Jerat Cinta Chef Impoten
Bab 1 Rahasia Pribadi Bara

Suara berisik alat dapur sudah menjadi makanan sehari-hari seorang Chef. Wajan, spatula, merupakan alat tempurnya. Semua itu adalah rutinitas seorang, Bara Kalandra. “Pesanan meja nomor 1 dan 4, done!” seru salah satu pelayan bernama Alvin. Keadaan dapur masih riuh, karena waktu menunjukkan jam makan siang. Peluh yang membasahi wajah Bara, terlihat menarik hampir bagi seluruh wanita. Dengan lengan yang terlihat kokoh saat memegang alat masaknya. Membuat pria itu semakin terlihat seksi bagi kaum hawa. Memiliki tubuh tegap, kekar dengan tinggi 180 cm, dan jangan lupa wajahnya yang turunan Jerman itu, menambah nilai tambah baginya. Akan tetapi, sampai sekarang, tidak pernah sekalipun dia terlihat menggandeng seorang wanita, kecuali sang sahabat, ibu atau kakak perempuannya. Tidak ada yang berani bertanya langsung mengenai hal pribadi itu, karena Bara merupakan sosok yang dingin, tak tersentuh. Dia hanya bicara seperlunya, kecuali dengan ibu, kakaknya dan satu sahabatnya, Zoya Caroline. “Lo pulang ke mana tadi malam?” tanya Zoya penasaran, begitu Bara keluar dari ruang ganti. Zoya adalah pemilik restoran tempat Bara bekerja. Bukan hal baru bagi para staf melihat Bara dan Zoya yang lengket satu sama lain, meskipun Zoya yang paling banyak berbicara dan menempel pada pria dingin itu. “Apartemen.” Bara menyahut seadanya. “Gue boleh nginep di sana? Di rumah gak ada orang, males sendirian,” ucap Zoya dengan penuh harap. “Hmm.” Seperti itu kira-kira percakapan Zoya dan Bara sehari-hari. Bara mengenal Zoya sedari kecil, maka dari itu Bara bisa berbicara banyak dengan Zoya. Apalagi Zoya seorang yang ramah, dan sedikit bar-bar. Jauh sekali dari namanya yang sangat anggun. *** “Tadi malem, mama lo telefon gue. Nanyain anak bujangnya yang gak pulang,” ucap Zoya begitu sampai di apartemen Bara. “Gue males pulang.” Bara menjawab sembari terus melangkahkan kakinya ke arah kamarnya. Tidak terlalu peduli dengan pertanyaan sahabatnya itu. “Kenapa?” “Ujung-ujungnya disuruh nikah.” “Ya nikah aja kalo gitu,” sahut Zoya dengan membuka seluruh pakaiannya, menyisakan bra dan celana dalamnya saja. Mereka berdua memang sudah terbiasa seperti itu, dan tidak pernah terjadi apa-apa di keduanya. Bahkan, wajah Bara tidak menunjukkan ekspresi apa pun, datar dan lempeng. “Gak segampang itu, Zoy!” balas Bara sedikit mengerang. “Apa karena ... itu?” tanya Zoya hati-hati namun matanya tidak urung melihat ke area privasi Bara. “Lo udah tau itu!” “Lo gak ada niatan, sih,” balas Zoya, sedikit menyalahkan pria itu. Bara merotasikan kedua bola matanya kesal dan malas secara bersamaan. “Udah lah, gue capek! Mau tidur.” Bara pun memasuki kamarnya, membuka semua yang melekat di badannya untuk mandi, dan beristirahat. Dia begitu lelah, baik fisik dan batinnya. Mengingat dia yang memiliki keanehan, membuat Bara mengerang frustrasi di bawah guyuran air. Sebenarnya, miliknya bisa terbangun, waktu menonton video dewasa. Akan tetapi, tak seberapa lama sudah lemas, lunglai, bahkan sebelum dia mengeluarkan hasratnya. Dia telah periksa ke dokter beberapa kali di tempat yang berbeda, tetapi semua hasilnya menunjukkan tidak ada yang salah dan keanehan di dalam tubuhnya, alias normal dan sehat. Itu semakin membuat Bara bingung dan frustrasi memikirkan