Terjerat Dendam Pernikahan
Bab 1 Tragedi Pernikahan

Bab 1. Tragedi Pernikahan Seorang wanita yang mengenakan baju pengantin, memasuki mobil jemputan yang dikirimkan oleh calon suami. Wajah yang sudah dipoles make-up tipis tersebut sudah membuat Denara Maurenza begitu cantik dan anggun. Bibir tipis tertarik ke atas sehingga menciptakan sisi lesung pipi ketika menyinggung seuntai senyuman. Bunyi notifikasi masuk. Jari lentiknya segera menggeser layar ponsel dan membaca pesan yang dikirimkan oleh calon suaminya. [ Aku tidak sabar ingin melihat kecantikan darimu, sweety. Segeralah datang. Aku menunggumu ] Perlahan, mobil metalik mewah warna hitam itu melaju membelah jalan raya untuk menuju ke sebuah gedung mewah milik calon suaminya, Reyzain. Denara segera menyusun kalimat untuk dikirimkan kepada calon suaminya. [ Hehehe, bersabarlah sayang. Aku akan datang kepadamu. Dan setelah itu, kau berhak ingin melakukan apapun padaku! ] [ Bolehkah tunjukkan foto atau sekadar Video Call? Sungguh aku ingin melihat dirimu secara langsung ] Denara tersenyum singkat dan melanjutkan balasan. [ Tunggulah sampai aku tiba di gedung pernikahan kita. Kau bisa memandang diriku dengan puas nantinya ] [ Aku tidak sabar. Dan mintalah sopir pribadiku untuk segera cepat, please ] [ Biarkan saja kau menunggu, aku jadi penasaran, pasti wajahmu saat ini kusut. Wkwkwk ] Denara malah meledek. [ Awas saja bila kita sudah sah. Aku tidak akan membiarkan dirimu lari dan beranjak sejenak dari kukunganku! ] Lagi-lagi Reyzain melemparkan godaan hingga membuat pipi Denara merona seketika. [ Aku menantikannya. Sebuas apa kira-kira suamiku nantinya? Hahaha ] diujung kalimat, wanita yang mengenakan gaun putih tersebut menyisipkan emoticon terbahak-bahak. [ Tunggu saja nanti. Love you ] Saat Denara ingin mengirimkan sebuah balasan, mendadak mobil yang dikendarai oleh dirinya dan sopir tidak bisa dikendalikan sebab rem blong. Membuat wajah cantiknya terlihat pucat. Apalagi saat di tikungan, mobilnya menabrak mobil putih yang hampir saja memasuki pelataran gedung pernikahan. Bruuuk! Bunyi dentuman membuat dua mobil itu rengsek. Sang sopir masih terjebak dalam mobil yang menghimpit dirinya, cairan kental warna merah tersebut menetes dari kening, telinga dan juga hidung. Denara terpental keluar dan kepalanya langsung saja menabrak besi penyangga lampu. Darah segar membanjiri kepalanya hingga menembus ke trotoar parkiran. Sementara di mobil putih, Artur yang menyetir menghembuskan nafas terakhirnya seketika. Sementara wanita di sebelahnya hanya menatap dashboard mobil sehingga membuat dirinya pingsan. Dalam hitungan detik, orang-orang yang mendengar bunyi dentuman mobil yang bertabrakan tersebut saling berhamburan keluar. Reyzain menyeret langkah kakinya pada sosok wanita yang sudah terkapar di lantai parkiran mobil. Jantungnya berdetak kencang dengan kekhawatiran yang sangat kentara terlihat dari seraut wajah oval yang mengenakan tuxedo warna putih yang senada dengan Denara. Saat langkahnya semakin dekat, dan ketika mengetahui bahwa yang tergeletak adalah calon istrinya, Reyzain berteriak histeris. "Tidaaak! Denaraaa!" Lelaki itu segera mendekap Denara, baju putihnya terkena noda cairan merah yang terus-menerus mengalir dari tempurung calon istri. Ia segera membopong