Pindahnya Jiwa Permaisuri Ke Tubuh Siluman Rubah
Bab 1 Perang

" Daehyung!" Pria dengan ikat kepala merah di dahi berhenti memacu kuda, ia menoleh ke belakang. Mendapati Permaisuri baru saja datang, berlari dengan tangan menjingit kain hanfu merah. Selir Song Qiutong menahan kesal melihat kedatangan Chou Zui Ran, kepalanya mendongak menatap sang suami, "Tuanku, mohon segera bergegas. Perbatasan hampir tersapu habis oleh serangan gabungan antara Dinasti Joseon dan Dinasti Ming. Keamanan kita bisa terancam. Kerajaan Linchou baru saja di bangun, para budak baru saja mendapatkan semua kebebasan yang patut mereka dapatkan. Jangan dengarkan Permaisuri, perdamaian tidak bisa lagi di gunakan." Ling Daehyung, yang duduk di atas punggung kuda, mengerutkan sepasang alis setajam bilah pedang. Runcing dan terlihat mematikan dalam satu waktu. Bibirnya terbuka mengucapkan sebuah kalimat, "Kau benar, Selir Song. Aku pergi ke medan perang sekarang, jaga baik-baik dirimu dan bayi kita. Aku akan kembali dengan baik." Membungkukkan tubuh, Song Qiutong berkata pedih dengan suara halusnya yang mengundang welas asih siapapun, "Istri akan selalu menunggu Tuanku pulang kembali membawa kemenangan." Kuda mulai bergerak. Ribuan pasukan maju seperti pasukan gajah. Bumi bergetar merasakan pijakan keras membara. Seluruh penghuni di Kerajaan Linchou dulunya adalah budak dari Dinasti Joseon dari wilayah selatan dan Dinasti Ming dari wilayah timur. Ling Daehyung merupakan anak buangan berdarah Selatan dan Timur. Dua wilayah saling bentrok sejak puluhan tahun. Di suatu waktu, tanpa sengaja dia bertemu dengan budak bernama Chou Zui Ran. Pertemuan tidak sengaja antara mereka di perbatasan hutan belantara membawa keduanya dalam hubungan persahabatan. Ling Daehyung memiliki semangat seorang jenderal di aliran darahnya, begitu pula Chou Zui Ran. Mereka sepakat mengumpulkan budak dari dua wilayah, menyatukan kekuatan serta berlatih diam-diam. Mulai membangun kelompok pembelot, mempunyai satu tujuan yang sama. Yaitu meruntuhkan Dinasti Joseon dan Dinasti Ming. Memberikan kebebasan pada banyak budak. Pasukan budak berhasil menggulingkan pasukan Kerajaan. Beberapa budak yang berjiwa baik ingin membalas budi atas jasa Ling Daehyung dan juga Chou Zui Ran. Bersedia menjadi bawahan mereka, bersumpah setia di atas nama Pimpinan mereka. Akhirnya semua berada di suasana tenang. Kerajaan Linchou merupakan Kerajaan Ming yang di ganti nama menjadi Linchou, gabungan antara marga Daehyung dan Zui Ran. Daehyung menikahi Zui Ran sebagai Permaisuri, berusaha membalas budi atas kerja sama dari perempuan tersebut. Namun dia menolak untuk mencintai Zui Ran karena dia telah lebih dulu jatuh cinta dengan budak dari Dinasti Ming bernama Song Qiutong, selir Song. "Kalian semua siapkan kuda untukku, aku akan menyusul Yang Mulia Raja menuju medan perang," titah Zui Ran. Suaranya menggelegar di halaman Kerajaan. Semua prajurit merunduk hormat. "Maaf, Permaisuri. Yang Mulia Raja melarang kami membiarkan anda ikut dalam perang. Mohon anda berdiam di istana, menjaga pemerintahan selagi Yang Mulia Raja berada di tanah perang," nasihat ini berasal dari Penasihat Raja. Beliau adalah pria paruh baya yang selalu membantu Ling Daehyung di kehidupan sulit. Moon Joong. Zui Ran berujar sengit, "Aku adalah Ratu! Titahku adalah perintah terkuat kedua setelah Raja. Cepat laksanakan!" Song Qiutong menyela dari samping, terkikik geli melihat kemarahan Permaisuri, "Kakak perempuan, seharusnya