Cinta Diantara
Bab 1 Chapter 1

“Saya nikahkan, Aisyah binti Ahmad dengan mas kawin cincin lima gram, dibayar tunai.” “Saya nikahkan, Aisyah binti Ahmad…” Air mata menetes tanpa henti di wajah wanita berhijab biru dengan gaun putih yang begitu indah. Hati yang penuh dengan amarah menghasilkan tangan yang bergetar hebat, seakan siap merusak semua yang ada di hadapannya. Gemuruh doa yang dipanjatkan pasca pengucapan akad, membuat matanya mengeluarkan air mata kepedihan yang terus mengalir. “Aisyah?” ketukan pintu yang tak menuntut, mengisi keheningan di dalam kamar. “Nak, apa ibu boleh masuk?” Tidak ada jawaban. Hanya isakan yang semakin kencang saat suara pintu terbuka, terdengar jelas di telinga. Tanpa mengatakan apapun, sang ibu hanya duduk di samping wanita tersebut. “Ibu tidak bisa melakukan apapun. Sebelum semua ini terjadi, ibu sudah bertanya, apa kau bersedia atau tidak melakukan semua ini, tapi kau bilang..” sang ibu menggenggam tangan anak perempuannya. “Sekarang, keputusan di tangan mu. Sebelum semua terlalu jauh, putuskan keinginan mu. Ibu tidak akan melarang, ibu tidak akan mengatakan apapun. Kebahagiaan mu adalah prioritas ibu saat ini.” Sementara sang ibu menunggu jawaban anak perempuannya, di lantai satu mulai terdengar kekhawatiran dari keluarga mempelai pria. “Zain,” seorang pria paruh baya menghampiri mempelai pria yang masih duduk di hadapan penghulu. “Bagaimana jika ia tidak turun?” bisik pria paruh baya tersebut. “Abi, pernikahan ini bukan sesuatu yang ia inginkan. Biarkan dia memutuskan apa yang ia mau. Aku akan menerimanya dengan lapang dada.” Sang ayah hanya menepuk lembut pundak anak lelakinya. Entah apa yang terjadi di beberapa menit ke depan, tapi sang ayah tau bahwa anaknya telah siap menghadapi itu semua. Hampir sejam berlalu, beberapa orang mulai bergunjing tentang mempelai wanita yang tidak kunjung datang meski akad telah selesai. Merasa resah, Zain terus menatap jam di tangannya. Sesekali ia memeriksa ponsel yang tak lepas dari genggaman, seakan menanti panggilan dari seseorang. “Abi,” belum sempat Zain menyelesaikan kalimatnya, wanita yang ia nikahi, melangkah turun dari lantai dua bersama ibu mertua. Wanita itu tersenyum, adalah kalimat yang terlintas pertama kali di benak Zain. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, ataupun sisa tangisan atas pernikahan ini. Dengan di damping sang ibu, wanita bernama Aisyah itu duduk di samping Zain untuk menandatangani buku pernikahan di atas meja. “Maaf, lama.” Bisik Aisyah yang di jawab gelengan dan senyuman lembut dari Zain. Goresan tinta hitam telah terbentuk jelas di buku pernikahan mereka. Foto dengan latar belakang biru sudah terpasang, dan para tamu yang hadir mulai mengucapkan selamat kepada pengantin. “Selamat Aisyah,” segerombol pria dan wanita menghampiri mereka dengan senyuman lebar. “Kami buru-buru kemari saat mendengar pria jutek ini menikah.” “Belum pernah aku membayangkan, ada wanita yang mau dengan pria jutek, pelit senyum, gila kerja dan galak ini. Bahkan sikapnya lebih dingin dari kulkas empat pintu.” Ejekan salah satu rekan kerja Zain mengundang tawa semua teman-temannya. “Mba Aisyah, kalau mba mau curhat tentang sikap pak Zain, mampirlah ke kantor. Kami