Fitnah Menjadi Janda
Bab 1 Kehilangan

Awan mendung semakin menggelap pertanda hujan akan segera turun, angin berhembus dengan kencang, cuaca semakin bertambah dingin, tapi tak juga membuatku beranjak dari area pemakaman. Sudah satu jam aku berdiam diri di sini, orang-orang pun sudah beranjak pergi dari tadi. Aku masih memandang hampa gundukan tanah di depanku, air mataku masih tetap luruh tanpa henti. Aku sedang terduduk di samping makam Mas Haris, suamiku yang masih beberapa hari lalu menghalalkanku. Mas Haris meninggal karena kecelakaan saat kami akan pergi berbulan madu. Aku masih mengingat jelas permintaanku  kepada Mas Haris untuk berbulan madu di pulau Komodo, aku sangat ingin melihat pantai dengan pasir berwarna pink di sana.  ***  "Setelah kita menikah, kamu mau pergi berlibur kemana, Ras?" tanya Mas Haris padaku ketika kami sedang makan siang bersama. Kami baru saja pulang dari butik untuk mengambil kebaya yang akan kupakai di acara pernikahan kami, kebetulan di sebelah butik tersebut ada sebuah restoran, jadi kami memutuskan untuk makan siang di sana. "Aku ingin pergi ke Labuan bajo, Mas. Aku penasaran dengan pantai Pink di sana," jawabku dengan wajah berbinar. "Aku ingin melihat pasir di sana yang berwarna pink itu, kata Winda pemandangan di sana sangat indah," tambahku. Winda adalah teman sekaligus rekan kerjaku. "Baiklah, apapun mau tuan putri akan aku penuhi. Aku akan membawamu melihat pantai itu," sahut Mas Haris sembari tersenyum lembut. "Benarkah, Mas?" tanyaku dengan wajah semringah. Tak dapat kusembunyikan bagaimana bahagianya hatiku ketika Mas Haris memenuhi permintaanku. "Tentu saja, aku akan memenuhi permintaanmu, aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia karena sudah mau menikah denganku," jawab Mas Haris. Aku mengembangkan senyum mendengar jawaban dari Mas Haris. Pipiku merona karena ucapan Mas Haris yang sangat manis. Hatiku berbunga-bunga, aku sangat bahagia karena mempunyai calon suami seperti Mas Haris. Walaupun kami dijodohkan oleh orang tua kami, tetapi kami merasa sudah cocok satu sama lain. Aku tidak menyangka kalau permintaanku saat itu malah membuatku kehilangan Mas Haris untuk selama-lamanya. Tepat empat hari setelah acara pernikahan, kami pun akan berangkat berbulan madu. Aku sangat antusias menyambut keberangkatan kami, terbayang kami akan disuguhi pemandangan pantai yang sangat indah begitu sampai di sana. Aku menjadi tidak sabar menantikannya. Aku menunggu kedatangan Mas Haris dengan tidak sabar. Mas Haris sedang pergi ke kantor karena ada keperluan yang mendesak. Padahal Mas Haris masih dalam masa cuti, tapi tetap saja ada urusan kantor yang harus dia tangani. Aku melirik jam di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi Mas Haris belum juga pulang. Padahal satu jam lagi kami harus segera tiba di bandara untuk keberangkatan kami. "Mas Haris lama sekali, apa aku telepon saja untuk mengingatkannya?" Aku pun mengambil ponsel untuk menghubungi Mas Haris. Namun, baru saja aku akan menelepon Mas Haris, ponselku sudah berdering terlebih dahulu. Aku tersenyum melihat layar ponsel yang berkedip ketika ada telepon yang masuk. "Assalamu'alaikum, Mas." "Wa'alaikumsalam, Ras. Maaf Ras, aku baru bisa pulang sekarang, aku tidak menyangka jika pekerjaanku banyak sekali," ucap Mas Haris membuatku sedikit lega akhirnya dia akan pulang. Di