Kembalinya Cinta Sang Mantan
Bab 1 Tujuh Tahun Telah Usai

"Selamat atas kelulusanmu, Sayang," ujar Kalea kepada kekasihnya, sembari memberikan sebatang coklat. Kekasihnya baru saja diwisuda sebagai sarjana hukum, tentu saja Kalea sangat bangga. Dia juga senang, karena kekasihnya itu sudah berjanji kepadanya untuk menikahinya setelah lulus kuliah. "Makasih ya," jawab Aiden sembari menerima coklat tersebut. "Maaf karena tadi aku tidak bisa datang ke acara wisudamu. Kamu tahu sendiri kan kalau aku susah sekali mendapatkan hari libur, untungnya hari ini aku sift pagi, jadi malamnya bisa bertemu denganmu," ujar Kalea, mengingat pekerjaannya yang sangat banyak di toko. "Tidak masalah." Hanya itu balasan dari Aiden. Kalea merasa akhir-akhir ini memang sifat Aiden cenderung berubah. Pria itu lebih dingin dan cuek kepadanya. Apakah Aiden bosan? Mengingat mereka sudah menjalin hubungan selama 7 tahun. Sejak mereka masih kelas 1 SMA dulu. "Oh iya berarti sekarang tinggal melaksanakan rencana baik kita, kan?" tanya Kalea dengan mata berbinar-binar. "Rencana baik apa?" Aiden mengerutkan sebelah alisnya. "Itu lo soal pernikahan kita, kamu kan bilang waktu itu, setelah lulus kuliah kamu akan menikahiku." Kalea menagih janji kekasihnya. Aiden justru hanya bungkam, tidak membalas apapun perkataan Kalea. "Aiden," panggil Kalea lembut, suaranya terdengar mendayu. "Kalea, kamu tahu sendiri kan kalau aku baru tadi wisuda. Setelahnya aku akan mengikuti pendidikan advokat, karena cinta-citaku adalah seorang pengacara. Masa depanku masih panjang, Kalea," balas Aiden, seolah memberikan pengertian kepada kekasihnya. Kalea terdiam, merenungkan perkataan Aiden barusan. Seolah Aiden ingin menunda rencana pernikahan mereka. "Baiklah, kalau begitu aku siap menunggumu untuk meraih cita-citamu lebih dulu. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu, dan terus berada di sampingmu." Senyum manis Kalea tunjukkan, dia sangat menyayangi Aiden. Tapi Aiden justru terlihat gelisah dengan jawaban Kalea barusan. Pria itu terlihat tidak nyaman, namun Kalea langsung menepis semua pemikiran buruknya itu. "Kalea, kamu tahu kan perbedaan status finansial kita. Orang tuaku punya bisnis restoran dan aku pun sebentar lagi akan menjadi seorang pengacara. Sedangkan kamu, hanya gadis penjaga toko baju kecil. Orang tuamu juga hanya bekerja serabutan, kan," ujar Aiden, sembari menatap lekat kekasihnya. Mendengar itu, mata Kalea membulat sempurna, ada rasa sakit di lubuk hatinya. Tangannya mengepal kuat di bawah meja. Mereka memang tengah makan malam di salah satu restoran milik keluarga Aiden. "Maksud perkataanmu apa, Aiden?!" Suara Kalea terdengar meninggi. "Ya maksudku, seharusnya kamu sadar diri. Kita itu tidak sepadan, mana mungkin aku mau menikah denganmu. Apa kata orang-orang nanti, bisa-bisa mereka mikir kamu menikah denganku karena mengincar hartaku," seru Aiden dengan santainya, pria itu bahkan menyempatkan diri untuk menyesap kopinya. Mata Kalea memanas, buliran bening tumpah begitu saja dari pelupuk matanya. Pria yang dia cintai selama 7 tahun itu dengan teganya bicara menyakitkan kepadanya. "Iya aku tahu kalau keluargaku memang tidak sekaya keluargamu. Aku pun juga tidak pernah memiliki niat untuk memeras hartamu sepeserpun, Aiden! Aku hanya menagih janjimu untuk menikahiku, hanya itu saja!" Kalea menangis sesenggukan. Sesungguhnya kini hatinya teramat pedih, layaknya sebilah belati yang menggores perlahan-lahan hatinya. Dia sangat menyayangi Aiden sepenuh hati. "Ya kan pemikiran setiap orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, Kalea. Kamu