Cerita ini mengandung bawang, dan konten dewasanya.😘 Aku hanya tinggal bertiga dengan bunda dan adik kembarku enat. Yang akhirnya aku tahu kalau sebenarnya aku dan adikku Enat bukanlah saudara kembar. Namun apapun yang dilakukan Bunda dan Ayah aku yakin yang terbaik. Setelah Ayah pergi untukencari nafkah keluar kota, Bunda sering sakit, dan terus menangis memanggil dua kali yang sudah berkeluarga dan tidak pernah aku kenal. Sampai aku dan adikku menemukan buku harian Bunda, Bunda yang berjuang selama ini untuk membesarkan kami yang hanya anak pungut,padahal kalau mau,bunda bisa meninggalkan kami dan ikut dengan putra pertamanya di Jakarta. Bunda yang bertahan dengan uang kiriman putranya 350 ribu setiap bulan, ternyata dimasa lalunya adalah pengusaha yang sukses sampai akhirnya menikah dengan Ayah, sejak itulah kehidupan bunda berubah. Saat menikah bunda berusia 48 tahun dan Ayah 29 tahun. Aku dan adiku enat membaca setiap lembar buku harian bunda, dan semakin kami menyayangi bunda. Namun bagaimana mungkin kedua anak kandung Bunda sebegitu bencinya pada Bunda? Apa karena masa lalu bunda seperti yang aku baca dari beberapa buku harian usang yang tertumpuk dalam kotak.? Dheki dan Dinda dua anak pertama Bunda yang sangat bunda rindukan,, yang selalu kami demgan disetiap ujung malam. Jangan menangis Bunda..! Ada aku dan adik yang akan terus menjaga bunda, seburuk apapun masalalu bunda, yang kami tahu semua bunda lakukan untuk kebahagiaan keluarga. SURAT BUNDA UNTUK INONG, Setelah membantu Bunda mengambil wudhu aku menyiapkan sajadah untuk kami sholat berjamaah. Kegiatan Rutin apapbila kami dirumah selalu melakukan sholat berjamaah dengan Enat adiku yang menjadi imamnya. Dan setiap selesai sholat,bunda selalu memeluk kami dan mendoakan sambil mencium kepala kami. Yang tidak pernah ketinggalan adalah ucapan Bunda " Terimakasih ya sayang,,,!Maafkan Bunda ya Nay Nat, bunda selalu saja merepotkan kalian.." entah kenapa Bunda selalu mengucapkan kalimat itu setiap usai kami sholat. Kalimat itu selalu Bunda ucap kan sejak kami kecil, Bunda sangat tegas mengajarkan kami untuk disiplin. Dari kecil kami dididik mandiri, dari mulai memakai kaos kaki, memakai sepatu dan baju sendiri. Dan selalu Bunda mengatakan ini " kalian harus bisa mengurus kalian sendiri, Bunda tidak akan selamanya bersama kalian..!" Berkat dididikan Bunda kami selalu mendapat peringkat pertama disekolah sejak kami PAUD dulu. Pagi itu seperti biasanya aku merapihkan kamar Bunda, kami menempati rumah kecil dengan dua kamar. Aku tidur dengan Bunda, dan adiku menempati kamar depan. Rumah yang kami tempati ini dahuku Bunda beli dari Pak Aki setelah Pak Aki meninggal dunia para putranya memjalankan amanah Pak Aki untuk menjual rumah ini hanya kepada Bunda dengan harga sangat murah saat itu Bunda hanya membayar 9 juta rupiah. Itupun Bunda membayarnya dengan menyicil,dan sebagian uangnya dari A Dheki putra pertama nya Bunda, yang sampai sekarang aku belum pernah lagi bertemu. Terakhir bertemu A dheki saat idul Fitri lima belas tahun lalu, aku sendiri sudah lupa kalau tidak melihat foto yang diprint oleh Bunda. Hari itu Bunda sudah berangkat usai sholat subuh ke Villa Umi, Bunda yang dipercaya oleh Umi dan keluarganya mengurus asrama santrinya dan Villa keluarga Adiwinata. Tidak sengaja aku memjatuhkan tumpukan buku didalam lemari Bunda. Ada tulisan