh indah karena musim semi. Tempat ini sering menjadi tempatnya dan Kheil menghabiskan waktu bersama. Tapi itu dulu… sebelum kejadian musim panas sepuluh tahun yang lalu, yang membuatnya dan Kheil berpisah… Kheil Abraham Leight… Pria itu telah menghancurkan harga dirinya sepuluh tahun yang lalu, dan Peony sangat membenci Kheil. ***
“Halo cacing-cacing nakal, apakah kalian akan terus konser di dalam perutku sebelum aku melempar hujan makanan pada kalian?” seru Peony pada perutnya sendiri yang sejak tadi berbunyi karena lapar. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Kakinya melangkah dengan riang menuju tangga darutan gedung SEASON ME, salah satu perusahaan fashion yang berdiri sejak delapan tahun yang lalu. Peony akan memakan bekal yang ia bawa di rooftop, tempat biasa Peony menghabiskan waktu istirahat selama lima bulan ini. Peony mengedarkan pandangan pada lorong yang disusurinya. Sudah lima bulan ia masuk ke dalam team desainer brand BEAUTIFUL SUMMER yang merupakan salah satu brand yang dimiliki SEASON ME. Sebelumnya, dua tahun lamanya Peony bekerja menjadi desainer di IMS ( It’s My Style ) Clothes yang khusus memproduksi pakaian muda-mudi. Brand itu juga adalah salah satu brand milik SEASON ME yang pemasarannya hanya berada di sebuah kota kecil tempat Peony dan ibunya tinggal selama sepuluh tahun ini. Setelah mendapat dukungan dari teman-temannya di IMS Clothes, perjuangan panjang serta seleksi ketat, Peony berhasil masuk menjadi bagian salah satu brand utama SEASON ME. Hal itu mengharuskannya pindah ke kota besar ini, dan meninggalkan sang ibu di sana. Awalnya Peony merasa berat, karena mereka tidak pernah berpisah sebelumnya. Peony juga khawatir tidak ada yang menjaga sang ibu. Namun Casandra Hart terus meyakinkan anaknya jika wanita itu akan baik-baik saja ditinggalkan Peony. Lagi pula, di kota kecil itu sang ibu memiliki banyak teman. Kegiatannya banyak dihabiskan di gereja setempat. Penduduk di sana pun sangat peduli satu sama lain. Sang ibu juga mengatakan, jangan sampai Peony melewatkan impiannya menjadi desainer brand ternama. Walaupun SEASON ME merupakan perusahaan yang terbilang masih baru, tapi perusahaan tersebut sangat berkembang pesat dari musim ke musim. Bahkan dapat bersaing dengan brand-brand fashion besar yang namanya sudah lebih dulu terkenal di penjuru dunia. Tiba-tiba Peony terkekeh geli. Perasaan geli dan kagum bercampur jadi satu mengingat nama-nama brand yang dimiliki SEASON ME. Sepertinya pemilik saham terbesar sekaligus penggagas ide perusahaan ini sangat menyukai musim di negara mereka. SEASON ME memiliki empat brand pakaian wanita dan satu brand pakaian pria. Brand-brand tersebut dibuat sesuai nama dan jumlah musim yang ada di negara ini. AMAZE SPRING ( AS ), BEAUTIFUL SUMMER ( BS ), CRISTAL SNOW ( CS ), DREAMY AUTUM ( DA ), dan SEASON MEN ( SM ). Setiap pergantian musim, SEASON ME akan mengeluarkan produk baru. Produk-produk baru tersebut dikeluarkan sesuai brand dan musim yang sedang berlangsung. Khusus untuk SEASON MEN, brand tersebut akan selalu mengeluarkan produk baru setiap musim. Hal itu lucu, unik dan briliant menurut Peony. Peony jadi penasaran siapa si pemilik saham terbesar tersebut. Nama dan keberadaannya menjadi rahasia perusahaan. Namun, ada gosip yang beredar jika bos mereka adalah pengusaha terkenal. Ada juga yang mengatakan dia berasal dari kalangan selebritis. Namun tak sedikit juga yang mengatakan jika pemilik utama SEASON ME adalah seorang desainer dunia. Hum… siapa pun orang itu, Peony harus mengacungkan semua jempolnya pada sang bos karena konsep yang sang bos miliki. “Kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu