Jeritan Tiba tiba aku terperanjat kaget saat sedang menikmati terlelapku menuju alam mimpi. Karena mendengar suara jeritan kesakitan disudut lorong sebuah ruangan berjeruji besi. " arrkh.... Sakit... Sakiiit... "rintihnya " jangan... Jangan lakukan itu" Teriaknya sambil menangis kesakitan. Aku semakin kaget dan seketika itu juga rasa kantukku langsung hilang. Aku jadi penasaran apa yang terjadi dan siapa yang menjerit jerit kesakitan itu. Aku segera membangunkan temanku yang sedang tidur di sebelahku. Tampaknya dia sama sekali tidak terganggu dengan suara jeritan itu, Atau,,, seperti yang sudah bisa kuduga, dia hanya berpura-pura tidak mendengarnya. "hei.. Hei... Bangun! Ayo bangun!." Kataku sambil menepuk nepuk kedua kakinya. Tapi dia sama sekali tidak membuka matanya. Aku goyangkan badannya berkali kali pun dia tetap tidak mau bangun. "kau ini tidur atau pura-pura tidur! " Bentakku Tapi tetep saja dia tidak mau bangun. Akhirnya aku turun dari ranjang tempat tidurku untuk mencari tahu sendiri apa yang sedang terjadi. " hei,,,, kau dengar tidak orang yang menjerit jerit itu?" Tanyaku kepada orang di sebelah ruangan sel ku, yang kayaknya dia juga sedang mencari tahu apa yang sedang terjadi. "Kurang tahu,, tapiii,, kita lihat saja besok atau lusa, paling seperti biasa" Katanya dengan raut muka sedikit cemas tapi dia berusaha untuk tenang. "sudah... Kau tidur lagi saja, kita tidak akan dapat informasi apa apa kalau hanya berdiri disini. Nanti kita biasanya dapat berita ini itu kalau lagi pas kumpul kumpul, Sudah...! Tidur lagi sana! Lagian yang lain juga pada tidur...!" Katanya sambil naik lagi keatas ranjang tempat tidurnya. Aku tetap penasaran apa yang sedang terjadi. aku ingin bertanya pada orang-orang yang lainnya tapi seperti yang dibilang teman di sel sebelahku, semuanya pada tidur pulas atau lebih tepatnya seolah-olah pada tertidur pulas. Aku semakin tidak mengerti dengan situasi ini. kadang aku sering merasa aneh bahkan heran dengan orang-orang di penjara ini, tempat di mana aku harus mempertanggungjawabkan perbuatan ku. karena hampir di setiap situasi, situasi apapun itu, mereka lebih memilih untuk tutup mulut, berpura-pura tidak tahu bahkan terkesan acuh. walaupun ada di antara mereka yang teraniaya, terluka, menderita, atau bahkan jadi orang stress. Mereka tetap bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. pernah aku melihat salah seorang dari mereka tangannya di perban dan merintih menahan kesakitan selama berhari-hari, tapi semua orang hanya acuh. Dan jikapun ada yang melihat, dia hanya melihat sekilas lalu segera memalingkan muka dengan berpura-pura bersikap tenang dan tidak peduli. seolah-olah raut muka mereka menggambarkan bahwa apa yang terjadi jangan sampai terjadi pada diri mereka, dan mereka akan melakukan apapun supaya mereka bisa selamat dan tidak mengalami hal yang sama seperti yang dialami teman satu penjara nya itu. Begitulah kira-kira situasi yang kualami sekarang, sejak aku mendekam di penjara beberapa tahun yang lalu. Memang tidak semuanya bersikap seperti itu. ada beberapa diantara mereka yang menunjukkan rasa kepedulian nya, rasa ibanya dan simpatinya. Tapi itu pun hanya sebatas kata-kata supaya bersikap sabar dan menerima apa yang sudah terjadi sebagai bagian dari konsekuensi hidup di penjara. yah.. penjara yang paling aneh, dan yang paling tidak kumengerti dengan situasi dan kondisi yang ada di dalamnya. Karena hampir semua orang-orang yang mengalami penderitaan, entah itu penyiksaan, kelaparan bahkan sampai pemotongan anggota tubuh pun tidak ada yang memperdulikan nya. dan semuanya bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun termasuk dengan teman satu sel ku. Bahkan menurutku dialah yang paling acuh dan cuek diantara semuanya. paling tidak punya kepedulian termasuk dengan diriku yang menjadi teman satu selnya. Pernah aku bertanya kepadanya tentang sikapnya yang seperti itu, dan itu ku tanyakan berulang-ulang