Malam yang dingin di padukan dengan sinar rembulan yang terang, nampak seorang gadis cantik yang sedang duduk merenung di balkon rumahnya. Dengan kepala di tegakkan memandangi sang rembulan sambil menatap dengan tatapan redup. Rambut pirangnya yang indah ikut tersapu angin malam yang dingin. Tangannya gemetar memegang sebatang rokok yang masih menyala. Asap yang keluar dari sebatang rokok itupun cukup menggambarkan tentang bagaimana perasaannya saat ini. Puas menatap sang rembulan, Ia pun beralih menatap ponsel yang terletak di meja sampingnya. Tanpa berpikir lagi, ia pun mengambil ponsel itu lalu menelepon seseorang. Di tekannya tombol berwarna hijau, kemudian tak lama dari itu seseorang pun menjawab. "Kau bermimpi tentang hal buruk itu lagi, Nona?" ucap seseorang di balik sambungan telepon itu. "Hmm... kau hanya seorang bawahanku Yuna, dan itu juga bukan suatu hal yang perlu menjadi urusanmu," cibirnya sambil menghisap lagi setengah batang rokok yang sudah hampir habis. "Maafkan aku, Nona," ujar seseorang itu, terdengar dari nada suaranya seperti ketakutan karena telah melakukan suatu kesalahan. "Yuna, aku ingin melakukan misi itu besok!" ucapnya dengan tegas sambil menatap lurus ke depan, entah apa yang ada dalam pikirannya. "Kau yakin, Nona?" tanya Yuna tampak sekali, ia sedikit meragukan perkataan dari Atasannya itu. "Iya, aku yakin Yuna, jadi bersiaplah untuk besok!" jawabnya dengan penuh keyakinan, lalu mematikan sambungan telepon tersebut. __________________________________ 10 TAHUN YANG LALU..... DOR!!......., DOR!..., Kebisingan dari luar cukup membangunkan gadis kecil cantik berambut pirang yang sedang tertidur lelap. Ia terbangun dengan nafas tidak beraturan, seolah-olah ia telah mengalami mimpi buruk, itu terlihat dari raut wajahnya yang sangat ketakutan. "Kau sudah bangun?" tanya seorang wanita cantik yang duduk di samping tempat tidurnya. Gadis kecil itu pun menoleh ke arah wanita itu tampa mengeluarkan sepatah katapun. "Namaku adakah Mina, dan kau gadis kecil siapa namamu?" sahut wanita itu dengan ramah. "Na..na..namaku, adalah Mireya," jawab Mireya kecil dengan terbata-bata. "Mireya?, nama yang cukup bagus," ungkap Mina sambil memeriksa keadaan Mireya. "Bibi, saat ini aku berada dimana," tanya Mireya pada Mina. "Nak, saat ini kau berada di barak militer, kau di temukan hanyut di sungai oleh para prajurit dan tidak sadarkan diri selama lima hari," jawab Mina berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya pada Mireya. "Apakah aku boleh pulang ke rumah, Bibi?" ucap Mireya pada Mina dengan nada penuh permohonan. "Tentu, setelah kau benar-benar sembuh," jawab Mina dengan tersenyum lembut pada Mireya, sambil mulai merapikan alat medisnya. Mireya pun bangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah jendela mencoba melihat keadaan di luar. Ia pun cukup terkesima dengan apa yang dilihatnya, di sisi lain ia juga bingung dan bertanya di dalam hati, apakah ini yang di namakan barak militer?. Mengapa banyak sekali orang-orang berkumpul dan memakai baju yang sama, serta berbadan kekar dan sangat kuat. Bahkan, Mireya sempat takjub ketika melihat orang-orang tersebut berlatih berkelahi, memanah, dan menembak. "Kau istirahatlah kembali Mireya, aku akan keluar sebentar," ucap Mina pada Mireya. Mendengar ucapan wanita itu, Mireya pun menoleh kemudian menganggukkan kepalanya. Lalu Mina pun melangkahkan kakinya keluar tenda dan membawa kotak obatnya. Sementara itu Mireya kembali ke tempat tidur dan beristirahat agar cepat pulih dan bisa cepat pulang. Ia yakin saat ini pasti sang kakek sangat khawatir dan sedang mencarinya. Keesokan paginya Mireya terbangun dari tidurnya. Ia pun turun dari tempat tidur dan melangkahkan kedua kaki kecilnya