semua siap mendengarkan keluh kesahnya mba Aisyah.” Ujar salah satu wanita yang masih mengenakan kemeja dan celana bahan. Seperti baru pulang kerja. “Jika kalian semua disini, siapa yang berjaga di kantor? Bagaimana kalau ada klien yang datang?” tegur Zain. “Nah, apa ku bilang? Di momen seperti ini saja, dia masih memikirkan pekerjaan. Ibu Aisyah, jika ibu sudah tidak tahan dengannya, datanglah ke kantor, biar kami yang memberikan pelajaran kepadanya.” Aisyah hanya tertawa kecil mendengar guyonan para karyawan yang bekerja di kantor Zain. “Tapi, ngomong-ngomong, mba Aisyah terlihat cukup muda dibandingkan Zain. Berapa umurnya mba?” “Dua puluh delapan tahun.” Jawab Aisyah malu-malu. “Astaga,” semua serempak menatap Zain. “Apa kau menggodanya, pria tua? Umur kalian beda tujuh tahun. Dimana kalian bertemu?” “Hei, jangan lupa aku boss kalian.” Tegur Zain. “Ya, kalau di kantor kau memang boss. Kalau diluar, kau adalah teman kami. Itukan prinsip bekerja mu? Dasar pelupa.” Semua orang terlihat begitu bahagia, dan menikmati momen penting ini. Akan tetapi, dimana ada kebahagiaan, disana ada kesedihan. Di hari yang sama dengan pernikahan Aisyah, sang ayah harus dipanggil yang maha kuasa. Tawa yang sejak tadi terdengar, tak lama berubah menjadi kesedihan saat abi berbisik kepada Zain mengenai kondisi ayah Aisyah di dalam kamarnya. Pernikahan dengan pakaian yang penuh warna, harus berubah menjadi warna putih. Pemakaman digelar dalam kondisi hujan, seakan langit mengerti kesedihan yang dirasakan Aisyah. Zain duduk -di atas bangku- di samping Aisyah yang termenung di taman belakang rumah. “Aku mengizinkan mu tinggal disini selama yang kau mau.” Aisyah menggeleng. “Aku akan ikut pulang dengan, mas.” “Aisyah,” meski mereka sudah menikah, Zain masih merasa segan untuk menyentuh Aisyah meski itu hanya menggenggam tangannya. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku meminta mu tinggal disini selama seminggu?” “Tidak, jika aku tetap disini, orang-orang akan bergunjing tentang keluarga ku.” Zain berlutut di hadapan Aisyah yang tertunduk menahan air mata. “Tidak akan ada yang bergunjing tentang keluarga mu. Aku disini sekarang, aku tidak akan membiarkan itu terjadi dengan keluarga mu. Jika kau mengizinkan, aku juga akan disini selama seminggu, dan abi dan umi-“ “Cukup..” potong Aisyah. “Cukup abi dan umi saja yang disini bersama ku dan ibu. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan mas.” Helaan nafas berat terdengar dari Zain. “Aisyah, jika kau ingin menangis maka menangislah. Tidak akan ada yang melarang mu melakukan itu.” Dengan cepat air mata terbendung di pelupuk mata Aisyah. “Jika aku menangis, siapa yang akan menguatkan adik-adik serta ibu ku?” “Jika kau terus bersikap kuat, lalu kapan kau mengutarakan semua yang kau rasakan?” air mata perlahan menetes membasahi pipi. “Setidaknya, jangan bersikap kuat di hadapanku. Jika kau ingin marah, marahlah di hadapanku. Jika kau ingin menangis, menangislah di hadapanku. Aku… Aku tidak suka ada orang yang menyembunyikan sesuatu dariku.” Genggaman Aisyah pada bajunya mengerat setelah mendengar semua yang Zain katakan. Air mata sudah sepenuhnya membasahi wajah Aisyah. Isakannya terdengar memilukan di telinga