"Persetan denganmu, Diana!" teriak Liany Wardana, sampai membuat urat yang menonjol di dahinya berdenyut. Dia sangat ingin mencekik wanita yang ada di depannya dan mengirimnya ke neraka. Meski begitu, tidak ada yang bisa dia lakukan karena dua pria kekar telah mengikatnya. Diana Wardana melipat kedua tangannya. Dengan ekspresi jijik, dia berkata, "Berteriaklah sesuka hatimu. Pokoknya tidak akan ada orang yang datang untuk menyelamatkanmu. Kenapa? Karena satu-satunya orang yang mencintaimu di dunia sudah mati akibat perbuatanmu!" Kata-katanya menusuk hati Liany seperti ribuan pisau tajam. Demi kebaikan keluarganya, dia terpaksa menikah dengan Didi Martono beberapa waktu lalu. Liany tidak mencintainya, jadi dia tidak membiarkan pria itu menyentuhnya atau mendekatinya dengan cara apa pun. Dia bahkan melakukan berbagai macam hal untuk menyakiti Didi. Bahkan saat Didi mati saat mencoba menyelamatkannya dari rumah yang terbakar, Liany merasa pria itu pantas mendapatkannya. Semuanya berubah hari ini. Hari ini, akhirnya Liany menyadari bahwa Didi yang selalu terlihat dingin dan kejam sebenarnya sangat mencintainya. Rasa sesal merobek-robek hatinya. Dia menyesal telah melakukan semua hal buruk itu dan juga gagal melihat kebaikan Didi padanya. "Didi tidak mungkin mati. Dia pasti masih hidup." Meskipun Liany telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Didi melesat ke dalam kobaran api, dia masih berharap bahwa Didi berhasil keluar hidup-hidup dan akan muncul tepat waktu untuk menyelamatkannya lagi. "Apa menurutmu Didi seorang manusia super? Apa kamu yakin dia masih hidup setelah masuk ke dalam kobaran api sebesar itu?" Mata Diana menyipit dan senyum sinis muncul di mulutnya saat dia menambahkan, "Ya, Didi memang selamat dari kebakaran itu. Pada saat dia dibawa keluar, seluruh tubuhnya telah terbakar dan nyawanya berada di ujung tanduk. Mungkin akan terdengar menarik bagimu untuk mengetahui bahwa dia masih mengkhawatirkanmu dalam kondisi mengenaskan seperti itu. Astaga! Sayang sekali pria paling tampan di Kota Horten merendahkan dirinya sejauh itu hanya demi wanita yang tidak pernah mencintainya." Mata Liany membelalak ngeri. Dalam benaknya, dia melihat bagaimana api membakar Didi hidup-hidup, menghancurkan wajah tampannya. Semua itu penderitaan itu untuk apa? Hanya demi menyelamatkannya! Untuk pertama kalinya, ini membuat hati Liany sangat sakit. Dia berharap dia bisa memutar kembali waktu sekarang. Jika dia bisa melihat Didi, dia akan meminta maaf sebesar-besarnya. Dia tidak akan peduli lagi bahkan jika pria itu merupakan orang terkenal di dunia mafia. "Bagaimanapun, dia sudah mati karena kehabisan darah. Tapi tahukah kamu? Yang membunuh Didi bukanlah luka bakar tingkat empat yang dia derita. Kamulah yang telah membunuhnya!" "Tidak mungkin! Itu tidak benar!" Liany berulang kali menggelengkan kepalanya. "Didi tidak mungkin mati. Dia masih hidup! Aku yakin itu!" "Hahaha!" Diana tertawa terbahak-bahak dan menuding seolah-olah Liany adalah orang paling bodoh yang pernah dilihatnya. "Golongan darah Didi sangat langka. Dia memiliki golong darah Rh negatif. Bank darah yang dia persiapkan untuk dirinya sendiri di saat-saat genting dihabiskan hanya untuk bisa menyelamatkanmu. Kamu tidak percaya padaku? Pikirkan tentang itu baik-baik! Menurutmu bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan itu?" Memang, kenyataannya itu selalu pahit. Fakta ini membuat Liany tercengang, ternyata dia memiliki golongan darah Rh negatif juga. Liany ingat dia sangat membutuhkan transfusi darah ketika dia mengalami kecelakaan mobil belum lama ini. Dokter mengeluh karena tidak ada darah di bank darah yang cocok dengan darahnya. Namun, anehnya, dia bisa menerima transfusi darah