My Lovely Fiance
Bab 1 PART 1

Nola berjalan dengan terburu-buru. Masih tersisa 3 menit lagi sebelum perkuliahan di mulai. Hari pertamanya kuliah di semester 3 benar-benar kacau. Dia terlambat bangun, hampir tertabrak mobil, dan nyaris telat masuk kelas. Gadis itu tak peduli pada pandangan orang lain dan terus berlari menaiki tangga. Nafasnya ngos-ngosan dan rambut hitamnya berantakan. Namun, itu tak menjadi penghalang baginya untuk terus berlari. Satu hal yang paling ditakutkan Nola sejak dulu adalah terlambat masuk kelas. Dia takut menjadi pusat perhatian apalagi dimarahi guru yang mengajar. Dia hanya ingin belajar dengan tenang tanpa dimarahi oleh guru. Bruk! Nola terhuyung ke belakang saat menabrak tubuh seseorang. Hampir saja dia terjatuh dan berguling-guling gratis di tangga jika pinggangnya tidak ditahan oleh orang yang ditabraknya. Gadis cantik itu mendongak. Menatap orang yang berbaik hati menolongnya. "Terima kasih, pak." Suara lembut nan manisnya membuat orang itu tertegun. Nola berusaha berdiri. "Sekali lagi terima kasih telah menolong Nola, pak. Nola pergi dulu." Langsung pergi begitu saja karena teringat dengan kelasnya. Meninggalkan pria yang terpaku menatap punggungnya yang kian menjauh. Pria itu adalah Nathan Alexander. Seorang dosen muda yang baru berumur 25 tahun. Dosen pengampu mata kuliah Keredaksian Jurnalistik Media Cetak. Seakan tersadar, dosen tampan itu kembali melanjutkan jalannya yang tertunda. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman misterius melihat sosok Nola memasuki kelas.  "Baguslah. Semua akan terasa lebih mudah." Gumamnya pelan. Nathan mempercepat langkahnya. Memasuki kelas yang akan diajarnya mulai hari ini. Semua mahasiswi di dalam kelas tercengang melihat ketampanan mematikan Nathan, terkecuali untuk Nola yang kini tampak terkejut melihatnya. Diam-diam Nathan menahan rasa gemasnya melihat wajah terkejut Nola. Lantas, berdehem sejenak dan mulai membuka sesi pembelajaran. "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Nathan Alexander. Saya adalah dosen pengampu mata kuliah KJMC kalian untuk semester 3 ini." Semua siswi menjerit tertahan mendengar suara sexy Nathan. Bahkan di antaranya ada yang menunjukkan ekspresi lemas bin lebay. Nathan yang melihat tingkah mereka hanya bisa bergidik ngeri. Ia memang sudah terbiasa bertemu mahasiswi semacam mereka, tapi tetap saja dia merasa ngeri. Tatapan mereka seolah memakannya hidup-hidup. "Saya punya peraturan tersendiri selama proses pembelajaran berlangsung." Nathan melanjutkan ucapannya. Semua mendengarkan Nathan dengan baik. "Pertama, harus berpakaian sopan. Kedua, toleransi terlambat hanya 10 menit. Ketiga, siapapun yang heboh saat pelajaran berlangsung akan saya usir keluar. Keempat, tidak boleh bermain ponsel. Kelima, pembelajaran dilakukan dengan sistem diskusi. Jadi, saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok harus membuat makalah dan PPT." Mereka semua begitu fokus menatap ke depan. Lebih tepatnya fokus menatap wajah tampan Nathan. Tentu saja para mahasiswi yang melakukan hal itu. Para mahasiswi di kelas itu sangat bahagia mendapatkan dosen tampan karena sebelumnya dosen mereka pria tua dan jelek. Nathan terus berbicara dengan pandangan yang sering tertuju pada Nola. Membuat Nola panik bukan main karena berpikir dirinya melakukan kesalahan. Nola memang selalu berpikir seperti itu jika seorang dosen sering menatapnya. Kini, otaknya berpikir keras tentang kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga dosen di depan menatapnya terus menerus. Pada