solusi untuk masa depannya. *** “Eh! Kebangun, Bar?” sapa Zoya sedikit kaget, begitu melihat Bara keluar kamar. Bara juga cukup terkejut melihat sahabatnya yang masih belum tidur itu. Namun, dia sangat bisa mengontrol ekspresinya. Dia hanya mengangguk singkat. “Haus.” “Bokser udah buluk, masih lo pakek aja,” ledek Zoya yang malah fokus dengan bokser yang dipakai sahabatnya itu. Bara memang hanya memakai bokser saat keluar dari kamarnya, karena Bara suka memakai bokser saja saat tidur. Hal itu memang sudah biasa. Bahkan, mereka hampir tela*njang, dan dilihat satu sama lain. Terlihat sangat di luar nalar, bukan? Hubungan persahabatan di antara keduanya. “Udah terlanjur nyaman, jadi sayang,” sahut Bara acuh. Zoya yang sudah terbiasa dengan sikap acuh sahabatnya itu. Ia hanya menghela nafas lelah. Kemudian, dia pamit untuk pergi. “Gue mau keluar bentar lagi.” “Kemana? Udah malem juga!” Bara memicingkan matanya tajam. “Cari duda kaya raya, atau brondong juga boleh,” jawab Zoya asal sembari memasang heels miliknya. “Gila!” sembur Bara tanpa pikir panjang. Zoya terkekeh geli melihat reaksi sahabatnya itu. Hingga dentingan suara bel, mengalihkan atensi mereka berdua. “Itu pasti temen gue.” Zoya pun tersenyum lebar dan antusias. Padahal hari sudah malam. “Jangan sering gonta-ganti pasangan, Zoy!” tegur Bara lembut. “Habisnya lo gak mau, sih!” sahut Zoya sambi lalu. Kemudian, dia pun memutuskan segera pergi. Sebelum temannya semakin lama menunggunya. “Dah lah! Gue bisa jaga diri, Bar! Gue berangkat dulu. Bye Bara,” pamit Zoya segera menghampiri temannya. Bara menghela napasnya melihat kelakuan sahabatnya itu. Menjadi anak tunggal yang sering di tinggal kedua orang tuanya bekerja, membuat Zoya lepas kontrol dan kendali. Untungnya, sampai saat ini, Zoya masih bisa Bara tangani. Masih di dalam garis batasnya. Semoga saja tidak sampai keluar, karena Bara tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. *** Pagi-pagi buta, Bara dikejutkan oleh gedoran pintu yang brutal. Bisa dipastikan itu adalah Zoya. Entah kali ini dia datang dengan siapa? Masih dalam keadaan sadar atau malah seperti biasanya, teler. Buru-buru Bara memakai celana training yang tergantung di pintu, dan juga kaos oblongnya. Karena, gedoran pada pintu apartemennya itu tak kunjung berhenti, sampai akhirnya, Bara membukanya. Tepat sekali dugaannya, Zoya datang dalam keadaan mabuk, bersama temannya. Beruntung, kali ini temannya seorang wanita, dengan pakaian yang kurang lebih sama dengan yang di pakai Zoya. Baju minim bahan, yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya, dan juga kaki jenjangnya yang mulus. “Lo ngerepotin gue terus!” sungut Bara namun tetap memapah Zoya ke dalam salah satu kamar yang ada di apartemennya. “Makasih, udah bawa Zoya pulang,” ucap Bara kepada teman Zoya tanpa basa-basi. “Gak ada yang gratis di dunia ini, Tampan,” jawab wanita itu dengan mengerlingkan matanya. Bara hanya menatap datar wanita yang katanya, teman dari sahabatnya itu. Menunggu apa yang akan dia minta darinya. “Gimana ... kalau kita bersenang-senang?” bisiknya sensual tepat di telinga Bara. “Mumpung masih pagi dan ... keadaan sepi,” lanjutnya dengan nada sensual. Tanpa menunggu lama, wanita itu memulai aksinya. Meniup area tengkuk Bara, dan tidak lupa tangannya mulai nakal bermain-main di perut