Bayarlah Kesalahan Ayahmu Dengan Hidupmu
Bab 1 Bayarlah kesalahan ayahmu dengan hidupmu

Alona menerima kabar dari rumah sakit bahwa ayahnya masuk penjara karena telah dilaporkan oleh keluarga pasien yang telah dioperasi oleh ayahnya pada hari itu. Alona merasa terkejut sekali mendengarkan kabar itu. Karena saat ini dirinya hanya memiliki sang ayah di dalam hidupnya. Ibunya telah meninggal sejak dia masih kecil karena sakit keras dab tidak mampu di obati lagi oleh ayahnya yang waktu itu bertanggung jawab sebagai dokternya. Sang ayah adalah seorang dokter bedah. Dia merasa terpuruk sekali sejak kematian sang istri yang gagal dia obati. Ayah Alona pernah mengobati ibunya tetapi tidak berhasil. Hingga akhirnya membuat sang ayah terus belajar dan terus berusaha untuk menjadi dokter yang hebat. Sampai dia melupakan tentang putri tunggalnya yang bisa di katakan selama hidupnya selama 20 tahun hanya di habiskan bersama dengan pembantu di rumahnya tanpa kasih sayang sang ayah yang hanya sibuk dengan pekerjaan dan rumah sakitnya. Alona mau tidak mau, dia harus mengambil kuliah kedokteran karena suatu saat dia harus mewarisi Rumah Sakit milik sang ayah. "Bagaimana mungkin orang tua pasien sampai melaporkan Ayahku ke kantor polisi hanya karena pasien yang dia operasi meninggal di meja operasi? Bukankah Ayahku selama ini adalah seorang dokter bedah, paling hebat di negeri ini?" tanya Alona kepada direktur rumah sakit yang dipercaya oleh ayahnya untuk mengelola Rumah Sakit milik keluarga mereka. "Saya juga tidak mengerti Non Alona. Tapi yang jelas, PR rumah sakit sudah berusaha untuk membantu ayah anda agar tuntutan keluarga pasien terhadap ayah Anda bisa diringankan hukumannya." ucapnya pelan. Alona yang merasa sedih karena harus menerima kenyataan tentang ayahnya yang masuk penjara karena tuntutan dari keluarga pasien yang tidak terima keluarga mereka meninggal di meja operasi. Karena kegagalan ataupun kecelakaan di saat melakukan operasi dan kebetulan operasi itu dilakukan oleh ayahnya Alona. "Aku akan mendatangi keluarga pasien Om dan meminta kepada mereka untuk membatalkan tuntutan mereka pada ayahku. Karena bagaimanapun Ayah sekarang sudah tua. Tidak mungkin kalau ayahku harus mendekam di penjara terlalu lama!" setelah mengatakan itu Alona kemudian menutup teleponnya. Keesokan harinya Alona mendatangi keluarga pasien yang telah menuntut ayahnya. Sekalian Alona juga ingin meminta maaf atas keteledoran sang ayah di meja operasi sehingga pada akhirnya mengakibatkan pasien meninggal. Selain itu Alona juga ingin menghadiri pemakaman pasien tersebut sebagai bentuk hormat dirinya kepada keluarga pasien yang sedang berduka saat ini. Begitu sampai di kediaman keluarga pasien. Alona begitu takjub ketika dia melihat rumah yang begitu mewah dan juga elegan. Bukan karena Alona kampungan ya, tapi lebih ke takjub karena rumah itu sangat bagus dan juga luar biasa mewahnya. "Wah benar-benar orang kaya raya. Pantas saja mereka sampai berani menuntut ayahku yang merupakan pemilik dari rumah sakit kanker yang terbaik di negeri ini!" gumam Alona sambil terus memperhatikan rumah yang ada di hadapannya saat ini. Alona bisa melihat aura kesedihan di dalam rumah itu. Di mana sekarang sedang dilaksanakan acara pemakaman dari pasien yang telah dioperasi oleh ayahnya dan telah dikabarkan meninggal di meja operasi karena keteledoran sang ayah. Alona dengar dari para perawat yang saat itu ikut