Hakikat cinta yang kau nodai
Bab 1 Awal segalanya

Sudah jam 02.00 pagi akan tetapi Devan belum juga kembali. Hana yang terus mondar-mandir sejak tadi terus melihat ke arah jarum jam yang terus berputar. "Kemana sebenarnya Mas Devan? Kenapa sudah jam 02.00 malam begini, dia masih belum pulang juga? Apakah dia mengalami kecelakaan ataukah ada apa ini?" ujar Hana yang sudah mulai panik. Hana kembali melihat jam yang ada di depan nya. Sekarang sudah jam 03.00 pagi  dan Devan masih belum juga kembali. "Kemana kamu sebenarnya Mas? Kenapa kau tidak menghubungiku sih? Kalau misalkan kau sibuk di luar sana? Bikin khawatir saja!" Gumam Hana sambil duduk di sofa ruang tamu. Karena merasa lelah, Hana akhirnya tidur di sofa. Tepat jam 04.00 pagi terlihat mobil milik Devan masuk ke area pekarangan dan masuk ke garasi rumah Hana. Devan yang memiliki kunci cadangan rumah mereka, dia langsung membuka pintu rumahnya dan masuk tanpa membangunkan Hana yang sedang tidur di sofa. Sekilas Depan melirik ke arah Hana yang masih terlelap dalam tidurnya. Devan sekilas hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Hana sama sekali. Wanita yang masih tidur kedinginan di luar karena menunggu kepulangan suaminya yang entah dari mana, sehingga jam 04.00 pagi baru sampe ke rumah mereka. Setelah melepaskan bajunya Devan langsung pergi ke kamar mandi. Karena Devan ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah pergumulan serunya bersama Citra, rekan kantornya yang telah menjadi rekan penghangat ranjangnya yang ada di rumah kontrakan yang lokasinya dekat dengan kantor tempat dia bekerja selama satu bulan ini. Ya! Hobi Devan adalah gonta-ganti selingkuhan yang akan dia bawa ke rumah kontrakan milik dia, rumah rahasia tempat dia bercinta dengan para selingkuhan dia. Devan yang punya jabatan sebagai Direktur personalia, pasti setiap bulan dia selalu mengganti rekan penghangat ranjangnya. Para wanita bodoh yang mau dia tipu dengan iming-iming akan di berikan pekerjaan di kantornya yang keren dan hebat.  Siapa yang tidak akan tergiur untuk bekerja di kantor Abimana grup? Sebuah perusahaan multi nasional bahkan sudah mengekspansikan perusahaan mereka hingga ke luar negeri sampai ke Eropa. Pusat perusahaan itu ada di Dubai, yang di kepimpin langsung oleh Tuan Adrian Abimana. Kabarnya Tuan Adrian abimanah memiliki seorang Putra yang sangat tampan dan rupawan bernama Ramadan Abimana. Pria tampan itu dikabarkan sudah kembali dari kuliahnya di Mesir dan sudah siap untuk mengabdikan ilmunya di perusahaan sang ayah. Mari kembali lagi melihat kehidupan Hana dan Devan. Setelah selesai mandi Devan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya. Tampak sebuah senyum terbit di wajahnya yang tampan. "Citra memang keren! Ah, gak sia-sia aku mengangkat dia sebagai sekretaris Pak Andre! Service dia mantap sekali! Pantas saja Pak Andre begitu menurut sama dia. Pasti dapat jatah juga dari si Citra!" Ucap Devan sambil tersenyum smirk. Setelah merasa puas membayangkan kembali percintaannya dengan Citra tadi malam, Devan pun kemudian tidur lelap. Keesokan paginya Hana bangun dari tidurnya. "Apakah Mas Devan sudah pulang? Ah kenapa dia tidak membangunkanku?" tanya Hana ketika dia melihat mobil suaminya sudah terparkir di garasi rumah mereka. Setelah melaksanakan sholat subuh, Hana langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sebagai keluarga kecilnya. "Sarapan sudah siap. Sekarang aku tinggal membangunkan Mas Devan saja. Dia pasti bangun