Byurrrr....... Seorang pria langsung terbangun dari tidurnya setelah mendapatkan siraman air tepat di depan wajahnya. Pria itu duduk di atas ranjang dengan nafas yang masih tersengal, sungguh kejadian seperti ini sudah sering kali dia alami. Pranggg...... "Dasar pemalas! Apakah kau tidak bisa bangun tepat waktu hah!" teriak seorang wanita dengan tampang yang sangat menyeramkan. Kedua mata wanita itu hampir saja keluar dari tempatnya karena merasa sangat geram, jujur saja sebenarnya dia tidak pernah menyukai pria yang saat ini menumpang di dalam toko miliknya. "Maaf nyonya! Tapi bukankah waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, kenapa kau membangunkanku sangat cepat?" tanya pria itu yang tak lain adalah Jack. Mendengar perkataan Jack, wanita paruh baya itupun semakin meradang, dia langsung membuang ember yang sedari tadi ada di tangan kanannya. Brakk..... "Berani sekali kau menjawab perkataanku manusia sampah! Dasar tidak tahu malu, kau itu sudah menumpang di toko ku dan aku kasih perkerjaan di toko ku juga, tapi kau masih berani melawan perkataanku! Sekarang juga keluar bekerja, banyak barang barang yang baru masuk, kau harus menurunkan barang barang itu dari atas truk besar. Awas saja kalau kau tidak melakukannya dengan baik, maka jangan harap kau bisa makan satu harian ini." ancam wanita itu kepada Jack. Setelah itu dia langsung melangkah pergi meninggalkan kamar kecil tersebut. Melihat kepergian wanita itu, Jack mengusap dadanya dengan sabar, dan dia mengelap wajahnya yang sudah basah karena siraman air. Sungguh kehidupan Jack sangatlah menyedihkan, setelah seorang kakek yang mengurus dirinya meninggal dunia sejak dirinya berusia 15 tahun, saat itu pula Jack harus membanting tulang untuk kehidupannya sendiri. Pahit getir sudah Jack rasakan, dari cacian dan juga berbagai hinaan juga Jack rasakan, tapi pria yang tidak mempunyai keluarga itu hanya bisa diam dan pasrah tanpa mau melawan. "Sampai kapan aku harus seperti ini, mereka semua benar benar telah menginjak injak harga diriku, apakah memang begini level untuk seorang pria miskin sepertiku!" gumam Jack sambil bersiap siap memakai pakaian lusuhnya. Beberapa saat kemudian Jack pun keluar dari kamar, dan dia langsung melangkah menuju kearah gudang yang ada di samping toko itu. Sesampainya di dalam gudang, Jack membuka pintu gudang agar memudahkan dirinya untuk memasukkan barang barang yang akan dia turunkan dari atas truck. Ada 100 sak semen yang berada di dalam truck itu, dan Jack harus menurunkan semuanya. Sungguh sebenarnya Jack sudah tidak tahan bekerja di toko material yang menjual berbagai bahan bangunan, selain pekerjaanya berat,upah yang dia dapat pun tidak sepadan dengan rasa lelah yang dia rasakan. Ketika Jack hendak naik ke atas mobil truck, tiba tiba Jack dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya. "Apa yang kau lakukan Jack! Kenapa kau sudah bekerja pagi buta begini?" tanya seorang pria tua yang bernama pak Wilson. Jack biasa memanggil pria tersebut dengan sebutan paman, karena Wilson sendiri yang memerintahkannya, sedangkan untuk istri paman Wilson yang bernama Maria, dia memanggilnya dengan sebutan nyonya. Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang memiliki sifat jauh berbeda, jika paman Wilson tampak baik hati, lain halnya dengan nyonya Maria, wanita itu adalah seorang wanita yang kikir, dengki dan juga pelit. "Paman! Aku akan segera bekerja, kebetulan pagi ini sangat cerah, jadi aku memutuskan untuk bekerja saat ini juga." ujar Jack mencoba berbohong. Paman Wilson tidak menerima jawaban dari Jack, diapun langsung menarik tangan Jack agar segera turun dari atas Truck. "Apakah kau kira paman tidak tahu kalau saat ini kau sedang berbohong! Ini semua pasti ulah dari Maria bukan?" tanya paman Wilson menatap tajam. "Tidak paman." "Cukup Jack! Jangan berbohong lagi kepadaku, karena aku sudah tahu jika istriku lah yang telah memerintahkanmu untuk bekerja pagi buta seperti ini. Sekarang ayo turunlah! jangan sampai aku tidak mampu membayar keringatmu Jack," Mendengar perkataan paman Wilson, Jack pun langsung turun dari atas truck, dia lalu mengelap tangannya di baju yang dia kenakan. "Maaf karena istriku tidak bisa bersikap baik kepadamu. Aku juga bingung kenapa dia sangat tidak menyukaimu Jack," "Tidak apa paman, jangan sungkan seperti itu. Aku juga telah biasa diperlakukan kasar oleh Nyonya Maria, lagian aku adalah seorang pria sejati jadi aku tidak boleh baperan paman," "Iya kau benar juga Jack. Seorang pria sejati tidak akan terpengaruh mendengar hinaan yang dilontarkan oleh seorang wanita, lagian hidup itu memang kejam bukan! Kalau kita tidak tahan banting maka kita akan kalah di masa depan," Jack tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh paman Wilson, tidak tahu saja pria itu kalau sebenarnya Jack sudah sangat muak dengan istri dari pria itu, tapi apa mau di kata. Jack tidak tahu harus tinggal di mana jikalau dia pergi dari toko material itu. Tak lama kemudian paman Wilson mengajak Jack untuk masuk kedalam rumah, guna melakukan sarapan pagi sebelum memulai pekerjaan. "Hei kau! Kenapa membawa pria sampah ini masuk kedalam rumah kita! Bukankah aku menyuruhnya untuk bekerja!" teriak nyonya Maria merasa marah. Ketika melihat kedua pria yang sudah berdiri di samping meja makan. Mendengar hal itu paman Wilson mencoba untuk membela Jack. "Apa maksudmu Maria! Apakah kau sudah gila menyuruh Pria ini untuk bekerja pada pukul 6 pagi, bahkan dia belum menyentuh makanan apapun saat ini. Apakah kau mau anak orang mati karena kehabisan tenaga hah!" "Biarkan saja! Aku tidak perduli, lagian dia itu hanya anak haram yang tidak mempunyai orang tua, jadi kalaupun dia mati sudah pasti tidak akan ada yang mencari keberadaannya," Jack yang mendengar perkataan wanita bermulut racun itupun benar-benar merasa geram, apalagi ketika wanita itu mengatai dirinya anak haram, dengan replek Jack pun menumbuk meja makan yang ada di depan mereka bertiga dengan sangat keras. Brakkk… .. "Cukup! Kau benar-benar sudah keterlaluan Nyonya Maria!" teriak Jack tidak terima. Nyonya Maria bersama paman Wilson langsung tersentak ketika mendengar gebrakan yang dilakukan oleh Jack, bahkan karena kelakuannya itu lauk yang ada di atas meja hampir saja tumpah. "Apa yang kau lakukan kepada meja makanku!" teriak Nyonya Maria menjerit histeris. Lalu tatapan matanya mulai menelisik kearah jack dengan sangat tajam. "Kau itu benar-benar sangat menjengkelkan. Dasar pria tidak tahu diri! Tidak punya sopan santun dan juga etika. Pergi kau dari rumahku!" "Baiklah, aku akan pergi dari rumahmu ini, dan aku tidak akan sudi untuk kembali lagi bekerja denganmu. Ingatlah tidak selamanya nasib seseorang berada di atas, dan tidak selamanya juga nasib seseorang berada di bawah, suatu saat nanti kau akan bersujud di bawah kakiku nyonya Maria!" ucap Jack memasang wajah memerah, Sedangkan nyonya Maria langsung tertawa mengejek ketika mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Jack. "Cih! Jangan mimpi manusia sampah! Apa yang kau ucapkan itu tidak akan pernah terjadi,karena selamanya kau akan tetap menjadi seorang pria sampah yang pantas untuk di hina. Sekarang juga keluar dari rumahku, aku tidak sudi melihat kau menginjakkan kaki di tempatku lagi," usir nyonya Maria kepada Jack. Dengan memasang mata penuh dendam Jack pun membuang muka dan membalikkan tubuhnya keluar dari rumah itu. Paman Wilson yang melihat kepergian Jack pun berusaha untuk mencegahnya. "Jack..! Paman mohon jangan pergi dari sini," katanya mencekal tangan Jack.