pria itu, dan semakin terus turun ke area privasi Bara. Mengelusnya dari luar. Bara hanya diam, bukan karena dia menikmatinya. Hanya saja, dia ingin tahu, seberapa mampunya wanita di hadapannya ini menggodanya. Tentunya sama satu hal lagi. Dia ingin menguji dirinya sendiri. Cukup lama wanita itu menggoda Bara, namun tak ada perubahan yang pasti dengan tubuh Bara. Wanita itu pun kesal karena tak ada reaksi apa pun dari tubuh Bara. Begitu pula dengan Bara yang muak akan dirinya yang tidak berhasrat. “Pergilah!” usir Bara membuat wanita itu mendengus tak suka. “Brengsek!” umpat wanita itu marah. “Lo kurang menarik minat gue!” Lontaran kalimat yang keluar dari mulut Bara membuat wanita itu semakin kesal, merasa terhina dan berlalu pergi keluar dari unit apartemen Bara dengan cepat. Brak! Mendengar pintu yang tertutup kasar membuat Bara menghela napas lelah. Dia muak dengan dirinya sendiri. Dengan mengurai rambutnya ke belakang. Pria itu kembali mengerang frustrasi. “Mau sampai kapan kamu tidur, little Bara?” monolognya dengan menatap prihatin akan aset masa depannya. Sepertinya, Bara mulai kehilangan akal sehatnya. Lagi-lagi helaan napas panjang yang Bara keluarkan, karena dia masih harus mengurus sahabat satu-satunya itu. Eh tidak, masih ada Dion yang juga sahabat dari mereka. Bara menggelengkan kepalanya, melihat posisi tidur Zoya yang sangat urakan. Rambut acak-acakan, kaki yang terbuka lebar memperlihatkan dalaman yang dipakai wanita itu. Belum lagi belahan dadanya yang terlihat menyembul. “Ada untungnya juga sih, gue aneh. Kalo enggak, lo udah gue jebol sejak dulu, Zoy,” gumam Bara dan mulai membuka high heels Zoya. Pria mana yang akan tahan, jika melihat pemandangan Zoya yang seperti sekarang dan hampir setiap hari Bara melihatnya. Kecuali, memang pria itu gay atau punya kelainan seperti Bara. Bara membenarkan posisi tidur Zoya dan menyelimuti wanita itu hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah. Mengatur suhu AC agar tidak terlalu dingin atau pun panas. Kemudian, pria itu memutuskan hendak keluar dari kamar itu. Tetapi, suara Zoya yang terusik dari tidurnya membuat Bara cukup tersentak. “Gue suka sama lo, Bar.” * * * Hai salam kenal saya author baru Mohon dukungannya dan semoga kalian suka :)

Bab 2 Elene Anastasya

Hari ini, Bara tidak mendapat jadwal di restoran milik Zoya. Dia sekarang sedang bekerja di salah satu restoran hotel milik orang tuanya. Tidak jauh berbeda dengan restoran milik Zoya. Bara bekerja di kitchen, berperang dengan segala bahan makanan dan alat-alatnya. Memang sejak kecil, Bara suka sekali bereksperimen di dapur. Maka dari itu, dia memutuskan untuk sekolah di bagian masak. Tidak hanya masakan, tapi Bara juga memiliki skill di bagian dessert, meski tidak terlalu menonjol. Beruntungnya, orang tua Bara tidak mempermasalahkan cita-cita Bara. Mengenai hotel dan kantor yang di miliki oleh orang tuanya. Masih ada kakak iparnya yang bisa menanganinya. “Anak nakal! Dihubungi gak diangkat, disamperin ke apartemennya juga gak ada! Sekarang udah inget pulang?” omel Siska, mama dari Bara. Bara tersenyum geli mendengar omelan mamanya itu, begitu dia memasuki ruang tamu–rumah utama kedua orang tuanya. Dia memeluk sang mama, dan tidak lupa memberikan ciuman di kedua pipi mamanya. Memang Bara semanis itu dengan wanita-wanita