tidurnya kesiangan deh, karena dia pasti pulang terlalu malam!" ucap Hana merasa iba kepada suaminya yang telah bekerja keras di luar sana. Hana kemudian membangunkan Devan yang masih begitu lelap dalam tidurnya. "Mas bangun dong. Sudah siang ini. Nanti Kau terlambat shalat subuh loh!" Ucap Hana sambil menggoncangkan tubuh Devan agar bangun dari tidurnya. Akan tetapi Devan malah menepis tangan Hana dan mengusirnya keluar dari kamar. "Aku masih ngantuk Hana tadi malam aku pulang jam 04.30 aku lelah sekali! Aku bekerja seharian di luar sana. Kamu mah enak di rumah Cuman kerjanya nonton TV dan gosip sama tetangga kita!" Ucap Devan sambil ngedumel dan menarik kembali selimut yang tadi ditarik oleh panah ketika membangunkannya. Hana yang tidak terima dengan perkataan suaminya dia kembali menarik selimut itu dan berkaca pinggang di hadapan Devan. "Dulu kan Mas yang menyuruhku untuk keluar dari kantor dan Mas yang suruh aku buat fokus mengurus rumah tangga kita. Kenapa sekarang Mas mengatakan itu padaku hah? Seolah-olah hanya kau yang bekerja keras di rumah ini!" Amuk Hana sambil menggoncangkan tubuh Devan agar segera bangun dari tidurnya. Devan yang merasa terganggu dengan amukan Hana. Dia pun kemudian bangun dan menatap tajam pada Hana yang mulai terlihat garang karena kesal mendengar perkataan Devan yang sudah merendahkannya. "Aku semalaman ya, menunggu Mas pulang. Jam 03.00 pagi aku baru tidur. Karena kelelahan menunggumu. Seharian aku bekerja mengurus rumah ini dan juga anak-anak kita. Seenaknya saja Mas bilang kalau aku hanya bergosip bersama tetangga huh? Tolong dijaga ya Mas mulutnya!" Amuk Hana sambil terus menetap tajam Devan yang mulai salah tingkah di buat nya. Devan kemudian mengingat alasan kenapa dia terlambat pulang ke rumah tadi malam. Dia pun akhirnya merubah mimik wajahnya. Karena bagaimanapun dia takut kalau sampai Hana akan curiga dengan alasan dia pulang terlambat tadi malam. Karena bergumul dengan Citra sang janda kembang di kantornya. "Ya udah, maafin Mas ya, sayang? Mas bangun sekarang!" Dengan perasaan malas Devan pun kemudian bangkit dari ranjang dan segera menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.  Setelah melaksanakan salat subuh, Devan langsung pergi ke meja makan untuk bertemu dengan Hana dan putra-putrinya yang sudah bersiap berangkat sekolah. "Ayah jangan selalu pulang terlalu malam. Kasihan ibu yang selalu saja kekurangan tidur gara-gara menunggu ayah pulang terlambat setiap hari!" tegur Siti, putri sulung Hana yang sudah kelas 1 SD, sementara Wildan baru berusia 4 tahun. Devan mengerutkan keningnya mendengarkan teguran dari putrinya. "Ayah pulang terlambat karena bekerja ya! Kau masih kecil. Jangan sembarangan bicara yang aneh-aneh! Kau kira kau bisa jajan enak, bisa membeli apapun yang kau mau., Kau kira semua uangnya dari mana huh? Hana! Kau ajari anakmu itu untuk tahu sopan santun terhadap ayahnya!" Ucap Devan sambil melemparkan sendok yang tadi hendak dia gunakan untuk makan. Hana menatap Siti yang tampak sangat ketakutan. Kemudian dia pun mengejar Devan yang sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Devan sebenarnya tidak benar-benar hendak pergi ke kantor. Tetapi dia hendak pergi ke kontrakannya untuk tidur kembali di sana. Matanya masih sepet dan ngantuk sekali, akan tetapi, kalau dia tidur di rumah pasti akan di omelin oleh Hana seharian. Makanya Devan memutuskan untuk lanjut tidur saja di kontrakannya nanti. Lumayan satu dua jam bukan untuk tidur lagi?