juga di ruang operasi bersama sang ayah. "Maafkan saya. Apakah saya bisa bertemu dengan tuan rumah?" tanya Alona kepada pelayan yang sedang sibuk melayani para tamu yang hadir di rumah itu. "Saya adalah tuan rumah ini. Apa ada yang bisa saya bantu?" Alona terkejut ketika melihat seseorang telah berdiri di hadapannya dengan begitu gagah dan sangat tampan sekali. "Halo nama saya adalah Alona. Saya adalah putri dari dokter Alfonso yang telah mengoperasi ayah anda___" belum selesai Alona mengucapkan kata-katanya tiba-tiba saja laki-laki tampan itu langsung menarik tangan Alona menuju sebuah ruangan kosong yang ada di rumah yang lebih pantas di sebut sebagai sebuah istana kerajaan. "Mau apa kau datang ke rumahku? Apa kau tidak puas juga? Setelah ayah kamu sudah membunuh ayahku? Huh?" tanya pria tampan itu yang ternyata bernama Ferdinand Craig. Pria terkenal di kota mereka tinggal sambil memegang rahang wajah Alona dengan keras dan tampak kemarahan di wajahnya. Alona sampai terkejut dibuatnya. tubuhnya telah terkunci di dinding dengan tatapan maut seorang laki-laki setampan Ferdinand benar-benar membuat jantung Alona berdegup sangat kencang di buatnya. "Kau, kau mau apa? Kita bisa bicara baik-baik bukan? Aku datang kemari hanya ingin mengucapkan rasa belasungkawa kepada keluarga kamu. Aku tidak tahu apa-apa tentang ayahku yang telah mengoperasi Ayahmu___" sekali lagi Alona belum selesai mengatakan apa-apa Ferdinand sudah langsung menyambar ucapannya dengan penuh emosi. "Pergi segera dari kediaman kami. Karena aku tidak butuh ucapan belasungkawa darimu  atau dari siapapun juga! Aku akan pastikan ayahmu akan membusuk di penjara!" Alona bisa merasakan kebencian yang begitu besar di mata Ferdinand saat menatap ke arahnya. "Tolong jangan lakukan hal seperti itu. Tolong aku. Ayahku sudah tua. Selama hidupnya dia hanya berjuang untuk para pasiennya. Lagi pula ayahmu memang sudah sakit keras. Kanker stadium 4 itu adalah penyakit yang benar-benar sangat berbahaya dan rawan sekali untuk berada di meja operasi. Apakah kau tidak pernah memikirkan hal itu?" tanya Alona dengan suara gemetar Karena sejujurnya Dia sangat ketakutan melihat mata Ferdinand yang memancarkan aura pembunuhan yang sangat keras dan membuat Alona menjadi membeku rasanya. "Dia adalah seorang dokter. Seharusnya kalau dia tidak merasa yakin dengan apa yang dia lakukan, tidak usah melakukan sesuatu dan malahan merugikan pasiennya. Ayahmu layak untuk membusuk di penjara!" Alona sudah lemas seketika mendengarkan penuturan dari Ferdinand. "Tidak! Kau tidak bisa lakukan itu kepada ayahku! Tidak! Kau tidak bisa menuntut Ayahku. Aku mohon cabut tuntutan itu. Aku memohon kepadamu. Aku yang akan menerima hukuman dari kalian. Aku akan berusaha untuk mempertanggungjawabkan perbuatan ayahku itu. Aku mohon cabutlah tuntutanmu!" ucap Alona dengan melipat kedua tangannya di hadapan Ferdinand yang masih mengunci tubuhnya di tembok. Ferdinand yang sangat geram mendengar perkataan Alona tanpa pikir panjang dia langsung mencium bibir Alona dengan sangat kasar dan ganas. "Bayarlah kesalahan ayahmu dengan tubuh dan juga hidupmu untuk mengabdi padaku dan juga rumah ini untuk selamanya!" ucap Ferdinand dengan nafas memburu dan ngos-ngosan di antara ciumannya yang menuntut lebih dari sekedar sebuah ciuman. Alona sangat terkejut mendengar keinginan Ferdinand untuk menebus kebebasan sang ayah yang sangat dia sayangi dengan hidupnya.