saat seperti ini Mas Haris masih saja mementingkan pekerjaannya. Padahal tinggal sebentar lagi kami harus berangkat, tapi Mas Haris masih disibukkan pekerjaannya. "Iya, Mas," jawabku singkat. "Kamu marah ya, Ras?" tanya Mas Haris dari sambungan telepon. "Nggak, Mas. Sekarang Mas Haris sedang di mana?" "Bersiaplah, aku sedang dalam perjalanan pulang. Setelah aku tiba, kita langsung berangkat." "Jangan menelepon di jalan, Mas. Fokus saja mengemudi. Aku akan sabar menunggumu pulang, Mas," ucapku khawatir dengan Mas Haris. Sejak tadi hatiku gelisah tak menentu. "Jangan khawatir, Ras. Aku baik—." Suara Mas Haris terputus. "Halo, Mas ... Mas Haris ada apa, Mas?" Aku memanggil-manggil Mas Haris, tapi tak berselang lama terdengar suara benturan keras. Aku semakin panik dan khawatir pada Mas Haris. Kutatap layar ponsel yang masih menyala dengan gusar, panggilan telfon dengan Mas Haris masih tersambung, tapi Mas Haris tidak menjawab panggilanku. "Ya Allah, Mas. Kenapa tidak menjawab panggilanku? Ada apa denganmu, Mas. Jangan membuatku khawatir." Netraku mulai berkaca-kaca. Ketakutan mulai menghampiriku. "Halo ...." Terdengar suara dari sambungan teleponku dengan Mas Haris. Tapi bukan suara Mas Haris, aku mengernyit heran. "I-ya ha-lo, maaf dengan siapa? Kenapa bisa ponsel suami saya ada pada anda?" tanyaku beruntun. "Maaf, suami Ibu telah mengalami kecelakaan—." Brak .... Seketika ponsel dalam genggamanku jatuh ke lantai mendengar bahwa Mas Haris telah mengalami kecelakaan. Kurasakan dunia berputar, dan menggelap. *** "Bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanyaku tidak sabar. Dokter tersebut memandangku dengan tatapan sendu, "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi suami Ibu tidak bisa kami selamatkan." Netraku membulat mendengar ucapan dokter, aku bagai mendengar petir di siang hari, tubuhku seketika luruh ke lantai. Air mataku semakin luruh, aku menangis sejadi-jadinya karena kehilangan Mas Haris. "Tidak ... Mas Haris ...!" teriakku di tengah tangis. Nyawaku seolah ikut menghilang bersama kepergian Mas Haris, aku menangis meraung memanggil-manggil Mas Haris. Rasanya hatiku tidak percaya dengan kepergian Mas Haris yang begitu cepat. Aku segera menghambur masuk ke dalam ruang UGD, setelahnya aku langsung memeluk tubuh Mas Haris. "Mas, bangun. Kumohon jangan tinggalkan aku. Bukannya Mas berjanji untuk membawaku melihat pantai? Lalu kenapa Mas masih berbaring saja? Bangunlah, Mas. Tepatilah janjimu untuk membuatku menjadi wanita yang paling bahagia," lirihku pada Mas Haris yang tidak juga merespon ucapanku. Hatiku bagai teriris melihat Mas Haris tidak meresponku sama sekali. "Bangun, Mas! Ayo kita berangkat, Mas. Kita sudah terlambat, pesawat kita akan segera berangkat. Kamu sudah janji untuk mengajakku melihat pantai, Mas. Jangan ingkari janjimu, Mas," lirihku sembari menangis tergugu. Mas Haris masih tidak merespon tangisanku, aku melepaskan pelukanku, tanganku mulai mengguncang keras tubuh dingin Mas Haris untuk membangunkannya. Tangisku semakin pecah saat tidak mendapat respon dari Mas Haris. Aku meraung berteriak histeris memanggil nama Mas Haris, dadaku sesak menahan perihnya kehilangan Mas Haris, hingga kurasakan pandanganku menggelap, aku tidak sadarkan diri karena tidak kuasa menahan kesedihan kehilangan suami yang baru beberapa hari meminangku itu.