karena orangnya tidak juga mau menjawab. Dan akhirnya dia mau bicara setelah aku mengancam akan membunuhnya. "Supaya aku selamat sampai waktunya aku bebas nanti,,,, dan kuharap kau juga seperti itu." bisiknya ke telingaku. Sebuah jawaban yang menurutku sangat menyebalkan, egois, sebuah jawaban yang menggambarkan sifat yang hanya mementingkan diri sendiri dan keselamatannya. Sebuah sikap yang menurutku tidak pantas dimiliki seseorang walaupun dia hidup sebuah masyarakat dan alam bebas. Apalagi di dalam sebuah penjara yang kehidupannya jauh berbeda dibandingkan dengan kehidupan yang lainnya. Sungguh sikap dan pendirian teman satu sel ku itu jauh berbeda dengan prinsip hidupku. dimana kerja sama, solidaritas yang tinggi, serta kejujuran adalah kunci utama dalam setiap pencapaian hidup, bahkan pencapaian dalam menggulingkan sebuah kekerasan tirani sekalipun. Dengan wajah yang masih cemberut karena berusaha menahan emosi, aku bertanya lagi pada teman satu sekolah itu. "lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi ditempat ini ?" Tanyaku dengan berbisik pelan. "tidak ada apa apa ! " bisiknya lagi. Mataku terbelalak mendengar kata kata yang keluar dari mulutnya. Rasa keheranan bercampur dengan emosi yang bergemuruh dalam dadaku ini, hampir saja membuatku hilang kendali. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu. Dengan semua kejadian yang kulihat dan Ku dengar dengan mata dan telinga ku sendiri. orang orang yang kondisi badannya baik baik saja tiba tiba keesokan harinya harus diamputasi dengan alasan mengalami kecelakaan. orang orang dengan kondisi yang waras saat datang ke penjara ini tiba tiba menjadi orang yang linglung dan menjadi setengah gila, dan ketika ditanyakan alasannya pihak pihak pengelola penjara serta sipir sipirnya hanya mengatakan bahwa mereka tidak terbiasa dengan linkungan barunya, mentalnya lemah, psikisnya sudah bermasalah sebelum dia dipenjara, dan alasan alasan yang lainnya. bagaimana bisa dia berkata seperti itu,bagaimana bisa? emosiku sudah tidak tertahankan lagi. aku mendekati teman satu selku itu, lalu menjambak bajunya dan dengan kepalan tanganku, aku sudah siap untuk menghajar mukanya. tapi seperti biasa, dia tidak menanggapi emosi serta tindakanku itu. malah dengan senyumannya yang lembut, serta tulus itu, dan yang kuyakini, bahwa itu bukanlah sebuah kepura puraan, dia melepaskan genggaman tangaku, lalu dia naik keatas ranjang, tidur miring dengan membelakangiku. sebuah sikap yang sama dan selalu berulang ulang, jika diantara kami sedang bentrok atau beradu argumen. teman satu selku selalu lebih memilih mengalah dan tidak menanggapi luapan emosiku. sikap yang menurutku memang lebih dewasa tapi juga sangat mengecewakan, apalagi menyangkut hal hal yang sedang kami bicarakan tadi. dengan emosi yang masih tertahan, aku mendekati teman satu selku itu dan berbisik pelan ditelinganya "kau manusia paling egois...! bisikku dan aku tidak mendapatkan tanggapan apa apa darinya, melainkan hanya sebuah anggukan kecil.
Dengan emosi yang masih tertahan, aku mendekati teman satu selku itu dan berbisik pelan di telinganya. "kau manusia paling egois !" Bisikku Dan aku tidak mendapatkan tanggapan apa-apa darinya, melainkan hanya sebuah anggukan kecil. Aku tertegun, termenung dengan penuh tanda tanya besar atas situasi yang sedang kuhadapi saat ini. kepada siapa lagi aku harus bertanya dan mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam penjara ini. Haruskah aku seperti mereka? bersikap Masa bodoh, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa,meskipun itu bertentangan dengan hati nuraniku? atau Haruskah aku mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi di dalam penjara ini? Di setiap hari Jumat, seperti biasa, kami diberi sedikit keleluasaan untuk bergerak oleh para sipir penjara, pagi-pagi sebelum sarapan kami diperbolehkan untuk berolahraga, ada yang bermain futsal, ada yang bermain sepak