Inokulasi virus itu telah berhasil. Beberapa embrio ayam yang menjadi medianya, nampak makin gelap karena pengaruh penggumpalan darah yang terjadi pada embrio tersebut. Sekilas secara kasat mata, terlihat serabut halus yang menyelubungi embrio yang sudah mati itu. Dokter pria bertubuh tinggi kurus dan berkaca mata itu tersenyum melihat apa yang didapatnya pagi itu. Delapan jam dari penanamannya pada embrio ayam itu, telah memperlihatkan hasil yang sempurna. Namun, suara pintu berderit nyaring itu menghapuskan senyumnya seketika. Dia melihat rekan sejawatnya yang baru datang itu dengan lirikan tajam dan sinis. Sungguh, dia tidak menyukai keberadaan dokter perempuan yang selalu ingin tahu dengan apa yang dilakukannya. Dan seperti yang sudah diduganya, dokter perempuan itu berjalan mendekatinya dan menegur dengan sapaan yang membosankan. Kalimat yang itu-itu saja tanpa ada variasi sedikit pun. Emma Windsor. "Morning, Sir. Terlihat serius sekali. Apa yang sedang Anda amati pagi ini, Dokter Alvaro?" Emma Windsor menyapa dokter pria bertubuh tinggi kurus itu dengan ramah. Alvaro Anderson. Dokter pria bertubuh tinggi kurus dengan kaca mata bulat menghiasi wajah tirusnya, merupakan rekan sejawat Emma Windsor. Mereka berdua berada dalam satu bagian yang sama. Bagian Biologi Molekuler. Berkutat dengan aneka riset melalui penelitian yang seringkali mengacak-acak RNA berbagai macam mikroorganisme. Okelah, selanjutnya kita sebut mereka berdua dengan penggalan nama kecilnya saja. Alvaro dan Emma. "Untuk apa kamu menanyakan hal itu? Kita memiliki area pribadi masing-masing," jawab Alvaro diiringi dengusan kesal. Sedikit memutar tubuh agar Emma tak mampu melihat ekspresi wajahnya. "Ups. Hanya sekedar bertanya, Dok. Not more." Penuh kekesalan, Emma menjawab pertanyaan ketus Alvaro. "Sumpah! Aku tak ingin menyapamu lagi, setelah selama tiga bulan aku selalu merendahkan diriku di hadapanmu!" ujar Emma dalam hati. Dia berlalu dari samping Alvaro dengan wajah ditekuk. "Lelaki tak tahu diri!" Masih dalam hati, Emma mengumpat. Emma baru tiga bulan bergabung bersama rekan-rekannya yang berada dalam sebuah lembaga penelitian milik Professor Rudolf. Sebuah lembaga penelitian yang bergerak dalam bidang pengembangan penelitian untuk penyakit-penyakit tropik atau mereka menyebutnya tropical disease. "Dokter Emma, saya membaca dan mempelajari penelitian terakhirmu dari jurnal internasional. It's amazing. Kamu sangat menguasai mengenai ilmu virologi dan segala hal mengenal ribosom RNA-nya. Saya harap kamu mau bergabung bersama lembaga kami." Kala itu Professor Rudolf memanggilnya melalui surat elektronik yang resmi. Siapa yang tidak bangga mendapat panggilan untuk bergabung di lembaga ternama dan terhormat itu? Sebuah lembaga yang diimpikan banyak kalangan dokter yang memiliki minat di bidang penelitian medis untuk bergabung dan menangguk nama besar di sana. Tanpa berpikir panjang, Emma segera menyambut tawaran itu. Dan sejak itu dia bergabung dan menjalani hari-harinya di sini. Emma mendapat tempat yang cukup luas di bagian Biologi Molekuler. Terbagi atas tiga ruangan, di mana masing-masing ruang memiliki privasi yang benar-benar terlindungi. Berikut peralatan canggih yang belum ada di negara lain, di belahan bumi mana pun. Alvaro, Emma, dan Andrew. Mereka bertiga adalah pekerja riset di bagian tersebut. Andrew sebagai pemegang kendali segala keputusan. Dia adalah orang penting, nomer satu, dalam laboratorium Biologi Molekuler itu. Sebenarnya Emma membutuhkan kehadiran Andrew cukup sering berada di ruangannya, karena sebagai karyawan baru, dia membutuhkan banyak bimbingan. Namun, Andrew terlalu sibuk dengan tugas-tugas sampingannya yang memang dipahami Emma sangat