Mendengar perkataan paman Wilson yang menahan dirinya agar tidak pergi membuat Jack merasa tidak tega, namun lagi lagi perkataan nyonya Maria kembali menusuk kerelung hatinya, bagaikan sebilah pisau yang sangat tajam. Mulut wanita paruh baya itu sungguh sangat beracun, membuat Jack langsung naik pitam. "Jangan halangi dia Wilson! Biarkan sampah busuk seperti dia pergi dari rumah dan juga toko kita,lagian aku tidak sudi kalau tokoku menjadi tempat bagi seorang anak haram," Degghh… .. Jantung Jack serasa berdetak hebat, dan dia langsung menggenggam tangannya dengan geram, hingga membangkitkan urat urat yang ada di buku buku tangan miliknya, Jack yang sudah berdiri membelakangi nyonya Maria pun langsung berbalik arah untuk menatap wanita bermulut racun itu. Dengan wajah memerah menahan amarah Jack bergerak cepat dan mencekik leher wanita yang sudah sangat merendahkan dirinya. "Aakhhhh… .. . !!! " Teriakan terkejut menggenggema di dalam ruangan makan itu, nyonya Maria yang mendapatkan cekikan secara tiba-tiba pun langsung menjerit sebisanya, begitu juga dengan paman Wilson. Dengan cepat dia berlari untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Jack. "Lepas..kan… Aku pria busuk!" maki nyonya Maria terbata bata. Sambil mencoba menahan tangan Jack agar melepaskan cekikikannya. "Jack! Apa yang kau lakukan! Cepat lepaskan Jack! Jangan sampai kau membunuh istriku!" teriak paman Wilson mencoba menarik tangan Jack yang telah mencekik kuat leher nyonya Maria. Namun Jack tidak mendengar perkataan paman Wilson, amarah yang ada di dalam dadanya sudah menguasai otak dan juga menutup penglihatannya, sehingga pria itu tak dapat berfikir jernih. "Wanita bermulut racun seperti dia pantas untuk aku habisi! Aku benar-benar sangat membenci wanita ini! Dia berulang kali menghina dan menginjak injak harga diriku, bahkan dia juga menyebutku sebagai anak haram, apakah dia masih mempunyai otak! Aku sungguh membencimu wanita busuk!" teriak Jack meluapkan kemarahan yang sudah dia pendam sejak lama. "Jack! Paman mohon redakan amarahmu ini, jangan sampai kau menjadi seorang pembunuh Jack! Kasihanilah almarhum kakekmu Jack, dia pasti akan sangat kecewa kepadamu." Mendengar nama kakeknya di sebut, Jack pun langsung mengendorkan cekikan di leher nyonya Maria. Dan hal itu dimanfaatkan nyonya Maria untuk menendang perut jack menggunakan sebelah kakinya. Bukkk "Akhhh…!" teriak Jack merasakan sakit di bagian perutnya. Nyonya Maria memiliki tubuh yang tinggi besar, jadi tentu saja tenaga wanita itu juga tak kalah kuat, setelah itu dia langsung berlari masuk kedalam kamar miliknya, jangan sampai Jack kembali mencekiknya sampai mati. Sedangkan paman Wilson memegang tubuh Jack yang terhuyung kebelakang. Dia menatap wajah pria malang itu yang tampak menyedihkan. "Apakah kau tidak apa apa Jack? Aku mohon kepadamu maafkanlah istriku Jack, aku tahu dia sudah sangat salah kepadamu, tapi kau juga tidak boleh sampai membunuh orang," "Iya paman… ! Maaf juga karena aku sudah khilaf,aku sungguh hampir saja mengecewakan