Bab 2 Mimpi

"Mbak, ayo kita pulang. Hujan sudah mulai turun, Mbak." Kurasakan Risa menyentuh pundakku. Aku masih bergeming, tidak menjawab ajakan Risa, aku masih ingin di sini, berlama-lama berada di samping Mas Haris. Aku masih ingin menemani Mas Haris, jika bisa aku ingin ikut Mas Haris saja. "Mbak ...." Risa kembali memanggilku. "Ayo kita pulang dulu, Mbak. Besok Mbak Laras bisa kemari lagi," bujuk Risa kepadaku. Aku masih terdiam, air mataku tak bisa lagi menetes, tetapi sesak di dadaku masih terasa. Hatiku hampa tanpa kehadiran Mas Haris di sisiku. Aku seolah kehilangan cahaya dalam gelapnya duniaku. "Mbak, Mas Haris akan sedih jika nanti Mbak Laras sampai sakit. Ayo kita pulang, Mbak," bujuk Risa lagi. Aku mengangguk menanggapi Risa, aku tidak mau membuat Mas Haris sedih. Risa membantuku bangun, dia menuntunku menuju mobil. Pandanganku kosong menatap tempat peristirahatan Mas Haris. Sejujurnya aku masih belum rela pergi meninggalkan Mas Haris sendirian. Kami pun akhirnya masuk ke dalam mobil, aku masih tetap tak memalingkan wajah menatap lekat makam Mas Haris. Hatiku seolah tertinggal di makam Mas Haris. Aku belum bisa ikhlas kehilangan Mas Haris. Mobil perlahan melaju meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan aku hanya diam menatap ke luar jendela. Risa sedari tadi mengajakku bicara, tapi aku hanya menanggapinya dengan anggukan ataupun dengan gelengan saja. Bibirku masih kelu, aku masih belum mampu berkata-kata. Selang tiga puluh menit kami sampai di depan rumah Mas Haris, aku segera turun dari mobil tanpa menunggu Risa. Langkahku gontai memasuki halaman rumah Mas Haris yang masih tersisa dekorasi pesta pernikahan kami. Aku berhenti sejenak melihat kursi pelaminan, mataku kembali berkaca-kaca mengingat acara bahagia kami beberapa hari yang lalu. Saat itu kami duduk di kursi tersebut sambil tersenyum bahagia menyambut para tamu yang memberikan selamat kepada kami. Tidak pernah terbayangkan jika kebahagiaan kami hanya bertahan sebentar saja. "Mbak—." Aku tersentak ketika Risa menyentuh pundakku. Aku segera meneruskan langkah kaki masuk ke dalam rumah. Setelah masuk ke dalam rumah, aku meneruskan langkah menuju kamar. Sedangkan Risa pamit melihat Mama yang masih terbaring di kamar karena terpukul telah kehilangan Mas Haris, putra satu-satunya yang Mama miliki. Setelah tiba di depan pintu kamar, aku berhenti kembali. Tanganku gemetar meraih gagang pintu, kubuka perlahan pintu tersebut. Kakiku melangkah masuk begitu pintu terbuka, aroma bunga segera memenuhi indera penciumanku. Netraku memandang sendu suasana kamar yang penuh dengan bunga, teringat kembali ucapan Mas Haris setelah malam pernikahan kami. *** "Kamu suka kamarnya, Ras?" tanya Mas Haris begitu kami memasuki kamar. Aku mengangguk memandang takjub suasana kamar kami, netraku dimanjakan dengan aneka bunga kesukaanku menghiasi kamar kami. "Aku sendiri yang menghias kamar kita, Ras. Aku ingin kamu merasa bahagia karena telah mau menerimaku sebagai pendampingmu," ucap Mas Haris sambil memelukku dari belakang. Aku terharu dengan sikap manis Mas Haris, aku semakin mencintainya dengan