memakan waktu dan pikiran. Yaitu sebagai wakil Dokter Rudolf, wakil pemimpin lembaga ini. Alvaro sebagai senior, sangat tidak bisa diharapkan. Mungkin sifatnya yang sangat introvert, ambisius, dan egois, membuat dia enggan berinteraksi dengan manusia lainnya. Selama ini dia sudah telanjur nyaman dengan kesendiriannya selama tiga tahun lebih dalam bagian Biologi Molekuler ini. Ibarat seorang bayi yang merangkak tanpa ada pendampingan orang tua, itulah yang terjadi pada Emma. Selama tiga bulan bergabung, dia mempelajari semuanya sendirian saja. Itulah sebabnya dia selalu menyapa Alvaro setiap kali berada dalam ruangan ini. Bukan karena basic keramahan sikap, tapi karena dia ingin memperhatikan cara kerja dan mekanisme kerja yang harus dipatuhinya saat berada dalam laboratorium. Namun, kali ini Emma sudah merasa letih. Dia tidak ingin lagi menyapa Alvaro. Tidak ada gunanya juga. Toh usahanya selama ini tidak membuahkan hasil. Alvaro terlalu angkuh. "Morning, Dok!" Suara keras itu mengagetkan Emma yang tengah memperhatikan setiap kata dalam jurnal penelitian seorang profesor mengenai rantai RNA sebuah virus yang menginfeksi bakteri. Dia menoleh cepat seraya memegang dadanya. "Eits, morning juga, Prof," jawab Emma tergeragap. Kaca mata minusnya yang telah bergerak di angka 7 mulai melorot karena hanya disangkutkan di hidungnya yang mungil. Bentuk hidung yang lain daripada yang lain, berbeda dari bentuk hidung nenek moyangnya. Andrew tergelak. Lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah memutih sebagian itu menghampiri Emma dan duduk begitu saja di kursi di depan meja kerja Emma. "Ada hal penting yang harus kita selesaikan. Butuh waktu cepat. Butuh kerja keras. Dan membutuhkan dedikasi yang tinggi pada profesi." Seperti biasanya, Andrew selalu mengatakan sesuatu hal tanpa tedeng aling-aling. Langsung saja pada intinya. "Ada penyakit baru menyerang negara Salistic. Diduga disebabkan karena virus. Baru berjalan dua minggu, tapi sudah memakan korban lebih kurang 20% dari total penduduknya." Emma mengerutkan dahi. Mengernyit begitu kuat. Kerutan-kerutan di dahinya terbentuk menjadi lima baris. "Salistic? Negara di mana itu? Saya tidak pernah mendengarnya." "Negara baru yang terbentuk lebih kurang lima tahun yang lalu. Pecahan dari negara Nigreos. Negara kecil yang belum terpetakan dalam ordinat globe dunia. Abaikan tentang histori negrinya. Kita fokus pada penyakitnya." Andrew mengibaskan tangan. Pandangannya mengarah tajam pada Emma. "Bagaimana patogenesa-nya, Prof?" tanya Emma. Ketegangan mulai melingkupi dirinya. Dia sangat berharap bahwa perjalanan penyakit itu tidaklah terlalu rumit, hingga tidak perlu banyak menguras pikirannya. "Saya masih menunggu info selengkapnya mengenai patogenesa penyakitnya". Karena data yang semalam saya dapatkan masih simpang siur. Antara peneliti satu dengan lainnya di negara itu, saling berbeda pendapat. Tapi yang jelas, masa inkubasi berlangsung sangat cepat. Di bawah 24 jam. Well, kita harus bergerak cepat. Korban meningkat terus setiap menitnya." Masih dengan tatapan tajam yang mengarah ke manik mata Emma, Andrew berkata lugas. "Isolasi secepatnya. Apakah itu sudah dilakukan?" tanya Emma. Isolasi atau karantina adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh jika penyebab penyakit masih belum diketahui dengan pasti. "Sudah. Pemerintah Salistic sudah melakukan isolasi total pada seluruh warganya mulai hari ini. Lockdown." Andrew merapikan berkas-berkas yang tadi dibawa dan diletakkan di atas pangkuannya. "What can I do, Prof?" Emma terlihat kebingungan ketika Andrew berdiri dan hendak beranjak keluar ruangan. "Satu jam lagi isolat virus itu akan datang. Siagakan seluruh staf untuk menerima pengiriman itu sesuai dengan SOP. Koordinasikan dengan Dokter Alvaro mengenai pengerjaan virus baru ini. Saya harus menemui Menteri Kesehatan untuk kasus ini di departemen, sekarang. Lakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya." Tanpa menunggu jawaban dari Emma, Andrew berlalu begitu saja. "Damn it!" Emma mengumpat. ***