keluar dari tenda. Ketika berada diluar tenda, Mireya sempat di buat kagum dengan begitu banyaknya pria dewasa memakai pakaian khas militer sedang mengantri untuk sarapan. Cukup lama ia memperhatikan para prajurit itu, hingga tanpa sadar seseorang menepuk punggungnya. "Hei.., apakah kau yang di obati ibuku kemarin? " tanya seorang gadis kecil berkulit hitam, bermata tajam, dan berambut gimbal, serta memiliki tinggi yang sama dengan Mireya. Mendengar perkataan gadis kecil itu, Mireya hanya diam kemudian menganggukkan kepalanya. "Namaku Jenna, dan kau..?" ujar gadis itu, sambil menyodorkan tangan kanannya kepada Mireya. "A..aa..aku, Mireya," jawab Mireya dengan terbata-bata sambil menjabat tangan kanan gadis itu. "Oh.., Mireya nama yang cocok untuk gadis pirang sepertimu, jadi sekarang kita teman," ucap Jenna kemudian memeluk Mireya. "Kau tahu Mireya ini pertama kalinya aku mendapatkan seorang teman di barak," tambahnya yang semakin mengeratkan pelukannya pada Mireya. Karena mendapat pelukan secara tiba-tiba Mireya pun tercengang, tidak bisa di pungkiri hal ini juga pertama kalinya ia mendapatkan seorang teman, setelah bertahun-tahun tinggal dengan Kakek dan Neneknya. "Baiklah teman, sebenarnya aku kesini di suruh ibuku untuk mengajakmu sarapan," ucap Jenna kemudian menuntun Mireya ke salah satu tenda yang jaraknya cukup dekat dengan tenda yang ditempatinya. Sesampainya di dalam tenda, Mireya pun di ajak duduk oleh Jenna di ruang tamu. Mireya pun cukup takjub dengan keadaan di dalam tenda itu, karena meskipun di luar tampak seperti tenda biasa, namun di dalamnya sangat luas dan lengkap layaknya seperti sebuah rumah, dan tenda ini juga jauh lebih luas daripada tenda yang ditempatinya. Setelah sekian lama menunggu, Mina pun keluar dari dapur membawa sarapan untuk Mireya dan Jenna."Hai Mireya, apakah keadaanmu sudah mulai membaik?" tanya Mina pada Mireya dengan tersenyum, sambil menyodorkan makanan untuknya. Mendengar pertanyaan dari ibu temannya, Mireya pun menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya. "Ayo kita makan Mireya, kau tahu setiap makanan yang di masak ibuku sangatlah lezat" ucap Jenna berusaha membujuk Mireya. "Iya, Mireya kau makanlah anggap saja ini adalah rumahmu," sahut Mina pada Mireya. Karena di desak Jenna dan Ibunya di tambah sejak kemarin ia juga belum makan apapun, Mireya pun akhirnya mau memakan sarapannya dengan Jenna. Setelah selesai sarapan, Jenna pun membisikkan sesuatu pada Mireya. Lalu mereka pun memutuskan keluar dari tenda menuju suatu tempat. Ketika Sampai di tempat itu, Mireya tak henti-hentinya takjub melihat banyaknya prajurit yang sedang berlatih. Namun entah kenapa matanya hanya tertuju pada prajurit yang sedang berlatih menembak. "Mireya kau tunggu disini sebentar, aku lupa membawa sesuatu, jadi aku harus kembali ke tenda," ujar Jenna pada Mireya. Mendengar perkataan Jenna, Mireya pun mengiyakannya. Sambil menunggu Jenna kembali, Mireya pun memutuskan duduk kemudian kembali fokus memperhatikan para prajurit yang berlatih. Ketika sedang fokus memperhatikan para prajurit-prajurit itu. Tiba-tiba Mireya di kagetkan dengan kedatangan seorang laki-laki remaja berambut hitam pekat, memiliki postur tubuh yang tinggi dan kekar, serta mempunyai wajah yang sangat tampan. lelaki yang hanya menggunakan atasan kaos berwarna coklat dan bawahan seragam khas milik tentara itu pun kini sedang memperhatikannya.