Bab 2 Terkejut

Alona sangat terkejut sekali mendengarkan perkataan Ferdinand yang mengatakan bahwa dia menginginkan dirinya untuk membayar kesalahan ayahnya yang telah mengakibatkan kematian ayahnya Ferdinand di meja operasi. "Baiklah aku terima keinginanmu. Segera kau bebaskan ayahku!" ucap Alona dengan suara tersekat di tenggorokannya. Alona adalah seorang gadis muda yang sangat cantik sekali. Wajar kalau Ferdinand tidak mampu menahan diri untuk tidak menikmati keranuman bibirnya yang merah merekah dan sangat menggoda iman. Bibir muda belia yang sanggup meruntuhkan jiwa seorang Ferdinand Craig yang sedang di landa amarah dan kebencian di hatinya. "Menikahlah denganku dan bayarlah perbuatan ayahmu seumur hidupmu!" ucap Ferdinand dengan suara yang berat karena gairah yang sejak tadi dia tahan. Sebobrok apapun dan semarah apapun seorang laki-laki bernama Ferdinand Craig, dia tidak mungkin merusak anak orang lain. Walaupun anak dari musuhnya sekalipun. "Tetapi aku masih kuliah. Bagaimana caranya Aku menikah denganmu?" tanya Alona bingung. "Kau ingin aku membebaskan ayahmu atau tidak?" tanya Ferdinand dengan tatapan dinginnya yang menusuk tulang belulang. Wajah Ferdinand yang begitu dekat dengan Alona membuat Alona kesulitan untuk bernafas. "Bisakah kau menjauh dariku sedikit? Aku benar-benar mengalami kesulitan karena kamu!" ucap Alona sambil menyengir di hadapan Ferdinand yang merasa kesal kepadanya. "Kenapa aku harus menjauh darimu huh? Bagaimana aku bisa bicara denganmu? Kalau aku harus jauh-jauh darimu? Aku tidak mau kalau harus berbicara berteriak-teriak hanya untuk membuatmu bisa mendengarkan ucapanku!" ucap Ferdinand menolak keinginan Alona untuk dirinya menjauh dari Alona yang sampai saat ini masih dia kunci di tembok dengan kedua tangan kekarnya. "Kau terlalu tampan sehingga membuatku jadi kesulitan untuk bernafas. Jadi tolong kau mundurlah sedikit. Ok?" mendengar perkataan Alona terbit senyum tipis di wajah Ferdinand. "Kau anak kecil berani-beraninya merayuku!" Alona merasa senang melihat Ferdinand yang tampak tersipu terlihat dari pipinya yang terlihat begitu merona karena malu. Ferdinand kemudian duduk di kursi yang ada di dalam ruangan itu dan mempersilahkan Alona untuk duduk di hadapannya. Terlihat Alona yang menarik nafasnya dalam-dalam dan terlihat begitu lega. "Kenapa?" tanya Ferdinand dengan tatapan penuh intimidasi tetapi Alona sama sekali tidak takut kepada pria tampan berwajah dingin dan datar saja. "Kan tadi aku sudah bilang, wajahmu terlalu tampan Bro! Kau membuatku kesulitan bernafas dan kau hampir membunuhku dengan pesona yang kamu miliki!" terlihat Alona yang meringis benar-benar membuat Ferdinand gemas dibuatnya. Entah kenapa melihat sikap Alona yang begitu easy going membuat Ferdinand seketika melupakan kemarahannya mengenai kematian ayahnya yang disebabkan oleh kesalahan ayahnya Alona di meja operasi. "Cepat kau cabutlah tuntutanmu dan segera bebaskan Ayahku dari penjara!" ucap Alona sambil memainkan jari jemarinya yang begitu lentik dan sangat cantik. "Bayarlah kesalahan ayahmu dengan hidupmu!" ucap Ferdinand tampak begitu serius ketika mengucapkan kata-katanya itu. Membuat Alona mau tidak mau menuruti dan takluk dengan keinginannya. Karena dia tidak mau melihat ayahnya menghabiskan masa tuanya di dalam penjara. "Bagaimana kalau kita melakukan perjanjian pernikahan saja?" tanya Alona dengan menaik turunkan alisnya di hadapan Ferdinand. "Aku sudah bilang padamu, bayarlah kesalahan ayahmu dengan hidupmu! Kalau kau tidak menerima tawaran itu, maka aku akan memastikan Ayahmu akan membusuk di penjara untuk selamanya!" ucapan dari itu Ferdinand benar-benar seperti ucapan setan dari neraka yang membuat Alona benar-benar merinding