"Berterus terang saja pada Prof Andrew, Emma," saran Vera. Salah satu sahabat Emma yang bekerja di bagian hukum dari lembaga penelitian milik Professor Rudolf itu. "Bagaimana mungkin aku menyatakan ketidaksanggupanku pada Prof Andrew? Aku baru tiga bulan bekerja di sini, Vera. Gila, kau!" seru Emma dengan suara pekikan tertahan. Vera terkekeh. "Then ... what can you do? Jika kamu merasa tugas itu terlalu berat, aku kuatir justru akan membuat hasilnya berantakan. Ingat lho, apa pun hasil dari yang kamu kerjakan nantinya, akan sangat memengaruhi nasib seluruh umat manusia di muka bumi ini." Raut wajah Emma yang semula terlihat resah, kini makin terlihat galau. Kerutan di dahinya semakin bertambah dalam. "Kamu jangan membuat diriku makin tenggelam dalam kekacauan pikiran, Ver. Don't do it, please!" Bukannya ikut prihatin dengan perasaan kalut yang tengah menerpa diri Emma, tapi Vera malah tergelak. "Sekelas Emma? Dokter Emma? Seorang dokter yang baru saja meraih gelar doktoralnya di bidang Biologi Molekuler, merasa galau karena kehadiran virus baru? Apa kamu lupa dengan kredibilitasmu? Apa yang membuatmu menjadi selemah ini, Dokter?" Emma mendengus kesal. "No! No! No! Segala sesuatunya tidaklah semudah yang kamu bayangkan. Sangat tidak mudah, Dokter Vera! Dokter cantik yang menjadi incaran semua praktisi medis." Senyum Emma mengembang sempurna, diiringi kerling mata menggoda sang sahabat. Vera, dokter cantik itu makin tergelak. "Apa gunanya segala kecantikan kalau membuat para pria justru ketakutan untuk mendekati kita. Kita tidak ubahnya seperti virus mematikan buat mereka." "Yes! Karena akan sulit membodohi kita, you know?" Tawa Emma pun mengiring gelak tawa Vera. Mereka berdua tertawa bersama, untuk sekedar menepis kegalauan yang terus menghadang jiwa Emma. "Emma, look! Lelaki itu. Teman kerjamu. Ternyata dia juga butuh makan. Aku kira dia makan media agar," ujar Vera terkikik menunjuk ke arah Alvaro yang baru masuk ke kantin. "Hah? Tidak biasanya dia makan di kantin. Apakah simpanan frozen food-nya di lemari es sudah menipis?" tanya Emma dalam petikan kalimat yang meledek. Mereka berdua menahan tawa dalam bungkaman mulut dengan telapak tangan mereka masing-masing. Tak diduga, Alvaro berjalan menghampiri mereka berdua. Berdiri di samping meja makan sembari melipat kedua lengannya di depan dada. "Apa yang kalian tertawakan? Keberadaanku?" Seketika gelak tawa Emma berhenti. "Apakah kamu menganggap kami melakukan itu? Tertawa adalah hak setiap orang, sama halnya dengan hakmu untuk mengabaikan setiap sikap ramah yang diberikan orang lain untukmu. Apa ini jadi masalah buatmu?" tanya Emma ketus. Kedua alis tebal yang menempel bak ulat bulu di atas mata bulatnya, saling mendekat hampir bertaut. "Well, mata midriasis-mu itu cukup menjelaskan maksud dari sikapmu itu. Menyebalkan!" tukas Alvaro diakhiri dengan dengusan kesal. "Aku kemari mencarimu untuk memberitahukan beberapa hal penting menyangkut tugas kita." Mendengar apa yang disampaikan Alvaro, Emma segera mengubah sikap sinis dan ketusnya. Urusan pekerjaan akan selalu membuat dia mengabaikan hal apa pun. Termasuk sikap permusuhan yang selama ini dia pelihara bersama Alvaro. "So, kamu datang ke kantin bukan untuk makan?" tanya Vera menyela. "Exactly! Jelas bukan untuk makan, tapi untuk mencari anak emas Professor Rudolf ini. But, tidak ada salahnya juga jika aku