akhirnya, gadis itu pun menunduk dan meremas kedua tangannya gugup. Virlia yang berada di sampingnya berbisik pelan, memanggilnya. Sungguh, gadis itu merasa heran dengan tingkah Nola yang tak biasanya. Nola menoleh pada temannya sejak pertama kali masuk kuliah. Keningnya mengernyit dan bibirnya memberikan isyarat, "Apa?" "Kenapa kamu terlihat takut? Apakah ada yang salah atau dosen di depan pernah menjahatimu?" Bisik Virlia pelan. "Bukan. Pak Nathan tidak jahat tapi Nola takut ditatap terus. Apakah Nola telah melakukan kesalahan?" Cicitnya pelan. Virlia yang melihat tingkah polos Nola tertawa geli. "Jangan takut, La. Palingan Pak Nathan menatapmu karena menyukaimu." Nola mengerjap kaget mendengar penuturan teman baiknya itu. Lalu, dia menghela nafas lega. "Syukurlah Pak Nathan menyukai Nola. Padahal Nola berpikir Pak Nathan tidak menyukai Nola karena terus-terusan menatap Nola." Virlia menepuk keningnya tak habis pikir mendengar perkataan polos Nola. "Dasar polos dan Lola." Geramnya. Ya, Nola memang polos dan Lola orangnya. Kepolosan dan kelolaannya membuat orang-orang gemas bukan main padanya. Bahkan ada di antaranya yang ingin menjedotkan kepala mereka ke pintu saking gemasnya. Namun meski begitu, semua orang tetap menyukainya karena dia begitu baik dan ramah. Apalagi wajahnya sangat cantik dan imut seperti Barbie, membuat para lelaki tergila-gila padanya. Tapi sayang, Nola tidak paham maksud para lelaki nan malang itu. ** Jam kuliah pagi telah berakhir. Namun, Nola tidak langsung pulang ke rumah melainkan singgah ke kantin kampus bersama Virlia. Nola menjadi pusat perhatian anak-anak kampus karena berwajah cantik, bertubuh mungil, dan selalu mengeluarkan aura positif. Gadis berambut sebahu itu seringkali membalas sapaan orang yang tidak dikenalnya dengan wajah ceria dan senyuman manis khasnya. "La, kamu mau membeli apa?" Nola terdiam sejenak. Meletakkan jari telunjuknya di dagu sembari melihat-lihat menu makanan. Setelah lama berpikir, ia meringis lantaran tak tahu harus memesan apa. "Nola ngikut Lia aja." Virlia memutar bola mata malas melihat cengiran tanpa dosa Nola. "Heh, aku pikir kamu mau pesan apa sampai berpikir selama itu. Percuma aku tuh nungguin kamu. Dasar Lola." Nola menyengir. Tidak merasa tersinggung sedikit pun karena sahabatnya itu sudah biasa memanggilnya Lola kalau otaknya sedang slow respon. Gadis itu hanya menatap polos pada Virlia yang kini telah memesan bakso dan teh es. Lalu, mengekori sahabatnya mencari tempat duduk terbaik. Mereka berdua duduk berhadapan di dekat jendela. Sama-sama meletakkan tas di atas meja. Nola menguap pelan kala rasa kantuk melandanya. "Aku penasaran tentang sesuatu. Apa hubunganmu dengan Pak Nathan? Apakah kamu pernah bertemu dengan dia sebelumnya? Karena dari pengamatan ku sejak di dalam kelas tadi, Pak Nathan seperti memiliki rasa spesial terhadapmu." Nola mengerjap polos. "Masa sih Lia tidak tahu hubungan Nola dengan Pak Nathan?" Gadis itu mencebik kesal melihat reaksi heran Virlia. "Hubungan Nola dengan Pak Nathan kan dosen dan mahasiswi. Masa itu saja Lia tidak tahu." Sahutnya gemas. Virlia menepuk keningnya. Tatapannya seakan ingin memakan Nola hidup-hidup hingga membuat Nola bergidik ngeri. "Bukan hubungan itu maksudku, La!" Nola kembali mengerjap polos. "Lalu, hubungan apa maksud Lia?" Ia benar-benar tidak paham akan maksud sahabatnya itu. "Hubungan sepasang kekasih atau apa kek gitu!" Jawaban ngegas Virlia membuat Nola mengerucutkan bibir kesal. "Lia jangan marah-marah dong." "Huh, kesal aku sama kamu." "Jangan kesal lagi