Langit Jam 4 Sore
Bab 1 Kali Pertama

Divia sedang menunduk, menatap layar ponselnya dengan geram ketika lelaki yang berada di seberang sana mengamati tingkahnya sedari tadi dari balik setirnya. Sudah cukup lama lelaki itu tidak keluar dari dalam mobilnya. Dia hanya duduk seorang diri, kijang putihnya diparkirkan lurus menghadap ke jalan raya, sejajar dengan kendaraan lain yang sedang diparkir juga. Arman baru saja bertemu dengan seorang kenalannya di kedai kopi seberang sana, setelah dua jam membahas rencana proyek baru. Dua hari yang lalu Arman harus merelakan kekasihnya yang menerima lamaran dari lelaki lain. Kini pikirannya masih kacau, masih terasa ngilu setiap kali teringat akan hal itu. Kekasih yang dimilikinya selama tujuh tahun akhirnya pergi begitu saja, dirampas oleh takdir. Gadis manis yang belum juga mendapat taksi di seberang jalan sana, masih tetap berdiri di depan kedai kopi. Wajahnya tampak semakin masam, taksi yang disetopnya sekian kali ternyata membawa penumpang. Awan sudah mulai gelap, hujan pasti akan turun dalam hitungan menit. Sikap jengkelnya malah membuat Arman tertawa sendiri. Akhirnya dia putuskan untuk turun dari kijangnya. Bukan untuk menghampiri Divia, tapi dia ingin kembali masuk ke kedai kopi dan membeli segelas es kapucino untuk menemaninya dalam perjalanan pulang. Arman menunduk saat dirinya melintas di hadapan gadis berambut bob itu. Seolah tak melihatnya sejak tadi, Arman tetap berjalan lurus menuju pintu masuk kedai. Gayanya cool dan terkadang dia merasa dirinya memang tampan. Sepuluh menit kemudian Arman kembali keluar dari kedai sambil menyedot es kapucino di tangan kirinya, sedikit demi sedikit. Sedang di tangan kanannya dia memegang ponsel, matanya menunduk membaca notifikasi email yang baru saja masuk. “Aduh..!!!”, spontan Divia mengaduh kesal. “Aduh maaf.. Maaf ya Mba.”, kali ini Arman benar-benar tidak sengaja telah menabrak tubuh Divia akibat matanya yang terlalu fokus pada layar ponsel. “Untung ngga tumpah tuh kopi. Kalau tumpah…. HUAH!!!” “Iya maaf Mba. Saya beneran ngga sengaja.” Divia hanya menunduk tanpa bicara lagi, tangannya menggoyangkan tali tas hitam yang sejak tadi dijinjingnya. Dia berharap lelaki itu segera enyah dari hadapannya. Namun Arman justru mematung, tak bicara tak bergerak hingga Divia akhirnya mendongak memandang wajahnya. “Sudah sana!” “Hehe. Judes banget Mba. Saya Arman.”, dengan penuh percaya diri Arman malah menyodorkan tangannya mengajak Divia berkenalan. Dengan ekspresi kesal, Divia menyambut tangan Arman, “Divia.”, ucapnya singkat. Divia kembali menunduk namun tetap menyadari sebuah taksi berwarna kuning akan melintas di hadapan mereka. Dia pun buru-buru menyetopnya dan akhirnya berhentilah taksi yang sudah ditunggunya sejak tadi. “Saya duluan ya. Bye..!”, ucap Divia seraya tersenyum pada Arman sembari melangkah masuk ke dalam taksi. Arman balas tersenyum dan melambaikan tangan tanpa sepatah kata membalas salam Divia. Dia terpana oleh senyuman gadis manis itu. Tak disangka di balik wajahnya yang penuh amarah tadi, gadis itu memiliki senyum yang sangat menawan. Sesaat Arman terdiam, dia terhipnotis. Dan baru tersadar ketika petir membelah awan hitam. Buru-buru Arman menyebrang jalan, kembali ke dalam kijang putihnya. “Aduh. Ngga sempet tanya nomer HP.”, gerutu Arman menyesali dirinya yang belum sempat meminta nomor ponsel Divia. Perkenalan yang sangat singkat telah berlalu begitu saja. Seandainya taksi tadi tidak lewat, pasti dirinya masih punya waktu sebentar lagi untuk mengobrol dengan Divia. Hujan turun dengan derasnya berbarengan dengan mesin mobil Arman yang baru dia hidupkan. Arman tertegun sejenak menatap hujan, tapi akhirnya dia bergerak di balik kemudinya menuju pulang ke rumah. Sementara Divia, dalam perjalanannya dia menatapi jatuhnya air hujan yang menetesi kaca jendela taksi. Dia bertopang dagu, mengganjalkan sikunya pada pegangan pintu. Tiba-tiba saja dia teringat pada lelaki yang belum lama tadi berkenalan dengannya. Terbayang senyuman Arman ketika menyodorkan tangan untuk mengajaknya berkenalan. Divia pun menyayangkan perkenalan yang hanya sesingkat itu diantara mereka. **** “Selamat ulang tahun Man..”, Mama dan Papa Arman kompak menyambut kedatangan Arman di balik pintu rumah sambil Mamanya membopong sebuah kue tart cokelat kesukaan Arman. Berhiaskan cahaya lilin merah angka tiga dan nol, Arman pun hati-hati meniup apinya. “Selamat ya Man. Kamu sudah makin dewasa. Semoga sukses.”, dilanjutkan dengan kecupan manis yang mendarat di kening Arman. “Aamiin.. Makasih ya Ma.” “Selamat ya Man. Jadi orang yang lebih baik lagi.”, seraya memeluk Arman. “Makasih Pa..” Mereka hendak memotong kue cantik itu, lantas menghampiri meja tamu yang beberapa langkah terletak di dekat mereka. Arman dan kedua orang tuanya mengambil posisi duduk, hampir  bersamaan pada sofa ungu di ruang tamu rumah mereka. Kedua orang tua yang usianya lebih dari setengah baya itu kini hanya memiliki seorang anak saja. Hanya Arman yang ada, anak kedua mereka yaitu Rafli adik laki-laki Arman telah berpulang saat usianya masih tujuh belas tahun. Rafli menderita leukimia sejak masih bersekolah di kelas satu SMP. Potongan kue pertamanya, diberikan Arman kepada sang Mama. Lalu barulah kue berikutnya dia berikan kepada Papanya. Tangannya masih melanjutkan memotong kue itu, terlintas lagi dalam benaknya andaikan saja saat ini Maya masih berada di sisinya. Sekuat hati Arman kembali menepis pikiran itu. Dia coba tersenyum dan mulai pada suapan pertamanya, dia memakan sendiri sepotong kue tart cokelat yang barusan dipotongnya. Arman berlapang hati, dia nikmati sisa hari itu bersama kedua orang tuanya. **** Divia sampai di rumah ketika Ibu dan kakak perempuannya