sambil memesan beberapa makanan, menambah stok frozen food-ku di freezer." Kepala Alvaro memutar 45° dan memanggil pelayan kantin. Pelayan wanita berpakaian seksi itu tergopoh-gopoh menghampiri Alvaro. Siapa pun penghuni dalam lembaga penelitian ini, pasti sangat mengenal Alvaro. Seorang dokter lajang berusia 30 tahunan yang memiliki sifat sangat temperamental, tapi memiliki kecerdasan di atas skala 160, hampir setara dengan ambang minimal IQ yang dimiliki Albert Einstein. "Ada yang bisa saya bantu, Dokter?" tanya pelayan seksi itu dengan sedikit menunduk. Wow! Gelembung padat yang ada di dua sisi dadanya terlihat menggantung serupa dengan buah semangka yang akan meloncat keluar dari pembungkusnya. Alvaro menatapnya sesaat. Namun, pandangannya terlihat biasa saja. Mungkin bagi seorang Alvaro, bentukan melingkar dari rangkaian RNA suatu virus itu lebih seksi dari gantungan daging kenyal milik wanita mana pun. Vera mencolek lengan Emma dengan ujung sikunya. "So sexy," ujarnya seraya terkikik. "Well, hanya lelaki aneh yang tak berhasrat melihat pemandangan indah seperti itu. Sekelas Professor Rudolf saja masih berdecak kagum jika melihat barang indah seperti itu," sahut Emma dengan gumamam lirih. Namun, Alvaro mendengar dengan jelas perbincangan dua dokter wanita yang menyindir dirinya itu. Matanya mengarah tajam ke arah Emma. "Jangan menyentuh area privasiku." Dan Emma hanya mengangkat bahu sebagai balasan responnya. "Siapkan meat pie 10 biji untukku. Yang frozen. Karena akan aku simpan di frezeer-ku," perintah Alvaro pada pelayan seksi itu. Tangannya mencolek nakal bentukan daging bulat yang menggantung di dada sang pelayan wanita seksi itu. Pelayan wanita itu memekik centil. "Ups, norak!" sungut Emma. Alvaro tertawa mendengar celetukan Emma. "Do it! Do it!" perintahnya sekali lagi pada pelayan wanita seksi itu seraya dia mengibaskan tangannya dengan kasar. "Do you know, Doctor? Aku ini masih normal. Lelaki normal! Hanya ketertarikanku pada ilmu virologi telah mengungkungku begitu kuat hingga aku seringkali mengabaikan respon alamiah alarm biologisku," tukas Alvaro dengan intonasi penuh penekanan pada suaranya. "What ever you say, I don't care!" sergah Emma dengan pandangan yang mengalih ke arah yng berlawanan dengan posisi Alvaro. "Katakan sekarang padaku, hal penting apa yang ingin kamu sampaaikan. Tentang virus baru itu?" Wajah Alvaro seketika menegang mendengar pertanyaan Emma. "Yes! Exactly! Tentu saja tentang virus baru itu. Aku baru menerima surat elektronik dari kepala lembaga penelitian di sana. Hasilnya sungguh mencengangkan. Kita harus bekerja lebih keras lagi, Dok." "Aku sangat berharap bahwa aku tidak akan mendengar kabar buruk." Emma menatap wajah Alvaro lekat. Kaca mata minus Alvaro berulang kali harus dibenahi karena tak jarang melorot akibat hidungnya yang tak mancung. "Ternyata kami sama-sama pesek," batin Emma. "Harapanmu tidak terwujud, Dok. Kabar yang aku terima sangatlah buruk. Very bad kalau tidak bisa kubilang incredible news." Alvaro menggeleng-gelengkan kepala seraya meraih secangkir kopi susu yang diulurkan pelayan seksi, yang kembali datang untuk mengantarkan pesanan Alvaro saat dia baru memasuki kantin. Emma dan Vera saling membalas pandang. Lantas bersamaan tanpa sengaja, menghela nafas panjang bersamaan. Kabar buruk apa lagi yang hendak disampaikan Alvaro? Emma belum mendapatkan berita terbaru dari Professor Andrew, karena sang professor belum lagi menemuinya sejak menyerahkan tugas padanya hari kemarin. "Virus itu menyebabkan mortalitas pada tingkatan yang tinggi. Hampir 90%." Alvaro berkata lirih setelah menyeruput kopi susu panasnya. "What?" Emma dan Vera berseru bersamaan. Sebuah berita yang benar-benar buruk. "So, untuk setiap kasus, bagaimana prognosanya?" Emma bertanya penuh kekuatiran. Dunia medis sedang tidak baik-baik saja. Para tim medis harus berjuang ekstra keras. "In fausta!" ***