tidak lama setelah itu. Baru sekarang Liany menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Didi memberi dokter akses ke bank darahnya sendiri. "Jadi, seperti yang kamu ketahui. Didi sudah mati sekarang." Diana terus berbicara, ini membuat Liany hampir kehilangan akal sehatnya. Lututnya lemas dan dia hampir saja pingsan. "Sekarang, giliranmu! Setelah kamu tiada, aku akan mewarisi semua harta milik Didi dan menjadi orang yang paling dihormati di Kota Horten. Orang-orang akan berlutut dan menghormatiku seorang!" Liany begitu terluka dan putus asa sehingga dia tidak memedulikan perkataan Diana. Semua yang telah dilakukan Didi untuknya terlintas di benaknya. Meski pada dasarnya dia adalah pria yang dingin dan tidak tahu bagaimana mengekspresikan dirinya dengan baik, dia melakukan hal-hal luar biasa untuk menunjukkan bahwa dia peduli pada Liany. Sayangnya, sikap penuh perhatiannya terabaikan karena Liany telah jatuh cinta dengan orang lain. Dia begitu buta sehingga dia membalas kebaikan Didi dengan berusaha mencelakai Didi. Akhirnya, dia sadar bahwa selama ini dia begitu bodoh. Dulu, satu-satunya orang yang mencintainya ada di sisinya, tetapi dia terus mengejar pria berengsek yang memiliki kepribadian kejam sama seperti Diana. Liany patah hati sekarang. Dia menyesali semuanya. Jika dia bisa, dia akan menyerahkan nyawanya hanya untuk menghidupkan Didi kembali.
"Waktunya sudah tiba!" ucap Diana sambil melirik arlojinya. Kemudian, dia melemparkan tatapan pada dua pria kekar itu. "Singkirkan dia." "Baik!" Kedua pria itu mencengkeram lengan Liany dan menyeret wanita itu ke pantai. "Tunggu sebentar!" Diana tiba-tiba memanggil ketika mereka hendak melemparkan Liany ke laut. Dia berjalan mendekat dengan seringai jahat di wajahnya. "Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Sebenarnya, kecelakaan mobil yang kamu alami bukanlah kecelakaan. Ini merupakan rencana yang kami atur untuk menyingkirkan Didi selamanya." "Ah! Bagaimana kamu bisa begitu jahat?!" Akhirnya Liany kehilangan kendali, menendang dan berjuang untuk bisa mencapai Diana. Ternyata Didi dibunuh oleh dirinya sendiri. Mereka tahu bahwa Didi sangat mencintainya, jadi mereka mengatur kecelakaan itu supaya dia menghabiskan persediaan darah di bank darah pribadinya untuk menyelamatkan Liany. Ternyata, selama ini rencananya adalah memastikan Liany tidak bisa bertahan hidup. Byur! Beberapa saat setelah terungkapnya informasi itu, Liany terlempar ke laut. Sensasi dingin menembus tubuhnya seperti potongan es yang tajam. Segera, dia merasakan air asin masuk ke tenggorokannya dan membuatnya kesulitan bernapas. Di saat yang sama, matanya pedih. Meski begitu, dia sama sekali tidak melawan. Jika ada kehidupan lain, Liany bersumpah untuk memperlakukan Didi dengan baik. Dia akan menebus atas semua yang telah pria itu lakukan untuknya dalam hidup ini. "Liany, buka matamu! Apa kamu berpura-pura mati lagi?" Sebuah suara familier terdengar di telinganya. Perlahan mata Liany terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah yang tampan. Didi?! "Apa ... apa ini mimpi?" Dia menutup matanya dengan erat dan membukanya lagi, hanya untuk melihat bahwa pria itu masih menatapnya. Matanya terbelalak tidak percaya dengan pemandangan itu. Wajah di depannya ini memiliki ketampanan yang tertandingi, terutama mata birunya yang indah .... Hanya ada satu orang yang memiliki mata itu. Apa ini benar-benar Didi? Duar! Pikiran Liany seketika kosong. Di detik berikutnya, dia menyadari apa yang terjadi! Tampaknya doa di penghujung kematiannya menjadi kenyataan. Dia terlahir kembali dan sekarang dia ada di malam pernikahannya dengan Didi. Sungguh mengagetkan! "Mimpi katamu?" Didi pun mendengus dingin ketika dia melihat wanita itu