Rahim Untuk Tn. Walikota (Menikah Karena Permintaan Istri Sah)
Bab 1 Satu

Kegiatan kampanye yang diadakan oleh Liam Sandega berhasil tergelar dengan sangat meriah di taman kota Tsurayya. Buktinya ada ribuan masyarakat yang hadir. Dania yang tengah hamil muda ikut datang bersama Liam untuk menemani suaminya itu. "Terima kasih banyak saya ucapkan kepada kalian semua yang telah hadir pada malam hari ini. Saya benar-benar merasa terhormat karena telah ditunggu oleh ribuan orang." Liam segera naik ke atas podium dan mengambil alih atensi seluruh masyarakat yang hadir dengan sebuah mikrofon di tangannya. "Saya pastikan kalian semua yang menghadiri undangan saya malam ini tidak akan menyesal sebab saya punya hadiah untuk kalian semua. Hadiah saya bisa kalian dapatkan secara GRATIS!" Liam mengucapkan kalimat itu dengan senyum lebar. Perkataannya pun langsung disambut bahagia oleh masyarakat. "Saya menyadari bahwa sebagai pemimpin saya harus menyejahterakan rakyat! Sebagai pemimpin saya harus memerioritaskan urusan rakyat di atas segalanya! Jadi, kalau ada orang yang pantas untuk dicemburui oleh istri saya, maka jawabannya adalah RAKYAT!" Gelak tawa masyarakat yang hadir terdengar bergemuruh. Seketika mereka meneriakkan satu kalimat yang sama sebagai bentuk dukungan kepada Liam Sandega. "LIAM SANDEGA WALIKOTA 2024!!!" "Liam!" Di tengah-tengah teriakan massa yang mendukung Liam, tiba-tiba saja muncul suara seorang wanita. Parahnya sang sumber suara berjalan mendekat dan ikut naik ke atas podium menyusul Liam. Dia adalah seorang wanita bertubuh kurus, berkulit kusam tidak terurus, dan berpakaian sangat kumuh. Di gendongannya ada seorang bayi yang tengah tertidur berselimut kain batik panjang. "Liam, aku sudah melahirkan anakmu!" Tentu saja ucapan wanita itu membuat gemuruh massa seketika meredam. Semua orang yang menyaksikan hal itu merasa sangat terkejut dan kebingungan. Bukankah Liam telah memiliki istri yakni Dania Basman? Bahkan istrinya sedang hamil muda sekarang. "Kenapa kau tidak pulang-pulang ke kampung? Tega kau meninggalkan aku sendirian sampai aku melahirkan!" Seketika Dania merasakan keram di perutnya kala mendengar pengakuan wanita asing itu. Dania sungguh terkejut sekaligus marah. Dengan bersusah payah dia berdiri dan menghampiri wanita itu. "Kamu siapa?!" bentaknya. Wanita yang tengah hamil muda itu mengabaikan perutnya yang terasa sakit akibat kontraksi dari keterkejutannya. Satu-satunya hal yang dia pedulikan saat ini hanyalah wanita asing itu. Siapa dia? Dari mana dia berasal hingga tiba-tiba muncul di hadapannya dan seluruh masyarakat lalu mengaku sebagai istri dari suaminya?! "Saya istri Liam Sandega!" jawab wanita asing itu dengan sangat berani. Tentu saja jawaban wanita itu membuat dada Dania terasa sesak seolah ada benda tak kasat mata yang meremas hatinya dengan kuat. "A-apa kamu bilang?" "Ya, saya istri yang Liam terlantarkan selama hampir satu tahun! Liam meninggalkan saya ketika saya masih mengandung." Tiba-tiba suara wanita itu bergetar. Dia menunjukkan bayinya yang tengah tertidur pulas dalam gendongannya kepada Dania, "Namun, sampai anak kami lahir, Liam belum juga kembali kepada saya." Sontak Dania membekap mulutnya sendiri karena merasa sangat terkejut dengan ucapan wanita itu. Dania segera menoleh ke arah suaminya. Tepat di sampingnya, Dania menemukan Liam tengah berdiri dalam diam sembari memandang wanita asing dan bayinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu jangan mengada-ngada!" Dania segera membantah fakta yang dibeberkan oleh wanita asing itu karena memang sesakit itu untuk diterima. "Liam tidak mungkin punya istri lain! Saya adalah istri Liam satu-satunya!" "A-apa?" Kini giliran wanita asing itu yang terkejut sembari