harus mengerti akan hal itu." Suara Aiden ikut meninggi. Untungnya restoran malam ini tidak terlalu ramai, sehingga mereka tidak menjadi pusat perhatian semua orang. "Apa yang harus aku mengerti, Aiden? Soal kamu yang berubah pikiran secara tiba-tiba begitu? Kenapa kamu jadi seperti ini? Sudah tidak adakah cintamu untukku?" tanya Kalea dengan suara serak, buliran bening itu masih saja menetes sampai saat ini. "Bukannya aku tidak mencintaimu, Kalea. Ini semua aku lakukan juga demi kebaikanmu. Aku hanya tidak ingin setelah pernikahan kita, orang-orang menganggapmu jelek." Aiden berusaha menjelaskan. "Kebaikan apa, Aiden?! Apakah kamu lupa kita telah bersama selama 7 tahun? Semua kenangan kita, semua mimpi-mimpi indah kita. Apakah kamu sudah melupakan semua itu?" Kalea rasanya sudah tidak sanggup untuk berbicara kembali. Aiden menghembuskan nafas kasar, dia mengacak rambutnya frustasi. Menatap serius ke arah Kalea yang tengah menangis tersendu-sendu. "Aku tidak pernah melupakan semua itu, Kalea. Percayalah kepadaku, jika semua ini aku lakukan untuk kebaikan kita bersama." Aiden berusaha meraih tangan Kalea, namun wanita itu menolaknya. Kalea tidak kuasa menatap wajah Aiden kini, tangisannya seolah tak mau berhenti. Berharap semua ini hanya sekedar mimpi belaka, namun nyatanya semua adalah kenyataan pasti. Aiden telah menolaknya secara terang-terangan. "Demi kebaikan kita bersama, atau kebaikanmu semata, Aiden? Aku tidak menyangka kamu akan bersikap seperti ini. Rasanya aku menyesal telah bersedia menunggumu sampai lulus kuliah, jika akhirnya kekecewaan yang aku dapatkan," gumam Kalea sesenggukan. Ini adalah rasa sakit paling mendalam yang pernah Kalea rasakan seumur hidupnya. Bahkan rasa sakit itu diberikan oleh orang yang paling dia sayangi. Kalea tidak bicara apapun, dia berusaha meredam tangisannya itu. Sampai suara langkah kaki terdengar, semakin lama semakin kencang, mendekati meja mereka. Kalea tak ingin menatap siapa yang datang, dia hanya menundukkan kepalanya ke bawah. Meratapi rasa sakit di hatinya kini. "Aiden, apakah sudah selesai?" Terdengar suara wanita mendayu-dayu. Kalea yang mendengarnya langsung mendongak. Matanya kembali melebar tatkala melihat seorang wanita cantik tengah berdiri di sebelah Aiden. Tangan wanita itu berada di pundak Aiden. "Si–siapa dia?" tanya Kalea terbata-bata. "Dia —" "Perkenalkan, aku calon istri Aiden," ujar wanita itu, memotong perkataan Aiden. Wanita itu mengulurkan tangan kepadanya. Seketika tubuh Kalea bergetar, air matanya semakin tumpah dengan derasnya. Kenyataan pahit apa lagi yang mendera dirinya malam ini? "Ca–calon istri?" tanya Kalea terbata, bibirnya terasa kelu untuk berbicara. "Benar, Kalea, dia wanita pilihan orang tuaku. Kebetulan finansial kita juga sepadan," jawab Aiden tanpa rasa bersalah sedikitpun. BRAKK! Kalea menggebrak meja hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Tatapan setajam singa wanita itu layangkan, dibalik derasnya air mata yang dia miliki. Hatinya teramat pedih, seolah puluhan ribu batu menghantamnya begitu saja. "Jadi ini yang kamu maksud yang terbaik untukku, Aiden?!!" teriak Kalea lantang, tidak peduli dia membuat keributan di restoran ini. "Jaga sikapmu, Kalea!" Aiden ikut berdiri dan memarahi Kalea. "Brengsek!" teriak Kalea kencang. Plak!! Satu tamparan keras mendarat di pipi Aiden, hingga membuat pipi pria itu memerah. Tentu saja mengejutkan semua orang yang berada di restoran ini. "Dasar wanita gila!" Seru wanita asing yang berada di sebelah Aiden. "Bukan aku yang