bola, Sebagian ada yang senam fitness, atau hanya sekedar lari-lari kecil. Lapangan di mana tempat aku ditahan ini memang termasuk sangat luas, Apalagi ditambah dengan fasilitas ruang aula, termasuk dengan kamar mandinya serta WC umum yang berjajar-jajar, semuanya tertata dengan rapi, dan terawat, selalu bersih dan wangi. Menurutku untuk sekelas penjara, fasilitas seperti itu dengan kondisi yang terawat dan selalu bersih, sudah merupakan suatu kemewahan. Aku jadi teringat dengan cerita teman satu sel ku itu tentang penjara ini. dia mengatakan bahwa penjara di mana tempat aku dan dia berada sekarang adalah penjara baru, dan baru selesai pembangunannya beberapa tahun yang lalu. sementara penjara yang lama sudah tidak dioperasikan lagi, walaupun tidak secara total, karena masih ada sebagian ruangan yang masih digunakan, entah itu untuk ruang tempat penyimpanan logistik ,tempat rapat para sipir, atau ruang untuk mengintrogasi dan menyiksa para tahanan yang mencoba untuk kabur. Aku memang belum pernah melihat secara langsung penjara yang lama itu, apalagi masuk ke dalamnya, karena sejak aku mulai masuk penjara, aku memang sudah langsung ditempatkan di penjara yang baru ini. sebuah bangunan yang kokoh, kuat, dikelilingi dengan benteng yang sangat tinggi serta kawat-kawat Berduri, dilengkapi juga dengan kamera CCTV di setiap sudutnya, juga menara pengawas yang dijaga secara bergantian dan dioperasikan selama 24 jam. Dengan kondisi yang seperti itu aku rasa orang akan berpikir ulang Jika ada yang mau berusaha melarikan diri. masih menurut cerita teman satu sel ku, bahwa pembangunan Lapas yang sekarang memang sangat memperhatikan setiap detail, mereka mengambil pelajaran dari Lapas yang sebelumnya, di mana selalu saja ada celah untuk orang melarikan diri. Selain bangunannya memang sudah Lapuk, bobrok, bahkan ada beberapa bagian yang sudah ambruk, bangunan lapas yang lama itu dinilai kurang maksimal dari segi keamanan. Mereka menilai masih ada kelemahan dari sana-sini dari segi konstruksi. walaupun Lapas ini dari segi pertahanan alam dikelilingi oleh lautan, tapi ternyata tetap saja masih ada orang-orang yang berusaha Melarikan diri dan bahkan sampai ada beberapa diantara mereka yang bisa lolos dan bebas. Teman satu sel ku itu memang tahu banyak tentang Lapas yang lama itu. selain karena dia pernah tinggal di sana selama belasan tahun, tetapi dia juga dapat informasi dari orang-orang yang pernah berusaha untuk melarikan diri. Aku jadi semakin penasaran dengan Lapas yang lama itu. karena seperti yang diceritakan teman satu selku itu jaraknya sangat dekat dengan Lapas yang sekarang menjadi tempat tinggalku. Dan Andaikan tidak ada Benteng yang kokoh dan tinggi itu aku bisa melihatnya langsung tanpa alat bantu apapun.
Setelah Badanku terasa bugar karena olahraga pagi, aku pun ikut mengantri beserta para narapidana yang lainnya untuk mendapatkan jatah sarapan pagi. Untuk sarapan pagi ini menunya agak lumayan enak. nasi putih dengan ikan asin, serta tumis kangkung. Aku bilang agak lumayan enak, karena biasanya makanan yang diberikan kepada para tahanan terkesan asal-asalan. kalau tidak roti kering, ya nasi Aking, dengan lauk pauk seadanya. bahkan sering Kami para narapidana harus menahan lapar seharian dan hanya mendapatkan jatah makan sekali dalam sehari. Bagi kami, sebagai narapidana di salah satu Lapas terbesar, bisa makan enak adalah sesuatu yang jarang didapatkan. Dan kami baru bisa merasakannya jika ada keluarga yang berkunjung untuk menjenguk dengan membawa segala keperluan kami termasuk makanan yang dibawa sebagai oleh-oleh. Atau jika ada kiriman barang-barang berikut makanan dari sanak keluarga. itulah hari-hari istimewa bagi kami. sehingga kami bisa merasakan hangatnya kepedulian sanak keluarga, serta bisa merasakan hidangan yang lezat. Selesai sarapan kami kembali ke dalam sel masing-masing untuk sekedar rebahan sebentar, sambil menunggu panggilan untuk salat