sedang duduk di atas karpet, membuat beberapa macam kue kering sambil menonton tayangan televisi. Suara nyaring Divia memecah konsentrasi kedua orang itu yang sedang asyik mendengarkan dialog dalam drama sinetron sore yang mereka tonton. “Ibu.. tolong bayarin taksi aku.” “Astaga Ivi. Kebiasaan.”, seraya bangkit perlahan dari duduknya, beliau meletakkan dulu gumpalan adonan kue yang hendak dibentuknya. “Ivi, kebiasaan banget.”, timpal Gema. Kakak Divia yang berusia empat tahun lebih tua darinya. Sedang Divia hanya melengos saja, dia langsung menuju ke dalam kamarnya. Lagi-lagi Ibunya dikerjai untuk membayar taksi yang tadi mengantarnya pulang. “Udah pergi taksinya Bu?”, tanya Gema. “Udah. Adikmu tuh bener-bener. Kebiasaan ngga hilang-hilang. Coba saja, paling alasannya belum ambil duit ke atm.” “Iya. Dia kenapa sih males banget mampir ke atm. Ambil duit sedikit-sedikit bukan sekalian. Habis jajan udah, habis duitnya.” “Ya mungkin biar ngga jajan terus Gem. Kalau pegang duit di tangan kan jadi pingin jajan terus.” “Iya juga sih Bu. Tapi jangan nyusahin orang dong kalau gitu. Harusnya kalau tau mau pergi ya lebihan ambil duitnya. Jadi ngga kayak tadi, main suruh Ibu yang bayar taksinya.” “Udahlah Gem. Ngoceh saja. Ayo fokus lagi ke kue.”, ucap Ibu seraya tersenyum sembari kedua tangannya mulai membentuk lagi adonan kue kering tadi. Kedua pasang mata Ibu dan Gema juga telah kembali tertuju pada layar televisi. Menonton drama sinetron adalah kesukaan mereka berdua, berbeda dengan Divia yang lebih suka menonton drama Korea. Tak terasa adonan kue kering di dalam baskom telah habis. Semua adonan telah selesai dibentuk oleh keterampilan dan kecekatan tangan Ibu serta Gema. Kini mereka sedang menyusun calon kue nastar itu pada loyang-loyang kaleng berbentuk persegi kemudian siap membakarnya di dalam oven tangkring. “Kak Gema!”, seru Divia seraya menyergap tubuh kakaknya dari belakang. “Apa? Ngagetin saja sih. Untung ngga jatuh nih kue.”, kedua tangan Gema sedang sibuk memasukkan loyang ke dalam oven. “Tadi gue kenalan sama cowok ganteeng..”, Divia telah melepas pelukannya dari balik tubuh Gema, dia berdiri di samping kakaknya itu. Bertopang dagu pada meja yang sejajar dengan perutnya. “Hahaha. Basi. Kenalan dimana?”, Gema telah siap mendengarkan celotehan adik tersayangnya itu. “Di depan kedai kopi Bertha.” “Hih, kok bisa?” “Gue kan lagi nunggu taksi di depan situ. Tuh cowok lewat sambil main handphone, gue ditabrak.” “Hahaha. Terus dia ngajak lo kenalan? Modus!” “Hmm.. Bener Kak. Sumpah deh tadi di jalan gue juga ngga habis pikir kayak di film saja ketemunya. Hahaha. Tapi beneran Kak, dia minta maaf terus ngenalin dirinya gitu. Namanya Arman.” “Hahaha. Arman Maulana? Vokalis Gigi.” “Serius Kak.. Namanya Arman. Orangnya tinggi, putih, rambutnya rapi. Wah, pokoknya enak dilihat deh.” “Terus tukeran nomer HP?” “Ngga Kak. Ngga sempet, keburu taksi gue dateng.” “Hahaha. Bagus! Awas lo ya macem-macem kenalan diluar sama cowok ngga jelas.” “Ih Kak Gema.. Dia jelas kok. Jelas gantengnya. Hahaha..” “Bandel lo, gue bilangin Ibu lho..” Divia beranjak dari hadapan Gema sambil tertawa sendiri. Dalam hatinya, dia tahu akan kekhawatiran yang dirasakan sang kakak terhadapnya. Divia dapat merasakan Gema begitu menyayangi serta berusaha menjaga dirinya. Empat bulan lagi Gema akan menikah dan pastinya pindah dari rumah itu. Membayangkan hal itu, kerap kali membuat Divia menjadi sedih. Jam delapan malam, Ayah tiba di rumah. “Wih, Ayah pulang tuh.”, ucap Divia kepada Gema. Mereka sedang duduk berdua di teras lalu melihat Ayah yang membuka pagar dari luar. “Ibu mana?”, tanya Ayah kepada mereka seraya kedua anak perempuannya itu bergiliran cium tangan menyambutnya. “Di dalem lagi nyusun kue ke toples.”, jawab Divia. “Kalian ngga bantu?” “Udah tadi. Ivi tuh yang ngga mau bantu Ibu.”, tukas Gema yang sedikit menyudutkan adiknya. “Ih, apaan sih..”, balas Divia mencoba membela diri. Sedangkan Ayah sudah melangkah masuk ke dalam rumah. “Eh Ayah.”, Ibu langsung menghampiri Ayah saat melihat kedatangan suaminya. “Ini setoran dari Mba Rum. Hari ini toko rame katanya.”, seraya merogoh ke bagian dalam tas kerjanya. “Wah, syukurlah.” Jika Ibu tidak sempat menengok toko, biasanya sepulang kerja Ayah lah yang menyempatkan diri untuk menengok kesana sekalian mengambil setoran hasil penjualan harian toko kue milik Ibu. Disana sudah ada Mba Rum yang dipercaya oleh Ibu untuk mengurus keuangan toko. “Lo ngga jalan Kak? Malem mingguan.” “Ngga. Mas Bimo masih di Surabaya.” “Hmm.. Ngomong-ngomong cowok yang tadi sore itu....” “Kenapa? Nyesel ngga tukeran nomer? Hahaha.” “Hmm.. Udah ah gue mau tidur saja. Daripada galau.”, Divia beranjak meninggalkan Gema yang masih duduk di teras, sedang asyik dengan cemilan di pangkuannya. Di dalam kamar pun, Divia masih gelisah memikirkan lelaki itu. Sosok Arman benar-benar telah menyita pikirannya hari ini. Hingga akhirnya Divia terlelap tidur dalam khayal dan senyum di bibirnya. **** Dua hari berikutnya, Senin telah tiba. Divia berangkat lebih pagi ke kantor. Sedang Gema akan berangkat nanti bersama mobil Ayah. Keduanya akan berangkat sama-sama karena kantor Gema searah dengan kantor Ayah. Hari ini Ibu juga akan pergi ke toko kue. Membawa selusin toples kue kering yang sudah siap dipasarkan di toko mereka. Sesuai agenda kerjanya, siang ini Divia harus bertemu diluar kantor dengan seseorang yang akan mengerjakan desain kemasan produk yang nantinya dipasarkan oleh perusahan tempat Divia bekerja. Divia pun telah berangkat menuju kedai kopi yang mereka sepakati untuk bertemu. Dia seorang gadis yang selalu on time dalam setiap temu janji yang akan dilakukannya. Dia tidak pernah mau membuat orang lain sampai