gila, tapi kalian berdua yang gila!" teriak Kalea lantang. "Menyesal aku pernah jatuh cinta kepadamu, Aiden! Kalau waktu boleh diputar, aku tidak akan pernah ingin menjatuhkan hatiku kepadamu!" Wajah Kalea sudah penuh dengan air mata, bahkan terlihat memerah. "Maafkan aku, Kalea. Semoga kamu mendapatkan pria yang lebih baik daripadaku," ujar Aiden pelan, tidak membalas tamparan dari Kalea. Tangan Kalea mengepal kuat, tatapan tajam masih ia layangkan kini. Dua manusia di depannya membuat dia jengah. "Yah akan aku pastikan, aku mendapatkan pria yang lebih baik daripadamu, Aiden!" ujar Kalea dengan mata penuh keberanian. "Dan yang perlu kamu ingat, karma pasti berlaku! Kamu pasti akan menyesal suatu saat nanti, Aiden!" Dengan penuh kekecewaan, Kalea meninggalkan restoran itu. Saat Kalea menginjakkan kakinya di tepi jalan, saat itu pula hujan turun dengan sangat derasnya. Seolah-olah bumi juga merasakan kesedihan hati Kalea. Namun, hal itu tak membuat Kalea menghentikan langkah kakinya. Kalea tetap berjalan di tengah derasnya hujan, dengan suara guntur yang menyeramkan. "Kamu jahat, Aiden!" gumam Kalea, tubuhnya semakin bergetar karena rasa dingin yang terasa menusuk sampai ke tulangnya. Bahkan Aiden tidak terlihat mengejarnya saat ini. Pria itu benar-benar ingin memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin cukup lama. Kalea terus berjalan, menerjang kabut akibat hujan deras malam ini. Penglihatannya entah mengapa semakin lama semakin memburam. Kepalanya terasa sangat pusing dan berdenyut nyeri. Hingga suara klakson kendaraan terdengar begitu nyaring. TINN TINNN ....

Bab 2 Kehidupan Baru

Riuh tepuk tangan menggema, begitu merdu, seolah mengisyaratkan sebuah kebahagiaan. Ucapan selamat terdengar silih berganti, senyuman orang-orang terlihat sangat tulus dan berarti. "Selamat ya atas pembukaan butik kamu yang ke-20. Semoga kedepannya semakin maju dan sukses," ujar seorang pria kepada wanita yang kini berada di sebelahnya. "Terima kasih banyak, dan terima kasih juga selama ini selalu ada untukku," balas wanita itu, senyum manis juga dia layangkan. "Selamat, Nak, Ibu dan Ayah bangga kepadamu," ujar seorang wanita paruh baya kepadanya. "Sayang Ibu dan Ayah." Wanita itu langsung memeluk erat kedua orangtuanya. Wanita itu tersenyum lebar, bahagia atas hidupnya saat ini. Setelah penderitaan hebat yang dia alami 5 tahun silam. Kini semua luka itu tergantikan dengan sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Dia adalah Kalea, yang dulu ditinggalkan mantan pacarnya demi menikahi wanita lain. Tapi Kalea yang sekarang, berbeda dengan Kalea yang dulu. Setelah 5 tahun berlalu, Kalea kini menjadi wanita kaya dan telah memiliki 20 butik yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Tidak mudah untuk mendapatkan semua itu, butuh perjuangan yang ekstra, serta jatuh bangun yang amat menyakitkan. Tetapi Kalea adalah gadis yang pantang menyerah dan pekerja keras. Hingga akhirnya impiannya selama ini pun tercapai. "Sayang, maafkan aku, karena aku harus kembali ke rumah sakit sekarang. Banyak pasien yang menungguku," ujar Ammar, seorang dokter bedah yang sangat tampan. "Tidak apa, pergilah ke rumah sakit sekarang, dan terus semangat menjalani hari," balas Kalea dengan senyum manisnya. Ammar adalah kekasihnya yang sekarang, pria itu juga calon suaminya. Karena sebentar lagi mereka akan menikah. Pertemuan pertama mereka berada di rumah sakit, di saat Kalea mengalami kecelakaan 5 tahun lalu. "Sampai bertemu lagi, aku mencintaimu, Kalea," ujar Ammar, sebelum pria itu melambaikan tangan