disana, "Surat ku untuk Inong" Penasaran aku mulai membacanya, Inong, maafin mama..!" Setiap saat mama selalu memanggil Inong. Lagi apa aja mama selalu ingat. Apalagi kalau lihat anak kecil, mama selalu teringat Inong. Jutaan sesal mama tak bisa mama lukiskan dengan kata. Terlalu banyak salah mama sama Inong, sampai Inong sebenci ini sama mama. Untungnya ada Instagram, walaupun Inong kunci account nya untungnya WO lumintu open account, jadi mama bisa lihat bagaimana prosesi pernikahan Inong.. Bahagia mama melihat nya, mama ga marah Inong ga ngasih tau mama. Mama sadar diri kalau mama tidak pantas berada di pesta semewah dan semegah itu. Apalah mama ini Inong,, mama sangat bersyukur melihat kebahagiaan Inong,dheki,arva. Mama juga lihat betapa sibuknya mama debi, mama sangat berterimakasih sama mama debi sudah sangat begitu baik mengurus semua detail pernikahan Inong. Tidak seperti mama yang tidak bisa membuat pesta mewah untuk dheki waktu itu, malah dheki sampai harus berhutang untuk pestanya. Seandainya boleh meminta, mama minta mama di izinkan bertemu dan memeluk Inong sebelum mama menghadap Alloh nanti. Untuk apa yang sudah terjadi, ini kesalahan mama bukan kesalahan Inong. Mama yang membentuk Inong jadi seperti ini. Terlalu perih rindu ini,, mama hanya bisa menguraikan rindu ini dalam untaian kata tak terbaca.. Dalam keheningan malam dalam uraian doa, memohon padaNya untuk memberikan jalan dipertemukan dengan buah hati mama. Hanya bisa memeluk dalam dzikir.. dzikir rindu pada putriku Dinda Sukma Dewi. Tak bisa mama memutar waktu, seandainya pun pintu Dora Emon itu ada pastilah sudah mama beli. Kembali di tahun sembilan puluh empat, dimana Inong nya mama lahir. Ku dekap dalam kandunganku selama sembilan bulan kurang seminggu, bolak balik rumah sakit karena kontraksi palsu. Sampai akhirnya aku melihat rambut ikal mu,Inong. Saat - saat terberat dalam kehidupan mama, belum satu tahun usiamu mama dan bapak bercerai karena ada orang ketiga yang tidak pernah diakui nya, tapi akhirnya dinikahi juga dan sampai sekarang menjadi mama Inong,mama yang Inong akui bukan aku mama kandung mu tapi dia mama debi. Mama bahagia dengan kebahagiaan Inong sekarang, mama turut bahagia walaupun hanya bisa melihat dari kecanggihan digital. Inong kecil mama yang membenci mama sekarang.. maafin mama nong..!" Maafin mama..!!!" Selalu kata itu yang terucap setiap saat.. setiap ingat Inong. Dada ini bergetar sesak setiap melihat anak kecil berlari atau anak kecil berseragam sekolah. Sesal yang tak berujung Kenangan kita hidup berdua di Jordan selalu membuat mama menangis.. indahnya masa itu kita bermain salju..belanja berdua.. mama ngantar sekolah.. Maafin mama yang selalu galak.. mama ga bisa bujuk inong seperti mama lain..mama terlalu sibuk sekolah dan kerja.. Maafin mama..! Temani mama dalam keheningan di pengasingan. Dalam dinginnya lantai pelur semen yang basah saat hujan. Mama disini Inong.. ditempat ini... Mengambang dalam dekapan sepi dan sesal. Mama tak lelah mengetuk hati Inong dalam doa.. dalam dzikir mama. Sedang apapun hati ini selalu bergetar saat mulut bergumam hanya sekedar memanggi.." Inong,ini mama..!" Sontak mama akan menjerit dalam sekap tak bersuara.. memanggil dalam rintihan. Tak jua Alloh menjawab pinta mama... Untuk hanya sekedar Inong sapa. Saat jemari ini terus menuangkan perasaan,, air mata tak