kau berdiam diri di sini. Mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya kau tuntaskan. Bukan membuang-buang waktu di tempat yang seharusnya di isi oleh kaum laki-laki." Zui Ran memandang tajam perempuan ular perebut pria tercinta, "Cih," bibirnya meludah tepat ke wajah Song Qiutong. "Tahu apa wanita pelacur seperti dirimu mengenai dunia perang? Kau hanya bisa menggunakan mulut busuk dan tubuh bekasmu untuk memikat suamiku! Enyah sebelum aku memotong kepalamu!" Wajah putih Song Qiutong memerah menahan malu, kesal, dan jengkel. Otoritasnya memang masih di bawah Zui Ran, namun kasih sayang Raja jelas sangat besar untuk dirinya. Dengan alasan tersebut, dia berani membantah, "Mulutmu itu sangat kotor! Sungguh berani mengatai hal buruk tentang diriku! Ingat, Permaisuri. Aku sedang mengandung anak Yang Mulia Raja! Jangan berani-beraninya kau mengancam kesayangan kecil ini!" Pelayan pribadi di kedua sisi Zui Ran menarik lengan Nyonya mereka. Berjalan mundur daripada harus berdebat dengan ular berbisa seperti Song Qiutong. "Xiao Lu, Xiao Yi, cepat ambilkan pedang dan baju zirah di ruangan rahasia pemandian air panasku." Perintahnya sesaat setelah mereka bertiga sampai di kamar utama Paviliun Zuihyung. Xiao Lu khawatir, "Nyonya, jangan seperti ini. Yang Mulia Raja sudah melarangmu untuk tidak ikut campur dalam perang kali ini. Tabib pernah berkata jika tubuh anda belum berada di kondisi stabil setelah perang besar sebelumnya." Xiao Yi bersujud di atas geladak lantai, "Permaisuri. Kami mohon, jangan pergi. Kami takut terjadi sesuatu pada anda." "Terlambat. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi meski mati adalah bayaran yang harus aku tanggung. Suamiku sedang melawan dua suku yang di penuhi dendam, siapa yang bisa menjamin dia akan kembali dengan tubuh utuh?" Dua pelayan membisu tanpa mampu menjawab satu kalimat pun. Zui Ran menghembuskan nafas. Menarik paksa dua tusuk rambut emas berbentuk burung vermilion. Kemudian mengurai gelungan yang mengikat setengah rambut bagian atas. Setelah semua rambut di urai, ia menguncir rambut hitamnya menjadi kuncir kuda. Berdiri tinggi di pucuk kepalanya, tangannya meraih satu mahkota giok, mengikatkan mahkota giok tersebut pada rambutnya. "Kalian berdua di sini, aku akan pergi melalui ruang bawah tanah. Awasi ular Song, tahan dia ketika dia ingin bersikap sembrono di wilayah kekuasaanku." Xiao Lu dan Xiao Yi di banjiri air mata. Keduanya sama-sama menjatuhkan kepala ke atas lantai, menghantukkan kening mereka puluhan kali seolah lantai kayu ini adalah kapas empuk di mata mereka. Zui Ran menurunkan kelopak mata, bulu matanya yang panjang bergetar. Setengah manik mata caramel terlihat sendu, "Aku menyayangi kalian, seandainya dalam peperangan ini, nyawaku yang di rampas. Aku serahkan barang-barang di lemari bulan sabit itu kepada kalian. Berikan semua barang itu kepada Yang Mulia Raja." "Permaisuri....." "Permaisuri....." Berjalan ke arah belakang Paviliun. Zui Ran mendekati salah satu pembatas lukisan pemandangan pegunungan. Ia membuka pembatas kain tersebut, muncul pintu di belakangnya. Dia segera masuk ke dalam ruangan bawah, membungkus baju zirah perang, pedang, serta pisau, tidak lupa membawa beberapa racun buatannya sendiri. Semua barang selesai di kemas. Zui Ran melanjutkan perjalanan menuju ke pintu ruangan bawah tanah, membuka kayu reot yang memunculkan lorong tanah kering. Hanya muat untuk di lewati satu orang dewasa. Dia akan menyusul suaminya!