ke Nola. Nola minta maaf," kata Nola sedih. "Ya ampun. Jangan nangis dong." Panik Virlia akibat melihat mata berkaca-kaca Nola. "Nola tidak menangis tahu." Nola menolak mengakui karena tidak ingin dicap cengeng. "Tidak menangis tapi matamu berkaca-kaca. Hadeh. Untung aku orangnya sabar." Nola tersenyum lebar saat melihat ibu kantin sudah mengantarkan pesanan mereka. "Makasih, Bu," katanya semangat. Tak lama setelah kepergian ibu kantin, muncullah Nathan secara mendadak di dalam kantin. Membuat suasana di dalam kantin hening untuk sejenak. Para perempuan mulai menatap Nathan dengan tatapan memuja, bahkan di antaranya ada yang sampai mengabaikan pacar yang berada di sisi mereka. Nola mengerutkan kening heran saat melihat Nathan duduk di sampingnya. "Loh, Pak Nathan kenapa duduk di sini?" Tanyanya polos. Nathan menatap Nola datar. "Memangnya saya tidak boleh duduk di sini?" Suara dinginnya membuat Nola menunduk takut. "Boleh kok, pak." Jawabnya gugup. "Memangnya saya semenakutkan itu sampai kamu gemetaran?" Tanya Nathan terdengar tidak suka. Nola langsung mengangkat kepalanya dan menatap Nathan gugup. "Ada masalah apa ya pak sampai bapak duduk di dekat Nola? Apakah Nola melakukan kesalahan?" Demi apapun, gadis itu sangat takut sekarang. Namun, melihat gelengan Nathan, rasa takutnya menghilang seketika. Bibir mungilnya mulai menyunggingkan senyuman manis. "Syukurlah Nola tidak melakukan kesalahan." Cengirnya. Nathan mengulum senyum melihat tingkah manis Nola. "Nanti kamu pulang bersama saya." Nola melongo. "Tidak bisa, pak. Kalau Nola pulang bersama bapak, nanti motor Nola gimana?" "Akan ada orang yang membawanya pulang ke rumahmu." "Eh, pak. Bukan bermaksud ikut campur. Nanti Nola pulang bersama saya karena ada sesuatu yang penting dan mendesak." Sela Virlia. Perhatian Nathan langsung tertuju pada sahabat Nola. Tatapannya sangat datar dan dingin. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia merasa sangat terganggu oleh kehadiran gadis satu itu. Sedangkan Virlia berusaha untuk tidak terintimidasi karena ia tidak ingin sahabatnya menjadi korban Nathan. Virlia kasihan pada Nola mengingat gadis itu sangat polos. Virlia takut Nola menjadi korban Nathan. Siapa tahu dibalik ketampanan Nathan tersimpan sebuah fakta mengerikan. "Hal penting apa, Lia? Kenapa Nola tidak ingat ya?" Pertanyaan polos Nola membuat Virlia tersenyum gemas dan di dalam hati memaki kebodohan sahabatnya. -Tbc-

Bab 2 PART 2

"Makanya kalau jadi orang itu jangan pelupa." Virlia sok mengomeli Nola meskipun dirinya sudah ketar ketir karena tatapan menghunus Nathan. Pokoknya demi Nola, dia akan berusaha mengalahkan rasa takutnya. "Maaf. Lain kali Nola akan selalu berusaha mengingatnya." Nola yang pada dasarnya memang pelupa hanya bisa meminta maaf. Gadis cantik itu menoleh ke arah Nathan dan tersenyum tidak enak. "Maaf ya, pak. Nola tidak bisa pulang bersama Pak Nathan." Nathan berusaha menahan wajah kesalnya dengan memunculkan sebuah senyuman. "Iya, tidak apa-apa. Mungkin di lain waktu kita bisa pulang bersama." "Memangnya apa hubungan Pak Nathan dengan Nola sampai ada kata lain waktu?" Sela Virlia. Nola mengerjap polos. "Kan Nola sudah bilang Lia, hubungan Nola dan Pak Nathan itu mahasiswi dan dosen. Lia bagaimana sih?" Nathan dan Virlia sama-sama menatap Nola datar seolah gadis itu sangat aneh. Nola menjadi kebingungan melihat reaksi aneh keduanya. Berakhir menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali. "Kenapa kalian menatap Nola seperti itu?" Tanyanya heran. "Dahlah, aku mau makan dulu daripada