Balada Cinta Cassanova Impoten
Bab 1 Bramono Sudjatmiko

Dalam dunia bisnis, siapa yang tak kenal dengan Bramono Sudjatmiko, seorang pengusaha muda, yang tampan dan juga sukses. Hidupnya, selalu di anugrahi kesenangan dan kesuksesan. Usaha apapun yang di jalankan Bramono, selalu sukses dan berhasil, menambah pundi-pundi hartanya. Bramono, selain kaya raya dia juga tampan, hingga para wanita muda dan cantik saling berlomba menarik perhatiannya, hanya karena ingin berada di sampingnya. Namun sayang, dalam hal ini, Bramono terlihat tidak pernah bersyukur, karena Bramono sangat senang, hinggap dari satu wanita ke wanita lain. Tak pernah, satu wanita yang dia pertahankan lama, untuk berada di sisinya. Seperti saat ini, Bramono terlibat percekcokan, dengan seorang wanita, setelah mereka selesai bercinta, di atas tempat tidur yang empuk. "Tapi, kita sudah melakukan itu!" Ucap Ratna dengan memelas. "Bukan aku yang minta! Tapi kamu yang mau!" Balas Bramono sengit. "Aku hanya ingin kamu tahu, jika aku benar-benar mencintai kamu! mau melakukan apapun demi kamu! bahkan menyerahkan kehormatan ku!" Balas Ratna "Tidak! Kamu pasti hanya ingin mengikatku, dengan memberikan keperawanan kamu padaku, berharap kamu bisa menuntut tanggung jawab dari hal itu! Untung saja, saat itu aku pakai pengaman!" Balas Bramono. Ratna mulai menangis, mendengar ucapan, yang menyakitkan hati, dari mulut Bramono barusan. Namun, Bramono seakan-akan tidak perduli dengan tangisan Ratna, karena setelah berkata seperti itu, Bramono tanpa permisi pergi begitu saja meninggalkan Ratna. Ratna, segera mengusap air matanya, tak menyangka jika Bramono akan begitu tega, melakukan itu semua padanya, padahal Ratna benar-benar jatuh cinta pada Bramono. Ratna jadi ingat. Saat pertama kali bertemu dengan Bramono. Ratna saat itu, memang langsung jatuh cinta pada Bramono yang tampan, apalagi setelah tahu, Bramono adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan belum menikah. Dengan bantuan ayahnya, Ratna akhirnya bisa dekat dengan Bramono, Bramono pun terlihat menerima baik Ratna ada di dekatnya. Beberapa kali mereka pergi keluar bersama, Ratna merasa sangat senang, karena Bramono ternyata pria yang sangat royal. Apapun yang di minta Ratna, selalu di beri oleh Bramono, hingga Ratna menduga, jika Bramono pun mempunyai rasa yang sama dengan nya. Setelah sebulan lamanya, tanpa ada kata cinta terucap dari bibir Bramono, Ratna tidur dan make a love, bersama dengan Bramono. Dengan menyerahkan keperawanannya, secara sukarela, karena dia memang sangat mencintai Bramono. Dengan memberikan hal yang paling berharga, Ratna berharap, hubungannya dengan Bramono, makin dekat dan erat. Tapi, ternyata Ratna salah, setelah peristiwa itu terjadi. Bramono bukannya lebih dekat dengannya, tapi malah menjauh, bahkan terkesan menghindar, seperti takut di minta tanggung jawab. Ratna ingin sekali mengadu hal ini kepada Ayahnya, tapi Ratna ingat, Ayahnya pernah memperingati dia, sebelum nya tentang hal ini. Ratna kini sangat menyesal, kenapa saat itu, Ratna tidak mendengarkan ayahnya, jadi sekarang dia yang harus menerima dan menanggung akibatnya sendiri. Bramono, tanpa memikirkan perasaan Ratna, baru tiga hari berpisah, sekarang sudah mengandeng wanita lain, tanpa rasa bersalah berjalan di depan Ratna. Hal itu, terjadi pada malam ini. Ratna