bosan menunggu dirinya datang. Maka itu tak jarang dia datang lebih awal, tidak masalah baginya jika dia yang harus menunggu. Dalam perjalanannya diantar sopir kantor, kedua tangannya masih sibuk mengetik penawaran harga yang sore ini akan diajukannya kepada perusahan lain. Saking seriusnya menghitung, Divia tidak menyadari kalau dirinya telah sampai di kedai kopi tujuannya. “Kok berhenti Pak?”, kedua matanya masih tertuju ke layar laptop dalam pangkuannya. “Saya mau parkir Mba. Bonjour Cafe kan?” Spontan Divia menoleh ke samping kirinya, dan baru menyadari dirinya telah sampai di tujuan. Buru-buru dia save dan close lembar kerjanya. Sambil mematikan laptop dan merapikannya ke dalam tas, mulutnya tetap bersuara. “Sebentar Pak, Saya turun disini saja. Bapak cari parkir.” “Saya ke depan sana ya Mba. Disini penuh.” “Oke, kabarin saja ya!”, seraya membuka pintu mobil dan sigap turun dengan segala benda yang berada dalam pelukannya. Pak sopir pun kembali melaju perlahan mencari area parkir yang masih tersedia. Dengan setengah menunduk, Divia berjalan lurus menuju pintu masuk kedai. Dia tidak tahu kalau kijang putih yang terparkir di sisi kanannya adalah mobil Arman. Setelah memesan kopi dan rotinya, Divia mengambil posisi ke meja yang berada di salah satu sudut ruang kedai. Dia duduk menghadap ke arah meja pemesanan. Tak lama kemudian pesanannya pun telah mendarat di atas meja. Divia menyesap kopi latte hangat favoritnya itu. Pak Yudis telah melangkah memasuki Bonjour Cafe, kedua matanya lihai menangkap keberadaan Divia di sudut sana. Segera dia memesan pula, kopi hitam untuknya kemudian menghampiri Divia yang sedang terfokus pada layar ponselnya. “Siang Mba Div..” “Eh siang Pak.. Saya kira Pak Yudis masih jauh.” “Ah ngga Mba.”, seraya menjatuhkan diri di kursi yang berhadapan dengan Divia. “Sudah pesan kopi?” “Sudah Mba, sudah.. Jadi gimana nih ada berapa kemasan yang mesti Saya kerjain?” Dan selanjutnya mereka pun larut dalam pembicaraan yang memerlukan konsentrasi penuh. Dengan lugasnya Divia menjelaskan setiap detil teori serta gambaran dari desain yang harus dikerjakan oleh Pak Yudis. Begitupun Pak Yudis yang tak kalah fokusnya mendengarkan penjelasan mendetil yang diutarakan Divia. Tentu mereka tidak ingin kalau nantinya sampai ada kesalahan dalam pengerjaan desain kemasan tersebut. Setelah perbincangan kerja siang hari ini dirasa cukup, Divia dan Pak Yudis mengakhiri pertemuan mereka dengan menghabiskan kopi dan makanan ringan mereka masing-masing. Karena masih ada temu janji di tempat lain maka Pak Yudis harus pergi lebih dulu meninggalkan kedai. “Mba, Saya duluan ya. Nanti secepatnya Saya kabari soal desainnya. Mana tahu ada yang kurang-kurang jadi bisa tanya dulu ke Mba.” “Siap Pak, kontek Saya saja. Makasih banyak ya Pak..”, seraya keduanya berjabat tangan. “Sama-sama Mba. Mari..”, Pak Yudis pun bangkit dari kursinya dan mulai melangkah menuju pintu depan kedai. Perlahan Divia merapikan semua benda yang tadi dibawa olehnya. Dengan teliti dia mengecek kembali agar jangan sampai ada yang tertinggal di meja atau di kursi sebelahnya. Yakin sudah siap untuk beranjak, dia berdiri seraya merapikan blazer putih yang dikenakannya hari ini. “Aduh..!!!”, seseorang telah menabrak tubuh langsing Divia dari arah belakang. Dengan jengkel dia membalikkan badannya lantas memandang wajah lelaki yang barusan menabraknya. “Maaf Mba.. Maaf..”, dan keduanya sama-sama terkejut karena adegan dua hari yang lalu di depan kedai kopi Bertha kini terulang kembali. “Hahaha, kamu tuh emang hobi banget ya nabrak orang?”, celoteh Divia dengan nada meledek kepada Arman. Dia sampai lupa kalau kemarin malam dirinya sempat teringat-ingat akan senyuman Arman. “Aduh maaf ya Di.... Di..... ?” “Divia!”, ucap gadis itu cemberut. Menunduk meraih tas laptopnya di atas meja. “Permisi.”, Divia meminta Arman untuk lekas bergeser karena dirinya mau lewat. “Tunggu tunggu.. Kemarin aku lupa. Boleh aku minta nomor kamu?” “Nomor? Nomor rumah? Atau nomor....?” “Nomor HP.”, jawab Arman tegas. Divia terdiam. Dia sedang berpura-pura sok jual mahal. Tingkahnya cukup menguji kesabaran. Dalam hitungan detik akhirnya dia mau bersuara dan menyebutkan nomor ponselnya. Arman sigap mencatat dalam ponselnya. “Udah? Aku boleh pergi sekarang?” “Udah. Makasih ya Divia.”, Arman pun bergeser ke samping memberi jalan untuk Divia. Sementara dirinya sendiri masih mematung memandangi punggung Divia yang perlahan menjauh. Di ujung dekat pintu depan sana, sebelum mendorong pintunya keluar, sempat-sempatnya Divia menoleh kepada Arman seraya melempar senyum. Dia tahu bahwa sejak tadi Arman juga masih memandang kepadanya. Arman tak menyangka Divia melakukan itu, dia kira Divia tidak akan menoleh kepadanya tapi ternyata Divia memang cukup menggoda. Rupanya Arman sudah berada di kedai itu beberapa menit sebelum Divia tiba disana. Karena duduk membelakangi pintu kedai maka Arman tidak melihat Divia masuk setelahnya. Hingga ketika dirinya telah selesai dan hendak keluar dari kedai, dia menabrak Divia yang berdiri di samping meja. Arman adalah seorang manajer proyek konstruksi. Karena  dia tidak menemukan kedai kopi yang menarik di sekitar proyek garapannya kali ini, maka dia memutuskan untuk ngopi di Bonjour Cafe pada jam istirahatnya tadi. Keasyikan memandangi Divia dari jauh, dia sampai lupa kalau dirinya juga hendak pergi dari kedai itu. Dia pun melanjutkan langkahnya namun ketika dirinya sampai di pelataran kedai, Divia baru saja naik ke mobil hitam yang menjemputnya. “Untung Bapak lihat Saya keluar. Baru saja Saya mau telepon.” “Iya Mba. Tadi sempat parkir di samping sana. Nah pas mobil disitu keluar, Saya buru-buru parkir. Jadi Mba ngga kejauhan.” “Kita langsung