esmosi meladeni kamu." "Emosi, Lia. Bukan esmosi." Koreksi Nola. "Terserah aku dong." Nola mengerucutkan bibir kesal melihat cibiran sahabatnya. "Tidak boleh terserah, Lia. Kita sebagai anak bahasa Indonesia yang baik, harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik juga." Nathan tersenyum mendengar balasan pintar gadis pujaannya. "Dengarkan perkataan temanmu. Sebagai anak bahasa Indonesia yang baik, harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik pula." Kekompakan Nathan dan Nola membuat Virlia mendengkus kesal lalu mengabaikan mereka. Fokus pada makanan di depannya sambil bermain ponsel. Nathan kembali menatap wajah manis Nola. "Kamu juga makanlah. Saya mau pergi ke perusahaan dulu." "Perusahaan?" Beo Nola. Nathan mengangguk. "Berarti selain menjadi dosen, bapak juga bekerja di perusahaan?" Tanya Nola kepo. "Yah, begitulah." "Bapak bekerja sebagai apa di perusahaan?" "Direktur." "Wah, hebat. Lalu kenapa Pak Nathan juga menjadi dosen di sini? Apakah bapak tidak capek melakukan dua pekerjaan sekaligus?" Tanya Nola polos tapi bagi Nathan itu adalah sebuah perhatian yang berharga. "Saya menjadi dosen di sini karena disuruh sama Daddy. Tenang saja. Saya tidak akan capek karena saya hanya menjadi dosen mata kuliah KJMC di lima kelas." Jelas Nathan tanpa merasa keberatan. Padahal biasanya ia paling malas berbicara panjang lebar kalau bukan hal penting. "Pak Nathan hebat. Bisa mengurus kuliah dan perusahaan secara bersamaan. Nola saja yang hanya menjadi pelajar sering merasa kelelahan." Curhat Nola. Nathan menopang dagunya. Merasa tertarik untuk berada lama di sana. Mengabaikan pekerjaan yang menanti di perusahaan untuk sementara. "Oh ya? Kenapa kamu merasa kelelahan? Apakah karena tugas yang terlalu banyak?" Nola mengangguk kuat. "Itulah salah satu alasannya, pak." "Lalu, alasan lainnya apa?" Nola meniup poninya sebal. "Nola capek bolak balik pulang ke rumah." "Kenapa kamu tidak minta di antar sopir saja?" Kekeh Nathan. Nola menggeleng lemah. "Nola tidak ingin dianggap anak manja, pak." "Padahal tidak perlu memikirkan pandangan orang lain. Yang perlu kita lakukan di dunia ini adalah fokus pada diri sendiri." Nola mengerjap polos. "Begitu ya, pak?" Nathan mengangguk pelan. Nola terdiam sejenak. "Tapi, Nola memang tidak ingin diantar sopir sih hehe." Cengirnya. Nathan tersenyum gemas seraya berusaha menahan tangannya mati-matian untuk tidak mencubit pipi Nola mengingat di sini masih banyak pasang mata yang menatapnya. Nathan tidak ingin membuat Nola merasa terganggu oleh penggemarnya. "Bagaimana kalau saya saja yang mengantar jemput mu?" Nola menggeleng. "Jangan, pak. Nola tidak mau membebani Pak Nathan. Lagipula pekerjaan Pak Nathan kan banyak." Nathan menggeram di dalam hati mendapatkan perhatian Nola untuk kedua kalinya. "Uhuk! Uhuk! Pedas banget ya ampun!" Jerit Virlia sembari mengipasi bibirnya sendiri. Nathan mendengkus kesal melihat Virlia kembali menganggu waktunya dengan Nola. "Makanya Lia, jangan menambahkan banyak cabe ke dalam kuah bakso Lia. Gini kan jadinya." Omel Nola tapi wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Bagaimana tidak khawatir jika melihat mata sahabatnya berair dengan wajah merah. "Nih, minum dulu teh Nola." Ucapnya kala melihat gelas Virlia sudah kosong. Virlia menerima minuman Nola dengan cepat dan menghabiskan semuanya dalam satu kali teguk. "Huh, baru deh agak lega." Desahnya pelan. Nola juga ikut menghela nafas lega melihat keadaan Virlia sudah membaik. "Aku mau Memesan makanan dan minuman dulu. Jangan biarkan orang duduk di sini, oke?" Titah Nathan. Nola mengangguk patuh. Nathan tersenyum kecil dan bangkit dari duduknya. "Pesanin aku dan Nola minum sekalian ya, pak. Minuman kami udah habis nih." Cengir Virlia sedangkan Nola mengangguk membenarkan. -Tbc-