Zain. Apa yang harus ku lakukan? Menjadi pertanyaan yang tidak bisa Zain ucapkan saat ini. Sikapnya yang selalu terbuka akan isi kepalanya, kini harus tertahan agar tidak melukai atau menyinggung siapapun di situasi saat ini. Zain hanya bisa menemani Aisyah di taman. Mendengar semua isakannya, tanpa melakukan apapun. Setelah semua tamu pulang, Aisyah masuk ke kamar ibunya yang sejak tadi keluar kamar. Bahkan ibu tidak memakan nasi yang sudah di siapkan umi di depan kamarnya. “Ibu,” Aisyah duduk di tepi tempat tidur. “Lihat, ayah mu begitu bahagia,” Sebuah bingkai foto yang menunjukkan senyum cerah ayahnya, dipegang erat oleh sang ibu. “Sekarang pun, ia merasa bahagia atas pernikahan mu. Pengorbanan mu hari ini, tidak akan pernah ibu dan ayah lupakan sampai kapan pun. Ibu sungguh, beruntung memiliki mu dan adik-adik mu. Sungguh.” Aisyah hanya mengangguk seraya menggenggam kedua tangan ibunya. Sepanjang hidupnya, Aisyah belajar seberapa penting keluarga di atas segala-galanya. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi harga diri keluarga yang ia cintai. Dan karena alasan itulah, Aisyah berani bertindak sampai sejauh ini. Hari sudah gelap. Bulan purnama bersinar terang hingga cahayanya masuk ke dalam kamar Zain yang sedang duduk di balkon dengan pikiran kosong. ‘Ku dengar kau menikah hari ini. Ku ucapkan selamat atas pernikahan mu, tapi apa keluarga mu tau tentang hal itu? Kau tau maksud ku.’ Begitu malas Zain membalas pesan yang muncul di layar ponselnya. Apa yang wanita itu harapkan dengan mengirim pesan seperti itu? Permintaan maaf? Penjelasan? Bahkan Zain tidak memiliki hak untuk melakukan itu semua kepadanya. ‘Kau sudah di rumah? Apa Aisyah ikut bersama mu? Apa kau masih di rumah Aisyah?’ Hanya pesan dari umi yang sanggup Zain balas. ‘Aku di rumah. Beri waktu seminggu, biarkan Aisyah disana untuk menenangkan diri atas apa yang terjadi.’ Tak lama, umi membalas kembali pesan dari Zain. ‘Baiklah, berkabar kepada umi jika Aisyah datang. Bagaimanapun, ia memiliki hak untuk mengetahui semuanya.’ Zain terdiam. Termenung membaca pesan yang dikirimkan umi. Ia tidak dapat menduga reaksi Aisyah yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Rasanya seperti menyimpan bom waktu yang akan meledak pada akhirnya. Setelah seminggu kemudian, Aisyah dan Zain memutuskan untuk pergi ke rumah mereka yang berada cukup jauh dari kota. “Apa kau tidak lelah dengan jarak sejauh ini dari kantor?” tanya Aisyah yang menatap jalanan kosong, penuh dengan jejeran pohon di tepinya. “Tidak. Sudah terbiasa.” Kembali keheningan yang berada di sekitar mereka. Bahkan radio pun tidak ada yang berani menyalakan, khawatir mengganggu satu sama lain. “Aisyah,” Untuk pertama kalinya sejak mereka pergi bersama, Aisyah menoleh ke arahnya. “Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan saat kita tiba di rumah,” “Baiklah.” “Tapi, hal yang perlu kamu ketahui. Aku tidak akan memaksakan apapun kepadamu. Jika, setelah kau mengenalnya, kau merasa tidak nyaman, maka kau boleh pergi dari rumah. Jadi, jangan merasa terbebani dengan hubungan kita saat ini.” Aisyah tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap bingung pria yang kini duduk di sampingnya. Apa maksudnya? Siapa yang akan dikenalkan oleh Zain? Semua pertanyaan itu terjawab sudah saat Aisyah tiba di depan rumah mereka. “Selamat datang,” ***

