Pelakor Itu Sahabatku
Bab 1 Curiga

"Iya, sayang. Aku juga merindukanmu. Kamu sabar, ya. Sebentar lagi kita akan bertemu." Deg.. Langkahnya terhenti karena mendengar kalimat suaminya yang seketika membuat darahnya berhenti mengalir. "Sa-sayang?!" Senja masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ia baru menyadari jika ada yang tidak beres dengan suaminya saat ini. Karena selama ini suaminya selalu mengangkat telepon meskipun berada disampingnya. Dengan lancang dia menguping kembali pembicaraan sang suami karena rasa penasaran menyergapnya. Apalagi panggilan sayang masih membekas di ingatannya. "Dengan siapa Mas Han berbicara?" batin Senja yang masih menguping di sana. Dia bersembunyi dibalik korden yang biasanya menutup pintu balkon. "Iya, Sayang," ucap Han di sela tawanya. Mata Senja membulat sempurna ketika mendengar Han kembali memanggil sayang dengan lawan bicaranya. Senja meremas dadanya yang tiba-tiba sesak. Air matanya luruh begitu saja saat mendengar percakapannya suaminya yang entah dengan siapa. Apalagi panggilan sayang yang Han lontarkan telah mengusik hatinya. Ya, Han Sanjaya adalah pria yang sudah menemaninya selama delapan tahun terakhir. Pria yang dengan gagahnya memintanya pada ibunya untuk meminangnya sebagai istrinya. Tapi setelah delapan tahun bersama, dia tidak menyangka jika dia harus mendengar bibir suaminya memanggil sayang pada lain wanita. Curiga? Sangat. Karena sebagai seorang istri Senja tidak pernah mengecewakan suaminya. Ia selalu patuh dan melayani suaminya setulus hati. Lalu apa kesalahannya sampai suaminya berbuat seperti itu? Tapi dia harus memastikannya terlebih dahulu sebelum mengambil langkah selanjutnya. Bisa saja dia hanya salah sangka pada suaminya. Walau bukti nyata sudah di depan mata. Senja mengusap air matanya dan berniat keluar dari persembunyiannya. Ia menarik bibirnya mengulas senyuman agar suaminya tidak curiga kepadanya. "Mas.." Han gelagapan sekaligus kaget karena dengan tiba-tiba Senja muncul di belakangnya. "Senja, sayang. Sejak kapan kamu di situ?" Seketika Han menjadi gugup bukan main, karena takut sang istri mendengar apa yang dibicarakan ketika di balkon tadi. Segera Han langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Gegas ia mendekati Senja yang tengah berdiri di depan pintu balkon kamarnya. "Barusan saja, Mas. Memangnya kenapa? Kenapa kamu kaget seperti itu?" tanya Senja dengan senyum menggoda, memasang wajah yang biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak mendengar apa-apa. Han mengecup kening Senja berkali-kali. "Tidak. Aku hanya kaget saja saat kamu tiba-tiba muncul dari belakang." "Benarkah?" Menangkap sinyal kurang baik dari Senja, Han segera mengalihkan rasa curiga istrinya. "Sudahlah. Ayo kita sarapan. Aku sudah lapar." Han pun menggandeng tangan Senja untuk keluar dari kamar. Jangan sampai istrinya itu menanyakan sesuatu tentang siapa yang menelponnya tadi. Bisa gawat urusannya, pikir Han gusar Saat di depan pintu, suara cempreng menyambutnya dengan tawa lebarnya. "Mama!!" "Sayang." Senja berjongkok dan memeluk Bina. Ciuman hangat mendarat di pipi Senja dari Bina. Di susul oleh Han yang juga ingin di cium oleh sang putri. Senja berusaha keras mengontrol emosi di depan buah hatinya. Jangan sampai sang putri melihatnya bertengkar