Bab 2 Berkorban

"Yang Mulia Raja! Permaisuri datang kemari!" "Apa?!" Ling Daehyung memutar kendali kuda. Membuat binatang berkaki empat itu pergi meninggalkan medan utama tanah perang. Berkeliling di sekitar seraya mengayunkan pedang; menebas, menusuk, dan menyayat pasukan lawan. Jenderal Wilayah Selatan mendekati Ling Daehyung, kuda hitamnya berhenti di sisi kuda putih, "Yang Mulia Raja, Permaisuri terlihat berperang bersama Jenderal Wilayah Timur. Beliau sama sekali tidak membawa kuda, berdiri di tengah kepungan para musuh. Hamba takut Permaisuri terluka." Wajah Ling Daehyung berubah pucat pasi. Seolah semua darah di tubuhnya baru saja di sedot habis tanpa menyisakan satu tetespun. Tangannya yang memegang tali kendali semakin mengerat, "Segera menuju lokasi Permaisuri!" "Baik!" Di tempat tanah perang sisi bagian lain, Jenderal Wilayah Timur berperang di bantu Permaisuri. Ekor matanya tidak bisa tenang, bergerak gelisah melirik Zui Ran setiap lima detik sekali. Takut terjadi sesuatu padanya. Lin Xuan menusuk prajurit yang mencoba menyerang punggung Zui Ran. "Jenderal Lin, terima kasih," ucap Zui Ran, wajahnya yang putih dan cantik terkotori debu. Sudut keningnya mengeluarkan darah karena tergores ujung pedang milik lawan. Lin Xuan memeluk Zui Ran dari belakang, bergerak mundur ketika seorang prajurit pembawa tongkat bendera mencoba menusuk Zui Ran dengan ujung runcing tiang, "Awas!" Keduanya terengah-engah bersama. Zui Ran mendongak, terpaku menatap mata kiri Xuan yang dibanjiri oleh aliran darah, "Jenderal Lin, mata kirimu!" Lin Xuan tersenyum, "Bukan apa-apa, Permaisuri. Ini luka dari sayatan di alisku." "Syukurlah." "Tolong segera pergi menjauh Yang Mulia, di sini bukan tempat yang aman. Raja akan cemas." Zui Ran tersenyum tipis, sorot matanya nanar, "Aku rasa dia tidak akan mencemaskan diriku." Lin Xuan menoleh beberapa saat, lalu kembali menatap ke depan. Menendang lima prajurit sekaligus. Berlari mendekati Zui Ran, "Apa yang baru saja kau katakan? Mana mungkin itu bisa terjadi? Dia suamimu!" "Ya, dia suamiku. Tapi juga suami dari Song Qiutong, Kim Yeran, Bae Ilrang, Lee Jielu. Dia tidak mencintai aku, jabatan yang aku pegang saat ini dia berikan karena ingin membalas budi atas semua kerja kerasku. Dia menolak mencintai aku ..." Sendunya. Lin Xuan termangu. Menarik tubuh kurus Zui Ran masuk ke pelukannya, menghalau semua serangan yang menuding ke mereka berdua. Ia berbisik lembut, "Maaf, aku gagal menjagamu sesuai janjiku atas nama Paman dan Bibi." "Ge ..." Panggilan itu membekukan aliran darah di tubuh Lin Xuan. Bahkan satu lengannya tergores sayatan pedang karena kehilangan fokus, "Apa yang kau katakan?" Zui Ran menengadah, iris caramelnya yang jernih tergenangi air mata. Ini masa kedua kali Lin Xuan melihat perempuan yang selalu dia jaga sejak kecil, meneteskan air matanya lagi setelah 20 tahun lamanya, perempuan tersebut menutup mata, lalu membuka kembali, "Ge, aku tidak bahagia. Aku tidak bisa menanggung semua emosi di hatiku lagi." Pelukan Lin Xuan semakin erat, urat-urat di lehernya menonjol. Berwarna hijau keungu-unguan. Bibirnya mengeluarkan lolongan serigala buas, membasmi