Pernikahan Sandiwara
Bab 1 Menutup Rahasia

"Apa medis tidak salah diagnosa, dokter?" Pertanyaan yang sama berulang-ulang keluar dari bibir Dina Sesan. Lantas kedua tangannya bergetar hebat menggenggam erat berkas-berkas medis Regent Parlindungan, suaminya. *** Perlahan Dina menyeret langkahnya keluar dari ruangan dokter yang berukuran 3 x 3 meter persegi. "Kenapa wajahmu murung, Dina?" tanya Regent ketika melihat Dina muncul dari pintu ruangan dokter. Lantas Dina menghampiri Regent yang sedari tadi menunggu di depan ruangan. Dengan hati-hati ia mendorong kursi roda sebagai alat bantu bergerak Regent. Senyuman manis pun mengembang di sudut bibirnya setiap melihat wajah Regent yang kian hari kian memucat itu. Dina segera menutup berkas-berkas medis di tangannya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia tidak ingin Regent mengetahui hasil medis miliknya. "Tidak apa-apa, kok. Cuma kesel aja tadi di dalam ada orang main serobot aja," jawab Dina memaksakan senyumannya agar terlihat baik-baik saja. Ia pun terpaksa berbohong untuk menutupi semua kekhawatirannya. Lagi ia pun ingin menutup rapat rahasia ini dari Regent, sampai benar-benar ada hasil memuaskan dari dokter nanti. "Ohh, begitu! Tidak usah di pikirkan, honey namanya juga manusia, tidak semuanya bisa mengerti kesopanan," ujar Regent sembari merangkul mesra pinggang ramping Dina. Sesaat menenggelamkan wajahnya di perut rata istrinya. Aroma parfum vanilla menyeruak dari pori-pori kulit tubuh Dina, menyentuh lembut indra penciuman Regent. "Sejak pertama bertemu, aroma vanila ini tidak pernah lepas dari tubuhmu, Honey." Dina hanya tersenyum getir dan mengelus lembut puncak kepala Regent. Perasaan hatinya saat itu semakin tidak menentu. Tapi ia juga tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa. Lalu, juga harus bisa menjaga moodnya di hadapan Regent. "Iya, aku tidak penting memikirkan mereka. Kita pulang saja, yukk," ajak Dina segera menghubungkan ponselnya ke nomor pengawal pribadi keluarga mereka yang menunggu mereka di parkiran rumah sakit. Dalam hitungan detik beberapa pengawal sudah berdiri di hadapan mereka. "Bawa saja Tuan Regent ke mobil. Saya masih menebus obat Tuan dulu," titah Dina melepaskan genggaman tangannya dari lengan kekar Regent. "Lho, biarkan saja pengawal yang mengambilnya, honey. Di sana tentu banyak antrian nantinya," ucap Regent tidak ingin istrinya tercinta itu harus berdiri lama, dengan high heels yang membungkus kedua telapak kaki jenjangnya. "Tidak apa-apa, tunggulah di dalam mobil. Aku mengambilnya sendiri saja, takut pengawal nanti salah memberikan resep obat," dalih Dina tidak ingin satu orang pun yang mengetahui diagnosa sakit Regent sebenarnya. "Jaga tuan Regent dengan baik!" titahnya kepada pengawal sebelum berlalu dan menghilang di lorong-lorong rumah sakit. Dengan kasar Dina menghenyakkan duduknya dan merenung di kursi tunggu pasien apotik rumah sakit. Berulangkali membaca nama-nama obat yang diresepkan dokter tadi. Namun, ia tidak paham kenapa suaminya harus mengkonsumsi obat-obat keras itu. Dina yang kelulusan sarjana perbankan itu, tidak mengerti kegunaan dari nama-nama asing dari obat yang diresepkan dokter itu. 