bertingkah linglung. "Apa maksudmu bersamaku terasa seperti mimpi buruk bagimu?" "Tidak, bukan begitu!" Liany segera kembali ke dunia nyata. Ketika dia merasakan rasa sakit hati dan kemarahan yang terselubung dalam kata-kata Didi, dia melambai lemah dan menjelaskan, "Aku baru saja mengalami mimpi buruk, jadi ketika aku bangun dan melihatmu, aku cukup senang karena semuanya sudah berakhir." Alis Didi berkerut saat dia menatapnya dengan dingin. Dia tahu dengan pasti bahwa Liany menikah dengannya hanya demi keluarganya dan demi membangkitkan karier gagal pria itu. "Hentikan omong kosongmu itu! Kamu tidak perlu berusaha menyenangkanku, oke?" Didi berdiri dan mengenakan mantelnya sebagai persiapan untuk melampiaskan diri di kamar mandi. Ada hawa panas perlahan memuncak di dalam dirinya, jadi dia takut akan lepas kendali dan makin menakuti wanita ini. Mungkin pada saat itu, rasa takut dan kebencian Liany terhadap dirinya akan meningkat berkali lipat. "Jangan pergi!" Tiba-tiba Liany melingkarkan tangannya di pinggang Didi dari belakang. Dia langsung takjub saat tangannya menyentuh otot perutnya. Penyesalan kembali memenuhi hatinya. Bagaimana bisa dia begitu buta sehingga memilih pria berengsek itu daripada seseorang yang sesempurna Didi? Apa pria berengsek itu menggunakan ramuan cinta padanya? Saat Didi merasakan kehangatan dan kelembutan dadanya di punggungnya, hatinya bergetar. Untuk sesaat, dia berpikir bahwa tindakan Liany tulus. Namun, saat berikutnya, dia beralasan bahwa Liany melakukan ini hanya karena dia takut dia melampiaskan amarahnya pada orang lain. "Apa kamu tidak mendengar apa yang baru saja aku katakan? Kamu tidak perlu menyenangkan perasaanku." Didi mencoba menarik lepas tangan wanita itu. Namun, Liany mengencangkan cengkeramannya dan makin menekan dadanya ke punggung Didi. Didi menelan ludahnya saat jantungnya mulai berdebar kencang. "Kamu bermain api! Kamu tahu itu, kan?" Di detik berikutnya, Didi berbalik dan menatapnya dengan mata penuh nafsu. Jakunnya naik turun pada saat yang sama. Liany mengangkat kepalanya, hanya untuk bertemu dengan tatapan matanya yang berapi-api. Jantungnya berhenti sesaat dan kemudian berdebar kencang di dadanya Dia merasakan tubuh pria itu memanas. Api di matanya menunjukkan nafsu yang semakin memuncak. Liany bahkan mulai membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Di masa lalu, pemandangan ini saja sudah membuatnya takut. Dia akan mengerahkan semua usahanya hanya agar bisa menjauh dari Didi. Akan tetapi, kali ini, dia hanya dipenuhi penantian. Bibir kemerahan Liany bergetar saat dia berkata dengan suara pelan, "Tidurlah denganku, Didi. Aku sepenuhnya milikmu."
Mata Didi melebar lalu pupil matanya mengecil, dia menatap penuh ketidakpercayaan pada Liany. Bukankah Liany membencinya? Kenapa dia justru menawarkan diri padanya sekarang? Apa perasaannya terhadap dirinya berubah? Itu tidak mungkin terjadi begitu saja! Didi ingat bagaimana Liany memandangnya dengan jijik saat dia terus mengucapkan kata-kata menyakitkan yang tak terhitung jumlahnya padanya. Sedetik kemudian, seolah-olah seseorang menuangkan seember air dingin ke atas kepalanya. "Lepaskan tanganmu dariku!" Dia menggenggam lebih erat lagi tangan Liany. Tempat yang dia pegang langsung memerah. "Jangan menguji kesabaranku!" "Aku tidak akan melepaskanmu! Kamu adalah suamiku." Melawan rasa sakit di pergelangan tangannya, Liany mendekap pria itu dengan seluruh kekuatannya dan menekan kepalanya di dadanya. "Aku melakukan ini bukan untuk orang lain; tapi karena aku mencintaimu dengan tulus." "Cih!" Didi terkekeh, kilatan dingin muncul di matanya. "Apa kamu baru saja mengatakan kamu mencintaiku? Bukankah beberapa waktu yang lalu, kamu sendiri yang mengatakan