Camelia Sinesis
Bab 1 Kesan Pertama

Dicari seorang suami Membutuhkan seorang pria sehat dengan umur berapa saja. Bersedia mencari nafkah dan berbagi tempat tinggal. Temui Camelia, di perkebunan ujung— Dia melihat catatan yang dia salin. Meski Jean tahu bahwa wanita yang disebut sebagai janda gila itu barangkali belum tentu mau menerimanya. Tapi paling tidak Jean ingin sedikit lebih berusaha untuk membuat kesan yang cukup baik pada pandangan pertama. Setidaknya dia diberi kesempatan untuk dipertimbangkan sebelum langsung dibuang begitu saja seperti sampah tak layak lantaran dirinya hanyalah seorang mantan narapidana. Dia sudah berada di lokasi yang sesuai dengan salinan catatannya, dan sekarang pria itu malah diam memandangi rumah kecil yang termaram dengan lampu minyak seadanya. Tempat itu, bukan sebuah rumah megah yang dia bayangkan layaknya rumah sang tuan tanah ditempat dimana Jena dulu pernah bekerja. Rumahnya benar-benar sangat berantakan. Kotoran ayam tercecer disembarang tempat, timbunan rongsokan yang berkarat, dan rumput liar yang menjulang tinggi membuat penampilan rumah itu jauh dari kaya layak huni. Bahkan tidak jauh dari sana ada seekor sapi yang sedang mengunyah rumput yang diletakan dibagian beranda belakang rumah. Kandangnya nyaris roboh karena kayu yang lapuk. Apa benar ini tempatnya? Niatan hatinya untuk melanjutkan ini sedikit gamang, tapi pada akhirnya pria itu memilih untuk menunggu setelah mengetuk sekali. Tak lama seorang wanita muncul dari balik ambang pintu, dia terlihat menggendong seorang anak berusia dua tahun di pinggulnya tapi yang menarik adalah warna rambut anaknya berwarna pirang dan bermata biru. Tidak seperti si wanita yang benar-benar cantik sederhana seperti wanita pasundan pada umumnya. Wanita itu bertelanjang kaki, mengenakan kain sarung yang sudah memudar dengan kelinan ujungnya yang telah terlepas, kebaya yang dia kenakan sesungguhnya berwarna putih tapi agak kuning di beberapa sisi barangkali karena air yang dia gunakan untuk membasuh. Intinya seluruh penampilannya sama berantakan dengan rumah dan juga pekarangannya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan suara datar dan begitu hati-hati seraya mengamati pria muda tinggi bertopi lusuh yang berdiri di depan pintu rumahnya. “Saya mencari rumah seorang mantan nyai bernama Camelia.” “Kamu sudah menemukannya.” “Saya datang setelah melihat selebaran yang di tempel di perkampungan.” Wanita berambut hitam tersebut mengangkat bayinya lebih tinggi dipinggul. Dia menyipitkan mata agar semakin jelas melihat kearah Jean. Dari gerak geriknya seperti wanita itu sedang berusaha menjaga jarak dari orang asing yang tiba-tiba mendatangi rumahnya dan itu adalah hal yang wajar sekali. Lagipula jika dilihat baik-baik penampilan Jean memang jauh dari kata pertimbangan dan mencurigakan. Mengenakan topi lusuh yang dia gunakan menutupi warna rambutnya, dengan kemeja lusuh yang penuh keringat serta celana hitam yang kependekan beberapa inchi sehingga terlihat menggantung di kakinya yang jenjang, di padukan dengan sepatu bot-nya yang sudah koyak. Kokokan ayam yang melompat mendapat pengabaian. Wanita itu kemudian menaruh bayi yang dia gendong