kakek,untung paman telah menyadarkanku," Jack menatap wajah paman Wilson dengan lama, pria itu adalah pria baik yang sudah bersedia menampung dirinya sejak dia berusia 23 tahun. Jack telah bekerja dengan paman Wilson selama lima tahun lamanya, sebenarnya paman Wilson adalah salah satu kerabat jauh dari mendiang kakek Jack, jadi tentu saja mereka berdua mengetahui asal usul Jack yang terbilang tidak jelas, makanya nyonya Maria mengatai Jack anak haram, karena dia tidak mengetahui siapa kedua orang tua Jack sebenarnya. "Aku memaafkanmu Jack, sekarang paman tidak akan melarangmu lagi, kalau kau ingin pergi, pergilah Jack! Paman akan merestuimu," Mendengar perkataan paman Wilson, Jack pun merasa senang,dia langsung memeluk tubuh pria itu itu. Jack sangat mengingat kebaikan yang diberikan oleh paman Wilson,setelah hidup terlunta lunta kesana kemari selama bertahun-tahun, akhirnya paman Wilson mau menerima Jack untuk tinggal di tokonya dan bekerja bersama dirinya, walaupun hal itu di tentang keras oleh nyonya Maria, tapi paman Wilson tidak mundur sedikitpun. Dia tetap mempertahankan Jack agar tetap tinggal bersamanya. Dan detik ini paman Wilson harus merelakan Jack untuk keluar dari rumahnya karena sangat mustahil sang istri mau menerima Jack kembali. "Jack, bawalah uang ini sebagai sangumu di kota nanti. Ingat Jack kau tidak boleh melakukan hal yang bodoh, tetaplah jadi pemuda yang baik, aku tahu kau sudah dewasa saat ini jadi kau pasti mengetahui mana yang baik dan juga buruk," ucap paman WWilson sambil menyerahkan segepok uang di tangan Jack. Melihat uang yang diberikan oleh pamannya, Jack pun merasa tak enak, dia tidak bisa menerima uang yang banyak itu, sedangkan upah yang seharusnya dia dapatkan tidaklah sebanyak itu. "Paman! Uang ini sangat banyak, aku tidak bisa menerimanya paman!" "Paman mohon jangan ditolak Jack, kau pantas mendapatkannya, sekarang kau pergilah, kemasi barang barangmu, sudah saatnya kau menjelajahi kejamnya dunia kembali Jack," kata paman Wilson memerintah Jack. Setelah itu Jackpun berlari menuju ke kamar kecil miliknya, sekarang dia sudah mempunyai modal untuk mengadu nasib di tempat yang lainnya, sudah cukup selama 5 tahun ini dia mengabdi kepada paman Wilson. Hingga beberapa menit kemudian kini Jack telah selesai berkemas dan dia sudah berdiri di depan paman Wilson guna meminta izin. "Aku pergi paman! Dan suatu hari nanti aku akan kembali membawa keberhasilan, aku mohon doakan aku paman," "Pasti Jack, aku akan mendoakanmu," jawab paman Wilson menahan air matanya. Setelah memeluk paman Wilson Jack pun melangkah pergi, tujuannya saat ini adalah menuju ke kota yang lebih besar dari pada kota yang dia tempati saat ini, Jack ingin membuktikan bahwa dia bisa merubah nasibnya sendiri. "Semangat Jack, kau pasti bisa," teriak Jack bersemangat sambil terus berlari mencari truck yang mau menumpangi dirinya. Melihat kepergian Jack, paman Wilson meneteskan air matanya, sebenarnya paman Wilson sedikit mengetahui jati diri Jack yang sebenarnya, tapi dia takut kalau Jack akan mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya. "Maaf Jack! Paman memilih tidak memberitahu rahasia ini, karena paman takut kalau mereka akan menemukanmu dan menghabisimu. Lebih baik kau hidup di dalam kesusahan dari pada harus hidup di tengah-tengah orang orang jahat dan juga licik. Maaf jika setelah kematian kakekmu dulu paman tidak langsung menemuimu, dan malah membiarkanmu hidup terlunta lunta sendirian, itu semua paman lakukan karena paman mengetahui bahwa orang orang itulah yang telah menghabisi kakekmu, dan kakekmu menyuruh paman agar menjauhimu untuk beberapa tahun lamanya, agar mereka tidak curiga kalau kau ternyata masih hidup." gumam paman Wilson sambil mengusap air matanya. Kini paman Wilson sudah mempercayakan semuanya kepada takdir, biarlah takdir Jack yang akan membawa pria itu menuju jalan yang seharusnya.