tubuh lemah itu ke dalam mobil guna melajukan menuju ke rumah sakit dengan menyetir kesetanan. Sesampainya di rumah sakit, tubuh Denara segera diletakkan di brankar dan memasuki ruangan ICU. Sayangnya ia tidak diizinkan masuk sebab sang dokter mencegahnya. "Mohon Tuan tunggu sebentar supaya tim medis memeriksanya!" cegah perawat wanita yang melarang Reyzain untuk masuk. Meskipun kesal, ia menurut. Bibirnya terus berdoa agar calon istri selamat. "Ara, semoga kau baik-baik saja. Bagaimana bisa kau mengalami kecelakaan saat kita hendak melakukan pemberkatan pernikahan?" tanyanya yang dijawab oleh angin. Di saat Reyzain menunggu, datanglah tiga orang yang sangat Reyzain kenal. Salah satunya adalah sopir pribadinya. Juga sahabat dekat calon istrinya, Valenzuela dan Artur. Meskipun penasaran ia tetap menunggu sang dokter yang memeriksa Denara keluar. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, Dokter Edmon memberikan informasi. "Hmmm, tuan, sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu!" ucapan yang ambigu itu membuat Reyzain bertanya-tanya. "Katakanlah, cepat. Bagaimana keadaan calon istri saya?" "Sebenarnya, wanita tadi, sudah meninggal saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Kami sudah berusaha membuat jantungnya kembali dengan alat kejut jantung, akan tetapi--," Perkataan sang dokter dijawab oleh Reyzain. "Tidak mungkin! Dokter pasti salah. Coba periksa sekali lagi!" Reyzain berteriak dan menyeret tangan sang dokter. Meskipun terpaksa, dokter itu melakukan kembali pemeriksaan dengan alat kejut jantung. "150 Joule!" teriak dokter yang segera mendekatkan dua alat kejut jantung pada tubuh mempelai wanita. "Sekali lagi!" teriak Reyzain histeris. Ia bahkan sudah melihat pada alat elektrokardiogram yang grafiknya sudah lurus. "200 Joule!" Terakhir kali dokter berseru, "300 Joule!" "Cukup! Jangan ulangi!" seru Reyzain menghentikan aksi tim medis. Ia menggeleng kepala berulang kali, mencoba menampik kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah berpulang ke pangkuan sang Pencipta. Reyzain segera menghambur ke pelukan Denara dan mengeluarkan cairan bening serupa kristal. Mencoba membangunkan wanita yang terbujur kaku itu dengan bisikkan, "Sayang, hei. Ayo bangun. Jangan bercanda. Bukankah kau berjanji bahwa kita akan menikah. Sekarang, ayo bangun." Tim medis yang melihatnya tidak tega dan melihat ke arah jam dinding. Mengumumkan berita kematian. "Pasien meninggal pada pukul sepuluh lima belas menit." "Tidak, sayang. Hei. Aku tahu kau mendengarkan aku, iyakan?" tanya Reyzain dengan menepuk-nepuk wajah Denara yang pucat. Meskipun tak ayal, wajahnya tetap cantik. Hanya terdapat perban di bagian kepala yang semakin berwarna merah. "Sayang, bukankah kau berjanji akan memberikan aku banyak anak nantinya? Hmmm, sekarang kenapa kau malah tidur?" rancau Reyzain dan mendapati bahwa wanita yang tertidur itu tidak bergerak sama sekali. Kedua tangannya terkepal. Ia bergegas menggendong tubuh calon istrinya tersebut dengan langkah lunglai. Ia telah kehilangan separuh nafas dalam hidupnya. "Tu-tuan?" sapa sang sopir yang tadi berkendara dengan Denara. Lelaki yang memakai perban dan sedikit pincang itu melontarkan tanya, "Bagaimana keadaan Nona Denara?" Reyzain menghentikan langkah. Ia mendengar