'Jeremia!' pikirnya mengingat teman laki-lakinya itu, Jeremia merupakan dokter juga. "Kali aja dia bisa menjelaskan rinci kegunaan obat-obatan Regent ini," gumam Dina berharap segera mengetahui apa yang mengganggu kesehatan Regent. Sampai saat ini Dina masih merasa aneh saja, karena tiba-tiba kedua tungkai kaki Regent melemah. Dua minggu yang lalu, pegawai perusahaan Regent group mengabarinya, kalau Regent ditemukan tidak sadarkan diri di dalam elevator. Pagi itu Dina yang berkemas hendak berangkat bekerja pun urung pergi. Ia segera memanggil sopir untuk membawanya ke Hospital Barlyne, salah satu rumah sakit terbesar di kotanya. Sebab pegawai perusahaan Regent group, lekas melarikan Regent ke rumah sakit terbesar itu. Tiga hari dalam koma. Menurut dokter yang menanganinya, Regent mengalami kesadaran yang rendah, lalu, oksigen dalam otaknya sangat minim. Mendengar itu, kedua tungkai kaki Dina Sesan pun bergetar hebat. Mengingat Regent selama ini selalu menjaga kesehatannya. Bahkan sejak mereka kenal lima belas tahun yang lalu, Regent tidak pernah mengalami penurunan kesehatan drastis. Dina tidak tahu harus berbuat apalagi, semuanya terasa mendadak dengan kondisi Regent yang buruk. Beruntung kedua putri mereka tengah bersama tuan Martua Sahala Regent dan Nyonya Marnida Regent, kedua mertuanya di London saat ini. Jadi, ia pun bisa menjaga Regent selama dirawat di ruang ICU. "Hei ... melamun aja! Awas kesambet, lho! Lagi ini juga di rumah sakit." Seseorang menepuk pundaknya pelan sekaligus menyentakkan lamunan Dina. Tangan Dina bergerak cepat dan segera memasukkan kembali berkas-berkas medis Regent kedalam tasnya. Karena tadi dia sempat mengeluarkannya ketika pegawai apotik ingin melihat berkas medis suaminya. "Ehh ... kok, kamu cepat banget tiba di sini!" kata Dina merasa baru beberapa menit dia mengirimkan pesan wa kepada Jeremia. Lalu, ia pun tidak tahu harus bertanya apa, bahkan sedikit salah tingkah di hadapan Jeremia teman sejak masa kecil. Seraya menggeser duduknya untuk menjaga jarak dari Jeremia, teman prianya yang sempat dulu ingin mendekatinya. Namun, pria yang berpakaian rapi dengan bed nama "Dokter Jeremia" melekat di dada kirinya, kembali merapatkan duduknya dengan Dina. "Apa kamu takut Regent memergoki kedekatan kita ini?" godanya lantas mencolek hidung mancung Dina gemas. Hal akrab seperti itu sudah biasa dilakukan Jeremia sejak kecil setiap bertemu Dina. "Oiya, mana Regent?" tanyanya lagi melihat Dina hanya sendiri saja duduk di kursi tunggu ruang apotek rumah sakit. Sejak dulu Jeremia tahu Regent tidak pernah mau membiarkan Dina duduk sendirian. Apalagi di tempat ramai seperti itu, suami Dina tersebut akan selalu menempel di sebelah Dina. "Ehh ... dia tadi pergi sebentar ke mobil untuk mengambil minum," kata Dina asal ceplos aja. Tanpa menyadari jika di sebelahnya terletak air mineral kemasan botol. Lantas Jeremia mengangkat kedua alisnya turun naik, setelah melihat air mineral kemasan botol yang terletak di sebelah Dina. "Ohh ... ini punyaku. Regent ingin mengambil minuman jus miliknya dari mobil. Oiya, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi?" kata Dina tidak ingin berlama-lama terlibat pembahasan tentang Regent dengan Jeremia. Saat ini pikirannya pun masih kacau dan sangat mengkhawatirkan keadaan Regent di dalam mobil. "Lha, aku kan bekerja di rumah sakit ini, Din," sahut Jeremia membuat kening Dina mengerut. Sebenarnya maksud Dina bertanya tentang kegunaan resep obat yang dikirimkan tadi kepada Jeremia, bukan bertanya di rumah sakit mana Jeremia bekerja. Meski Dina pun rada syok juga setelah mengetahui, jika Jeremia bekerja di rumah sakit yang sama, di mana Regent menjalani tindakan perawatan. "Ehh, iya," sahut