Suami 500 Juta
Bab 1 Kecelakaan dan Kehilangan

Berdiri dengan tatapan kosong, masih dengan handphone yang menempel di salah satu telinganya. Bukan ini yang diinginkan Narada, air mata yang tiba-tiba jatuh di kedua pipinya. "Ini nggak mungkin!" Hanya itu yang mampu ia katakan sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya berulang kali. Terkejut itu pasti, apalagi yang ada di pikiran gadis bertumbuh tinggi dengan paras menawan. Ketika beberapa detik yang lalu seorang petugas kepolisian menelponnya untuk memberi kabar, bahwa kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan beruntun di salah satu tol yang berada di Kota Jakarta. Narada memilih duduk sebentar di trotoar yang berada di sebelah kirinya. Rasa lemas itu tidak terkira, ia ingin menuju ke rumah sakit dimana kedua orang tuanya akan dibawa sekarang. Tapi, berdiri pun rasanya tidak mampu, air matanya bercucuran tak menentu, membayangkan bagaimana ayah dan ibunya sangat menyayanginya selama ini, membayangkan bagaimana mereka selalu berjuang demi membahagiakan anak-anaknya, tak pernah sekalipun kasih sayang itu berkurang untuknya dan untuk adik-adiknya. Tapi, semua itu lenyap dalam satu hari dan tidak akan pernah ia rasakan lagi di hari-hari berikutnya. "Ayah ... ibu ... kenapa kalian meninggalkan aku secepat ini?" keluhnya masih dengan air mata yang bercucuran di kedua pipinya. Narada mencoba perlahan beranjak dari trotoar dimana dia duduk, dia mengusap kedua air matanya, lalu segera menghentikan taksi. Lima menit kemudian, satu taksi berwarna biru toska berhenti tepat di hadapannya. "Neng, mau kemana?" tanya supir taksi itu sambil membuka jendela pintu bagian depan agar wajah Narada terlihat olehnya. "Ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, Pak," jawab Narada singkat. "Ya udah, masuk Neng!" Mendengar jawaban dari sopir taksi, membuat Narada segera membuka pintu dan masuk. Selepas pintu di tutup, taksi itu melesat menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina. Dalam perjalanan yang lumayan memakan waktu sekitar satu jam menuju ke rumah sakit, Narada terus diam, ia sangat menahan air matanya untuk keluar. Wajah kedua orang tuanya terus terbayang di dalam benaknya, ia belum sempat membalas budi kepada kedua orang tuanya. Melihatnya saat ini, ia masih seorang mahasiswi jurusan bisnis di salah satu kampus negeri di Jakarta. Tatapan mata kosong masih sangat terlihat dari pandangan mata Narada, dia hanya bersandar di kursi dan menatap keluar jendela. Sontak sopir taksi itu beberapa kali melihat kaca tengah yang ada di hadapannya untuk melihat gadis cantik yang tidak banyak bicara, tatapan matanya terlihat seperti khawatir, tapi sopir taksi itu mengurungkan niat untuk bertanya atau mengajak Narada berbicara. Membiarkan suasana di dalam taksi itu hening sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit. Satu jam telah berlalu, taksi itu berhenti di depan pintu loby rumah sakit, Narada mengucapkan terimakasih dan memberikan ongkos taksi kepada sopir yang masih ada di dalam taksi. Sopir itu mengangguk dan pergi meninggalkan rumah sakit. Tanpa berlama-lama, Narada berlari menuju ke resepsionis. Menunjukkan foto kedua orang tuanya dan menyebutkan nama mereka. "Nanti kakak lurus aja, terus belok ke kiri!" jawab resepsionis sambil menunjukkan arah kemana Narada harus berjalan. "Terimakasih." Narada berlari menelusuri koridor, ia masih mencoba beberapa kali untuk menyiapkan hatinya ketika melihat kedua orang tuanya nanti. Ketika Narada belok ke kiri, tampak pintu itu masih terbuka dengan beberapa petugas rumah sakit yang terlihat masih berada di dalam. Ternyata yang menjadi korban tewas bukan hanya orang tuanya saja, tetapi ada korban lainnya yang berjumlah sekitar lima orang. Narada memutuskan perlahan masuk ke ruangan itu. "Maaf, mencari korban atas nama siapa?" seorang petugas tiba-tiba menghentikan langkah Narada untuk masuk ke ruangan. "Pak Darma dan Ibu Nirina," jawab Narada. "Baik, silahkan masuk! Mereka ada di tempat tidur nomor empat dan lima," Pria berseragam putih akhirnya mempersilahkan Narada untuk masuk. Mulai gemetar kedua kaki Narada, rasa lemas mulai menemaninya lagi setelah