agar berdiri bersembunyi di balik rok sarungnya. “Kamu berniat melamar saya?” tanya si wanita yang namanya tertulis dikoran sebagai Camelia. Dia terlihat sangat terang-terangan dengan senyuman polos diwajahnya. Dia memang membutuhkan seorang patner untuk bekerja mengurus beberapa hal yang telah kacau semenjak suaminya meninggal, juga menjaga dia dan bayi yang berada di dalam kandungannya. Perkawinan romantis seperti kisah romansa klasik penuh cinta bagi Camelia hanya ada di dalam negeri dongeng. “Ya, saya rasa begitu.” “Tapi saya mencari seorang seseorang yang siap dan bertanggung jawab penuh.” “Saya siap.” “Disini kami tinggal berdua, dan sebentar lagi akan menjadi bertiga,” terang Camelia agak gugup. “Saya tahu.” “Kamu masih tertarik?” tanya Camelia tidak percaya. “Maksud saya ….” Camelia kehabisan kata-kata dan hanya dapat merentangkan kedua tangannya di udara seolah menunjukan ketidakberdayaannya. Ada banyak kekacauan di rumah itu, seperti sampah yang menggunung dan berterbaran dimanapun juga beberapa kotoran dari hewan ternaknya yang tidak terurus. Selama ini Camelia memang sudah sangat terbiasa dianggap sebagai aneh dan gila. Dia tidak lagi menaruh harapan tinggi, karena sejak kekayaannya berangsur habis dia mulai terbiasa untuk kecewa dan dikecewakan. Sejak memasang iklan, sudah terhitung banyak orang yang datang kekediamannya hanya sekadar untuk menuntaskan rasa ingin tahu dan penasaran saja. Bukan untuk benar-benar memutuskan menikahinya. Mereka datang hanya untuk mencemooh dan tertawa atas nasib buruk yang harus dia rasakan di usia yang masih muda. Semua orang bilang dia hanyalah seorang janda gila yang kesepian yang membutuhkan belaian bule untuk memuaskan hasrat. “Saya rasa begitu. Banyak hal yang sepertinya membutuhkan banyak perbaikan ditempat ini,” ujar Jean seraya mengangkat bahu. Sama seperti Camelia, Jean seyogyanya juga tidak mau terlalu banyak berharap. Dia sudah terlanjur dibayangi oleh kata kecewa. Sudah terlalu banyak pengalaman pahit dihidupnya, mungkin akan jadi bertambah dengan dia yang ditolak oleh orang gila. Jadi untuk alasan apapun dia bahkan tidak berani berharap bahwa wanita ini mau menerimanya begitu saja. “Kalau begitu bisa tolong buka topinya? Saya tidak suka bicara dengan orang yang tidak bisa saya lihat wajahnya dengan jelas.” Sejujurnya Jean tidak suka melepas topinya. Sejak keluar dari penjara dua tahun lalu hanya topi lusuh ini saja yang menjadi penutup dirinya dari dunia luar atas identitas aslinya sebagai orang belanda. Tanpa topi itu, Jean merasa telanjang. Tapi untuk mendapatkan penilaian terbaik, Jean secara sukarela membuang ketakutannya dan membiarkan wajahnya terekspos bebas oleh si wanita. Camelia sendiri langsung mengamati wajah Jean dengan lebih seksama. Pria itu… sangat tampan. Fitur wajahnya tidur dengan hidung tinggi yang mancung khas orang Belanda. Rahangnya terlihat tegas dan kokoh. Suaranya tenang dan datar dengan mata biru kelabu agak gelap yang terlihat menyembunyikan sebuah kabut kepahitan akan arti kehidupan. Meski begitu definisi yang tepat untuk kedua mata itu adalah cantik. Bibir tamunya tidak tersenyum, tapi bentuknya terbilang indah melengkung keatas. Anehnya