membekap mulutnya sendiri. Tatapan matanya turun ke bawah memandangi perut Dania yang buncit. "Tidak ... tidak mungkin! Tidak mungkin!!" jeritnya dengan suara yang amat memilukan. "Ayo kita selesaikan masalah ini sekarang," tantang Dania. "Jika kamu memang istri Liam, tunjukkan di hadapanku dan semua masyarakat yang hadir di sini tentang bukti-bukti pernikahan kalian. Mana buku nikahmu?" Tuntutan Dania barusan seolah merupakan sebuah bombardir yang amat dahsyat untuk wanita itu. Terbukti dari wajahnya yang seketika memucat pasi dan rautnya yang semula tampak sendu berubah menjadi gugup. Melihat hal itu, terbesitlah perasaan lega di hati Dania. Hampir saja dia percaya dengan omongan busuk wanita jahat itu ketimbang suaminya. "Liam ...," panggil wanita berpakaian lusuh itu dengan lirih. "Kamu meninggalkan aku hanya untuk menikah lagi dengan wanita ini? Kalian akan memiliki anak?" tanyanya dengan suara getir seolah merasa tak percaya bahwa suaminya sudah mengkhianatinya. Tiba-tiba saja para wartawan mengerubuni panggung tempat Liam menyampaikan sambutan. Mereka saling berebut untuk dapat meliput berita mengenai rumah tangga sang calon wali kota itu. Meskipun sebenarnya ini adalah urusan pribadi, tapi karena sudah terlanjur dipertontonkan di depan semua masyarakat pada saat kampanye, alhasil hal itu menjadi menarik untuk dibahas dalam sebuah berita yang akan disiarkan kepada masyarakat. Bahkan tidak hanya wartawan saja, kini para masyarakat biasa juga berebut ingin naik ke atas panggung agar bisa merekam pertengkaran antara Dania Basman dengan seorang wanita berpakaian lusuh yang mengaku sebagai istri Liam Sandega tersebut menggunakan ponsel-ponsel mereka. Suasana kampanye seketika menjadi sangat tidak kondusif. Para penjaga yang telah Liam persiapkan untuk menjaganya pun sangat kuwalahan dengan desakan para wartawan dan masyarakat. "Biarkan para wartawan itu meliput. Kalian singkirkan wanita itu dan anaknya dari sini. Bawa dia jauh-jauh agar media tidak dapat meliput wajahnya," perintah Liam kepada para penjaganya karena menyadari bahwa mereka tidak mungkin bisa untuk menahan para wartawan yang jumlahnya sangat banyak. "Tolong jangan usir saya!" jerit wanita asing itu sembari memberikan perlawanan sekuat tenaga kepada orang-orang suruhan Liam. "Saya hanya ingin keadilan untuk saya dan anak saya! Kenapa saya harus diusir?" Namun, tak ada guna perlawanannya ini. Kekuatannya sebagai wanita kurus yang kekurangan gizi tentu tidak akan pernah sebanding dengan para lelaki kuat yang telah dibayar oleh Liam. Akhirnya tangisan wanita itu tak terbendung menerima ketidakadilan ini. Bayinya yang ada dalam gendongan pun tiba-tiba saja menangis kencang seolah merasakan kesedihan ibunya. Sementara itu, di lain sisi para wartawan mengerumuni Liam dan Dania untuk diwawancarai. "Sebenarnya apa yang terjadi, Pak Liam? Kenapa wanita itu tiba-tiba saja datang? Siapa wanita itu?" "Apakah Bu Dania yakin bahwa Pak Liam tidak punya istri selain Bu Dania? Lalu siapa wanita tadi?" Pertanyaan terus dilontarkan untuk Liam dan Dania. Liam menghela napas berat sembari memeluk pinggang istrinya. "Saya juga tidak tahu dengan apa yang terjadi barusan. Akan tetapi, dugaan saya adalah wanita itu merupakan orang suruhan dari lawan politik saya. Kedatangannya yang tiba-tiba di depan masyarakat pada saat saya sedang berkampanye, saya rasa itu sudah membuktikan semuanya." Bersambung .... Catatan penulis: Hak cipta karya ini berada di tangan penulis dan dilindungi oleh undang-undang. Dilarang melakukan plagiarisme! Aku adalah salah satu anggota Hamia Squad (geng yang isinya penulis semua). Follow Instagram @hamiasquad supaya kalian gak ketinggalan informasi tentang buku-buku karyaku dan karya teman-temanku!