semua musuh di bawah tebasan pedang tipisnya yang mengerikan. Suara teriakan prajurit kesakitan menjadi tradisi sebuah melodi yang harus didengar disetiap tanah perang. Bumi menangis menerima aliran air berwarna merah, awan memucat berubah menjadi awan mendung. Matahari bersembunyi di balik awan, tidak bisa melihat manusia mati seperti tumpukan dedaunan maple di awal musim gugur. Zui Ran dan Lin Xuan kembali fokus pada perang. Melawan bersama, saling melindungi satu sama lain. Kerja sama dua adik dan kakak berubah menjadi gabungan kekuatan luar biasa yang mampu menumbangkan puluhan prajurit musuh dalam hitungan detik. Dua binatang buas medan perang mengeluarkan taring. Mendesis tajam, mengigit semua manusia yang telah berani menggangu wilayah mereka. Ling Daehyung berhasil sampai di tempat Zui Ran dia menangkap sosok Lin Xuan yang siap sedia melindungi istrinya. Dia sudah curiga masalah ini dari awal, mungkinkah Lin Xuan mencintai Zui Ran yang merupakan adik angkatnya? Jenderal Han menuruni kuda, melindungi Ling Daehyung dari segala serangan. Mereka berdua membasmi prajurit musuh yang berani menghalangi jalan. "Ling Zui Ran!" Teriakan seruan Ling Daehyung mengalihkan perhatian Zui Ran. Ia menoleh ke asal sumber suara, membulatkan mata ketika menangkap satu sosok samar di atas pohon, dari arah utara, bersiap melepaskan lima anak panah sekaligus. Di sisi pohon lain pun ternyata ada tambahan pasukan lagi, menodongkan anak panah. Semua orang sibuk dengan prajurit di permukaan tanah, tidak sempat memperhatikan keanehan di pepohonan lebat. Zui Ran melepaskan genggaman pedangnya, "Ling Daehyung! Awas!" Suara dentingan besi menghantam tanah menjadi tanda awal kaki rampingnya berlari menembus genangan mayat. Jendral Han terkejut mendengar teriakan khawatir Permaisuri. Dia yang sedang melawan wakil Jendral Dinasti Joseon, tidak bisa mengurangi perhatian sedikitpun. Musuh mempunyai kekuatan besar, lengah sedikit, nyawa adalah taruhan. Splash! "TIDAK! XIAO RAN!" Lin Xuan meraung marah menatap semua kejadian awal panah melesat, menembus angin, dan kemudian mendarat pada daging adik kecilnya yang selalu dia cintai selama ini. "MATI KALIAN SEMUA!" Sifat binatang buas Lin Xuan mencuat sepenuhnya. Kakinya berlari mendekati Zui Ran yang tergolek dalam pangkuan Ling Daehyung. Tangannya mendorong bahu suami adiknya, "Lepaskan Xiao Ran!" Wakil Jenderal Lin memimpin pasukan untuk berbaris melingkar, melindungi tiga orang penting di dalamnya. Zui Ran memiliki kebiasaan menelan kembali lonjakan darah dari tubuhnya. Namun kali ini, dia membiarkan lonjakan darah melewati tenggorokannya, terus menerus naik dan akhirnya berakhir di muntahkan. "Xiao Ran, Xiao Ran, kau akan baik-baik saja." Suara Xuan tidak stabil, serak, tercekat, parau. Wajahnya acak-acakan di aliri air mata. Ada sekitar sepuluh lebih anak panah menancap di punggung sang adik. "Ge ... maaf, aku ... memuntahkan darah di bajumu ..." "Bodoh! Aku tidak perduli tentang hal itu! Kau harus bertahan, aku akan membawamu kembali secepatnya ke tempat yang lebih aman. Wakil Jenderal! Bawakan tabib kemari!" "Baik. Laksanakan!" Di permukaan tanah lain, Ling