menghilang beberapa saat yang lalu. Seorang suster yang berada di kanan kiri kedua orang tuanya sepertinya paham dengan situasi yang di perlihatkan Narada saat ini. Kedua orang tuanya sudah selesai di bersihkan lukanya, mereka berdua sudah di tutup dengan kedua kain putih di sekujur tubuhnya. Narada mulai mengeluarkan air mata, membuka perlahan salah satu kain penutup yang ada dihadapanya. Ya, tangan Narada langsung gemetar hebat, ketika melihat wajah ibunya yang pucat di sertai retakan di salah satu bagian kepalanya. Sambil meraba wajah ibunya, air mata Narada tidak kuasa menetes semakin deras. "Ib-ib-ibu ..." lirih suara Narada memanggil ibunya yang sudah tidak bernyawa dengan terbata-bata. Salah satu perawat menepuk pundak Narada, mencoba menguatkan gadis cantik yang wajahnya tiba-tiba memucat karena syok dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kali ini petugas membantu Narada untuk membuka penutup kain yang menutupi tubuh ayahnya. Narada masih terus gemetar sambil mendekati ayahnya perlahan, hal yang sama juga terjadi dengan ayahnya, terdapat retakan di salah satu kepalanya. "Ayah ..." panggilnya lirih. Kaki Narada tidak kuat lagi, ia terjatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Ia tak mampu berbicara apapun saat ini, kedua perawat yang melihat Narada lemas di lantai langsung mendekatinya lalu memeluk Narada dan menenangkanya. Namun, berselang beberapa saat Narada pingsan. Tujuh hari kemudian, di saat seluruh tetangga masih berkumpul di rumah Narada. Narada dan kedua adiknya masih bersimpuh dengan kesedihan mendalam sepeninggalan orang tuanya. Tapi, ada yang menarik perhatian Narada selama acara mendoakan kedua orang tuanya ini yang berlangsung selama tujuh hari berturut-turut. Ya, Adik perempuan dari mendiang ayahnya memberikan ekspresi yang cukup mencurigakan baginya. Adik perempuan yang merupakan tante dari Narada dan kedua adiknya itu sangat ekspresif saat menunjukkan kesedihannya di depan banyak orang. Padahal selama ini tantenya itu sangat cuek dengan keluarganya bahkan hampir hilang kontak. Narada tahu betul sifat asli tantenya ini, dia tidak pernah memperlakukan Narada dan adik-adiknya dengan baik ketika dirinya pulang ke Indonesia. Narada masih bingung, apa yang membuat tantenya ini tiba-tiba berubah? Setelah acara doa selesai dan para tetangga satu persatu meninggalkan rumahnya, Narada dan adik-adiknya berkumpul di ruang keluarga. Ruangan yang menyimpan banyak kenangan dengan kedua orang tuanya. "Kak Nara, ayah dan ibu apakah tidak akan kembali lagi?" tanya adik kecilnya yang bernama Sifana. "Sini deket sama kakak!" Narada menunggu adik kecilnya yang masih berusia empat tahun mendekatinya. Narada mencoba menjadi seorang kakak yang sangat tegar untuk adik-adiknya, Narada merangkul adik kecilnya sambil mencium puncak kepalanya. "Iya sayang, ayah dan ibu memang tidak akan kembali. Tapi mereka akan selalu mengawasi kita dari Surga sayang, " jawab Narada menahan air matanya untuk menetes. "Surga itu dimana, kak?" tanya Sifana lagi. "Surga itu tinggi ... sekali diatas langit," Narada menjelaskan sambil menunjuk ke atap rumah mereka. "Sifana bisa ke sana, nggak?Sifana mau ketemu ibu dan ayah," ucapan polos dari adik kecilnya membuat air mata Narada mengalir dan terdiam beberapa saat. Adik laki-lakinya yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar, tiba-tiba bersandar di bahu kiri Narada yang sudah duduk di sofa bersama adik kecilnya. "Kak, kita hanya bertiga. Kakak nggak boleh ninggalin kita, yah!" kata Taro sambil melihat mata kakaknya yang sudah penuh dengan air mata tapi dipaksa untuk tidak menetes. "Kakak Janji, kakak nggak akan ninggalin kalian berdua. Kalau kakak nikah, kakak bakal membawa kalian berdua juga. Pokoknya kakak akan menggantikan ayah dan ibu untuk menjaga kalian berdua sampai kalian dewasa." Narada mencium kedua puncak kepala adik-adiknya. "Ayah ... ibu ... jagalah kami bertiga dari jauh. Kami tidak tahu apa yang akan kami hadapi di kemudian hari." Terlantun dalam hati Narada. Tiba-tiba saja Tante mereka yang bernama tante Frederika ini, muncul di hadapan mereka bertiga setelah selesai menemui banyak tamu yang melayat.