Camelia menyukai kehangatan yang tersembunyi dibaliknya. Surai pirangnya terlihat acak-acakan seperti anjing pengembala, membuat Camelia sedikit gatal ingin mengelus tiap helaiannya. “Kamu sepertinya harus memotong beberapa bagian dari rambutmu sedikit,” komentar Camelia dengan suara yang melembut. “Iya Nyai…” “Camelia. Nama saya Camelia. Kamu sendiri sudah lihat di koran bukan?” “Ya. Dan nama saya Johannes tapi saya lebih suka di panggil Jean.” Camelia tahu bahwa Jean bukan tipe pria yang senang banyak bicara seperti seperti mendiang suaminya dahulu. Karena itu melihat Jean yang tetap diam, akhirnya Camelia kembali memutuskan untuk memulai pembicaraan lagi dengan pemuda itu. “Sudah dua bulan lamanya saya memasang iklan di koran. Dan kamu adalah pemuda yang cukup bodoh untuk menjawab iklan itu. Maaf sebelumnya saya sudah salah mengira bahwa kamu adalah orang yang hendak menghina saya seperti biasa. Karena biasanya memang yang datang selalu pria dan mereka kemari hanya untuk menghina saya saja yang sudah tidak lagi berjaya dan kehilangan suami,” jelas Camelia dengan nada pahit yang tidak bisa disembunyikan. “Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. Wajar saja bila mereka menganggap saya gila karena saya hancur tepat setelah suami saya meninggal. Sudah resiko saya sebetulnya, sebagai nyai yang ditinggal mati suami situasi saya menjadi ambigu secara hukum dan sosial dan orang men-cap saya sebagai perempuan rendahan. Saya justru heran mengapa kamu belum lari terbirit-birit seperti para tamu saya sebelumnya, Tuan Jean.” Seuntai senyum sedih bermain disudut bibir Camelia. Jean mengamati wajah polos wanita itu lagi. Dia masih muda, dan cantik. Hanya saja kepahitan hidup yang sudah dia jalani membuat wanita itu jadi terlihat lebih tua dari usia aslinya. Anehnya Jean merasa bagian dari dirinya agak tersentuh, sudah lama sekali dia tidak mendengar ada orang memanggilnya dengan sebutan Tuan selayaknya panggilan yang memang diperuntukan untuk para orang Belanda yang hidup menetap di tanah jawa sebagai penguasa. “Sebenarnya bukan saya yang harus lari terbirit-birit sekarang, Jika kamu tahu tentang siapa saya sebenarnya. Sebetulnya saya adalah seorang mantan narapidana. Saya pernah membunuh orang belanda di rumah bordil dan dipenjara selama sepuluh tahun,” terang Jean jujur. Jadi apa yang akan wanita itu lakukan sekarang?

Bab 2 Fakta

Kini Camelia terlihat mengamatinya dengan ekspresi yang agak tajam dari sebelumnya. Jean mendesahkan napasnya. Sudah pasti sebentar lagi dia akan diusir. “Ya, setiap orang punya masa lalu. Kamu sudah menebus kesalahanmu itu, saya tidak merasa punya hak untuk menghakimimu atas hal yang sudah terjadi dimasa lalu dan lagi hal itu tidak bisa diubah. Sebaiknya masuklah kedalam Tuan Jean, jika terlalu lama diluar kamu mungkin akan merasa kedinginan.” Ketika pintu rumah dibuka lebar-lebar oleh pria itu, Jean hanya bisa terperangah tidak percaya terhadap pendengarannya. Ternyata wanita itu bukan cuma gila. Dia benar-benar begitu bodoh karena sudah membiarkan seorang mantan narapidana yang telah membunuh seseorang masuk begitu saja kedalam rumahnya tanpa curiga. Seolah bisa membaca keraguan yang merayap