Jenderal.., ternyata kau di sini?" Ucap seorang laki-laki berambut coklat yang datang menghampiri mereka. Melihat ada orang yang datang lagi menghampirinya, Mireya semakin merasa ketakutan, kini ia tahu bahwa seseorang yang berdiri tepat di hadapannya ini adalah seorang Jenderal. Siapa gadis kecil ini jenderal?" tanya laki-laki berambut coklat itu lagi pada sang jenderal, namun sang jenderal sama sekali tidak menghiraukannya, ia hanya fokus menatap Mireya. Setelah lama menatap Mireya, tiba-tiba sang Jenderal pun menarik sedikit ujung bibirnya, seolah ia sedang merencanakan sesuatu untuk menghukum Mireya. Melihat sang jenderal tersenyum ke arahnya membuat Mireya semakin gelisah, sungguh saat ini ia tidak tahu harus berbuat apa. Sang jenderal yang melihat Mireya yang sudah hampir menangis itu, mengerutkan keningnya, kemudian ia pun angkat bicara. "Karena kau telah melanggar peraturan, jadi kau harus di hukum," ucapnya dengan tegas pada Mireya. Mendengar pernyataan sang Jenderal, mau tak mau Mireya pun harus menerimanya. "Apa itu tuan Jenderal?" tanya Mireya dengan nada pasrah, ia harap sang Jenderal memberikan hukuman yang tidak berat baginya. "Apakah kau bisa menggunakan pistol?" ucap sang jendral pada Mireya. Mendengar perkataan Jenderal itu, Mireya hanya menganggukkan kepalanya ragu. "A..a..aku tidak yakin tuan, aku hanya bisa menggunakan pistol mainan," tutur Mireya mencoba menjelaskan pada sang Jendral, ia takut membuat kesalahan lagi. "Mau mencoba yang nyata?"ucap sang jendral dengan tersenyum licik ke arah Mireya. Seketika Mireya yang tadi terus menundukkan kepalanya, kini tanpa sadar berani menatap pada sang Jenderal dengan mata berbinar, kemudian menganggukkan kepalanya dengan tersenyum polos. "Jenderal., apakah kau yakin?, gadis ini masih bocah, apakah tidak terlalu gila kita membiarkan dia mencobanya?" ucap laki-laki berambut coklat pada sang Jenderal sambil melongo. Ia merasa tidak masuk akal dengan hukuman yang diambil oleh sang Jenderal pada gadis kecil seperti Mireya. "Kau lebih baik diam jack!, aku sungguh tertarik dengan keberanian bocah ini," sahut sang jenderal kemudian kembali menatap Mireya dengan tegas."Kalau begitu gadis kecil ikuti aku!" perintah sang Jendral lagi pada Mireya, kemudian ia melangkah pergi ke zona pelatihan menembak. Mireya pun mengikuti Jenderal tersebut bersama laki-laki berambut coklat yang bernama, Jack. Sesampainya di Zona latihan menembak, sang Jenderal pun menyuruh Jack mengambil sebuah pistol. "Baiklah, Jack, ambilkan pistol untuk gadis kecil ini!" perintahnya kepada bawahannya. "Siap Jenderal, aku akan mengambilnya," kata Jack, kemudian mengambil salah satu pistol bernama Glock 17. pistol ini merupakan salah satu senjata yang sering digunakan oleh para personel militer. "Ini pistolnya, Nona," ujar Jack kemudian menyerahkan pistol itu ke tangan kecil milik Mireya. Kemudian Mireya pun menerima pistol itu dengan menatapnya binar, meskipun pistol itu lumayan berat di genggamannya tetapi ada rasa bahagia dalam diri Mireya, ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan memegang pistol nyata. "Kau yakin bisa menggunakannya gadis kecil?, anggap saja itu seperti pistol mainan yang biasa kau gunakan," ucap Jack berusaha menyemangati Mireya, ia sangat kasihan dengan gadis kecil itu, karena harus menjadi korban eksperimen dari Jenderalnya. "Kalau begitu kau lihat papan pembidik itu gadis kecil, jika kau ingin jadi penembak, pertama kau harus bisa mengenainya," ujar sang jenderal kemudian menunjukkan sebuah papan pembidik yang jaraknya seratus meter dari posisi mereka berdiri. "kau bisa ambil posisi dahulu, Jack akan menghitung sampai 3, lalu kau lepaskan pelurunya," ucap sang Jenderal kemudian kembali menatap Mireya dengan tegas. Entah mengapa melihat tatapan sang jenderal membuat Mireya menjadi gugup. "Baiklah gadis kecil ayo kita mulai," sahut Jack dengan mulai menaikan tangannya untuk menghitung. "1............2........3......" DUARR!!!!!!! 