Bab 2 Bantuan yang mengejutkan

"Kalian mesra sekali." Tante Frederika berkomentar. "Sudah kuduga tanteku ini bermuka dua, mana mungkin dia bersedih dengan kematian kakak tirinya. Aku yakin ada maksud tertentu sampai dia pulang ke Indonesia untuk melayat." Pikir Narada terus berguman dalam hati. Tiba-tiba saja tante Frederika duduk di sebelah mereka lalu dengan centilnya mencoba berbicara dengan baik kepada Narada dan kedua adiknya. "Tante, ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian. Tante rasa waktu berkabung kalian tujuh hari saja sudah cukup, kan?" Masih dengan senyuman yang terlihat menjengkelkan. "Apa maksudnya dengan berkata tujuh hari? Kita berkabung dan kehilangan untuk selama-lamanya, kenapa tante bisa bilang tujuh hari itu cukup." Narada membatin dengan jengkel melihat ke arah tantenya. "Oke, Langsung kepada intinya saja. Kalian harus membaca surat perjanjian ini!" Tante Frederika mengambil sebuah amplop dokumen dari dalam tasnya lalu memberikan amplop itu kepada Narada. Narada pun menerima amplop itu, Narada mulai membuka amplop dokumen lalu melihat sendiri apa isinya. Narada menemukan satu bendel kertas lalu dikeluarkannya dari dalam amplop. Narada membaca perhalaman hingga membuat keningnya berkerut, adik laki-lakinya pun ikut membaca walaupun tidak semua. Narada terkejut, mulutnya mulai menganga lebar membaca dokumen itu lembar demi lembar. "Apa maksud tante?" Narada ingin penjelasan nyata dari mulut tantenya yang tidak punya perikemanusiaan ini. "Tante yakin kamu sudah paham dengan isi surat perjanjian itu, kamu bukan mahasiswi yang bodoh, kan?Rumah dan tanah ini otomatis menjadi milik tante ketika ayah kalian meninggal. Itu resikonya jika berani berhutang dengan tante. Jadi-" "Jadi tante ingin mengusir kita dari rumah ini?" sahut Narada sedikit meninggikan suaranya, perasaan yang berkecambuk bercampur dengan emosi yang ditahannya kuat-kuat. Narada ingin mengetahui maksud yang sebenarnya dari tantenya ini. "No, no, no ... tante tidak mungkin berbuat sejahat itu dengan keponakan - keponakan tante. Tante akan membawa kalian ke Paris. Rumah ini akan tante jual, karena mungkin tante tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia, begitu juga dengan kalian bertiga. Kehidupan kalian akan jauh lebih baik disana. Pendidikan dan kehidupan kalian akan sangat terjamin," Penjelasan Tante Frederika terlihat sangat meyakinkan tapi tidak sedikitpun menggoyahkan Narada untuk tergiur dengan tawarannya. Narada tersenyum menyeringai. "Sudahlah Tan, tidak usah bersandiwara di depan kami. Jaminan yang tante berikan itu pasti tidak gratis, kan?Aku yakin pasti ada maksud di balik semua ini." Narada sedikit menjelaskan pikirannya kepada tante Frederika. Tante Frederika langsung berdiri tertawa dengan begitu keras. "Ha, ha, ha, ha ... itulah mengapa tante ingin membawamu dan adik-adikmu ke Paris. Kalian terlahir dengan kecerdasan dari ayah kalian, tante yakin kalian bisa bekerja untuk tante di sana. Memang betul sekali, jaminan kehidupan kalian di Paris itu tergantung kerja keras kalian, kita harus berfikir realistis karena semua tidak ada yang Gratis." Senyuman Tante Frederika adalah sesuatu yang paling di benci oleh Narada, itu bukan tanpa alasan. Karena, senyuman Tante Frederika selama ini selalu menyimpan sesuatu yang buruk untuk Narada dan keluarganya. Narada tidak banyak berfikir lagi. "Bagaimana jika aku menolak tawaran tante?Apa yang akan tante lakukan?" Narada mencoba peluang untuk bernegosiasi, ia ingin sekali tetap tinggal di Indonesia. Ia takut mendapatkan kesialan yang lebih banyak ketika hidup dengan seseorang seperti Tante Frederika. "Well, tante sudah menduga kalau kamu pasti akan menanyakan hal ini. Okey, tante tidak keberatan, kamu tetap bisa tinggal di Indonesia dan tetap bisa tinggal di rumah ini dengan syarat kamu harus membeli rumah dan tanah ini seharga lima ratus juta. Tapi ... kamu harus memberikan uang itu selama dua minggu," jelas Tante Frederika sambil memainkan kuku jemari di kedua tangannya. Narada menggeleng-nggelengkan kepalanya dengan perasaan kesal masih duduk di