"Jadi, apa lagi yang kamu harapkan dari Zahra? Setelah lima tahun kalian menikah, hari ini Zahra mengaku bahwa dia ngga bisa memiliki keturunan, pantas selama ini kalian susah punya anak, ternyata istrimu mandul." Terdengar ucapan itu yang kini menggema disetiap sudut rumahnya, kebencian sang mertua terhadap menantu kian memuncak, lantaran sebuah pengakuan yang baru saja Zahra ucapkan. "Ibu ngga mau tau, kamu harus ceraikan Zahra, dan ibu akan menjodohkanmu dengan anak teman ibu," ucap Fatimah yang membuat Roni terbelalak, tak menyangka ucapan itu sampai ketelinganya. "Ngga bisa gitu dong bu, pernikahan itu ngga boleh berakhir dengan perceraian, ibu kan tau Allah sangat membenci perceraian," "Terus, apa kamu masih mau bertahan dengan wanita ngga berguna itu? Nikah itu tujuannya punya anak Roni, bukan hanya karena cinta kalian berdua, dan kalau sekarang istri kamu aja mandul dari mana kalian bisa punya anak? Kamu ga mikirin ibu? Ibu udah tua, ibu pengen punya cucu. Ibu ngga mau tau, secepatnya kamu ambil keputusan, ibu juga ngga sudi Zahra lebih lama lagi tinggal dirumah kita ini," tambah Fatimah yang lalu meninggalkan tempat. Mendengar ucapan itu membuat Roni bingung, entah tindakan apa yang harus ia ambil saat ini. Untuk menceraikan Zahra sepertinya tidak mungkin, karena Roni sangat mencintai istrinya itu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, selama itu Zahra menjalankan kewajibannya dengan sangat baik, sebagai istri ia pandai membuat hati suaminya tenang, bahkan ia selalu berusaha untuk membuat Roni bahagia, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi seseorang yang ia cinta. Namun, jika sang ibu terus menuntutnya untuk menceraikan Zahra, tidak tau apakah hal itu akan benar benar terjadi? Sementara Zahra yang kini berdiri seorang diri di balkon kamarnya, memandangi pemandangan hijau di sekeliling rumah. "Mau ngga mau aku harus melakukan ini, karena aku ngga mau mas Roni sedih kalau tau yang sebenarnya, aku akan berkorban apapun demi kamu mas, agar aku bisa terus membuatmu bahagia, masa lalu ku sudah terlanjur hancur, jika kamu ngga ada pada saat itu, aku ngga tau lagi bagaimana aku saat ini." gumamnya. Tiba tiba.. terasa sebuah tangan kini menyentuh bahunya dengan lembut, yang membuat Zahra seketika menoleh. "Mas," sapa Zahra setelah melihat siapa seseorang dibaliknya. "Jangan sedih ya, ini semua ujian dalam rumah tangga kita," ucap Roni yang kini merengkuh tubuh mungil istrinya itu, ucapan itu membuat Zahra mengangguk. Perkara yang saat ini terjadi adalah, Zahra yang tiba tiba mengaku tak dapat memiliki keturunan setelah mereka berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Sementara kabar yang dibawakan itu adalah kabar tak benar, yang sebenarnya tidak dapat memiliki keturunan adalah Roni, tapi demi sang suami agar ia tak bersedih dan demi membalas utang budinya pada suami, Zahra mengalah dan ia mengaku bahwa dialah wanita mandul yang tak dapat memiliki keturunan itu. "Aku minta maaf ya mas, aku ngga bisa kasih keturunan buat kamu, setelah lima tahun kita menikah, aku rasa anak adalah hal satu satunya yang kamu tunggu, tapi sekarang aku malah patahin semua semangat kamu, dan setelah kamu tau soal ini, apa kamu kecewa sama aku mas? Apa kamu mau ninggalin aku?" "Sayang, apapun yang terjadi sama kamu saat ini, aku ngga