Bab 2 Chapter 2

“Selamat datang,” seorang anak lelaki berumur enam tahun, berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar dan indah. “Ibu, aku menanti mu sejak tadi.” Aisyah menatap Zain yang berjalan menghampiri anak tersebut. Ia menggendongnya, dan menghujani anak lelaki itu dengan ciuman. “Haidar, dimana nenek?” tanya Zain. “Nenek ada di dapur, ayah. Aku turun begitu mendengar mobil ayah masuk ke garasi rumah.” Zain menurunkannya. “Sekarang pergilah ke nenek, dan katakan kami telah datang.” “Tentu.” Anak bernama Haidar itu berlari menaiki beberapa anak tangga untuk tiba di depan pintu masuk. Meninggalkan Aisyah yang tak paham dengan apa yang terjadi. “Kau sudah mendengarnya bukan?” Zain membuka pembicaraan. “Dia Haidar. Anak ku.” Tidak ada hal yang lebih mengejutkan selain mendengar bahwa Zain telah memiliki seorang anak. “Kau.. Kau sudah menikah?” “Aku pernah menikah. Dia melahirkan anak selucu Haidar, lalu meninggalkan kami untuk selamanya.” Aisyah merasa bersalah mendengarnya. “Maaf, aku tidak bermaksud mengungkit hal itu.” “Tidak masalah,” Zain mendekat. “Apa keputusan mu? Aku akan masuk duluan ke rumah, jika semenit kemudian kau tidak ikut masuk, aku akan melepaskan mu.” Zain pergi meninggalkan Aisyah. Hati berharap cemas tentang apa keputusan yang diambil oleh Aisyah. Mengingat saat ini anaknya sudah melihat sosok Aisyah. Akan cukup sulit menjelaskan segalanya kepada Haidar. “Dimana Aisyah?” tanya ummi yang melihat Zain masuk seorang diri. “Biarkan ia berpikir.” Jawab singkat Zain sembari berlalu duduk di atas sofa bersama Haidar. “Zain,” ummi mulai kesal dengan sikap anak lelakinya. “Kau tidak bisa seperti itu. Kau dan Aisyah sudah menikah dan-“ “Ibu,” potong Zain. “Sejak awal tidak seperti itu rencananya. Pernikahan ini.. Sudahlah.” “Kau benar-benar keterlaluan!” ummi berniat menjemput Aisyah. Namun, ketika pintu dibuka, terlihat Aisyah yang bersusah payah mengangkat koper di tangannya untuk menaiki sisa anak tangga untuk tiba di depan pintu. “Ah,” Aisyah terkejut melihat ummi yang menatapnya. “Ya Allah, Aisyah.” Zain terkejut mendengar ummi menyebut nama Aisyah. Dengan cepat ia bangkit dari duduk dan melihat ke luar. “Anak lelaki umi memang bodoh. Bagaimana bisa ia meninggalkan mu dengan koper berat seperti ini.” Oceh ummi yang membantu Aisyah. “Sini,” Zain mencoba membantu, tapi tangan ummi menepisnya hingga koper itu masuk ke dalam rumah dengan selamat. “Anak bodoh sepertinya, terlalu beruntung mendapatkan mu, Aisyah.” Ummi menatap sinis Zain. “Bodoh!” Ummi berjalan ke dapur. “Ummi, tidak boleh berbicara seperti itu di hadapan Haidar.” protes Zain. Umi kembali dengan bubur manis. “Makan ini, nak. Keluarga umi bilang, jika hari mu di awali dengan yang manis, maka kehidupan mu akan turut manis di hari itu. Ini adalah pertama kalinya kamu masuk ke dalam rumah Zain, jadi ibu harap, kau selalu di selimuti hal-hal manis.” Aisyah tersenyum. “Ya, ummi.” Ia menerima sesuap bubur manis yang diberikan ummi. Mata Zain tidak dapat terlepas dari sosok Aisyah. Bagaimana bisa wanita itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah? Apa