yang sedang bersama teman-temannya di sebuah club malam, bertemu dengan Bramono, tanpa sengaja. Bramono datang sambil menggandeng mesra, wanita lain. Ratna mengepalkan kedua tangannya, niatnya untuk melupakan Bramono, tapi dia malah bertemu biang masalah hidupnya, di tempat itu. "Rat, itu Bramono! Gila sama cewek lain!" Seru Nani. "Dia memang, playboy kelas kakap! Kamu belum sempat di apa-apain dia kan?" tanya Nani lagi. Ratna menggeleng lemah, matanya terus menatap ke arah Bramono yang terlihat mesra dengan wanita di sebelahnya itu. "Sebenarnya, gue tadinya mau larang elu deket sama dia, tapi melihat elu jatuh cinta sama dia, gue menahan diri," lanjut Nani. "Sudahlah, nasi sudah jadi bubur juga, aku juga sudah tak apa-apa," jawab Ratna, walau di hatinya, berkata lain. Entah mengapa rasa cinta, pada Bramono tiba-tiba menguap begitu saja, saat ini. Melihat Bramono malam ini, bersama wanita itu, hati Ratna membeku. Rasa cinta, dalam hati Ratna, menguap begitu saja. Berubah menjadi rasa benci, yang amat sangat. Ratna bangun dari duduknya, lalu tanpa berkata apapun, meninggalkan tempat itu. Ratna pulang ke rumah, dengan penuh rasa marah. Ingin rasanya, dia membalas rasa sakit hatinya, pada Bramono saat ini juga, tapi tidak tahu harus bagaimana? *** Malam ini, Bramono begitu menempel dengan wanita barunya yang tak kalah cantik dengan Ratna atau wanita lainnya. Seorang Bramono berprinsip, tak akan mau dekat, dengan sembarangan wanita. Tak perlu kaya atau dari kalangan konglomerat, namun dia harus cantik. Bramono seorang pria yang sangat penuh dengan gengsi, apapun yang di miliki atau yang ada dekatnya harus barang bagus, begitu juga wanita. Hidupnya, harus terlihat sempurna, wanita cantik dan harta melimpah. Di kantornya pun ada peraturan, harus memilih pekerja wanita yang cantik, yang jelek atau biasa saja di harap langsung mundur. Karena Bramono, sangat tidak menyukai hal-hal berbau kejelekan, apapun yang terlihat oleh matanya, harus sempurna. *** Seminggu kemudian, Ratna kembali melihat Bramono, di club yang sama. Setelah di selidiki, Bramono ternyata sering ke tempat itu, padahal selama dengannya, Bramono tak pernah mengajaknya ke tempat seperti itu. Ratna yang saat ini sedang termenung, sendirian di rumah. Terkejut saat kedatangan seorang tamu wanita, tamu wanita yang membuat nya merasa sangat jijik, begitu melihatnya. Tamu nya itu, seperti wanita dari jaman dahulu, rambut nya panjang, berkepang dua dan berponi, memakai kacamata dan memakai berkawat gigi. Entah wanita dari jaman apa wanita ini berasal, pikir Ratna. Namun begitu, melihat wanita itu, tiba-tiba timbul sebuah ide, di kepala Ratna untuk membalas dendam pada Bramono. "Dia pasti akan marah besar, ego nya akan tersinggung!" Sorak Ratna dalam hatinya. Ratna akhirnya menerima wanita itu, sebagai tamunya. Wajah wanita itu, terlihat sangat sedih, mungkin sesuatu telah terjadi pada wanita itu, tapi Ratna tidak perduli. Ternyata wanita itu, adalah anak dari salah satu pembantunya. Dia datang untuk meminjam uang, untuk ibunya yang sekarang berada di rumah sakit, karena kecelakaan, tadi pagi. Mendengar itu, Ratna tersenyum dan langsung mengiyakan permintaan wanita itu, namun dengan satu syarat. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya wanita itu. "Tidur dengan seorang pria!" Jawab Ratna, langsung. Sontak saja, wanita itu langsung terkejut dan menolak, syarat tersebut. "Kalau itu aku tak bisa," ucap wanita itu. "Kalau begitu maaf, aku tak bisa memberikan pinjaman uang yang kamu minta," jawab Ratna dengan tegas. Wanita itu, terdiam dan tertunduk agak lama, tapi tak lama, dia mengangguk pelan walau dengan sedikit ragu. Ratna, tersenyum lebar melihat anggukan wanita itu. Saat itu juga, Ratna langsung memberikan sebagian uang, yang diminta wanita itu Sebagian lagi, nanti akan dia akan berikan, jika tugas dari nya selesai dilakukan oleh wanita itu. Ratna pun, mengatakan bagaimana rencananya akan dijalankan, wanita itu seperti terkejut, tidak percaya mendengar dengan siapa dia harus tidur. Tapi Ratna tidak perduli, Ratna sudah membayangkan bagaimana marahnya Bramono nanti, saat terbangun ada mahluk aneh di sisinya. "Dia mantan anda?" tanya wanita itu. "Begitulah, tapi dia mantan yang sangat menyebalkan!" Jawab Ratna dengan malas. "Ini hukuman buatnya!" Lanjut Ratna. Ratna, melihat ada rona bingung di wajah wanita itu, Ratna pura-pura tidak tahu dan tidak juga perduli. Ratna, malam itu juga, mengajak wanita itu ke tempat biasa Bramono nongkrong bersama teman- temannya. Di sana, Ratna mulai menjalankan rencananya. "Malam," sapa Ratna pada Bramono dan teman-temannya. "Boleh gabung?" lanjut Ratna. Ratna menunggu anggukan kepala dari Bramono. Ratna tersenyum lebar, saat Bramono menganggukkan kepalanya, walau tanpa menoleh ke arahnya. Ratna secara diam-diam menyembunyikan, sebuah senyum licik di bibirnya, karena telah berhasil mendekati dan bergabung dengan Bramono, saat ini.

Bab 2 Malam Naas Bramono

Senyum licik, yang di sembunyikan oleh Ratna, segera menghilang di bibir Ratna, saat Bramono melihat ke arahnya. Ratna langsung menggantinya dengan senyum yang lebar, nan tulus. Walaupun akhirnya, Bramono langsung membalasnya dengan membuang wajahnya, ke arah lain, begitu melihat senyum Ratna itu. Ratna spontan mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal, dengan sikap Bramono barusan. Dengan mengabaikan rasa kesal dalam hatinya, Ratna tanpa ragu, duduk di sebelah Bramono. Namun baru saja Ratna duduk, Bramono langsung bangun, pamit ingin kebelakang. Ratna kali ini, tidak keberatan apalagi tersinggung dengan apa yang di lakukan Bramono itu, Ratna malah bersyukur, dengan begitu dia bisa menjalankan rencananya. Ratna, sengaja bersikap ramah pada teman-teman Bramono, mencoba bersikap normal , untuk menutupi maksud yang tersembunyi, saat Ratna mendekati dan bergabung dengan mereka. Bramono yang baru saja, kembali dari toilet, melihat teman-temannya asyik bicara dengan Ratna, terdiam sebentar. Lalu kembali berjalan ke arah mereka dan kembali duduk di tempatnya, di samping Ratna. "Ratna, mengundang kita ke tempatnya, apa kamu mau ikut?" tanya Sopyan. "Kalian sajalah, aku malas," jawab Bramono, sambil melihat ke arah Ratna, Bramono menangkap raut kecewa di wajah Ratna, dia tersenyum kecil, mengejek Ratna. "Tak masalah, kalian saja yang datang!" Ucap Ratna, menutup rasa kecewanya. "Baiklah kalau begitu, kami cabut duluan ke sana, pasti banyak cewek cantik di sana!" Ucap Sopyan lagi. "Pasti itu!" jawab Ratna. Bramono, menatap kepergian para temannya, lalu menoleh ke arah Ratna. Ratna pun langsung berdiri dan pamit, pada Bramono, melihat tatapan Bramono yang kurang bersahabat