Bab 2 Pecundang

Devan tampak sedang berbaring di ranjangnya yang ada di kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor tempat dia bekerja. Sejak tadi ponsel Devan terus berdering dan menampilkan nama Citra di layar ponselnya. "Kemana sih ini Pak Devan? Bukannya dia hari ini ada meeting ya? Kenapa sampai jam segini belum juga datang sih? Apa jangan-jangan dia masih tidur ya di kontrakannya?" tanya Citra menebak keberadaan Devan saat ini. Dari tadi Citra tidak tenang hatinya, dia terus bolak-balik di depan meja kerjanya. Bosnya sejak tadi sudah datang menanyakan keberadaan Devan yang belum juga datang untuk menghadiri rapat dipagi ini. "Biarlah Aku susul saja Pak Devan ke kontrakan dia. Aku yakin kalau dia pasti sedang tidur di sana!" Bibir Citra tertarik menyunggingkan sebuah senyum yang manis dan bahagia. Ketika dia mengingat kembali percintaannya tadi malam bersama dengan Devan yang begitu seru dan sangat memuaskannya. Citra memutuskan untuk menyusul Devan di kontrakannya. Citra kemudian meminta izin kepada bosnya untuk menyusul Devan di kontrakan dia. "Jangan lama-lama ya, Citra. Karena kita tidak bisa menunda rapat hanya karena satu orang yang belum datang ke kantor!" Ultimatum sang Bos sambil menatap Citra dengan tajam. Citra pun langsung memberikan dua jempolnya kepada bosnya. Kalau ada di kantor saja sih. Kalau di luar kantor mah beda lagi ceritanya. Sudah bukan rahasia umum lagi tentang status Citra yang merupakan seorang janda kembang di kantor itu yang memiliki banyak penggemar. Devan salah satu rekan ranjang yang sering bersama dengan Citra dalam mengarungi kenikmatan di atas ranjang dan berbagi keringat bersama. Walaupun terkadang sang Bos pun sering meminta jatah kepadanya ketika dia sedang bermasalah dengan istrinya. Bagi Citra siapapun yang bersamanya asalkan bisa memberikan kepuasan untuknya, dia pasti akan senang untuk melayani mereka. Citra kemudian melajukan kendaraannya untuk menuju kontrakan Devan yang kemarin menjadi tempat dirinya mereguk kenikmatan bersama dengan Devan sampai tengah malam. Citra memang memiliki hasrat yang tinggi dan tidak semua laki-laki bisa selalu mampu untuk memuaskannya yang termasuk hyper itu. Citra langsung turun dari mobilnya begitu dia sampai di kontrakan Devan. "Tuh benar kan? Kalau dia ada di sini? Buktinya mobilnya saja berada di luar kayak gini!" Ucap Siska merasa senang karena kedatangannya tidak sia-sia. Dengan penuh percaya diri Citra kemudian membuka knop pintu kontrakan tersebut. Citra tahu bahwa Devan tidak pernah mengunci kontrakannya. Karena memang di sana tidak ada apa-apa yang perlu untuk di lindungi oleh Devan. Di sana hanya ada sebuah ranjang dan kasurnya dan beberapa keperluan Devan ketika dia tinggal di tempat itu untuk bercinta dengan selingkuhan dia yang rata-rata adalah rekan kerja dia di tempat kerja. Status Devan sebagai Direktur personalia di perusahaan Devan bekerja, membuat Devan bisa berbuat sekehendaknya hanya dengan ancaman pemecatan pada rekannya yang terkena masalah. Devan bisa mendapatkan layanan gratis tanpa perlu bersusah payah keluar uang ataupun modal apapun juga. Kehidupan sempurna bagi seorang Devan yang merupakan sang casanova kelas teri yang selalu memanfaatkan kelemahan orang lain dengan menggunakan kekuasaan jabatannya di tempat dia bekerja. Citra langsung masuk ke dalam kamar dan dia menemukan Devan yang sedang tertidur dengan hanya menggunakan kolornya saja. "Ya ampun! Pria tampan ini memang selalu saja pintar untuk menggoda orang!" Citra pun lupa dengan tujuannya datang ke kontrakan itu. Citra malah mencium bibir Devan dengan penuh hasrat menggila. Padahal tadi malam