kepadanya. Kalea membalas lambaian tangan pria itu, tentu saja disertai senyuman manis yang begitu tulus. "Aku juga mencintaimu," lirih Kalea. Ammar amat sangat berbeda dengan Aiden. Ammar adalah pria yang mau menerima dirinya apa adanya. Pria itu bahkan yang menemaninya jatuh bangun selama 5 tahun ini. Selalu mendukung semua keputusannya. Selalu perhatian dan sayang kepadanya, bahkan sifatnya selama ini tidak pernah berubah. Tidak hanya itu, Ammar juga benar-benar akan menikahinya. Terbukti dengan segala persiapan pernikahan mereka yang sudah hampir selesai, tinggal beberapa persen lagi. Pria itu benar-benar membuktikan cintanya, tidak seperti Aiden. "Ayo mari silahkan melihat ke dalam," ujar Kalea, kepada para tamu undangan yang datang. Tentu saja acara potong pita sebagai peresmian telah selesai, kini tinggal acara selanjutnya saja. Kalea pun ikut masuk ke dalam butiknya ini, sudah banyak baju-baju dengan desain memukau yang terpampang jelas. Dari dulu, Kalea memang mahir mendesain, dia juga gemar menjahit. Memiliki butik adalah impiannya sejak dulu, dan sekarang dia sudah memilikinya. "Kamu hebat sekali, padahal minggu depan adalah hari pernikahanmu. Tapi hari ini, kamu melakukan peresmian butikmu. Kamu memang wanita tangguh, Ammar beruntung mendapatkan wanita sepertimu," ujar salah satu tamu undangannya. "Kamu bisa saja, aku juga beruntung bisa mendapatkan pria seperti Mas Ammar," ujar Kalea dengan senyum manisnya. "Iya benar, kalian memang sama-sama beruntung," putus tamu undangannya. Kalea hanya menanggapinya dengan senyuman manis. Dia menatap banyak para tamu undangan yang datang dengan riang gembira. Hari ini dia sangat sibuk mengurusi para tamu yang datang. **** Seperti apa yang sudah direncanakan, satu minggu setelah peresmian cabang butiknya yang ke 20. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Ammar. Tentu saja hal itu sangat membuatnya Kalea bahagia. Karena akhirnya, di usianya yang ke 27 tahun, dia akan menikah dengan pria yang dirinya cintai. Pria yang mencintainya dengan tulus, tidak seperti Aiden yang hanya mampu memberikan luka kepadanya. "Anda sangat cantik," puji sang perias pengantin. "Terima kasih banyak," sahut Kalea, dia tersenyum tipis menanggapinya. "Pasti orang-orang akan terpesona saat melihat anda nanti, terutama calon suami anda. Bisa-bisa dia tidak berkedip saat melihat anda datang." Sang perias itu terus saja memuji Kalea. "Anda terlalu berlebihan," balas Kalea, dia kembali tersenyum hangat. Kalea sudah selesai dengan riasannya dia pun dijemput oleh para bridesmaid untuk segera beranjak ke ruang acara. Karena akad nikah sebentar lagi akan dilaksanakan. Saat dia tengah berjalan memasuki gedung pernikahannya. Semua mata kini memandang takjub ke arahnya. Dekorasi mewah gedung pernikahan mereka menambah kesan anggun untuknya. "Cantik sekali, Kalea." "Wah pasangan ini memang sangat serasi, yang satunya cantik dan satu lagi tampan." Bisik-bisik para tamu undangan terdengar di telinga Kalea. Walaupun kini alunan musik klasik terdengar mengiringi langkah kakinya menuju pelaminan. Tapi suara itu tetap dapat dia dengar. Di depan sana, Ammar sudah menunggunya. Pria itu terlihat sangat tampan dengan tuxedo yang dipakainya. Menatapnya dengan hangat, seolah sudah tidak sabar menantikan kedatangannya. Saat sudah tiba di tempat akad nikah, Kalea mendudukan dirinya di samping Ammar. Akad nikah sebentar lagi akan segera dilaksanakan. "Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Ammar, pria itu tersenyum manis ke arahnya. Pipi Kalea merona, seolah kini di hatinya ada kupu-kupu yang berterbangan. Kalea sangat gugup, padahal yang kini menjabat tangan Ayahnya dan mengucapkan ijab kabul pernikahan adalah Ammar. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ammar Faihee Karim bin Roni dengan anak saya yang bernama Kalea Azahra dengan mas kawin berupa emas 500 gram dan alat sholat dibayar tunai." Suara Ayah terdengar begitu menggema di gedung pernikahan itu. Kalea semakin gugub, kali ini tinggal Ammar yang mengucapkannya dan sebentar lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami istri. Kalea sudah tidak sabar menjadi istri Ammar. "Saya terima —" "TUNGGU!" Tiba-tiba suara teriakan seorang pria membuat fokus Ammar terganggu. Semua mata kini memandang ke arah suara tadi. Kalea pun juga sama, tapi betapa terkejutnya dia saat melihat siapa orang yang datang. Dadanya tiba-tiba sakit sekali, saat melihat orang itu kini berjalan mendekat ke arahnya. "A–aiden," gumam Kalea dengan suara terbata-bata. "Apakah kalian akan tetap menikahkan wanita murahan itu dengan putra kesayangan kalian?" tanya Aiden kepada kedua orang tua Ammar. "Apa maksudmu?" tanya Papa Ammar. "Wanita yang kalian anggap baik itu, tidak sebaik yang kalian kira," ujar Ammar, membuat suasana semakin menegangkan. Mata Kalea berkaca-kaca saat mendengarnya. Kenapa Aiden datang kembali dan malah mengacaukan pernikahannya dengan Ammar? "Brengsek!" Ammar yang kesal, langsung turun dari tempat akad dan menghampiri Aiden. "Untuk apa kamu kemari? Saya tidak mengundangmu, jadi lebih baik kamu angkat kaki dari acara pernikahan saya ini!" Ammar dengan kesal mengusir Aiden. Bukannya hengkang dari gedung pernikahan itu. Aiden justru malah tersenyum lebar, entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. "Apa kamu yakin menikah dengan wanita yang sudah menghianatimu?" tanya Aiden ke Ammar. Seketika perkataan Aiden barusan membuat tanda tanya besar untuk semua tamu undangan yang datang. "Apa maksudmu?" tanya Ammar penasaran, dahinya mengkerut. "Wanita yang kamu anggap baik dan polos itu. Nyatanya sudah tidur denganku 2 hari sebelum pernikahan kalian ini," seru Aiden dengan santainya. Kalea yang mendengarnya langsung terkejut bukan main. Para tamu undangan pun juga ikut terkejut. Semua mata kini memandang jijik ke arah Kalea. "INI SEMUA TIDAK BENAR!" teriak Kalea lantang.

Bab 3 Hancurnya Acara Pernikahan

Ammar memandang ke arah calon istrinya itu, rasa sakit dan kecewa mendominasi. "Mas, jangan dengarkan kata-katanya. Semua yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan. Aku tidak pernah tidur dengannya, Mas. Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang dan merusak pernikahan kita," ujar Kalea tepat di depan Ammar. Ammar hanya terdiam, tangannya mengepal kuat. Dia pun menatap pria asing itu dengan ekspresi marah. "Jangan mengada-ada, aku percaya bahwa calon istriku tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti itu. Aku tahu dia wanita baik-baik, jadi lebih baik kamu angkat kaki dari sini sekarang!" Ammar menunjuk Aiden, meminta pria itu pergi. Kemarahan telah tumbuh di dalam diri Ammar kini. Dia tentu saja lebih mempercayai calon istrinya dari para pria asing itu. Karena dia juga sudah cukup lama mengenal Kalea, tidak mungkin Kalea melakukan hal itu. "Semua yang saya katakan itulah kebenarannya. Kalian jangan tertipu dengan wajah polosnya itu, padahal sebenarnya dia sangat mengerikan. Saya hanya memperingatkan anda, agar nantinya anda tidak menyesal di kemudian hari," balas Aiden dengan wajah serius. Kalea berjalan maju, mendekat ke arah Aiden