suara yang begitu familiar tersebut lantas menjawab, "Bagaimana bisa calon istriku mengalami kecelakaan, hah? Apakah kau tahu, bahwa Denara ... Dia--" Reyzain tak kuasa mengatakan bahwa wanita yang dalam gendongan itu sudah meninggal. Lidahnya terlalu kelu. Sang sopir segera menjelaskan dengan menunduk. "Maafkan saya, Tuan. Tiba-tiba saat memasuki gedung, rem mengalami blong. Dan kami tertabrak oleh mobil putih." "Segera cari tahu siapa pelaku yang mengendarai mobil tersebut, dan laporkan padaku dengan detail. Jangan ada satupun yang terlewat!" Usai mengatakan itu, Reyzain memindahkan Denara di jok mobil. Kali ini, ia sendiri yang akan mengurus pemakaman kekasihnya. Disisi lain, Valenzuela baru saja membuka netra abunya dan merasakan sakit kepala yang begitu hebat. Pandangan merotasi ke sekeliling ruangan, hanya ada dirinya dan Artur yang sedang diperiksa oleh dokter. Wanita yang mengenakan dress warna cream itu menghentakkan tubuhnya menjadi duduk. Ia segera turun dari ranjang dan mendekat ke arah kekasihnya. "Dokter, bagaimana dengan kekasihku?" tanyanya lembut dan ia berusaha menopang tubuhnya yang masih sempoyongan. Meskipun sudah berusaha, namun mau tidak mau, dokter perempuan itu mengatakan sesuatu. "Maafkan saya Nona. Kekasih anda terlambat di bawa rumah sakit sehingga ...." "Sehingga apa?" tanya Velenzuela menuntut tanya.

Bab 2 Wanita Pembunuh

Dengan berat hati, sang dokter buka suara, "Dia sudah meninggal di tempat kecelakaan Nona. Mohon bersabar dan tenangkan diri Nona. Saya permisi!" Deg. Pernyataan tersebut bagaikan terkena sengatan listrik dengan tegangan tinggi. Menyetrum hingga membuat dirinya tidak berdaya. Wanita yang rambut hitamnya berantakan tersebut menggeleng kepala berulang kali. Membungkam mulutnya dan baru berteriak histeris, "Tidaaak! Artuuur. Aku mohon bangun!" Deraian air mata tidak bisa membendung lagi. Tumpah ruah bagikan air hujan. Valen memeluk erat tubuh lelaki yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang masih penuh oleh cairan kental berwarna merah. "Artur, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu. Aku mohon bangunlah!" Teriak Valen kencang hingga membuat tenggorokan sakit. "Sayang, bukankah setelah menghadiri pernikahan Denara, kita juga akan menyusul untuk mengikat janji sehidup semati. Lantas, bagaimana bisa kau meninggalkanku secepat ini, hah?" *** Reyzain menatap lama wajah ayu Denara di dalam peti yang sudah disulap menjadi sangat cantik. Tapi sayang ia tidak akan pernah lagi mendengar suara yang membuat dirinya bersemangat. "Sayang, aku berjanji akan mencari tahu siapa pelakunya. Aku akan membuat perhitungan sebab telah menghilangkan nyawamu," Janji Reyzain yang menatap tajam dan sorot akan kebencian. Tangan kekarnya terkepal. Sang sopir membisikkan sesuatu. Dadanya semakin bergemuruh saat tahu pelakunya merupakan orang yang sangat dekat dengan dirinya dan calon istrinya yang telah wafat. Bibir tebalnya berdesis, "Valenzuela! Tunggu pembalasan dariku. Kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup di neraka!" Sambungnya dalam hati, "Hutang nyawa harus dibayar nyawa. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia diatas penderitaan yang telah kau ciptakan. Wanita sepertimu tidak akan kulepas begitu saja!" "Ken, tolong setelah selesai pemakaman, kau bawa Valenzuela kepadaku!" "Baik Tuan. Sesuai perintah Anda!" *** Valen masih menangis sesenggukan di tempat pemakaman. Waktu semakin senja. Ia masih setia berjongkok serta memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Arthur Geofano. "Ar, kenapa kau tidak mengajakku sekalian?" tanyanya yang hanya dijawab oleh hembusan angin. Syal yang dipakainya melorot. Hidungnya memerah dengan iris mata abu yang membengkak. Ketika ia hendak berbicara lagi. Mulutnya disumpal oleh kain tipis. Meskipun memberontak, tenaganya tidak sebanding dengan tubuh kekar yang menyekapnya. Dalam hitungan menit, tubuh Valen melemah dan luruh ke tanah. Pria itu segera membawa Valen seperti karung di pundaknya dan melempar dengan kasar ke arah jok mobil. "Aku tidak bisa menunggu lama untuk menyiksamu Valen. Kau harus membayar setiap sakit yang aku rasakan!" Bahkan setelah Denara selesai dimakamkan, Reyzain langsung menyeret langkahnya menuju pemakaman, dia tahu bahwa Artur juga dimakamkan di tempat yang sama dengan Denara. Hanya berbeda tempat. Usai tiba di Mansion, Reyzain segera melempar tubuh Valen ke ranjang dan segera menyiram wajahnya dengan air. Wanita yang masih mengenakan baju hitam itu langsung saja terbangun dan tersedak sebab lubang hidungnya kemasukan oleh air. Rambutnya pun turut basah. Belum juga menetralkan deru napas. Lelaki itu mencengkram rahang Valen hingga membuat dirinya meringis dan bertanya kebingungan. "Ada apa Rey? Kenapa kau malah membawaku kemari?" Reyzain muak dengan wajah yang sok polos tersebut, ia semakin mencengkram erat rahang Valen dan berteriak, "KAU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU GADIS SOK POLOS!" Dengan ketakutan yang kentara, Valenzuela mencoba bertanya, "A-apa maksudnya, Rey?" "DASAR WANITA PEMBUNUH!" tuduh Reyzain yang tidak bisa diterima begitu saja. Sorot mata elangnya menatap tajam ke arah iris kelabu milik Valen. Wanita yang masih berduka itu menggeleng kepala pelan dan ketakutan melihat amarah dari kekasih sahabatnya. "Rey, tolong tenangkan diri sebentar. Sebenarnya apa maksud perkataanmu?" Rey menghempaskan wajah Valen hingga mencium ranjang. Sementara ia berkacak pinggang seraya menunjuk wajah Valen dengan tatapan bengis. "Kau harus membayar setiap luka yang telah kau torehkan!" Usai mengatakan hal tersebut, Rey segera melepaskan sabuknya dan langsung melayangkan cambuk di tubuh Valen. Ctak! Valen menjerit keras dan Rey terus menyiksa gadis yang masih berduka tersebut. "Rasakan! Itu pembalasan dariku sebab Denara meninggal akibat ulahmu! Deg. Mendengar kata meninggal, membuat hati Valen berdenyut nyeri. "De-denara, meninggal? Bagaimana bisa?" Tanpa merasa kasihan, Rey terus mencambuk Valen hingga menjerit semakin keras. "Dia meninggal saat akan sampai ke gedung pernikahan. Dan dengan mata kepalaku sendiri, dia tidak bernyawa. Apakah kau tahu bagaimana rasanya kehilangan, hah!" Seru Rey dan melayangkan cambuk pada tubuh Valen tanpa belas kasihan. "Hentikan Rey. Kau menyakitiku, akh!" teriak Valen menjerit histeris. Seolah tidak mendengar suara kesakitan yang dirasakan oleh Valen, dengan kesetanan, Ia menyiksa wanita yang hampir pingsan itu dengan cambukkan. Tak berselang lama ia menjambak surai hitam milik gadis yang masih kesakitan. "Rey, hentikan, jangan