Suami Tak Ada Akhlak
Bab 1 Prolog

"Wah. Uang Abang banyak sekali." Perempuan yang memakai dress di atas lutut berwarna merah menyala itu menatap takjub tumpukan uang di atas meja.   Seorang laki-laki yang duduk di samping perempuan itu tersenyum bangga. "Iya, dong, Reta Sayang."   "Mana warnanya biru dan merah semua lagi. Nggak ada yang ijo," ucapnya centil. Tangannya memegang tumpukan uang itu lalu mengipaskannya pada wajah.   Reta menatap laki-laki di sampingnya. "Abang dapat dari mana uang sebanyak ini?"   Mengembuskan asap rokok yang baru dihisapnya ia menjawab, "Mertua Abang baru saja tanahnya kena pelebaran jalan tol. Baru cair tua Bangka itu dan dapat banyak uang."   "Kok bisa, Bang? Yang dapat uang, kan mertua Abang?" Laki-laki itu memang mempunyai seorang istri, bahkan dua orang anak. Akan tetapi kelakuannya masih suka keluar dengan perempuan lain.   Hadi. Pria tinggi kurus dan cungkring itu tersenyum pongah. "Istri Abang, kan dapat bagian pastinya, Sayang. Abang pakai saja uangnya dengan alasan mau usaha." Lihatlah wajah laki-laki tamak dan tidak tahu malu ini.   Mata perempuan bernama Reta itu membulat lucu. "Emang Abang mau usaha apa?"   Hadi mematikan Putung rokoknya pada asbak. Ia duduk mempersempit jarak di antara keduanya. Tangan kirinya merangkul bahu Reta yang terekpose. "Dengar. Uang ini untuk kamu."   Lihatlah wajah bahagia Reta. "Beneran, Bang?"   "Iya dong. Semua ini untuk Reta seorang. Cinta Abang yang sangat sexi dan cantik ini," ucap Hadi sembari menjawil dagu Reta.   Reta tersenyum malu dan manja. Akan tetapi wajah perempuan itu berubah sesaat kemudian. "Abang bohong ah."   Kening Hadi mengerut. "Kok bohong. Enggak dong."   "Katanya cinta sama Reta. Tapi tadi masih saja sebut istri untuk yang di rumah."   Hadi tersenyum. Ia menyukai Reta yang cemburu padanya. "Iya iya maaf, Sayang. Abang cuma keceplosan tadi. Tapi cinta Abang sama kamu itu tidak bisa ditandingi."   "Ah Abang," ucap Reta manja yang membuat Hadi tertawa.   Hadi memegang dagu Reta, menarik pelan dan membuat keduanya saling bertatapan. Ia tersenyum simpul. "Reta, Sayang. Kita main, yuk!"   Reta menunduk, ia mengangguk menahan senyuman. "Hayuk, Bang."

Bab 2 Parfum Wanita

Jam menunjukkan pukul empat. Para pekerja pabrik berbondong-bondong keluar karena sudah waktunya pulang. Termasuk Hadi yang saat ini tengah mengambil motor di parkiran.   Sebelum menyalakan mesin motor, ia memeriksa penampilannya pada kaca spion. Sedikit membentuk rambutnya menyerupai jambul ala penyanyi beken Syahrini.   "We, Di. Ayo pulang!" Seorang teman menepuk pundaknya, membuat Hadi berjingkat karena terkejut.   Hadi menoleh. "Nanti dulu. Mau ngopi dululah."   Teman Hadi yang bernama Fairuz itu menggeleng. "Kau ini, pulang kerja bukannya ke rumah nemuin anak istri malah keluyuran. Ngopi di rumah, kan lebih enak. Gratis pula."   Hadi mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah. Kau, kan memang suami takut istri," ejek Hadi.   "Eh, denger, ya. Kita sebagai laki-laki juga berhak memanjakan diri di luar. Bagaimana? Ikut tidak?"   Fairuz menggeleng. Tahu betul apa yang dimaksud Hadi dengan memanjakan diri itu. "Nggak usahlah. Aku mau pulang saja. Istriku pasti khawatir kalau aku tak pulang-pulang," tolaknya dengan senyuman.   "Halah. Pulang sana kau ke ketiak istrimu." Gerakan tangan mengusir itu pertanda Hadi sudah merasa jengkel dengan Fairuz.   Mengeluarkan motor dari parkiran, Hadi segera keluar dari lingkungan pabrik. Sebuah warung yang terletak di pojokan luar pabrik bagian belakang menjadi tujuannya.   