sofa. "Tante memang licik." "Apa kamu bilang?" Tante Frederika mendekati Narada. Sifat asli Tante Frederika muncul dalam sekejap sambil mencengkeram dagu Narada dengan cukup keras. "Apakah aku salah?Tante memang sangat licik." Narada mengulangi ucapannya lagi. Tangan Tante Frederika yang mencengkeram dagu Narada semakin kuat, Narada mencoba menahan dan masih terus menatap tajam mata tantenya sambil menutupi wajah Sifana dengan telapak tangannya agar Sifana tidak melihat kekerasan yang dilakukan tantenya ini kepadanya. Melihat Tante Frederika menyakiti kakaknya. Taro mencari cara untuk menghentikan tantenya ini. Ia berdiri dari tempat duduknya mendekat ke arah tantenya lalu dengan tiba-tiba menggigit dengan cukup kuat pergelangan tangan tantenya hingga membuat tantenya ini berteriak. "Aww!" Tante Frederika spontan melepas tangan kanannya yang sedang mencengkeram dagu Narada, lalu melihat luka gigitan yang sedikit mengeluarkan darah di pergelangan tangan kanannya. Tante Frederika terlihat kesal dengan membabi buta tante Frederika mendatangi Taro kemudian menjambak rambutnya dengan sangat keras. "Jadi kamu berani dengan Tante?" Suara menggertak mulai terdengar. Narada memerintahkan Sifana untuk masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Sifana pun menurut karena ia sangat takut melihat kejadian ini. "Aww, sakit tante, ampun, lepasin Tante!" teriak Taro sambil memegangi rambutnya. Narada mengumpulkan segenap tenaganya lantas mendorong tubuh tantenya dengan sekuat tenaga untuk menjauh dari adiknya dan tantenya berhasil jatuh ke lantai. Narada sudah benar-benar emosi, untuk pertama kalinya dia melawan orang yang lebih tua dari dirinya. "Mulai detik ini, aku tidak akan menganggapmu sebagai tanteku lagi. Kamu bisa menyakitiku sesuka hatimu, tapi kamu tidak bisa menyakiti kedua adikku, Ingat itu!" Gertakan itu membuat Tante Frederika terkejut dan terdiam sejenak, anak yang begitu manis bahkan tidak pernah marah ini bisa meperlihatkan emosinya dengan begitu mengerikan. Tante Frederika perlahan berdiri. Ia mengatur nafasnya lagi untuk mulai berbicara dengan Narada yang sepertinya sudah bersiap siaga untuk menghantamnya kapan saja. "Baiklah, sekarang beri aku jawaban!Apa yang akan kamu pilih?" Tante Frederika mencoba mengalah dan menahan emosinya. Kebimbangan mulai terlintas di benak Narada, tapi ia tidak boleh terlihat lemah disaat seperti ini. Ia adalah seorang kakak sekaligus orang tua untuk kedua adiknya sekarang. "Aku memilih untuk membayar lima ratus juta dalam waktu dua minggu." Narada mengucapkan dengan mantap walaupun terselip kebingungan yang teramat sangat di dalam benaknya saat ini. Ia sadar bahwa uang lima ratus juta bukanlah uang yang sedikit. "Kamu cukup berani mengambil resiko. Aku tunggu pembayarannya dalam waktu dua minggu, jika uang itu belum sampai ke tanganku dalam waktu dua minggu, aku akan mengusirmu dengan paksa dari rumah ini dan kamu akan tidur beratapkan langit bersama kedua adikmu di luar sana. Aku tidak akan pernah peduli lagi dengan kalian." Tante Frederika mengambil tasnya di sofa lalu pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari Narada. Tanpa terasa malam hari pun tiba, Narada menemani adik-adiknya yang sudah terlelap di kamar mereka. Narada memutuskan untuk tinggal di kamar mereka berdua dan tidur bersebelahan dengan kedua adiknya. Namun, mata Narada tidak mau terpejam. Ia hanya mampu berguling ke sana ke mari sambil memikirkan cara untuk mendapatkan uang lima ratus juta. Akhirnya, Narada memilih untuk beranjak dari tempat tidur dan kembali ke kamar tidurnya. Ia duduk di meja belajar lalu menyalakan laptop kesayangannya. Tampilan awal laptopnya adalah foto keluarga yang lengkap ketika mereka liburan ke puncak. Perlahan air matanya menetes membasahi kedua pipinya, bayangan kebahagiaan ketika masih ada orang tuanya muncul di dalam benaknya, dia meratapi nasibnya sendiri, dia sedikit frustasi dengan keadaannya ini. "Ayah ... Ibu ... Tolong aku! Apa yang harus aku lakukan?" Sejenak Narada berfikir, mencoba berdoa dalam hati dan menenangkan pikiran di dalam kepalanya saat ini. Ia mengusap air matanya perlahan dengan tisu yang ada di meja belajar, ia mulai berfikir dan mencari cara melalui media internet. Ia mencoba mempraktikkan beberapa cara yang ia temukan di interner seperti menghubungi beberapa temannya untuk meminta pertolongan mereka dan mencari pekerjaan. Narada mulai melakukan cara pertama. Satu persatu Narada mencoba menghubungi tapi detik itu juga teman-temannya menolak. Sampai suatu ketika dia menghubungi sahabat baiknya yang memang anak orang kaya dia bernama Leri.  