pernah kecewa, dan aku ngga akan pernah ninggalin kamu sampai kapanpun. Aku mencintai kamu sudah lebih lama dari usia pernikahan kita, dan cinta itu ngga akan seketika hilang hanya karena permasalahan ini." "Tapi ini permasalahan serius mas, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" "Memang permasalahan ini bisa dianggap serius, tapi kalau kita banyak berdoa dan memohon pada Allah, insyaallah takdir ini akan berubah, kamu tenang ya yang sabar, semoga ada hikmah dibalik ini semua," jawab Roni yang membuat Zahra tersenyum bahagia. Setidaknya pengorbanannya ini tidak sia sia, pengorbanan membuat sang suami bahagia. Dan tindakannya kali ini adalah tindakan yang dianggapnya tepat. Terhanyut dalam kesedihan, hingga tak terasa hari mulai petang, Roni yang kini keluar kamar, hendak menuju dapur, namun tiba tiba sang ibu memanggilnya dan membuat langkahnya terhenti. "Roni. Kamu siap siap ya, ibu mau ajak kamu ke resto," ucap Fatimah kala sibuk dengan majalah yang ada ditangannya saat ini. "Ke resto? Yaudah sebentar ya bu, aku bilang Zahra dulu, biar dia siap siap juga." "Eh eh eh ngga usah ngapain sih ngajak istri kamu yang ngga berguna itu? Lagian kita ke resto itu karena ibu mau kenalin kamu sama anak temen ibu, bukan untuk makan malam bersama dia," ucap Fatimah yang membuat Roni terbelalak. "Anaknya cantik Ron, baik, dari keluarga terpandang, dan yang penting kelak kamu bisa punya keturunan dari dia," tambah Fatimah yang kini menaruh majalah itu dan terfokus pada wajah sang anak dihadapannya. "Astafirullah ibu, apa apaan sih? Aku ngga mau." "Kenapa ngga mau?" "Bu, tolong dong hargai perasaan Zahra, dia itu istriku bu, kasihan kalau sampai dia denger ucapan ibu ini, dia pasti akan sakit hati." "Bodo amat, suruh siapa jadi menantu ngga berguna, biar aja dia denger ucapan ini biar dia sadar dan tau diri, masih pantas ngga dia berada dirumah ini?" jawab Fatimah yang membuat Roni melebarkan mata. "Aku mohon bu jangan seperti ini, kenapa sih ibu berubah? dulu ibu ngga kaya gini." "Kamu fikir aja sendiri Ron, ibu kecewa sama istri kamu itu, lima tahun ibu nunggu kalian kasih cucu ke ibu, karena ibu pengen banget punya cucu, malah sekarang ternyata dia mandul. Emang kamu sebagai suami ngga kecewa sama istri mandul kamu itu?" "Ini nama nya ujian bu, jika disuruh memilih aku yakin Zahra pun ngga mau ada disaat ini, saat dimana dia benar benar terpukul dengan keadaan nya saat ini, dan aku sebagai suami akan selalu buat dia semangat bu, bukan malah tiba tiba meninggalkannya hanya untuk berkenalan dengan wanita lain," jawab Roni yang membuat Fatimah tersenyum sadis. "Kamu benar benar bodoh Roni, kamu udah buta karena cinta, sampai sampai kamu ngga tau lagi yang mana yang harus dipertahanin dan yang mana yang harus kamu buang, wanita seperti Zahra ngga pantas kamu pertahanin, buat apa? Dia udah ngga berguna," tambah Fatimah dengan wajah muram. Sementara Zahra yang kini tertegun, terdiam tanpa kata kata, mendengar semua ucapan pedas dari Fatimah, ucapan itu membuatnya menangis, kata kata yang dianggap mengiris hatinya itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Tak menyangka jika sifatnya akan berubah drastis karena permasalahannya saat ini. Fatimah yang dulu terlihat sangat menyayangi Zahra, namun kini tampak sangat membencinya, bahkan ia berniat menjodohkan putranya dengan wanita pilihannya, lalu ia anggap apa Zahra saat ini? •••