dalam benak Jean, Camelia berbalik kearah pemuda itu lagi dan memberikannya sebuah senyuman kecil. “Saya percaya padamu. Kadang percaya atau tidak saya sudah bisa membaca seseorang itu cukup baik atau jahat hanya dari menatap matanya saja.” Jean merasa dadanya membuncah bahagia. Untuk pertama kalinya dalam pelarian sejak keluar dari penjara baru kali ini ada orang yang mau menerimanya dengan tangan terbuka tanpa menghakiminya sedikitpun. Apalagi orang itu adalah wanita pribumi yang jelas-jelas punya banyak alasan untuk membencinya. Entah karena cahaya lampu yang membias ataukah memang senyum Camelia semata yang membuat wajah wanita itu jadi terlihat semakin menarik dan lembut dimata Jean. Begitu menapak kedalam, sudah tercium aroma makanan yang membuat Jean merasa perutnya keroncongan. Aromanya begitu hangat. Camelia dengan cekatan segera mendudukan putrinya di atas tikar yang digelar di tanah. Lantai rumahnya memang tidak dipoles sedemikian rupa, benar-benar hanya tanah. Camela kembali dengan sepotong singkong rebus yang telah dingin kemudian dia selipkan pada sepasang tangan mungil si kecil yang gemuk dan mahluk mungil itu langsung membawa potongan singkong tersebut ke bibirnya yang merah dan basah dengan air liur untuk melahapnya bulat-bulat. Jean tersenyum perlahan. Entahlah… melihat Camelia yang sedang menyiapkan makan untuk putrinya membuat naluri primitif didalam dirinya muncul secara tidak terduga. Dia yang sudah terbiasa hidup dengan dunia yang keras dan kejam tidak pernah menyangka akan tersentuh oleh kelembutan seorang wanita berperut bulat seperti semangka yang mencoba merawat anaknya dengan penuh kasih sayang seperti ini meski dalam kesederhanaan yang nyaris lebih seperti kekurangan. Gelak bayi yang terceguk dan ada ocehan yang ramai keluar darinya menyuarakan betapa tak sabarnya dia menunggu hidangan yang sedang disiapkan oleh sang Ibu. Keindahan itu memang kadang muncul dari hal-hal yang sederhana dan begitu alami. Entah mengapa, Jean tiba-tiba teringat pada Tuhan dalam situasi ini. Tuhan yang sudah entah berapa puluh tahun lamanya sempat dia lupakan karena terlalu fokus pada hidupnya yang dipenuhi oleh penderitaan. “Tuhan, untuk kali ini saja aku memohon berilah aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.” Saat itulah Jean menatap kearah dinding. Disana tersimpan rapi potret seorang pria dengan pakaian tentara dan seorang wanita yang tidak lain adalah Camelia berdiri berdampingan dan tersenyum ke depan. Mata Jean membulat seketika. Kedua tangannya bergetar, kepalanya terasa pusing dan ingatan berdarah langsung menghantamnya dengan mudah. Ulu hatinya terasa perih dalam hitungan detik. Susu basi, jambu muda yang rasanya asam dan pahit yang dia sempat konsumsi sebelum tiba ditempat ini bukanlah jenis kombinasi terbaik untuk perutnya. Apalagi dengan pemandangan yang dia dapati didalam rumah kumuh ini. Tanpa bisa ditahan ia pun bergegas menghambur ke luar halaman dan memuntahkan isi perutnya hingga habis tidak bersisa. Dia menatap kearah pergelangan tangannya, seolah menemukan darah yang berceceran disana. Mustahil. Kenapa dari sekian banyaknya orang yang dia temui, kenapa Jean justru harus