mereka sudah bercinta semalaman. Tetapi pagi ini Citra masih menginginkan tubuh Devan untuk dapat memuaskannya. "Kamu kok di sini sih? Bukannya Sekarang sudah jam kantor?" Tanya Devan sambil memicingkan matanya karena dia masih rasa mengantuk dan merasa terganggu dengan Citra yang tiba-tiba saja menyerangnya. Citra tidak menanggapi pertanyaan Devan dia terlalu asik dengan mainannya yang membuat Devan mengerang kenikmatan. Karena mereka terburu-buru unyuk rapat, akhirnya mereka hanya melakukan olahraga singkat yang penting kebutuhan tercapai walaupun kalau bicara puas itu pasti masih jauh sekali untuk ukuran mereka berdua. "Kita lanjut nanti malam saja sayang! Bukankah hari ini kita ada rapat penting di kantor dan yang kudengar juga bahwa Putra pemilik dari perusahaan tempat kita kerja akan datang ke perusahaan dalam waktu dekat ini!" ucap Devan sambil terus berpacu kenikmatan di atas tubuh Citra yang sudah berkeringat. Setelah selesai dengan olahraga kilat. Mereka pun kemudian langsung membersihkan tubuh mereka dan segera berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil Citra. Karena rencananya sepulang kantor mereka akan kembali ke kontrakan itu lagi untuk melanjutkan petualangan mereka yang tadi hanya singkat saja karena sudah diburu waktu untuk meeting bersama dengan tim yang lainnya. Devan tersenyum bahagia ketika dia duduk di samping Citra yang terkenal sangat cantik di kantor mereka dan juga selalu berpenampilan menarik di mata setiap lelaki Playboy seperti Devan yang suka mengkonsumsi daging busuk yang tidak halal untuknya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Devan. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh istrinya yang halal di mata negara maupun di mata agama. Devan terlihat lebih senang bergumul dengan dosa dengan selalu bergumul dengan Citra maupun rekan ranjang yang lain. Kesabaran Hana sebagai istrinya benar-benar patut diacungi jempol. Dia selalu memaafkan kesalahan Devan walaupun sudah berkali-kali kepergok melakukan perselingkuhan dengan rekan bisnis dia yang setiap bulan selalu berganti orang. Hana yang terlalu disibukkan dengan urusan rumah tangga dan juga anak mereka. Dia tidak pernah sekalipun datang ke kantor Devan untuk mengkonfirmasi semua kata-kata bohong yang selalu diucapkan Devan ketika dia minta izin kepada Hana untuk pulang terlambat. Entahlah! Apakah itu karena Hana yang terlalu percaya dengan Devan ataukah karena hati Hana yang sudah kebas dengan kelakuan suaminya yang tidak pernah mau bertobat dari perselingkuhan di luar sana. Hanya Hanna dan Tuhan yang tahu tentang perasaannya saat ini. Akan tetapi Hana tidak pernah bisa tinggal diam ketika Devan sudah mulai berkata kasar ataupun main tangan kepada Putra dan putrinya. Setelah sampai di kantor, Devan langsung masuk ke ruangan meeting dan bersiap untuk melakukan pertemuan dengan beberapa direktur yang akan membicarakan tentang penyambutan CEO baru yang akan datang dari Dubai. Anak sang owner perusahaan Abimana group yaitu Ramadhan Abimana yang biasa dikenal dengan panggilan ramah oleh orang-orang terdekatnya. "Selamat pagi, semuanya! Maafkan karena saya sudah terlambat untuk hadir dalam rapat kali ini. Maklumlah pekerjaan saya sangat banyak sekali untuk menyiapkan penyambutan CEO baru kita Tuan Ramadan Abimana yang katanya seminggu lagi akan mulai masuk ke perusahaan kita untuk bekerja di sini dalam rangka menggantikan CEO lama yang sudah pensiun karena usianya yang sudah tua!" ucap Devan dengan penuh percaya diri. Rekan-rekan Devan tampak melihat Devan yang begitu percaya diri dengan kemampuannya dalam mengorganisir karyawan di tempat mereka bekerja saat ini.