ia mengambil keputusan yang benar? Semua pertanyaan itu terus berputar di kepala Zain. “Nak, antar Aisyah ke kamar. Bantu ia bawakan koper.” “Baik, ummi.” Zain dengan cepat meraih koper besar yang dibawa Aisyah, dan menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana hanya ada kamarnya dan kamar Haidar yang saling berhadapan. Diletakkannya koper berisi pakaian itu di dalam ruang pakaian. Ruangan persegi Panjang yang di dominasi warna emas, dan cermin di sepanjang lemari. “Kau buka dan carilah tempat untuk pakaian mu.” Aisyah berjalan masuk, satu persatu ia buka pintu lemarinya. “Aku rasa … Pakaian ku akan tetap di koper.” Ujar Aisyah sembari menutup pintu terakhir dari lemari. “Kenapa?” “Pakaian mu, terlalu banyak.” Gumam Aisyah yang terdengar samar di telinga Zain. “Hm, akan ku rapihkan,” Dengan cepat Zain mengeluarkan pakaiannya dari dua lemari, dan meletakkannya dengan asal di salah satu lemari. “Kau bisa gunakan lemari ini.” “Terimakasih.” “Aku akan turun. Jika kau sudah merapihkannya, turunlah. Kau belum makan sejak tadi.” Zain keluar dari ruangan meninggalkan Aisyah untuk bebenah. Seharusnya Aisyah mulai merapihkan seluruh barang yang ia bawa, tapi rasanya begitu malas hingga ia memilih duduk di bangku panjang di samping etalase dimana jam dan dasi mewah terpajang disana. Ponsel yang sejak tadi ia abaikan menampilkan 25 panggilan tak terjawab dari nomor tak bernama. Rasanya Aisyah ingin mempertanyakan kembali keputusannya saat ini. Apa benar aku harus berada disini? Apa anak bernama Haidar akan menerima ku disini? Bagaimana caranya aku mengurus pria yang pernah memiliki seorang istri sebelumnya? Apa mungkin dia akan membandingkan diri ku dengan almarhumah istrinya? Semua pertanyaan itu hanya membuat kepala Aisyah terasa sakit. Sedangkan di bawah, ummi yang berseri-seri menyiapkan seluruh makan siang dengan sepenuh hati. Bahkan ummi tidak menyadari kehadiran abi yang sudah sejak tadi berdiri di belakangnya. “Sejak kapan abi datang?” tanya ummi yang terlonjak kaget melihat abi. “Ummi, terlihat begitu bersemangat. Apa karena mantunya datang?” “Tentu umi senang,” di letakkannya wadah terakhir berisi semur ayam, di atas meja. “Anak abi yang pintar itu, meninggalkan menantu ummi sendirian di bawah, dengan alasan agar ia bisa memilih. Pada akhirnya, menantu ummi menaiki anak tangga membawa kopernya yang berat tanpa bantuan suaminya sendiri.” “Bukan begitu-“ “Apa?” keterkejutan abi memotong pembelaan Zain. “Anak nakal ini berani membuat susah menantu abi? Tidak benar ini. Dia harus dikasih pelajaran.” Abi berkeliling mencari sapu ijuk yang akan digunakan sebagai alat penghukum bagi Zain. “A-abi.. Abi, tenang abi.” “Tenang katamu? Seorang wanita harus diperlakukan bagaikan ratu di rumah mertuanya, tapi kau.. Ya Allah, mana sapu? Cepat katakan ummi, dimana sapu?” Abi dan Zain menemukan sapu secara bersamaan. Terjadilah perebutan sapu diantara pria dewasa itu. “Abi, dengarkan penjelasan Zain dulu.” “Penjelasan apa hah? Semua sudah jelas. Kau harus dihukum karena berani berperilaku tidak jantan seperti itu.” “Abi, dengarkan Zain. Abi, tolong.” Zain memohon dengan ekspresi memelas untuk meminta ampunan abi yang mendapatkan dukungan