"Oh my God! Ini tidak mungkin!" Emma terlihat panik. Wajahnya memucat. "Berita ini benar-benar menbuat selera makanku hilang. Aku harus segera kembali ke laboratorium dan menuntaskan pekerjaanku." "Tenang, Emma. Don't be panic! Kanu membutuhkan asupan makanan bergizi untuk meningkatkan imun tubuhmu. Semua orang di muka bumi ini berharap banyak pada penelitian yang kalian lakukan. Jadi kalian harus sehat dan selalu fit." Vera berusaha menenangkan Emma dengan menggenggam tangannya erat. "Please, Sayang. Tenangkan pikiranmu." "Benar apa yang disampaikan Vera. Kita tidak boleh panik. Apalagi sampai terburu-buru. Karena ketenangan kerja akan sangat memengaruhi hasil. Dan cuma kita berdua yang mengerjakannya. Hanya laboratorium milik Professor Rudolf inilah yang menjadi rujukan tim medis di seluruh dunia. Do the best!" Baru kali ini Alvaro bersikap positif terhadap Emma. Memacu semangat rekan kerjanya itu tanpa ada nada melecehkan. "Aku selalu membutuhkan waktu beberapa menit untuk menetralisir laju adrenalin-ku setiap kali menghadapi berita atau pun suasana yang kurang nyaman, Dok," ujar Emma dengan tarikan nafas panjang yang berulang kali dilakukannya. Dengan tatapan sekilas mengarah ke Alvaro. "It's no problem. Yang penting dirimu sudah tenang saat melakukan tugas dan pekerjaanmu," tukas Alvaro. Suara sesapan kopi susu di cangkirnya terdengar begitu nikmat. Selarik warna coklat muda menempel di sudut bibirnya. Dan Emma menunjuk ke arah sisa kopi susu di sudut bibir Alvaro itu. "Ada sisa kopi susu menempel di ujung bibirmu." Emma mengulurkan selembar tisu ke arah Alvaro. "Thanks," ujar Alvaro seraya menerima selembar kertas tisu yang diulurkan Emma. Dia tertegun sekejap. Sikap Emma yang memberikan perhatian kecil itu ternyata menyentuh naluri humanity sang dokter lelaki itu. Alvaro terpikat dengan sikap care yabg diberikan Emma. "Ehem, apakah kalian ingin membicarakan masalah virus baru ini secara lebih detail? Atau mungkin topik pembicaraan lain yang lebih bersifat privasi?" tanya Vera seraya mengerling ke arah Emma. Tatapan Alvaro ke arah Emma membuat Vera menduga-duga hal yang menyangkut isi hati Alvaro. "Soal virus baru itu? Tentu saja harus dilakukan dengan sangat privasi. Karena belum ada hasil akhir yang kita dapatkan, yang fix disetujui oleh Professor Andrew dan Professor Rudolf sebagai hasil akhir yang layak untuk dipublish." Alvaro berkata sambil kembali mengelap sudut bibirnya. "Baiklah kalau begitu. Aku akan segera kembali ke ruanganku. Masih ada lima tumpuk berkas pengajuan penelitian yang masih harus kuperiksa. Belum lagi ajuan kasus hukum untuk beberapa berkas." Vera berdiri dan bersiap beranjak dari hadapan Emma dan Alvaro. "Vera! Tidak usah kau bayar bill-nya, Dok. Biar nanti aku yang akan menyelesaikannya." Tangan Emma terulur mencekal lengan Vera, ketika dilihatnya dokter muda itu mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. "Oh, begitu? Terima kasih banyak, Dok. Lain waktu kita bertemu di kantin lagi, maka aku yang harus melakukan pembayaran untukmu," sergah Vera cepat, menanggapi perkataan dan kebaikan hati yang dilakukan Emma, sahabatnya itu. "Don't worry about it! Jangan pikirkan hal itu, Dok! Kamu bersedia menemaniku dan mendengarkan segala curhatku, itu sudah sangat berarti." Emma melemparkan senyum manisnya ke arah Vera. Vera telah berdiri dan bersiap meninggalkan Alvaro dan Emma. Tangannya terulur menjabat Alvaro dan Emma, dua tim peneliti medis yang menempati bagian biologi molekuler. Salah satu bagian dalam lembaga