Seorang perempuan dengan baju merah dengan panjang lengan hanya sepundak yang dipadukan rok span coklat di atas lutut tersenyum ketika melihat dirinya.   "Bang Hadi akhirnya datang juga," ucap perempuan itu dengan manja. Langkahnya tampak gemulai menghampiri Hadi yang baru saja menstandarkan motornya.   "Pasti dong, Reta Sayang. Kan Mas sudah kangen sama kamu," balas Hadi yang menjawil dagu perempuan dengan bibir berhias pewarna merah menyala.   Pemandangan itu dilihat semua orang yang ada di warung, mereka hanya geleng kepala melihat laki-laki yang sudah mempunyai istri tetapi kelakuannya seperti anak remaja.   "Bang Hadi mau kopi atau teh?" Reta merangkul lengan Hadi ketika keduanya memasuki warung.   "Seperti biasa, Sayang."   "Siap." Hadi bergabung dengan penikmat kopi yang lainnya. Ia menyapa yang ada di sana satu per satu.   Saat kopi sudah tiba, tidak lupa bermain mata dengan perempuan bernama Reta.   ***   Hadi memarkirkan motornya di pelataran rumah bersamaan dengan azan magrib yang berkumandang. Sayup-sayup ia mendengar tangis dari dalam rumah.   Laki-laki itu menghela napas dalam. "Pasti si bontot yang nangis. Pasti Matun belum mandi juga. Ini nih yang bikin males pulang. Suami pulang istri masih kucel. Mana bau lagi. Beda banget sama Reta yang selalu menyambutku dengan cantik dan wangi."   Suara tangis semakin kencang terdengar, ia segera masuk dan menemui sang istri. Benar saja. Daster lusuh menghiasi dengan rambut yang diikat asal. Dalam gendongan istrinya anak mereka menangis.   "Dek. Rio kenapa?" tanyanya saat ia mendekat, tidak terlalu dekat karena ia tidak betah dengan aroma sang istri.   Matun menoleh. "Bang, baru pulang?" Perempuan itu mendekati suaminya dan meraih tangan untuk bersalaman.   Mau tidak mau Hadi pun menerimanya. Kening Matun terlipat kala merasakan sesuatu, ia menatap suaminya penuh tanya. "Bang. Kok tangan Abang bau parfum perempuan?"   Untuk sesaat Hadi terkejut, dalam hati ia menduga pasti parfum Reta yang tertinggal. Namun, secepat itu ia memasang senyum. "Mungkin parfum orang-orang kantor nempel di tangan Abang pas waktu kami berjabat tangan. Tadi Abang bertemu mereka waktu mau pulang. Tahu sendiri orang kantor parfumnya bagaimana, wanginya masya Alloh. Kalau ada orang kantor nih, ya. Orangnya belum ada tapi baunya udah kecium, kalau udah lewat dan orangnya udah nggak ada, baunya masih aja ketinggalan. Nggak laki nggak perempuan. Maklum. Parfum mahal kali, ya?"   Matun ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Jadi Rio kenapa, Dek?"   "Susunya habis, Bang," ucap Matun.   Hadi menatap anaknya. "Bagaimana kalau kita sudahi saja susunya Rio?"   Matun memandang suaminya terkejut. "Tapi, Bang—"   "Apa-apa, kan sekarang mahal. Coba kita siasati saja bagaimana." Matun hanya diam, ia memandang putra bungsunya dan mencoba menenangkan.   "Abang mau mandi dulu, ya. Magrib dulu. Habis itu biar Abang yang gendong Rio."   Matun mengangguk. "Cepetan ya, Bang. Matun belum mandi soalnya." Hadi tersenyum dan mengangguk. Ia memasuki kamar untuk mengambil handuk.   "Lihat. Jauh sekali, kan bedanya. Parfum Reta saja masih nempel di tanganku sampai rumah. Matun mah bikin ngelu," gerutu Hadi lirih. Tidak ingin istrinya mendengar.   Saat keluar dari kamar ia teringat anak pertamanya. "Pendi mana, Dek?"   Matun yang masih mencoba menenangkan Rio menoleh sebentar. "Ke masjid, Bang." Setelah mendapat jawaban Hadi segera menuju kamar mandi.   Matanya membulat kala melihat baju kotor yang masih direndam dalam bak besar. "Apa saja, sih yang dilakukan Matun di rumah? Sampai baju saja belum dicuci?" Ia memegang dahinya sembari menggeleng.   