balik kantor ya Pak.”, ucap Divia memberi komando pada sopir kantornya itu. Lalu dia kembali membuka laptopnya melanjutkan mengetik surat penawaran harga yang tadi belum diselesaikannya. Setengah jam berlalu, Divia baru saja menginjakkan kakinya di lantai dua dan sampai di meja kerjanya. Belum sempat dia meletakkan tas dan semua benda di tangannya, telepon di mejanya berdering. “Halo..” “Kesini sekarang!”, bos Koreanya itu langsung memutus teleponnya tanpa menunggu jawaban Divia. “Ih.. Gue baru sampe..”, dengan nada geram Divia menggerutu. “Hahaha.. Kaciaaann..”, terdengar seorang teman meledeknya dari meja pojok sana. Dengan bersungut-sungut Divia lekas meletakkan semua benda yang sejak tadi dibawa ikut pergi dengannya. Dia bergegas turun untuk menghampiri ruang kerja bosnya di lantai satu. “Sudah ketemu Yudis?” “Sudah Mister. Ada lima produk yang desainnya harus diperbarui. Dua kemasan kopi instan dan tiga untuk bungkus cokelat impor.” “Kapan selesai?” “Kalau dari Pak Yudis sendiri, infonya satu minggu.” “Hmm.. Bagus. Nanti kamu follow up terus perkembangan desainnya ya! Oke.” “Ya Mister. Saya permisi.” Divia beranjak pergi dari ruangan bosnya, masih dengan gerutuannya, “Cuma nanya gitu doang lewat telepon saja bisa kali..” “Kenapa sih Vi, ngedumel saja?”, tanya Pak Lukas yang meja kerjanya dia lintasi untuk menuju tangga ke atas. “Itu Mister Jung, mau nanya desain saja pake manggil segala. Saya kan baru sampe atas, jadi turun lagi.”, Divia menghentikan langkahnya sejenak. “Hahaha, biasa itu. Udah jangan cemberut, nanti jomblo terus lho.” “Hahaha.. Lucu ya Pak..”, seraya melanjutkan langkahnya untuk kembali ke meja kerjanya di atas. Divia langsung membuka laptop dan berniat mencetak surat penawaran harga yang telah rampung diketiknya tadi. Dia menghela nafas setelah membaca nama bosnya di bagian bawah surat itu. Dia baru ingat kalau harus meminta tanda tangan Mr. Jung sebagai persetujuan, sebelum surat tersebut dikirimnya keluar. Berarti dia harus turun sekali lagi menghadap Mr. Jung. Alih-alih menggerutu terus, dia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya yang satu itu. Akhirnya tepat pukul lima sore, Divia telah siap meninggalkan kantor. Dia biasa memesan ojek online yang akan mengantarkannya sampai di rumah. Di tengah kepadatan jalan raya sore ini, motor yang ditumpangi Divia melaju perlahan sedikit tersendat-sendat di sisi kiri jalan. Suatu hal yang biasa bagi Divia, dia tak perlu lagi menggerutui situasi sekelilingnya. Satu jam sepuluh menit Divia berjibaku dengan kemacetan ibukota. Kini dirinya telah tiba di rumah ketika Ayah dan Gema juga belum lama sampai. Ibu yang sedari sore sudah lebih dulu berada di rumah, kini sedang menyusun tampilan makan malam mereka di atas meja makan. Sedang anggota keluarga yang lainnya antri untuk menggunakan kamar mandi. Tak perlu sampai berjam-jam, kini mereka sekeluarga telah duduk bersama di kursi makannya. Siap menikmati makan malam mereka. Sesekali terdengar perbincangan diantara mereka. Namun, kali ini Divia tak banyak bercerita tentang harinya. Dia hanya menimpali satu dua kali cerita yang dituturkan oleh Gema. Dirinya juga hanya menjawab singkat ketika ditanyai sesuatu. Dari meja makan, Divia membopong seluruh peralatan makan yang kotor. Dia hendak mencucinya di wastafel dapur. Meski tampak tersirat lelah di wajahnya, dia tetap menyempatkan diri melakukan pekerjaan rumah. Setelah beres mencuci peralatan makan, dia kembali ke meja makan dan mengelapi meja yang dibalut taplak plastik berwarna abu itu. Ibu dan Ayah masih terlihat duduk bersama di ruang tv, sedangkan Gema belum lama masuk ke kamarnya. Divia pun menyusul, dia melangkah menuju kamarnya sendiri. Ponsel yang tadi diletakkannya di atas meja, segera diraihnya. Dan ternyata ada satu pesan masuk lima belas menit yang lalu. “Hai Divia. Ini nomor aku, Arman. Kamu mau kan simpan nomor aku? Hehe.” Divia tertawa kecil membaca pesan dari lelaki itu. Lantas dia segera membalasnya, “Haha iya aku simpan deh. Tenang saja.” “Ok Div. Btw kamu lagi apa nih?” “Habis makan. Kamu sendiri lagi apa?” “Aku lagi santai saja. Masih ngga nyangka lho, kita bisa ketemu lagi tadi siang.” “Iya. Aneh ya. Aku juga kaget ditabrak lagi sama kamu.” Malam kian larut, keduanya terus berbincang lewat pesan singkat hingga akhirnya Divia ketiduran. Dia tak sempat lagi membaca pesan terakhir Arman. Di kejauhan sana, Arman menunggu pesannya dibalas namun dia tersadar ketika melihat jam di dinding kamarnya. Dia tahu mungkin Divia sudah tidur. Tapi dirinya sendiri belum mengantuk, Arman menggapai gitar akustiknya dan mulai memetiknya dengan irama sendu. Akhirnya sisa malam itu hanya membuatnya kembali teringat pada sosok Maya. Keesokan hari dan seterusnya, Divia dan Arman masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Dengan rutinitas dan kesibukan mereka masing-masing. Namun kini hari-hari mereka sedikit berbeda. Hampir setiap hari keduanya saling bertukar kabar dan berbagi cerita. Meski itu hanya mereka lakukan lewat pesan singkat. Arman sedang berusaha membuka hatinya kembali, dia ingin sembuh dari lukanya yang kemarin. Divia gadis yang menarik dan menyenangkan. Arman cukup terhibur dengan adanya Divia saat ini, meski dirinya sama sekali belum berniat menjadikan Divia sebagai kekasih, menggantikan tempat Maya di hatinya. Bagi Divia sendiri, pertemanannya dengan Arman sangat menarik. Dia begitu menghargai keberadaan Arman dalam mengisi harinya. Divia termasuk gadis yang tidak mudah percaya pada seorang lelaki, di usianya yang ke dua puluh lima ini dia semakin berhati-hati dalam menjalin pertemanan dengan lelaki. Dan entah mengapa dengan Arman, dirinya merasa percaya. Dia percaya bahwa Arman lelaki yang baik.