Bab 2 Dua

Sudah berselang satu bulan lamanya sejak kejadian di taman kota pada saat kampanye malam itu, kini kehidupan Dania kembali baik-baik saja. Sejauh ini tidak ada lagi gangguan dari wanita asing yang mengaku-ngaku sebagai istri dari suaminya itu. Liam pun sudah kembali bekerja sebagai Manajer di perusahaan Properti, perusahaan peninggalan ayahnya Dania. Sementara itu, berita mengenai kegaduhan di malam kampanye itu perlahan-lahan meredup. Sekitar pukul 8 pagi Dania memilih berjalan kaki di pekarangan rumahnya sebagaimana anjuran dari dokter. Penglihatan Dania dimanjakan oleh hamparan taman bunga yang sangat cantik. Semua jenis bunga langka dan mahal ada di sana. Dania sengaja berolahraga kecil untuk kebaikan dirinya dan janin yang dia kandung. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia mendengar kegaduhan di gerbang utama rumahnya yang berjarak sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri sekarang. "Tolong biarkan kami masuk! Kami ingin menemui Pak Liam!" "Pak Liam tidak ada di rumah! Jadi, silakan kalian pergi dari sini!" Mendengar hal itu, tanpa pikir panjang Dania lekas berjalan menuju gerbang utama yang menjadi sumber suara. Sesampainya di sana, Dania langsung dikejutkan dengan munculnya sosok wanita lusuh penggendong bayi yang dia temui di taman kota pada saat kegiatan kampanye suaminya. Namun, sekarang wanita itu tidak hanya datang bersama bayinya melainkan juga seorang pria paruh baya berpakaian ala pemuka agama. Sungguh, mau apa lagi wanita itu?? Baru saja Dania merasa hidupnya tenang karena tidak pernah melihat wanita itu lagi, tetapi kini dengan beraninya dia datang lagi menampakkan diri di hadapan Dania! "Ada urusan apa kalian datang ke rumah saya dan membuat kegaduhan?" sentak Dania sangat geram. "Bu Dania, tolong jangan usir saya lagi. Hari ini saya datang membawa bukti pernikahan saya dan Pak Liam sesuai permintaan Anda malam itu. Tolong dengarkan penjelasan saya, Bu Dania." Wanita asing itu menatap Dania penuh harap sembari mencengkeram besi-besi yang ada di gerbang besar tersebut. "Apa buktimu?" tanya Dania tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak menawari kedua tamu yang tak dia undang itu untuk masuk ke dalam rumah. Spontan hal itu membuat Sarifa tersenyum lebar karena merasa ada secercah harapan untuknya mendapatkan keadilan. Dengan mengucapkan pujian kepada Tuhan, wanita itu berkata, "Perkenalkan saya Sarifa dan bayi ini adalah Al Fatih, anak kandung saya dan Liam." Wanita itu sempat terdiam sejenak karena merasa sedih. Ibu mana yang tidak sedih ketika anaknya yang sudah dikandung selama sembilan bulan tidak diakui oleh ayahnya sendiri? Meskipun begitu, dia tetap tersenyum lembut. "Orang yang saya bawa ini adalah Pak Asy'ari. Beliau merupakan seorang pemuka agama yang telah menikahkan saya dan Liam. Saya sudah tidak punya orang tua." Menyadari raut wajah Dania yang seolah tidak percaya, Sarifa lekas menambahkan, "Jika Anda tidak percaya pada omongan saya, silakan Anda datang ke kampung Durian. Itu kampung Pak Liam dulu sebelum merantau ke kota Tsurayya. Tanyakan kepada seluruh penduduk kampung Durian, siapa pemuka agama di