"Silahkan mas, ini kopinya," ucap Zahra yang kini menaruh segelas kopi dihadapan Roni. Melihat itu membuat Fatimah menyebikkan bibirnya, sepertinya ia sangat membenci Zahra saat ini, segalanya yang dilakukan Zahra seperti tak ternilai dimatanya, padahal Zahra berusaha untuk selalu baik padanya. "Makasih sayang," ucap Roni tersenyum manis yang membuat Zahra pun ikut tersenyum. "Halah.. percuma cantik, percuma baik kalau mandul." Kini terdengar ucapan itu yang membuat Roni dan Zahra terdiam, tertegun mendengar pedasnya ucapan yang melebihi pedasnya cabai rawit. "Kalian fikir, hidup kalian hanya untuk berdua? Romantis romantisan dan mesra mesraan berdua, kalian fikirin ibu juga dong. Ibu ini pengen cucu, tapi kalian malah ngga bisa kasih, dan sekarang malah hadir sebuah kenyataan bahwa kamu mandul," tambah Fatimah yang membuat nafas Zahra seketika ingin terhenti. "Ibu, udah dong," ucap Roni mencoba menghentikan ucapan ucapan Fatimah. "Kenapa Ron? Bukan nya bener kan kata ibu? Kan istri kamu sendiri yang bilang kalau dia mandul, berarti ibu ngga mengada ada dong." "Ibu bener bener ya..." "Udah mas, udah. Jangan berdebat sama ibu ngga baik." "Halaah sok baik, bilang aja kalau kamu benci kan sama ibu?" "Engga kok bu, aku ngga benci sama ibu." Belum selesai berdebatan itu, tiba tiba terdengar suara seorang wanita yang kini memasuki rumah. "Siang tante Fatimah," ucapnya dengan langkah jenjang mendekat. Wanita berpenampilan menarik itu, kini berjabat tangan pada Fatimah. Rambut nya tergerai panjang, pakaiannya tampak bukan dress murahan, juga hilsnya yang terlihat sangat indah dikaki putihnya. "Hay sayang," sapa Fatimah yang membuat Roni dan Zahra kini bertanya tanya siapa wanita itu? "Roni, kenalin ini Jesika, anak temen ibu, yang ibu mau jodohin sama kamu, gimana cantikan?" Ucap Fatimah yang membuat Roni dan Zahra terbelalak. "Ibu apaan sih? Kenapa ibu suruh dia kesini? Aku udah bilang ya aku ga mau dijodohin aku punya istri, dan aku sangat mencintai istri aku." "Roni, udah ya jangan lanjutin ucapan kamu, kamu mau buat Jesika sakit hati?" "Lebih sakit hati siapa bu, Zahra atau Jesika? Kalau hanya seperti ini saya Jesika sakit hati, terus gimana sama Zahra bu?" Jawab Roni yang membuat Fatimah kini terdiam. "Pokoknya aku ngaa mau dijodohin sama dia, karena aku ngga mau ninggalin istriku ini," tambah Roni yang membuat Fatimah menghela nafas. "Oke, kalau kamu ngga mau ninggalin istri kamu ngga papa. Tapi tetep aja kamu harus menikah dengan Jesika, kamu bisa jadiin Jesika istri kedua kamu," ucap Fatimah yang kembali membuat Roni dan Zahra terbelalak. "Apa lagi sih ini? Gila. Aku ngga mau bu, istriku cuma satu Zahra dan aku ngga akan pernah menikah lagi," ucap Roni dengan ekspresi wajah strees. Sementara Zahra yang mungkin sudah tak tahan dengan apa yang ada dihadapan nya saat ini, kini ia memilih berlari keluar rumah, untuk meninggalkan semua yang menyakitkan ini. "Zahra," panggil Roni yang tak dihiraukan olehnya. Tak menyangka niat baiknya malah menjadi perkara, niat baik yang tak ingin membuat Roni bersedih malah kini ia sendiri yang tersakiti. "Aku bener bener ngga nyangka, ibu akan senekat ini jodohin mas Roni sama perempuan pilihannya, jadi aku bener bener tak ada artinya lagi