“Paman ….!” Clarissa berteriak saat dirinya melihat Bram tergeletak, dalam keadaan dada yang berlumuran darah. Brak ….! Barang bawaan Clarissa jatuh saat dia melihat Bram terluka. Seketika kakinya terasa lema, bahkan dia melangkah mendekati Bram dengan langkah gontai melihat keadaan Bram seperti itu. Dengan deraian air mata Clarissa meraih tangan Bram. “Paman, apa yang terjadi? Mengapa Paman bisa seperti ini? Siapa yang melakukan semua ini, Paman? Katakan kepada Clarissa.” “Pergilah, Clarissa.” Suara Bram terdengar sangat berat menahan sakit di sisa hidupnya. “David Lee telah mengetahui keberadaan kamu.” “Aku tidak mungkin meninggalkan Paman dalam keadaan seperti ini. Kita ke rumah sakit saja Paman, agar Paman bisa sembuh, dan kita lawan David bersama-sama,” ucap Clarissa. Dia tidak bisa meninggalkan Bram begitu saja. Apalagi selama ini yang merawat dia adalah Bram. “Pergilah Clarissa! Pikirkan ayahmu yang saat ini masih setia menunggumu. Jangan pikirkan diriku jika kamu masih menganggapku sebagai seorang paman. Pergilah!” bentak Bram kepada Clarissa. Dia tidak mau jika David Lee mengetahui keberadaan Clarissa. Clarissa menutup matanya sejenak. Antara ingin pergi atau tetap diam di samping Bram. Dia ingin sekali Bram tetap hidup, melawan David bersama-sama. Clarissa menggelengkan kepalanya. Dia tetap ingin menemani Bram, apapun yang terjadi. “Clarissa ... waktuku tidak lama lagi. Biarkanlah orang yang hampir mati ini menjemput ajalnya. Asalkan kamu tetap hidup, dan membalaskan dendamku kepada orang bengis itu,” ucap Bram lemah. Dia sudah kehabisan tenaga untuk berbicara. “Tapi ….” “Pergilah, Clarissa!” bentak Bram memotong perkataan Clarissa. Clarissa mencoba bangkit meninggalkan Bram sendirian di dalam rumah sederhana, yang atapnya hanya terbuat dari tanah liat. Dia menoleh ke belakang melihat keadaan Bram. Air matanya tak henti menetes saat melihat senyum Bram. Clarissa pergi meninggalkan Bram sendirian di rumah yang selama ini menjadi saksi dia berlatih bela diri. Clarissa melangkah, dan terus melangkah tanpa dia tahu kemana arah tujuannya. Bahkan saat ini dia sama sekali tidak membawa uang sepeserpun. Uangnya habis untuk membeli bahan makanan dari supermarket tadi. Clarissa selalu memikirkan Bram. Hingga tanpa sadar dia berhenti di tengah jalan. Clarissa hanya mampu menutup matanya saat sebuah mobil Ferrari hitam akan menabraknya. Namun, saat dia membuka mata, mobil itu berhenti tepat di depan matanya, dengan jarak yang hanya sejengkal. Tidak berapa lama keluarlah seorang pemuda tampan dari dalam mobil tersebut dengan menggunakan pakaian serba hitam, dan kaca mata hitam. Clarissa memperhatikan sosok pemuda tersebut. Dia merasa pernah melihat pemuda itu. Namun, dia lupa di mana dia pernah melihatnya. Perlahan dia mencoba mengingat pemuda yang saat ini berjalan ke arahnya, tetapi tiba-tiba pandangannya menjadi buram berwarna hitam, dan gelap, membuat tubuh Clarissa terjatuh tepat di dekapan pemuda tersebut. Pemuda itu membawa Clarissa ke mansion. “Siapa wanita ini? Kenapa dia ada di tengah jalan?” ucap pemuda yang memiliki nama Leonardo Shu itu. Tiba di mansion, semua pengawal heran melihat bosnya membawa seorang wanita cantik dalam keadaan pingsan. Biasanya, dia tidak pernah peduli kepada seorang wanita. “Maaf, Tuan? Siapa gerangan wanita itu? Kenapa dia bisa anda bawa kemari?” tanya salah satu pelayan yang bekerja di mansion Leonardo. Seketika memancarkan mata elangnya yang tajam, Leonardo menatap salah satu pelayannya yang berani lancang bertanya kepadanya. “Siapa kamu? beraninya kamu menanyakan hal itu kepadaku. Aku adalah bosmu, apa pun yang aku lakukan bukanlah urusanmu!” bentak Leonardo membawa