Bab 2 Perhatian Kakak

Tak terasa kini sudah hampir satu bulan mereka berteman, terkadang rasanya akrab namun tetap masih banyak hal yang belum saling diketahui oleh keduanya. Divia dan Arman sepakat untuk bertemu di kedai kopi Bertha. Tempat dimana mereka berkenalan untuk pertama kalinya tempo hari. Hari ini Divia berpenampilan casual. Karena sebetulnya dia merasa kurang nyaman jika berpenampilan feminim. Lagipula ini bukan kencan, pikirnya. Dia cukup mengenakan celana jeans skinny dengan atasan kemeja longgar beraksen hijau kotak-kotak. Tas selempangnya hanya muat untuk membawa dompet dan ponsel. “Mau kemana Vi?”, tanya Gema seraya memanjangkan lehernya dari sofa, barusan dia sedang bicara di telepon dengan kekasihnya ketika Divia melintas di sampingnya. “Mau tahu saja.. Mau ikut?”, jawab Divia setengah berteriak dan meledek. “Udah bilang Ibu mau pergi?”, Gema bertanya kembali tanpa bangkit meninggalkan sofa panjangnya. “Udah!”, jawab Divia singkat seraya mendorong pintu pagar dan menutupnya kembali dari luar. Diluar pagar sudah tersedia ojek online yang dipesannya beberapa menit lalu dan kini siap mengantarnya ke tempat temu janjinya dengan Arman. Selama berkomunikasi dengan Arman, selama itu juga Divia tidak pernah lagi menceritakan tentangnya pada Gema. Dia hanya ingin kakaknya itu fokus saja pada rencana pernikahannya yang sudah tidak lama lagi. Divia tidak ingin kakaknya terus-terusan mengkhawatirkan dirinya jika tahu dirinya pergi dengan Arman. “Ivi mana Gem?”, suara Ibu terdengar berbarengan dengan suara pintu kamar yang diseret terbuka. “Udah jalan. Katanya udah bilang sama Ibu?” “Iya, udah kok.” “Dia mau kemana sih Bu? Sekarang kalau ditanya ngeluyur saja. Jawab sekena'nya.”, seraya bangkit dari posisi rebahnya di sofa panjang. Gema memberi tempat untuk Ibunya duduk. “Ngopi diluar katanya.”, jawab Ibu datar tanpa memandang kepada Gema. Kedua matanya lebih tertarik melihat ke arah TV di depan mereka. “Dia kan kerjanya di distributor kopi, kenapa ngga bawa pulang saja kopi serenceng, bikin pake es deh di rumah. Hahaha..”, ucap Gema dengan nada meledek. “Hahaha.. Betul juga ya Gem. Biarin lah ngopi diluar mungkin bareng temen-temennya. Udah lah Gem, Ivi kan bukan adik kecilmu lagi. Kamu ngga usah terlalu khawatir lagi sama dia.” “Iya sih Bu. Ngga terasa ya Ivi sudah makin dewasa sekarang. Aku sudah tambah tua dong Bu? Hahaha..” “Iya, kamu tua. Terus Ibu sama Ayah apa?” Obrolan hangat mereka terhenti oleh kehadiran seorang tamu. Dan tamu itu adalah Bimo, kekasih Gema yang juga sebagai calon suaminya. Setelah Bimo bertegur sapa dengan Ibu, Gema mengajaknya kembali ke teras dan berbincang-bincang disana. Sementara Ibu masih lanjut menonton TV sambil bolak balik ke dapur menyiapkan adonan kue yang hendak dibuatnya pada siang menjelang sore itu. Di kejauhan sana, Divia dan Arman duduk berhadapan di kedai kopi Bertha. Ditemani pilihan kopi mereka masing-masing beserta makanan ringan. Mereka memilih duduk di sisi yang paling dekat dengan kaca tembus pandang yang mengarah keluar jalan raya. Beberapa menit yang lalu Arman terkesan dengan penampilan Divia hari ini. Mengingat mundur sebulan yang lalu Divia mengenakan dress cantik selutut kala pertama kali mereka berkenalan. Dan ketika bertemu kedua kalinya di Bonjour Cafe, Divia mengenakan setelan kerjanya. Blazer putih dan celana formal. Hari ini Divia memang tetap menarik untuk dilihat, tapi tetap saja rasanya berbeda. Mungkin, itu juga dikarenakan mereka cukup lama tidak bertemu. Agaknya memang sedikit canggung karena mereka hanya ngopi berdua saja, orang-orang yang memandang kepada mereka pasti mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Namun, keduanya tak kehabisan topik pembicaraan. Mereka banyak membahas hal-hal yang belum pernah mereka bahas lewat perbincangan pesan singkat selama ini. Meski begitu Arman tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang masa lalunya dengan Maya. Divia pun tak pernah sekalipun bertanya kenapa Arman masih belum memiliki kekasih hingga saat ini. Obrolan mereka lebih dominan ke hubungan teman biasa, bukan mengarah kepada layaknya kedua orang yang sedang pendekatan. Arman memantik rokoknya, sedang Divia tak mau kalah. Dia sigap mengeluarkan kotak rokok dan korek gas dari dalam tasnya. Hal itupun membuat Arman tertawa dan mengatakan, “Jiah, rokoknya menthol ya..” “Iya Man.. Udah lama aku pake rokok ini.”, berbarengan dengan dirinya menyalakan sebatang rokok yang sudah bertengger di bibir seksinya. “Eh gimana Man, kerjaan kamu di proyek? Lancar?” “Ya begitulah Div.. Namanya kendala di proyek pasti ada saja, tapi ya.. sebisa mungkin diatasi saja lah gimana caranya. Kamu sendiri, kayaknya sibuk banget ya di kantor. Sering lama bales chat aku. Hehe.” “Haha, ngga begitu sibuk sih