Tidak mau ambil pusing, Hadi segera membersihkan dirinya. Membasuh agar wangi Reta hilang meskipun sebenarnya ia tidak rela. Hanya saja, ia tidak ingin Matun curiga.   ***   Sepiring nasi dan ayam bumbu kecap serta tumis kangkung di hadapannya, Hadi segera bersiap untuk menyantap makan malam.   Selain bau dan kucel juga gemuk, ini yang Hadi sukai dari Matun. Tidak dipungkiri kalau masakan istrinya itu memang enak. Matun pun tahu selera makannya.   Meskipun masakan Reta juga enak, tapi ia akui Matun lebih jago. Daging tebal ia gigit, masuk ke mulut dan dikunyahnya.   "Bang. Abang sudah selesai belum?" teriak Matun dari luar.   Hadi yang masih menikmati makanannya mendengus seketika. "Sebentar ya, Dek!" teriaknya balik.   "Nggak tahu apa lagi enak-enak makan? Ganggu saja." Ia masih menikmati makanannya. Bagi Hadi makan tanpa dinikmati tidak bisa tenang.   Di lain sisi, Matun masih mencoba untuk menenangkan anak bungsunya. Seorang perempuan dengan celana kulot datang mendekat.   "Nangis mulu, Tun?" Dia Niswa, kakaknya Matun.   Matun mendongak, "Iya, Mbak. Susunya abis."   "Dibuatkan lah, Tun."   Matun hanya tersenyum dan berucap tidak enak hati. "Rio lagi dicoba lepas susu, Mbak."   Niswa yang mendengar terkejut. "Kenapa buru-buru. Belum dua tahun juga." Matun hanya tersenyum, tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.   Pandangan Niswa jatuh pada pakaian Matun. "Kamu belum mandi, Tun."   Lagi-lagi Matun tersenyum. "Belum, Mbak."   "Hadi mana?"   "Tadi katanya mandi, Mbak. Mungkin sekarang salat magrib."   "Hadeh," ucap Niswa. "Sini Rionya, kamu mandi dulu sana. Udah gelap gini masih belum mandi." Niswa berusaha meraih Rio dari gendongan Matun.   "Tapi, Mbak nggak capek emang?" Pasalnya, kakaknya ini juga baru saja pulang kerja dari sift pagi. Meskipun pulangnya lebih dulu dari Hadi, tapi Matun tahu kalau kakaknya baru saja membereskan rumah.   "Sudah. Timbang gendong ini." Rio sudah beralih gendongan pada Niswa. "Wes. Ndang mandi sana."   Matun mengangguk. "Terima kasih, Mbak." Matun segera masuk ke rumah untuk membersihkan diri.   Ia melihat suaminya yang makan sambil nonton tivi. Matun menggeleng, tidak habis pikir dengan sang suami yang asyik makan. Akan tetapi, perempuan itu berpikir positif. "Mungkin kelaparan dan lelah setelah bekerja," ucapnya lirih.   Matun pun meninggalkan ruang tengah dan mengambil handuk di dalam kamar, ia sedikit menghela napas kala melihat handuk bekas suaminya yang tergeletak di atas ranjang.   Matun mengangkatnya. "Yah. Jadi basah, kan." Menoleh pada bahu Matun berteriak! "Bang. Kalau selesai pakai handuk handuknya digantung. Biar ranjangnya nggak basah."   "Iya." Di tempatnya hadi memutar bola matanya malas. Meletakkan piring bekas makan, ia keluar dari rumah.   Melihat kakak iparnya yang sedang menggendong Rio. Hadi mendekat. "Rionya anteng, Mbak?"   Niswa menoleh, "Iya." ucap Niswa. Hadi hanya menyengir memperlihatkan giginya.   "Nih, tarok sana di dalam." Niswa memberikan Rio pada Hadi. "Rio belum ada dua tahun. Jangan diputus dulu susunya. Kasihan."   Tanpa kata Hadi hanya mengangguk, lalu segera masuk untuk meletakkan Rio di kamar. Setelahnya ia memasuki area dapur, mendekati bak cucian untuk ia cuci.   Matun yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat suaminya. "Bang. Abang istirahat saja dulu."   "Nggak papa. Kamu pasti juga capek ngurus rumah seharian. Biar aku bantu dikit-dikit." Matun tersenyum. Ia bersyukur suaminya mau membantu.   "Terima kasih, Bang." Hadi mengangguk. Setelah istrinya pergi, Hadi meliriknya sekilas.   "Hanya untuk formalitas, biar nggak dikatain suami tega," ucapnya sembari menggilas pakaian dengan kaki.