menemukannya di rumah yang sehangat ini? Potret yang diabadikan di ruang keluarga rumah ini… jelas-jelas adalah pria yang menjadi korban pembunuhannya sepuluh tahun lalu. Bagaimana ini? *** Camelia mendengar ada sebuah keributan, karena itulah dia lantas keluar dari dapur dan menemukan kursi yang diduduki oleh Jean beberapa saat lalu telah kosong. Dia sesaat tidak bisa menahan senyum sedih dan sedikit rasa kecewa. Entah mengapa, padahal beberapa saat yang lalu dia sempat memiliki sebuah pengharapan dan adanya keajaiban barangkali pria misterius tadi mau menemaninya disini. Tapi ternyata, sama saja. Dia tidak berhak untuk terus meminta. Camelia lantas menaruh semangkuk sup jagung dan menuangkannya pada tiga piring berbeda yang telah tertata di atas atas tikar lusuh. Hanya bisa pasrah. Apa lagi yang bisa dia harapkan sekarang? dia hanyalah seorang wanita hamil yang miskin, tidak cantik, punya satu anak kecil yang masih membutuhkan perhatian dan asuhan, dan… gila. “Hoeekk … Hoeekk ….” Suara orang yang terdengar sedang muntah-muntah membuat Camelia terperanjat kaget. Wanita itu bergegas lari membawa kaki telanjangnya menuju kearah beranda. Tampak di halaman sosok pria yang baru saja menjadi tamu dikediamannya sedang membungkuk dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Camelia mengangkat alisnya. Apa dia sakit? Bila benar sudah bisa dipastikan dia tidak memenuhi kualifikasi dari orang yang dia butuhkan. “Kamu kenapa?” Jean terlihat mengatur napasnya meski sedikit terengah. Sebelum akhirnya dia bisa berbalik dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan. “Kurasa karena susu basi yang saya minum tadi siang.” “Susu basi? Kamu meminum susu basi? Saya pikir pria dewasa seharusnya memikirkan lebih dulu apa yang mereka konsumsi ke tubuh dengan akal sehat.” “Akal sehat tidak membuat saya jadi kenyang, Nyai.” “Sudah berapa hari kamu tidak makan dengan layak?” Jean tidak angkat bicara, dia memilih diam saja. Membuat Camelia pada akhirnya menghela napas kemudian menawarkan tangannya membantu pria itu berdiri. “Mari masuk kerumah. Saya sudah buatkan sesuatu untuk mengisi perutmu malam ini. Meskipun apa yang saya suguhkan jauh dari kata mewah, tapi setidaknya lebih layak untuk dimakan.” “Tidak usah. Saya tidak bisa….” “Tolong kembalilah ke dalam rumah, Tuan Jean! Harga diri tidak akan membantumu bertahan hidup. Saya tidak bermaksud untuk memaksa tapi percayalah tidak berguna untuk mempertahankan gengsi. Kecuali kalau kamu lebih suka hal itu mematahkan iga dan juga merobek kulitmu yang tipis.” Jean meraba perutnya yang perih, seraya menatap kearah uluran tangan yang menanti untuk disambut. Senyum tipis yang hadir disudut bibir membuat ucapannya yang sedikit kasar malah terdengar biasa saja. Mungkinkah karena Jean sudah terbiasa dengan celaan dan makian? Atau karena memang pada dasarnya karena wanita ini adalah alasan atas pengecualian itu sendiri? sebab caranya memarahi Jean sekarang seperti sedang menceramahi seorang anak kecil yang nakal. Wanita bertubuh mungil ini peduli padanya, dan itu lebih Jean butuhkan dibandingkan apapun. Hanya saja… Apakah dia bisa berpura-pura tidak tahu ? Lantaran dia adalah sabab musabab mengapa wanita ini bisa jatuh dan hidup dalam nestapa seperti sekarang. Karena Jean adalah pelaku yang membunuh mendiang suaminya. Apa bisa dia menetap ditempat ini? Dia memohon dalam hatinya, “Kumohon… pertahankanlah aku. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menebus seluruh dosaku padamu.” Tangan yang terulur mendapatkan sambutan, senyuman Camelia kian merekah tatkala membantu Jean berdiri dari posisinya. Wanita itu menuntunnya untuk masuk kedalam. Kembali Jean mendapatkan kehangatan dari gubuk reyot berantakan serta celotehan dari si malaikat mungil di dalam rumah. “Duduklah…,” ujar Camelia pada Jean dengan nada setengah memerintah, seraya menepuk sisi di atas tikar yang kosong untuk dia duduki. Sementara Jean menatap kearah kudapan yang tersedia di atas tikar, diam-diam Jean menatap jari-jari Camelia yang sedang mengelus rambut priang putranya dengan sangat lembut. Membuat Jean bertanya-tanya apakah sosok ibunya dahulu pernah membelai rambutnya dengan cara seperti itu juga. Jean tidak bisa mengerti. Dihadapan seorang wanita yang sangat biasa dan dengan kecantikan yang sederhana ini, dia justru malah merasakan kedamaian seperti seorang anak yang letih dan ingin dipeluk hingga terlelap dalam dekapan. Jean perlahan meraih cangkir yang ada dihadapannya. Secangkir teh yang masih mengepul menarik perhatiannya. Ketika menyesap cairan pekat tersebut, seluruh tubuhnya terasa dibanjiri oleh kehangatan yang dia butuhkan. Jean menutup kedua matanya rapat-rapat. Apakah memang rasa teh pada dasarnya selalu senikmat ini? “Maafkan saya, saya tidak punya gula jadinya saya hanya bisa menyajikan teh tawar.” “Ini lebih dari cukup, Nyai. Rasanya sungguh nikmat.” “Syukurlah. Saya sangat khawatir karena tidak bisa memberikan hidangan terbaik.” “Sejujurnya semua ini melebihi harapan saya,” balas Jean jujur. Dia melirik kembali kearah potret yang terpajang. Menatap lekat-lekat dan sekali lagi dadanya terasa menyempit. Kegelapan tidak hanya merajai didalam dirinya, namun juga turun merajai bumi yang dipijaknya. Angin diluar berhembus masuk melalui celah rumah yang bolong, sedikit membuat api dalam lentera meliuk-liuk. Bunyi hewan nocturnal diluar bernyanyi syahdu. “Apakah saya bisa dibilang sangat tidak tahu diri bila berharap sekarang?” Jean tiba-tiba berucap sambil menatap kearah potret itu lagi, kemudian pandangannya mengarah pada Camelia dan putranya yang tengah asyik mengunyah singkong rebus dengan mulut belepotan lantaran dia mencelupkannya ke dalam sup jagung. “Apa yang kamu harapkan?” “Dimaafkan.” “Harapan akan selalu ada,” jawab Camelia. Suaranya terdengar tenang dan begitu bersahaja. Sesaat Jean merasa dia baru saja diterangi didalam kegelapan. Seolah wanita itu benar-benar memberinya ampunan padahal kenyataannya duduk perkaranya saja sang nyai tidak tahu. “Saya harap saya benar-benar diampuni.” “Saya percaya bahwa setiap orang bisa berubah. Bahkan meski kamu telah berbuat buruk dimasa lalu, saya yakin kamu punya alasan yang kuat sampai nekat melakukan hal buruk itu.” “Ya. Tapi dibandingkan itu saya lebih memilih untuk tidak dilahirkan saja sejak awal.” timpal Jean membuat suasana di ruang makan menjadi sangat canggung seketika.