Narada : "Halo Ra, tumben telpon pagi - pagi ada apa?" Leri : "Aku bingung harus meminta pertolongan siapa, apa kamu bisa meminjamkan aku uang lima ratus juta, Ler?" Narada : "Apa? Lima ratus juta?Buat apa uang sebanyak itu?!" nada suara Leri terlihat sangat terkejut. Akhirnya Narada menceritakan semua masalahnya kepada Leri tentang ucapan tante Frederika dan semua yang harus ia tanggung saat ini. Leri : "Gila tuh tante, dia tega banget sama kamu, Ra. Tapi, uangku nggak ada kalau segitu banyak, Ra. Mungkin, kalau kamu pinjem satu juta sampai lima juta aku ada." Narada : " Aku bingung banget, Ler. Apa yang harus aku lakukan?Kamu bisa bantu aku mencari ide?" Leri : "Tunggu!Gimana kalau aku bicarain ini ke Papa? Nah, gimana kalau nanti kita ketemuan aja jam sebelas di cafe biasa?" Leri mencoba memberikan harapan kepada Narada. Narada : "Iya, boleh. Makasih banyak ya Ler bantuannya, semoga kamu bisa memberikan kabar baik buat aku."Narada sedikit menitipkan harapannya kepada Leri. Leri : "Sama-sama Narada. Aku tahu pasti hal ini sulit buat kamu, oke aku ngobrol dulu sama papa, ya?" Narada : "Oke Ler, see you!" Leri : "See you, too." Percakapan telepon itu pun berakhir. Narada langsung bergegas ke dapur, mengesampingkan segala kesedihannya dan mencoba untuk menjadi seorang kakak yang begitu tegar. Narada membuat sarapan untuk adik-adiknya, membangunkan mereka berdua, memandikan adiknya yang masih kecil, mengantarkan Taro ke sekolah. Ia membawa Sifana untuk melamar pekerjaan paruh waktu agar bisa menyambung kehidupannya kini, beberapa tempat Narada datangi sambil menggendong Sifana untuk memasukkan surat lamaran pekerjaan. Tabungan peninggalan ayah dan ibunya sudah di wariskan ke tangannya saat ini. Tabungan orang tuanya yang tidak terlalu banyak, digunakannya untuk membiayai kebutuhan mereka sehari-hari sambil menunggu dirinya mendapatkan pekerjaan. Tanpa terasa sudah pukul sebelas, Narada dan Sifana menaiki taksi yang baru saja di hentikannya saat dirinya berdiri di pinggir jalan. Mereka pun masuk ke dalam taksi dan berangkat menuju ke Cafe yang di maksud oleh Leri. *** Di Cafe, leri sudah memesan tempat duduk untuk mereka berbincang nanti. Ia sudah memesan beberapa minuman dan makanan untuk mereka. Narada pun sampai di depan cafe, ia turun dari taksi lalu masuk ke dalam cafe. Dari kejauhan Leri sudah melihat Narada menggandeng adiknya Sifana, Narada juga sudah melihat keberadaan Leri, mereka saling melambaikan tangan lantas membuat Narada dan Sifana segera menghampiri Leri. "Hai Ler, nunggunya lama ya? Maaf, tadi macet juga di jalan." Narada sedikit memberikan penjelasan. "Nggak kok, Ra. Aku sangat paham suasana di Jakarta seperti apa, aku juga baru aja sampai." Kemudian Leri melemparkan senyuman ke wajah gadis kecil yang memandangnya sejak tadi. "Sifana tambah cantik ya? Udah semakin besar sekarang." Puji Leri sambil mengelus pelan rambut panjang Sifana yang duduk bersebelahan dengannya. "Makasih, Kak Leri, " jawaban imut terlontar dari mulut Sifana. Tiba-tiba minuman dan makanan datang. "Makasih," kata Leri kepada pelayan yang mengantarkan. "Kamu memesan makanan sebanyak ini?" Narada sedikit khawatir karena dia tidak punya untuk membayar makanan dan minuman mahal di Cafe itu. "Kamu tidak usah khawatir, aku tahu kamu sedang dalam masa sulit. Aku traktir kamu Ra hari ini." Leri tersenyum sambil membantu Sifana memakai celemeknya untuk memakan kentang goreng kesukaannya. Maklum, Leri juga sudah lama dekat dengan keluarga Narada, sampai adik-adiknya pun sudah menganggap Leri seperti kakak kandungnya sendiri. "Okey, aku langsung to the point. Aku sudah membicarakan masalah ini ke Papa, tapi mohon maaf banget karena uangnya terlanjur digunakan dalam sebuah proyek. Papa sebenarnya mau membantu kamu tapi nggak bisa dalam waktu dua minggu, mungkin ada uangnya bulan depan. Gimana, Ra?" Mendengar jawaban Leri ada perasaan putus asa yang tiba-tiba menyelimuti Narada. Ia sangat berharap hari ini akan ada kabar baik yang bisa menolongnya. Tapi, semuanya lenyap seketika mendengar jawaban Leri. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mencoba menenangkan diri, mengendalikan dirinya sendiri untuk bersabar dan berusaha lagi. "Makasih banyak, Ler. Kamu sudah membantuku, tapi aku harus mendapatkan lima ratus juta itu dalam dua minggu. Jika tidak ..." Narada terdiam sejenak, ia mencoba menahan air matanya untuk keluar dan tetap tersenyum. "Jika tidak, kenapa Ra? Apa ada yang belum kamu ceritakan kepadaku?" tanya Leri penasaran. Narada menarik nafas dalam untuk memulai penjelasannya. "Aku dan kedua adikku akan kehilangan rumah peninggalan ayah dan ibu. Aku juga akan di usir dengan paksa dari rumah itu, aku nggak rela rumah itu jatuh ke tangan orang lain. Banyak kenangan bersama ayah dan ibu di dalam rumah itu, Ler. Terlebih lagi, aku dan adik-adikku harus tinggal dimana?Aku juga belum mendapatkan pekerjaan sampai saat ini." Air mata Narada akhirnya jatuh juga. Narada mengambil tisu yang ada di meja makan kemudian mengusap kedua air matanya dengan segera. Leri mendekat ke sisi Narada mengusap punggungnya pelan untuk memberikan penghiburan untuk sahabatnya ini. "Sebenarnya ada satu solusi lagi yang di tawarkan papa. Tapi, aku ragu kamu mau menerimanya." Narada tiba-tiba sedikit bersemangat, seperti ada harapan baru yang bisa membantunya untuk meringankan bebannya saat ini. "Apa, Ler. Katakan saja!" "Anak temen papa, dia seorang duda kaya raya, dia juga seorang pengusaha di bidang fashion. Kebetulan keluarganya mendesaknya untuk menikah lagi setelah istrinya meninggal karena kecelakaan satu hari setelah pernikahan mereka. Tapi ..." Leri berhenti sejenak, ia sedikit ragu dengan apa yang akan ia ucapkan kali ini. "Tapi kenapa, Ler?" Narada penasaran dengan kalimat Leri. "Tapi, apa kamu mau kalau aku ajukan jadi calon istrinya?" "Calon Istri?"

Bab 3 Memutuskan

Wajah Narada terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaan dari Leri. "Aku yakin, ekpresi wajahmu pasti seperti ini. Tapi, dia pasti mau memberimu lima ratus juta. Itu bukan uang besar baginya. Tapi ya ... kamu harus mau menikah kontrak dengannya." Leri memberikan penjelasan yang membuat Narada benar-benar dilema sekarang. Banyak pertanyaan berkecambuk di benak Narada, membayangkan banyak hal yang akan menghampirinya ketika memilih untuk menikah, dia terus mempertimbangkan dalam hati berharap ada sebuah titik terang yang mampu meyakinkan dirinya sendiri untuk memutuskan yang terbaik untuknya saat ini. Tanpa sadar Narada sudah melamun beberapa saat dan tidak menghiraukan Leri yang mengajaknya bicara sejak tadi. "Ra ... Ra ... Nara!" panggil Leri mengayunkan telapak tangannya di wajah Narada. Narada tersadar. "Ah maaf, Ler. Aku jadi melamun, kalau aku menolak tawaran itu bagaimana?" "Nggak masalah sih, Ra. Tapi ini hanya pernikahan kontrak lo, hanya setahun kamu menjalani sama dia. Soalnya kata Papa, dia itu hanya ingin orang tuanya tidak mendesak dan menyuruhnya untuk berkencan dengan banyak wanita. Setelah setahun, kamu bisa bebas dan kamu akan tetap bisa tinggal di rumah itu, kan?" ucapan Leri kembali membuat Narada bimbang, dia sudah lama tidak menjalin hubungan asmara dengan siapapun karena janjinya kepada orang tuanya dulu untuk lulus dengan nilai sempurna tanpa berpacaran. Apakah Ia harus melanggar janjinya dengan menikah? "Aku paham kamu pasti bingung, aku akan memberimu waktu sampai hari sabtu pagi. Kalau kamu berubah pikiran kamu harus menemuiku di rumah. Tapi, kalau kamu tidak berubah pikiran kamu cukup menelponku," ucap Leri sambil menggenggam tangan sahabatnya yang masih dalam kebingungan. "Kenapa harus sabtu pagi?" "Karena sabtu malamnya, Papaku akan benar-benar