menyiksaku!" "Oh, rupanya kau tahu bagaimana rasa sakit itu, hah!" Bentak Rey di depan wajah Valen yang sudah pucat. Lalu melanjutkan ucapan, "Kau tidak akan kulepas dengan mudah Valen. Ingat, ini hanya permulaan saja. Oh ya, mulai sekarang kau tidak akan bisa pergi kemanapun juga. Sebab aku sudah mendaftar pernikahan kita! Kau harus patuh akan setiap perintahku!" "Ki-kita, menikah? Kapan?" Dengan kasar, Rey melepaskan jambakan yang membuat kulit kepala Valen terasa panas. Gadis itu sedikit bernafas lega akhirnya tidak merasakan sakit yang begitu hebat meskipun tubuhnya sudah sangat sakit. "Tidak perlu terkejut. Meskipun begitu, aku tidak akan sudi untuk menikmati tubuh wanita pembunuh seperti dirimu. Camkan itu!" Setelah mengatakan hal tersebut, Rey membating pintu kamar dengan keras hingga menciptakan debuman. Membuat Velen berjingkat sebab terkejut. Air matanya seolah kering. Ia hanya menatap pintu kamar yang telah tertutup dengan pandangan kosong. Hatinya kembali dihantam oleh kenyataan bahwa hari ini tidak hanya kehilangan sang kekasih tetapi juga sang sahabat. "Denara, apakah mungkin bahwa mobil hitam yang bertabrakan dengan kami adalah kamu, De?" tanyanya dengan memeluk dirinya sendiri. "De, maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu. Seharusnya hari ini aku menyaksikan pernikahanmu dan melihat senyuman mengembang dari bibirmu. Tetapi nyatanya, pernikahan itu berubah menjadi duka. Aku juga kehilangan Arthur untuk selamanya. De, jika kau mendengarku, tolong sampaikan kepada Reyzain. Bahwa kami tidak bermaksud membunuhmu!" "Arthur, bawa aku pergi bersamamu, jemput aku sehingga aku tidak perlu merasa kesakitan seperti ini," keluh Valen dan tak lama pandangannya menjadi gelap. Ia pingsan di atas kasur sebab tak kuasa menahan perih di tubuhnya akibat ulah Reyner yang mencambuk dirinya tanpa jeda. Reyzain yang berada di kamar megahnya membanting apa saja benda yang terdapat di meja rias. Ia bahkan memukul cermin hingga kepalan tangannya berlumuran darah. "Sialan, kau Valen, kau sudah merenggut kebahagiaanku, seharusnya malam ini, adalah malam bersejarah dalam hidupku sebab akan menikmati surga dunia. Tetapi kau menghancurkan harapanku!" teriak Rey di depan cermin yang sudah retak. Hancur berkeping keping seperti hatinya.

Bab 3 Merebut

Sinar keemasan nampak begitu megah terpancar dari sang Surya. Lamat-lamat, manik kelabu milik Valen terbuka. Kepalanya berdenyut nyeri. Ia meringis sebab merasa kesakitan akibat ulah Reyzain semalam. Bahkan tanpa punya belas kasihan menyiksa dan membuat tubuhnya penuh luka. Luka di hatinya belum sembuh tersebab rasa kehilangan, kini Rey menambahkannya dengan percikan air garam. Dobel sakit, bukan? Perlahan, ia menghentakkan tubuhnya secara perlahan hingga bersandar di dashboard ranjang. Memijit pelipisnya sebab pening yang mendera. Perutnya keroncongan sebab belum menyantap makanan. "Terakhir aku makan saat hendak pergi menghadiri pernikahan Denara, pantas saja aku kelaparan," tutur Valen dan mulai berdiri, pandangan masih saja buram. Ia hendak melangkah, namun pintu kamar dibuka secara kasar. "Apa aku membawamu untuk bersantai, hah?!" bentak Reyzain yang sudah berada di hadapan Valen. Sementara wanita itu sudah gemetaran. Dengan langkah lebar, Rey segera menarik