Clarissa ke dalam kamar. Leonardo menatap wajah Clarissa dengan sangat intens. Ada rasa kasihan kepada gadis yang baru saja dia temui itu. Dia merasa gadis itu terlalu banyak pikiran. Sehingga, dia ingin bunuh diri. Leonardo mengambil sebuah minyak kayu putih untuk wanita yang saat ini telah berbaring di atas ranjang. Dia ingin wanita itu segera sadar, dan langsung pergi dari Mansion. Dia tidak mau ada seseorang yang mengganggu hidupnya. Walaupun dia merasa sangat kasihan kepada wanita tersebut. Clarissa mencium aroma yang menurutnya tidak sedap hingga dia terbangun. Matanya tertuju kepada seseorang yang saat ini ada di depannya. Dia langsung terduduk saat ada orang asing menatap wajahnya dingin. “Siapa kamu? Sedang apa kamu di sini?” tanya Clarissa yang tidak sadar saat ini dia sedang di tempat siapa. Kedua sudut bibir Leonardo tertarik mendengar ucapan Clarissa. “Coba kamu perhatikan saat ini kamu sedang berada di mana. Agar kamu tidak asal bicara.” Leonardo menatap wajah Clarissa dengan sangat tajam. Namun, tatapan itu tidak membuat Clarissa takut sama sekali. Dengan santai dia menatap sekelilingnya. “Jadi aku berada di tempatmu? Baiklah aku akan pergi. Minggirlah,” ucap Clarissa berusaha bangkit dari tempat tidur Leonardo. Leonardo mengernyitkan dahi. Dia merasa aneh dengan wanita yang belum dia kenal itu. Wanita itu terlihat santai berhadapan dengannya. Bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. “Kamu mengusirku? Siapa kamu berani mengusir diriku? Apakah kamu tidak takut denganku?” tanya Leonardo kepada Clarissa. “Untuk apa aku takut kepada kamu, Tuan? Sedangkan aku tidak mengenalmu,” ucap Clarissa. Dia pura-pura tidak tahu siapa Leonardo. Namun sebenarnya dia sudah mengingat siapa Leonardo. “Tetap berada di sini atau aku akan membunuhmu!” bentak Leonardo. Entah mengapa dia merasa penasaran dengan Clarissa. Dia merasa Clarissa beda dari wanita yang pernah dia jumpai sebelumnya. Clarissa sedikit heran dengan sikap Leonardo kepadanya. Namun, dia mencoba tidak peduli, setidaknya dia bisa masuk ke dalam geng mafia yang dipimpin oleh Leonardo, jika dia bisa mendekati pemuda itu. Tapi, dia tidak ingin Leonardo curiga. “Saya tidak pernah takut dengan ancaman seseorang, Tuan. Jika aku ingin pergi, maka aku akan tetap pergi,” ucapnya membalas tatapan Leonardo Shu. “Siapa kamu? Kenapa kamu terlihat santai saat seseorang akan membunuhmu!” Leonardo sangat penasaran dengan Clarissa. “Aku adalah gadis biasa yang sudah kehilangan seluruh keluarganya. Jadi, mati adalah hal yang tidak patut ditakuti untukku.” Leonardo berdiri melangkah sedikit menjauh dari Clarissa. Dia mencoba membelakangi Clarissa. “Jadi oleh karena itu, kamu mencoba mengakhiri hidupmu di tengah jalan tadi,” ucap Leonardo menoleh ke arah Clarissa. Clarissa hanya tersenyum simpul mendengarkan ocehan Leonardo. Dia tidak menyangka jika Leonardo berpikir kalau dirinya sengaja berhenti di tengah jalan untuk bunuh diri. Padahal yang sebenarnya dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. “Mungkin apa yang anda katakan itu benar, Tuan. Lalu kenapa anda tidak menabrak aku, tadi? Seharusnya anda tabrak aku. Agar aku bisa menyusul keluargaku.” Clarissa sengaja berpura-pura putus asa di depan Leonardo, agar Leonardo bersimpati kepadanya. Leonardo mendekati Clarissa dengan mata elangnya. Mata itu memancarkan aura pembunuh di hadapan Clarissa. Namun, tetap saja Clarissa terlihat santai di depan Leonardo. Dia ingin tahu apa yang akan Leonardo lakukan kepadanya