Daehyung duduk dengan lutut tertekuk. Kedua telapak tangannya bersimbah darah istrinya. Bibirnya bergetar. Mengangkat kepala ragu, iris hitamnya bertubrukan langsung dengan iris caramel di seberang. Tatapan mata itu, masih sama seperti puluhan tahun yang lalu. Jernih, murni, penuh semangat dan ambisi, lembut di salah satu sisi. "Ling ... Ling Daehyung, a-aku ..." "Berhenti berkata, diam!" Bentak Daehyung. Dia merangkak mendekati istrinya, mengambil alih tubuh lemah yang berada di ambang kematian. Xuan berdiri, berteriak kesetanan, "DIMANA TABIB?! DIMANA TABIB?! APA TELINGA KALIAN MATI?! DIMANA TABIB ITU TOLOL!" Jenderal Han menjawab sembari konsisten menyerang wakil Jenderal musuh, "SABAR JENDERAL LIN! TENANGKAN DIRIMU! BANTU KAMI MEMUKUL MUNDUR MUSUH! PERMAISURI AKAN BAIK-BAIK SAJA! DIA WANITA KUAT!" "Ge ... aku baik-baik saja. Pergilah ... jangan sampai kemenangan yang telah susah kita gapai, uhuk, kembali dirampas." Lin Xuan meragu. Begitu menatap manik mata adiknya, jiwa keji dalam hatinya seakan di patik oleh sebatang korek api menyala. Membakar tubuhnya dengan darah panas haus pembantaian. "BUKA JALUR BENTENG PERTAHANAN! BIARKAN AKU LEWAT!" Prajurit pertahanan tiga lapis membuka salah satu celah. Xuan berlari ke luar, membunuh prajurit seperti seorang iblis. "Kau ... kau berhenti berbicara atau darah akan semakin keluar." Suara Daehyung mengalun dari atas kepalanya. Posisi saat ini, Zui dipeluk dengan wajah menghadap dada kokoh suaminya. Bagian punggung belakangnya masih di tancapi banyak panah beracun. Dengan susah payah, Zui mendorong bahu Daehyung, menopang diri dan duduk di atas tanah. Punggungnya terasa nyeri, kulit dagingnya mati rasa, kepalanya berkunang-kunang merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia mengangkat wajah, tersenyum lembut, "Pergilah, bunuh musuh-musuh kita. Bawa kemenangan untuk semua saudara kita." "Tidak!" Daehyung menggeleng tegas. Memegangi kedua bahu Zui lembut, takut seandainya dia memegang terlalu keras. Perempuan di depannya bisa hancur menjadi serpihan remuk yang sudah tidak bisa di susun lagi. "Aku tidak akan pergi. Aku akan di sini menjagamu. Bertahanlah, tabib pasti datang. Kau akan selamat." "Mati atau hidup. Sekarang aku tidak terlalu perduli—uhuk," Zui merunduk, memuntahkan darah dua teguk sekaligus, "A-aku hanya peduli tentang keselamatanmu dan semua orang-orang kita. Kebahagiaan seluruh rakyat kita. Jika aku mati di sini, biarkan tubuhku di kubur di tempat dimana orang tuaku di makamkan." "Kau tidak akan mati! Kau tidak akan mati!" Memegang sisi wajah Daehyung, Zui mampu mendapatkan saluran energi hangat dari tubuh pria tersebut. Bibirnya tersenyum lagi, senyum menyakitkan yang justru menikam jantung Daehyung dengan ribuan panah kesakitan. "Zui Ran, Zui Ran, aku mohon. Bertahanlah! Siapa yang akan menjadi temanku? Siapa yang akan menemani aku berlatih pedang? Siapa yang akan mengajari aku cara menulis yang lebih baik lagi?!" "Masih ada ... Song--Qiutong. Sebentar lagi, kalian akan menjadi orang tua. Terima kasih, telah menikahiku. A-aku—" kalimatnya tertahan di tenggorokan. Zui memejamkan mata dan membukanya lagi, "—mencintaimu."