dengannya. "Aku pergi dulu," pamit Ratna. Setelah kepergian Ratna, Bramono mengambil gelas miliknya, yang masih berisi setengah, Bramono langsung menegak habis minuman itu. Tanpa di sadari oleh Bramono, ada seseorang yang tersenyum lebar, melihat apa yang di lakukan Bramono barusan. Bramono meninggalkan tempat itu, malas juga jika hanya nongkrong sendirian. Di tengah jalan, Bramono terkejut, ketika mobilnya dihadang oleh sebuah mobil. Bramono pun, segera menghentikan mobilnya, dengan mendadak. Baru saja Bramono turun, dari mobilnya. Untuk menegur pengemudi mobil itu, seseorang memukulnya dari belakang, hingga Bramono jatuh pingsan, saat itu juga. Dalam keadaan pingsan, tubuh Bramono di gotong masuk ke dalam mobil, lalu di bawa ke suatu tempat. Ketika sadar, Bramono mendapati dirinya sedang terikat di kursi, dan saat itu juga Bramono di paksa, untuk menegak minuman yang mereka berikan. Bramono menatap tajam ke arah mereka, yang begitu senang menertawakan dirinya, yang lemah saat itu. Beberapa saat, setelah menegak minuman yang diberikan mereka, Bramono merasakan hawa panas menjalar dari dalam tubuhnya, tubuhnya mulai bergerak tidak teratur. "Sepertinya, obat itu sudah beraksi padanya," ucap salah seorang pria bertopeng. "Kita tinggalkan dia, biar wanita itu yang mengurusnya," ucap seorang lagi. Mereka berdua, lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan Bramono sendirian. Bramono makin kesini, makin merasa kepanasan, ada sesuatu yang menggebu dalam dirinya, semua pasti efek dari minuman itu. "Sial! Sepertinya aku, telah di beri obat perangsang!" Umpat Bramono. Bramono mendesah seorang diri, hawa panas yang dia rasakan begitu hebat, ingin rasanya dia merobek pakaian yang sedang dia pakai saat ini. Namun tak bisa dia lakukan, karena tangannya sedang dalam posisi terikat. Tak lama pintu kamar dibuka lagi, dari luar. Bramono seketika menoleh dan melihat seorang wanita masuk menghampirinya, dengan ekspresi wajah penuh ketakutan. Kedua mata Bramono melebar, tak percaya melihat wanita seperti apa yang menghampirinya, itu. Wujud seorang wanita yang tak pernah masuk dalam mimpi dan angannya. Apa, maksud. orang yang telah membuatnya begini? batin Bramono, karena tahu jika dia sekarang dalam pengaruh obat perangsang dan di hadapannya ada seorang wanita, yang akan jadi mangsanya. Tapi kenapa? mangsanya, harus wanita dengan model seperti ini. "Argh" ucap Bramono. "Lepaskan tanganku!" Ucap Bramono sambil menatap tajam wanita itu. Wanita itu hanya diam, tak bergerak, dia bahkan tak berani memandang ke arah Bramono. Pengaruh obat perangsang dalam diri Bramono, makin membuatnya sedikit hilang akal. "Cepat kamu buka tali ini! kalau tidak aku akan mati!" Teriak Bramono, dengan tubuh tak berhenti bergerak. Mendengar itu, wanita itu perlahan bergerak, mendekati Bramono, dan melepaskan tali ikatan Bramono. Bramono, langsung bangun begitu tali terlepas, karena hawa panas dalam dirinya, Bramono langsung membuka bajunya sendiri, lalu menatap wanita itu dengan tatapan penuh hasrat. Walau jauh di dalam hatinya, dia tak ingin dekat dengan wanita itu, tapi hasrat berkata lain, hasrat itu mengalahkan kata hati. Bramono melangkah mendekati wanita itu, lalu segera mengangkat wanita itu ke atas tempat tidur dengan kasar. Wanita itu, sedikit menjerit karena terkejut, tapi Bramono tidak