Leonardo semakin yakin jika wanita di depannya bukan wanita sembarangan saat melihat ekspresi Clarissa yang biasa saja membuat “Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu tidak merasa takut sama sekali kepadaku?” tanya Leonardo tepat di hadapan Clarissa. Salah satu sudut bibir Clarissa tertarik saat mendengar ucapan Leonardo yang terkesan penasaran kepadanya. “Clarissa.” Clarissa tidak mengatakan apa pun. Dia ingin Leonardo lebih penasaran kepadanya hingga membuat lelaki itu terjerat dalam genggamannya agar dia lebih mudah untuk membalas dendam kepada David Lee,. Clarissa tahu jika Leonardo Shu adalah keponakan dari istri David Lee. Namun, sayangnya Leonardo Shu tidak tau dengan siapa saat ini dia berhadapan. “Apa pekerjaanmu?” tanya Leonardo Shu dengan menatap Clarissa secara intens. Clarissa dengan santai melangkah menuju ke meja yang ada di kamar Leonardo. Dia mencoba mengambil sebuah pisau buah, mulai memainkan pisau tersebut dengan cara melemparkan ke atas berulang kali. “Menurut Tuan apa pekerjaanku?” ucap Clarissa menatap Leonardo dengan menangkap Pisau yang baru saja dia lempar ke atas. “Jangan membuatku semakin penasaran, Nona! Katakan siapa dirimu, dan apa pekerjaanmu?” Leonardo sudah sangat kesal mendengar semua celotehan Clarissa. Dia tidak sabar mendengar jawaban dari Clarissa. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Dia merasa dipermainkan Clarissa. Aura pembunuh semakin melekat di tubuhnya saat Clarissa tidak langsung menjawab pertanyaannya. Clarissa mengambil sebuah apel tanpa izin dari Leonardo. Dia mengupas buah apel tersebut dengan santai. “Jika aku mengatakan semuanya kepada Tuan. Apakah Tuan akan menuruti semua permintaanku?” “Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Atau jangan-jangan kamu ingin menjebakku dengan pura-pura pingsan di depan mobil?” tanya Leonardo. Jika saja Clarissa bukan seorang wanita, mungkin saat ini juga Leonardo akan membunuh Clarissa. Clarissa menggigit apel tersebut, dan menikmati setiap gigitan apel yang masuk ke dalam mulutnya. Sudah lama dia tidak makan buah sampai dia tidak memedulikan ocehan Leonardo. Tentu saja hal itu membuat Leonardo naik tikam. Dia merasa Clarissa tidak tahu diri. “Buang apel itu! Aku tidak mengizinkan mu menyentuh barangku. Apalagi memakan makanan yang ada di kamarku!” bentak Leonardo. Dia mulai habis kesabarannya menghadapi Clarissa. Clarissa menaruh apel tersebut kembali ke wadahnya. Bahkan dia juga memuntahkan apel yang baru saja dia kunyah ke dalam wadah buah. Membuat mata Leonardo melotot. “Apa yang kamu lakukan?!” tanya Leonardo meninggikan suaranya. Dia tidak mengerti akan kelakuan Clarissa yang semakin ruwet. “Bukankah, Tuan memintaku untuk membuang apel ini? Rasanya sayang jika apel ini di buang. Jadi aku taruh di tempat dia berasal. Oh ya, Tuan ingin tahu siapa aku, pekerjaanku sebagai apa? Sekali lagi aku katakan namaku Clarissa. Aku hanya wanita biasa yang belum mempunyai sebuah pekerjaan. Namun kalau aku disuruh membunuh orang, aku masih sanggup, Tuan. Ya ... anggap saja aku adalah pembunuh bayaran.” Sulit bagi Leonardo percaya jika wanita secantik Clarissa adalah seorang pembunuh bayaran. Namun, jika dilihat dari cara dia menghadapi Leonardo yang terkesan santai, membuat Leonardo merasa sedikit yakin dengan apa yang dikatakan Clarissa. Leonardo kembali mendekati Clarissa. Kali ini dia menarik tangan Clarissa pergi dari kamarnya. Dia ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Clarissa. Clarissa hanya mengikuti langkah Leonardo, tanpa ingin memberontak. Dia ingin tahu kemana Leonardo akan membawanya. Semua penghuni di mansion itu manatap Clarissa yang saat ini ditarik tangannya oleh Leonardo. Mereka sangat khawatir dengan gadis yang belum mereka kenal. Karena mereka tahu sifat asli Leonardo. Leonardo melepaskan tangan Clarissa dengan keras hingga Clarissa bersadar