bisa diajak diam sesaat. Akankah kering air mata ini pada saatnya? Inongku... Inong nya mama.. Adakah Inong rasakan rindu ini..? Menatap foto Inong.. Inong cantik lebih cantik dari BI neng.. Hinyi hinyi.. mama kangen hinyi hinyi.. Inong balagadindong.. adakah Inong ingat sedikit saja tentang mama .? Rindu seorang ibu..ibu kandung Inong.. Maafkan lisan mama.. maafkan semua kesalahan mama.. Mama hanya manusia yang hanya bisa membuat anaknya malu.. Mama rindu Inong.. Tulisan bunda tertulis rapih, aku membaca dengan berderai airmata. Aku ikut merasakan kesedihan Bunda. ". " Assalamualaikum.." terdengar seseorang mengucapkan salam didepan rumah. Aku bergegas merapikan buku dan mengembalikan kedalam lemari. Lalu berjalan kedepan. " Neng, Bunda dirumah sakit" Ucap Nini sambil memegang tanganku. " Bunda kenapa Nini..?" Tanyaku panik. " Bunda tadi tiba-tiba pingsan neng, langsung dibawa ke puskesmas,tapi dokter puskesmas langsung mengirim Bunda ke rumah sakit Santosa dengan ambulan, ayok neng kita ke rumah sakit, bawakan baju ganti Bunda..!" Ucap Nini. Aku kembali masik kedalam.setengah neralri dan memasukan beberapa baju Bunda kedalam tas. Aku memberikan helm pada Nini, dengan berboncengan motor kamipun berangkat ke rumah sakit dengan perasaan ku yang entah seperti apa rasanya. Sesampainya dirumah sakit aku langsung menemui Bunda yang hanya boleh dilihat dari balik tirai. Bunda masih tidak sadarkan diri. " Enat sudah dikasih tau neng?" Tanya Nini. Aku mengangguk, Nini tetangga kami. Nini sudah seperti ibu buat Bunda. " Nini, apa sebaiknya A Dheki dikasih tahu?" Tanyaku ragu. " Neng ada nomor telepon nya?" Tanya Nini, aku mengangguk. " Coba saja neng..!" Ujar Nini. Aku pun segera mengeluarkan handphone ku dan mengetik pesan pada A Dheki. [Assalamualaikum A Dheki, ini enay. Maaf ganggu, mau ngasih tau kalau Bunda sekarang dirumah sakit, tadi pingsan.] Terkirim Tak berapa lama masuk balasan dari A Dheki. [ Suaminya kemana? Suruh dia dong tanggung jawab!] [ Ayah sudah lama tidak pulang A...] Jawabku dengan tangan mulai gemetar, Nini melihat percakapan aku dengan A Dheki lalu menggeleng kan kepalanya. [ Butuh uang berapa?" ] Pesan masuk lagi dari A Dheki. [ Enay ga tau A, enay cuma ngasih tau Aa aja kondisi bunda] jawabku lagi. Tidak lama ada pesan masuk dari a Dheki foto bukti transfer dan satu fito saldonya di bank BCA yang tinggal 285 ribu. [ Suruh Budi pulang dan bertanggung jawab,,! Saya juga punya anak dan istri yang butuh biaya untuk makan dan susu..] Tak kuat lagi airmata ku jatuh juga membaca pesan masuk dari A Dheki. Nini memeluk ku. " Sabar neng...!" Ucap Nini. " Teh, Bunda mana? bunda kenapa?" Enat yang datang terlihat panik. Adiku Enat memang sangat dekat dengan Bunda. " Bunda masih belum sadar de.." jawabku. " Teteh kenapa nangis? A Dheki..?" Tanya Enat setelah membaca percakapan aku dengan A Dheki. " Teteh ngapain ngasih tau A dheki sih? Kalau bunda baca ini, Bunda pasti akan nangis lagi semalaman... Lain kali kalau mau hubungi A Dheki tanya Bunda dulu..!"