dengan suaminya karena masalah yang belum jelas keberadaannya. Rasa penasaran memenuhi otaknya untuk segera mencari tahu secepatnya agar tidak menjadi penyakit hati. Setelah sarapan bersama, Bina dan Han berpamitan untuk pergi ketujuan masing-masing. Tak lupa mereka mengecup pipi Senja bergantian. "Aku berangkat ya, Sayang. Hati-hati di rumah. Mungkin aku tiga sampai empat hari di sana. Karena ini klien penting dari luar kota," terang Han sesaat akan masuk ke dalam mobilnya. Walau penuh rasa curiga, Senja memaksakan senyumnya dan mengangguk. Setelah ini, ia akan mencari tau apa yang selama ini di sembunyikan oleh suaminya. Melihat mobil suaminya yang perlahan meninggalkan halaman, Senja bergerak cepat untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Kali ini jangan sampai ia kehilangan jejak suaminya. Saat ia hendak masuk ke dalam mobil, sebuah mobil berwarna putih memasuki pintu gerbang. Membuatnya bertanya-tanya siapa yang bertamu kali ini. Saat Senja tau siapa orang itu, dengan berjalan cepat ia menghampirinya. "Bagus mas kamu cepat kemari. Ayo ikut aku sekarang juga." Riki yang hendak keluar dari mobil pun bingung sendiri saat melihat Senja yang malah masuk ke dalam mobilnya. "Hey, kamu mau ngapain? Aku ingin bertemu Bina makanya aku kemari," protes Riki saat Senja memakai sabuk pengaman seolah bersiap untuk pergi. "Sudah, Ayo pergi!! Nanti aku kasih tau mau kemana." "Tapi_" "Mau jalan sekarang, atau kamu bukan abangku lagi," ancamnya tidak main-main dengan sorot mata yang tajam. Riki akhirnya menurut. Dia memutar kemudinya untuk kembali lagi keluar dari gerbang rumah Senja. Selama perjalanan hatinya tidak tenang. Pikirannya melayang saat mengingat pembicaraan suaminya saat di balkon kamarnya tadi. Apalagi samar-samar ia mendengar nama sebuah hotel di luar kota di sebut. Semakin kalut pikiran Senja saat ini. Bukan Ia tidak percaya dengan kesetiaan suaminya, tapi panggilan sayang itu yang membuat Senja waspada. "Mau kemana ini, Nja?" tanya Riki dengan fokus pada kemudinya. Karena sedari tadi Senja hanya diam dan sibuk menatap setiap mobil yang berada di depannya. Seperti sedang mengintai sesuatu. "Sudah. Jalan saja, Mas. Nanti aku kasih tau. Ayo cepat!!" ujar Senja yang masih fokus karena takut kehilangan jejak sang suaminya. Riki hanya mengangguk patuh. Ia menekan pedal gas semakin dalam untuk menuruti perintah adiknya. Matanya tiba-tiba menyipit ketika melihat sebuah mobil yang tak asing baginya. Ia juga memastikan nomer plat mobil itu, dan ternyata benar. Tidak di ragukan lagi jika itu adalah mobil suaminya. "Nah, itu mobil mas Han!! Ikuti, Kak. Cepat!!" tunjuk Senja pada sebuah mobil dengan plat nomor yang di hafalnya. Berhenti paling depan di sebuah lampu merah. Mata Riki pun memindai ke mana arah pandangan Senja. "Lalu?!" Riki masih belum mengerti kenapa Senja mengikuti mobil suaminya. Karena selama ini Senja tidak pernah bertindak seperti ini. "Ck!! Sudahlah, bang. Abang ikutin aja mobilnya mau ke mana. Nanti juga tahu tujuannya sebenarnya. Karena jujur aku pun tak tahu tujuan suamiku, karena pamitnya sama aku kerja ke luar kota," sentak Senja yang mulai terpancing emosi dengan pertanyaan sang abang. "Kan udah tahu ke luar kota, tapi kenapa kamu masih ngikutin dia? Apa kamu tidak percaya dengan suamimu, Nja?" tanya Riki lagi yang merasa heran karena tidak seperti biasanya adiknya itu menaruh curiga pada suaminya. Karena biasanya Senja akan selalu percaya apapun yang dilakukan suaminya di luaran sana. Percaya jika Han tidak akan pernah membuatnya kecewa. Lalu kenapa Senja bertindak seperti ini sekarang? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Han pada Senja? Benak Riki ikut bertanya-tanya. Menerka apa yang sedang terjadi pada rumah tangga adiknya. Selama perjalanan Senja tampak gusar. Dia seolah tak tenang menanti ke mana arah tujuan suaminya tersebut. Dia juga mengultimatum Riki agar tidak sampai kehilangan jejak suaminya kali ini. Karena ia penasaran apa yang dilakukan Han sebenarnya. "Kamu kenapa sih tidak percaya begitu sama suamimu? Kalian bertengkar?" "Apakah Senja harus menjawabnya, Mas?" " Bukan karena aku mau ikut campur atas rumah tangga kamu, tapi apapun yang terjadi, kamu adalah adik aku yang harus aku jaga dan lindungi, Senja. Jadi aku mohon jangan ada yang kamu tutupi dariku." Senja menghela nafas berat. "Apakah aku salah jika mengikuti suamiku karena aku mendengar dia memanggil seseorang di telepon dengan sebutan sayang." Refleks Riki langsung menoleh ke arah Senja yang berada di sampingnya. Masih tak percaya dengan apa yang dikatakan barusan. "Kamu jangan ngaco ya, Nja? Mana mungkin Han seperti itu?" Riki terkekeh tak percaya. Senja tersenyum hambar. "Berarti apa yang dipikiran mas Riki sekarang juga sama dengan yang ada di pikiran aku. Aku pun tidak percaya ketika mas Han memanggil sayang pada lawan bicaranya di telepon pagi tadi. Tapi aku tidak bisa menyangkal kebenaran itu. Aku sudah berusaha membuang jauh pikiran buruk itu, tapi semakin aku membuangnya, semakin pula menyiksaku, Mas." Mata Senja sudah berkaca-kaca. Hingga akhirnya air mata itu pun tumpah juga. Senja tergugu dalam tangisnya, meratapi nasib rumah tangga yang entah akan kemana membawanya bermuara. Tangan Riki mencengkram kemudi dengan kuat. Dadanya bergemuruh menahan emosi, tidak terima jika adiknya dipermainkan seperti itu. Tapi dia juga tidak boleh gegabah dalam mengambil kesimpulan. Karena dia juga belum tahu seperti apa kejadian yang sebenarnya. "Sudah. Lebih baik kamu jangan berpikiran aneh-aneh. Semoga tidak terjadi dengan apa yang kamu pikirkan saat ini. Jika sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan memberi pelajaran pada suamimu itu." Senja bungkam. Ia pun berharap demikian. Pikirannya melayang, namun matanya menatap fokus pada mobil suaminya yang masih setia berjalan di depannya. Suasana mobil menjadi hening. Riki masih fokus pada mobil Han. Sedangkan Senja tak hentinya mengusap air matanya, karena pikiran buruknya mendominasi otaknya saat ini. Ia tak ingin dikhianati, karena perasaannya sangat dalam untuk suaminya. Apalagi memikirkan nasib Bina yang entah bagaimana jika kehilangan sosok papa yang selalu diidolakannya. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pelataran hotel di luar kota. Senja dan Riki masih menunggu pergerakan dari Han yang masih berada di dalam mobil. Entah apa yang dia lalukan hingga tak kunjung keluar dari mobilnya. Ketika mata Senja melihat sekitaran hotel, mata sayunya tak sengaja melihat sosok wanita yang dia kenal baru turun dari taksi online dan langsung menghampiri suaminya. "I_itu?"