Man. Cuma kalau pas kerjaan lagi ditunggu sama si bos ya.. gitulah, aku ngga sempet buka HP.” “Makanya kalau libur gini mesti sering-sering refreshing ya Div. Jalan-jalan, cuci mata, cuci otak. Hahaha..” “Hmm.. Yoi dong. Eh Man, lihat deh.. Awannya bagus banget. Duh.. indahnya..”, ucap Divia penuh kekaguman pada awan sore yang tampak cerah. Dia pun mengarahkan pandangan Arman ke atas sana dari balik jendela di sisi mereka. “Iya Div, cerah ya..” “Iya.. Teduh… banget rasanya. Tahu ngga sih Man, aku tuh paling suka banget sama langit saat jam empat sore gini. Lihatnya bisa bikin hati tenang, tapi kadang juga bikin hati melow. Hehe.” “Oh iya? Hehe. Kamu bisa melow juga Div? Kamu kan judes.” “Hahaha enak saja! Aku kan tetap manusia biasa Man, ada saatnya ngerasa melow.” Beberapa jam telah berlalu. Setelah puas mengobrol dan tertawa bersama, Arman memutuskan untuk mengantar Divia pulang. Tentu Divia sangat senang dan menyambut niat baik Arman itu. Sepanjang perjalanan pun mereka asyik mengobrol namun tiba-tiba saja Divia termangu memandang wajah Arman yang sedang menyetir. Tawa mereka mendadak berganti dengan hening. Hanya terdengar suara dari tape mobil yang sedang memutar lagu Soulmate milik Kahitna. Keheningan yang kian terasa itu membuat Arman tersadar dan menoleh kepada Divia. Pandangan mereka beradu sesaat namun Divia buru-buru menunduk, lalu menoleh ke arah kirinya. Melihat apa saja yang dapat dilihatnya di sebelah kiri jalan. Arman hanya tersenyum sendiri dan kembali fokus pada kemudinya. “Aku langsung ya Div.”, ucap Arman ketika hendak menurunkan Divia persis di depan rumahnya. “Iya. Makasih banyak ya Man. Hati-hati.”, Divia membuka pintu lalu turun perlahan. Dia melambaikan tangan kepada Arman saat kijang putih itu bergerak mundur. Arman akan berputar balik di lahan kosong sebelah sana. Divia masih mengamati dari jauh, dia menunggu hingga Arman telah siap pada arah yang ditujunya. Setelah dilihatnya kian menjauh, barulah Divia masuk ke dalam rumahnya. Berbarengan dengan dirinya yang mendorong pagar, terdengarlah suara Gema. “Udah ngopinya?” “Udah dong.. Eh ada Mas Bimo.” “Wih anak gadis hari Minggu ngopi diluar mulu.”, seraya menerima uluran tangan Divia untuk berjabatan. “Hahaha, jarang kok Mas. Aku masuk dulu ya..” “Oke.”, jawab Bimo sedangkan Gema hanya senyum-senyum saja melihat tingkah adiknya itu. Dia sedang memendam tanya dalam hatinya, “Itu anak pulang naik grab car? Atau dianter siapa?” Gema ingin segera bertanya sekarang juga, tapi dia teringat akan kata-kata yang diucapkan Ibunya tadi. Dia tidak perlu begitu khawatir pada Divia dan dia juga tidak mau membuat Divia kesal karena ditanya-tanya saat dirinya baru saja sampai di rumah. Gema urungkan niatnya bertanya saat itu dan kembali fokus dalam percakapannya dengan Bimo. Masuk ke kamarnya, Divia teringat akan wajah Arman ketika sedang tertawa. Dan ekspresi tawanya yang paling indah adalah saat di perjalanan tadi. Dimana saat itu Divia sampai termangu dibuatnya, terpana terdiam memandangnya. Kini Divia menepis rasa kagum itu, dia bercermin dan berkata pada dirinya sendiri. “Jangan jatuh cinta sama Arman!” Tersisa tanya di benak Arman. Apa yang ada dalam pikiran Divia tadi ketika tiba-tiba saja dia terdiam dan memandang ke wajahnya. Entahlah, Arman tidak menemukan jawabannya selain satu pertanyaan lagi, mungkinkah Divia menyukai dirinya. **** Arman sedang tertawa sendiri menatap ke layar ponselnya ketika Haris, sahabatnya sejak semasa sekolah baru saja tiba di rumahnya. “Man.. Wah, ketawa-ketawa saja lo.”, seraya mendekat kepada Arman yang duduk sendirian di ruang tamu rumahnya sambil memangku gitar akustiknya. “Ah.. Ngga, lagi chattingan saja kok.” “Pacar baru nih?”, Haris menyelidik menggodanya. Arman malah kembali memetik senar gitarnya dengan lembut. Mengiringi obrolannya dengan Haris malam hari ini, “Bukan. Temen doang.” “Ah, pacar juga ngga apa-apa.” “Serius. Lama juga lo ngga kesini. Sombong ah sekarang.” “Sombong apaan sih Man. Kita kan sama-sama sibuk kerja, jarang-jarang gini bisa ketemu.” “Hahaha, iya sih.. Bener juga.” “Awet bener tuh gitar, dari jaman jebot.” “Hahaha yoi dong, terawat lah sama gue.” Dulunya Arman dan Haris mengenyam pendidikan di sekolah SMA yang sama. Sebetulnya masih ada dua orang lagi yang dulu satu geng dengan mereka. Tetapi, dua orang itu tak terdengar lagi kabar beritanya semenjak mereka lulus. Hanya Haris yang hingga kini masih dekat dengan Arman. Setelah lulus, mereka memang kuliah di universitas yang sama, namun dengan fakultas yang berbeda. Arman duduk di fakultas teknik, sedang Haris memilih berada di fakultas hukum. Dua atau tiga kali dalam seminggu mereka pasti tak sengaja bertemu di kampus. Maka itu, tak heran jika komunikasi antara keduanya masih tetap terjaga hingga kini.