yang dia sayang. “Bara laper, Ma,” ujarnya, tidak memedulikan ocehan mamanya sebelumnya. “Kamu kan, Chef. Tinggal bikin sendiri apa susahnya,” sahut Siska sedikit ketus. Karena, masih kesal dengan putra bungsunya itu. “Bara pengen perkedel kentang sama sayur asem buatan Mama,” rengeknya bak anak kecil. “Coba kamu begini setiap hari, Bar. Mama jadinya gemes, bukan darah tinggi terus kalo kamu kabur-kaburan,” ujar Siska kesal, namun tak urung beranjak ke dapur. “Bara kan udah besar, Ma,” sahut Bara membuntuti sang mama. Sontak saja, Siska menoleh ke putranya itu dengan mendelik. “Alah! Barusan ngerengek-ngerengek itu, apa namanya? Kalo bukan anak kecil.” “Mamanya Bara, kok keliatan awet muda, ya. Tambah cantik,” puji Bara mengalihkan pembicaraan. Siska pun merotasikan kedua bola matanya, malas. “Kamu bisaan aja mulutnya. Cari istri sana, biar ada yang bisa kamu gombalin!” “Iya, nanti! Mama doain aja, ya,” balas Bara lelah. *** Saat ini, Bara sedang menemani sang mama, berbelanja bulanan. Meski diiringi dengan petuah-petuah akan dirinya yang disuruh segera menikah, mencari calon istri yang baik dan segala tetek bengeknya. Namun, Bara masih dengan bersabar hati mendorong troli mengikuti mamanya yang berjalan mengitari super market itu. Di tengah-tengah dirinya fokus mengikuti mamanya. Bara dibuat terkejut oleh teriakan mamanya yang tiba-tiba. “Rani!” seru mamanya Bara tiba-tiba, sekaligus menjauh dari Bara. Bara mendelik khawatir melihat tingkah mamanya itu. “Ma!” Telat, karena sekarang mamanya sudah berlari kecil menuju salah seorang perempuan paruh baya, yang umurnya tidak jauh berbeda dengan mamanya. Bara menggerutu melihatnya, tetapi dia juga khawatir mamanya akan terjatuh, jika berlarian di tempat umum. Dia segera menyusulnya dengan mengambil langkah lebar. “Ma, jangan lari kayak gitu! Bara khawatir Mama kepleset,” tegur Bara mengganggu acara pelukan sang mama. Siska hanya tersenyum lebar menatap putranya itu. Seolah tidak terjadi apa-apa. “Habisnya Mama seneng banget ketemu sahabat Mama, Bar. Jadi spontan aja lari,” jelasnya sambil terkekeh ringan. Bara menghela nafasnya panjang. “Iya. Lain kali kali jangan seperti itu.” “Oh iya, Bar. Kenalin ini tante Rani, sahabat Mama waktu SMA,” ucap Siska memperkenalkan Rani ke Bara. “Anak kamu ganteng ya, Sis.” Rania menatap Bara dengan berbinar ala ibu-ibu. “Eh iya, ini anak Tante. Namanya Elena Anastasia,” lanjut Rani membuat Bara tersadar, jika sedari tadi ada seorang wanita lain di sebelah mamanya. Bara terpaku begitu melihat gadis berperawakan mungil yang bernama Laura itu. Dia bersalaman dengan Elena, saling memperkenalkan diri. Cantik, satu kata yang tepat untuk menjabarkannya, dan satu lagi. Tiba-tiba Bara mendelik, ketika baru sadar, bahwa ada yang aneh dengan dirinya. Rasa yang sudah lama tidak dia rasakan itu, kini hadir di saat dan di tempat yang tidak seharusnya. Sekuat tenaga, Bara menahannya. Di saat sebelumnya dia sangat menginginkannya, justru sekarang dia ingin hadirnya tidak diinginkannya. Bara gelisah menunggu mamanya yang tak kunjung selesai berbicara dengan sahabatnya itu. Dirinya sudah sangat tidak kuasa menahan lebih lama lagi, sampai kedua tangannya mengepal kuat. Beruntung, suara ponsel Bara berdering, menandakan ada telepon masuk. Bara harus berterima kasih nanti kepada