Bab 2 Pelakor

Dia adalah Sherly, sahabat baik Senja selama ini. Sherly berkerja sebagai model majalah dewasa. Bukan hanya cantik, tubuh Sherly juga molek berisi. Jadi tidak heran jika dia sering menjadi model pria dewasa. "I_itu 'kan Sherly," tunjuk Senja pada wanita yang memakai gaun merah dengan potongan leher rendah yang hampir menyembul buah dadanya. Panjang gaunnya pun hanya sebatas lutut dan terlihat ketat. "Ngapain dia di sini?" Riki mulai curiga. Apalagi Sherly terlihat melangkah menghampiri mobil Han yang terparkir tak jauh dari tempat mereka sekarang. "Mungkin ada kerjaan, Mas." Senja sempat curiga, tapi ia tidak boleh gegabah. Siapa tau mereka berdua terlibat kerja sama. Senja mencoba mengenyahkan pikiran buruknya. Matanya masih fokus melihat interaksi keduanya. "Kita tunggu saja." Ketika Senja berniat akan turun dari mobil, dengan cepat Riki meraih lengannya untuk menghentikan niat Senja. "Kenapa kamu melarangku, Mas? Aku ingin menghampiri mereka berdua," Senja protes tidak terima. Riki hanya diam. Kemudian menunjuk dengan dagunya apa yang ia lihat sekarang. Senja yang awalnya tidak melihat itu segera menoleh ke mana arah pandangan sang kakak. Ia menutup mulutnya terkejut dengan apa yang ia lihat. "Setidaknya kita harus punya bukti kuat untuk melaporkan mereka ke polisi atas tuduhan perselingkuhan. Mereka akan terkena tindak pidana jika kita mempunyai bukti yang kuat di pengadilan. Jadi Mas minta kuatkanlah hatimu untuk sebentar saja." Senja shock melihat pemandangan di depan matanya. Ia melihat Sherly dan Han saling memeluk mesra, bibir mereka pun saling menyapa dengan berpagut mesra di depan umum, seperti dua insan yang sedang di mabuk cinta. Tidak tau malu. Tubuh Senja kaku, tidak bisa bergerak. Bahkan untuk bernapas pun seolah oksigen sudah habis di sekitarnya. Ia mati rasa saat itu juga ketika melihat mereka bergandengan bersama memasuki hotel tersebut. "Shiit!!! Dasar pria tak tau malu. Bisa-bisanya dia menghianatimu dengan sahabatmu sendiri. Apa yang ada di otak Han saat ini. Aaarrgght!! Berengsek kamu Han!" geram Riki seraya memukul kemudi untuk meluapkan rasa sakit hatinya. Ia tidak menyangka jika pria yang dia percaya menjaga adiknya, dengan tega menghianati Senja dengan begitu kejam. Ingin sekali ia keluar dari mobil dan memberi pelajaran pada pria itu. Namun dia juga tidak bisa gegabah dalam mengambil tindakan. Bisa saja mereka menyangkal tuduhan itu dan berganti melaporkannya atas tuduhan pencemaran nama baik yang juga akan merugikannya dan Senja. "Aku mau turun, Kak!!" Tangan Senja sudah berada di pintu mobil, berniat untuk turun dan memergoki suami dan sahabatnya. Tapi tangan Riki dengan cepat menahannya. "Jangan, Nja. Kita tunggu saja dulu." "Kenapa, kak? Kenapa? Apa kamu senang melihat adikmu tersiksa seperti ini, hah?" Senja menyentak tangan Riki yang berada di lengannya. Ketika sudah terlepas, Senja segera membuka pintunya dan langsung turun dari mobil. Tapi lagi-lagi niatnya terpatahkan karena tiba-tiba tangan Riki merangkul tubuhnya dan berusaha menenangkan dirinya yang sudah bergetar karena tangisnya. "Jangan, Senja. Kita perlu bukti konkret untuk membuktikan semua. Kamu harus sabar. Ini juga untuk kebaikan kamu ke depannya. Aku tidak ingin keluarga Han menyalahkanmu atas perselingkuhan yang dilakukan anaknya. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat mamanya yang menganggap Han adalah anak yang paling sempurna." Riki membawa Senja kembali ke mobil agar tidak menjadi pusat perhatian para pengunjung hotel. Senja hanya bisa diam dan menangis di dekapan sang kaka. Dadanya terasa nyeri, merasakan ribuan tikaman pisau menghunus jantungnya. Apalagi mengingat senyum tulus Bina saat menyambut sang Papa pulang seperti biasanya, sangat menyakitinya sebagai seorang ibu yang harus dengan tega memisahkan dia dengan sang papa karena kelakuan bejat papanya. Setelah lama menunggu, akhirnya Senja sudah tak tahan lagi. Tanpa persetujuan sang kakak, dia langsung keluar dari mobil dan berlari menuju ke dalam hotel. Riki yang melihat adiknya berlari pun segera mengejarnya. Dia berteriak memanggil Senja agar menghentikan langkahnya. Tapi sayangnya Senja seolah tak mendengar panggilan itu dan terus melangkahkan kakinya menuju ke meja resepsionis. "Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis itu dengan ramah. "Maaf, Mbak. Saya mau bertanya, di nomor berapa pasangan yang baru masuk barusan tadi?" tanya Senja langsung to the poin. Terlihat kening resepsionis itu berkerut. "Maaf, yang mana ya, Bu? Karena pengunjung di sini banyak, Bu." jawab Wanita itu lagi. "Yang baru saja masuk, Mbak. Yang wanita memakai gaun berwarna maroon dan yang pria memakai kemeja warna hitam." Senja seolah sudah kehilangan kesabaran karena merasa wanita itu terlalu bertele-tele menjawab pertanyaannya. "Oh, maafkan kami, Bu. Kami tidak bisa memberitahu privasi tamu kami kepada sembarangan orang." Jawaban resepsionis itu seketika membuat Senja meradang. Dia menggebrak meja resepsionis dengan keras sehingga membuat tamu sekitar menatap ke arahnya. Brakk.. "Mbak, Apa kamu tahu yang masuk barusan dia adalah suamiku, dan wanita di sampingnya adalah pelakor yang merebut ayah dari anakku. Apa yang Mbak bakal lakukan jika berada di posisiku saat ini? Apakah Mbak tega membiarkan pelakor itu merebut papa dari anakku? Sedangkan kita sama-sama wanita, Mbak. Di mana hati nurani Mbak saat ini?" Senja histeris karena mendapat penolakan dari resepsionis. Resepsionis itu hanya diam seraya menundukkan wajahnya. Dia malu sekaligus merasa sedih melihat keadaan Senja yang terlihat mengenaskan. Dia ingin membantu, tapi tentu saja ada resiko yang harus di tanggungnya untuk ke depan. Dan dia juga tidak mau mengorbankan pekerjaannya. Tubuh Senja hampir saja ambruk membentur lantai jika saja Riki tidak menangkap tubuhnya dari belakang. Senja benar-benar kecewa. Hingga tubuhnya tidak mampu lagi menopang berat beban dalam hatinya. Tubuhnya lemas seketika dan air mata turun dengan derasnya. Banyak mata yang menatap iba pada Senja, tapi mereka seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Riki memeluk tubuh Senja dengan erat. Menyalurkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan. Ia juga akan menemani Senja bagaimanapun keadaannya. "Sabar, Senja. Kita bisa mencari jalan lain untuk mendapatkan nomor itu. Kamu sabar ya." Mata Riki memerah, melihat adiknya yang terpuruk seperti itu. "Mas Han jahat, Mas. Mas Han jahat!!" Senja masih meraung di pelukan "Iya, habis ini mas akan mencoba berbicara pada resepsionis itu. Siapa tahu mereka bisa memberikan nomor kamar Han pada kita. Kamu tenang dulu, ya?" Riki mencoba menenangkan adiknya. Karena dia juga sedikit malu karena banyak pasang mata yang melihat ke arah dirinya dan Senja. Keributan itu berhasil memancing seorang pria mendekati Senja yang masih terduduk di lantai itu. "Ada apa ini?" tanya seorang pria seorang pria mendekati Senja yang masih terduduk di lantai itu. "Pak Langit." Dua resepsionis itu menunduk takut. "Jelaskan ada keributan apa di sini?" Salah satu resepsionis itu menjelaskan kedatangan Senja yang berniat menangkap basah suaminya yang tengah berselingkuh dengan sahabatnya. "Lalu kenapa kalian tidak memberikan kunci pada wanita itu?" "Kami takut kena sanksi, Pak." "Berikan kunci itu, atau kalian yang akan saya pecat sekarang juga."