penuh dari ummi yang hanya tertawa di dekat dapur. “Abi,” suara lembut dari Aisyah menghentikan perebutan mereka. Semua mata menatap Aisyah yang turun dengan menggandeng Haidar. “Abi, maaf atas kelancangan Aisyah, tapi..” Aisyah mengambil sapu itu dari tangan mereka berdua. “Lakukan hukuman ini disaat Haidar tidak di rumah.” Bisik Aisyah agar tak terdengar Haidar yang berdiri di belakang sembari memeluknya. Abi berdeham. “Baiklah, karena ini permintaan dari menantu dan cucuk kesayangan abi, maka akan abi turuti.” “Astaga, ini tidak adil. Abi lebih mendengarkan Aisyah dibandingkan diriku? Aisyah baru disini, sedangkan aku sudah lama menjadi anak abi.” Keluh Zain yang seperti anak kecil. “Diam!” Ummi berjalan menghampiri Aisyah yang tertawa kecil melihat perdebatan mereka. “Ayo makan nak. Ayo Haidar, kita duluan saja makannya. Biarkan mereka berisik sendiri.” “Aku mau disuapin ibu.” Semua orang tertegun dengan permintaan Haidar. Menatap Aisyah dengan cemas, khawatir ia menolak permintaan tersebut. “Tentu,” semua berjalan bersama menuju ruang makan dimana semua makanan lezat telah di hidangkan. Telur balado, semur ayam, sayur sop bakso hingga sambal pedas pun menjadi hidangan utama sebelum salad buah sebagai makanan penutup. Sesekali Aisyah tertawa mendengar cerita lucu abi. Merasa kagum atas cerita ummi saat menjadi dokter relawan di daerah korban bencana. Dan cerita tentang Zain yang mengambil kelas bisnis, lalu membangun restoran sendiri di beberapa daerah. “Bagaimana dengan restorannya?” tanya Aisyah yang penasaran. “Sudah lama tutup. Aku belum sempat melihatnya lagi.” Jawaban Zain menjadi suara terakhir sebelum keheningan melanda. Ekspresi ragu dari wajah mereka terlihat begitu jelas. Aisyah yang merasa tidak enak segera mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan beberapa kisah lucu yang pernah almarhum ayahnya ceritakan. Mereka kembali tertawa sembari menyantap makanan di atas piring. Begitu bahagianya, begitu meriahnya, hingga Aisyah tidak menyadari bahwa ponsel yang kini berada di atas tempat tidur, terus berdering dengan nomor yang sama. ‘Aku mohon, angkatlah.’ ***

Bab 3 Chapter 3

Hari mulai gelap. Kini mentari telah digantikan dengan bulan dan bintang. Angin malam mulai berhembus meniup lembut wajah Aisyah yang terus menatap mobil abi dan ummi yang semakin jauh. "Ayo, kita masuk." Zain berjalan masuk ke rumah seraya menggendong Haidar yang tertidur. "Aku akan merapihkan dapur, mas pergilah duluan." Tidak membantah atas usulan sang istri, Zain berjalan naik ke lantai dua untuk meletakkan Haidar di tempat tidurnya, sedangkan Aisyah sibuk membersihkan piring kotor. Ini adalah malam pertama mereka tidur bersama. Di rumah yang luas ini, hanya ada dua orang dewasa di kamar yang sama. Haruskah aku tidur di kamar Haidar? Haruskah aku tidur di sofa? Lalu apa yang akan dipikirkan sang suami dengan semua tindakan tidak sopannya itu? Maka Aisyah lebih memilih untuk membulatkan tekad, dan berbicara terus terang tentang ketidaksiapannya. Setelah semua rapih, Aisyah masuk ke dalam kamarnya dengan gugup. Tapi yang terjadi, Aisyah menemukan Zain yang tertidur di sofa dekat pintu menuju balkon. "M-mas?" Perlahan Aisyah menggoyangkan tubuh Zain agar