Ku lihat rona bahagia diwajah suamiku, begitu juga dengan khasanah. Wanita itu tampak ramah saat berbicara dengan para tamu. Ibu mertua terlihat sedih saat melihatku menatap kebahagiaan suamiku dengan wanita lain. "Kinan, sabar ya," ucap ibu mertua. "Kita doakan Arfan menepati janjinya." Aku sendiri tidak yakin jika Mas Arfan bisa menepati janjinya. Banyak orang yang menggunjingkan aku karena terlalu bodoh dengan mau dimadu. Namun, aku sendiri tak tahu sampai kapan aku kuat dengan penderitaan ini. Malam pengantin Ana dan Mas Arfan membuatku berderai air mata. Siapa yang ikhlas berbagi suami. Padahal hati ini sakit dengan keadaan ini. Pagi itu ku lihat rambut basah Mas Arfan. Aku tahu dia dan Ana pasti sudah melakukan hubungan suami istri. "Kinan, kamu kenapa?" tanya Mas Arfan. "Tidak, Mas. Akh baik-baik saja," jawabku. Ku lihat Ana melayani Mas Arfan dia mengambilkan makanan untuk Mas Arfan. Ada rasa perih di hati yang aku tahan. Aku berangkat kerja sekaligus mengantar anakku sekolah. Di dalam mobil Kiara terlihat murung. "Ma, apa Kiara akan kehilangan papa? Sama seperti mama?" tanya Kiara. "Anak manis, kamu tenang saja. Kita gak akan kehilangan papa meskipun papa menikah lagi," jawabku. "Mama pasti sakit hati melihat kemesraan papa dan Tante Ana," kata Kiara. "Sayang, panggil dia Mama Ana, dia mama kamu juga," kataku. Sudah sampai di sekolah Kiara, dia segera turun dan melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum padanya, meskipun hatiku sakit aku harus terlihat tegar di mata anakku. Sampai di kantor banyak sekali yang menggunjingkan aku. Terlebih masalah poligami yang suamiku lakukan saat ini. "Tuh Kinan, masih aja dia berusaha tegar padahal aku yakin dia sakit hati," bisik salah seorang perempuan. Aku hanya bisa berjalan melewati mereka dan berusaha untuk tidak menghiraukan apa yang mereka katakan. Selama bekerja, aku tidak konsentrasi. Pasalnya hari ini Mas Arfan cuti dan dia berada di rumah berdua dengan Ana. "Mbak Kinan, Kiara biar kami yang jemput ya. Kami ingin mengajak Kiara jalan-jalan," pesan dari Ana di ponselku. "Iya, hati-hati kalau jalan-jalan," balasku. Ada rasa sesak di dada mendengar anak dan suamiku akan jalan bersama dengan Ana. Aku tidak fokus bekerja, hingga berkali-kali aku melihat jam di tangan berharap segera sore dan aku ingin segera pulang. Erina masuk ke ruanganku, dia membawakan aku makanan. Saat makan siang tadi aku tidak ke kantin demi menghindari gunjingan orang lain. "Jangan lupa makan! Kamu udah ambil keputusan mau di poligami. Jadi ya kamu harus siap dengan segala resikonya," kata Erina. "Kamu benar tapi semua butuh proses," kataku. Aku makan makanan yang Erina bawa untukku. Aku makan sambil memainkan ponselku. Ku lihat story Mas Arfan sedang pose foto dengan Khasanan dan Kiara. Tiba-tiba nafsu makanku hilang. Aku gak nyangka Mas Arfan dengan mudah mengumbar hubungannya dengan Ana meskipun mereka pasangan sah. "Kok gak di makan," kata Erina. Aku memperlihatkan story Mas Arfan pada Erina."pantas kamu gak nafsu makan lagi," komentar Erina. Sore itu aku segera pulang, sampai di rumah ku lihat Ana, Kiara dan Mas Arfan bercengkrama di ruang keluarga. Melihat kebersamaan mereka hatiku sakit. Aku merasa Ana telah mengambil anak dan suamiku. Aku masuk ke dalam kamar, mengunci dan menangis sendiri. Sementara Mas Arfan terdengar tertawa bahagia di ruang keluarga bersama Ana. Aku segera mandi, ku dengar pintu di ketuk. Aku yang baru selesai ganti baju membuka pintu. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Mas Arfan. "Harusnya kami tahu apa yang aku rasakan, Mas. Tidak mudah menerima apa yang kamu lakukan padaku," jawabku. "Sayang, bukannya kita udah sepakat. Dan aku akan berusaha untuk adil," kata Mas Arfan. "Adil? Kamu dan Ana jalan-jalan saat aku sibuk kerja apa itu adil? Bahkan kamu dengan mudah mengumbar kemesraan di media sosial," bantahku. "Jadi kamu cemburu?" tanya Mas Arfan. "Iya, aku cemburu. Apa itu tujuanmu memperlihatkan kemesraan kalian?" tanyaku. "Aku merasa Ana telah berhasil mengambil semua yang aku punya suami dan anakku," kataku. Mas Arfan memelukku, ku tumpahkan tangisku dalam pelukan Mas Arfan. Aku benar-benar takut kehilangan keluargaku. "Percayalah, kamu akan tetap wanita nomor satu di hatiku sampai kapanpun itu," kata Mas Arfan. Kami lalu keluar dari kamar, Kiara langsung memelukku. Dia menceritakan saat jalan-jalan tadi. "Kiara suka jalan-jalan, Ma. Nanti kita pergi lagi sama mama juga," kata Kiara. "Iya, sayang," ucapku tersenyum. Ku lihat Ana ikut tersenyum, kami berempat duduk santai sambil menunggu waktu magrib tiba. Setelah itu kami salat berjamaah di imami Mas Arfan. Setelah salat Ana mengajak kami mengaji. Saat Ana membaca ayat suci Al-qur'an aku melihat Mas Arfan menatapnya dan tersenyum. Perbedaan antara aku dan Ana hanya dalam urusan agama saja. Ana memang sangat fasih membaca al qur'an. Namun soal mengurus anak dan suami aku juga bisa. "Wah suara kamu bagus sekali Ana," puji Mas Arfan. "Terima kasih, Mas," kata Ana. Selama satu jam kami mengaji, Ana beberapa kali membenarkan bacaanku dan Mas Arfan. Aku sadar Ana memang tidak terkalahkan soal agama. Hanya saja aku merasa tidak suka jika Mas Arfan memuji dia di depanku. Selesai salat isyak aku membatu Bibik menyiapkan makan malam. Ku lihat Ana menyusul kami di dapur. "Makasih, Na. Kamu udah ajari aku dan Mas Fahri mengaji. Terlebih lagi pada Kiara," kataku. "Sama-sama, Mbak. Kan tujuan Mas Fahri memang itu saat menikahiku," ucap Ana. Kamu makan malam bersama, hanya bunyi sendok yang terdengar. Aku melihat Ana menawarkan makanan lagi untuk Mas Arfan tetapi di tolak. Aku langsung masuk ke kamar Kiara, aku membantu dia untuk mengerjakan tugas sekolah. Tadi ku lihat Ana dan Mas Fahri duduk di ruang keluarga berdua. "Mama, kalau nanti mama Ana hamil. Apa mama Ana masih sayang sama Kiara seperti saat ini?" tanya Kiara. "Loh kok tanya kayak gitu ke mama, harusnya Kiara tanya ke mama Ana. Kalau mama yang hamil lagi sih mama gak akan lupakan Kiara, kan Kiara anak mama juga," jawabku. Selesai membantu Kiara belajar, aku menidurkan Kiara. Setelah Kiara tidur aku masuk ke dalam kamarku. Berharap malam ini Mas Arfan tidur bersamaku. Namun, sudah dua jam aku menunggu Mas Arfan dan tidak kunjung datang. Aku memutuskan untuk tidur saja. Aku kira setelah semalam jatah bersama Ana malam ini bersamaku. Namun, aku salah. Pagi itu, Mas Arfan masuk ke kamarku. "Kinan, maaf Mas semalam ketiduran di kamar Ana," kata Mas Arfan. "Semalam aku dipijit Ana, malah aku ketiduran," kata Mas Arfan. "Iya, Mas. Aku gak apa-apa," kataku. Aku keluar dari kamar dan menyiapkan sarapan. Tidak berapa lama aku lihat Ana keluar dari kamar. "Maaf ya baru bisa bantuin," kata Ana. Aku hanya tersenyum, ku lirik rambut panjang Ana di balik jilbabnya. Ternyata rambutnya basah. Begitu juga dengan Mas Arfan rambutnya juga basah. Sakit, sungguh sakit tiap hari melihat rambut mereka basah.