Bab 3 Kondisi Vegetatif

Tangan dingin yang berada di sisi wajahnya jatuh ke bawah. Iris caramel terang di penuhi semangat— yang semula terbuka kini mulai meredup. Kehilangan cahaya silaunya. Daehyung menangkap tubuh lemas istrinya. Jakunnya bergerak-gerak, dia ingin bergerak, tapi takut bahwa saat ini di pelukannya hanyalah tubuh raga tanpa jiwa. Ingin memanggil, tapi takut jika dia tidak akan mendapatkan tanggapan, dan malah mendapatkan kesunyian. Dia ingin menutup matanya, berharap semua ini hanyalah mimpi. Dan esok dini hari, dia bisa kembali berlatih pedang bersama istrinya di barak militer. Saling bertukar pukulan. Berlatih bersama. Menghabiskan waktu di hutan. Memburu binatang buas. Menukar ilmu tentang penempaan senjata tajam. Berdiskusi mengenai masalah negara. Dia takut kehilangan itu semua. Telinganya berdengung, tuli dari semua suara yang berada di sekitarnya. Daehyung terfokus pada punggung berdarah Zui Ran yang mengerikan untuk di pandang mata. Perempuan ini, selalu menjadi sahabat terbaik dalam hidupnya. Berani mengorbankan nyawa demi dirinya. "Namaku Chou Zui Ran, kakak laki-laki sering memanggil aku Xiao Ran. Siapa namamu?" "Ling Daehyung." Memori berputar kembali. "Zui, aku ingin belajar menulis dan membaca." "Besok kita bertemu di sini lagi, kau mau? Aku bisa membawakan kertas, kuas, dan tinta milik kakak laki-lakiku. Kami diam-diam belajar menulis dan membaca, jadi aku bisa mengajarimu." Kenangan selanjutnya menghantam kepalanya. "Zui Ran, aku ingin memiliki Kerajaan sendiri. Aku ingin memberikan kebebasan untuk teman-teman budakku." "Kenapa kita bisa sama? Aku juga ingin bisa memberikan kebebasan untuk semua temanku. Meskipun aku perempuan, aku ingin sejarah mengenal diriku sebagai Jenderal Wanita pertama dalam sejarah. Itu terdengar sangat hebat!" "Kau berhasil menjadi Jenderal Wanita terhebat yang akan di kenal selama sejarah," bisik Ling Daehyung. Ia melepas kain merah di kepalanya, mengulurkan tangan ke bawah. Mengusap dan menyeka. Membersihkan darah dari wajah cantik istrinya yang selalunya memancarkan semangat prajurit muda, kulit pipinya akan memerah di saat kelelahan berlatih, dan bersemu lembut ketika canggung di depan dirinya. "Ling Daehyung. Bisakah kau berjanji mencintaiku?" "Maaf Zui Ran. Aku bisa menikahimu, namun aku tidak bisa memberikan cinta sesuai yang kau harapkan. Hatiku sudah lebih dulu mencintai Song Qiutong, dia akan aku angkat menjadi selir, seminggu dari sekarang. Dia pun sedang mengandung anak kami." "Baiklah. Aku tidak bisa memaksa. Selamat malam. Kau bisa pergi ke kamarmu." Semakin dia berusaha menyeka darah  di wajah Zui, maka semakin berantakan warna merah pekat menutupi kulit putih wajah sang istri. "Kau harus tetap hidup. Kau harus tetap hidup. Aku berjanji akan mencintaimu, asalkan jangan pernah tinggalkan aku. Negara ini masih memerlukan Permaisuri seperti dirimu. Aku masih membutuhkanmu, aku tidak ingin di tinggal pergi olehmu. Kau harus tetap di sisiku, kau harus tetap bersamaku meski di neraka bawah sekalipun. Kau tidak bisa meninggalkan aku sendirian. KAU TIDAK BISA LING ZUI RAN!" Tabib berlari di lindungi Wakil