segenap jiwaku hingga aku lupa kalau rasa itu sekarang membuat dadaku sesak, sakit perih tak terkira. Sekarang kehadiran Mas Haris hanya tinggal kenangan. Aku sudah tidak bisa merasakan dekapan hangatnya lagi. Aku sudah tidak bisa merasakan sikap lembutnya lagi. Hatiku patah, aku merasakan sakit hingga tidak bisa bernafas mengingat Mas Haris yang telah tiada. Kakiku melangkah gontai menuju ranjang, kucari jejak Mas Haris yang tersisa di bantal yang dipakai olehnya. Kudekap erat bantal tersebut mencari aroma Mas Haris yang masih tertinggal. Kubawa bantal tersebut berbaring di atas ranjang sambil terus mendekapnya, aku membayangkan mendekap tubuh Mas Haris. Netraku pun perlahan terpejam memasuki alam mimpi. "Lepaskan tanganku, Ras." Mas Haris memintaku melepaskan tangannya. Kami sedang berada di sebuah tanah lapang yang banyak ditumbuhi oleh bunga. "Mas Haris mau kemana?" tanyaku enggan melepaskan Mas Haris. Aku masih mengenggam tangan Mas Haris erat. "Mas tidak akan kemana-mana, Ras. Mas masih tetap di sini, di hatimu," jawab Mas Haris dengan senyum teduh. Wajah Mas Haris nampak bercahaya dan terlihat lebih tampan, hingga sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Kamu akan meninggalkanku lagi, Mas?" tanyaku lirih. Mas Haris hanya tersenyum lebar menanggapi pertanyaanku. Telapak tangan kirinya mengusap pipiku lembut. "Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu tinggal di dalam hatimu," ucap Mas Haris dengan lembut. Perlahan aku pun melepas tangan Mas Haris. Setelah terlepas Mas Haris melangkah pergi meninggalkanku, di tempat kuberdiri. Semakin jauh Mas Haris melangkah semakin samar sosok Mas Haris terlihat di pandanganku. Aku hanya bisa mematung melihat Mas Haris pergi. Aku tersentak ketika melihat sosok Mas Haris semakin jauh. Dengan panik aku mulai mengejar Mas Haris, aku segera berlari mengejarnya. "Mas ... Mas Haris, tunggu aku, Mas! Jangan tinggalkan aku, Mas!" teriakku sambil terus berlari terseok-seok mengejar Mas Haris. Semakin cepat aku berlari, semakin jauh pula sosok Mas Haris meninggalkanku. Air mataku luruh tidak bisa mengejar langkah ringan Mas Haris. Lelah berlari, aku berteriak dengan keras memanggil Mas Haris kembali, "Mas Haris—!" Aku tersentak dan terbangun dari tidur. Aku mengusap wajahku kasar, ternyata semua hanya mimpi. Aku kembali meringkuk memeluk bantal Mas Haris, tangisku kembali luruh, bahkan dalam mimpi pun Mas Haris tega meninggalkanku. "Mas Haris ...," ucapku lirih dalam tangis. Aku kembali menumpahkan tangis meratapi kepergian Mas Haris. Kehilangan Mas Haris membuatku hancur, hatiku terasa disayat belati setiap mengingat tentang Mas Haris. "Aku harus bagaimana tanpamu, Mas? Aku tidak yakin bisa menjalani hariku tanpamu di sisiku. Kenapa kamu tidak membawaku pergi bersamamu? Kenapa kamu meninggalkanku sendiri, Mas," ratapku berharap Mas Haris mau membawaku bersamanya. Kenapa dunia tidak adil kepadaku? Baru saja aku merasa bahagia karena menjadi istri Mas Haris, kini aku sudah menyandang status janda. Status yang membuatku takut untuk menjalani hari-hariku berikutnya. Sanggupkah aku menjalani hariku setelah ini?