Dina lantas mengecek kembali pesan yang ia kirimkan kepada Jeremia tadi. Dina langsung menghapus resep obat yang ia kirimkan tadi. Beruntungnya pesan itu belum dibaca Jeremia. "Ehh, aku duluan, ya," kata Dina setelah menerima bungkusan plastik berisi obat-obatan Regent dari pegawai apotik. Ia hanya mengabaikan wajah kebingungan Jeremia yang melihatnya seperti kesetanan itu. Setengah berlari Dina keluar dari ruangan apotek untuk menghindari kejaran Jeremia. Entah apa yang Dina pikirkan saat ini, ia pun tidak mau siapapun yang mengetahui keadaan Regent saat ini. Dina semakin mempercepat larinya menuju kearah parkiran mobil dan menghilang di jejeran mobil terparkir. "Maaf, tadi panjang banget antriannya," ucap Dina setelah duduk bersebelahan dengan Regent. Nafasnya masih memburu karena berlarian di lorong-lorong rumah sakit. "Kan, tadi udah aku bilang pengawal aja yang ---" "Ayo, jalankan aja mobilnya!" potong Dina memotong ucapan Regent. Ia khawatir Jeremia masih saja mengikutinya hingga kesana. Namun sang sopir sepertinya masih sibuk mengutak-atik laci dashboard mobil, dan hanya mengabaikan perintah Dina tadi. "Sekarang kita harus segera pulang!" kata Dina melakukan penekanan nada di suaranya. "Baik, nyonya! Tapi bagaimana ini Tuan Regent? Aku tidak menemukannya disini," kata sopir menoleh ke kursi belakang. "Sudahlah. Lupakan hal itu dan ikuti perintah Nyonya Dina," jawab Regent dengan nada kecewa. Dina mengerutkan kening karena kebingungan. Ia tidak tahu apa yang dimaksud sopir mencari di laci dashboard mobil "Kamu sedang mencari apa, Regent?" ***

Bab 2 Lima Belas Tahun Lalu

Regent tidak tahu harus menjawab apa pada Dina. Istrinya tentu akan memaksa para pengawal untuk mencari barang yang dia cari-cari itu. "Cuma mencari charger ponselku aja, Honey," jawab Regent memaksakan tawanya. Dina tidak langsung percaya aja dengan ucapan Regent itu, tapi dia juga tidak bisa memaksakan Regent untuk menjawab jujur. "Bukannya kamu ingin memberikan obatku?" tanya Regent mengalihkan pembicaraan, apalagi melihat Dina terus melotot seolah ingin menyelidiki kejujurannya. Tanpa bicara Dina segera memberikan dua macam obat untuk Regent. Sesaat setelah meneguk dua pil pahit itu, rasa kantuk menyerang kedua bola mata Regent. Dalam hitungan beberapa menit saja dia sudah tertidur. Tapi rasa penasaran Dina dengan barang yang dicari Regent tadi, belum bisa lepas dari pikirannya. "Apa yang dicari oleh Tuan Regent tadi, pak Son?" tanya Dina penasaran dengan perubahan raut wajah Regent tadi. "Itu Nyonya. Eh ... berkas dokter dari rumah sakit Barlyne," sahut sopir kurang paham menjelaskan hasil medis milik Regent di rumah sakit pertama dia dirawat. "Tadi kata pengawal ditaruh di dalam laci dashboard mobil ini, Nyonya. Jadi, Tuan Regent menyuruhku untuk mencarinya," lanjutnya. "Ooo ...." Dina pun hanya bisa membeo dan tidak mau melanjutkannya lagi. Beruntung tadi pagi sebelum berangkat ke rumah sakit, ia segera membersihkan laci dashboard. Lalu, menyimpan semua hasil tindakan medis Regentdi satu tempat. 