Bab 3 PART 3

"Nolaa! Cepat ceritain hubungan kamu dan Pak Nathan." Tuntut Virlia Tidak sabaran saat Nathan sudah pergi. Nola mengerutkan keningnya heran. "Kan sudah Nola bilang tadi, Lia." "Yakin hanya hubungan itu? Tapi kok aku merasa kamu punya hubungan spesial dengan Pak Nathan?" "Spesial bagaimana? Perasaan biasa aja, Lia." Virlia memutar bola mata malas mendengar jawaban polos Nola. "Aish. Sudahlah." "Hei, boleh gabung di sini?" Tanya seseorang menginterupsi obrolan mereka. Nola melihat ke asal suara dan tersenyum manis saat melihat si empunya suara. Arkana Rajendra, teman sekelasnya. "Boleh." Sahutnya. "Eh, Arka jangan duduk di sini." Cegatnya saat melihat Arkana hendak duduk di sampingnya. Arkana mengerutkan kening heran. "Kenapa tidak boleh?" "Karena udah ada yang menyewa terlebih dahulu." Kikik Virlia. Arkana mengerjap heran. "Hah?" "Pak Nathan yang duduk di sini terlebih dahulu." Jelas Nola. Wajah Arkana tampak masam seketika sedangkan Nola tidak menyadari hal itu. Hanya Virlia yang menyadari kekecewaan Arkana. Virlia mendesah di dalam hati. Sahabatnya itu sangat cantik dan menggemaskan sehingga banyak yang berebutan. Berbeda dengan dirinya yang berwajah pas-pasan. Kadang Virlia merasa minder berteman dengan Nola karena di samping Nola, dia merasa menjadi gadis yang paling jelek di muka bumi. Sejauh itu memang perbandingan mereka. Pernah dulu sekali Virlia ingin menjauh dari Nola tapi dia tidak tega melihat wajah murung Nola. Pada akhirnya, dia kembali mendekati Nola dan mengabaikan perbedaan mendasar mereka. "Ehm, namamu Virlia, 'kan?" Virlia tersentak kaget mendapati pertanyaan mendadak Arkana. "Iya." Sahutnya cepat. "Boleh aku duduk di sampingmu?" Arkana yang begitu sopan. "Boleh." Arkana berterima kasih dan duduk di samping Virlia. Lagi-lagi gadis itu mendesah di dalam hati. Kalau bukan karena Nola, dia tidak akan pernah bisa duduk berdekatan dengan pria tampan seperti Arkana, Nathan, dan yang lainnya. Kadang gadis itu ingin berwajah cantik seperti Nola tapi apalah daya. "Lia, nanti jadi ke toko buku?" Tanya Nola akibat melihat Virlia terdiam. "Iya." "Kalian mau ke toko buku juga? Kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita berangkat bareng?" Serobot Arkana. "Boleh." Sahut Nola antusias karena mendapatkan teman pergi lainnya. "Hei, kenapa wajahmu kesal begitu? Kamu tidak suka aku ikut dengan kalian?" Tanya Arkana pada Virlia. Nola juga menatap Virlia. "Arkana tidak boleh ikut ya, Lia?" Tanyanya heran. "Boleh kok. Boleh." "Tapi kenapa wajahmu terlihat ke--" "Diam deh!" Potong Virlia cepat. Nola hendak berbicara tapi Nathan lebih dulu datang. "Wah, makasih, pak." Nola tersenyum lebar setelah menerima teh esnya. "Ya." "Kenapa dia juga berada di sini?" Tanya Nathan dengan alis terangkat. "Memangnya tidak boleh, pak?" Tanya Arkana terdengar sedikit menantang. Nathan terdiam. Ingin sekali dia meneriakkan kata tidak boleh tapi dia masih belum ada hubungan dengan Nola. Tentu akan terlihat sangat aneh jika dia melarang seorang pria untuk mendekati Nola. "Kenapa kalian tatap-tatapan? Kalian tidak mau makan?" Tegur Nola memecahkan situasi menegangkan di antara mereka. Nathan dan Arkana membuang pandangan ke arah lain. Namun di dalam hati mereka sama-sama menyumpahi. **** Malam harinya, Nola didandani oleh ibunya. Entah untuk