Bab 3 Formalitas

Formalitas   ***   "Rio, Sayang," panggil seseorang saat Matun mengajak anak bungsunya bermain di depan rumah.   "Main apa, Sayang? Hem?"   "Main mobil-mobilan, Tante." Sugi. Kakak ipar Matun datang dengan anak perempuannya.   Dalam keluarga Makijan, semua rumah anaknya baris dan saling berdempetan. Dari arah selatan adalah rumahnya, ke utara di sampingnya rumah sang kakak yang bernama Tami, sebelahnya lagi rumah Niswa.   Ketiga bangunan itu saling berdempetan. Sebelah utara rumah Niswa ada gang kecil sebagai akses ke belakang di mana orang tua mereka tinggal.   Sebelah utara gang kecil itu adalah rumah kakak laki-laki Matun yang bernama Fidun, anak kedua dari Makijan dan suami dari sugi.   Matun masih mempunyai kakak perempuan lain, namanya Maria yang kini tinggal bersama suaminya di desa sebelah. Ia juga masih mempunyai adik laki-laki yang bernama Eko—belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua mereka.   Sugi memandang ke arah rumah Matun. "Sepi amat, Tun. Pada ke mana?"   "Pendi ikut Pak ke sawah tadi. Katanya mau cari yuyu. Kalau Bang Hadi ke rumah temennya."   Sugi hanya mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O. "Tun. Ikut, yuk!"   Matun menatap bingung. "Ke mana?"   "Kita makan bakso. Gimana?"   Matun terkekeh. "Mas Fidun baru gajian, ya?" Memang. Kakak dan kakak iparnya yang satu ini sering sekali mengajak dia atau Pendi makan di luar kalau baru saja gajian. Dan semua itu dibayari.   Terkadang, jika tidak sempat keluar maka Pendi akan diberi uang saku.   Sugi mengibaskan tangan di depan wajah. "Ah, enggak. Lagi pengen aja. Gimana? Kamu ajak Rio, aku ajak Ratna. Pandi ikut Pak ke sawah, kan?"   Matun tampak menimang. "Udah, ayok."   "Ya udah. Aku ganti pakai celana dulu sama ambil gendongan Rio, Mbak."   "Iya."   "Titip Rio dulu." Matun memasuki rumah, ia mengganti daster lusuhnya dengan celana bahan agar mudah saat berjalan.   "Yuk, Mbak."   "Cepet banget."   "Timbang ganti ini." Matun menggendong Rio dan Sugi menggandeng putrinya. Mereka berjalan ke arah jalan besar untuk makan bakso langganannya.   Memang. Di desa ini belum banyak yang memiliki motor. Sebagian besar pun masih sejenis motor Supri untuk para suami bekerja. Jadi, berjalan adalah kebiasaan para istri di sini untuk bepergian.   "Capek nggak, Tun gendong Rio yang segede ini?"   Matun tersenyum. "Capek pasti, Mbak. Tapi mau bagaimana lagi?"   "Gantian sini kalau capek."   "Eh, nggak usah, Mbak. Nanti aja."   "Bener?" Matun mengangguk. Keduanya kini berjalan di samping pabrik keramik. Di sinilah suami Matun Hadi bekerja.   Pabrik ini termasuk besar dengan bayaran yang lumayan. Belum lagi kalau tanggal merah tetap masuk, maka gajinya sama saja dua hari kerja.   Kadang, Matun bingung dengan keadaan. Suaminya yang bekerja di pabrik keramik besar kenapa hidupnya masih begini-begini saja. Masih mending kakak-kakaknya yang hanya bekerja di pabrik lain.   Fidun. Kakaknya yang kedua hanya bekerja di pabrik roti biasa. Lalu suami dari kakak ketiga—hanya bekerja di pabrik karton kecil.   