dibuatnya. "Memangnya apa bagusnya dengan hidupku? Kenapa kau begitu tertarik untuk mengambil hidupku dari diriku sendiri? Dasar aneh!" gerutu Alona sambil menatap tajam kepada Ferdinand yang mulai melotot kepadanya. "Aku yang berkuasa di sini. Jadi kau tidak punya hak untuk mengatakan apapun!" ucap Ferdinand sambil mengkeplak kepala Alona sehingga membuat gadis itu pun meringis kesakitan. "Jangan macam-macam kau! Nanti aku bisa melaporkanmu ke Komnas HAM sebagai tindakan kekerasan terhadap anak di bawah umur! Nanti bagaimana kalau kau akan menghabiskan masa tuamu di dalam penjara juga?" tanya Alona dengan wajah tengilnya membuat Ferdinand kehabisan kata-kata menghadapi wanita usil seperti Alona yang sepertinya tidak memiliki rasa takut apapun. Alona sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa bersikap seperti itu kepada Ferdinand padahal ketika dia berangkat dari rumahnya tubuhnya sudah gemetar dan keringat dingin tidak mau berhenti bercucuran dari tubuhnya. Ketika berhadapan dengan Ferdinand. Walaupun laki-laki itu begitu dingin dan selalu bersikap seperti jahat kepadanya. Entah kenapa sama sekali Alona tidak merasakan takut terhadap laki-laki itu. "Baiklah, baiklah! Kalau kau begitu tertarik dengan hidupku. Akan kuserahkan seluruh hidupku untukmu. Kau sekarang puas? Cepat segera kau telepon pengacaramu untuk membebaskan ayahku dari penjara!" ucap Alona sambil tersenyum kepada Ferdinand. Akan tetapi Ferdinand menggelengkan kepalanya. Sehingga membuat Alona mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu menggelengkan kepala seperti itu kau sudah tidak tertarik dengan hidupku lagi, huh?" tanya Alona memasang wajah masam di hadapan Ferdinand. "Aku akan membebaskan ayahmu setelah kau menikah denganku dan menandatangani surat perjanjian bahwa kau akan memberikan hidupmu seluruhnya hanya untukku!" ucap Ferdinand sambil meninggalkan Alona yang masih bengong di tempat. "Eh, pria gila! Tunggu dulu! Sekate-kate aja lo, masa pakai acara bikin surat perjanjian segala sih? Apa kau tidak percaya denganku huh?" tanya Alona sambil berkacak pinggang di hadapan Ferdinand yang sedang melotot sempurna melihat kelakuan Alona yang begitu berani di hadapannya. "Kau yang tidak percaya padaku. Buktinya kau menolak untuk menikah denganku. Pasti karena kau tidak percaya kan? Kalau aku akan membebaskan ayahmu setelah pernikahan kita?" tanya Ferdinand sambil menyentil kening Alona membuat gadis itu meringis kesakitan dibuatnya. "Aku sudah bilang jangan coba-coba kau menganiaya diriku maka aku akan memastikan untuk melaporkanmu ke Komnas HAM biar kau dipenjara sekalian!" ancam Alona merasa kesal sekali kepada Ferdinand yang sejak tadi terus saja membuat sesuka hati terhadap dirinya. "Takut!" ucap Ferdinand dengan tingkah tengilnya yang membuat Alona sangat kesal setengah mati. Ketika Ferdinand hendak meninggalkan ruangan itu, serta merta Alona pun langsung meloncat ke punggungnya dan membuat Ferdinand kaget bukan kepalang, serta kalang kabut di buatnya. "Cepat kau lepaskan Ayahku dari penjara atau aku juga akan melaporkanmu ke Komnas HAM biar kau juga membusuk di penjara bersama ayahku!" Alona mengancam Ferdinand yang serta-merta malah membawa keluar Alona dari ruangan itu menuju kamar pribadinya. Ferdinand tidak memperdulikan walaupun begitu banyak tatapan mata yang merasa aneh ketika melihat mereka berdua yang seperti itu. "Eh, kau mau bawa aku kemana?" Alona mulai panik ketika Ferdinand malahan kini menggendongnya dan membawa dirinya ke kamar pribadinya lalu mengunci pintunya dari dalam. "Eh, kau mau apa?" tanya Alona panik ketika dia melihat Ferdinand yang menatap dirinya dengan tatapan berkabut dan seperti menyimpan gairah terlarang dalam tubuhnya.