ia terbangun. "K-kenapa Aisyah? Ada apa?" Matanya memerah, wajahnya penuh khawatir. "Apa ada sesuatu?" "Kenap mas tidak tidur di tempat tidur? Biar aku yang tidur disini jika mas merasa tidak nyaman tidur bersama ku." "Tidak, tidak," Zain bangun dari tidurnya dan memilih duduk di hadapan Aisyah yang berdiri menatapnya. "Aku tadi melihat mu sesekali melamun di dapur. Kau terlihat gelisah dan bingung. Aku pikir, itu pasti karena kita akan tidur di kamar yang sama hari ini jadi kau merasa seperti itu. Dan, aku memutuskan untuk tidur disini dan kau disana. Kita akan terus seperti ini, sampai kau menerima apa yang terjadi diantara kita." "Lalu," suara Aisyah menghentikan niat Zain untuk kembali tidur. "Apa kau menerima semua kejadian ini?" "Kenapa tidak? Tuhan menghendaki segalanya. Apa yang terjadi adalah sebaiknya rencana tuhan. Mungkin, untuk sekarang kita belum menemukan jawaban pasti, tapi keyakinan mu tidak boleh goyah selama mencarinya." Nasihat Zain terdengar seperti almarhum sang ayah. Ini membuat Aisyah sedikit sedih karena merindukan ayahnya. "Kau istirahatlah. Wajah mu terlihat lelah. Handuk ada di dalam lemari kamar mandi, ambil satu dan lepas pakai, jemur di teras." Aisyah mengangguk atas perintah Zain, dan ia membiarkan pria itu tertidur sementara ia menenangkan diri dengan siraman air hangat. Setelah selesai merapihkan diri dan mengenakan pakaian tidurnya, Aisyah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ponsel yang tergeletak menarik perhatiannya untuk menyalakan layar ponsel tersebut. 'Mari bertemu besok.' Hanya dengan membacanya membuat Aisyah naik darah. Dia tak habis pikir jika orang tersebut masih berani menghubunginya setelah apa yang terjadi. Dengan kasar Aisyah letakkan ponselnya diatas laci dan ia tutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lembut yang hangat. Di tengah malam, Zain terbangun akibat suara isakan samar yang ia dengar. Ia khawatir jika itu Haidar yang menangis di depan pintu kamarnya, namun yang ia temukan, Aisyah yang tengah menangis dalam tidur. Dahinya mengernyit, dan air mata terus mengalir dari sudut matanya. Perlahan Zain duduk di sampingnya untuk melihat lebih jelas keadaan Aisyah. "Maafkan aku.. Maafkan aku.." gumamnya dalam tidur. Zain menyeka air mata itu. "Kau terus menahan luka, hingga tanpa sadar kau meluapkan luka itu dalam tidur." Usapan lembut Zain pada kepala Aisyah memberikan sedikit ketenangan pada wanita itu. Air matanya perlahan berkurang, dan hilang. Kalimat-kalimat yang terus ia ucapkan, kini terhenti, seakan Aisyah sudah dapat tidur dengan nyenyak. Dan Zain memutuskan untuk kembali tidur. Waktu berlalu, kini mentari sudah kembali menyinari rumah Zain yang bernuansa serba putih dengan sentuhan klasik pada barang-barangnya. "Dia asisten rumah tangga disini. Namanya Bu Sukma." Zain memperkenalkan wanita paruh baya yang mengenakan gamis panjang dengan motif bunga. "Saya Sukma, asisten rumah tangga sejak nak Zain kecil." Aisyah tersenyum menyambutnya di rumah. "Saya Aisyah." Senyuman Bu Sukma begitu ramah. "Tadi nak Zain sudah bercerita tentang nak Aisyah. Katanya, nak Aisyah senang memasak, benarkah?" "Begitulah." Jawab Aisyah malu-malu. "Hari ini, ibu akan ke pasar. Apa nak Aisyah