sana. Saya berani mengatakan hal ini karena saya tahu persis bahwa tidak ada pemuka agama di kampung saya kecuali Pak Asy'ari." "Mana buku nikahmu?" tanya Dania masih merasa tidak puas. Seketika wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dia memandang ke arah Dania dengan tatapan penuh keraguan, lalu berujar, "Tolong percaya kepada saya, Bu Dania. Meskipun mungkin ucapan saya terdengar seperti mengada-ada, tapi saya bersumpah demi Tuhan sudah mengatakan yang sebenarnya. Saya sudah menikah dengan Liam, tapi pernikahan kami tidak didaftarkan ke negara atas permintaan ibu mertua saya. Jadi, kami tidak memiliki buku nikah. Namun, pernikahan kami sah di mata Tuhan." Dania menatap dalam ke arah mata Sarifa berusaha mencari kebohongan, tetapi dia tidak menemukannya. Kini Dania dilanda bimbang. Haruskah dia percaya omongan wanita asing ini? Bagaimana jika ucapan Sarifa adalah kebenaran? "Demi Tuhan Yang Maha Agung, ucapan Bu Sarifa adalah kebenaran, Bu Dania. Saya adalah orang yang telah menikahkan Sarifa dan Liam," ucap Pak Asy'ari membuat kepercayaan Dania kepada suaminya semakin goyah. Namun, tiba-tiba saja suara Ibu mertuanya Dania mengagetkan mereka. "Jangan percaya dengan omongan pemuka agama gadungan itu, Dania!" Ika, ibu mertuanya Dania muncul bersama putrinya yakni Puan, adik dari Liam. Mereka berdua menatap sinis ke arah Sarifa dan Asy'ari. "Sudahlah! Mengaku saja kalian berdua! Kalian itu adalah orang suruhan dari lawan politik anakku, 'kan? Tujuan kalian hanya ingin menghancurkan karir Liam menjadi walikota!" kecam Ika. "Segeralah memohon ampun kepada Tuhan, Bu!" tegur Sarifa kepada ibu mertuanya itu. "Tega sekali kamu memfitnah kami seperti itu, padahal kamu melihat sendiri ketika Pak Asy'ari menikahkan aku dan Liam. Apakah kamu tidak merindukan cucumu?" ucap Sarifa sembari memperlihatkan wajah Al-Fatih yang sangat tampan. Bayi itu begitu pintar dengan tidak menangis atau membuat kekacauan lainnya di saat sang ibu sedang kesulitan. "Tutup mulutmu!" bentak Ika marah. "Saya tidak pernah punya cucu darimu!" Ucapan Ika sangat menyakiti relung hati Sarifa. Sekuat hati wanita itu menahan air matanya yang hendak menetes. "Ibu dan Puan tega sekali meninggalkan saya di kampung padahal saya sedang hamil. Saya tidak dikirimi uang dan tidak ada yang membantu persalinan saya. Saya benar-benar merasa sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa." Kisah wanita itu berhasil menyentuh hati Dania. Namun, Dania masih merasa bimbang antara mempercayai ucapan wanita itu atau keluarga suaminya. Akan tetapi, jika wanita itu berbohong, lantas kenapa dia berperilaku seolah dialah yang benar? "Saya tidak minta yang aneh-aneh, Bu. Saya hanya ingin keadilan untuk saya dan anak saya. Bukankah saya juga istri Liam? Bukankah Al Fatih anak Liam? Tapi kenapa kami tidak mendapatkan hak-hak kami sebagai istri dan anaknya?" "Seharusnya sebagai seorang Ibu, Anda menasihati anak Anda. Dosa besar bagi suami yang menelantarkan anak dan istrinya!" peringat Pak Asy'ari dengan sangat keras. Sarifa dan Asy'ari sungguh tidak bisa dibiarkan! Membiarkan mereka terus berbicara sama saja dengan membiarkan mereka