Setelah dua jam akhirnya Bunda siuman. Aku dan Enat dengan bahagia memeluk Bunda yang tersenyum dan mengusap kepala kami. " Bunda kalau sakit kenapa maksain ke Villa?" Ucap Enat adiku. " Maaf ya Bunda bikin kalian khawatir..! Bunda hanya sedikit pusing tadi." Jawab Bunda yang sangat terlihat masih sesak. Aku dan Nini segera menghampiri dokter yang memanggil. Bunda harus dirawat, karena jantungnya kembali kumat. Aku segera ke bagian administrasi menyerahkan kartu BPJS dan persyaratan lainya. Sejam kemudian bunda sudah dipindahkan ke ruangan kelas 1 sesuai BPJS Bunda. Malam itu Aku, Enat dan Nini menginap diruamh sakit menemani Bunda. Tak ada pesan masuk atauoun telpon dari A Dheki menanyakan kondisi Bunda. Namun aku berinisiatif mengambil foto dan Video Bunda diam-diam mengirimkan nya pada A Dheki. Beberapa menit kemudian ada balasan dari A Dheki. [ Perlu uang berapa lagi?] Astaghfirullah, aku mengusap dada ku. Segera aku menjawab. [ Ga A, Bunda pakai BPJS uang kiriman Aa tadi masih utuh belum dipakai. Enay takutnya Aa khawatir,makanya Enay kirim foto Bunda .] Jawabku. Dan sampai malam tak ada lagi jawaban dari A dheki. Akuntak habis pikir dengan anak-anaknya Bunda, sebenci itukah mereka pada ibu kandungnya sendiri. Bunda tidur sambir memegang tasbih kecil dan Enat membacakan Al-Qur'an disampingnya. Aku membuka laptop ku, sebenarnya ini Laptop Bunda yang diberikannya pada aku dan Enat untuk dipakai. Aku diajarkan Bunda menulis cerita pendek dan novel, sampai akhirnya aku memutuskan fokus menjadi seorang penulis. Aku penasaran dengan Dropbox yang ada di laptop ini, akupun membuka nya, ada password nya, dengan yakin aku menekan nomor yang biasa bunda oakai untuk setiao transaksi yang menggunakan PIN, dan benar. Aku bisa masuk dan membuka Dropbox. Banyak folder aku membacanya satu persatu. Lalu aku pilih satu folder dengan judul " Maafkan Bunda ya kembar..!" Aku mulai membacanya, Tak seperti Dinda dan dheki waktu kecil dulu, yang selalu aku penuhi keinginan nya, dari mulai mainan,pakaian ,liburan kemana pun yang mereka mau, dan mainan apapun itu pasti aku berikan. Enay enat bisa makan goreng ayam pun hanya sate usus seribuan yang sanggup aku beli. Itupun aku bisa membelikan kalau ada uang lebih sisa beli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Dalam sebulan mungkin hanya dua kali Bahkan kadang tidak sama sekali. Kami hidup dari belas kasih Dheki putra pertamaku yang kerap mentransfer uang lima puluh ribu kadang lebih. Aku berusah mencukupi semua kebutuhan dengan uang yang aku terima. Enay enat tidak mengenal mall, supermarket terbesar mereka itu Alfa mart atau Indomaret sekitar tiga puluh menit dari kontrakanku kalau menggunakan sepeda motor. Biasanya aku mengajak Enay Enat ke Alfa kalau Dheki mengirim uang lebih dari seratus ribu baru aku ambil di ATM. Dan itupun kalau tidak hujan dan motor ada bensin nya. Apa aku sanggup terus membesarkan Enay Enat di usia limapuluh tahun ini..? dengan segala penyakit yang aku derita saat ini Semoga usiaku bertahan dua puluh tahun kedepan, sampai enay enat dewasa dan bisa berdiri diatas kakinya, aku tidak yakin Dheki ataupun Dinda mau mengurus Enay Enat. Atau bahkan keluarga suamiku mau mengurus mereka. Melihat kekuatan badan dan semangat mereka.. aku yakin Enay Enat akan tumbuh menjadi manusia yang cerdas. Walaupun hanya tidur diatas surpet yang sudah menipis, tapi mereka tetap kuat tidak pernah sakit seperti anak keci lainnya dikamoung ini dengan ingus meler. Enay Enat tumbuh sehat dan activ. Enat memang terlambat bicara tapi Enat bisa mengikuti saat aku ajarkan mengaji ataupun bernyanyi. Kami tidak mempunyai TV, hanya handphone butut yang biasa aku pakai untuk melihat you tube, itupun sudah