'Maafin aku, kalau terkesan jahat menyembunyikan rahasia ini, Regent. Aku hanya tidak ingin kehilangan sinar kebahagiaan di raut wajahmu,' batin Dina meneguk liur terasa kesulitan. Dina tidak ingin seorang pun tahu tentang rahasianya - yang bisa menyampaikan itu kepada Regent. Dina tetap menutupinya, agar tetap bisa melihat Regent bahagia tanpa mengetahui diagnosa kronis-nya. *** Alur mundur. Lima belas tahun yang lalu. Dengan langkah tergesa Dina pun segera masuk ke dalam semua mobil yang berhenti di luar parkiran bank tempatnya bekerja. Entah kenapa tiba-tiba saja Edo mengabari Dina beberapa menit yang lalu, kalau dia tidak bisa menjemputnya sore ini. (Edo adalah teman satu gedung apartemen dan juga satu alumni kampus dengan Dina) Flash back beberapa menit yang lalu. "Lho, jadi aku pulang pake apa, dong?" rengek Dina sudah menganggap Edo seperti kakak laki-lakinya sendiri. Setiap harinya, Dina selalu menyuruh Edo menjemputnya sepulang kerja. Kebetulan Edo juga bekerja di kantor yang tidak jauh dari bank tempat Dina bekerja. Lalu saat berangkat bekerja Dina menumpang mobil Lisa, sahabat wanitanya - satu apartemen dengannya. Dina berasal dari luar kota - yang ditempatkan bekerja magang di sebuah bank terbesar di pusat kota itu. Pemindahan Dina ke bank luar kota terkesan mendadak, maka ia pun tidak sempat lagi membawa mobil miliknya turut berpindah kota. "Tenang saja aku akan menyuruh temanku untuk menjemputmu kesana. Kebetulan hari ini aku lembur di kantor, Din. Atau kekasihmu yang jemput?" goda Edo meledek Dina. "Ishh, parah kali lah kau! Udah tahu gak ada pacarku," omel Dina di telepon, lantas berkemas di meja kerjanya. Karena urusan pekerjaan, maka Edo pun menyuruh teman satu kantornya untuk menggantikannya menjemput Dina, sahabatnya. Dina masih sibuk mengotak-atik isi tasnya tanpa memperhatikan sosok pria yang Iya anggap teman Edo, duduk di belakang setir tepat di depan kursinya. "Sebelum pulang ke apartemen, tolong antarkan aku ke perpustakaan, bang," pinta Dina menyentuh pundak pria yang tengah duduk membelakanginya. Sementara pria itu masih sibuk mengobrol di ponselnya, sampai-sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam mobilnya. Pria yang duduk di belakang setir mobil itu pun segera menoleh ke belakang. Dia tidak kalah kaget melihat Dina duduk santai di kursi belakang mobilnya. Dina yang sebenarnya tidak mengenal teman Edo yang akan menjemputnya itu, merasa ia tidak salah masuk mobil. Ia sangat yakin itu mobil mewah Edo. "Siapa kamu?" tanya pria itu yang belakangan diketahui bernama Regent Parlindungan Sagala atau kerap di panggil Regent. Dengan santai Dina pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria yang dia pikir adalah teman Edo itu. "Aku Dina Sesan, biasa dipanggil Dina. Aku teman Edo," katanya dengan memberikan senyuman manis di bibirnya. Sorotan kedua iris berwarna hazel itu pun begitu teduh menyentuh sudut hati Regent. "What? Apa kamu sudah gila? Aku tidak mengenalmu dan juga temanmu itu si Edo itu. Sekarang cepat turun dari mobilku, sebelum aku memanggilkan satpam bank ini untuk menyeretmu keluar!" ancam Regent mencoba membuang perasaan kagumnya dengan kecantikan gadis di dalam mobilnya. Dina Sesan adalah seorang gadis yang sangat cantik dan periang. Sorotan manik matanya yang lembut, membuat setiap orang yang memandangnya akan terpesona dengan kecantikannya yang sempurna. "Aku tahu kamu teman sekantornya Edo - yang dia suruh untuk menjemputku kemari 'kan? Dan aku tidak mungkin tidak mengenal mobil ini. Kamu memakai mobil Edo 'kan?" Ocehan Dina itu semakin membuat Regent kesal dan terpaksa harus turun dari mobilnya. Membuka pintu mobil belakang dimana Dina masih duduk santai. Regent pun berusaha menyeret Dina keluar dari dalam mobilnya. Namun, Dina tetap menolak dan ngotot untuk diantarkan ke perpustakaan. "Cepat jalankan mobilnya