di samping mobil. “Masuk!” bentak Leonardo meminta Clarissa untuk masuk ke mobilnya. Namun ,sayangnya Clarissa bukannya menuruti perintah Leonardo, tetapi dia malah bersedekap dada. Seolah-olah menantang Leonardo. “Maaf, Tuan. Aku tidak mau mengikuti semua perintahmu. Jika kamu tidak menuruti permintaanku,” ucap Clarissa dengan santai. “Beraninya kau!” Tangan Leonardo sudah terangkat ingin menampar Clarissa. Tapi, dia urungkan niatnya. Tangannya turun saat dia menatap mata Clarissa yang begitu cantik. Clarissa tersenyum melihat kelemahan Leonardo. “Kenapa tidak jadi, Tuan? Tampar saja jika Tuan mampu menampar saya. Saya bukan wanita lemah yang tidak bisa menghadapi lelaki seperti Anda.” Mendengar celotehan Clarissa membuat Leonardo mendekatkan wajahnya ke wajah Clarissa hampir tidak ada jarak diantara mereka berdua. “Aku akan memberikan kamu pekerjaan setelah kamu ikut denganku,” ucap Leonardo tepat di wajah Clarissa. Sontak, Clarissa mampu merasakan hembusan nafas Leonardo. Clarissa mencoba menahan dirinya saat hembusan nafas Leonardo menyentuh kulit wajahnya. Dia sebisa mungkin mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Leonardo. Tanpa menjawab ucapan Leonardo, Clarissa masuk ke dalam mobil Ferrari milik Leonardo. Dia tidak peduli dibawa pergi ke mana oleh Leonardo, yang jelas dia bisa dekat dengan David Lee melalui bantuan dari Leonardo. Leonardo dan Clarissa turun dari mobil setelah sampai di sebuah gedung berlantai dua, berwarna putih yang terdapat sebuah patung serigala di kedua sisi pintu utama gedung tersebut. Di luar gedung itu banyak penjaga memakai seragam serba hitam dilengkapi dengan senjata api SS-2 yang hanya dimiliki oleh para anggota militer negara. Clarissa hanya melirik, memperhatikan senjata tersebut. Setelah itu dia mengikut langkah Leonardo. Dia sangat berharap bisa masuk ke dalam anggota geng yang saat ini markasnya dia kunjungi. Clarissa yakin ini adalah salah satu geng mafia yang berada dalam naungan David Lee. Bahkan geng mafia yang saat ini dia kunjungi adalah geng paling bawah yang berada dalam naungan David Lee. Semua orang membungkuk saat Leonardo datang. Namun, tidak ada satupun yang dipedulikan Leonardo. Lalu Leonardo Shu bertemu dengan seorang pemuda yang tampan, rambutnya panjang sampai di atas bahu. Pemuda itu berkulit putih, tingginya hampir seratus lima puluhan. Pemuda itu menundukkan kepalanya saat Leonardo mendekatinya, dan saat itu pula Leonardo mengatakan sesuatu ke telinga seorang pemuda yang asing di mata Clarissa. Pemuda itu menatap Clarissa dengan tatapan penuh gairah. Dia menatap Clarissa dari bawah hingga ke atas. Tangan Clarissa mengepal saat pemuda itu menatapnya dengan penuh hina. Andai tidak ada Leonardo, maka detik itu juga Clarissa akan membunuh pemuda itu. “William Zhi,” ucap pemuda yang bernama William dengan mengulurkan tangannya di depan Clarissa. Namun, Clarissa tidak mau membalas uluran tangan William membuat Leonardo tampak heran melihat sikap Clarissa kepada William. “Dia adalah pemimpin di anggota Geng Serigala Putih. Jadi tolong hormati dia,” ucap Leonardo kepada Clarissa. “Aku tidak akan menghormati seseorang yang tidak bisa menghormati seorang wanita,” ucap Clarissa tanpa takut sedikitpun. William Zhi yang awalnya memandang rendah Clarissa menjadi penasaran melihat sikap Clarissa yang terkesan sangat jual mahal. William mulai menurunkan tangannya dan membawa Leonardo beserta Clarissa menuju ke ruangan yang sangat luas. Ruangan itu seperti area pertandingan. Banyak tempat duduk yang berjejer mengelilingi sebuah ring pertandingan. Clarissa melihat lima orang berada di atas Ring. Dia belum tahu pasti apa yang akan terjadi yang jelas dia akan mengikuti semua permainan yang Leonardo berikan kepadanya.