dengan benar?! Kalau kau tidak bisa bekerja, lebih baik kau ajukan saja pengunduran dirimu! Dasar tidak berguna!” Peony menghentikan langkah saat baru saja membuka sedikit pintu tangga darurat. Ia mengurungkan niat untuk masuk, dan memilih mengintip dari celah pintu. Tak jauh di depannya, berdiri seorang wanita berpakaian ketat dan modis sedang membelakanginya. Kedua tangan wanita itu berada di pinggang. Seolah sedang mengintimidasi seseorang di depannya. Peony tidak dapat melihat siapa wanita yang sedang diintimidasi tersebut, karena tertutup oleh tubuh si wanita berpakaian modis yang kalau Peony tidak salah tebak dari perawakan dan suaranya, dia adalah Ella Hardi, salah satu desainer yang berada di tim yang sama dengannya. Sejauh yang Peony tahu selama lima bulan ini, Ella Hardi adalah rekan kerja yang menyebalkan. Wanita itu terkadang bersikap melebihi ketua tim mereka, Daniella Ang. Wanita bermata biru laut dan memiliki rambut pirang itu terlihat sangat angkuh. Beberapa rekan kerjanya bergosip jika keangkuhan yang diperlihatkan Ella Hardi karena ia adalah anak dari salah satu desainer brand ternama di dunia, Michael Hardi. Ella Hardi juga selalu memandang sinis Peony. Apakah ia merasa jika Peony adalah saingannya? Pasalnya, semua desainer BEAUTIFUL SUMMER diberi kesempatan memberikan karya terbaik mereka untuk dipilih menjadi produk utama musim panas tahun ini. Setiap tahun, SEASON ME selalu memberikan kesempatan kepada semua desainer mereka untuk bersaing secara sehat agar desain pakaian yang mereka buat menjadi produk utama perusahaan. Banyak keuntungan yang mereka dapat jika desain mereka terpilih. Siapa desainer yang tidak suka saat rancangan mereka diberikan tempat menjadi sampul katalog perusahaan berikut majalah-majalah mode dunia yang bekerja sama dengan SEASON ME? Bukankah hal itu adalah peluang besar bagi para desainer termasuk Peony? Mereka pasti akan bangga saat desain pakaian mereka terpajang di mana-mana. Apalagi bonus yang didapat dari perusahaan. Tidak bisa dipungkiri jika materi yang didapat dengan bekerja keras, bisa memberikan kebahagiaan tersendiri. “Jangan hanya menunduk! Kau malu karena wajahmu cacat?!” Peony tersadar dari lamunan setelah kembali mendengar suara Ella. Tanpa sadar, Peony meremas kantong bekal yang ia bawa. Kepalanya nyaris berasap karena ucapan Ella. Peony tidak pernah suka pada orang yang suka menghina fisik orang lain. “Kau tahu, bukan, kalau kau berhenti dari sini, tidak akan ada yang mau menerima karyawan cacat sepertimu!” “Apakah kau tidak merasa sudah keterlaluan?” Kedua orang yang berada di bordes tangga darurat tersebut terkesiap saat mendengar suara Peony yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Ella Hardi. Setelah Ella bergeser, Peony akhirnya dapat melihat jika wanita sombong itu sedang mengintimidasi Zora, salah satu tenaga kebersihan di lantai mereka. Wanita itu memiliki tanda lahir besar berwarna merah keunguan di sekitar mata kanan sampai pipi. Mungkin hal itu yang membuat Zora sering menunduk agar wajahnya tak terlihat. “K-kau?” bisik Ella Hardi terkejut. Mata Ella yang melotot saat ini terlihat menyeramkan karena maskara dan eye liner yang dipakainya terlalu tebal. Ah… Peony mendesah. Bukankah penampilan Ella selalu seperti itu? Wanita itu selalu berlebihan dalam menggunakan make-up. “Sebenarnya apa yang ia perbuat, sampai kau berhak menghina fisiknya?” tanya Peony tak suka. “Kau jangan ikut campur urusanku!” bentak Ella sambil menunjuk wajah Peony. “Aku tidak bisa diam saja melihat ketidak adilan di depan mata.” Ella Hardi tertawa meremehkan. “Kau pikir kau polisi?!” “Memang harus menjadi polisi