Jumat. ketika aku sedang berjalan menuju ruangan selku aku kebetulan berpapasan dengan orang yang kakinya diperban serta jalannya pincang. Ku perhatikan betul dari tumit sampai telapak kakinya yang bengkak dan seperti Masih ada sisa Darah segar di perban Yang membalut hampir semua bagian telapak kakinya. Aku sempatkan untuk bertanya. walaupun seperti yang sudah kuketahui, kami dilarang berkomunikasi di luar jadwal yang sudah ditentukan. "Hei ! kakimu itu kenapa, kawan ?" Tanyaku dengan nada suara ringan disertai senyuman. Tetapi ketika dia hendak menjawab pertanyaanku, dia menoleh ke arah sipir yang menemaninya. dan Si sipir pun segera memberi isyarat dengan tatapan mata yang tajam. seolah-olah mengisyaratkan sebuah peringatan atau lebih tepatnya ancaman. "Ti.... Tidak apa-apa, Hanya kecelakaan ringan saja,,, jatuh di kamar mandi semalam. " Hanya Itu jawaban yang kudengar. Dan dengan segera orang itu pun pergi sambil dipapah oleh sipir yang mendampinginya. Dan entah mengapa firasatku mengatakan bahwa bukan Itu jawaban yang sebenarnya, apalagi dari jawabannya tersirat bahwa seolah-olah memang dialah orangnya yang menjerit-jerit kesakitan tadi malam. Tidak Berapa lama kemudian suara adzan pun menggema, sebagai pertanda bagi kami untuk segera melaksanakan salat Jumat. Dan para sipir pun membukakan pintu sel para tahanan serta mendampingi kami menuju gedung aula. di mana salat Jumat Biasa diadakan di sana. Sebelum sholat dimulai, kami seperti biasa mendengarkan dulu ceramah Pak khotib yang memberikan nasihat-nasehat serta wejangan-wejangan tentang tobat, intropeksi diri, dan nasihat bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Di sela-sela sedang mendengarkan ceramah, Entah kenapa tiba-tiba Aku teringat dengan orang yang kakinya diperban itu. Aku terus mengedarkan pandanganku untuk melihat di posisi mana dia duduk. Tetapi sampai khotib selesai ceramah pun, aku tetap tidak menemukan orang itu. "Kau mencari siapa ?" Tanya teman satu selku yang duduk di sebelahku, dan ternyata dia juga memperhatikan gerak gerikku dari tadi. " Aku sedang mencari orang yang berpapasan denganku tadi pagi, kakinya diperban, bengkak, dan masih mengeluarkan darah segar,Aku yakin, orang itu yang menjerit menjerit tadi malam. " jawabku pada teman satu sel ku dengan berbisik pelan ke telinganya. " Kau itu mau sholat jumat ! jangan suka ngurusin urusan orang! " Plak ! Sebuah Jawaban yang membuat dadaku serasa tertindih batu besar, dan yang membuat otakku berhenti berpikir untuk sejenak. Aku ingin menimpali kata-kata yang keluar dari mulut teman satu selku itu, yang bagaikan petir di siang bolong, dan yang membuat mood ku jadi rusak. tapi aku segera tersadar bahwa situasinya tidak memungkinkan. Kami sedang melaksanakan salat Jumat yang akan segera dimulai, dan tentunya juga, tidak berguna kami cekcok dan beradu mulut di tempat seperti ini, yang hanya akan memancing orang-orang yang punya kepentingan untuk menciptakan huru-hara dan bikin onar, sehingga yang terkena akibatnya adalah kami berdua, yang mengharuskan kami tinggal di sel isolasi selama beberapa bulan, dengan kondisi tempat yang tidak layak serta dengan jatah makanan yang seadanya, seperti yang pernah terjadi pada kami beberapa tahun silam. Selesai sholat Jumat, aku segera bangkit dan pergi menuju selku diikuti oleh sipir penjaga. Dengan muka masam aku terus berjalan tanpa memperdulikan teman satu selku yang sedari tadi mengikutiku dari belakang. Tetapi tiba-tiba langkahku terhenti karena aku melihat orang yang kakinya diperban, yang berpapasan denganku tadi pagi itu. dengan memakai kursi roda orang itu dibawa oleh sipir penjaga menuju ke arah klinik Lapas. Aku terus memandanginya. Dan kebetulan orang itu juga menoleh ke arahku. Tapi ketika aku hendak Melambaikan tangan ke arahnya aku segera dihentikan oleh sipir penjagaku. " sudah waktunya masuk ke dalam sel ! cepat masuk !" bentaknya Dan aku pun segera mengikuti perintahnya.