1 detik* 2 detik* 3 detik* Mireya membuka sebelah matanya dan membalikkan posisi tubuhnya menghadap ke arah dua laki-laki yang berdiri di sampingnya. Tetapi satu hal yang membuat Mireya bingung, kenapa raut wajah dari kedua laki-laki itu berbeda?. Jack dengan ekspresi melongo dan sang jenderal yang kembali tersenyum licik. "Kau lihat itu Jack, intuisi ku tidak pernah salah, anak ini memang memiliki kemampuan, dia berhasil membidik pada titik tengah ketika baru pertama kali mencoba," ujar sang Jenderal dengan sedikit tersenyum sambil memandang papan pembidik yang telah di kenai oleh peluru milik Mireya. "Kau benar Jenderal, aku pun sama sekali tidak menyangka gadis kecil ini memiliki kemampuan yang tinggi," jawab Jack dengan tatapan tidak percaya pada Mireya. "Tuan, apa aku berhasil?" tanya Mireya dengan mata polos menatap pada sang Jenderal. "Apakah benar ini pertama kalinya kau mencoba menembak dengan pistol sungguhan?" selidik sang Jenderal pada Mireya, Kemudian tanpa ragu Mireya pun menganggukkan kepalanya. "Arnold siapa gadis kecil itu?" ucap seorang pria paruh baya yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. Melihat kedatangan sang kakek, Jack dan jenderal pun memberi hormat pada pria paruh baya tersebut. Aura sosok panglima tertinggi menguar dan sangat melekat pada diri pria paruh baya itu, sehingga membuat Mireya merasa ketakutan dan menundukkan kepalanya. Ia kembali menjadi sangat gugup, namun kini ia juga tahu nama sang Jenderal adalah Arnold. "Kakek, gadis kecil ini merupakan teman barunya Jenna," tutur Jenderal Arnold pada sang kakek. Kemudian pria paruh baya itu menatap selidik ke arah gadis kecil berambut pirang yang berdiri di hadapan cucunya itu. "Gadis kecil, dimana orang tuamu?" tanya sang kakek dengan tegas, menatap datar ke arah Mireya. "Mereka sudah meninggal tuan, aku tinggal bersama kakek dan nenekku," jawab Mireya yang tidak berani menatap pria paruh baya itu. "Apa kau tahu jalan pulang menuju rumah Kakekmu?" Ucapnya lagi pada Mireya. Mendengar perkataan sang kakek Jenderal, mata Mireya pun berbinar hingga tanpa sadar ia menatap mata sang kakek dengan wajah bahagia, ia ingin sekali pulang. "Aku tidak ingat, tetapi aku ingat jalan menuju pohon apel, mungkin kakekku sedang menungguku di sana," ujar Mireya pada sang kakek Jenderal. "Baiklah Jack antarkan gadis kecil ini ke tempat yang dia arahkan!" titah sang kakek pada Jack. "Laksanakan, tuan!" jawab Jack dengan tegas. Jack pun segera pergi membawa Mireya meninggalkan barak militer. Mireya juga sangat senang karena sebentar lagi, Ia akan pulang dan bertemu Kakek dan Neneknya. Sementara itu tak di sangka sang jenderal selalu memandangi kepergian mereka hingga menghilang dari pandangannya. "Arnold kau jangan terlalu mudah percaya dengan seseorang yang kelihatan lugu dan baik, karena kita tidak tahu bisa saja mereka akan menjadi musuhmu suatu saat nanti," tegur sang kakek dengan tegas pada sang jenderal, Kemudian pria paruh baya itupun melangkah pergi meninggalkan cucunya. Kemudian jenderal Arnold pun melangkah pergi meninggalkan arena tempat pelatihan menembak itu.
Setelah meninggalkan barak militer, Jack dan Mireya terus berjalan menyusuri hutan untuk mencari pohon apel itu, namun mereka belum sama sekali menemukannya. Akhirnya Mireya pun memiliki ide yaitu dengan cara menemukan air terjun tempatnya hanyut dengan sang kelinci. Walaupun idenya ini memiliki kemungkinan kecil berhasil, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba cara itukan. "Pak Jack, apakah ada air terjun di sekitaran sini?" tanya Mireya pada Jack di tengah-tengah istirahat mereka karena sudah berjalan sangat jauh. Mendengar perkataan Mireya, Jack pun menganggukkan kepalanya."Ada Nona, di hutan ini memiliki dua air terjun, satu di bagian dalam hutan dan satunya lagi di bagian