Bab 3 Bayang Mas Haris

Tak terasa sudah hampir satu minggu aku lewati sejak kepergian Mas Haris, setiap hari aku selalu berdiam diri di kamar, bahkan untuk makan pun seolah aku sudah lupa waktu. Aku terlalu sibuk dengan dunia yang aku ciptakan sendiri, dunia yang hanya ada aku dan juga bayang Mas Haris. Kini aku telah berada di balkon kamarku dengan kondisi yang mengenaskan, wajahku pucat, rambutku acak-acakan  serta lingkar hitam menghiasi mataku. Aku sedang duduk memeluk lutut dan kedua tangan memegang erat potret Mas Haris. Netraku menatap kosong deretan bunga di taman belakang rumah Mas Haris. Dahulu saat aku datang ke rumah Mas Haris, kami sering berbincang-bincang di taman tersebut. Kami juga sering bermain dengan anak Risa di sana. Banyak sekali kenangan yang terukir di taman itu. Dulu kupikir taman itu sangat indah dengan bermacam-macam bunga yang tumbuh di sana, tapi sekarang bagiku semua terasa hampa. Tak ada keindahan lagi di sana karena kepergian Mas Haris. "Mas ... aku rindu," ucapku lirih. "Aku juga rindu padamu, Ras." Suara Mas Haris terdengar di telingaku. Seketika aku langsung menoleh, kulihat Mas Haris sedang duduk dengan posisi yang sama sepertiku. Senyum terbit di wajah Mas Haris yang bercahaya. "Mas ...," panggilku dengan air mata yang mulai luruh. "Kumohon jangan menangis lagi, Ras. Hatiku sakit melihatmu seperti ini. Aku tidak pernah meninggalkanmu, Ras. Setiap kamu memanggil namaku, aku akan selalu datang kepadamu, karena aku selalu ada di hatimu, Ras," ucap Mas Haris. "Benarkah, Mas? Apakah kali ini kamu tidak akan mengingkari janjimu?" tanyaku memandang sendu Mas Haris. "Aku tidak akan mengingkari janjiku, sekarang tersenyumlah. Aku rindu melihat senyummu, Ras," jawab Mas Haris. Aku pun mulai tersenyum kepada Mas Haris, hatiku yang dingin kini mulai menghangat lagi karena melihat kehadiran Mas Haris. Tanpa kusadari tanganku bergerak pelan ingin menyentuh wajah Mas Haris, akan tetapi aku tersentak ketika tanganku mengambang di udara dan Mas Haris pun menghilang. Dia sudah tidak ada lagi di tempatnya. Aku segera bangkit dari duduk, aku melangkah ke sana kemari kebingungan mencari sosok Mas Haris lagi. "Mas ... Mas Haris," teriakku memanggil nama Mas Haris dengan panik. Semua sudut balkon sudah aku jelajahi, tapi aku tak juga menemukan sosok Mas Haris lagi. Aku berhenti melangkah, berdiri mematung dengan putus asa sambil bergumam, "Kamu mengingkari janjimu lagi, Mas. Kamu meninggalkanku sendirian lagi." Kututup wajahku dengan kedua tangan, tangisku pun kembali pecah, aku menangis sejadi-jadinya. Tubuhku luruh ke lantai karena tidak kuasa menahan sakit sesaknya di dadaku. Aku terduduk di lantai sambil memeluk potret Mas Haris. *** "Ayo kita pulang ke rumah kita sendiri, Ras. Kamu akan selalu teringat Haris jika berada di sini terus menerus," ajak Ibu padaku. Ibu dan Ayah kini telah berada di kamarku, mereka datang setiap hari untuk menemuiku, akan tetapi aku tidak pernah keluar dari kamarku untuk menemui mereka. Selama ini aku selalu mengunci pintu kamar dari dalam, aku tidak mau siapapun masuk ke kamarku, hingga aku tidak tahu bagaimana Ibu dan Ayah bisa membuka pintu kamarku dengan kunci cadangan. Aku memandang Ibu sendu, teganya Ibu memintaku melupakan Mas Haris, padahal Ibu sangat tahu kalau aku