kamu membenciku dan mengharapkan kematianku?" "Eh ... bukan aku yang mengatakannya! Aku tidak akan pernah berkata seperti itu," bantah Liany keras kepala. "Bahkan jika itu benar-benar terjadi, itu bukanlah diriku yang sebenarnya Sekarang adalah diriku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, Didi! Sungguh sangat mencintaimu." Pernyataan ini mengejutkan Didi seperti sambaran petir di siang bolong. Jantungnya beberapa kali berhenti berdetak. Sudah lama sekali dia berharap mendengar kata-kata itu. Namun, dia tidak dapat menahan perasaan bahwa itu terdengar sangat tidak nyata sekarang. Semua itu hanya kebohongan belaka. Liany hanya bersandiwara demi pria itu dan Keluarga Wardana. Itulah alasan di balik semua tindakannya! "Lepaskan aku! Aku bersungguh-sungguh!" Begitu suara Didi menjadi dalam, Liany mendongak dan mendapati matanya menyala-nyala bagai mata binatang buas. Karena terkejut, tanpa sadar dia melepaskannya. Ekspresi ketakutan di wajahnya membuat Didi menggelengkan kepalanya untuk mengejek dirinya sendiri. Astaga! Dia hampir memercayai omong kosong ini. Sungguh wanita yang tidak tulus! "Katakan padaku, Didi. Apa yang dapat aku lakukan padamu agar percaya bahwa aku bersungguh-sungguh?" "Setelah semua yang kamu lakukan, apa kamu pikir aku masih akan memercayaimu?" Tanpa menunggu jawaban darinya, Didi masuk ke kamar mandi, meninggalkan Liany sendiri. Di tempat tidur, Liany duduk diam. Dia terus linglung sampai dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Pikirannya kembali melayang jauh. Namun, dia segera menepis pikirannya dan mencoba memikirkan kejadian masalah yang ada depan mata. Sepertinya dia benar-benar kembali ke malam pernikahan mereka tiga tahun lalu. Saat itu, Liany tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan Didi. Namun, setelah menyadari bahwa itu akan memberikan manfaat besar bagi Keluarga Wardana dan kekasihnya, dia terpaksa mengubah pikiran dan menikah dengannya. Untuk merahasiakan pernikahan mereka, dia menolak keras mengadakan upacara pernikahan atau membuat pengumuman resmi tentang pernikahan mereka. Dia dan Didi baru saja pergi ke Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka sebelum dia pindah ke rumahnya. Saat Liany memikirkan betapa buruknya dia memperlakukan Didi sejak awal, membuat hatinya sakit karena penyesalan. Didi telah beberapa kali membiarkannya melakukan apa pun yang dia inginkan. Ini semua karena dia cinta dan memanjakan Liany. Sayangnya, Liany meninggal tanpa mengetahui tentang cintanya, apalagi mengakuinya. Saat itu, yang dia pedulikan hanyalah menjaga keperawanannya dan menantikan hari di mana dia akhirnya akan kembali ke pelukan cinta sejatinya. "Liany, Liany! Bagaimana kamu bisa begitu bodoh? Kamu menolak pria baik-baik untuk mengejar seorang bajingan? Kamu orang terbodoh yang pernah ada!" Liany menarik napas dalam-dalam. Menatap cahaya yang datang dari kamar mandi, dia langsung mengambil keputusan. Di kamar mandi, Didi berdiri di bawah pancuran yang mengucurkan air yang sangat dingin. Dia ingin cepat-cepat mendinginkan tubuhnya yang panas. Beberapa menit yang lalu, dia hampir kehilangan kendali dan menuruti permintaan Liany. Dia tidak bisa memahami perilaku anehnya. Tiba-tiba wanita itu bertingkah seperti seseorang yang sepenuhnya berbeda. Liany yang dia kenal tidak akan pernah menawarkan dirinya padanya. Membayangkan bagaimana bibir kemerahan Liany bergerak saat dia menatapnya dengan mata menggoda sudah mengirimkan sensasi ke selangkangannya. Jantungnya berdebar kencang lagi. "Berhentilah memikirkan itu! Jangan sampai tertipu olehnya." Didi menampar kepalanya dengan kedua tangannya beberapa kali. Setelah itu, dia menarik napas dalam-dalam dan perlahan-lahan kembali tenang.