Jenderal Lin. "Berikan jalan, berikan jalan. Permisi tuan-tuan, orang tua ingin lewat. Jangan menjadi anak durhaka dengan menghalangi jalan orang tua." "Tabib, berhenti omong kosong!" Ketus Wakil Jenderal Lin. Tabib mengibaskan tangan, "Aiyo, tenang Wakil, tenang," janggut putihnya bergoyang seirama dengan langkah kaki. Akhirnya dia tiba di lingkaran yang di lindungi pertahanan ketat para prajurit. Matanya membelalak di persembahan pemandangan mengerikan Zui Ran. "Yang Mulia Permaisuri! Ya Tuhan! Tabib tua ini akan segera membantu!" "Dia—" Daehyung terpaksa berhenti. Tabib merampas tubuh lunglai Zui, kemudian meletakkannya di atas tanah dengan posisi tengkurap. Dia membuka tas, mengeluarkan benda-benda medis. Memeriksa denyut nadi dan nafas Zui. Tabib berkata, "Permaisuri masih hidup. Denyut nadinya sangat lemah, harus segera di bawa pergi ke tempat sepi! Bawa pergi ke tempat sepi! Cepat cepat! Atau nyawa Permaisuri bisa melayang! Yang Mulia Raja, bantu aku mencabut anak panah ini pelan-pelan, langsung oleskan salep ini ke luka Permaisuri supaya bisa membekukan pendarahan luka luar." *** Pasukan musuh berhasil di pukul mundur. Sementara waktu, pasukan Linchou menduduki posisi pemenang. Prajurit yang terluka terbilang sangat banyak, dan yang meninggal segera di bawa pulang untuk di makamkan dengan layak. Daehyung berjalan mondar mandir, menatap khawatir kain penutup yang menyembunyikan tabib, tiga pelayan perempuan, dan istrinya. Xuan datang dari arah barat, setengah wajahnya di perban demi menghentikan pendarahan akibat sayatan pedang di bagian alis. Di bantu dua prajurit biasa, Xuan bisa berjalan dengan lancar sampai di dekat Ling Daehyung. Mata Phoenixnya terisi kekhawatiran mendalam, "Kalian berdua bisa pergi. Bantu tenaga medis merawat luka teman-teman yang terluka." "Baik, Jenderal." "Baik, Jenderal Lin." Dua prajurit kecil mengundurkan diri. Tersisa Xuan dan Daehyung yang berada di suasana canggung dan sunyi. Pikiran mereka sama-sama kalut, ketakutan setengah mati atas keadaan perempuan berharga bagi mereka. Satu pelayan kecil yang membantu tabib berdiri, bagian leher hingga kepala menyembul dari balik tirai. Wajahnya sumringah di penuhi suka cita, "Permaisuri di selamatkan! Beliau sudah melewati masa-masa sulit!" Suara kecilnya berusaha berteriak keras. Ingin memberitahu dunia mengenai kabar baik ini. Ling Daehyung menghempas nafas lega keluar dari celah bibir. Memegangi liontin hijau di lehernya. Benda ini adalah liontin giok yang di buat dan di ukir oleh Zui langsung, dia menerima kalung ini tepat di hari ulang tahun ke-28 tahun. Tiga jam berlalu lancar. Semua orang di kamp bersama-sama mengucap rasa syukur karena Permaisuri bisa di selamatkan. "Yang Mulia Raja, silahkan masuk ke dalam." Tabib berucap sopan, membuka tirai kain tenda yang berguna menjadi penutup. Daehyung bisa melihat tubuh tak berdaya istrinya terbaring di atas ranjang bambu. Xuan mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Ia menyesal, kenapa dia harus menerima permintaan adiknya dulu untuk membantu Ling Daehyung? Lihatlah sekarang, adiknya harus menerima banyak penderitaan. Setidaknya, di