kini. Tatapan mata kebencian dan amarah Kalea tunjukkan. Bukan lagi tatapan cinta seperti yang dulu dia berikan. Plak! Kalea langsung menampar pipi Aiden dengan sangat keras. Hingga suara pekikan tamu undangan dapat dia dengar. Tangan Kalea bergetar hebat, wajahnya memerah karena amarah tinggi. "Brengsek!" Makian Kalea lontarkan tepat di depan wajah Aiden. "Kenapa harus datang lagi dan mengacaukan semuanya? Untuk apa kamu kembali, Aiden? Apa tidak cukup luka yang dulu pernah kamu torehan kepadaku? Apa kurang membuatmu puas atas kehancuran yang pernah aku alami? Apakah kamu ingin melihatku semakin hancur?!" Kalea berteriak histeris, dia sangat membenci Aiden. Namun Aiden hanya diam saja, pria itu justru malah memandangi Kalea penuh arti. Tidak membalas perlakuan kasar Kalea barusan. "Lebih baik pergi dari sini sekarang!" Kalea melayangkan tatapan jam ke Aiden. "Terserah kalian kalau tidak percaya, aku hanya memberitahu kebenaran saja," balas Aiden, sembari menatap wajah-wajah tegang mereka semua. "Kebenaran apa? Jika semua yang keluar dari mulutmu adalah kebohongan, fitnah yang keji!" Kalea  terus menyahuti perkataan Aiden. Sedangkan Ammar, pria itu hanya diam dan mencerna keadaan. Dia menatap Aiden yang sepertinya menunjukkan ekspresi jujur, begitu juga dengan Kalea. Ammar sangat bingung, apakah yang dikatakan oleh Aiden benar adanya atau tidak. "Kalau kalian perlu bukti, saya ada buktinya," ujar Aiden dengan wajah serius. "Apa buktinya?" Kali ini Ammar yang berbicara, membuat Kalea tidak jadi bicara. Jantung Kalea berdebar-debar hebat, keringatnya sedikit bermunculan. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak, bertepatan dengan Aiden yang mengeluarkan amplop dari dalam tas kecilnya. "Semua bukti ada di sini, kalian bisa melihatnya langsung," seru Aiden dengan wajah seriusnya. Ammar yang penasaran langsung merebut amplop coklat yang berada di tangan Aiden. Membukanya perlahan-lahan, membuat semua pasang mata mengarah ke amplop itu. Kalea pun juga penasaran, bukti apa yang dibawa oleh Aiden. Karena memang dia dan Aiden tidak pernah melakukan hal keji itu. Aiden hanya memfitnahnya saja, pria itu sepertinya memang berniat untuk menghancurkan kehidupannya. Mata Ammar terbelalak tatkala dia melihat foto wanita yang dia cintai bersama dengan pria lain di sebuah kamar hotel. Tidak salah lagi, wanita itu benar-benar Kalea. "Kalea, bisa jelaskan semua ini?" tanya Ammar kepadanya, sembari menunjukkan foto-foto itu kepadanya. Mata Kalea membulat sempurna, dia teramat kaget saat melihat foto-foto itu. Bagaimana mungkin Aiden memiliki foto tersebut? "Itu semua tidak benar! Foto editan! Aku tidak pernah sama sekali melakukan hal menjijikan itu dengannya, Mas. Tolong percayalah padaku," lirih Kalea, tiba-tiba saja air matanya menetes kembali. Ammar terdiam sejenak, dia memandangi foto yang tengah dia bawa barusan. Lalu menatap Kalea, seolah tengah melihat kejujuran dari wajah calon istrinya. Ammar sangat bimbang, satu sisi dia percaya dengan Kalea, tapi di sisi lain foto itu membuatnya bingung. "Aku berani bersumpah kalau itu bukan foto-fotoku, Mas. Semua itu hanya rekayasa pria gila itu. Kamu jangan terpengaruh dengan semua kebohongannya, dia hanya ingin merusak pernikahan kita saja." Kalea berusaha membuat Ammar percaya kepadanya. Ammar masih bungkam, dia belum bisa mengambil keputusan saat ini. Hatinya teramat sakit sekali, melihat wanita yang sangat dia cintai bermain gila di belakangnya. "Ayo kita lanjutkan pernikahan kita, Mas. Tidak usah pedulikan pria gila itu," pinta Kalea dengan wajah