Aku sedih melihat nasibku sendiri. Bagaimana tidak setiap hari aku melihat suamiku bersama maduku. "Mbak Kinan kenapa?" tanya Ana. Mungkin sejak tadi aku melamun sehingga Ana meras heran atas sikapku ini. "Tidak apa-apa," jawabku. "Aku ingin segera berangkat kerja," kataku. "Mbak, biar aku yang antar jemput Kiara sekolah saja. Mbak Kinan bisa fokus kerja," kata Ana. Hah? Dia mau antar jemput Kiara sekolah? Aku takut dia akan mengambil Kiara lama kelamaan. "Bagaimana, Ma? Tidak apa-apa, kan?" tanya Mas Arfan. Aku hanya mengangguk saja, karena aku tidak mau memperkeruh suasana hatiku. Mas Arfan berangkat kerja lebih dulu. Seperti biasa sebelum berangkat kerja Mas Arfan mencium keningku dan pipi Kiara. Namun, aku merasa cemburu saat hal itu juga dia lakukan pada Ana. Aku ingin protes tapi ku urungkan karena aku yakin Mas Arfan ingin memperlakukan kami sama. "Kiara, papa udah berangkat. Sekarang mama juga berangkat. Kiara sekolah sama mama Ana, ya," kataku mencium pipi Kiara. "Iya, Ma. Mama hati-hati di jalan," ucap Kiara. Aku pergi kerja, namun pikiranku masih di rumah memikirkan Ana dan Kiara. Rasa takut kehilangan suami dan anakku semakin dalam. Sampai di kantor aku pun tidak fokus. Masalah di rumah memang sangat mengganggu pikiranku. Siang itu aku melihat story milik Ana. Aku terkejut saat Ana memosting foto makan siang bersama di kantor Mas Arfan. Air mata seketika luruh, mereka terlihat sangat mesra. "Aku gak boleh kaya gini," ucapku. "Aku harus protes sama Mas Arfan. Kalau kayak gini Mas Arfan pasti akan lebih mencintai Ana." Aku terus menangis hingga temanku datang dan menegurku. "Kinan, kamu menangis?" tanya Erina. Dia langsung memelukku karena dia tahu saat ini aku sedang rapuh. "Sabar, ya. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya," kata Erina. Sore itu aku pulang, sikapku pada Anan dan Mas Arfan berubah Drastis. Aku makin uring-uringan pada mereka. Apalagi ku lihat Mas Arfan lebih sering mengobrol dengan Anan dibanding denganku. "Ma, udah waktunya makan malam. Ayo kita makan!" ajak Kiara. "Kiara makan duluan sama Mama Ana dan Papa ya. Mama belum pengen makan," jawabku. Kiara keluar dari kamarku, dia menuju meja makan. Aku mengintip dan ku dengar mereka makan bersama dengan bahagia tanpa memikirkan perasaanku. "Jika malam ini kamu tidak tidur denganku, berarti janjimu untuk adil itu hanya bohong belaka, Mas," kataku. Mereka selesai makan aku baru keluar kamar. Ku lihat Ana menemani Kiara belajar. Aku makan seorang diri namun Mas Arfan tiba-tiba duduk di sampingku. "Mama sakit?" tanya Mas Arfan. "Kalau sakit biar papa antar periksa," kata Mas Arfan. "Bukan badanku yang sakit tapi hatiku," jawabku lalu meninggalkan meja makan. Padahal masih separo nasi di piringku dan Mas Arfan mengganggu makan ku. Aku masuk ke kamar tanpa menguncinya. Aku masih berharap Mas Arfan menyusulku ke kamar dan membujukku. Nyatanya hingga pukul 21.00 Mas Arfan tidak datang ke