untuk menghentikan tindakan kasarmu itu?” “Aku—” “Apa yang dia perbuat? Apakah kesalahannya fatal? Tidak bisakah dibicarakan baik-baik?” tanya Peony bertubi. Terserah kalau Ella menganggapnya bak pahlawan kesiangan. Peony hanya tidak suka sikap Ella yang dinilainya tak memiliki empati tersebut. Menurut Peony, tanda lahir bukanlah sebuah kecacatan. Lagi pula, kalau pun seandainya Zora cacat, penghinaan Ella bukanlah sesuatu yang layak. Ella diam. Namun matanya menatap Peony nyalang. Sementara Zora masih tetap menunduk. Rambut cokelat terang sebahunya menutupi wajah. Tubuhnya terlihat bergetar. “Dia… menabrakku, sampai membuat pakaianku kusut! Aku tidak suka terlihat seperti gelandangan saat bekerja!” Peony memicing saat kembali mendengar suara Ella. Ia memperhatikan pakaian Ella ‘yang katanya kusut’. Ella memakai dress tanpa lengan berwarna merah terang. Panjang dress tersebut hanya sebatas atas lutut yang dipadukan dengan ikat pinggang modis berwarna hitam. Kernyitan muncul di dahi Peony. Apakah manusia bernama Ella ini memiliki kelainan? Atau dia salah satu orang yang perfeksionis? Peony tidak melihat apa yang dikatakan Ella. Pakaian wanita itu masih terlihat sangat rapi dan kain yang dipakai wanita itu bukanlah kain yang mudah kusut. “Kau mau aku merapikan pakaianmu? Aku bisa bantu—" “Tidak perlu! Aku benci orang sok pahlawan sepertimu!” desis Ella tajam yang tentu saja ditujukan pada Peony. “Dan kau,” Ella menunjuk wajah Zora, “Awas kau!” Setelah mengatakan itu, Ella melangkah menuju pintu. Ia sengaja menabrak bahu Peony saat melewatinya. Wanita angkuh itu berjalan tanpa melihat ke belakang lagi. Peony mendengus sebal. “Bad attitude!” bisik Peony tajam. Peony kembali menatap Zora yang masih setia berdiri di ujung bordes. “Kau tidak makan siang?” tanya Peony membuka pembicaraan. Zora perlahan menaikkan pandangan. Namun masih tetap mempertahankan rambutnya untuk menutupi tanda lahir itu. “Mau temani aku makan?” tanya Peony lagi. Terlihat tubuh Zora menegang. Mungkin tidak menyangka jika Peony mengajaknya. Karena sepertinya Zora tak kunjung menjawab pertanyaannya, Peony melangkah ke arah wanita itu dan segera meraih tangan Zora. Senyum riang muncul dari bibir Peony. “Aku membuat banyak sandwich. Bantu aku menghabiskannya ya.” Setelah mengatakan itu, Peony menarik tangan Zora yang masih terlihat kebingungan. ***
“Makanlah.” Peony meletakkan tempat makannya di atas pangkuan Zora setelah ia mengambil sepotong sandwich yang dibuatnya tadi pagi di apartemen sederhana yang disewa Peony selama berada di kota ini. Peony juga menyodorkan sekotak jus tomat. “Apakah kau suka jus tomat? Maaf aku hanya punya ini.” “Tidak perlu repot-repot, Miss Hart—" “Panggil aku ‘Peony’ saja, Zora, dan tolong jangan menolak makananku. Walaupun ini makanan sederhana, tapi aku jamin sandwich ku adalah salah satu sandwich terenak di dunia,” seru Peony penuh percaya diri. Peony mencondongkan tubuh ke arah Zora yang duduk di sampingnya. Membuat wanita itu refleks memundurkan tubuh sedikit. Rambutnya tetap ia usahakan menutupi wajah. “Aku memakai resep rahasia keluargaku,” bisik Peony. “Kau mau tahu rahasianya?” bisik Peony kembali. Tangannya sudah sibuk memotong kecil sandwich dengan tangan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. “A-apa?” tanya Zora penasaran. “Saat membuatnya, kau wajib tersenyum dengan tulus.” Peony tertawa karena ucapannya sendiri sambil mengunyah sandwich yang sudah berada di dalam mulut. Tak lama, Peony menghentikan tawa karena melihat Zora diam saja. “Ehm… tidak lucu ya? Maaf, kau pasti menganggapku aneh. Aku memang suka bertingkah absurd seperti ini.” Peony terkekeh konyol. “Tapi