pergelangan tangan istrinya itu dan mendorongnya hingga tersungkur di depan para pelayan. "Dengarkan aku, mulai saat ini, semua pekerjaan rumah diurus oleh wanita pembunuh tersebut. Jangan berani membantunya, bila aku melihatnya salah satu diantara kalian melanggar perintah, maka saat itu juga, silahkan angkat kaki dari sini dan jangan harap mendapatkan pesangon!" teriak Rey nyalang dengan deru napas yang naik turun sebab bongkahan daging dalam hatinya masih menyisakan ruang pesakitan. Tidak ada yang berani mendongak. Mereka menunduk, sementara Valen membeku di tempatnya yang bokongnya mencium lantai marmer. "Kau, tidak akan mendapatkan makanan bila tidak bekerja! Kalian semua awasi Gadis pembunuhan itu! Laporan padaku bila pekerjaannya tidak beres!" usai mengatakan itu ia berbalik badan dan hendak pergi ke kantor. Namun saat akan keluar dari pintu ia berpesan, "Julia, Kau awasi wanita pembunuh itu!" Setelah itu, ia keluar dari Mansion dan mengendarai mobil mewahnya menuju Kantor. Para pelayan Reyzain segera berhamburan, hanya tersisa Julia yang menjadi ketua Maid, ia sungguh kasihan melihat Nona muda yang disiksa oleh majikannya. Entah permasalahannya apa. Julia mengulurkan tangan untuk membantu namun Valen menggeleng kepala berulang. Sebab ancaman Rey tidak main-main. Dengan kekuatan penuh, ia mencoba berdiri dan berkata, "jangan membantuku Bibi, aku hanya tidak ingin Reyzain kembali murka dan melemparkan kekesalan pada kalian. Lebih baik Bibi sebutkan saja apa yang harus aku kerjakan." "Saya tahu Nona ini orang yang baik. Saya tidak akan bertanya ada masalah apa diantara kalian, hanya saja Tuan berubah setelah tidak jadi menikah dengan Nona Denara, Nona Valen." "Tolong jangan panggil aku Nona, Bibi Julia. Mungkin saja Rey sedang kelelahan. Oh ya jika begitu, izinkan aku untuk menyapu," ucap Valen dengan senyum yang dipaksakan. Ia mulai meraih sapu dan membersihkan Mansion megah yang luas. Wanita itu menyeka dahinya yang sudah berkeringat dingin, ditambah tenaganya begitu lemah karena belum ada asupan yang bersarang di perutnya. Ia semakin meringis ketika perutnya terasa perih. Namun ia tidak akan mendapatkan jatah sarapan bila belum bekerja. Saat ia hendak menyapu di teras, Valen tidak kuasa menahan berat badannya dan ia luruh seketika di Lantai, bertepatan dengan itu, seorang Pria yang lebih muda dari Reyner berteriak, "Astagaaa Valen! Kau kenapa malah tidur di lantai?" Tanpa menunggu lama, Ezra membopong Valen hingga meletakkan hati-hati di kamarnya. Mendengar kabar bahwa sepupunya itu kehilangan sosok calon istri dan malah mengumumkan pernikahannya dengan Valen, membuat dirinya yang sedang berada di Kanada langsung terbang ke Swiss karena kabar duka tersebut. Ezra menepuk-nepuk pipi Valen pelan dan berucap, "Len, Valen. Hey, Ayo bangun!" Suara bass yang terdengar sayup-sayup di indera pendengaran gadis yang tadi pingsan itu segera terbuka. Ia kembali memijat kepalanya sebab merasa sangat pening. "Hei, kau ingat siapa aku?" tanya Ezra mengajukan pertanyaan. Valen mendengus dan berkata, "Aku tidak sedang hilang ingatan Ez!" "Kupikir kepalamu terbentur lantai dan pingsan." Valen menggeleng kepala pelan. Saat ia ingin buka suara, bunyi keroncongan di perut membuat Ezra tergelak. "Kau lapar rupanya? Apakah suamimu