Zoya, karena dia menghubunginya di saat yang tepat. “Ma, apa mama masih lama?” bisik Bara. “Kenapa, Bar?” Siska bertanya sambil menatap putranya. “Ada hal penting yang harus Bara lakukan di restoran,” jawabnya dengan berusaha setenang mungkin. “Kamu itu kerja terus! Ya udah hubungi Tio aja buat jemput mama. Kamu sana pergi!” “Maaf, Bara pergi dulu ya. Mama hati-hati,” pamit Bara terburu-buru namun masih ingat untuk mencium pipi mamanya dan juga berpamitan ke sahabat sang mama. *** Sebenarnya restoran hanya pengalihan Bara, karena sebenarnya dia kabur untuk segera menuntaskan hasratnya yang tiba-tiba muncul. Bara langsung memasuki toilet di apartemennya begitu dia sampai. Segera saja dia menyalurkan hasratnya dengan bermain sendiri, menikmati setiap pelepasan yang cukup melegakan dan memuaskannya. Bara pun tersenyum lebar setelah mengalami pelepasan beberapa kali, untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun yang lalu. “Kenapa, lo, di sini?” kaget Bara melihat Zoya yang tengah duduk di kasurnya. Zoya terkesiap. Namun, segera dia kembalikan ekspresi normalnya. “Lo udah bisa tegang, Bar?” tanyanya, tak menghiraukan pertanyaan Bara. “Bagaimana lo tau?” Bara memicing curiga ke sahabatnya itu. “Gue denger suara lo di kamar mandi tadi,” jawab Zoya seadanya, tanpa repot-repot mencari alasan palsu. “Jadi ... bener, kan?” lanjutnya. “Hmm!” Jawaban Bara membuat Zoya antusias dan segera melepas semua yang melekat di tubuhnya, menyisakan pakaian dalamnya saja. Melihat itu, Bara menatap bingung ke arah Zoya. Tidak mengerti maksud dari tingkah sahabatnya itu. Yang secara tiba-tiba menjadi semangat dan sedikit agresif. “Lo ngapain?” tanya Bara pada akhirnya. “Buat ngetes lo. Beneran bisa apa enggak!” sahut Zoya santai. Bara merotasikan kedua bola matanya mendengar jawaban Zoya. Akan tetapi, dia tetap menurutinya. Dia mulai dengan melihat belahan dada Zoya yang menyembul, karena bra yang wanita itu kenakan tidak menampung dada itu dengan benar. Lalu, dia melihat kaki jenjang, dan paha mulu Zoya yang seolah memanggilnya. Bermenit-menit berlalu, bahkan Zoya dengan berani menyentuh dada bidang Bara yang saat ini sedang shirtless. Namun, benda itu pribadi milik Bara, tak kunjung bereaksi, dan Bara tidak merasakan apa-apa. “Tidak berhasil,” ucap Bara dengan menjauhkan tubuhnya dari Zoya. “Kenapa?” Zoya menatap mata Bara dengan kecewa. “Entahlah!” sahut Bara lelah, lantas membalikkan badannya. “Tadi, kenapa bisa tegang?” tanya Zoya penasaran. Pertanyaan Zoya, membuat Bara berpikir keras. Hal apa yang membuatnya dengan tiba-tiba berhasrat tadi. Mengingat kembali apa yang dia lakukan sedari pagi, hingga berakhir dia horny. Sekuat apa pun, Bara mengingatnya. Tidak ada jawaban yang tepat dan logis yang bisa menjawabnya. Yang ada malah membuat kepalanya berdenyut sakit. “Keluar, Zoy!” usir Bara tanpa mau dibantah. Mendapat pengusiran dari sahabatnya yang bisa dikatakan kasar. Membuat Zoya jengkel. “Apaan sih, lo, Bar! Gue, ‘kan, tanya. Jawab, kek,” sahutnya bersungut-sungut. “Gue pengen sendiri!” ucap Bara dingin. Nada dan suara dingin dari Bara, pertanda jika pria itu sama sekali tidak mau dibantah ataupun diganggu. Mau tidak mau, pada akhirnya, Zoya keluar menuruti ucapan Bara. Meski enggan, tapi dia tidak bisa memaksa. Seorang Bara akan sangat mengerikan di saat