Ah, kalau kakaknya Niswa, kan memang suami istri bekerja semua. Tidak heran. Akan tetapi, kakaknya Fidun. Hanya sang suami yang bekerja tetapi kehidupannya terlihat mapan.   Matun melirik kakak iparnya itu. "Mbak," panggilnya. Sugi hanya menoleh dengan gumaman.   "Maaf, ya. Matun mau tanya."   "Tanya apa?" Kening Sugi terlipat.   "Sebelumnya Matun mau minta maaf. Kalau dilihat-lihat, Mbak sama Mas Fidun tuh mapan. Bisa beliin anak ini itu. Mbak kerja juga?"   Sugi terkekeh. "Mbak mah ibu rumah tangga biasa. Yang kerja cuma masmu saja." Matun mengangguk.   "Tapi kenapa Matun bisa beda sama Mbak, ya?" tanyanya lirih.   "Beda gimana?"   Matun menghela napas. "Lihat Matun, Mbak. Baju kucel, kalau Pendi minta uang jajan Matun sering nggak bisa kasih."   Mereka berhenti dengan Matun yang menatap Sugi dalam. "Bagaimana sih, Mbak mengelola uang?"   Sugi tersenyum. "Ya dikelola. Beli sesuatu yang diperlukan, yang bener-bener butuh. Untungnya masmu itu makannya nggak rewel, apa aja masuk. Makan seadanya aja. Ya ... sesekali beli ayam atau daging buat nyenengin anak-anak," ucapnya menatap Ratna yang Sugi gandeng.   "Beli ayam nggak setiap hari, Mbak?"   Lagi-lagi Sugi tertawa kecil. "Iya enggaklah. Makan ayam setiap hari mau jadi apa. Nggak punya tabungan bisa-bisa. Ya seenggaknya seminggu sekali lah. Kalau beli daging aja nggak barang mesti sebulan sekali."   Matun mengerjap. Sesuatu menyadarinya. Selama ini mereka kalau makan selalu menu yang bisa dikatakan mewah. Jika bukan ayam, maka segala jenis ikan menjadi santapannya.   Itu pun bukan hanya dua atau tiga potong tiap hari. Lebih dari lima potong karena sekali makan suaminya itu menghabiskan satu ikan utuh.   "Makan yang adanya itu bagaimana, Mbak."   "Ya seadanya aja. Masmu paling suka sambel-sambelan. Daun ketela, singkong, lembayung, krai, kecipir. Itu paling suka masmu. Anak-anak biasanya aku sediain telur. Kita mah yang orang tua ngalah aja," jelas Sugi.   Matun merenung. Makanan seperti itu, Hadi pasti akan mengomel. Katanya, sedari kecil udah makan yang beginian, masak pas gede setelah kerja sendiri makannya masih beginian. Matun menghela napas sangat dalam.   "Sudah ah, ayok. Nggak makan bakso ini nanti." Mereka kembali melanjutkan perjalanan.   Sebuah warung bakso di pinggir jalan besar yang terkenal enak menjadi tujuannya. Sayangnya, karena terkenal akan rasa yang enak mereka harus mengantre terlebih dahulu.   "Pesen minumnya tiga, Mas." Mereka memilih tempat duduk di bagian sudut warung. Tempat ini hanya ditutupi banner besar untuk menghalangi pandangan dari orang yang lalu lalang di jalan raya.   Alhasil, masih bisa mereka lihat yang berseliweran di jalan.   "Lek Hadi," ucap Ratna. Hal itu mengejutkan kedua orang dewasa di sana.   "Lek Hadi?" tanya Sugi pada anaknya.   Gadis kecil itu menoleh pada sang ibu, mengangguk lalu menunjuk ke arah jalan Raya. Sugi dan Matun mengikuti arah pandang yang ditunjuk Ratna.   