mengajukan aku menjadi calon istrinya. Aku tidak mau karena aku punya pacar, Ra. Aku sangat berharap kamu berubah pikiran." Penjelasan sahabatnya ini seolah memaksanya untuk berkata iya. Tapi, untuk sekarang pun ia tidak tahu harus bagaimana. "Baiklah, aku akan memikirkannya dan mengabarimu sabtu pagi," jawab Narada sambil tersenyum. *** Beberapa hari berlalu, Tepatnya di hari rabu Narada mendapatkan pekerjaan paruh waktu di sebuah supermarket sebagai kasir. Ia mengesampingkan hal pribadinya dan fokus untuk melayani pelanggan. Sedangkan di rumah, Taro diberi tugas olehnya untuk menjaga Sifana selama dirinya bekerja di supermarket. Malam pun datang, Narada cukup lelah dengan pekerjaan pertamanya di supermarket hari ini. Mungkin, karena belum terbiasa. Setelah selesai bekerja, Narada memilih duduk dulu di depan supermarket sambil meminum air putih yang ia bawa dari rumah. Mumpung ada sebuah kursi kosong yang tidak digunakan oleh siapapun di sana. Pandangan mata Narada menghadap ke arah langit malam, menikmati sinar bulan yang begitu terang. "Ayah ... ibu ... hari ini adalah hari pertama Narada bekerja. Apakah ayah dan ibu melihatnya?" Narada bergumam sendiri sambil memandang langit malam, ia sudah sedikit lebih tegar untuk membicarakan orang tuanya sekarang. Tidak ada waktu untuk terus bersedih walaupun air matanya kadang mengalir tanpa dia sadari. Karena sekarang, adik-adiknya membutuhkan biaya sekolah, makan dan kebutuhan lainnya. Ia juga harus memikirkan sendiri biaya kuliahnya. Tiba-tiba pikirannya kembali kepada tawaran Leri saat itu, ia masih menimbang-nimbang apa yang harus ia putuskan. Ia juga penasaran dengan anak teman Papanya Leri, ia sampai lupa menanyakan apakah duda itu sudah tua atau masih muda dan siapa namanya? Sepertinya beberapa pertanyaan mulai bermunculan di dalam kepalanya. Melihat hari semakin malam, ia memilih untuk mengesampingkan pikirannya sejenak dan membeli nasi goreng yang ada di depan supermarket. Setelah beberapa saat berjalan, Narada sampai di sebelah warung nasi goreng. "Bang, Nasi gorengnya tiga, di bungkus, ya!" "Pedes apa nggak, Neng?" tanya tukang nasi goreng. "Pedesnya satu aja yang dua nggak pedes,"jelas Narada sambil duduk di sebuah kursi kosong di dalam warung nasi goreng. "Di tunggu ya, Neng." Ujar tukang nasi goreng sambil menyiapkan pesanan nasi goreng milik pelanggan lain. Sembari menunggu, Narada memilih untuk memainkan handphonenya. Ia masih bergelut dengan kebimbangan untuk menerima tawaran itu atau tidak. Namun, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Tante Frederika. Narada yang penasaran apa isi pesan dari Tantenya ini menggerakkan jempol kanannya untuk membuka pesan itu dan membacanya. "Aku yakin, kamu tidak akan bisa membayar lima ratus juta dalam waktu dua minggu. Tapi, aku masih memberimu kesempatan sampai hari terakhir. Ingat!Resiko yang akan kamu tanggung adalah tidur di bawah atap langit bersama kedua adikmu. Kalian akan menjadi Gembel. Okey, Nomor rekening dan nama lengkapku sudah aku selipkan di bawah fast bunga rumahmu, kabari aku kalau kamu berhasil mentransfer lima ratus juta itu. " Setelah membaca pesan dari Tante Frederika, otaknya semakin berfikir keras. Ia tidak bisa membiarkan Tante Frederika menang dengan pendapatnya kali ini dan ia tidak akan membiarkan adik-adiknya menderita. "Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, selain menerima tawaran itu," gumamnya dalam hati. Tiba-tiba ucapan tukanng nasi goreng membuyarkan pikirannya, "Neng, Nasi gorengnya sudah jadi." "Oh, iya Bang, berapa semua?" "Lima puluh, Neng." Narada mengeluarkan uang dari dalam sakunya lalu memberikannya kepada tukang nasi goreng yang sudah siap memberikan bungkusan plastik berisi nasi goreng pesanannya. "Makasih ya, Neng." "Sama-sama, Bang." Narada keluar dari warung nasi goreng kemudian mencari taksi untuk segera pulang menemui kedua adiknya yang pasti sudah menunggunya. Kaki Narada mulai turun dari taksi, lelah mulai terasa ketika berjalan sebentar menuju halaman rumahnya yang tidak jauh dari jalan raya. Narada langsung memegang dan menekan ke bawah ganggang