memperdulikannya, dia segera naik ke atas tempat tidur dan menyerang wanita itu. Bramono, mulai menyerang wanita itu, di mulai dari bibirnya. Awalnya wanita itu menolak, namun dia akhirnya pasrah, mungkin karena dia tahu, keadaan tidak memihak padanya sekarang. Tenaganya kalah jauh dengan Bramono yang sedang terbakar hasrat. Bibir wanita itu, menjadi sasaran yang empuk untuk Bramono, seperti tanpa puas Bramono melumat bibir wanita terus menerus, bahkan beberapa kali wanita itu seperti menarik nafas panjang saat Bramono melepaskan ciumannya. Setelah puas dengan bibir wanita itu, hasrat Bramono yang makin meningkat, tentu saja menuntut hal lain, dia mulai menjelajah tubuh wanita itu. Sedikit demi sedikit setiap inchi dari tubuh wanita itu, tanpa ada yang terlewatkan, menjadi sasaran Bramono. Bahkan wanita itu sekarang seperti menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Bramono padanya, dari mulut wanita itu, beberapa kali terdengar suara penuh kenikmatan. Bramono, kini sudah siap menyerang inti dari wanita itu. Wanita itu menatap Bramono sebentar, lalu memejamkan matanya ketika Bramono melancarkan aksinya, Bramono terlihat sangat perkasa ketika berada di atas tubuh wanita itu, sampai akhir. Bramono terkulai lemas di sisi wanita itu, wanita itu menoleh sebentar ke arah Bramono, wajah tampan yang lelah, tepat berada di depan matanya. Seorang pria tampan, yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bramono membuka matanya dan menatap wanita itu, yang saat ini sedang menatapnya. Bramono yang sedang dalam pengaruh obat perangsang, tentu saja hasratnya dengan cepat naik kembali, melihat wanita itu. Bramono, kini kembali berkuasa di atas tubuh wanita itu lagi, begitu lah ... malam itu, hasrat Bramono tersalurkan pada wanita itu, hingga beberapa kali sampai akhirnya Bramono benar-benar terkulai lemas tak lagi berdaya. Bramono dan wanita itu langsung tertidur nyenyak, dalam posisi saling memeluk satu sama lain. Tanpa mereka tahu, Ratna masuk dan mengambil foto mereka berdua, sambil tersenyum lebar. "Dengan foto ini, aku yakin dia akan bertekuk lutut padaku!" Ucap Ratna. Walau pun dalam hatinya sakit, karena melihat pria yang di cintai nya tidur bersama wanita lain, tapi Ratna puas karena bisa menjatuhkan harga diri Bramono saat ini. "Dia pasti ngamuk, melihat wanita jelek itu tidur sambil memeluknya," ucap Ratna lagi sambil tersenyum. Ratna pun segera keluar lagi dari kamar itu, saat itu juga. Hingga siang hari, di hari berikutnya, Bramono dan wanita itu masih saja terlelap, mungkin pertarungan semalam yang mereka lakukan, sangat menguras tenaga. Menjelang sore, tubuh Bramono mulai menunjukkan pergerakan, Bramono membuka matanya perlahan, mengingat kejadian semalam. Sekilas sebuah senyuman puas terlihat di bibir Bramono. "Mahluk apa, yang semalam tidur denganku ini?!" Teriak Bramono tiba-tiba. "Oh Tuhan! Bagaimana ini bisa terjadi padaku!" "Aku, tak bisa menerima ini!" Teriak Bramono. Wanita itu terkejut, mendengar teriakkan Bramono, saat melihatnya, dia langsung menutup matanya kembali dan berkata. "Kenapa anda berdiri di sana tanpa pakaian!" Ucap nya. "Apa anda tidak malu?" Lanjut wanita itu lagi. Bramono, tidak memperhatikan ucapan wanita itu, tapi Bramono fokus pada kawat gigi yang di pakai wanita itu, Bramono bergidik ngeri. "Dia jelek sekali!" Umpat Bramono.