itu tidak memberikanmu sarapan? Ckckck dasar pria tidak peka!" Kesal Ezra hingga membuat dahi Valen berkerut dalam. "Kenapa kau bisa tahu bahwa aku sudah menjadi istrinya, Reyzain?" tanya Valen penasaran. Bukankanya menjawab, Ezra segera berlari ke pintu dan berteriak, "Juliaaa, bawakan makanan ke kamar Valen!" Urat lehernya sampai memerah, ia segera menghampiri sahabatnya saat di kampus itu dengan melontarkan banyak pertanyaan. "Seharusnya aku yang bertanya Len. Bagaimana bisa justru kau yang menikah dengan Reyzain? Seharusnya ia menikah dengan Denara, bukan? Oh, ya mengenai Artur, aku minta maaf bila baru tahu hari ini jika dia telah berpulang ke pangkuan Tuhan," sesal Ezra seraya menatap wajah cantik yang diam-diam ia kagumi dalam diam. "Aku sendiri tidak tahu, Ez. Semuanya terjadi begitu saja. Tanpa persetujuan dariku, Rey mengatakan bahwa kami telah menikah." "Jadi, dia memaksamu?" tanyanya menuntut tanya. Tok! Bunyi ketukan pintu membuat Valen urung menjawab pertanyaan dari Ezra. Julia segera masuk dan membawa nampan berisi makanan dan minuman. "Nona Valen, ayo sarapan dulu," ucap Julia meletakkan makanan di meja kecil dekat Ranjang. Valen mencoba bangun, tapi tenaganya benar-benar lemah. Ezra membantunya dengan memegang kedua lengan wanita ringkih tersebut yang justru berteriak. "Hentikan Ez. Kau menyakitiku!" Teriakan kesakitan itu membuat alis Ezra saling tertaut. "Aku hanya sekedar membantu saja, Len. Kenapa kau justru berteriak kesakitan, hah?" "A-aku, aku sungguh lapar Ez. Biarkan aku sarapan lebih dulu," jawab Valen setelah kepergian Julia. Perlahan ia mampu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan memakan sarapannya berupa Sup. Ezra segera duduk kembali di pinggir Ranjang dan menunggu Valen selesai dengan sarapannya. "Jadi, kenapa tadi kau berteriak?" Valen merotasi netra abunya ke kanan dan ke kiri, dengan gugup ia mengelak, "Ah, tidak ada masalah yang serius Ez. Tadinya aku hanya terkejut saja. Hehehe." "Kau tidak pandai berbohong, Len!" seru Ezra memicingkan mata curiga. Tatapan mata hitamnya menyelidik. Mencoba menyelami kebenaran dari iris kelabu yang begitu mempesona. "Jangan sembunyikan apapun dariku, Len. Aku paham bagaimana dirimu. Sekarang katakan, apakah kau merasa bahagia menikah dengan Reyzain?" "Tidak ada hubungannya dengan Rey, Ez. Kami baik-baik saja," Kilah Valen yang menutupi kelakuan Rey yang berubah setelah kehilangan Denara. "Aku tidak percaya, pasti kau menyembunyikan sesuatu padaku, bukan? Tapi tidak masalah bila hari ini kau tidak ingin bercerita. Bahuku siap menerima keluhan darimu," ucap Ezra tulus dan malah mengacak rambut hitam panjang milik wanita yang ia cintai dalam diam. "Singkirkan tanganmu dari istriku, Ezra!" teriak Rey marah saat melihat dua insan yang begitu ia benci berada di kamar dan sengaja memamerkan kemesraan, seolah mengejek dirinya. "Dia istriku, kau tidak diperbolehkan menyentuh Valen sembarangan!" kilat amarah masih menguasai dirinya. Ia membuka lebar daun pintu dan berkata, "Aku tidak menerima tamu, pintu kamar sudah terbuka dan kau silahkan keluar! Jangan pijakan kakimu lagi di Mansionku!" Ezra mengalah, ia berdiri dan berjalan menuju ke arah sepupunya seraya berbisik, "Bila kau menyakiti Valen, aku akan merebut dirinya darimu!"

Lanjut baca