lirihnya. "Pernikahan ini tidak akan pernah dilanjutkan!" Tiba-tiba saja terdengar suara pria paruh baya. Kalea menatap kedua orangtua Ammar yang kini berjalan ke arahnya. Mereka lantas ikut melihat sekilas foto-foto kurang pantas itu yang berada di tangan Ammar. "Kami tidak rela jika putra kami harus menikah dengan wanita macam kamu. Lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja," lanjut Papa Ammar dengan wajah penuh amarah. "Ayo kita pergi dari sini, Ammar." Mama Ammar langsung menarik tangan pria itu dan pergi dari gedung pernikahan. Kalea masih tercengang di tempatnya kini, dia tidak menyangka pernikahannya hancur dengan begitu mengenaskan. Tiba-tiba saja Kalea langsung berlari kencang untuk mengejar Ammar dan keluarganya, dia agak kesulitan karena gaun yang dipakainya. "Mas Ammar!" teriak Kalea lantang dengan derai air matanya. "Om, Tante, tunggu!" Kalea berusaha mencegah keluarga itu pergi dari sini. Tapi usahanya sia-sia, karena keluarga Ammar telah pergi dengan mengendarai mobil mereka. Kalea sempat mengejar tadi, tapi tetap saja tidak bisa dia kejar. Kalea hanya bisa menatap dari kejauhan dengan rasa sakit yang mendera hatinya kini. "Kenapa semuanya jadi hancur begini?" gumam Kalea, dia bertanya kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang, membuatnya teramat sangat kaget kini. "Kalea, aku sangat merindukanmu," gumam orang yang memeluknya, tentu saja Kalea tidak asing dengan suara itu. "Lepas! Brengsek!" Kalea melepaskan pelukannya kasar hingga terlepas. Dengan cepat dia mengembalikan badan dan menatap ke arah Aiden yang kini tengah berdiri di depannya. Plak Lagi-lagi tamparan keras dia layangkan untuk Aiden, karena rasa bencinya yang sudah teramat dalam dia rasakan. "Brengsek!" umpatan Kalea keluarkan di depan Aiden. "Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Aiden?! Kenapa kamu tega menyebar fitnah dan membuat foto-foto palsu itu?" tanya Kalea lantang. "Kamu memang benar, Kalea. Aku memang pria brengsek, karena aku melakukan hal gila hanya untuk menggagalkan pernikahanmu dengan pria lain," ujar Aiden dengan jujurnya. Pria itu melangkahkan satu kakinya, semakin mendekat ke arah Kalea kini. "Kamu tahu kenapa aku melakukan hal itu, Kalea?" tanya Aiden pelan. Kalea was-was, dia panik saat Aiden semakin mendekat ke arahnya. "Itu karena sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku, Kalea. Dari dulu sampai sekarang, rasaku kepadamu tetap sama, tidak pernah berubah. Aku tidak pernah rela kamu dimiliki oleh pria lain," bisik Aiden, tepat di depan telinga Kalea. Tubuh Kalea menegang, mendengar kata itu tidak membuatnya senang. Justru dia semakin membenci Aiden kini. "Dan aku ingin, kita kembali seperti dulu lagi," pinta Aiden, pria itu hendak memegang tangan Kalea, tapi untungnya Kalea dengan cepat menepisnya. "Tidak akan pernah! Semua itu hanya akan menjadi mimpi belaka untukmu, Aiden!!" teriak Kalea lantang. Detik itu juga, Kalea berjalan masuk ke dalam gedung kembali. Dia harus berhadapan dengan tatapan jijik para tamu undangan kepadanya. "Mimpi yang akan menjadi kenyataan bukan!" ujar Aiden agak keras, agar Kalea dapat mendengarnya. Tapi nyatanya Kalea tidak merespon apapun perkataan Aiden barusan. Wanita itu hanya fokus berjalan masuk ke dalam gedung kembali. "Maka dari itu aku sudah menyusun rencana untuk mendapatkanmu kembali, Kalea," gumam Aiden lirih. "Dan yang pasti, kamu tidak tahu alasan sebenarnya kenapa dulu aku menolak untuk menikahimu." Aiden tersenyum tipis, lantas berjalan pergi meninggalkan gedung pernikahan itu.

Lanjut baca