Bab 3 Kambuh

Bukan hari Kamis yang manis, tapi hari ini jadi Kamis yang melelahkan bagi Divia. Karena selain harus merampungkan beberapa laporan yang sudah ditunggu oleh Mr. Jung, Divia juga mendadak kedatangan seorang tamu di kantornya. Beliau adalah perwakilan dari perusahaan supermarket yang sudah setuju dengan penawaran harga produk yang sebelumnya pernah diajukan oleh Divia. Karena kebetulan sedang berada di sekitaran kantor Divia, maka Bu Stefy memutuskan untuk mampir saja menemui Divia. Guna membahas kelanjutan kerjasama yang melibatkan kedua perusahaan tempat mereka bekerja. “Sore Mba Divia. Maaf ya Saya mendadak kesini.”, seraya bangkit dari kursi tamu ketika melihat kemunculan Divia. Dengan ramah Bu Stefy mengulurkan tangannya. Divia pun menyambutnya, mereka berjabat tangan, “Ngga apa-apa Bu. Silahkan duduk Bu, silahkan..” Kini keduanya telah duduk berhadapan, dibatasi oleh sebuah meja tamu yang bertaplak cantik. “Iya Mba, Saya tadi habis ketemu orang juga diluar. Pas Saya lihat di google map, kayaknya dekat kesini. Kebetulan penawaran dari Mba Div memang masih Saya bawa di tas, jadi sekalian mampir saja.” “Ngga apa-apa Bu. Memang lebih enak kan kita langsung ngobrol gini.”, timpal Divia diiringi tawa ringan. “Silahkan Bu diminum dulu.”, Divia mempersilahkan Bu Stefy untuk mengambil sebotol teh siap minum yang sudah tersedia sejak tadi di hadapan mereka. Terdapat enam buah botol teh di atas meja tamu yang sengaja dipersiapkan untuk tamu yang datang ke kantor itu. Lantas Bu Stefy mengambilnya sebotol dan perlahan membuka tutupnya, “Saya coba ya Mba..” “Silahkan Bu. Ini masih produk kita juga Bu.” “Oh.. Iya Mba. Ini kan sudah dikenal juga, cuma kadang kita ngga perhatikan tulisan distributornya. Hehe..” Lanjut beliau mengeluarkan sebundel kertas dari dalam tas kerjanya, “Jadi harga segini sudah diskon ya Mba buat kami?”, seraya menunjuk dengan pulpen, angka yang tertera pada kertas tersebut. “Iya Bu, betul. Sudah mentok, ngga bisa turun lagi. Sudah didiskon sama si bos. Malah khusus buat supermarket itu biasanya kami memang kasih pilihan paket Bu. Mau pengambilan yang minimal berapa dus, diskonnya juga beda.” “Hmm.. Iya iya. Kemarin sih Saya sudah sempat bahas dengan atasan Saya. Menurut beliau sih harganya masih masuk lah. Cuma memang, beliau suruh Saya tanya siapa tahu masih bisa turun. Hehehe..” “Hehehe.. Sudah ngga bisa Bu. Benar deh ini harganya sudah paling bagus kok. Saya tiap bikin penawaran juga bolak balik Saya hitung ulang. Biar ngga keliru Bu.” Akhirnya Bu Stefy setuju dengan penawaran harga yang berada di tangannya itu. Karena sebetulnya atasan beliau juga sudah cocok dengan harga yang diberikan oleh Divia. Di penghujung pertemuan Divia dan Bu Stefy sore ini, Bu Stefy mengatakan kalau secepatnya akan mengirimkan PO kepada Divia. Tentu Divia berharap agar ke depannya semua dapat berjalan lancar sehingga perusahaan supermarket tempat Bu Stefy bekerja akan tetap menjadi langganan mereka. Pukul empat sore lebih sepuluh menit, Bu Stefy beranjak meninggalkan kantor Divia. Divia menghela nafas dan kembali ke lantai dua. Meja kerjanya tampak masih berantakan karena tadi dirinya langsung turun saat mendengar kedatangan Bu Stefy. Padahal saat itu Divia sedang menyusun dokumen yang baru selesai difoto copy olehnya. Divia sibuk mencari pulpen kuning berkepala pokemon pemberian Gema. Dengan sangat hati-hati dia mengangkat tumpukan dokumen yang memenuhi meja kerjanya. Siapa tahu pulpen kesayangannya itu bersembunyi di bawah tumpukan kertas itu. Namun dia tidak menemukannya. Dia pun berdiri tengok kanan kiri, menunduk menatapi sekeliling karpet yang dipijaknya. Dia tak juga menemukannya. “Nyari apa Vi?”, tanya Desi yang mejanya tak begitu jauh dari meja Divia. “Pulpen gue. Itu yang kuning. Mana ya..?” “Sstt.. Itu bukan?”, kedua mata Desi mengarahkan Divia kepada jendela di ujung sana. Sejak naik ke lantai dua, Divia sudah melihat keberadaan anak laki-laki bosnya yang berusia delapan tahun. Terkadang anak manis itu memang diajak papanya main ke kantor. Namun Divia tidak sempat menyapanya, karena pikirannya hanya tertuju pada dokumen yang tadi ditinggalnya turun. “Ampun Jung Min.. Jangaaan.. Itu pulpen aku.”, dengan berlarian kecil Divia menghampiri anak laki-laki itu. “Sini, kasih aku pulpennya.”, dengan salah satu tangannya yang dibuka Divia pun merayu anak itu untuk mengembalikan pulpen miliknya. “No!”, anak itu malah berlari menjauhi Divia seraya membawa pulpen itu ke dalam pelukannya. Divia tak sanggup berlari lagi. Dia sudah pasrah, malas rasanya meladeni anak kecil. Dia hanya mampu bersuara dari jauh, “Aunty bilangin papa ya Jung Min kalau nakal.” Baru saja mulut Divia tertutup setelah mengucapkan kalimat tadi, Mr. Jung Wo Jin muncul di ujung tangga lantai dua. Beliau sudah tahu, pasti anaknya membuat onar. “Jung Min, apa itu? Kembalikan!” Dalam sekejap anak itupun mengkerut, dia berjalan lemah ke arah Divia dan mengembalikan pulpen tadi ke tangan Divia. “Ayo, bilang apa?”, ucap Mr. Jung. “Sorry aunty”, seraya menunduk memasang wajah melas. Divia pun tertawa kecil, “ Iya.. Makasih Jung Min.” Jung Min berlalu pergi, mengekor di belakang papanya. Rupanya Mr. Jung naik hanya untuk mengajak anaknya pulang. Desi yang sejak tadi menahan tawanya di depan Mr. Jung akhirnya dapat tertawa lepas. “Bener-bener deh tuh anak.”, ucap Divia geleng-geleng kepala. “Hahaha, dikerjain lo sama bocah.” “Iya ngelama-lamain saja tuh anak. Mana belum kelar susunan dokumen gue.”, Divia telah duduk di kursi kerjanya. Dengan tetap teliti, kedua tangannya sigap menyusun rapi kertas-kertas dokumen