"Minggir! " ucap seorang pria yang mengusir Jack dari tempat duduk yang dia tempati saat ini. Mendengar perintah itu, Jack pun hanya diam dan berpura pura bodoh. Bagaimana mungkin dia mau menuruti perintah dari pria asing itu sedangkan dirinya harus bersusah payah agar bisa mendapatkan kursi di dalam bus yang mereka tumpangi. Karena sangat kebetulan pagi ini semua kendaraan umum ramai dan penuh sesak oleh penumpang, sehingga untuk mendapatkan kursi harus berjuang keras. Pria asing yang melihat sikap Jack tidak memperdulikan perkataannya pun merasa geram, dan dia kembali berkata dengan keras. "Hei! Apakah tuli! Kau tidak bisa mendengar kalau aku memerintahkan kau untuk minggir, kenapa kau hanya diam saja bodoh!" "Apakah sedari tadi kau berbicara kepadaku?" tanya Jack menatap tajam. Saat ini Jack sudah berada di dalam Bus yang akan mengantarkan dirinya menuju ke kota besar. Di kota besar Jack berencana akan mengadu nasib kembali, semoga saja dirinya dapat berhasil dan menjadi orang yang kaya. Khayalan Jack langsung buyar kala mendengar suara seorang pria yang berteriak kepadanya. Bisa bisanya pria itu bersikap sok berkuasa. Apakah dia tidak tahu kalau Jack harus berdesak desakan agar mendapatkan kursi di dalam Bus tersebut. "Tentu saja aku berbicara kepadamu! Sekarang kau berdiri, karena aku ingin segera duduk di kursi milikmu," "Kenapa harus di kursi milikku! Bukankah masih banyak kursi penumpang yang lainnya? Lagian kau baru saja masuk, jadi tidak usah sok memerintah," jawab Jack tanpa takut sedikitpun. Dan tentu saja jawaban Jack membuat pria itu menjadi marah. Dengan cepat dia langsung menjulurkan tangannya untuk menyerang Jack. "Akhhh! Lepaskan sakit!" teriak pria itu kesakitan. Dan ternyata ketika dia ingin menyerang wajah Jack, dengan gerakan cepat Jack langsung menangkap tangan pria itu dan memutarnya kearah belakang. "Sakit katamu! Makannya kau jangan sok hebat! Ingat dengan kehebatan yang kau miliki, masih ada yang lebih hebat lagi dari pada kekuatanmu itu. Aku akan melepaskanmu asalkan kau berhenti membuat keributan di dalam Bus ini, karena jika tidak maka jangan salahkan aku kalau aku akan menendangmu keluar dari Bus," ancam Jack kepada pria itu. Orang orang yang berada di dalam Bus menatap ngeri kearah Jack, mereka sudah bisa menebak jika pria berpakaian lusuh dan memiliki brewok di wajahnya itu pasti bukanlah pria sembarangan. Mereka semua sempat berpikir kalau Jack adalah seorang penjahat atupun berandalan. "Ampun! Aku mohon lepaskan, aku janji tidak akan mencari keributan lagi." Pria itu tampak memelas kepada Jack. Setelah itu Jack mendorong tubuh pria itu hingga dia terhempas di atas lantai Bus, setelahnya pria itu langsung bangkit berlari menuju ke arah kamar mandi Bus sambil menahan rasa sakit di tangan kanannya. "Dasar pria gila! Kenapa juga aku mengganggu seekor singa! Aku kira dia hanya seorang pria miskin yang bodoh, tapi ternyata aku sudah salah menerka," gumam pria itu yang sudah berada di dalam kamar mandi Bus. Sedangkan Jack, dia kembali duduk dengan santai, sambil berkhayal akan nasib yang sebentar lagi berubah di kota besar, dia pun kembali memejamkan kedua matanya menikmati