Bab 3 Kemarahan Bramono

"Bangsat! Siapa yang bermain-main denganku!Hingga aku bisa tidur dengan mahluk aneh ini!" Teriak Bramono marah, sambil mendorong wanita, yang tidur di sampingnya, agar menjauh darinya. Wanita itu bergidik ngeri, melihat kedua mata Bramono memerah menatapnya. Wanita itu segera turun dari tempat tidur, lalu segera berlari masuk ke dalam kamar mandi sambil menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya yang polos saat itu. Bramono terduduk lesu, di tepi tempat tidur, ketika wanita itu sudah masuk ke dalam kamar mandi. Bramono, membodohi dirinya sendiri, hingga puas dan langsung berhenti, ketika mendengar suara isak tangis dari kamar mandi. Bramono bangkit dan langsung mengendor pintu kamar mandi, sambil berteriak kencang, pada wanita yang ada di dalam. "Aku tahu, kamu belum mulai mandi!" Teriak Bramono. "Siapa kamu?" tanya Bramono. "Siapa, yang menyuruh kamu melakukan ini?" tanya Bramono lagi, dengan suara yang nyaring di telinga. Wanita yang ada di dalam kamar mandi, tidak juga membuka suaranya, membuat Bramono makin kesal. Emosi Bramono makin tak terkendali saat ini, dia benar-benar dalam kondisi sangat marah, barang-barang yang ada di dekatnya, seketika pecah di lempar olehnya. Semua ini, hanya karena mahluk jelek rupa, tidur di sampingnya bahkan memeluknya. Bramono merasa sangat terhina karena hal ini, seumur hidupnya tidak pernah bermimpi, atau membayangkan akan tidur dengan wanita jelek seperti itu. "Tidak! Tidak boleh ada wanita jelek di sampingku sampai kapanpun!" Tolak Bramono. "Kamu! Cepat keluar! Aku juga mau masuk ke sana! Tunggu! Biar aku dulu yang mandi. Aku tak ingin menggunakan apapun yang sudah di sentuh oleh kamu!" Teriak Bramono. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Bramono melihat wanita itu masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya, wanita itu terlihat ketakutan. "Jangan, perlihatkan wajah kamu itu, padaku! Menunduk!" Bentak Bramono. Wanita itu menurut, langsung menundukkan kepalanya, dalam-dalam. Bramono langsung masuk ke dalam kamar mandi, tanpa berhenti berteriak. "Entah, harus berapa kali, Aku mandi! Aku tak ingin sampai mencium bau tubuh kamu, menempel lagi padaku! Wanita jelek!" Teriak Bramono. "Rasanya, satu botol sabun ini kurang! Untuk bisa menghilangkan bau tubuhmu dari tubuhku!" "Dasar wanita jelek!" "Lihat saja, akan ku cari siapa dalang di balik semua ini!" "Sial! Kenapa bau kamu ini sangat menyengat!" Maki Bramono lagi. Bramono, hampir satu jam, berada di dalam kamar mandi. Begitu keluar, Bramono melihat wanita itu terduduk di tepi tempat tidur, dengan wajah di tekuk. "Ingat! Jangan perlihatkan wajahmu padaku!" Ucap Bramono mengingatkan wanita itu. "Aku, tak ingin wajah jelek kamu, nanti masuk dalam mimpiku!" Lanjut Bramono. Wanita itu, seperti tidak peduli dengan ucapan Bramono, dia berlari masuk ke dalam kamar mandi, begitu Bramono keluar dari sana. "Sialan! Pasti bajuku sudah bersentuhan dengan kulitmu!" Teriak Bramono. Bramono, mengambil handphonenya yang ada di dalam celana. "Belikan, aku baju baru dan bawa ke hotel ini cepat!!" Teriak Bramono, pada orang yang di telepon olehnya. "Aku, harus segera pergi dari sini! Rasanya mual lama-lama berada dalam satu ruangan, dengan wanita jelek itu!" Ucap Bramono lagi. Tak lama, pintu kamar hotel di ketuk dari luar, Bramono segera mengambil apa yang diantar oleh orang itu, lalu dengan cepat Bramono mengganti pakaiannya. Setelah rapih, tanpa berkata apapun pada wanita itu, Bramono meninggalkan wanita itu, begitu saja. Dari hotel itu, Bramono langsung pergi ke kantornya, begitu tiba di sana Bramono meminta