membuat mereka senang. Kuajarkan mereka bahasa Inggris bahasa Korea, membaca iqro,berhitung. Untuk anak usia 2 tahan enay enat cerdas diatas rata-rata Alhamdulillah. Mereka sudah hapal surat Al Fatihah dan beberapa sholawat. Walaupun tak bisa aku bekali mereka dengan materi, minimal aku bekali mereka dengan akhlak dan ilmu. Jadilah pribadi yang baik nak..!" Maafkan Bunda yang hanya mampu memberikan kalian makanan yang kadang hanya Nasi putih dan garam, bahkan bunda tak sanggup lagi membrikan kalian susu formula. Seringkali kakian hanya minum teh manis dengan pemanis buatan yang sebenarnya tidak boleh diberikan pada anak seusia kalian. Maafkan Bunda yaaaa! Aku melihat Bunda tertidur dengan selang oksigen di hidungnya. Air mataku tak bisa lagi aku tahan, aku ingat Bunda sering kali makan hanya satu kali itupun malam hari. Setelah bunda yakin kami sudah kenyang. Bunda hampir tiap hari puasa,terutama di hari Selasa. Hari lahirnya A Dheki, dan senin malam setelah sholat maghrib Bunda pasti mengajak kami membacakan suray Yasin Al waqiah dan Al Rahman dan memohon supaya A dheki diberikan ke mudahan dalam segala urusan nya, diberkati dengan kesehatan dan dilimpahkan Rizki yang berkah. Aku dan Enat mengamini doa Bunda untuk A Dheki. Begitu besar Cinta bunda untuk A dheki dan Teh Dinda, Cinta seorang ibu kandung. Aku ingat sekali, kami selalu berjalan kaki untuk mengamb kiriman uang dari A Dheki, dan pulangnya aku dan Enat akan mendapatkan ice cream walls lalu bunda mengambil video kami dan mengirimkan nya pada A Dheki. Dan selalu kami ucaplan " terimakasih a Dheki ..."dengan wajah belepotan ice cream. Nini duduk disampingku. " Jangan nangis terus, nanti malah Bundanya jadi kepikiran...!" Ucap Nini. " Iya ni, aku kepikiran dengan sikap A dheki Ni..." Jawabku. " Disyukuri saja, A dheki masih mau menjawab walaupun ketus, a Dheki juga masih mau mengirim uang untuk Bunda selama ini." Ujar Nini sambil mengusap kepalaku. " Iya Ni, doain Enay ya Ni, supaya tulisan aku banyak yang baca, setidaknya walauoun sesikit bisa bantu Bunda." Ucap ku. Nini tersenyum. " Nini yakin kalian akan jadi orang yang sukses mingkin akan lebih sukses dari A dheki atau Teh Dinda. Kalian di didik dengan sangat baik oleh Bunda kalian.." ucap Nini. " Nini, apa Nini pernah ketemu A Dheki?" Tanyaku. Nini menggelengkan kepalanya. " Kalau sama riska istrinya pernah duluuuuuuu banget lima belas tahun lalu, kalian masih tinggal di rumah kontrakan bu Dewi di lebak muncang. Enay kangan terlalu berpikir tentang A Dheki, ikatan darah itu kuat,kalau saat ini mungkin hati A dheki dan Teh Dinda masuh tertutup. Diakan terus, supaya Alloh melembutkan hati mereka...!" Ujar Nini. " Apakah A Dheki marah sama bunda karena menguris kami Ni..?" Tanyaku.
" Bangun! Sholat subuh!" Kecupan lembut bunda setiap membangunkan kami setiap pagi. Bunda selalu terisak dalam doa setiap selesai sholat dengan doa Yang sama. " Yaa Alloh , ampuni dosa orang tuaku, ampuni kesalahan putra putriku, karena kesalahan mereka adalah kesalahanku yang tidak bisa mendidik mereka dengan baik, Yaa Alloh izinkan aku memeluk dheki dan Dinda sebelum aku menghadapMu, lembutkan hati mereka Yaa alloh, berikan kebahagiaan bagi mereka, jadikan rumah tangga dheki dan Dinda sakinah mawahdah warohmah, Yaa Rabb panjangkan usiaku agar aku bisa mendidik enay enat berikan aku Rizki yang berkah. Angkatlah