kamar. "Mas, kamu tidur di mana?" tanyaku. Aku keluar dari kamar, di ruang keluarga tidak ada Mas Arfan. Aku membuka kamar Kiara dia sudah terlelap. "Sayang, maafkan mama," ucapku mencium kening Kiara. Aku keluar dari kamar Kiara dan menuju ruang kerja Mas Arfan tapi hasilnya nihil. Akh memutuskan mengambil minum di dapur. Dan aku melihat Mas Arfan sedang berdua saja dengan Ana.Ku urungkan niatku ke dapur dan aku sembunyi di balik tembok. "Mas, malam ini kamu tidur sama Mbak Kinan," kata Ana. "Iya, apa kamu mau Mas tidur dengan kamu lagi," kata Mas Arfan. "Jangan, kasihan Mbak Kinan. Dia saat ini butuh Mas Arfan. Aku lihat sejak pagi moodnya lagi gak enak," ucap Anan memberikan kopi pada Mas Arfan. "Terima kasih, sayang," ucap Mas Arfan. Cup Mas Arfan mencium bibir Ana, dan Ana membalas ciuman Mas Arfan. Bibir mereka saling melumat dan aku hanya melihat kemesraan itu dengan air mata berlinang. Tak kuat menahannya, ku putuskan kembali ke kamar. Aku sakit melihat mereka berciuman di depan mataku. Aku tak bisa ikhlas berbagi suami. Entah pukul berapa aku sampai tertidur. Dan ketika ku lihat ponsel sudah jam 00.15 tapi di sampingku tak ada Mas Arfan. "Jahat kamu, Mas!" ucapku. Sakit sekali rasanya melihat Mas Arfan tak lagi adil. Tiga malam berturut-turut mereka tidur bersama. Sementara aku hanya menahan sakit dan cemburu. Aku kembali tidur, dan aku bangun saat merasa ada tangan yang memelukku. Ternyata Mas Arfan tidur di sampingku. "Sudah bangun?" tanya Mas Arfan. "Mandi sana lalu salat subuh berjamaah," kata Mas Arfan. Rambut Mas Arfan sudah basah artinya Mas Arfan sudah mandi besar. Aku segera mandi dan salat subuh berjamaah. Setelah itu aku membantu Bibik memasak di dapur. "Tadi malam ke kamar aku jam berapa, Mas?" tanyaku. "Jam 11 an," jawab Mas Arfan. Deg Hatiku sakit mendengar ucapan Mas Arfan. Ku lihat Ana melirik ke arah Mas Arfan. Pasti Ana juga tahu jika Mas Arfan berbohong. "Oh jam 11 ya," kataku santai. Ku ambilkan makanan untuk Mas Arfa. dan Kiara. Untuk Anan biar dia ambil sendiri. "Iya, semalam nonton bola," kata Mas Afran. Lagi-lagi dia berbohong, padahal jam 00.15 dia tidak ada di kamarku. Dan aku juga tidak mendengar suara televisi menyala. Ku lihat Ana berbisik pada Mas Arfan namun aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan. "Mas Arfan yakin jam sebelas masuk ke kamarku?" tanyaku. "Iya, Kinan. Kok kamu kaya gak percaya gitu," jawab Mas Arfan. "Jam 00.15 aku bangun loh, Mas. Tapi gak ada kamu," kataku. Mas Arfan terdiam dan Ana melihat ke arah Mas Arfan. "Kalau betah di kamar Ana bilang aja, Mas. Aku gak keberatan tapi aku gak suka dibohongi," kataku. "Kiara, ayo kita berangkat!" ajak ku. Aku tidak mau Ana mengantar Kiara lagi. Cukup Mas Arfan yang dia ambil. "Kinan, aku minta maaf," ucap Mas Arfan tertunduk. "Mbak, maafkan saya juga. Saya yang salah karena tidak membangunkan Mas Arfan," sahur Kinan. Saat aku berjalan di dekat Mas Arfan sengaja aku berbisik," Kalau ciuman ingat tempat untung bukan Kiara yang lihat." Aku meninggalkan mereka yang masih duduk di meja makan. Biarkan aja Mas Arfan merasa bersalah. Emang dia salah dan melanggar janjimu untuk adil sebagai suami. Jadi aku bisa protes kapan saja. "Mama, jangan bertengkar sama papa ya," kata Kiara. "Kiara gak mau mama sama papa pisah. Meskipun Mama Ana baik tapi dia bukan mama kandung Kiara" sambung Kiara. "Sayang, gak akan ada yang bisa misahin kita. Andaikan mama dan papa pisah, mama akan pertahankan kamu," batinku.