“Kamu lihat kelima orang itu.” Leonardo menatap Clarissa beralih menunjuk ke arah kelima orang tersebut. “Lawan kelima orang itu. Jika kamu menang, kamu akan bergabung dalam anggota geng ini. Namun, jika kamu kalah, kamu akan mati ditanganku,” lanjut Leonardo Shu dengan bersedekap dada. Kedua sudut bibir Clarissa tertarik mendengar semua tawaran Leonardo. Dia melangkah mendekati Leonardo. Bahkan tidak ada jarak diantara mereka saat ini. “Aku pegang kata-kata, Tuan,” ucap Clarissa tepat di telinga Leonardo. Kemudian dia pergi ke arah Ring. Melihat hal itu Leonardo merasa khawatir. Bagaimana seorang wanita tidak punya rasa takut sama sekali? “Tunggu ....!” Leonardo turun dan mendekati Clarissa. Dia menarik tangan Clarissa membuat Clarissa mengernyitkan dahinya. Clarissa mengibaskan tangan Leonardo Shu. “Lepaskan aku, Tuan! Anda yang menginginkan aku untuk melawan kelima orang itu. Namun, kenapa sekarang anda berubah pikiran?” Leonardo menatap mata Clarissa dengan tajam. “Kamu ini wanita. Sadar diri kalau kamu tidak akan mampu melawan mereka!” bentak Leonardo kepada Clarissa. Rasa khawatir yang menyelimuti hati Leonardo membuat Leonardo tidak tega jika Clarissa harus melawan Lima orang yang mempunyai badan besar, kekar dan wajah menakutkan. “Apakah Tuan mulai peduli kepadaku? Bukankah baru saja anda ingin membunuhku?” tanya Clarissa dengan senyum penghinaan di bibirnya. Wajah Leonardo Shu mulai memerah menahan malu mendengar ucapan Clarissa. Hingga dia terpaksa membiarkan Clarissa pergi ke atas Ring untuk melawan lima orang pilihan di anggota Geng Serigala Putih. Dengan menghembuskan nafas panjang Leonardo Shu menatap Clarissa yang hanya satu langkah lagi sampai ke atas Ring. Clarissa menatap kelima orang tersebut. Tidak ada rasa takut sama sekali tersirat di matanya. “Maju kalian semua. Aku lebih suka kalau kalian melawan aku secara bersamaan,” ucap Clarissa menantang kelima orang tersebut. Kontan Leonardo matanya langsung melotot mendengar apa yang Clarissa katakan. Bahkan dia ingin naik ke atas Ring untuk membantu Clarissa. Namun, ditahan oleh William. “Tenang, Tuan. Aku yakin wanitamu mampu melawan mereka semua. Dia tidak terlihat seperti wanita yang lemah, Tuan. Jadi cobalah percaya akan kemampuannya.” Leonardo matanya memerah menatap William. Bahkan kedua tangannya mengangkat kerah baju William. “Kamu tidak tahu kalau wanita itu sudah gila. Jika dia sampai mati bagaimana?! Apa kamu mau tanggung jawab?!” bentak Leonardo. Dia mulai melepaskan kerah baju William saat dia mulai sadar, dan bisa mengendalikan emosinya. “Maaf.” William Zhi merapikan kembali kerah bajunya. “Sepertinya Anda mulai tertarik dengan wanita itu, Tuan.” Leonardo tidak menjawab apa yang dikatakan oleh William. Dia mencoba untuk memalingkan wajahnya dan mantap aksi Clarissa yang sedari tadi tidak pernah melayangkan tinju ke salah satu orang yang saat ini sedang berusaha melawannya. Clarissa hanya menghindari serangan dari lawannya hingga pukulan lawannya mengenai kawan mereka sendiri. Clarissa memanfaatkan tubuhnya yang kecil dan sangat gesit. Membuat Leonardo tersenyum akan tingkah wanita tersebut. Dia yakin jika Clarissa tidak akan membuang-buang tenaganya untuk mengalahkan kelima orang yang saat ini sudah babak belur akibat pukulan dari mereka sendiri. Clarissa sengaja memancing emosi dari kelima orang itu agar orang-orang itu semakin kelelahan untuk melawan Clarissa. Di saat itulah Clarissa baru melawan kelima orang tersebut. Satu persatu dari mereka telah dikalahkan oleh Clarissa membuat mereka semua terkapar, tidak berdaya di atas Ring. Melihat hal itu Leonardo