penyakit ku Yaa Rabb, hasbunalloh wa binal wakil ni mal Maula wa ni mal Nashir." Setelah itu bunda akan bersujud dan menangis " Dheki Dinda maafin mama,ini mama aa.. ini mama inong .."tangisan perih penuh rindu bunda terdengar menyayat hati. Bunda teramat sangat merindukan a dheki dan teh Dinda yang aku sendiri pun belum pernah bertemu mereka. Hanya setiap a dheki mengirim biaya mingguan bunda selalu bilang, " Alhamdulillah a Dheki sudah transfer" dengan mata bunda yang selalu berkaca - kaca. Bunda yang selalu menunggu kami tidur baru bunda makan, aku baru paham bunda lakukan itu karen bunda takut nasi tidak cukup. Masakan bunda sangat lezat, adiku selalu mengatakan "mantap" Pagi hari kalau ada telur bunda masakin nasi goreng dengan telur, kalau tidak ada telur hanya nasi daun bawang dan Royco kaldu ayam dikecapin kalau ada. Rasanya nikmat sekali. " Ayo sarapan, bunda bikin nasi goreng cinta" selalu itu yang diucapkan Bunda sambil tersenyum hangat. Atau kalau sedang ada rezeki bunda membeli pentol baso. Lalu dikukus dengan nasi bareng saat menanak nasi, Kami tidak punya magic com jadi bunda menanak nasi di panci kukus. Setelah matang baso dan nasi dituang ke mangkuk lalu dikasih satu sendok minyak goreng, daun bawang ,kecap dan Royco lalu diaduk. Rasanya luar biasa bunda bilang ini namanya " rice meet ball" yaaabunda memang selalu memberi nama dari setiao masakan yang dibuatnya Hampir setiap masakan memakai daun bawang, bunda sengaja menanam daun bawang, kangkung,pakcoy,tomat,cabe,bayam dipekarangan kontrakan kami dalam polibag. Bunda sangat hemat, awalnya Ku pikir bunda pelit, namun sekarang kami tau, itu bunda lakukan supaya kami bisa terus bersekolah. Sampai saat sakit pun bunda kuat menahannya, yang penting kami tetap makan dan sekolah. Baju kami tidak sebagus anak lainya,bisa dibilang pakaian kami usang. Tapi bunda selalu membuat baju kami wangi dan bersih. Aku yang selalu berkelahi dengan adikku sering membuat bunda gusar. Aku seringkali melihat wajah lelah bunda mengurusi kami,tapi bunda selalu senyum. Sering aku dengar bunda berkata dalam tangisnya " Seandainya mama bersikap manis seperti sama dheki dan Inong,pasti kalian tidak akan benci mama, maafin mama sudah galak sama kalian, mama galak waktu itu mungkin karena mama masih terlalu muda belum dua puluh tahun usia mama,maafin mama aa Inong.. " lalu bunda memeluk bantal dan menangis dalam jeritan yang dibungkam bantal. Bunda tak pernah absen sholat malam dan mengaji sampai terdengar adzan subuh lalu mengurus semua keperluan kami. Bunda selalu mengantar kami sekolah berboncengan bertiga. Sebelum mempunya motor kami berjalan kaki, saat kami lelah bunda bergantian menggendong kami. Sering bunda bernyanyi supaya kami tidak merasa lelah saat berjalan kaki. Bunda selalu mengajari kami banyak hal, walaupun sering juga mengomel. Apalagi kalau kami mulai malas sholat dan mengaji. Duluuuuu aku sering kesal dengan Omelan bunda,, tapi sekarang aku rindu Omelan bunda yang kembali kritis dengan bangak selang ditubuhnya. Hari ini bunda dipindahkan ke ruang ICU karena tiba-tiba detangbjantungb bunda melemahbdengan tekanan darahbyang drop. Aku dan adiku hanya bisa memandang wanita cantik yang teramat kami cintai itu tergolek lemah. Terimakasih bunda, sudah mengurus kami sampai kami bisa berdiri diatas kaki kami, terimakasih batas cinta bunda yang