Di seberang jalan, terlihat Hadi bersama seorang perempuan berpakaian minim tengah mengobrol. "Itu, kan suamimu Hadi, Tun?"   Matun mengangguk. "Sama siapa dia, Tun?" tanya Sugi.   Matun menggeleng. "Enggak tahu, Mbak."   Sesaat kemudian mata Matun membola karena terkejut. Bagaimana tidak, sekarang dua orang itu berboncengan dengan mesra. Perempuan itu memeluk Hadi erat ketika berada di boncengan, lalu keduanya pergi sebelum Matun sempat memanggil suaminya.   "Mbak. Kok perempuan tadi mesra banget sama Bang Hadi. Dia siapa, Mbak?"   "Mbak juga nggak tahu. Coba nanti tanya sama suamimu." Perasaan Matun menjadi gelisah. Melihat suaminya tadi mereka seperti pasangan saja.   "Mbak. Kita pulang saja, ya. Matun udah nggak selera makan," ucap Matun tidak enak hati.   Sugi menimang. Ia pun mengangguk mengerti perasaan adik iparnya. "Kita bungkus saja, ya?" Tidak ada bantahan dari Matun. Pikirannya hanya tertuju pada sang suami dan perempuan berpakaian minim yang dibonceng suaminya.   ***   Matun-mondar mandir di depan rumah menunggu suaminya pulang. Rio dan Pendi saat ini berada di rumah kakaknya Fidun. Entah kenapa tadi sang kakak mengajak kedua anaknya, seperti tahu akan ada sesuatu.   "Ke mana Bang Hadi? Kok nggak pulang-pulang, sih?" gerutunya. Berjalan ke utara lalu balik lagi ke selatan.   Suara motor yang ia kenali membuat Matun mengalihkan pandangan, ia melihat suaminya yang baru saja datang.   Matun turun dari teras, menghampiri Hadi yang menstandarkan motornya. "Bang. Abang dari mana?"   Bukannya menjawab Hadi malah mengulurkan tangannya. "Suami pulang bukannya cium tangan malah dikasih pertanyaan," ucap Hadi.   Lagi-lagi Matun segera mencium punggung tangan suaminya. Cepat-cepat karena ia tidak ingin membuang waktu. "Abang tadi dari mana?"   "Kan tadi pas pergi udah bilang mau ke rumah temen." Hadi berjalan memasuki rumah.   "Bang. Tadi Adek melihat Abang boncengan sama perempuan. Pakaiannya seksi. Kalian boncengan dengan mesra." Hadi sempat mematung mendengar ucapan istrinya.   "Dia adik temennya Abang. Tadi minta tolong anterin ke suatu tempat," ucapnya memberi alasan. Hadi meraih minuman untuk ia teguk guna menghilangkan rasa gugup yang dirasa.   "Kenapa nggak minta anter sama kakaknya saja? Temen Abang itu."   Hadi menghela napas dalam, memutar otak mencari jawaban. "Istrinya teman Abang hamil besar. Nggak mungkinlah ditinggal."   Alasan Hadi masuk akal. Akan tetapi, Matun masih saja merasa gelisah. "Tapi, Bang. Abang sama perempuan tadi kelihatan mesra sekali."   "Dek," panggil Hadi dengan nada yang sedikit keras. "Abang tidak suka, ya ditanya-tanya kayak gini. Abang ini baru pulang, capek. Kamu malah bikin Abang pusing?"   "Matun, kan hanya tanya, Bang. Kok Abang marah?" tanya Marun dengan suara lirih.   "Ah sudahlah. Abang mau mandi," ucap Hadi sembari meninggalkan Matun.   Matun hanya bisa membanting tubuhnya pada kursi. Menarik napas dalam untuk melepaskan rasa bingung karena belum mendapat jawaban pasti.

Lanjut baca