moodnya sedang tidak baik, terlebih sampai membuatnya marah. Zoya tidak ingin membangunkan sisi gelap Bara. Lagi dan lagi, Bara mengerang frustrasi di dalam kamarnya. Meskipun tadi dia sempat gelisah dan tidak ingin hasratnya muncul, namun dia cukup senang, karena hasrat itu kembali dia rasakan. Walaupun harus di waktu yang tidak tepat. Waktu yang tidak tepat, tiba-tiba terngiang-ngiang di kepalanya. Bara tersentak kaget saat dia akhirnya menyadari satu hal. Mungkin terlihat konyol dan tidak masuk akal. Akan tetapi, siapa yang tahu, jika tidak mencobanya lagi. Iya, benar. Gadis mungil itu, kunci jawabannya. Bara menyeringai saat mengingat kembali pertemuannya tadi bersama sang mama. Gue harus menemuinya lagi. Bagaimanapun caranya. Gue harus ketemu kamu, Elena Anastasia—batin pria itu. “Sepertinya, gue harus sedikit minta tolong ke mama,” monolognya Bara dengan senyum kecilnya. Bara pun segera berganti pakaian, dan bergegas mengambil kunci mobilnya untuk kembali pulang dan menemui sang mama. Mungkin, dia juga akan menginap di rumah utama. “Zoya! Apartemen jangan lupa di kunci. Gue akan pulang ke rumah!” seru Bara dan pergi meninggalkan unit apartemennya tanpa menunggu jawaban dari sang sahabat. “Kapan lo akan sadar, Bar. Kalo gue suka sama lo,” gumam Zoya melihat kepergian Bara dengan sendu.

Bab 3 Pancingan Bara

Sejak datang ke kediaman orang tuanya. Bara Kalandra tidak sabar menunggu kedatangan mamanya, yang katanya tengah pergi ke pertemuan kolega bersama papanya. Detik demi detik berlalu, kini sudah berganti berjam-jam. Akhirnya, Siska dan Beni Kalandra tiba di kediamannya. Kedua orang paruh baya itu sama-sama terkejut, mendapati putra bungsunya yang sangat tidak betah berada di rumah, tengah tiduran di sofa ruang keluarga. “Bara!” pekik Siska, segera menghampiri putranya itu. “Aduh! Mama apa-apaan, sih. Kok Bara dipukul?!” Bara mengaduh kesakitan. Lantas pria yang konon katanya dingin itu, kini berdiri dengan kesal di hadapan mamanya. Sedangkan, Siska sudah berkacak pinggang menatap putranya itu. “Apa?! Mau marah ke Mama?” “Kamu itu, mana sepatu gak dibuka, tiduran di sofa, yang jelas-jelas gak muat dengan badan kamu yang bongsor itu,” cecar Siska panjang lebar. Bara maupun Beni sama-sama menghela nafasnya lelah, dengan tingkah Siska yang amat teramat drama itu. Padahal, kalaupun nantinya sofa itu rusak atau kotor, tinggal beli yang baru. Kemudian, Siska memicing curiga kepada putranya itu. “Tumben kamu pulang?” Bara mendengus kecil. “Gak pulang dicariin. Giliran pulang malah dicurigain,” gerutunya kesal. “Ya, ‘kan aneh kalau gak ada apa-apa kamu anteng di rumah,” balas Siska tak mau kalah. Beni yang mulai jengah dengan perdebatan ibu dan anak itu, segera berdeham keras. Guna mengalihkan atensi keduanya itu. Benar saja, istri dan putranya langsung terdiam, sekaligus menatap ke arah Beni. Membuat kepala rumah tangga itu tersenyum kecil. “Sudah malam, lebih baik kita istirahat. Lanjut besok lagi perdebatannya.” Saat kepala keluarga sudah membuka suara, di saat itu pula, tidak ada yang berani mengganggu gugat. Baik Siska, maupun Bara sama-sama mengangguk pelan. Bara menatap kepergian orang tuanya dalam diam dengan pundak yang melemah. Lantas berjalan lunglai ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Karena, sepertinya pria dewasa itu