sekertaris nya, membawa berkas-berkas pekerjaannya hari ini. Bramono dengan perasaan marah, memeriksa berkas-berkas tersebut, rasanya hari ini dia ingin menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja. Bramono tidak ingin sampai bayangan, wajah jelek wanita itu, muncul di kepalanya dan merusak harinya, lagi. "Masuk!" Ucap Bramono. "Apa ini?" teriak Bramono, sambil melempar, sebuah berkas, tepat mengenai wajah staf nya yang baru saja masuk. Bramono, melihat Staf nya itu, mengambil berkas-berkas yang berserakan di lantai. "Kalau kerja yang benar! Jangan makan gaji buta kamu!" Lanjut Bramono. "Maaf, akan saya cek ulang," jawab staf nya itu tanpa berani memandang ke arah Bramono. "Saya permisi!" Ucapnya lagi, lalu langsung pergi dengan cepat. Bramono, menatap pintu ruangannya yang tertutup, lalu berteriak keras. "Sialan! Brengsek! Kurang ajar!" Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Bramono hari itu sepanjang hari. Mulut Bramono tak berhenti mengumpat, sambil berusaha konsentrasi, untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Tiba-tiba handphone nya berdering, seketika Bramono mengumpat kembali. "Sialan ganggu saja!" "Halo!" tanpa melihat siapa yang menelepon Bramono menerima telepon itu. "Halo," "Siapa ini?" bentak Bramono. "Ratna," "Ratna siapa? aku tak kenal!" ucap Bramono, langsung memutuskan sambungan telepon. Ratna, mendengus kesal, namun kemudian tersenyum, karena sepertinya rencana dia berhasil. Bramono terdengar sedang gusar, pasti ego nya sedang terluka saat ini, karena telah tidur dengan wanita jelek rupa. "Rasain kamu!" Maki Ratna. "Makan tuh, cewek cupu!" Lanjut Ratna. Bramono, yang kesal tidak melanjutkan pekerjaan nya, dia memilih keluar ruangan, lalu pergi meninggalkan kantornya. Bramono memilih pulang ke apartemen, merasa dirinya sangat kotor dan bernoda, noda dari wanita jelek itu. Bramono, merasa harus membersihkan diri lagi, di apartemen nya, karena merasa bau wanita jelek itu masih saja tercium di hidungnya. "Kita, ke apartemen pak!" Ucap Bramono pada sopirnya. "Siap!" jawab sang sopir. Bramono di dalam mobil merasa gelisah, duduk nya pun terlihat tidak nyaman. Bramono merasa, udara di dalam mobilnya pun, telah tercemar bau tubuh dari wanita itu. "Cih! Wanita jelek itu membawa suasana hatiku jadi buruk begini!" "Rasanya, aku tak mau, bertemu lagi dengannya!" Lanjut Bramono sambil bergidik ngeri. Sampai di apartemen, Bramono langsung masuk ke kamar mandi. Dia langsung berendam dengan air hangat, dengan menggunakan wangi-wangian yang biasa dia pakai, yang dia teteskan ke dalam air mandi nya dengan harapan, bau wanita itu akan hilang darinya. Hampir satu jam, Bramono berendam, merasa tubuhnya sudah wangi, Bramono menyudahi acara mandinya. Bramono kemudian menatap diri nya di cermin, Bramono memeriksa kulit di seluruh tubuhnya, melihat apakah ada luka atau bekas cakaran di kulitnya, akibat ulah wanita itu. "Untung saja, dia tidak membuat kulit ku luka, jika sampai itu terjadi, aku sepertinya harus pergi ke dokter kulit, untuk memeriksa, karena takut infeksi!" Gerutu Bramono. Bramono lalu duduk di tepi tempat tidur, merebahkan diri, menatap langit-langit kamarnya, tak lama kemudian memejamkan matanya. "Sial! kemarin, adalah hari tersial sepanjang hidupku! Semoga, hari itu tidak akan terjadi lagi, atau aku bisa mati!" Ucap Bramono pelan. Bramono, menghembuskan nafasnya berkali-kali, mencoba untuk menenangkan hatinya. "Aku, harus tetap mencari, siapa penyebab dan bagaimana bisa, aku tidur dengan wanita jelek itu!" Ucap Bramono sambil membuka matanya menatap tajam ke arah langit-langit kamarnya.

Lanjut baca