penelitian ini yang menjadi kawah candradimukanya lembaga penelitian milik Professor Rudolf. "She has gone," gumam Alvaro saat melihat Vera berlalu dari hadapannya dan Emma. "Mengapa kamu mengatakan hal itu? Ada masalah apa dirimu dengan Vera?" tanya Emma dengan mata melotot. Dia kurang suka saat Alvaro mengucapkan kalimat yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Vera. Alvaro mencebik,"Dia telah menolak banyak pengajuan penelitianku di tahun-tahun lalu. Padahal Professor Rudolf dan Professor Andrew sudah menyatakan persetujuannya." "O ya? Apq alasannya?" tanyaku ingin tahu. "Masalah hukum dan humanity. Dokter Vera selalu nenyangkutkan isi penelitianku dengan dua hal itu." Qlvaro mengatakannya dengan nada geram. "Hhmm, itu adalah dua hal yang sangat sensitif dalam dunia medis. Bagaimana mungkin kamu berada dalam dua sisi yang berbeda?" Senyum tipis terkesan sinis, menyungging di bibir tipis dan mungil milik Emma. "Apa maksudmu?" Alvaro menunjukkan ketidaksesuaian pendapat dengan Emma melalui nada bicara yang tinggi dan ketus. "Kamu adalah seorang dokter yang memiliki tugas untuk bergerak di bidang humanity. Namun, di sisi lain, kamu bersikeras menciptakan strain virus baru yang sangat destruktif bagi kesehatan manusia. Pikirkan itu!" gumam Emma. Dengan nada suara lirih, tapi penuh tekanan. Lelaki berperawakan tinggi kurus yang kini duduk berhadapan dengan Emma melengos. "Strain virus yang aku ciptakan ini memiliki sifat memakan setiap bakteri jahat yang masuk ke dalam tubuh makhluk hidup, baik manusia maupun hewan." Emma tidak terlalu tertarik dengan ambisi dan obsesi Alvaro untuk menciptakan virus baru tersebut. Dia lebih tertarik untuk menunggu kabar terbaru yang diterima Alvaro mengenai virus baru yang berasal dari Negara Salistic itu. "Abaikan tentang semua obsesi penelitian pribadimu itu. Sekarang ceritakan padaku tentang berita terbaru mengenai virus baru dari Salistic itu." Emma mengalihkan pembicaraan. "Para peneliti di sana menyebutnya dengan nama Salictic Summer Virus. Karena virus itu justru ada di musim summer." Alvaro kembali menyesap kopi susunya setelah berucap. Sesapan terakhir. "Berarti dia virus yang bertahan hidup pada cuaca dan suhu ekstrem?" tanya Emma lebih lanjut. "Yups. Menarik, bukan?" Alvaro nyengir, memperlihatkan sederetan giginya yang rapi. Geligi itu menyembul indah di antara dua sisi bibirnya yang cukup tebal. Sangat berbeda dengan bibir Emma yang tipis. Ups! Mengapa Emma menjadi tertarik untuk memperhatikan detail fisik Alvaro? Dan melihat dari sudut pandang keindahannya? Emma menggelengkan kepalanya perlahan. Dia harus menepiskan segala penilaian positif tentang dokter lelaki yang temperamental ini. "Virus baru itu menyalahi kodratnya. Selama ini semua strain virus tidak ada yang bisa bertahan pada cuaca dan suhu ekstrem. Terutama pada suhu panas. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa baru virus corona yang mampu bertahan hidup dan malah mampu melakukan replikasi pada suhu 60° pada paparan selama satu jam. Dan, do you know, Doc? Salistic Summer Virus ini mampu bertahan pada suhu 100°C dalam paparan 15 menit. Amazing, 'kan?" Alvaro mendekatkan tubuhnya ke arah Emma dengan suara mendesis pelan. "Oh my God. Are you kidding, Doc?" tanya Emma dengan ekspresi sangat terkejut yang tidak mampu disembunyikannnya dengan baik. "Are you serious?" "Tidak ada main-main dalam setiap pernyataan tentang penyakit. Ini menyangkut nilai hidup milyaran manusia yang ada di bumi ini." Alvaro memundurkan tubuhnya dan bersandar pada punggung kursi kantin yang hanya terdiri dari empat batang pipa aluminium berjajar. "What do you think about it?" "The terrible virus," jawab Emma dengan suara lirih. ***