Hari itu aku benar-benar kecewa pada Mas Arfan. Dia berani membohongiku, jika dia sudah tidak mencintaiku lebih baik pisah saja. Aku punya hati yang bisa merasakan sakit dan kecewa. Berkali-kali Mas Arfan menelfon namun ponsel sengaja aku silent. Aku ingin fokus bekerja karena jika nanti aku bercerai aku masih bisa menafkahi Kiara. Satu jam kemudian Ana malah datang ke kantorku. Entah apa maksudnya datang ke kantor. "Mbak Kinan, maafkan saya lancang kemari," kata Ana. "Maaf Ana, jika ini masalah Mas Arfan lebih baik kamu bicarakan di rumah saja. Kedatangan kamu ke sini hanya mempermalukanku saja. Apa kamu senang karyawan lain menggunjingkan kita?" tanyaku. "Maaf, Mbak. Saya hanya mengantar makan siang ini sesuai perintah Mas Arfan," jawab Ana menaruh kotak makan di mejaku. Setelah itu Ana pergi, aku benar-benar kesal dengan sikap Ana dan Mas Arfan. Mereka tidak pernah mengerti aku. Mereka hanya terlalu egois. Sore itu aku pulang tak ku lihat Ana dan Mas Arfan juga Kiara. "Bik, di mana Kiara?" tanyaku. "Non Kiara jalan-jalan ke taman dengan Bapak dan Bu Ana, Bu," jawab Bik Mina. Lagi-lagi mereka pergi tanpa aku. Aku segera mandi dan membantu Bibik di dapur. "Loh, Bik udah jam segini kok belum masak," kataku heran. Biasanya pembantuku itu jam segitu sudah masak di dapur. "Kata Bapak makan di luar, Non. Jadi Bibik gak masak," balas Bik Mina. Aku mengambil ponselku yang berada di tas. Ada pesan dari Mas Arfan, dia bilang akan langsung pergi ke resto dan aku disuruh menyusul. "Jahat kamu Mas Arfan, jika kamu anggap aku istrimu harusnya aku kamu jemput dan kita pergi sama-sama," gerutuku. Selepas salat magrib berjamaah dengan Bik Mina aku berangkat menyusul mereka. Aku tidak mau jika suamiku kesenangan karena aku tidak datang. Sampai di resto, aku melihat Ana dan Kiara sudah duduk di kursi. Sementara Mas Arfan entah kemana. "Maaf tadi salat dulu," kataku. "Kalian sudah salat?" tanyaku. "Sudah, Mbak," jawab Ana. Ku lihat Kiara sedari tadi tertunduk, aku mendekati Kiara dan menghibur dia. Aku tidak mau bertanya apa penyebabnya di sini, akan aku tanyakan nanti di rumah. "Kinan, sudah dari tadi kamu datang?" tanya Mas Arfan. "Berhubung kamu sudah datang ayo kita pesan!" ajak Mas Arfan lalu memanggil seorang karyawan. Mas Arfan menyerahkan buku menu padaku. Setelah aku pesan gantian Ana dan Mas Arfan yang pesan. Aku sesekali melihat ke arah mereka. Malam itu kami makan, selesai makan aku ajak Kiara langsung pulang. Besok bukan hari libur jadi Kiara tidak bisa pulang agak malam. "Mas, Kiara biar pulang sama aku," kataku. "Gak enak kalau naik mobil sendirian," kataku. Sebenarnya itu hanya alasan saja aku sudah terbiasa untuk mengendarai mobil sendirian. Dalam perjalanan pulang aku menyempatkan diri bertanya pada Kiara. "Sayang, kamu kenapa?" tanyaku. "Sejak mama datang aku lihat Kiara sedih," kataku. "Ayo ceritakan sama mama!" ajakku. "Aku gak suka sama papa," kata Kiara. "Papa selalu meninggalkan mama saat kita pergi bersama mentang-mentang sudah ada Mama Ana," ucap Kiara. "Oh jadi karena itu?" tanyaku. "Sudahlah, Mama tak apa ditinggal. Mama