masa lalu, ketika mereka berdua masih menjadi seorang budak. Xuan dan Zui Ran selalu hidup bahagia bersama, tidak kekurangan apapun sama sekali. Menjalani hari-hari dengan tenang bersama teman-teman satu kasta. Dia terpaksa mundur. Pergi meninggalkan tenda tempat adiknya berbaring lemah. Ling Daehyung sekarang memegang jabatan Raja, dan dia hanyalah Jenderal. Kekuasaan yang ada di tangannya saat ini belum mampu membantu dia untuk sesuka hati berdua dengan Zui. Di dalam tenda, Ling Daehyung mendekati ranjang bambu. Dia duduk di tepian, mengusap lembut kulit pipi Zui yang terasa sangat dingin. Seakan dia baru saja menyentuh permukaan balok es. "Bagaimana kau bisa ada di sini?" Zui Ran berjongkok di depan anak laki-laki yang meringkuk di bawah pohon. Tapi di saat matanya menangkap simbol simpai budak mengalung pada leher anak lelaki itu, Zui tersadar, "Ternyata kau dari wilayah Selatan! Ah, beruntung aku pernah belajar bahasa selatan dari Ibu. Kalau begitu, bagai—" "Aku mengerti bahasa wilayah timur. Ayahku berasal dari timur. Aku di sini karena lari dari hukuman Tuanku, dia akan memukuli aku sampai mati jika aku tidak segera pergi dari sana." Mengerti ketakutan sesama budak, Zui mengambil sesuatu dari keranjang sayurnya, "Kakak laki-laki memberikan roti ini sebagai bekal. Tapi sepertinya kau lebih butuh, makanlah. Aku selalu tenang setelah makan!" Ling Daehyung berbinar, menatap satu lembar roti yang di sodorkan padanya. Dia meraih roti tersebut, membaginya menjadi dua, "Untukku setengah, untukmu setengah." Zui mengangguk, "Em! Aku setengah, sekarang kita makan bersama." "Terima kasih ... uh." "Namaku Chou Zui Ran, kakak laki-laki sering memanggil aku Xiao Ran. Siapa namamu?" "Ling Daehyung." Beralih menggenggam telapak tangan mungil di atas selimut, Daehyung memberikan ciuman di atas punggung tangan Zui, "Karena kau, aku tidak kelaparan di hutan. Dan karena kau, aku mengetahui huruf, bisa membaca, aku minta maaf jika pernah membuatmu terluka ... " Penutup kain tenda di buka dari luar. Tabib berjalan masuk ke dalam. Menaruh mangkuk kecil yang terbuat dari tanah liat ke tepi ranjang, tepat di sisi kepala Zui Ran, "Yang Mulia, yang tua ini ingin mengatakan sesuatu." "Katakan, tabib." "Permaisuri kini berada pada kondisi antara hidup dan mati. Detak nadi dan jantungnya memang masih terasa, namun, kesempatan untuk membuka mata ... hanya Dewa yang bisa membantu. Permaisuri mengalami kondisi vegetatif. Penyakit ini memang tidak menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena. Tetapi ... orang yang terkena penyakit ini, tidak akan tahu apakah dirinya masih hidup atau mati. Seolah jiwanya berada di ambang batas antara kematian dan kehidupan." Usai berkata panjang lebar. Tabib tua kembali berkata sebelum Daehyung bisa menyela, "Penyakit ini menyerang bagian otak manusia, melumpuhkan sel-sel saraf yang seharusnya bekerja. Hamba takut, racun di ujung anak panah musuh adalah racun dari bunga kutukan serigala. Bunga ini sangat mematikan, biasa tumbuh di hutan liar pedalaman. Efek bunga ini sebenarnya adalah kematian, kasus Permaisuri termasuk keberuntungan surga."

Lanjut baca