aku berkata jujur kalau resep rahasia keluargaku memang seperti itu. Kata ibuku, semua makanan akan terasa enak jika dibuat dengan ketulusan.” Zora menyunggingkan senyum tipis. Wanita yang duduk di sampingnya ini memang aneh. Sok kenal dan cerewet. Namun entah mengapa Zora yakin jika Peony akan menjadi teman yang menyenangkan karena semangat yang dimilikinya. Mata Zora dan Peony tak sengaja bertemu. Terlihat Peony tertegun saat melihat wajahnya. Membuat Zora langsung kembali menunduk karena menyangka Peony jijik melihat tanda lahir itu. Seperti kebanyakan orang yang suka merendahkannya. Peony menatap Zora prihatin saat wanita itu kembali menyembunyikan wajah dengan rambut. Sepertinya Zora sangat tidak percaya diri. Padahal menurut Peony, Zora memiliki bola mata biru yang indah. Kulit wajahnya bersih. Bibirnya merah merekah yang Peony yakini bukan karena memakai lipstik. Suara Zora pun terdengar lembut. Mengenai tanda lahir Zora, itu tidak terlihat buruk. Justru terlihat unik dan istimewa. “Apakah si Menor itu sering berbuat kasar padamu?” “S-Si Menor?” Zora mengernyit. Kembali menatap Peony dari balik rambutnya yang menutupi mata. “Maksudku Ella Hardi. Bukankah dandanannya terlalu menor? Aku rasa dia menghabiskan satu kemasan bedak sekali berdandan.” Peony memicing. Lalu tak lama, desahan panjang keluar dari mulutnya. Ia menengadah menghadap langit. “Ampuni aku, Tuhan… Aku tidak bermaksud mengatai wanita itu. Tapi, Tuhan, aku berkata benar, bukan? Dandanan Ella Hardi terlalu berlebihan. Bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik?” tanya Peony bermonolog dengan masih menatap langit. Tawa kecil terdengar dari samping Peony. Segera saja wanita berwajah bulat dengan pipi chubby ini menoleh, dan mendapati Zora sedang tertawa. Peony mengerjap. Menatap wajah Zora yang sepertinya tak sadar jika wajahnya kembali terlihat dengan sempurna. Peony tidak berbohong saat mengatakan Zora memiliki wajah yang cantik. “Senyummu indah sekali, Zora!” pekik Peony heboh. Zora langsung menghentikan tawa, dan kembali menyembunyikan wajahnya dengan rambut. Tubuhnya bergetar seperti ketakutan. “Zora…” Zora terkesiap saat Peony menepuk lembut punggung tangannya. “Ada apa?” tanya Peony cemas. “T-tidak perlu menghiburku, Miss H—” “Pe-Ony!” tegas Peony saat Zora kembali akan memanggilnya dengan formal, “dan kenapa kau menganggap aku menghiburmu?” “K-kau pasti kasihan padaku…” bisik Zora tertekan. Zora tidak percaya ada orang yang memujinya. Selama ini, sejak Zora kecil, Zora sudah didoktrin jika dia memiliki wajah yang buruk rupa karena tanda lahir yang ia punya. “Untuk apa aku kasihan padamu?” “Karena… a-aku buruk rupa—” “Apa yang kau bicarakan?!” Peony meremas sedikit kencang punggung tangan Zora. Dari balik rambut yang menutupi mata, Zora dapat melihat wajah Peony yang kesal. “Apakah karena tanda lahir yang kau miliki?” “Tidak ada yang salah dengan tanda lahirmu, Zora,” lanjut Peony saat Zora hanya dia saja seolah mengiyakan pertanyaan Peony sebelumnya. “Aku tidak sedang menghiburmu.” Zora langsung menatap Peony dengan mata membelalak. Senyum tulus terukir dari bibir Peony. “Aku serius berkata jika senyummu sangat indah. Kau hanya perlu memperlihatkannya pada orang lain tanpa ragu. Dah oh… suaramu lembut. Aku yakin kau pasti pandai bernyanyi,” puji Peony tanpa kebohongan. “Kau… berhak percaya diri, Zora...” ungkap Peony hati-hati sambil menggigit bibir. “Abaikan… ehm… abaikan ucapan kasar Ella Hardi atau orang lain.” “K-kau mengatakannya… karena kau sempurna… A-aku yakin kau tidak pernah… mengalami kesulitan… dalam hidup…” Peony terkekeh mendengar nada miris yang keluar dari mulut Zora. “Aku