luar hutan," tutur Jack dengan tatapan bingung pada Mireya. Bukankah gadis kecil ini ingin pulang?, kenapa dia bertanya tentang air terjun. "Pak Jack, bisakah kau mengantarku ke air terjun di bagian luar hutan?" pinta Mireya pada Jack dengan nada penuh permohonan."Kalau boleh tahu untuk apa Nona ke sana?" tanya Jack dengan rasa penasaran pada Mireya. "Pak Jack, awal mulanya aku masuk ke hutan ini karena mengikuti seekor kelinci, ia ingin memberitahuku tentang air terjun itu, namun naasnya di sana kami mendapatkan masalah, lalu entah kenapa aku berakhir di barak militer, tapi aku yakin di tempat air terjun itu, ada satu jalan yang terhubung dengan tempat pohon apel milikku dan Kakek" tutur Mireya dengan panjang lebar, berusaha menjelaskan pada Jack tentang kejadian sebenarnya. "Baiklah Nona, ayo saya antarkan anda ke tempat air terjun itu," ajak Jack pada Mireya. Kemudian mereka berdua pun memutuskan untuk pergi ke tempat air terjun itu berada. setelah sampai di tempat air terjun itu, Mireya pun segera mencari semak-semak di sekitaran air terjun. Jack yang bingung dengan tingkah laku Mireya pun bertanya padanya."Nona, apa yang kau lakukan di semak-semak itu?" ucap Jack sambil memperhatikan apa yang dilakukan Mireya."Aku ingat sekali pak Jack, jalan itu ada di balik semak-semak ini," jawab Mireya sambil meraba-raba semak-semak yang ada di hadapannya." Baiklah kalau begitu aku akan membantumu, Nona," ucap Jack pada Mireya. Mereka berdua pun mencari jalan setapak di balik semak-semak itu, jalan setapak itulah yang sempat di lalui sang kelinci bersama Mireya menuju ke tempat air terjun. Setelah sekian lama mencari, akhirnya Mireya dan Jack menemukan jalan setapak itu. Kemudian mereka berdua memutuskan untuk menyusuri jalan tersebut. Tibanya di penghujung jalan, Akhirnya Mireya dan Jack menemukan pohon apel itu."Apakah itu pohonnya Nona?" ucap Jack sambil menunjuk ke arah pohon apel yang ada di depannya. "Iya pak Jack, itu pohonnya Yeay.. akhirnya kita menemukannya," sahut Mireya dengan wajah gembira. Rasanya ia tidak sabar akan bertemu dengan kakek dan neneknya, sekarang ia hanya tinggal menunggu sang kakek datang. Mireya sangat yakin pasti sang kakek akan datang ke sini lagi untuk mencarinya. "Huh... akhirnya Nona, aku akan menemanimu sementara di sini sampai kakekmu datang menjemputmu," ucap Jack sambil bernafas lega. Mereka berdua pun memutuskan duduk di dekat pohon apel itu sementara menunggu sang kakek datang. Kemudian Mireya pun berdiri, lalu memetik dua buah apel kemudian memberikan satu buah apel untuk Jack. "Pak Jack, terimalah buah apel ini, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih ku karena kau mau mengantarku pulang," ucap Mireya dengan tersenyum tulus pada Jack, sambil menyodorkan satu buah apel yang sudah matang. "Wah... terima kasih Nona," ucap Jack pada Mireya, kemudian mengambil buah apel itu di tangan kecil Mireya. "Sama-sama, pak Jack," sahut Mireya, lalu kembali duduk di dekat Jack. Kemudian mereka memakan buah apel itu dengan bersama-sama, bahkan Mireya sempat memejamkan mata karena rasa buah apel yang sangat segar dan enak. Rasa lelah yang dia rasakan ketika berjalan menyusuri sepanjang hutan hilang dalam sekejap. Setelah sekian lama menunggu sang kakek, Mireya bingung mengapa sang kakek belum kunjung tiba juga. Ia sempat berpikir apakah sang kakek sudah ke sini, namun karena tidak mendapatinya berada di sini, akhirnya sang kakek memutuskan untuk kembali pulang. Karena takut membayangkan akan terjadi apa-apa pada sang kakek dan neneknya, sebab ia telah menghilang tujuh hari lamanya. Mireya pun memutuskan lebih baik dia segera pulang, lagi pula jarak pohon apel itu juga tidak terlalu jauh dari rumah kakeknya, mengingat dia dan