begitu besar pada kami, bunda rela meninggalkan semuanya hanya karena ingin tetap merawat kami, padah seandainya bunda melepaskan kami bunda akan hidup nyaman dengan a dheki dan mengurus cucu bunda Sally. Tapi bunda memilih mengurus kami, walaupun dalam kekurangan materi tapi bunda tidak pernah membiarkan kami kelaparan. Bunda menjadikan kami pandai mengaji,pandai bermain musik,pandai memasak,menjahit dan bisa berdagang untuk membiayai hidup kami. Selamat hari ibu bunda, bagi kami bunda adalah ibu, ibu penuh cinta. Walaupun kami bukan darah daging bunda. Semoga suatu hari bunda bisa kembali memeluk a dheki dan teh Dinda,. Doa kami semoga Alloh segera mengangkat penyakit bunda.. Aaammmiiin Yaa robbal alamin. Aku dan adiku yang sudah menyiapkan hadiah untuk hari ibu, hanya bisa memandang Bunda dari kejauhan sambil terua berdoa. "De, apa kita kasih tau A dheki kalau kondisi bunsa kritis? Barangkali dengan kedatangan A Dheki bunda bisa lebih baik." Tayaku pada Enat adiku. Enat menarik nafas dan membuangnya kasar. " Aku ga mau jadi benci sama A dheki teh, aku ga mau jadi benci sama orang yang tidak oernah kita temui." " Tapi bukanya A dheki harus tahu keadaan Bunda ibu kandungnya sendiri de?" Jawabku. " Teteeeeeh... Ini sudah mau lima hari bunda dirawat,apa ada A dheki nelpon kita atau ke handphone nya bunda nanyain kabar Bunda? Ga kan..?" Enat menggaruk kepalanya kasar. Hari itu hanya kami berdua yang menunggu Bunda dirumah sakit, Nini dari kemarin pulang. Kami pun duduk dilantai dengan alas karpet kecil yang kami bawa. "Sebenarnya kenapa ya Dek, sampai A dheki dan Teh Dinda tidak mau menemui Bunda..?" Enat menggeleng. " Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Yang aku tahu sikap a dheki itu keterlaluan sekali sama ibu kandungnya apalagi teh Dinda,anak perempuan nya bunda.yang sekarang dia sudah punya anak juga kan? Apa dia ga takut ya apa yang dirasakan bunda sekarang dia alami." Jawab Adiku Enat dengan geram. " Apa kamu akan mencari orang tua kandung kita dek?" Tanyaku ragu. Enat menggelengkan kepalanya. " Aku anaknya Bunda,titik.." jawab enat lalu berdiri dan masuk ke dalam ruang icu setelah memakai pakaian biru yang disediakan. Lalu duduk disamping Bunda dan kembali mengaji dengan memegang Al-Qur'an saku yang selalu ia bawa. " Neng, gimana bunda...?" Aku terkejut dengan tepukan Nini dibahuku yang sudah ada disampingku. " Masih kritis Ni," jawabku lalu mencium tangan Nini. " Ini Nini bawakan makanan untuk kalian." Ucap Nini sambil mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas kainnya. " Ni,apa aku kasih tahu A dheki ya keadaan bunda sekarabg kritis?"tanyaku pada Nini. Nini membuang nafas nya berat. "Neng,dulu waktu kalian masihkecil, bunda kalian pernah sakit parah, waktu itu kalian masih tinggal di Bogor sama kake dan nenek kalian." " Maksudnya Ni,kita punya nenek dan kakek?" Tanyaku. Nini memgangguk. " Iya, orang tuanya Ayah kalian,suami Bunda." Aku diam, aku baru tahu kalau aku dan enat punya kakek dan nenek di Bogor. " Waktu Bunda sakit, Nini sempat telpon A Dheki, tapi ya gitu. Jawabannya bikin sakit hati. Nini saja yang irang lain sakit hati, bagaimana dengan Bunda yang jelas-jelas Ibu kandungnya. Dulu sampai patungan warga untuk biaya rumah sakit bunda kamu,ayah kamu ga kerja." Kepalaku langsung berdenyut sakit mendengar cerita Nini, Ayah,kamu dimana sekarang ayah...?