perlu bersabar untuk mendapat informasi mengenai gadis kecilnya. *** Rasanya, kesabaran Bara benar-benar diuji. Belum apa-apa, untuk mengetahui informasi gadis kecilnya, dia harus segera pergi ke restoran hotel milik keluarganya saat pagi-pagi. Bahkan, dia belum sempat sarapan. Membuat dia harus mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan mamanya. Saat dirinya sampai di dapur hotel. Dia segera memasak sarapan untuk tamu penting. Yang sialnya, sangat menginginkan masakan darinya langsung sebelum kembali ke negaranya. Karena hal itulah yang membuat Bara tidak kuasa untuk menolaknya. Tidak sampai di situ saja. Dia harus mengantarkan makanan itu sendiri kepada tamu penting itu. Meski sangat malas dan terpaksa, dia tetap melakukannya. Demi nilai baik hotel yang keluarganya bangun. “Morning Mr and Mrs Smith,” sapa Ghava begitu membuka pintu kamar vvip hotel itu. Mr dan Mrs Smith yang disebut Bara itu langsung tersenyum lebar melihat kedatangan Bara. Pasangan itu segera menyambut ramah pria berumur awal tiga puluhan itu. “Jangan terlalu kaku seperti itu, Kalandra.” Tuan Smith langsung menyalami anak sahabatnya itu. Bara hanya tersenyum tipis, menyambut uluran tangan tuan Smith itu. Lantas, mereka sedikit berbasa-basi, sebelum akhirnya Bara pamit untuk undur diri. Dengan dalih masih ada banyak pekerjaan yang menunggunya. Selepas dari menjamu tamu penting itu, Bara segera kembali ke dapur dan membuat sarapan cepat untuk dirinya. Kemudian, dia harus pergi ke restoran milik Zoya. *** Jadwalnya yang cukup padat, dengan harus bolak-balik antara restoran Zoya dan hotel, membuat Bara mengerang frustrasi. Perangainya yang dingin, sudah mampu membuat orang di sekitarnya sangat canggung kepadanya. Di tambah dirinya yang tiba-tiba mengerang, semakin membuat para pekerja lainnya sedikit memundurkan diri dengan waswas. Khawatir membuat mood Bara semakin rusak. “Lo kenapa, Bar?” Zoya tiba-tiba muncul di area kitchen, entah dari mana. Memandang bingung sahabatnya yang tidak seperti biasanya. Bara hanya menoleh sekilas. Kemudian, pria itu bergumam tidak jelas. Tentunya, hal itu menimbulkan rasa jengkel di hati Zoya. Namun, Zoya tidak pergi dari tempat itu. Dia tetap berada di sana, menikmati pemandangan indah dari sahabatnya yang fokus dalam memasak. Tak butuh waktu lama. Bara menyelesaikan segala macam hidangan. Kemudian, dia melihat jam yang terpampang di dinding belakang tubuhnya. Lantas, dia menyeringai kecil. Segera dia bereskan semuanya yang tersisa dan pergi dari area dapur. Zoya yang menyadari Bara sudah akan pulang, segera menyusul langkah lebar sahabatnya itu. “Bara! Tungguin, gue ikut, lo!” Panggilan Zoya tidak menghentikan langkah lebar Bara. Akan tetapi, ucapan Zoya setelahnya yang membuat Bara berhenti. Kemudian, pria itu menoleh ke arah Zoya. “Sorry, gue pulang ke rumah.” Setelah berkata singkat dan padat. Bara kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar. Berharap dirinya segera sampai di kediaman orang tuanya. Jalanan sore sudah cukup padat merayap, tetapi tidak menyurutkan semangat Bara untuk cepat sampai di rumahnya. Selain ingin cepat bertemu dengan sang mama. Dia juga sudah lelah seharian ini bekerja. Embusan nafas panjang, keluar dari mulut Bara, tatkala dirinya memasuki halaman luas rumahnya. Tanpa pikir panjang, dia segera