pintu rumahnya agar pintu bisa terbuka sambil berkata, "Ayah ... ibu ... aku pulang!" ujar Narada sedikit keras sambil melepas sepatunya lalu meletakkannya di rak sebelah pintu. Otaknya masih berfikir bahwa semuanya masih sama tapi tak ada orang yang menyahut, Narada baru sadar bahwa orang tuanya tak akan pernah menjawabnya lagi atau memarahinya ketika ia terlambat saat pulang ke rumah. Kakinya berhenti sejenak air mata itu mulai menemaninya lagi. Taro mendengar suara kakaknya pulang menyebut ayah dan ibu, ia langsung berlari menghampiri kakaknya di depan. "Eh, kak Nara udah pulang. Kakak bawa apa?" Taro mencoba mengalihkan pikiran kakaknya untuk sekadar melupakan kesedihannya yang tidak sengaja datang ketika kebiasannya muncul tiba - tiba seolah orang tuanya masih ada. Narada mengusap air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya, ia mencoba tersenyum menyambut adik laki-lakinya yang selalu muncul ketika ia melakukannya lagi dan lagi kebiasaan itu. "Kakak bawa nasi goreng. Kamu ambil piring dan sendok ya di dapur! Kita makan sama-sama." Narada masuk ke ruang tengah, mendekati adik kecilnya yang sedang bermain boneka. "Sifana laper nggak?"sapa Narada memandang adik kecilnya yang asik bermain boneka. "Kak Nara," Sifana melompat dan langsung duduk di pangkuan kakaknya. "Aduh, kamu semakin berat lo sayang." Narada merasakan tekanan yang cukup keras saat Sifana duduk di pangkuannya. Sifana tersenyum imut. "Sifana banyak makan, kak. Jadi, berat deh. Tapi, Sifana laper lagi." Inilah celoteh yang selalu membuat Narada kembali bahagia dan melupakan kesedihannya. "Oh, ya? Mana yang laper lagi?" Narada bertanya dengan adik kecilnya yang sangat menggemaskan ini. Dengan polosnya Sifana mengelus-elus perutnya sambil menahan nafas supaya kelihatan kecil. Narada tersenyum menanggapi tingkah lucu adik kecilnya. "Kamu tuh, bisa aja sih sayang." Narada mencubit pelan hidup Sifana. "Kak, ini piring dan sendoknya." Taro datang membawa tiga piring dan tiga sendok lalu meletakkannya di meja. "Nah, sekarang ayo kita makan!" Narada mengeluarkan bungkusan nasi goreng dari dalam plastik berwarna hitam kemudian meletakkannya di tiga piring yang sudah dibawa oleh Taro tadi. Mereka bertiga pun makan bersama di ruang tengah. Setelah selesai makan, Sifana menonton televisi, Narada bergegas ke dapur membawa piring dan sendok untuk mencucinya di bak cuci piring. Tiba-tiba saja Taro mengekorinya dari belakang. "Berikan padaku, kak! Kakak bisa istirahat saja bersama dengan Sifana."ucap Taro yang membuat Narada sedikit terkejut. "Tapi-" "Kak, kita hanya bertiga. Kakak sudah capek kerja seharian, masih kuliah juga. Biar aku yang mengerjakan pekerjaan rumah, bagaimanapun aku harus belajar mandiri untuk membantu kakak." Taro langsung mengambil alih piring dan sendok yang ada ditangan kakaknya kemudian membawanya ke bak cuci piring dan mencucinya. Narada tersenyum sangat terharu melihat adik laki-lakinya yang begitu sangat pengertian terhadapnya. Dia tidak menyangka Taro bisa berbicara seperti itu di usianya sekarang. "Ayah ... Ibu ... Apa kalian melihatnya?Taro terlihat sangat dewasa di usianya. Dia tumbuh dengan baik. Aku bangga padanya, dia mirip sepertimu ayah." Batin Narada kembali mengusap air mata yang menetes di kedua pipinya karena terharu. Taro menyelesaikan pekerjaannya untuk mencuci piring, mereka kembali bersama untuk menghampiri Sifana di ruang televisi. Beberapa hari telah berlalu, tepat di hari sabtu. Narada memutuskan pergi ke rumah Leri untuk memberinya kabar. Sejujurnya, perasaannya sangat gusar tapi tidak ada pilihan lain lagi, ia tidak akan membiarkan kehidupan adik-adiknya di pertaruhkan dan ia juga tidak akan pernah membiarkan rumah orang tuanya menjadi milik tantenya. Narada yang sudah ada di depan pintu rumah Leri yang begitu besar akhirnya memencet bel. "Thing thong, thing thong." Terdengar seseorang tengah berlari untuk membuka pintu. Ceklek "Narada!" Senyum ceria terpancar jelas di wajah Leri ketika melihat Narada di depan pintu, seperti mendapatkan kejutan yang memang sedang dinanti olehnya saat ini.

Lanjut baca