Bab 3 Ketakutan

Alona terus mundur menjauhi Ferdinand dan tidak mau berdekatan dengan Ferdinand yang terus saja melihat ke arahnya dengan tatapan seakan hendak menyantap Alona bulat-bulat. "Aku sudah selesai denganmu. Aku permisi dulu ya? Aku ucapkan berbelasungkawa atas meninggalnya ayahmu dan mohon maaf sekali lagi atas nama ayahku. Permisi!" ucap Alona dengan wajah sok imutnya dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu. Akan tetapi belum juga Alona membuka pintu kamar itu, Ferdinand sudah mencekal tangannya dan menarik dia ke dalam pelukannya serta berniat untuk mencium Alona yang sudah gugup bukan kepalang. "Urusan kita belum selesai. Kau boleh meninggalkan tempat ini setelah mengucapkan ijab kabul denganku dan menandatangani perjanjian bahwa kau akan menyerahkan seluruh hidupmu kepadaku!" ucap Ferdinand dengan suara serak yang membuat Alona menjadi kesulitan bernafas. "Aku heran denganmu! Kenapa begitu tertarik dengan hidupku? Emang apa yang menarik dengan hidupku huh? Apa kau tahu? Hidupku selama ini selalu membosankan. Hanya sibuk dengan kuliah dan juga praktikum yang bikin pening. Sungguh sangat melelahkan!" ucap Alona yang bukannya takut, dia malah curhat kepada Ferdinan membuat laki-laki itu geleng-geleng kepala dengan tingkah absurdnya. "Kalau hidup membosankan maka aku akan membuat hidupmu menjadi menarik dan juga menyenangkan!" ucap Ferdinand sambil tersenyum ke arah Alona yang hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. "Serah deh! Kau urus saja yang penting kau happy. Ya udah aku pergi dulu ya? Hari ini aku ada kuliah. Aku tadi sengaja datang ke sini dulu untuk bertemu denganmu dan meminta maaf atas kesalahan ayahku yang sudah membuat ayahmu meninggal di meja operasi!" setelah mengatakan itu Alona pun kemudian keluar dari kamar itu dan Ferdinand hanya membiarkannya saja tanpa mengejar ataupun melarangnya. "Ingat! Setelah pulang kuliah kau harus kembali ke mari lagu. Kalau tidak, maka aku akan memenjarakan ayahmu seumur hidupnya! Kau dengar?" ucap Ferdinand sambil berteriak karena Alona sudah meninggalkannya di ruangan itu sendirian. Alona hanya melambaikan kedua tangannya saja tanpa mengatakan apapun dan hal itu sukses membuat Ferdinand sangat gemas dibuatnya. "Benar-benar seorang gadis yang sangat menarik. Tampaknya akan menyenangkan kalau aku nanti bermain-main dengan Dia sebentar!" ucap Fardinand Craig terlihat bermonolog dengan dirinya sendiri. Ferdinand adalah anak tunggal dari Hasan Craig yang saat ini sudah meninggal karena mengalami gagal operasi dan meninggal di meja operasi oleh ayahnya Alona yang sekarang sudah berada di penjara karena dilaporkan oleh Ferdinand atas dugaan malpraktek. Padahal kalau dilihat dari kacamata medis kanker darah dengan tingkat stadium 4 memang benar-benar sangat riskan untuk menjalani operasi. Waktu itu Ayahnya Alona dipaksa oleh ibunya Ferdinand untuk menjalani operasi itu yang akhirnya dilakukan setelah melalui prosedur yang sangat rumit dan panjang. Akan tetapi siapa yang menyangka kalau ternyata operasi itu malah gagal total dan mengakibatkan Hasan meninggal pada saat operasi sudah berjalan hampir 4 jam lamanya. Hasan mengalami pendarahan dan kekurangan darah. Pihak rumah sakit tidak menemukan donor darah yang bisa memberikan darahnya untuk Hasan yang saat ini sedang berjuang maut di meja operasi. Sementara itu Silvia, Ibu Ferdinand sejak tadi terus memperhatikan interaksi antara Alona dan putranya yang tadi masuk ke dalam kamar pribadi sang putra tercinta. Setelah Silvia melihat Alona keluar dari kamar Ferdinand. Dia pun mendekati