ingin ikut?" Sebagai seorang istri, ia harus meminta persetujuan sang suami untuk pergi ke suatu tempat. Tatapannya penuh harap agar Zain mengizinkan hal tersebut. "Tentu, pergilah bersama Bu Sukma. Beli semua barang yang kau butuhkan, aku akan pergi bekerja setelah mengantar Haidar sekolah." Rasanya begitu bahagia karena bisa mengenal daerah sekitar. Mengingat dia seorang yang aktif, akan terasa mencekik jika ia hanya berdiam diri di rumah. Tak terduga, butuh hampir dua puluh menit bagi mereka untuk tiba di pasar. "Ini satu-satunya pasar yang terdekat." Ujar Bu Sukma. Aisyah hanya tertawa kecil mendengar ucapan Bu Sukma. Menurutnya, ini tidak dekat. "Di rumah nak Aisyah, butuh berapa menit tiba di pasar?" "Lima menit saja cukup." Mereka tertawa tentang fakta yang baru saja mereka dengar. Belanja di pasar tradisional adalah hal yang Aisyah sukai. Tawar menawar sudah menjadi hal yang ia kuasai, bahkan dalam waktu singkat ia mampu mendapatkan sayur hingga buah di tangannya. "Nak Aisyah tunggu disini. Ibu mau membeli beberapa bubuk halus bumbu dapur." "Tentu," Aisyah mulai memilih beberapa buah semangka dan melon, sedangkan Bu Sukma masuk ke salah satu toko tak jauh dari tempat Aisyah. "Terimakasih, pak." Aisyah membayar untuk satu buah semangka dan satu kilo jeruk. Ketika ia berniat menyusul Bu Sukma, salah seorang anak kecil menabraknya hingga kantung jeruk terlepas dan membuat buahnya bergelinding ke banyak arah. Dengan cepat Aisyah mengambil buah-buah itu, dan tanpa terduga seorang wanita berkaus merah membantunya tanpa diminta. "Terimakasih," ujar Aisyah ketika jeruk-jeruk itu dimasukkan ke dalam kantung plastik yang ia pegang. "Sama-sama." Senyum manis wanita itu berikan hingga lesung pipi terlihat jelas di wajahnya. Matanya yang berwarna hijau sungguh memikat, terlihat cocok dengan rambutnya yang berwarna hitam. "Kau baru disini?" Tanya wanita asing itu. "Tidak juga," Aisyah khawatir jika wanita cantik di hadapannya bukanlah orang baik, maka ia memilih untuk berbohong. "Aku sering ke pasar, jadi aku familiar dengan wajah-wajah yang sering datang." Aisyah hanya mengangguk, entah kebohongan apa yang dapat menutupi kebohongan sebelumnya. "Baiklah, aku pergi dulu." Ia melambai sebelum pergi meninggalkan Aisyah. "Nak Aisyah," Bu Sukma datang dengan satu kantung penuh botol. "Ayo kita pulang." Dalam perjalanan Aisyah menceritakan kepada Bu Sukma, bagaimana pasar tradisional di dekat rumahnya begitu lengkap, menyediakan seluruh kebutuhan warga sekitar, hingga tidak perlu berpindah-pindah tempat. "Pak, kita turun sebentar di sebelah sana." Ujar Bu Sukma yang di turuti supir. "Ada apa Bu?" "Maaf nak, ibu lupa membeli membeli susu Haidar." "Aku ikut." "Tidak, tidak." Bu Sukma menghentikan Aisyah yang ingin membuka pintu, mengikutinya. "Tetap disini, ibu tidak akan lama." Bu Sukma segera turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket untuk membeli sisa kebutuhan rumah yang tadi tak sempat dibeli. Ponsel Aisyah terus berdering dari nomor yang enggan ia angkat sejak kemarin. Kali ini, Aisyah memutuskan untuk menolak panggilannya. Namun yang terjadi, seseorang yang terdengar marah mengetuk kaca jendela mobil. "Turun!" Ujarnya dari luar. ***

Lanjut baca