Bab 3 Kedatangan sang pewaris

Semua karyawan sudah bersiap untuk menunggu kedatangan Ramadan Abimana yang merupakan pewaris dari Abimana grup tempat mereka semua bekerja. "Citra kau sudah menyiapkan semuanya kan? Awas jangan sampai ada yang kelewat! Kita harus menunjukkan kepada CEO kita yang baru bawa kantor kita ini adalah cabang terbaik di seluruh perusahaan Abimana grup. Paham kamu?" Bisik Devan di telinga Citra. Citra tersenyum kepada Devan kemudian dia menyipitkan sebelah matanya untuk menggoda Devan yang selama seminggu ini selalu membuat dia melayang hingga ke langit ke tujuh. Entah apa yang ada di dalam pikiran Citra sehingga dia tidak pernah memikirkan tentang perasaan Hana yang selama satu minggu itu selalu dicuekin oleh Devan, karena waktu dan tenaga Devan sudah habis untuk bersama dengan Citra yang selalu memberi dia daging mentah gratisan. Semua karyawan sudah berdiri di depan pintu bersiap untuk menyambut sang pewaris yang menurut berita dari asisten sang CEO, Rama akan datang dalam waktu 10 menit lagi. Semua karyawan sudah bersiap mereka menahan nafasnya karena lumayan gemetar. Mereka mendengar selentingan tentang CEO baru yang merupakan lulusan Mesir dan seorang Hafiz yang hebat. "Entah apa yang akan dia lakukan di kantor kita ini. Kenapa sih? Dia itu nggak di masjid aja atau di pondok pesantren gitu, ya ampun! Pake repot-repot datang ke perusahaan kita jauh-jauh dari Dubai pula!" ujar seorang karyawan pria yang terlihat sangat gugup ketika menunggu kedatangan Ramadan Abimana yang kabarnya seorang CEO yang sangat dingin dan bahkan kesulitan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Seorang introvert yang hanya sibuk bekerja dan fokus dengan apa yang dia kerjakan tanpa perduli dengan lingkungan di mana dia berada. " Udah diam! Tuh, Mobil CEO kita sudah datang. Apa kau mau dipecat dari perusahaan ini huh? Emang kamu mau pergi ke mana lagi nanti? Kalau kau di pecat dari sini dijamin kau tidak akan bisa bekerja di manapun juga! Karena akan langsung dimasukkan ke dalam Blacklist oleh pihak management perusahaan!" ujarnya, menasehati temannya yang tadi begitu banyak bicara dan berkomentar tentang CEO baru yang sebentar lagi akan datang ke perusahaan mereka. Mereka semua pun, matanya kemudian tertuju ke arah lobi kantor, di mana keluar seorang pria berwajah sangat tampan dari mobil sport yang sangat mahal harganya bersama dengan asistennya yang selalu mengikuti dia kemanapun perginya sang CEO tampan itu. Mata para gadis yang sedang bertugas untuk menyambut Ramadhan Abimana, tampak terbelalak satu demi satu. Mereka semua terpesona melihat ketampanan seorang Ramadan Abimana yang bersinar dan teramat  menyilaukan mata semua orang yang ada di kantor itu. Takjub dan terpesona dengan ketampanan Rama yang melebihi opa-opa Korea yang ada di televisi. "Ya ampun! Calon ayah dari anak-anakku sudah datang, ya Allah! Akhirnya kau datangkan juga calon jodohku ke hadapanku!" ucap Siska dengan mulut menganga lebar sampai di keplak oleh Devan yang merasa kesal sekali ketika dia melihat semua wanita begitu terpesona dengan kedatangan CEO baru ke kantor mereka. "Tutup mulutmu itu! Jangan sampai nanti ada lalat yang masuk, baru nyaho kamu!" Bisik Devan kepada Siska yang auto melotot kepada Devan karena tidak terima dengan olokannya. Tetapi Devan tidak marah sama sekali. Dia malah tersenyum karena Siska yang begitu lucu di matanya dalam keadaan marah begitu. Devan pun melirik kepada Citra yang sama kondisi nya. Wanita cantik itu terlihat begitu terpesona melihat kehadiran Rama siang ini di kantor itu. " Selamat datang pak Rama di kantor kita ini! Semoga Anda merasa senang bekerja bersama dengan kami disini!" ucap Pak Andre yang berstatus sebagai Direktur keuangan di perusahaan itu. "Hmmm! Dimana kantorku?" Tanya Rama tanpa melirik sekilas pun kepada Andre yang sudah keringetan keningnya karena merasa gugup. Tanpa banyak bicara, Andre langsung