yang dianggurinya sedari tadi. Sedang pulpen kuning berkepala pokemon miliknya telah diamankan lebih dulu ke dalam laci. Selesai juga semua tugas yang harus dirampungkannya hari ini. Divia turun beriringan, hanya dengan Desi karena hari ini Murni dan Radit bersama-sama tugas keluar kantor dan kemungkinan urusan mereka diluar sana baru selesai menjelang pukul lima sore. Maka sudah pasti kalau mereka akan langsung pulang ke rumah masing-masing. Setengah perjalanan menuruni anak tangga, Divia mulai merasakan nyeri pada ulu hatinya. Dengan tetap melangkah, Divia tak lantas mengeluh kepada Desi atas apa yang sedang dirasakannya saat ini. Dalam hati dia tahu asam lambungnya naik. Penyakit turunan yang sudah cukup lama tidak datang menghampirinya, sore ini mulai menampakkan keberadaannya lagi. Divia hanya menahannya, dia tampak baik-baik saja dilihat dari luar. Baginya, rasa nyeri di ulu hati dan sakit di bagian perut merupakan sesuatu yang sudah lama menyatu dengan dirinya. Bahkan terkadang Divia sampai harus merasakan sakit di kepalanya saat kondisi lambungnya benar-benar sedang tidak bersahabat. Itu karena semua organ yang ada dalam tubuh manusia memiliki keterkaitan, saling berhubungan satu dengan lainnya. Mereka bekerjasama melakukan tugas dan fungsinya demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Padahal hari ini Divia tidak telat makan siang. Dia tetap mengikuti jam istirahat seperti yang lainnya, meski pikirannya tetap tercurah pada pekerjaan yang dia tinggalkan sementara. Dalam perjalanan pulang dibonceng ojek online, Divia beberapa kali menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri ulu hatinya yang belum juga berkurang. Sesampainya di rumah, Divia langsung masuk ke kamar menuju kotak obat di atas mejanya lantas segera memakan obat asam lambung dengan bantuan air putih dalam botol minum Tupperware yang selalu tersedia di atas meja samping tempat tidurnya. Ibu yang muncul dari arah dapur tampak bingung karena beberapa menit lalu sepertinya beliau mendengar pagar didorong serta pintu rumah yang dibuka. Namun beliau tak melihat siapapun di sekitarnya. Keluarga mereka memang memegang kunci rumah masing-masing. Jadi, meskipun di dalam rumah ada orang, siapapun diantara mereka yang baru datang bisa langsung masuk tanpa menunggu dibukakan pintu dari dalam. Divia keluar dari kamar, masih mengenakan pakaian kerjanya. “Astaga.. Ivi.”, Ibu menepuk-nepuk dadanya melihat kemunculan Divia dari dalam kamar. “Hai Bu. Asam lambung aku naik nih. Makanya pulang langsung makan obat.” “Dari tadi siang sakitnya? Kamu kerja ngga bawa obat?” “Pas mau pulang baru berasa nyeri ulu hatinya. Obat sih selalu aku bawa, cuma tadi udah tanggung. Udah turun nunggu ojek, untung ojeknya juga ngga lama.” “Ya udah habis mandi langsung makan. Tadi siang kamu ngga makan ya jangan-jangan?” “Makan Bu. Ngga telat juga kok.”, jawab Divia datar seraya tangannya masih memegangi bagian ulu hatinya. “Ngopi saja terus!”, dengan sedikit ketus Ibunya mengira-ngira apa yang menjadi sebab kambuhnya penyakit lama Divia itu. “Ih, ngga juga..”, bantah Divia dengan tampang cemberutnya. “Kamu masih ngerokok Vi?”, Ibu menyelidik menajamkan sorot matanya memandang seksama wajah Divia. “Kadang.” “Jangan lagi Vi. Kurangin pelan-pelan.” “Ngga bisa Bu. Lagian kadang-kadang saja kok. Jarang Bu. Seharian di kantor juga ngga bisa ngerokok.” “Waktu kapan tuh, kamu pakai kamar mandi ngga nyalahin eksos fan. Kamu keluar, masih ngebul asapnya. Untung buru-buru Ibu nyalahin eksosnya. Habis itu ngga lama Ayah masuk kamar mandi. Kalau ketahuan Ayah, diomelin deh kamu.” “Hahaha, tapi kan ngga ketahuan Bu.. Aku mandi dulu deh, biar bisa cepat-cepat makan.”, lantas bangkit dari sofa menuju kamar mandi sementara Ibu tampak beranjak menuju teras depan. Ibu sedang menyendokkan nasi ke piringnya sendiri di meja makan ketika Divia baru saja keluar dari kamar mandi. Divia terlihat sangat manis berbalut daster kuning polos selutut, namun wajahnya tampak masih gelisah karena rasa di ulu hatinya yang tidak nyaman. “Ayo Vi. Sini, makan bareng Ibu.” Tanpa menjawab ajakan Ibunya, Divia melangkah menghampiri meja makan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan beliau. “Kak Gema pulang bareng Ayah Bu?” “Iya. Gema mau lembur dulu katanya. Ayah nungguin dia dulu, tadi Ayah telepon kasih tahu Ibu.” “Hmm.. Enak banget Bu sayurnya. Segar.”, seraya mengangguk menanggapi penuturan Ibunya. “Eh masih sakit ngga ulu hatinya?” “Kurangan sih Bu. Ngga nyeri banget kayak tadi.” “Syukurlah. Minum air hangat Vi. Habis makan jangan langsung tidur, santai-santai dulu.” “Siap Nyonya. Yuk kita duduk di teras.”, Divia berpose hormat dan segera bangkit dari kursi makannya. Berharap sang Ibu mengikuti langkahnya menuju teras. Namun belum lama Divia duduk, kedua lengannya mulai diserang pasukan nyamuk. Dia pun segera bangkit dan kembali masuk ke dalam rumah. “Lho kok masuk? Ibu baru mau samperin kamu.” “Ngga jadi ah Bu, nyamuknya lagi banyak tuh. Aku ke kamar ya..” “Hmm.. Ya udah.” Sampai di kamarnya, Divia mengecek ponsel. Ada pesan dari Arman dua puluh menit yang lalu. Dia pun memilih membalas pesan itu sambil rebahan di kasur empuk kesayangannya. “Udah tidur Div?” “Belum Man. Ini baru habis makan. Tadi sore maag aku kambuh.” “Terus sekarang masih sakit ngga?” “Hehe udah kurangan sih. Kamu lagi apa Man? Udah makan malem?” “Belum Div.. Ini aku belum lama sampe rumah. Tadi banyak kerjaan terus macet juga pulangnya.” Dan percakapan mereka lewat pesan pun harus terhenti karena Divia malah ketiduran, masih dengan ponsel yang berada di tangannya.

Lanjut baca