putranya yang masih tampak bingung dan terdiam di kamarnya yang besar dan sangat mewah. Ferdinand adalah anak tunggal dari keluarga Craig jadi sangat wajar kalau dia memiliki segala fasilitas eksklusif dan lux. "Ferdinand sayang. Siapa gadis yang tadi masuk ke dalam kamarmu?" tanya Silvia tampak begitu penasaran. "Calon menantu mama. Memangnya kenapa? Apakah mama ada keberatan? Kalau dia masuk ke dalam kamarku?" tanya Ferdinand sambil melirik sinis kepada ibunya yang kepo. Silvia kesulitan bernafas melihat tingkah putranya yang selalu saja seperti yang cuek dan tidak memperdulikannya. Silvia sendiri tidak mengerti kenapa putranya selalu bersikap seperti itu kepada dirinya Padahal dia sudah berusaha untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk putra tunggalnya. Silvia memang tidak tahu kalau putranya sudah mengetahui kelakuan Sang Ibu yang berselingkuh dengan asisten sang ayah. Sejak Ferdinand melihat dan mengetahui kelakuan buruk ibunya di belakang sang ayah yang sedang berjuang melawan maut. Hati Ferdinand seakan mati dan tidak peduli lagi dengan ibu kandungnya sendiri. "Ferdinand sayang! Mama sedang bicara denganmu! Kenapa kau pergi begitu saja?" protes Silvia sambil mengejar putranya yang sekarang sudah mulai berkumpul lagi dengan para petakziah yang sudah mulai bersiap untuk memakamkan ayahnya. Melihat Ferdinand yang sudah berkumpul dengan yang lainnya. Silvia pun kemudian mengurungkan niatnya untuk mengejar Ferdinand. Ferdinand hanya melirik sinis kepada ibunya yang sekarang sedang duduk di samping Kevin. Asisten sang ayahnya yang sudah hampir 2 tahun menjadi selingkuhan ibunya. Ferdinand benar-benar membenci Silvia dan dia sudah hilang respek terhadap ibunya yang tidak memikirkan perasaan ayahnya yang ketika itu sedang berjuang untuk melawan penyakit kanker yang menyerang tubuhnya. Sungguh sebuah perjuangan yang sangat keras dan juga sangat hebat. Ferdinand sangat kagum dengan ayahnya yang masih tetap tegar dan kuat menghadapi penyakit yang mematikan itu. Ferdinand sangat kecewa kepada sang ayah yang menerima usulan dari ibunya untuk menjalani operasi. Walaupun dokter sudah berkali-kali mengatakan bahwa operasi itu sangat beresiko dan hanya memiliki tingkat keberhasilan kurang dari 20%. Akan tetapi Silvia bersikeras untuk tetap melaksanakan operasi itu dan akhirnya mengakibatkan Hasan harus meninggal di meja operasi. Penyebab Hasan Craig meninggal karena pendarahan hebat dan pihak rumah sakit tidak bisa menemukan donor darah yang cocok untuk ayahnya Ferdinand yang memiliki golongan darah langka dan sangat sulit untuk mendapatkan donor darah tersebut. Setelah selesai pemakaman ayahnya Ferdinand. Ferdinand pun kemudian segera mengurus surat-surat pernikahan yang akan dia laksanakan bersama dengan Alona. Silvia hanya bisa menatap nanar putranya yang melakukan segala sesuatu tanpa berunding dengan dirinya. Silvia benar-benar kehilangan kata-kata untuk bisa berkomunikasi dengan putranya sendiri. "Ferdinand! Kau hendak menikah dengan seorang perempuan Kenapa tidak berunding dengan ibumu Apa kau menganggap kalau ibumu sudah mati, huh?" tanya Silvia sudah kehilangan kesabaran untuk menghadapi putranya sendiri. "Mama tidak usah mengurusi hidupku urus saja selingkuhan mama!" ucap Ferdinand dengan sinis, kemudian meninggalkan ibunya yang masih membeku di tempat. Deg Hati Silvia benar-benar sakit, ketika dia tadi mendengarkan perkataan putranya yang begitu menusuk jantungnya. "Sejak kapan dia tahu?" monolog Silvia masih berdiri di tempatnya yang sama dan tidak beranjak sama sekali walaupun satu inci pun.

Lanjut baca