dan jangan banyak tingkah, ya! Aku ada urusan penting ke perpustakaan!" ujar Dina tidak peduli dengan sikap tegas Regent. "Awas, kalau berani macam-macam denganku, yah!" kecam Dina kembali menarik dan menutup kasar pintu mobil. Regent mulai putus asa mengusir Dina dan terpaksa harus kembali ke kursinya. Melihat keras kepala Dina itu, Regent pun curiga, jika Dina itu sama dengan gadis-gadis yang selalu berusaha memanfaatkannya. "Aku tahu kamu bukan perempuan baik-baik. Berpura-pura ngaku, jika aku temannya si Dodo itu. Padahal kamu udah mengenalku 'kan? Lagipula, siapa lagi yang tidak mengenal Regent Parlindungan diseluruh kota ini!" ketus Regent lantas putar badan dan mencondongkan wajahnya kepada Dina. "Edo bukan Dodo!" sela Dina. Lantas ia pun harus memundurkan kepalanya untuk menghindari desahan nafas memburu, dari pria yang tidak mau mengaku sebagai teman Edo itu. 'Tampannya dia!' bisik hati Dina tidak berhenti mengagumi ketampanan wajah Regent. 'Kenapa selama ini Edo tidak pernah membawanya main-main ke apartemennya, ya?' Kedua bola mata Dina pun semakin liar menyapu dada bidang pria yang masih betah mencondongkan badan ke arahnya. "Ooo ... ternyata namamu Regent Parlindungan," oceh Dina segera meletakkan jemari telunjuknya di dahi Regent. Mendorongnya sedikit kasar hingga Regent kembali ke tempat duduknya semula. "Kamu diam saja dulu di situ! Aku akan segera menelepon Edo. Bahkan aku akan menyuruhnya untuk memecat mu dari kantor, karena kamu sudah bersikap tidak baik padaku," ancam Dina segera mencari ponselnya dari dalam tas selempang yang tergantung di bahu kanannya. Namun, belum lagi Dina berhasil mencari nomor Edo, ia pun terusik dengan notifikasi pesan wa yang masuk. Dengan sedikit menggerutu, Dina pun membuka pesan wa lebih dulu. Takut pesan dari teller atau admin bank. {"Hai, Din ... aku Rangga teman Edo. Aku udah menunggu di parkiran yang bersebelahan dengan kafe, ya. Aku mengunakan mobil berwarna merah"} 'Astaga! Jadi aku beneran salah masuk mobil?' batin Dina meneguk liur terasa kesulitan. Bahkan Dina pun tidak sanggup lagi untuk mengangkat wajahnya, menatap wajah Regent yang masih terus memelototinya. Saat ini ia seperti terjebak dalam sebuah ruangan yang tidak memiliki pintu keluar. Raut wajah cantik Dina pun berubah memutih seolah darah berhenti mengalir di sana. Tangannya bergetar mencengkram tas selempang berwarna merah bata miliknya. "Kenapa malah bengong?!" geram Regent menaikkan nada suaranya. Tidak ada sahutan dari Dina, ia pun tidak tahu harus mengatakan apa kepada pemilik mobil itu. Mungkin meminta maaf belum tentu bisa mengurangi kekesalan hati Regent. Sejak tadi Dina ngotot kalau Regent adalah teman Edo, bahkan telah mengancamnya. "Ma -- maaf, ak -- aku salah masuk mobil anda," ucap Dina terbata-bata. Sikapnya pun tiba-tiba berubah melunak dan berkali-kali membungkukkan badan berharap Regent bisa memaafkannya. Mendengar itu Regent tertawa terbahak-bahak. Lalu, kembali memutar badan berhadapan dengan Dina- yang saat itu hendak meraih gagang pintu mobil, berniat melarikan diri. "Hei!! Apa kamu seorang maling? Kenapa mau melarikan diri?" goda Regent mengunci pintu mobil dengan tawa terbahak-bahak-nya. "Aku mohon biarkan aku turun. Temanku barusan mengirimkan pesan, kalau dia udah menungguku di parkiran mobil," sungguh Dina dengan nada memelas meminta izin dari Regent. 'Boleh juga ia ini,' batin Regent mempermainkan gerahamnya, sembari terus memandangi wajah memelas Dina yang terus memohon. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Regent segera melajukan mobilnya tanpa mengizinkan Dina turun dari mobilnya. "Hei, ke mana kamu mau membawaku?" teriak Dina dengan wajahnya semakin memucat karena ketakutan. Bahkan tubuhnya pun terguncang keras saat Regent melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Hei! Apa kamu budek?" teriak Dina mencengkram erat pundak Regent untuk menyuruh pria itu memperlambat laju mobilnya. Tapi bukannya memperlambat laju mobil, Regent malah menarik tangan Dina dengan sedikit menghentak, sehingga tubuh Dina pun lantas terjatuh di pangkuan Regent. "Oh, my ghost!!" pekik Dina ketika wajahnya berbenturan langsung dengan aset pribadi Regent. ***

Bab 3 Kesepakatan

Dina berpegangan pada sisi kursi yang diduduki oleh Regent untuk menahan tubuhnya agar tidak lagi berbenturan dengan aset pribadi Regent. Namun, sepertinya Regent ingin membalas dendam pada Dina, dengan sengaja menginjak tiba-tiba. kepala dinas berbenturan keras dengan dashboard mobil. "Ouchh ....!" Dina meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya yang terbentur. Ia pun mengangkat wajahnya bersiap mengomeli Regent yang sengaja membuatnya terjatuh. Belum lagi sempat menarik nafas, Regent kembali melajukan mobil dan beberapa detik kemudian menghentikannya dengan mengerem mendadak. Dina pun kembali nyungsep ke depan dan kaki ini merasakan sakit di bagian kepala depannya akibat benturan keras yang berulang-ulang. "Kamu manusia apa setan, seh?" sarkas Dina melihat cairan kental berwarna merah mengalir perlahan dari dahinya. "Sini!" sahut Regent menarik paksa tangan Dina untuk membantunya duduk kembali. Dengan santai Regent pun meraih lembaran tissue kering dan mulai merapikan membersihkan cairan kental berwarna merah yang mengalir melewati pipi mulus Dina. "Lepasin!" kesal Dina merampas tisu dari tangan Regent, lalu, menepisnya sangat kasar. "Kalau kau tidak suka dengan sikapku tadi, tinggal campakkan aja aku dari mobil. bukan menyiksaku seperti ini! Dasar sikopet!' omel Dina tidak bisa menahan rasa geramnya. Sementara pria tampan di hadapannya hanya tersenyum tipis, dan tidak berhenti menyanjung kecantikan Dina dalam hati. "Astaga! Cantik memang tapi sayang dia cuma gadis gila!" gumam Regent memelototi wajah Dina yang terus mengomel dengan tangannya sibuk membersihkan rambutnya. "Siapa gadis gila?" Dina semakin sarkas, apalagi melihatmata Regent semakin nakal menyapu inci wajahnya. Lama hanya berputar-putar di wajah cantiknya dan akhirnya bertumpu pada belahan bibir Dina yang seksi bak bibir Megan Fox itu. Dina yang menyadari hal itu semakin risih, sepertinya Regent terhipnotis dengan keseksian bibirnya itu. "Ma ... maaf, aku ---" Regent menurunkan pandangannya dari wajah Dina dan memutar badan. Dina juga segera mengatur posisi duduknya. Namun, tangan kekar Regent tanpa sengaja bergesekan dengan kedua benda kenyal miliknya, ketika pria itu memutar badan. Pekikan kecil lolos begitu saja dari bibir Dina. Bahkan ia pun seolah kehilangan kekuatannya untuk mendorong Regent agar menjauh. "Maaf, aku tidak sengaja," ucap Regent menatap kedua gundukan kenyal di depan matanya. Kedua benda itu bagai magnet berkekuatan tinggi yang menarik Regent untuk mendekat. Merasakan hembusan hangat dari nafas memburu Regent - yang menyapu di kulit wajahnya. Dina segera membuka matanya dan melihat wajah Regent yang hampir tidak berjarak dengannya. "Apa