mempengaruhi pikiran Dania. Oleh karena itu, Ika berniat mengusir keduanya. "Apa yang kalian tunggu?" bentak Ika kepada para penjaga rumah keluarga Basman. "Cepat usir mereka dari sini!" Sarifa cepat-cepat menggelengkan kepalanya karena tidak mau diusir. "Ya Tuhan, saya hanya minta keadilan! Kenapa saya diusir?" Tangisannya tak terbendung lagi ketika tangannya ditarik paksa oleh para penjaga rumah tersebut agar segera pergi. "Lepaskan saya!" teriak Sarifa berusaha melawan, tetapi hanya kekalahan yang dia dapatkan. Kini harapan satu-satunya hanyalah Dania. Patut jika Sarifa menatap istri kedua suaminya tersebut dengan tatapan penuh permohonan. "Bu Dania, tolong pertimbangkan permintaan saya! Anda akan mendapatkan fakta bahwa Al Fatih memang anak kandung Liam setelah kita melakukan tes DNA!" Bersambung .... Catatan penulis: Aku akan mengunggah novel ini secara bertahap satu bab setiap hari. Tapi kadang-kadang aku akan libur. Plagiarism merupakan tindakan membajak ide, kalimat, dan tulisan orang lain yang kemudian diakui sebagai ide, kalimat dan tulisan dirinya sendiri.

Bab 3 Tiga

Sekeras apa pun usaha Ika untuk menggagalkan rencana tes DNA antara putranya dan Al Fatih, tetapi keputusan Dania sudah bulat. Wanita itu nekat menerima tantangan Sarifa demi bisa membuktikan semuanya. Bahkan sekarang Liam sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit Bayangkara setelah Dania mengabarkan rencana untuk melakukan tes DNA tersebut. "Kamu benar-benar tidak mau mendengar omongan Ibu mertuamu, Dania? Bisa-bisanya kamu lebih mempercayai ucapan wanita asing itu ketimbang Ibu mertuamu sendiri?" Ika terus melontari Dania dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia berharap Dania akan merasa bersalah lalu membatalkan niatnya. Namun, dengan senyum cerdik Dania menjawab, "Tentu saja aku lebih mempercayai Ibu ketimbang wanita itu. Aku sengaja menyetujui tantangannya agar setelah melihat hasil tes DNA nanti, wanita itu akan merasa malu karena ternyata bayinya memang bukan anak Liam." Mendengar pengakuan Dania, seketika Ika tersenyum paksa. Dahinya berkerut seolah sedang berpikir keras mencari jalan keluar. Sementara itu, Dania pun semakin bergelut dengan pikirannya sendiri. Melihat gelagat aneh dari ibu mertuanya yang terlihat sangat cemas ketika Dania menyetujui untuk melakukan tes DNA tentu saja membuatnya merasa semakin yakin bahwa ada hal tidak beres yang selama ini disembunyikan oleh ibu mertuanya itu. "Gimana keadaan kamu, Sayang?" Setelah tiba di rumah sakit Bayangkara, Liam bergegas menuju laboratorium tempat Dania menunggunya. Pria tampan bertubuh kekar itu langsung mendekati istrinya yang sedang dihimpit Arkam dan Hani, orang tua dari almarhumah Ulya Basman—ibunya Dania. "Aku takut," ungkap Dania lirih. "Rumah sakit ini tempat ayah dinyatakan meninggal. Datang ke rumah sakit ini hanya akan membuatku teringat ayah," ujar Dania. Liam memberikan kecupan di pucuk kepala sang istri lalu tersenyum. "Aku ke laboratorium dulu untuk serahin sampel. Kamu tunggu di sini sebentar." Pria itu menoleh ke arah Sarifa yang ternyata juga tengah menatapnya dengan pandangan seolah menahan luka. Liam