pernah jadi korban bully,” ucap Peony enteng. Mata Zora membelalak tak percaya. Ia memperhatikan wajah bulat Peony yang terlihat imut dengan pipi chubby yang memerah. Bentuk matanya pun bulat dengan bola mata hazel yang bersinar. Hidungnya mungil. Kulit Peony seputih susu. Rambut panjangnya berwarna merah tembaga. Menandakan jika Peony adalah wanita penuh semangat. Bukankah Peony terlihat sempurna? Apa benar wanita itu pernah jadi korban bully? “Sejak masuk di tahun pertama junior high school, aku tidak punya teman.” “K-kenapa bisa?” Peony tersenyum kecil. Menatap ke depan, tempat di mana ia dapat melihat gedung-gedung tinggi melebihi gedung SEASON ME. “Aku masuk dengan beasiswa di sekolah elite. Rata-rata murid di sana memandangku rendah karena hal itu. Apalagi setelah mereka tahu jika ayahku hanyalah seorang supir. Mereka semakin membenciku karena nilai-nilaiku di atas rata-rata. Mereka beranggapan jika anak tidak mampu sepertiku tidak berhak mendapat nilai bagus. Mungkin karena hal itu, kerap kali mereka menyembunyikan sepatu dan seragamku.” “K-kau… tidak lapor orang… tuamu?” Peony kembali menatap Zora yang langsung menyembunyikan wajahnya. “Aku tidak ingin membuat mendiang ayah dan ibuku bersedih.” “Ayahmu telah tiada?” Peony mengangguk. “Ayahku kecelakaan saat usiaku lima belas tahun.” “Aku… turut prihatin…” ucap Zora tulus. “Terima kasih, Zora.” “Lalu… k-kau tetap bertahan di sekolah itu?” tanya Zora kembali. Zora yang semula terlihat kaku, sepertinya sudah mulai mencair karena obrolan ini. Mata Peony berbinar. “Tentu saja! Aku bertahan sampai masuk senior high school di sekolah yang sama. Dengan nilai-nilai yang aku dapat, beasiswaku tetap berlanjut.” “Apakah kau masih kena bully saat senior high school?” Peony mengangguk. “Kau tetap bertahan… walaupun dibully?” “Aku selalu mengingat ucapan mendiang ayahku. Tidak ada yang punya hak menghancurkan harga dirimu dan Tuhan memberikan keistimewaan bagi setiap orang. Maka aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan melalui otakku yang lumayan encer ini,” canda Peony di akhir kalimat. Helaan napas panjang keluar dari mulut Peony. “Semua orang memiliki masalahnya masing-masing, Zora. Orang yang kau lihat sempurna, belum tentu tidak memiliki masalah hidup.” Zora diam. Merenungi apa yang Peony ucapkan. Sepertinya karena rasa tak percaya dirinya, ditambah bully-an yang didapatnya sejak kecil, membuat Zora merasa jika dia adalah orang yang paling menderita di dunia. “Ehm… mengenai tanda lahirmu… tidak ada yang salah dengan itu semua. Aku melihatnya sangat indah. Aku berkata yang sebenar-benarnya. Kau sempurna, Zora. Kau harus yakin itu. Kau harus menghargai dirimu sendiri, maka kau akan melihat dirimu sempurna.” Zora masih tak dapat mengatakan apa pun. Ia sangat tersentuh dengan apa yang Peony ucapkan. “Zora… Aku tahu kita baru pertama kali berbicara, tapi… bisakah kau menganggapku teman? Dan… jika wanita itu mencoba menyakitimu lagi, kau bisa memberitahuku. Hm?” Zora tertegun. Matanya berkaca-kaca. Baru kali ini ada orang yang memintanya jadi teman. Ini Peony, wanita itu menurut Zora adalah orang asing. Mereka sebelumnya tidak pernah terlibat percakapan apa pun sejak Peony menjadi anggota baru tim BEAUTIFUL SUMMER. Namun lihatlah, Peony lebih peduli dari orang-orang yang sudah dikenalnya sejak lama. Bahkan Peony tak segan-segan menegur Ella Hardi yang notabene bisa dikatakan primadona dan kebanggaan SEASON ME karena desain-desain pakaiannya selalu menjadi produk utama BEAUTIFUL SUMMER selama tiga tahun wanita itu bergabung dengan perusahaan. “T-teman?” bisik Zora bergetar. “Ya. Kau mau kan jadi temanku? Ah… atau kita