yang kamu lakukan, pria bajingan?!" teriak Dina seraya mendorong Regent hingga terpental ke belakang dan punggungnya terbentur ke pintu mobil. "Jangan berani macam-macam, ya! Kalau tidak mau mati di tanganku!?" ancam Dina asal ceplos saja. Dina pun segera meriah tongsis tripod yang ia lihat di atas dashboard dan mengarahkannya kepada Regent. "Dasar gadis gila! Aku berusaha membantumu tapi ---" Regent tidak meneruskan ucapannya, ketika terdengar nada dering ponsel dari kantong celananya. "Ishh! sebenarnya yang pantas dibilang gila itu aku atau kamu," omel Dina meletakkan kembali tongsis tripod di tempatnya. "Mati aku! Aku hampir lupa keperluan penting malam ini," ucap Regent bergumam. Dina mengabaikan celotehan Regent, ia pun tidak berniat bertanya apa yang dilupakan pria tampan di sampingnya itu. "Sial! Kamu lah yang harus bertanggung jawab dengan semua ini, gadis hilang waras!" tuduh Regent membuat Dina seketika syok mendengar itu. "Hakh! Aku udah buat apa emang?" tentang Dina tidak sadar dengan dirinya yang tiba-tiba saja masuk mobil Regent tadi. "Kau membuatku lupa dengan urusan penting ku di --- Arghh! Siapa lagi yang menelepon ini," gerutu Regent kembali merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Dina membuang pandangannya keluar, ia pun tidak paham apa yang dikatakan Regent tadi. Ia juga tidak berniat ingin mengetahui kepentingan Regent. "Daddy? Mati aku! Bukankah jam malam ini aku sudah berjanji bertemu dengan daddy?" Regent bergumam kecil namun jelas tertangkap gendang telinga Dina. 'Daddy? Bukankah dia orang pribumi? Kenapa panggil Daddy dan bukan papi, ayah atau papa,' batin Dina merasa Regent hanya ingin terlihat high class aja. Sesekali Dina mengekor kan sudut matanya kepada Regent yang tengah sibuk mengobrol dengan seseorang. Ia tidak melihat di wajah Regent ada kemiripan dengan dengan orang bule. bahkan logat bicaranya sangat kental dengan suku Batak. "Bersihkan wajahmu dan rapikan riasan wajahmu itu. Lalu, ikut aku!" titah Regent mengubah posisi cermin di atas kepalanya ke arah Dina. Raut wajah Regent pun tampak tegang tidak seperti tadi setelah mengakhiri obrolannya di telpon tadi. "What?! Apa kau ingin menculik ku dan hendak menawarkan ku kepada orang yang kamu telepon tadi?" Dina selalu mengingat cerita maminya, kalau di kota pusat itu banyak terjadi perdagangan manusia. "Hentikan! Aku tidak seburuk yang kau pikirkan itu!? Bahkan kau pun belum meminta maaf dengan baik kepadaku, karena terlalu murahan menawarkan diri dengan berpura-pura salah masuk mobilku. Sekarang malah menuduhku yang macam-macam?!" Ucapan Regent itu sangat menyinggung perasaan Dina. Bagaimana bisa pria tampan dan berwibawa seperti Regent bisa menarik kesimpulan, jika dia seorang perempuan murahan yang menawarkan dirinya. "Jaga bicaramu, ya!? Aku gadis baik-baik dari keluarga terkenal di kotaku! Ayahku seorang ---" "Sttt!! Tidak ada artinya berdebat denganku, Dina Sesan! Sekarang ikut aku!" potong Regent melihat nama Dina dari bed nama di dada kirinya. Kemudian turun mendahului Dina dari mobil ketika mereka tiba di depan sebuah gedung besar. Dina pun ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dari Regent. Dengan mengendap-endap Dina segera turun dari mobil dan bersiap hendak melarikan diri. Bukk ... Wajahnya berbenturan dengan benda empuk di depannya. Perlahan Dina mengangkat wajahnya, aroma wangi dari tubuh seksi di hadapannya membuat pikiran Dina travelling ke mana dia suka. Namun, ia juga berusaha untuk tidak terlihat panik dan salah tingkah. "Hei! Kenapa menghalangi jalanku?" geram Dina melihat Regent tengah berdiri di depannya. Postur tubuhnya yang tinggi kekar, dada bidang dan bahu lebar. Ditambah lagi wajahnya yang begitu menawan. 