memberi isyarat kepada wanita itu agar membawa anaknya untuk ikut masuk ke dalam laboratorium. "Kamu percaya sama aku, 'kan? Aku berjanji hasil tes DNA ini gak akan mengecewakan kamu, Sayang," ujar Liam kepada Dania sebelum melangkah pergi diikuti Sarifa di belakangnya. "Jika hasil tes DNA nanti membuktikan bahwa Al Fatih bukan anak Liam, kamu harus berjanji untuk menjauh dari keluargaku!" sergah Dania ketika Sarifa berjalan melewatinya. Wanita berwajah hitam kusam itu menoleh ke arah Dania ketika telinganya mendengar ucapan wanita cantik itu yang sudah jelas ditujukan kepadanya. "Saya berjanji, Bu Dania," sahutnya bersungguh-sungguh. "Namun, jika hasil tes DNA itu membuktikan bahwa Al Fatih benar-benar anak Liam, maka saya minta Anda tidak lagi menghalang-halangi saya untuk mendapatkan hak saya sebagai seorang istri." Dania mengangguk singkat menyetujui hal itu. Mimpi buruk yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya bahwa dalam keadaan hamil seperti ini Dania justru didatangi seorang wanita asing yang mengaku sebagai istri dari suaminya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, secara diam-diam Dania telah mengambil sampel rambut Liam dan Al Fatih, lalu menyimpannya di dalam tas. Dania sudah bertekad akan melakukan tes DNA sendiri di rumah sakit lain tanpa sepengetahuan siapa pun! Dania sangat merasakan gelisah di hatinya dan ini adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hatinya. *** Tidak terasa sudah dua minggu berlalu setelah tes DNA Liam dan Al Fatih dilakukan. Hari ini mereka semua hadir kembali di rumah sakit Bayangkara untuk melihat hasil tesnya, sebagaimana intrupsi dari pihak rumah sakit bahwa hasilnya akan keluar hari ini. Namun, berbeda dengan kedatangan pertama mereka yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat, kini di kedatangan mereka yang kedua, rumah sakit Bayangkara telah dipenuhi oleh para wartawan yang hendak meliput. Entah dari mana mereka mendapatkan informasi tentang urusan rumah tangga Liam sebagai salah satu kandidat calon walikota Tsurayya. Pihak rumah sakit sampai kewalahan menghalangi mereka. Alhasil, para wartawan itu diizinkan masuk dengan syarat tidak membuat kegaduhan. Bagaimanapun mereka harus menghormati para pasien yang sedang sakit. "Bagaimana hasil tesnya, Pak Liam?" Seorang wartawan bertanya dengan sopan. "Keluarga kami yang terhormat tidak pernah berbicara tanpa bukti! Jadi, silakan lihat sendiri hasil tes ini dan beritakan kepada masyarakat!" ucap Liam sambil menyerahkan kertas berisi hasil tes DNA Liam dan Al Fatih kepada seorang wartawan yang berdiri di hadapannya. Sontak saja para wartawan berebut ingin mengambil foto kertas tersebut. "Hasilnya tidak ditemukan kecocokan!" Salah seorang wartawan berujar ketika membaca kertas berisi hasil tes tersebut. "Iya, ternyata tidak cocok!" sahut yang lainnya. Ika dan Liam lantas tersenyum puas mendengar hal tersebut, tetapi berbeda halnya dengan Sarifa dan Asy'ari yang justru sangat terkejut ketika mendengar pengakuan para wartawan setelah mereka membaca hasil tes DNA Liam dan Al Fatih. "Tidak mungkin!" sangkal Sarifa seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali karena merasa tidak percaya. Dia menoleh ke arah Asy'ari dengan raut pias. "Demi Tuhan, Pak Asy'ari, saya tidak pernah berzina. Saya berhubungan hanya dengan Liam saja. Liam adalah suami saya. Anda sendiri yang menjadi penghulu pernikahan kami." "Bagaimana mungkin Anda berani bersumpah seperti itu sedangkan hasil tes DNA ini 99% sangat akurat!" Seorang wartawan menyela ucapan Sarifa. Kini wajah Sarifa pun tak luput dari kamera. Seolah merasakan kesedihan sang ibu, Al Fatih yang semula tertidur kini langsung terbangun dan menangis kencang. Melihat hal itu membuat perasaan Sarifa semakin teriris. Dia sangat paham bahwa bayinya merasa lapar, tapi Sarifa tidak bisa memberikannya susu karena asinya tidak keluar secara normal. Sarifa sering kelaparan karena tak punya uang untuk membeli makanan hingga akhirnya kedua dadanya tidak bisa mengeluarkan asi dengan lancar. "Liam," panggil Sarifa lirih berniat hendak mengadu kepada pria yang dia sebut sebagai suaminya itu. "Kenapa kamu tega memfitnahku seperti ini? Anakmu kelaparan, butuh susu, tapi asiku tidak mau keluar. Apa kamu gak merasa kasihan kepada kami?" Ucapan Sarifa membuat Ika sangat kesal. "Dasar pengemis hina! Lihat saja, Sarifa! Aku akan menuntutmu dengan kasus pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong!" kecam Ika tak berbelas kasih walaupun ia tahu bahwa bayi laki-laki yang Sarifa bawa itu masih sangat membutuhkan ibunya. *** "Permisi," sapa Dania kepada salah seorang perawat wanita yang duduk di bangku administrasi rumah sakit Husada. "Bu Dania?" Perawat tersebut langsung terkejut melihat putri dari keluarga Basman yang terkenal itu tengah berdiri di hadapannya. "Apakah Anda ingin mengambil hasilnya?" tanyanya dengan suara berbisik. Bukan tanpa alasan dia bersikap demikian. Itu karena Dania telah berpesan kepada semua perawat yang terlibat dalam tes ini untuk merahasiakannya dari siapa pun. Dania pun menganggukkan kepala sembari tersenyum. "Iya," sahutnya. Lantas perawat tersebut merogoh tasnya sendiri dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas bermotif batik tersebut. "Ini, Bu Dania," katanya sambil menyerahkan secarik kertas itu kepada Dania dengan perlakuan yang sopan. "Hasil tes ini 99,99% akurat!" Dania pun mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia bergegas mendudukkan diri di salah satu kursi yang tersedia, sedangkan Arkam, Hani, dan Nailah selaku adik kandung dari mendiang ayahnya berjalan mengikuti langkah Dania. Dania menyentuh dadanya sendiri karena merasa sangat cemas dengan hasilnya ini. Adakah sama dengan hasil tes dari rumah sakit Bayangkara atau justru berbeda? "Dengan mengucap nama Tuhan," ucap Dania sembari menghembuskan napas perlahan sebagai upaya untuk menenangkan diri. Seketika tubuh Dania tersentak, bibir mungilnya menganga, dan matanya melotot. Benar-benar terbungkam setelah membaca isinya. "Hasilnya cocok!" katanya dengan suara tercekat sebab begitu syok atas fakta baru yang dilihatnya. Bersambung .... Catatan penulis: Plagiarisme atau plagiat, kadang disebut juga penjiplakan, adalah pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain.

Lanjut baca