tidak akan bisa melakukannya. "Tidak, Bu. Aku akan tetap di sini, aku sedang menunggu Mas Haris datang, jadi biarkan aku tetap di sini menunggu Mas Haris," pungkasku. Ibu seketika menangis mendengar jawabanku. Ayah berjalan mendekat ke arahku setelah mendengar jawabanku, tangan Ayah terulur memegang kedua lenganku. Ayah menatapku tajam. "Sadarlah, Ras. Haris sudah meninggal, dia tidak akan pernah kembali kepadamu lagi. Jadi sia-sia kamu berada di sini, lebih baik kamu ikut kami pulang," ucap Ayah tegas. Aku menggelengkan kepala menanggapi ucapan Ayah, "Tidak, Yah. Mas Haris selalu datang setiap aku memanggilnya, dia masih belum meninggal, Mas Haris sudah berjanji akan selalu datang jika aku memanggil namanya," bantahku. Ayah mencengkram kuat lenganku, raut wajah Ayah berubah muram. Satu tetes air mata lolos dari mata tuanya. Pandangan Ayah pun berubah sendu. "Jangan siksa kami seperti ini, Ras. Sadarlah kalau Haris tidak akan pernah kembali lagi, dia sudah tenang di sana, Ras. Perlu kamu ketahui bahwa mama mertuamu meminta kami untuk menjemputmu, agar kamu tidak terlalu bersedih dan mengingat Haris terus," lirihnya. Aku tersentak mendengar ucapan Ayah, ternyata mama ingin aku keluar dari rumah ini dengan menghubungi orang tuaku. Mama berniat mengusirku secara halus dari rumah ini. Aku tersenyum miris, padahal di dalam rumah ini selalu ada bayang Mas Haris, tetapi aku sudah tidak diizinkan lagi untuk tinggal di sini. "Ras, ikutlah kami pulang. Siapa lagi yang akan melindungimu jika kamu di sini. Haris sudah tiada, kamu tidak lagi diwajibkan untuk tetap di sini," tambah Ayah sembari melepaskan lenganku untuk mengusap air matanya yang bercucuran. Hatiku seolah tertusuk melihat ayah menangis karena aku, padahal selama ini ayah adalah sosok yang kuat. Tidak pernah sekalipun aku melihat air matanya keluar, aku merasa menjadi anak yang berdosa karena membuat orang tuaku mengeluarkan air mata. "Baiklah, aku akan pergi, Yah. Tapi beri aku waktu di sini untuk sebentar saja. Aku masih ingin mengenang Mas Haris," jawabku membuat wajah Ibu berbinar. Aku pun memutuskan untuk pergi dari rumah Mas Haris, mengingat mama sudah tidak menginginkanku tinggal di sini lagi. Tetapi aku juga tidak mempunyai niat untuk kembali ke rumah orang tuaku. Aku ingin menghilang untuk sejenak, aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu. "Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Kapan pun kamu ingin pulang, Ayah akan segera datang menjemputmu, Ras. Ketahuilah kalau kami sangat menyayangimu, jangan pernah merasa sendiri, ada kami tempatmu untuk bersandar," ucap ayah sembari memelukku. Aku hanya diam tak membalas pelukan ayah, aku masih tidak menyangka kalau mama sudah tidak menginginkanku tinggal di sini. Mungkin benar kata ayah kalau aku sudah tidak punya kewajiban untuk tinggal di sini lagi. Ayah pun melepaskan pelukannya, diusapnya kepalaku dengan lembut. "Kalau begitu kami pergi dulu, Ras. Jaga kesehatanmu, hati Ayah sedih melihat kondisimu seperti ini. Hubungi Ayah jika kamu sudah ingin pulang." Aku mengangguk menanggapi ucapan ayah, sementara ibu juga memelukku dalam diam. Aku tahu kalau ibu pasti sedih karena aku tidak langsung ikut pulang, tapi aku masih ingin sebentar saja berada di sini untuk melihat bayang Mas Haris.

Lanjut baca