dirumah itu? Bahkan semua yang aku lakukan sudah tak ternilai apapun untuknya. Niat baik melindungi suamiku malah mencekikku, tapi ngga papa selagi suamiku masih membela dan memilih aku, aku tetap bahagia, karena tujuanku hanya suamiku," ucap Zahra yang kini duduk seorang diri disebuah taman. "Sayang." Kembali suara itu terdengar nyaman ditelinga Zahra, suata bariton dari laki laki berwajah tampan dengan tubuh atletis, ya dia adalah Roni. "Jangan fikirin ucapan ibu ya," tambahnya yang kini terduduk disebelah Zahra. Menggenggam tangannya dan menciptakan kenyamanan disana. "Ternyata sebenci itu ya mas ibu sama aku," ucap Zahra yang membuat Roni tertegun memperhatikannya. "Aku ngga nyangka bahwa dia akan terang terangan membawa Jesika dihadapanku. Lalu ibu anggap aku apa mas? Apa semenjijikan itu aku dimata ibu? Sampai sampai aku tak lagi ia lirik." "Husst. Jangan bicara seperti itu sayang, kamu bukan sesuatu yang menjijikan, nyatanya kamu tetap spesial untukku. Kamu tenang aja ya, aku akan bicara lagi ke ibu tentang ini." Sementara Jesika dan Fatimah yang kini murung dirumah, karna ditinggalkan oleh Roni, orang yang ingin ia hampiri. "Gimana nih tante, apa Roni benar benar dengan ucapannya? Dia ga mau menikah lagi tante, keliatannya dia sangat mencintai istrinya," ucap Jesika yang membuat Fatimah kini mendekat. "Jangan khawatir Jes, tante akan terus bicara sama Roni." "Iya tante, tante tau dari dulu saya mencintai Roni, walaupun Roni ngga mengenal saya dan kita baru sekali ini bertemu, tapi saya sudah mengetahuinya sejak lama, karena saya penggemar rahasia Roni sebenarnya." "Ohya? Jadi kamu sudah mengenal dan sudah mencintai Roni?" "Iya tante, Roni itu salah satu client papa, yang beberapa tahun lalu datang ke kantor papa dan buat saya jatuh cinta pada pandangan pertama." "Wah, kebetulan banget ya, oke oke kamu tenang aja, tante akan terus berusaha buat bujuk Roni agar mau menikah sama kamu, lagian tante juga ga sudi punya menangu mandul kaya Zahra," ucap Fatimah yang membuat Jesika tersenyum dan mengangguk. "Yaudah kita pulang ya sayang," bujuk Roni pada Zahra yang dirasa kini mulai membaik. "Tapi mas, aku takut." "Takut apa sayang, kamu tenang aja, ada aku disini, yang siap menjaga kamu dari apapun itu, tenang ya. Aku ngga akan biarin kamu tersakiti, sekarang pulang ya, ini panas banget loh teriknya cerah banget." "Iya mas, mataharinya kayanya lagi bahagia ya, sampe sampe dia sesemangat ini untuk menerangi bumi, ngga kaya aku yang sekarang lagi ga semangat." "Loh kok gitu? Jangan dong kamu harus tetap semangat untuk aku, ya." Mendengar kata kata itu membuat Zahra perlahan tersenyum, rasanya beruntung sekali memiliki suami seperti Roni, suami yang dapat menerima segala kekurangan istri. Tak ada kata lain selain kata sempurna yang dapat Zahra berikan pada suaminya itu, selain memiliki wajah yang tampan, tapi ternyata hatinya pun menawan, hati yang bersih dan putih, seputih kapas. Kini Zahra pun beranjak, bersama Roni kini akhirnya ia menuruti ajakan Roni untuk pulang, jika bukan karena Roni, mungkin Zahra saat ini tak ingin lagi kembali ke rumah itu, karena disana kini sudah tiada lagi kehangatan dalam keluarga, yang ada hanya pengusikan dan ucapan ucapan yang menyakitkan. •••••