apa. Saat bertanya, ibunya itu hanya menjawab, "Nanti kamu juga akan tahu." Nola tentu penasaran tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu apa yang akan terjadi ke depannya karena tidak biasanya sang ibu mendandani dirinya. Belum lagi, ibunya terlihat sangat bersemangat. Gadis cantik itu menatap pantulannya di cermin kala sudah selesai berdandan. Wajah cantiknya dipoles dengan make up natural sehingga membuat wajahnya terlihat semakin cantik sedangkan tubuhnya dibalut oleh sebuah dress putih selutut. Nola sedikit kagum melihat bayangannya sendiri karena ia bisanya tidak pernah berdandan. Biasanya dia pergi ke kampus hanya memakai bedak padat dan lipstik. Tidak pernah memakai blush on, eyeliner, maskara, dan semacamnya. "Ya ampun. Anak ibu cantik sekali. Ibu jadi fall in love deh." Puji ibunya. Nola tersenyum malu. "Makasih, Bu." Ibu Nola tersenyum gemas. "Kalau saja kamu tidak sedang memakai make up, pasti ibu akan mencubit pipimu." Kekehnya. Nola hanya mengerjap polos. "Ya sudah. Kita turun dulu. Siapa tahu mereka sudah datang." "Mereka siapa, Bu?" Nola kembali penasaran. "Nanti kamu juga akan tahu." Jawaban itu lagi. Membuat Nola semakin penasaran saja. Namun, Nola tak ada pilihan lain selain menuruti perkataan ibunya. Nola keluar dari kamar bersama sang ibu. Mereka langsung menuju ruang tamu. Di sana sudah ada ayah Nola. Ayah Nola tampak sedang membaca koran. Nola langsung menghampiri sang ayah dan duduk di samping ayah yang sangat dicintainya itu. "Sebenarnya siapa yang akan datang, ayah?" Tanyanya penasaran. Bibirnya mengerucut kesal karena terlampau penasaran. Ayah menurunkan korannya. Menatap Nola penuh senyuman. "Ada orang yang ingin melamarmu, sayang." "Ayah!! Kenapa kamu memberi tahunya?! Nanti tidak akan menjadi kejutan lagi dong." Omel Ibu. Ayah tertawa geli. "Jangan gitu. Kasihan Nola yang sudah penasaran tingkat dewa." "Huh, mau bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur." Nola berdehem canggung. "Melamar Nola untuk apa, Ayah?" Tanyanya memastikan. "Tentu saja untuk dijadikan istri, sayang. Masa untuk dijadikan pembantu sih." Sahut Ayah lalu terbahak. "Istri?" Nola melongo kaget. "Iya, anak ayah satu-satunya yang paling ayah cintai." Sahut Ayah gemas. "Tapi kan Nola masih kuliah, ayah. Mana mungkin bisa menjadi seorang istri." Heran Nola. "Kalian tidak langsung menikah tapi bertunangan dulu. Lagipula ayah juga tidak akan mengizinkanmu menikah sebelum lulus kuliah." "Oh begitu." Nola manggut-manggut. "Kamu mau menerimanya sebagai tunangan, La?" "Harus mau dong, Yah! Dia itu termasuk pria yang langka di dunia! Udah tampan, kaya, dan tidak pernah main wanita. Pasti Nola akan bahagia hidup dengannya di masa depan." Serobot Ibu. Nola menatap Sang ibu penasaran. "Siapa pria itu, Bu? Apakah Nola kenal dia?" "Kenal. Kamu mau kan menerimanya?" Tanya ibu memastikan. "Nola pasti mau selama ayah dan ibu yang memilihkannya. Nola tidak ingin membuat ayah dan ibu kecewa." Sahutnya apa adanya tapi mampu membuat kedua orangtuanya bahagia. "Tenang saja, La. Kamu pasti akan hidup bahagia bersamanya." Ucap orangtuanya memastikan. Nola mengangguk patuh. Beriringan dengan itu, bel rumah pun berbunyi. "Ah, itu pasti mereka. Ibu akan membukakan pintunya dulu," kata ibu penuh semangat. Langsung bangkit dari duduknya dan membukakan pintu. Nola menunggu dengan tidak sabaran. Ia ingin melihat calon suaminya. Apakah terlihat baik atau tidaknya. Matanya melotot dan mulutnya ternganga lebar melihat sosok tamu yang sangat dikenalinya. "Pak Nathan?" -Tbc-

Lanjut baca