perjalanan yang masih memakan dua jam lagi. Hingga tak terasa kini Jack sudah tiba di terminal yang ada di kota besar, setelah turun dari Bus Jack langsung menghirup udara yang hampir menjelang malam. Terasa segar dengan angin yang berhembus menerpa wajah brewoknya, sebenarnya penampilan Jack memang terlihat menyeramkan, karena dirinya sangat jarang memperdulikan penampilan. Dan ketika Jack mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan terminal Bus tersebut, tanpa sengaja dirinya malah bertabrakan dengan seorang pria yang tadi sempat mengancam Jack di dalam Bus. Brukkkk… "Apakah kau tidak punya mata hah!" teriak pria itu yang sudah tersungkur kebawah. Sepertinya pria itu tidak menyadari kalau orang yang dia tabrak adalah Jack, seorang pria yang dia takuti. "Apakah kau bisa bangkit sendiri! ulurkan tanganmu, aku akan membantumu," Jack telah mengulurkan tangannya di depan pria yang masih menunduk membersihkan lututnya, hingga tak lama pria itu menerima uluran tangan Jack dan bangkit dari berlututnya sambil terus mengomel. "Nah begitu! Kalau sudah salah kau harus membantu orang yang telah kau tabrak, dan sekarang minta maaf kepadaku," ucap pria itu sambil mendongakkan wajahnya menatap Jack. Dan betapa terkejutnya pria itu ketika menyadari kalau yang dia tabrak adalah pria yang sempat mengancam dirinya ketika berada di dalam Bus. "Kau! " "Kenapa! Maaf karena sudah menabrakmu," "Iya, tidak masalah, aku harus pergi!," ucapnya langsung berniat melarikan diri. Namun ketika dia ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba tubuhnya malah tidak bisa digerakkan karena tertahan oleh seseorang. "Kenapa aku tidak bisa kabur!" ucapnya histeris. "Karena aku sudah menarik tas ransel milikmu," "Apa! " "Lepaskan, ayo lepaskan! Aku tidak mau berurusan denganmu lagi, kau pasti adalah seorang penjahat," "Hei! Tenang lah, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin mengajakmu untuk berteman," jawab Jack merasa malu karena saat ini semua mata telah tertuju menatap kearah mereka berdua. Setelah itu Jack pun berinisiatif untuk menarik pria asing itu menuju ke dalam toilet yang ada di termina. Saat ini dia membutuhkan seorang teman karena dia tidak mengenal wilayah di kota besar. "Aku mohon lepaskan aku tuan! Aku janji tidak akan mengganggumu lagi," "Baiklah, tapi kita perlu bicara, jadi kalau kau tidak mau aku berbuat kasar, maka tutup mulutmu rapat rapat, aku hanya ingin mengajakmu berteman,"ancam Jack sambil menarik tangan pria itu dengan paksa. Hingga setibanya di dalam toilet pria, Jack langsung menyudutkan pria itu di sudut dinding. " Perkenalkan, namaku adalah Jack! Aku adalah orang baru di kota besar ini, dan aku sangat membutuhkan seorang teman, jadi aku ingin kalau kau menjadi temanku. Aku janji tidak akan menyakitimu, tapi setidaknya kau bisa memberitahuku tentang wilayah di sini bukan?" tanya Jack dengan tatapan yang tajam. Pria itu meneguk ludahnya kasar, sambil memperhatikan wajah Jack yang memiliki brewok di bagian rahangnya. Pria itu persis seperti seorang mafia yang terlihat miskin karena pakaian yang Jack kenakan tampak kumal dan juga jelek. "Baiklah tuan kita berteman," jawab pria dengan suara bergetar. "Bagus! Sekarang jangan panggil aku tuan, panggil saja Jack,kalau kau sendiri siapa namamu?" "Baik Jack, namaku adalah Mario. Aku penduduk asli di kota besar ini, dan aku akan memberi tahumu tentang wilayah yang ada di sini," "Terimakasih Mario," jawab Jack tersenyum sambil melepaskan cengkraman tangannya di kedua bahu pria itu.