Bab 3 Penuh Syukur

“Untung tadi kamu muntah sebelum makan masakan saya, Tuan Jean. Kalau sampai kamu muntah setelah menyantap masakan saya, saya mungkin akan sedih dan kecewa,” kata Camelia mencoba sekali lagi untuk menetralisir suasana yang terlanjur canggung beberapa saat yang lalu sambil menyendok sup jagung panas nan harum ke mangkuk Jean membuat si pria yang sempat merenung itu bisa sedikit memperlihatkan senyumannya. Senyuman yang sudah sangat lama dan jarang terlihat di bibirnya yang melengkung indah sehingga menampakan lesung di pipi kanannya. Senyuman yang mampu membuat pria maupun wanita bertekuk lutut dibawah kakinya. Tapi itu dulu. Ya, dulu sekali sebelum dia menjadi seorang narapidana. Setelah keluar dari penjara tidak ada satupun dari orang-orang yang dulu menjilat sepatunya mengumbar kata sayang dan cinta bersedia memberinya kesempatan. Para pria maupun wanita itu semua mendepak dia dan membanting pintu tepat didepan hidungnya bahkan sebelum Jean sempat mengatakan kata pertama. Berbeda sekali dengan wanita dihadapannya sekarang ini. Wanita sederhana, bertangan kurus namun kasar karena sering bekerja keras. Mengenakan baju yang lusuh tetapi berhati bersih tak tercela. Wanita yang lahir dari negeri jajahan bangsanya itu sama sekali tidak menghakimi kesalahan yang pernah dia perbuat di masa lalunya. Wanita itu benar-benar tulus menerimanya, tanpa syarat apapun. Nyai Camelia hanyalah seorang wanita biasa namun menarik dengan caranya sendiri. Dengan gelak tawanya ketika bercanda dengan putranya, kedua tangannya cekatan mengurus beberapa hal dalam satu waktu. Memasak dan juga menggendong tubuh montok putranya yang agak manja meski napasnya sampai tersenggal-senggal. Nyai Camelia itu istimewa. Karena itulah meski baru bersamanya sebentar Jean langsung tahu bahwa Abel adalah anak yang paling beruntung dan bahagia di dunia ini karena memiliki ibu yang sesempurna Nyai Camelia. Jean sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa rumah yang sangat tidak terurus ini dapat memiliki aroma harum yang menimbulkan gelenyar hangat dihatinya. Seolah kekosongan itu dapat terisi penuh dan membuncah dengan rasa manis. “Makanlah Tuan Jean. Jangan hanya dilihat saja, karena saya membuatnya bukan untuk dipandang.” Mendapatkan titah demikian Jean mulai mengambil sendok yang tersedia sembari mengawasi Nyai Camelia yang bergerak ke sekeliling dapur serta meja makan untuk merapikan hasil karya putranya, Abel yang kini sudah tertidur lelap. Hasil karya itu berupa lumatan rebus singkong yang berterbangan ke segala arah dan juga ceceran sup jagung yang tumpah kemana-mana. Wanita itu nampak sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini, sebab Jean tidak menemukan adanya keluhan yang biasa akan keluar dari mulut orangtua yang mengurus anak-anak mereka yang masih kecil. Sesekali wanita itu menegakan tubuhnya dengan agak meringis, nampaknya dia merasakan bagian punggung bawahnya sedikit kaku dan keram. Tentu saja itu menjadi dua kali lipat menyiksa karena dia sedang hamil pula. Jean mengamati seraya makan dengan setenang mungkin, meskipun rasanya mustahil baginya untuk bersikap demikian karena sejujurnya dia telah sangat kelaparan. Air liurnya yang sudah menggenang di bawah mulutnya sejak dia mencium bau nikmat dari sup jagung yang disediakan khusus untuk dirinya. Dan benar saja ketika pria itu menyendokan sup jagung itu kemulut rasanya senikmat aromanya. Dia yakin, bila dia masih hidup hingga tiga ratus tahun lagi pun dia tidak akan pernah melupakan rasa masakan ini. Belum lagi ketika dia mengkombinasikan sup jagung tersebut dengan rebusan singkong hangat yang baru diletakan oleh Camelia di atas piringnya. Singkong rebus hangat lembut yang baru keluar dari panci besar tersebut telah beri sedikit garam sehingga ada rasa gurih. Sebuah