bersahabat saja?” Zora membelalak tak percaya. Diajak berteman saja dia tidak percaya. Apalagi bersahabat?? “S-sahabat??” Peony mengangguk. “Sudah lama aku tidak punya sahabat.” Zora mengernyit dengan pernyataan Peony yang menurutnya aneh. “Sahabatmu… bekerja di sini?” Peony menggeleng, lalu terkekeh. “Dia tidak bekerja di sini. Kami bersahabat di tahun ke dua senior high school. Dia adalah sahabat pertamaku. Mulutnya pedas, berwajah datar dan mengesalkan! Apa kau tahu? Dia selalu memanggilku ‘Bodoh’!” terang Peony menggebu dengan wajah kesal. Namun tak lama, bibir Peony menyunggingkan senyum lebar. Matanya berbinar. “Tapi dia adalah manusia paling perhatian yang pernah aku kenal. Dia memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan perhatiannya.” Zora dapat melihat jika Peony sangat memuja sahabatnya tersebut. “Jadi, di mana dia sekarang?” tanya Zora ingin tahu. Pasalnya, Peony tadi mengatakan jika dia ‘sudah lama tidak punya sahabat’. Bukankah itu berarti Peony kehilangan sahabatnya itu? Tubuh Peony membeku. Matanya mengerjap beberapa kali. Jantungnya berdetak kencang. Peony menyadari sesuatu. Ya Tuhan… apa dia baru saja memuji Kheil? Peony menutup mata. Memaki diri di dalam hati. Peony bahkan tanda sadar memukul kepalanya sendiri gemas. Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Peony sepertinya harus menggosok lidahnya setelah ini karena pujiannya untuk pria itu. Bukankah Peony membenci Kheil? “P-Peony… Kau… baik-baik saja?” tanya Zora cemas. Apakah dia salah bicara? Jangan-jangan sahabat Peony sudah tidak ada di dunia ini? Peony kembali membuka mata saat mendengar suara Zora. Ia dan Zora saling tatap. “Maafkan aku kalau pertanyaanku salah—” Peony menggeleng dengan senyum yang dipaksakan. Membuat Zora semakin yakin jika apa yang ia pikirkan benar. “Aku… aku…” Peony tak sengaja melirik arloji yang ia pakai. Jam sudah menunjukkan jam makan siang hampir selesai. Sepertinya dia bisa menghindari pertanyaan Zora tentang sahabatnya yang sudah tidak lagi bersahabat dengannya itu. Bukankah hubungan persahabatan mereka telah berakhir sejak pria itu menghilang dari hidupnya? Lagi pula, jika pun Peony mengatakan kalau Kheil pernah menjadi sahabatnya, apakah Zora akan percaya? Sepertinya tidak mungkin. Peony dan Kheil bagaikan langit dan bumi. Lucu sekali, bukan, seorang desainer yang baru merintis karir sepertinya pernah bersahabat dengan pewaris LEIGHTOWN Property? “Ya Tuhan… aku tidak bisa berlama-lama di sini, Zora. Aku harus menyelesaikan sketsa desainku. Deadline tinggal empat hari lagi. Doakan salah satu desainku lolos seleksi menjadi desain utama tahun ini untuk BEAUTIFUL SUMMER ya!” semangat Peony sambil kembali menepuk punggung tangan Zora. Peony turun dengan lincah dari dinding rooftop yang didudukinya dan Zora. “M-makan siangmu?” Zora menyodorkan tempat makan Peony yang masih terdapat tiga potong sandwich. “Habiskan,” ucap Peony singkat. Lalu wanita itu berlalu menuju pintu rooftop. Zora menggigit bibir gugup. Ia menatap punggung Peony yang menjauh dari pandangan. Sepertinya pertanyaannya terlalu lancang. Pasti Peony akan mengurungkan niat untuk berteman dengannya. “Zora…” Zora mengerjap saat Peony membalikkan tubuh setelah sampai di pintu rooftop. “Besok kau harus menemaniku makan siang lagi. Aku akan membuatkan menu rahasia keluargaku yang lain,” seru Peony. Sebelah matanya mengerling genit sambil tertawa riang sebelum wanita muda itu menghilang dari balik pintu. Meninggalkan Zora yang perlahan menyunggingkan senyum. Namun tak lama, senyum itu luntur. Tergantikan dengan tatapan sendu. “Wanita itu terlalu baik… Aku harus bagaimana?” bisik Zora tertekan. ***