langsung berlari ke arah Clarissa. Awalnya dia ingin memeluk Clarissa. Bahkan dia sudah merentangkan kedua tangannya. Namun, dia urungkan semua niatnya saat menatap mata Clarissa yang terlihat kebingungan akan sikapnya yang berlebihan. Hingga dia hanya menjabat tangan Clarissa. “Selamat atas kemenanganmu. Maaf telah meragukanmu.” Clarissa tersenyum kepada Leonardo. Tak lupa dia membalas jabatan tangan dari Leonardo Shu. “Berarti aku sudah bisa masuk ke dalam geng kalian?” tanya Clarissa tidak sabar lagi bisa diterima kedalam anggota geng yang memang seharusnya dialah yang menjadi pemimpin. Karena Geng Serigala Putih dan Geng Serigala Merah dulu adalah milik ayahnya. Tapi, saat ini kedua geng tersebut dikuasai oleh pamannya, David Lee. “Tentu. Kamu akan menjadi wakil William,” ucap Leonardo Shu dengan yakin. Wajah Clarissa seketika langsung bersinar saat dia mendengar perkataan Leonardo. Dia tidak menyangka jika posisi yang diberikan Leonardo cukup tinggi. Hingga dia semakin yakin jika suatu saat nanti dia mampu membalas pamannya yang serakah itu. ‘Tunggulah pembalasanku David Lee. Ini adalah langkah awalku untuk menghancurkanmu merebut apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku,’ ucap Clarissa dalam hati. Dia masih ingat betul di saat dia berumur 7 tahun. David Lee datang dan menghabisi ibu dan adiknya tepat di depan matanya. Hingga dia harus kehilangan ayahnya yang sampai saat ini masih ditahan oleh David Lee. Tangan Clarissa mengepal hingga kukunya yang tajam menancap ke telapak tangannya. Bahkan tanpa dia sadari telapak tangannya berdarah akibat ulahnya sendiri. “Ayo kita pergi dari sini Clarissa. Kita rayakan hari kemenanganmu,” ucap Leonardo Shu bersemangat. Clarissa hanya diam saja dan mengikuti langkah Leonardo. Tanpa dia sadari bahwa William Zhi melihat tangan Clarissa berdarah. “Tunggu, Tuan! Tangan Nona Clarissa berdarah,” ucap William kepada Leonardo. Kontan Leonardo langsung menghentikan langkahnya, memastikan apa yang baru saja di katakan oleh William. Begitu pula dengan Clarissa. Dia tampak terkejut saat mendengar celotehan dari William. Clarissa mencoba memperhatikan tangannya. Namun, dian tidak mnemukan apa pun, tidak ada yang terluka, tetapi saat dia melihat telapak tangannya, dia baru memyadariadar jika genggaman tangannya yang kuat membuat telapak tangannya berdarah akibat kukunya yang tajam. “Ada apa dengan telapak tanganmu, Clarissa? Mengapa telapak tanganmu berdarah?” tanya Leonardo cemas. Clarissa gelagapan saat dia ingin mengatakan sesuatu. Dia tidak tahu harus berkata apa kepada Leonardo tentang lukanya. “Kenapa kamu diam Clarissa? Ini kenapa?” Leonardo memegang telapak tangan Clarissa. Memperhatikan luka yang ada di telapak tangan Clarissa. Clarissa menarik tangannya. “Tidak, Tuan. Telapak tanganku tidak kenapa-napa. Lebih baik kita pulang. Aku belum makan dari kemarin. Tenagaku habis untuk bertarung tadi.” Clarissa mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Leonardo dan juga William. Dia tidak mau kedua lelaki yang saat ini ada di hadapannya semakin menanyakan perihal telapak tangannya. “Kamu tidak mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?” tanya Leonardo Shu menatap dua bola mata Clarissa yang indah. “Aku tidak suka jika anggota dari salah satu geng yang aku pimpin berusaha menyembunyikan sesuatu dariku,” lanjut Leonardo Shu. Tatapan tajam Leonardo membuat Clarissa sedikit begetar dadanya. Dia takut jika Leonardo akan mengusirnya dari anggota geng tersebut. Dia tidak mau jika dia keluar dari anggota itu. Apalagi langkahnya masih panjang untuk membalaskan dendam keluarganya. “Jawab, Clarissa,” ucap Leonardo pelan. Namun, penuh dengan penekanan.