Bab 3 Pria Misterius

Senja mendongak menatap pria itu. Tapi detik kemudian ia menunduk saat mata mereka saling bertabrakan. Merasa tidak sopan. Perlahan Senja bangkit di bantu oleh Riki. Ada kekuatan entah dari mana yang membuat ia kuat menghadapi kenyataan hidupnya. "Terima kasih tuan sudah membantu saya mendapatkan kunci itu," lirih Senja seraya tetap menunduk. Hanya kalimat itu yang bisa ia katakan untuk membalas kebaikan pria di depannya saat ini. Malu jika harus menangis di depan pria yang sudah menolongnya. Jangan sampai pertolongan pria itu terasa sia-sia saat ia terlihat lemah melawan suaminya "Hemm.. Jadilah wanita kuat. Pria brengsek seperti dia tidak pantas mendapatkan air mata tulus dari wanita sepertimu. Lepaskan. Penghianat seperti mereka pantas untuk bersama. Sama-sama sampah dan tidak berguna." Kalimat Langit menjadi tamparan bagi Senja. Ya. Han memang tidak pantas untuk di tangisi. Penghianat seperti mereka harusnya di kasih pelajaran agar lebih tau diri. Sampah memang harus dibuang di tempat sampah. Bukan di pungut lalu di bawa pulang. Itu menjijikkan. Setelah kepergian pria misterius yang bernama Langit itu, Senja berniat pergi dari sana. Tapi sebuah pelukan tiba-tiba mendarat ia rasakan. Dengan hati yang bingung, Senja melihat seorang wanita parubaya yang tengah memeluknya saat ini. "Perjuangkan hakmu, Sayang. Jika memang tidak bisa dilanjutkan, lepaskan. Biar tidak menjadi beban untuk kedepannya. Percayalah, rencana Tuhan akan lebih indah untukmu dan Anakmu. Jangan kamu sesali apa yang terjadi saat ini. Anggaplah ini menjadi pemacu semangat untukmu lebih baik dan maju untuk masa depanmu. Aku yakin kamu dan anakmu akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik setelah ini." Ungkapan wanita itu sungguh membuat hatinya kembali kuat. Tanpa terasa air matanya kembali menetes mendapat menguatan seperti itu. Di saat seperti ini, pelukan hangat dan kalimat seperti itulah yang dia butuhkan sebagai kekuatan. Ia yang tadinya merasa rapuh dan tidak berguna, seolah mempunyai kekuatan baru untuk menghadapinya. Muncul keikhlasan dalam hatinya untuk melepaskan jika Han enggan memilih dirinya. Senja memeluk wanita itu erat sebagai ungkapan terima kasih dan perpisahan. Semoga kelak mereka akan bertemu kembali di lain kesempatan dengan nasib yang berbeda. Setelah itu Senja dan Riki bergegas menuju kamar Han yang berada di lantai 7. Selama menuju ke sana, Senja berusaha untuk menahan dirinya, juga menahan air matanya agar tidak tumpah ketika berhadapan dengan Sherly dan Han nantinya. Rasa geram di hatinya membuat tangannya gatal ingin menerkam Sherly untuk meluapkan segala kekecewaannya karena tega menghina persahabatan mereka yang sudah terjalin lumayan lama. Ternyata Sherly tak ubahnya pagar makan tanaman. Yang tega menghancurkan pagar ayu sahabatnya sendiri. Apapun keputusannya nanti, ia akan menerimanya walau hatinya terluka. Ia akan mengalah demi kebahagiaan suaminya. Karena bukan rahasia umum lagi jika yang kedua adalah yang utama. Senja juga enggan jika harus di duakan. Karena Senja mempunyai prinsip tidak akan pernah mau di madu. "Senja, kamu harus bisa mengontrol emosimu nanti. Jangan sampai emosimu kembali membuat orang-orang gaduh melihatmu marah-marah seperti tadi," harap Riki mewanti-wanti adiknya agar tidak bersikap anarkis. Karena wanita kalem seperti Senja, jika sedang merasakan kecewa bisa saja menghancurkan dunia. Karena marahnya orang pendiam itu lebih mengerikan. Senja diam. Ia berusaha untuk itu tapi biar waktu yang akan