kan wanita kuat kemana saja bisa sendiri," kataku agar Kiara tidak sedih lagi. Kiara cerita jika Ana sudah meminta agar Mas Arfan menunggu sampai aku pulang baru berangkat. Tapi Maz Arfan malah tidak mau, takut jika aku capek dan menolak untuk pergi. Ternyata Mas Arfan benar-benar ingin aku tertinggal. Aku kecewa dengan cara Mas Arfan. Sampai di rumah aku menemani Kiara sampai tertidur. Setelah itu aku masuk ke kamar. Ternyata Mas Arfan sudah ada di kamar. "Kiara sudah tidur?" tanya Mas Arfan. "Emh," dehemku lalu masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi serta berganti piyama. Saat aku keluar tiba-tiba Mas Arfan memelukku. Aku terkejut, bahkan aku hampir mendorong Mas Arfan. "Malam ini aku tidur bersamamu," kata Mas Arfan. "Tapi maaf, Mas. Aku tidak bisa melayani kamu," kataku. "Tadi siang aku lagi datang bulan," sambungku. "Tidak masalah," kata Mas Arfan. Aku lalu naik ke atas ranjang diikuti Mas Arfan. Akhirnya kami terlelap, tengah malam aku terbangun. Namun, aku dibuat terkejut karena tidak ada Mas Arfan di sampingku. Aku beranjak dan berlari ke kamar mandi, tak ada di sana. Aku keluar kamar di ruang keluarga tidak ada dan di kamar Kiara juga tidak ada. Aku hendak ke dapur namun sesaat aku mendengar suara ribut di kamar Ana. Aku mendekati pintu kamar Ana yang masih terbuka sedikit. "Mas Arfan lebih baik kembali ke kamar Mbak Kinan. Kasihan Mbak Kinan, Mas," kata Ana. "Tapi bagaimana dengan si kecil ini, Ana? Kinan sedang datang bulan. Dia tidak bisa melayaniku. Jadi wajar kalau aku meminta padamu," kata Mas Arfan. "Tidak, Mas. Mas bisa melakukannya dengan Mas Kinan meskipun tanpa berhubungan badan," tolak Ana. "Ana, menolak keinginan suami dosa loh. Apa lagi kewajiban kamu melayani suamimu ini," kata Mas Arfan. "Baiklah, setelah itu Mas Arfan harus segera kembali ke kamar Mbak Kinan," ucap Ana. Tidak berapa lama pintu di tutup rapat dan terdengar desahan-desahan diantara mereka. Aku segera ke kamar dan menangis di sana. Sekitar setengah jam kemudian aku mendengar langkah kaki Mas Arfan kembali ke kamarku. Aku pura-pura masih tidur dengan tubuh membelakangi dia. Aku menangis dalam diam, Mas Arfan benar-benar tidak menghargai aku. Aku kecewa padanya. Pagi itu aku sarapan dengan diam bahkan saat Mas Arfan menyapaku. "Kinan, rajin sekali kamu udah siapin sarapan," kata Mas Arfan. Melihat aku diam saja Mas Arfan merasa canggung. "Kiara, ayo makan setelah ini kita segera berangkat!" ajakku pada Kiara. Kami makan dalam diam hanya sesekali Ana menawarkan lauk pada Mas Arfan. Rambut basah Mas Arfan membuatku sakit hati. Selesai makan aku segera mengajak Kiara berangkat. Namun, tiba-tiba Mas Arfan mencegahku. "Kinan, biar kalian Mas antar saja. Jangan berangkat sendiri!" larang Mas Arfan. "Maaf, Mas. Aku sudah biasa sendiri bahkan saat malampun aku selalu sendiri," balasku. Aku yakin sindiranku sangat mengena pada hati Mas Arfan. Ku lirik Ana juga terkejut dengan ucapanku. Aku tak peduli lagi dengan Mas Arfan. Aku segera pergi bersama Kiara. Aku tak mau menjadi wanita lemah yang bisa diinjak harga dirinya oleh seorang suami. Ada pesan di ponselku, ternyata dari Ana. "Mbak Kinan, maafkan Mas Arfan." Aku abaikan pesan itu, setelah menurunkan Kiara baru ku balas. "Yang bersalah aja tak mau meminta maaf."