sang kakek hanya berjalan kaki saja. "Pak Jack, aku sebaiknya pulang, aku yakin sebenarnya kakekku sudah ke sini, namun karena tidak mendapati aku berada di sini, akhirnya dia pulang kembali ke rumah," tutur Mireya pada Jack. "Baiklah Nona, hari juga sudah menjelang sore, Tetapi apakah kau tahu jalan untuk pulang?" tanya Jack, menatap serius ke arah Mireya. "Iya pak Jack, aku masih ingat kami datang dari jalan itu," ucap Mireya sambil menunjuk ke arah jalan yang berlawanan dari arah mereka datang ke pohon apel itu. "Kalau begitu, ayo nona sekalian aku antarkan kau pulang," ucap Jack sambil kembali berdiri. Ia yakin kalau rumah kakek dan nenek Mireya pasti berada di desa pinggiran hutan ini. Karena berdasarkan jalan yang di tunjukkannya adalah jalur pintas keluar dan masuk hutan, dan Jack sangat tahu seluk beluk hutan ini. "Sekali lagi terima kasih pak Jack," ucap Mireya berdiri, kemudian meraih tangan Jack. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pohon apel itu kemudian keluar dari hutan menyusuri jalan yang di tunjuk oleh Mireya. Sesampainya di penghujung jalan, Mireya pun tersenyum merekah ternyata jalan itu benar-benar membawanya pulang. Karena merasa sangat bahagia bisa pulang, Mireya pun mempercepat langkah kaki kecilnya. namun, ia berhenti kemudian berbalik ke belakang, melihat Jack yang diam saja, Mireya menjadi kebingungan dan bertanya pada Jack. "Pak Jack, apakah kau tidak mau ikut mampir ke rumah kakekku?" tanya Mireya pada Jack. "Hmm... sebaiknya tidak usah nona, lagi pula hari juga sudah makin gelap, aku sebaiknya kembali saja," tutur Jack berusaha menjelaskan kepada Mireya. "Benarkah pak Jack, sayang sekali padahal aku ingin sekali memperkenalkan mu kepada seluruh keluargaku," ucap Mireya dengan nada kecewa. "Lain kali saja nona, selain itu aku khawatir pasti sekarang ini Jenderal Arnold mencari ku," ujar Jack dengan tersenyum tulus, berusaha menghibur Mireya. "Oh, kalau begitu sekali lagi terima kasih pak Jack, semoga kita bertemu lagi," ucap Mireya sambil melambaikan tangannya. Kemudian Mireya dan Jack pun berpisah di pertengahan jalan rumah kakeknya. Dengan perasaan lega bercampur bahagia, Mireya pun segera melangkahkan kakinya menuju rumah sang kakek. Ketika sampai di halaman rumah, Mireya sempat kebingungan. Mengapa halaman rumah sang kakek sangat berantakan, dan tanaman-tanaman sang kakek pun semuanya hancur, seolah seperti bekas di injak-injak. Padahal setahunya, kakek dan neneknya Sangat menyayangi tanaman-tanaman tersebut. Karena tidak ingin bergelayut dengan kebingungannya, Mireya pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Namun betapa terkejutnya ia, ketika melihat keadaan di dalam rumah itu.Tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi lemas, seolah ia tidak memiliki tenaga sedikitpun. Kaki dan tangannya gemetar, lalu ia berteriak sekencang-kencangnya. Kemudian tanpa Mireya sadari, kristal bening turun menjatuhi pipi cantiknya. Ia tidak pernah membayangkan ketika pulang akan mendapati hal yang sangat mengerikan ini. Bagaimana tidak, ia mendapati seluruh tubuh kakek dan neneknya terbaring di lantai, dan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Tak hanya itu, ia ketakutan ketika melihat seluruh organ dalam kakek dan neneknya, berceceran di mana-mana. Mireya pun sudah tak kuasa lagi untuk membendung kesedihannya, ia pun terus menangis dengan histeris. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang sangat kencang dari arah dapur. DOR!!!! Mendengar suara tembakan tersebut, pandangan mireya pun entah mengapa menjadi gelap. Seolah cahaya sudah pergi meninggalkannya, dan tanpa ia sadari tubuhnya sudah jatuh dalam keadaan telentang di lantai rumah yang sudah di penuhi oleh lautan darah.