'Hmm ...dia benar-benar pria idamanku,' batin Dina tidak bisa menutupi rasa kagumnya kepada Regent. "Ayo! Aku sudah terlambat! Setelah ini selesai, aku berjanji akan mengantarmu pulang, Dina Sesan." Dina meneguk liur mendengar nada lembut dan manis dari suara Regent itu. Tapi dia tidak mau terlalu larut dalam pikirannya, saat ini dia ingin pulang dan kembali ke apartemen.Masalah urusan pentingnya ke perpustakaan bisa ia tunda besok pagi. Entah sudah berapa jam ia berdebat tidak jelas dengan Regent. Ketika Dina melihat hari sudah malam saja. "Aku mau pulang," kata Dina sedikit memohon agar Regent mengubah rencananya yang hendak membawanya entah kemana itu. Apalagi saat ini mereka tengah berada diparkiran sebuah gedung tinggi. Dina takut dengan cerita-cerita maminya itu. Dina pun segera merogoh ponselnya dari tas selempang nya, ia akan menyuruh Edo menjemputnya kesana aja. "Oke! Kamu boleh pulang, Dina Sesan tapi ---" Dengan gerakan cepat ponsel di tangan Dina pun berpindah tempat ke tangan Regent "Hei, ponselku!" teriak Dina kaget dengan kelancangan Regent merampas ponselnya. "Haha, sekarang pikir aja bagaimana pulang dari tempat ini, Dina," goda Regent mengedarkan pandangannya ke sekitaran mereka yang sepi angkutan umum. Karena memang gedung besar itu dikhususkan untuk tempat pertemuan bagi keluarga Regent. Dina pun mengikuti pergerakan kedua bola mata Regent. Seketika bulu kuduknya berdiri melihat situasi sekeliling mereka yang sepi dari angkutan umum.Hanya ada beberapa orang saja yang lalu lalang itu pun menggunakan kendaraan pribadi. Sementara Dina yang tidak mengetahui seluk beluk kota besar itu pun, tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa pulang ke apartemennya. Harapan terakhirnya adalah ponselnya, agar dia bisa menghubungi Edo atau Lisa untuk menjemputnya ke tempat itu. Setelah mengatakan itu, Regent pun mulai melangkah memasuki gedung tanpa berniat memaksa Dina harus ikut. Regent yakin gadis tidak akan berani pulang sediri. "Oh my God! Ini tidak benar!" pekik Dina merasa ketakutan sendiri, saat iris berwarna hazel itu bertumpu pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Jam sembilan malam! Ini gila! Hei ... tunggu!!" panggil Dina berteriak dan berlari mengejar Regent. Mengikuti pria aneh itu jauh lebih aman ketimbang mati berdiri ketakutan di sana. Maka ia pun pasrah aja mengikuti ke mana Regent membawanya. Setidaknya pria itu sudah berjanji untuk mengantarkannya ke apartemen setelah mereka selesai dari gedung besar itu. Regent menghentikan langkahnya. Dengan senyuman nakal dia pun memutar badan untuk menghadap Dina - yang berdiri di balik punggungnya dengan nafas terengah-engah. Regent sekilas memperhatikan penampilan Dina dan fokus dengan rambut panjangnya yang sedikit acak-acakan. Tanpa butuh izin dari Dina, Regent pun merapikan helai rambut Dina yang beberapa helainya terjatuh di wajah cantiknya. Kemudian Regent juga menyambar tissue kering yang telah kusut dari tangan Dina dan mulai merapikan riasan wajah Dina. "Ap -- apa ---" "Stt! Aku tidak mau membawa kekasihku ini untuk bertemu Tuan dan Nyonya besar, dengan riasannya yang berantakan gini sayang!" ***

Lanjut baca