memasukkan mobil yang dikendarainya ke dalam garasi. Suara langkah Bara yang beradu dengan lantai. Berhasil mengalihkan fokus Siska yang tengah sibuk membaca majalah fashion. Sontak saja Siska sedikit mendelik, saat mendapati putranyalah yang datang. Padahal sebelumnya, dia sempat berpikir Bara tidak akan kembali dalam waktu dekat. Mengingat, putranya itu pergi saat pagi, tanpa berpamitan padanya. “Kenapa Mama ngeliatin Bara segitunya?” tanya pria dewasa itu yang kini sudah mengambil duduk di sebelah Siska. Siska memicing curiga kepada putranya. “Keberadaan kamu di rumah ini sudah termasuk hal langka, Bar.” Bara mendengus mendengar penuturan mamanya itu. “Bara gak boleh tinggal di sini lagi?” tanyanya sedikit sewot. Sontak saja majalah yang sedang dipegang Siska mendarat mulus di paha Bara dengan kasar. Membuat Bara sedikit meringis. “Mama suka banget kekerasan ke Bara.” Bara bersungut kecil dengan mengusap pahanya pelan. “Mama curiga ada yang gak beres sama kamu! Bisa-bisanya pulang tanpa perlu Mama omelin dulu. Patut dicurigai.” Siska menelisik putranya secara tajam. “Apa sih, Ma. Buruk mulu pikirannya ke Bara. Padahal Bara itu cuma mau mendekatkan diri sama Mama. Siapa tau nanti jodoh Bara juga mendekat,” elak Bara dengan pintar. Mendengar kata jodoh, tentu saja membuat Siska melupakan kecurigaannya kepada Bara. Justru, sekarang wanita paruh baya itu, memandang putranya dengan berbinar dan antusias. “Kamu sudah mau memikirkan hal jodoh, Bara?” tanya Siska semangat, yang langsung diangguki oleh Bara. Hal itu semakin membuat Siska bertambah semangat. “Kalau gitu ayo kenalin ke Mama.” Bara menghela nafas berat dan lemas. “Masalahnya itu, Ma. Bara tidak ada calon dan kandidat pasti buat jadi jodoh Bara,” balasnya sok lesu. Siska pun terdiam. Sebagai seorang ibu, tentunya sedih mendengar penuturan anaknya yang tidak memiliki seorang yang dekat dengannya. Padahal, jika dilihat-lihat, putranya itu tidak jelek-jelek banget. Tetapi, kenapa bisa tidak memiliki calon atau wanita di sisinya. Otak Siska pun memikirkan bagaimana kiranya agar putranya itu segera mempunyai pasangan secepatnya. Terlebih, umur Bara sudah kepala tiga. Tetapi, dia tidak mau juga sembarangan memilihkan pasangan untuk putranya. Dia tetap harus mencari yang terbaik untuk masa depan Bara. “Kira-kira kamu mau, gak, Bar? Kalau misalkan Mama kenalin ke anak temen Mama,” ujar Siska hati-hati, khawatir menyinggung perasaan Bara. Bara langsung menoleh, menatap lekat kedua mata mamanya. “Siapa?” Siska mengedikkan bahunya sesaat. Namun, kemudian wajah Siska kembali berbinar tatkala terlintas wajah seorang temannya. “Bagaimana kalau dengan anaknya Rani. Yang ketemu beberapa waktu lalu. Anaknya manis, Mama suka,” celetuknya dengan senang dan berbinar. Mendengar itu, Bara tersenyum lebar di dalam hatinya. Tidak menyangka, jika semesta akan mendukungnya. Dari sekian banyaknya teman mamanya. Justru Elena yang terpikirkan oleh mamanya. Hal itu secara tidak langsung, membuat Bara yakin akan ikatannya dengan sang mama sangat kuat. Anggukan singkat dari Bara, membuat Siska semakin senang. Bahkan, sekarang wanita paruh baya itu sudah heboh mencari nomor sahabatnya itu. Untuk menanyakan perihal putri kecil mereka. Hal itu semakin melebarkan senyuman Bara. See you later, Elena–batin Bara.

Lanjut baca