"Sayang, aku berangkat dulu ya, assalamuaikum." "Iya mas, walaikum salam. mas hati hati ya," jawab Zahra yang kini mencium tangan sauaminya, sebuah kebiasaan yang tak pernah tertinggal sebelum meninggalkan rumah mencium tangan suami dan mengecup kening istri. Kini Roni pun meninggalkan rumah, ia melaju menuju PT Zahni Group, perusahaan yang berdiri dibidang properti yang dikelola Roni mulai dari nol, dan sekarang perusahaan itu berdiri dengan kokoh dan mempunyai banyak pemasukan. "Buat apa kerja mati-matian kalau ngga punya anak? Hartanya kelak siapa yang akan mewarisi?" Tiba tiba terdengar suara itu yang membuat ekspresi wajah Zahra seketika berubah, senyumnya menghilang setelah apa yang ia rasa saat ini tak lagi sama. "Seharusnya kamu mikir Zahra, Roni itu butuh penerus, kelak dia akan butuh seseorang yang bisa meneruskan usahanya saat ini. Kamu jangan egois dong, yang ngga mau pergi dari Roni, karna ngga mau menderita diluar sana. Jangan mentang mentang dia selalu membelamu, kamu juga harus mikirin perasaan suamimu dong, asal kamu tau ya, ngga ada suami yang ngga kecewa dan ngga sedih kalau tau kenyataan istrinya mandul, begitu juga sama Roni walaupun dia bilang ngga sedih, tapi itu ngga mungkin, dia juga rindu kehadiran seorang anak kali," cerocos Fatimah yang membuat Zahra terdiam. "Tapi ini kamu malah ngga tau diri, dan ngga mau berfikir bagaimana caranya membuat suamimu bahagia." Mendengar semua ucapan itu, Zahra hanya menghela nafas dan melangkah satu langkah lebih dekat dari Fatimah. "Ibu fikir aku mau ada diposisi ini? Ngga bu, ibu fikir aku juga ngga sedih? Sedih. Aku juga rindu seorang anak, bukan cuma ibu dan mas Roni yang kecewa tapi aku juga kecewa bu." "Ya itu tau, kamu aja kecewa sama diri kamu sendiri gimana ibu dan suamimu?" "Kalau bukan karena mas Roni aku ngga akan melakukan ini bu," ucap Zahra yang membuat Fatimah mengerutkan dahi ia berfikir apa maksut dibalik ucapan itu. "Apa maksudmu Zahra?" Tanya Fatimah yang membuat Zahra terdiam, ia tak akan memberitahu masalah ini pada siapapun termasuk Fatimah ibu mertuanya. Tanpa berkata Zahra kini meninggalkan tempat, dari pada ia harus menahan emosi tingkat tinggi yang hampir tak dapat terbendung. Sementara di kantor, Roni yang kini telah memasuki ruangan kerjanya, ia kembali memulai aktifitasnya setelah dua hari ia tak datang. Tok tok tok "Masuk," ucap Roni setelah mendengar suara ketukan pintu itu. Kini pintupun perlahan terbuka, seorang wanita yang tampak memasuki ruangan berAC ini. "Roni," panggil wanita itu yang membuat Roni kini menegakan pandangannya, seketika matanya melebar setelah ia tau siapa wanita yang kini berada dihadapannya itu. "Kamu," ucap Roni pada wanita yang ternyata adalah Jesika, wanita yang dijodohkan Fatimah untuknya. "Hay," sapa Jesika dengan senyuman manis. "Ngapain kamu kesini? Disuruh ibu lagi?" Tanya Roni yang pandangannya kembali tertuju pada beberapa berkas yang ada dihadapannya. "Ngga kok, aku kesini atas kemauanku sendiri." "Lalu kamu mau apa? Kalau kamu mau bahas soal perjodohan itu, maaf saya ngga bisa." "Kenapa Ron? Kenapa kamu menolak perjodohan itu?" Tanya Jesika yang kali ini membuat Roni memandangnya dengan tajam. "Apa sih maksut kamu? Kamu kan tau saya udah punya istri, kenapa kamu masih berharap untuk saya menerima perjodohan itu?" "Tapi istri kamu itu mandul Ron, emang ada yang bisa kamu harapin lagi dari dia?" "Jaga mulutmu