kombinasi yang sempurna untuk kudapan makan malam yang terbilang mewah untuk Jean. Namun ketika seluruh hal baik ini berjalan sebagaimana mestinya, kenangan buruk terlintas kembali dibenak pria itu. Kenangan akan sosok sipir bermata satu di penjara dahulu. Dia selalu memiliki mata yang menatapnya tajam lengkap dengan senyum mengejek dan mencemooh yang tidak pernah lepas dari air muka pria itu. Sipir sialan itu selalu menyuruhnya untuk menggonggong lebih dulu layaknya seekor anjing setiap kali jam makan tiba. Setelah puas menghinanya barulah dia akan memberinya upah dengan cara memberi jatah makan di atas piring kaleng yang dilemparkan begitu saja hingga isinya berhamburan diatas lantai yang kotor. Sesungguhnya hanya rasa lapar saja yang membuat Jean melupakan harga dirinya, dia tidak keberatan mencomot makanan itu dari lantai dan mengunyahnya dengan mati rasa. Hati pria itu terasa sakit, membuat dia kemudian tanpa sadar mendesah berat membuat wanita baik hati yang sibuk disekitarnya itu mulai menoleh dan memberikan atensi berlebih kepadanya lagi. Jean telah menandaskan hidangan sederhananya, namun Camelia justru menemukan bagaimana netra abu-abu gelap yang semula menghangat itu kembali berubah menjadi jenis tatapan tak berdaya layaknya hewan yang terluka dan dipojokan oleh banyak luka. “Kemarilah Tuan Jean, kamu mungkin akan merasa lebih baik bila sudah membersihkan diri,” saran Camelia akhirnya sambil menaruh sebuah ceret besar berisi air di atas tungku kayu yang masih menyala. Jean menatap tak percaya pada apa yang sedang wanita itu lakukan terlebih ketika dia menyadari bahwa Camelia sedang menyiapkan beberapa peralatan mandi dan baskom berisi air hangat yang telah dia didihkan entah sejak kapan. Jean mendekat, dia berdiri diam ketika Camelia menuntunya ke pintu belakang dan menaruh baskom air tersebut disana. Pria menatap handuk putih yang Camelia berikan dengan tangan sedikit gemetar sebelum membawa benda itu ke pipinya. Handuk itu begitu putih, lembut, bersih, dan juga harum sabun. Entah sudah berapa tahun lamanya Jean tidak pernah memegang benda yang selembut dan seputih ini dalam hidupnya. Sepuluh tahun mendekam dibalik jeruji besi dia hanya bisa menggunakan handuk kumal berbau sangat apek sebagai lap badan yang bahkan belum tentu setiap enam bulan sekali handuk itu diganti oleh sipir penjara. Jean masih belum sepenuhnya dapat mempercayai hal baik yang dia terima baru baru ini. Pria itu berdiri kaku dengan lengan dimasukan secara perlahan ke dasar baskom. Setelah memejamkan matanya dia lantas menangkup air hangat itu dengan kedua belah telapak tangannya dan membasuhkannya ke wajah juga ke rambutnya. Sungguh betapa dia sangat meresapi semua kemewahan ini. Kepala pria itu tertunduk sehingga bulir-bulir air hangat kembali jatuh dan menetes ke dalam baskom dari helaian rambut sewarna emasnya. Erangan lembut keluar dari bibirnya yang setengah membuka. Kemudian dengan kegembiraan polos layaknya seorang anak kecil dia kembali membasuh berkali-kali wajahnya yang lusuh untuk kemudian mengibas-ngibaskan rambutnya seperti anak anjing kecil hingga air tersebut memercik ke segala arah. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah mencuci muka dengan air hangat. Air yang dikenalnya hampir sepanjang umurnya hanyalah air dingin. Entah itu dari sungai, danau, atau palungan tempat minum kuda. Tidak pernah dia mendapati kemewahan seperti ini dalam hidupnya. Perlahan Jean menyeka wajah, leher, dan rambutnya dengan handuk putih lembut tersebut. Handuk itu terlalu nyaman digunakan untuk hal seperti ini, baunya begitu harum dan berbau udara segar. Alasan mengapa Jean berspekulasi demikian adalah karena seringkali dia mengeringkan dirinya sendiri dengan kemeja lusuh yang dia kenakan atau jika sedang beruntung dengan bantuan sinar matahari.

Lanjut baca