menjawabnya. Ia hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Apalagi melihat suaminya mendua. Apakah dia harus diam saja saat harga dirinya di injak-injak oleh manusia seperti mereka? "Senja." Riki mulai kehilangan kesabaran saat melihat Senja hanya diam saja. "Iya. Senja akan berusaha mengontrol emosi Senja. Sudah puas?" Riki tersenyum seraya mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang. Ia berjanji akan membalas sakit hati adiknya pada pria laknat itu. Tidak akan ia lepaskan begitu saja sebelum wajah tampannya itu tidak berbentuk lagi. Tangannya terkepal erat dengan urat-urat wajah yang menonjol. Seolah bersiap menghajar Han saat ini. Ting.. Lift terbuka. Riki menarik lengan Senja agar tak mendahului jalannya. Itu juga untuk meredam emosinya yang akan membakar dirinya sendiri. "Lepas, Mas!!!" Senja berontak, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Bobby. "Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Nja." Riki mengeratkan cengkeramannya. "Biar aku yang menghajar Han. Akan aku jadikan samsak hidup untuk meluapkan segala rasa kecewaku." Lagi-lagi Senja hanya diam. Ada dorongan dalam dirinya ingin langsung berlari dan mendobrak pintunya dengan kuat. Kemudian menerjang Han dengan brutal dan penuh amarah. Ketika telah sampai di depan pintu kamar Han, Senja mematung untuk sesaat. Gerakan tangannya tertahan ketika tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu. Deburan ombak kekecewaan sudah menghadangnya. "Kenapa? Apa kamu ragu?" tanya Riki, "Biar aku yang membukanya. Toh kita sudah mendapatkan kuncinya bukan? Lalu buat apa harus mengetuk pintunya segala? Buang-buang waktu saja." sambungnya lagi. Senja menahan gerakan tangan Riki seraya menggeleng cepat dan segera menarik tangan Riki yang akan mengetuk pintu itu. "Jangan, Mas. Biar aku saja. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka berdua ketika mereka melihatku berdiri tepat di depan pintu." "Makanya cepat. Tanganku sudah gatal ingin memberi pelajaran pada pria kurang ajar itu. Enak-enak mereka di dalam. Sama sekali tidak memikirkan perasaamu dan Bina yang terluka akibat kelakuan bejat mereka. Tunggu saja kamu, Han. Habis wajah tampan lo gue hajar!!" Riki menggeram seolah tidak sabar. Tangannya terkepal erat menahan emosi yang tertahan di dada. Setelah mengumpulkan segenap tenaga dan menyiapkan hatinya untuk melihat semuanya, akhirnya Senja mengetuk pintu itu dengan keras. Cukup lama mereka menunggu, hingga membuat Senja harus berulangkali mengetuk pintunya. Dan ketika Senja akan mengetuk pintunya untuk yang kesekian kalinya, tiba-tiba terdengar bunyi kunci terbuka. Dada Senja bergemuruh dengan hebat. Seolah ia ingin pingsan dan pergi saja karena dia belum sanggup menerima kenyataan. Tapi jika di biarkan berlarut, akan ada banyak hati yang tersakiti. Karena dia yakin, Han dan Sherly akan semakin menggila jika dia diam saja. Ketika pintunya terbuka, Senja melangkah mundur saat melihat sosok Sherly yang hanya memakai handuk di tubuhnya. Apalagi jejak-jejak merah yang menempel pada bagian leher serta pundaknya membuatnya langsung mendapatkan jawabannya. Karena dia bukan anak kecil yang akan dengan polos bertanya itu kenapa? Ia yakin jika itu adalah perbuatan suaminya di dalam sana. Seketika pertahanannya runtuh, air mata sialan luruh juga tanpa bisa menunggu. Kedua wanita itu saling berhadapan, saling menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Apalagi Senja menatap Sherly penuh dengan rasa kekecewaan yang mendalam. "Se_Senja!!!"

Lanjut baca