mengantarkan Rama menuju kantornya. Sementara itu, Romi, asisten Rama, dia hanya menatap satu persatu para karyawan yang hadir untuk menyambut sang CEO yang berwajah datar dan seketika membuat suasana begitu canggung dan mencekam. Namun berbeda dengan para gadis, mereka begitu histeris ketika melihat kedatangan Rama yang begitu rupawan dan menggoda iman mereka untuk mengelus wajah tampannya. " Ya ampun ternyata masih ada ya orang ganteng di dunia ini yang tersisa? Boleh nggak sih aku belai wajah tampannya sebentar aja?" tanya Cindy gemes. Akan tetapi teman yang lainnya langsung melotot ke arahnya." Ih enak aja kau bicara! Nggak boleh ya! Dia itu calon ayah dari anak-anakku jadi hanya aku yang boleh membelai wajahnya! Paham kamu?" tanya Siska dengan wajah garang kepada temannya. Devan yang sejak tadi terus memperhatikan Siska yang cantik dan imut. Devan tampak tersenyum melihat gadis itu yang sangat sulit dia taklukan selama berada dia di kantor itu. Ekor mata Devan pun memperhatikan Citra yang sekarang mengikuti Pak Andre yang akan mengantar Rama dan Romi menuju kantornya yang ada di lantai 13. Kantor para eksekutif yang lainnya ada di lantai 12. Sementara kantor CEO ada di lantai 13 hanya sendirian saja. Selama inu, tidak sembarangan orang bisa masuk ke kantor CEO yang ada di lantai 13. Hanya para eksekutif dan orang-orang penting saja yang diperbolehkan menginjakkan kaki mereka ke lantai 13. Siska yang sengaja mengikuti Andre atasannya. Siska merasa begitu takjub sekali, ketika dia melihat suasana yang ada di lantai 13 yang luar biasa mewah dan berkelas. Ruangan yang sangat luas untuk sang CEO. Seketika hatinya menginginkan sebuah jabatan baru untuk dirinya yaitu sebagai sekretaris sang CEO tampan yang sampai sekarang masih dalam tahap seleksi di bagian personalia. ' Tampaknya nanti malam aku harus memberikan service terbaikku kepada Pak Devan, agar dia mau menyerahkan jabatan sekretaris CEO itu kepadaku!' bathin Citra yang hatinya mulai tergoda melihat ketampanan Rama yang begitu luar biasa. Apalagi ketika Siska membayangkan bahwa Rama adalah seorang pewaris dari Abimana grup yang memiliki banyak sekali cabang perusahaan di berbagai belahan dunia. Bahkan kantor pusat Abimana grup saja berada di Dubai yang langsung dikepalai oleh Adrian Abimana, ayah dari Ramadhan Abimana yang memiliki wajah begitu sempurna. Walaupun Romi tidak kalah ganteng daripada Rama. Akan tetapi Citra sama sekali tidak mau untuk melirik ke arahnya. Karena saat ini yang berada di matanya hanyalah Rama yang begitu berkilau di mata Citra karena dia mengingat status Rama sebagai sang pewaris dari perusahaan multi internasional Abimana grup yang Citra dengar bahkan memiliki jet pribadi dan juga Pulau pribadi yang ada di Dubai. Hanya dalam hitungan detik posisi Devan di hatu Citra sudah langsung tergantikan oleh pesona seorang Ramadan Abimana yang tiada bandingannya di dunia ini. Sementara itu Rama yang berwajah tampan akan tetapi memiliki wajah sedingin es balok,  yang sekarang sudah berada di kantornya. Rama langsung mengusir semua orang yang tadi mengantar Dia menuju lantai 13. "Pergilah kalian semua dari sini karena aku akan segera bekerja, dan kalian sangat mengganggu pandanganku!" Perintah Rama dengan suara baritonnya tanpa melihat sekilas pun kepada semua orang yang tampak begitu terkejut mendengar perintahnya tadi. Tadinya semua orang berpikir bahwa Rama akan beramah tamah dengan mereka dan mempersilakan mereka untuk duduk di ruangan yang begitu mewah dan sangat prestisius bagi mereka. Akan tetapi mereka harus menggigit jari mereka karena hanya dalam hitungan 2 detik saja Rama langsung mengusir mereka dari ruangannya. Dengan penuh kekecewaan mereka semua pun kemudian meninggalkan Lantai 13 dan kembali ke pos mereka masing-masing. Karena mereka sudah gemetar melihat aura dingin yang keluar dari tubuh Rama yang membuat ruangan indah itu begitu mencekam di hati mereka

Lanjut baca