Jesika, kamu ini orang lain jangan ikut campur masalah rumah tangga saya," jawab Roni dengan nada sedikit tinggi. Ia tak terima jika istrinya dibicarakan tidak baik pada orang lain, termasuk Jesika. Jika ibunya pun bisa ia tentang mengapa Jesika tidak? Jangan harap bisa menjelek-jelekan Zahra dihadapannya, karena itu tidak akan mungkin ia biarkan. "Bukannya itu kenyataannya Ron? Tante Fatimah sendiri loh yang cerita sama aku. Udahlah Ron dari pada kamu berharap yang ngga pasti dari istri kamu itu, mendingan kita nikah kita akan segera punya anak, karena aku bisa kasih keturunan buat kamu." "Tidak, saya tidak akan meninggalkan istri saya dalam kondisi apapun, sekalipun sekarang dia mandul, saya tetap mencintainya," jawab Roni yang membuat Jesika menggelengkan kepala. Tak dapat berkata apa apa lagi dihadapan Roni, kini Jesika pun dengan cepat meninggalkan tempat, dan membuat Roni menggelengkan kepala lalu kembali dengan aktifitasnya. "Susah ya bicara sama orang yang buta karena cinta, Roni Roni masih aja kamu perjuangin istri yang udah jelas jelas ngga ibu kamu suka," gumam Jesika setelah kini berada didalam mobilnya. Ia sedikit kecewa dan malu dihadapan Roni karena apa yang ia katakan ditepis mentah mentah olehnya. "Kamu lihat aja, aku ngga akan tinggal diam kamu tolak aku kaya gini, aku akan manfaatin tante Fatimah untuk bisa dapetin kamu," tambah Jesika dengan tersenyum sinis. •••• "Zahra, Zahra," panggil Fatimah yang membuat Zahra kini berlari mendekat. "Ia bu, kenapa?" "Ini, tolong kamu antar tas ini kerumah teman ibu ya," ucap Fatimah seraya mengulurkan sebuah tas berwarna coklat kehadapan Zahra. "Rumahnya dimana bu? Aku ngga tau." "Ini alamatnya udah ibu tulis kok, buruan ya keburu dia nunggu," jawabnya yang membuat Zahra mengangguk. Kini ia pun meninggalankan tempat dan melaju menuju sebuah alamat yang dimaksut Fatimah, kepergian Zahra membuat Fatimah tersenyum entah apa yang sedang ia rencanakan kali ini. "Aneh banget, biasanya ibu selalu berangkat sendiri, kenapa ini suruh anter aku?" Gumam Zahra kala kini berada didalam taxy online yang akan mengantarnya ke alamat tersebut. Sesampainya ditempat, kini Zahra mengetuk pintu yang sesuai dengan alamat yang di berikan Fatimah padanya. Tak lama kemudian, seorang laki laki yang kini muncul dihadapannya. "Maaf, apa ini rumah bu Erni?" "Iya itu ibu saya, ada apa ya?" "Oh, ini saya disuruh ibu anter tas ini untuk bu Erni," ucap Zahra yang mengulurkan tas itu pada laki laki yang kini ada dihadapannya. Namun saat laki laki itu hendak menerimanya tiba tiba ia seperti ingin terjatuh dan membuat Zahra spontan menolongnya, dari kejauhan tampak sebuah kamera kini mengabadikan pemandangan itu, posisi dimana Zahra dan laki laki itu tampak seperti berpelukan. Ternyata ini adalah rencana licik yang dilakukan oleh Fatimah, dan ia akan memberikan gambar itu pada Roni anaknya, tujuannya sudah pasti agar mereka bermasalah dan akhirnya berpisah. Tidak menyangka jika Fatimah akan tega melakukan hal ini pada Zahra, kebencian memang mengubah segalanya, karena kebenciannya membuat Fatimah kini menutup mata akan tindakan yang benar atau salah. Baginya membuat Zahra hancur adalah kebahagiannya saat ini, membuat Zahra ditinggalkan Roni adalah tujuannya saat ini, dan menikahkan Roni dengan Jesika adalah keinginannya saat ini. ••••