“Anteeuuu…” Samar-samar terdengar suara anak kecil dari luar. “Anteeuuu….” Teriaknya beberapa kali. Membuat seorang wanita yang sedang tertidur pulas merasa terganggu dengan suara itu. Asmitha Nindiva, seorang gadis berusia 23 tahun. Berwajah manis dengan perawakan tinggi semampai, kulit kuning langsat, dan rambutnya yang panjang. Ia merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Ayahnya bernama Yusuf Saputra dan Ibunya bernama Nining Nuraini. Mereka tinggal bertiga dalam rumah sederhana. Sedangkan Niar Anindita, kakaknya Mitha sudah menikah dan tinggal di luar kota bersama suaminya. ‘BRAKKK’ Pintu kamar Mitha terbuka lebar. “Anteeeeuuuu…” Seorang anak kecil berlari menghampiri Mitha yang masih meringkuk pulas dengan selimut berwarna biru yang membalut tubuhnya. “Anteu ayo bangun… bangun anteeuu…" Anak itu mengguncang-guncang tubuh Mitha, membuat ia terpaksa mengangkat kelopak matanya yang terasa begitu berat. “Dio?” ucap Mitha dengan suara berat. Mata Mitha menyipit. Sesekali berkedip karena rasa ngantuk yang membuat lengket matanya. Fernandio Pratama, anak pertama Niar sekaligus keponakan Mitha. Mitha pun perlahan membangunkan tubuhnya dan mengambil posisi duduk. “Anteu ayo bangun! Ayo main sama aku.” Pinta Dio. “Kamu kenapa pagi-pagi udah ada di sini? Bunda mana?” Tanya Mitha pada keponakannya itu. Belum sempat Dio menjawab, tiba-tiba… “Apa nya yang masih pagi? Ini tuh udah hampir siang tauuu,” sahut Kak Niar dari ambang pintu kamar, lalu berjalan berlenggok memasuki kamar Mitha. Seketika Mitha melirik jam bekernya di atas meja yang kini menunjukkan pukul 10:30. ‘Hah? Setengah 11?’ batinnya. “Kak Niar sejak kapan disini?” tanya Mitha dengan wajah bingung. “Sejak semalam,” jawab Niar sambil menjatuhkan bokongnya di pinggir kasur. “Semalam? Kok aku gak tau?“ ujar Mitha sambil menggaruk kepala dengan rambutnya yang berantakan. “Kakak sampai sini jam 11-an. Kamu nya udah tidur.” Jelas Niar. “Oooh… pantesan.” Balas Mitha singkat, mungkin karena ia masih dalam proses pengumpulan nyawa. Dio yang sejak tadi ribut membangunkan Mitha, sekarang malah asyik mainan sendiri. “Semalam kamu pasti habis nangis, ya kan?” tanya Niar sambil menelisik wajah adiknya. “Nggak kok, siapa juga yang nangis?” Mitha berkilah. “Nggak usah bohooong, tuh mata kamu sembab.” Ujar Niar lagi sambil menunjuk mata Mitha dengan dagunya. Sontak Mitha langsung mengusap-usap matanya yang masih terasa lengket juga perih. Tangisan semalam membuat matanya bengkak. Itu karena ia sedang mengalami patah hati ditinggal tunangan oleh kekasihnya yang bernama Saga Anggara. Mitha dan Saga sudah menjalin hubungan selama 5 tahun lamanya. Mereka juga sudah berencana untuk menikah bulan depan. Namun sayang, rencana itu gagal karena penghianatan yang dilakukan oleh Saga. “Kata Ibu, kamu lagi ada masalah ya?” tanya Niar dibarengi suara berisik Dio yang sedang bermain dengan mainannya. Mitha menghela nafas, menundukan kepala dan terdiam. Dia yakin, tanpa menjawab pun, Niar pasti sudah tau masalah apa yang sedang dihadapinya. Niar yang sejak kecil begitu menyayangi Mitha pun tampak kasihan melihat adiknya itu sedang bersedih. Ia pun berusaha membuat Mitha semangat lagi. “Udaaah… gak usah sedih lagi. Mending sekarang kamu mandi biar seger, terus sarapan. Sana!” titah Niar. “Males ah… aku masih ngantuk, mau tidur aja.” Mitha menarik lagi selimutnya dan menjatuhkan tubuhnya. “Eiiittss… Gak bisa! Anak perawan mana boleh bangun siang? Cepetan… mandi!” Niar menarik tangan Mitha hingga ia berada dalam posisi duduk lagi. Entah kenapa mendengar kata-kata Niar barusan, hati Mitha merasa tak nyaman. ‘Perawan?’ batinnya. “Anteu ayo cepetan mandi. Terus temenin aku main. Ayo anteeeuuu…” Rengek Dio sambil mengguncang tubuh tantenya lagi. Mitha yang merasa terganggu berusaha melepaskan diri, “iya iya… Anteu mandiii. Bawel!” Ia pun melepaskan selimut dari tubuhnya, lalu bangkit bergegas menuju kamar mandi. *** “Kakak gak nyangka Saga bisa setega itu sama kamu, Tha.” Niar melipat kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya di bangku. Mitha mengukir senyum datar. “Apa lagi aku, Kak. Lebih gak nyangka lagi.” Balasnya dengan wajah melas sambil memeluk kedua lutut kakinya. “Kamu yang sabar ya, Tha. Mungkin memang dia bukan jodoh kamu. Kakak do’akan semoga kamu dapetin jodoh yang jauuuh lebih baik dari Saga. Jangan sampe kamu bernasib yang sama kayak Kakak.” Pandangan Niar terlihat menerawang. Mendengar ucapan Niar, Mitha mengernyitkan alisnya, “Loh…emangnya Kakak kenapa?” tanya Mitha penasaran. Seakan tidak sadar dengan ucapannya barusan, sikap Niar jadi salah tingkah. “Eh…nggak kok, Kakak gak kenapa-napa. Tadi asal ngomong aja.” Balasnya. “Yakiiin? Mas Reza baik kan sama Kakak? Atau selama ini ada yang Kakak sembunyiin dari aku?” tanya Mitha lagi. Ia pun mulai menelisik wajah Kakaknya seperti seorang penyidik. Hal itu membuat Niar semakin gelagapan. “Nggak… Kakak beneran gak kenapa-napa kok.” Niar mencoba meyakinkan. ‘Bohong! Kak Niar pasti nyembunyiin sesuatu dari aku.’ Gumam Mitha dalam hati. “Pokoknya…kamu jangan lama-lama ya galau nya. Kasian Ayah sama Ibu pasti kawatir sama kamu.” Niar mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Mitha semakin melontarkan pertanyaan atas ucapannya tadi. “Iya… aku juga lagi berusaha move on kok.” Mitha menekuk wajahnya lagi. “Besok bisa kan masuk kerja lagi? Jangan sampai kamu dipecat gara-gara kelamaan gak masuk kerja. Kalau kamu gak punya pekerjaan, nanti gimana nasib Ayah sama Ibu? Cuma kamu yang Kakak harapkan bisa jagain Ayah sama Ibu, Tha.” Bibir Niar bergetar, seperti ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan namun selalu ia tahan. Mitha pun jadi semakin penasaran. Sa’at menatap wajah Niar, ia baru sadar jika wajah kakaknya itu terlihat lebih tirus. Tubuhnya pun terlihat lebih kurus dari sebelumnya. “Kak… Kak Niar beneran baik-baik aja kan?” tanya Mitha kawatir. Niar malah mengulas senyum, “Kakak gak apa-apa kok. Kakak baik-baik aja. Kakak masuk dulu ya, mau bantuin Ibu di dalem.” Niar pun beranjak dari duduknya. Kemudian berjalan masuk meninggalkan Mitha yang masih bergulat dengan rasa penasarannya. *** “Mas Fahri… gimana kemarin? Udah ketemu Mitha?” Tanya Vina. Fahri dan Vina adalah teman sekantor Asmitha. Sudah 2 hari Mitha tidak masuk kantor tanpa kabar. Sejak batal menikah dengan Saga, hati Mitha memang begitu hancur. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumah. Jangankan untuk pergi ke kantor, untuk sekedar beraktifitas di rumah saja ia tidak bergairah. Penghianatan yang dilakukan Saga, mengubah kepribadian Asmitha yang tadinya periang menjadi pendiam dan pemurung. Membuat kedua orang tuanya merasa sedih juga kawatir. “Belum.” Jawab Fahri singkat sambil tetap fokus mengerjakan pekerjaannya. “Loh kenapa? Alamat nya gak ketemu?” tanya Vina lagi. “Kemarin ada urusan mendadak. Jadi belum sempat kesana.” “Yaaach… padahal aku udah gak sabar pengen tau kabar dia. Sampai sekarang chat sama telpon aku belum dibalas juga.” Vina terlihat kecewa. “Mana Asmitha? Belum masuk juga?” Tanya Bu Mega, atasan mereka yang tiba-tiba datang mengejutkan Fahri dan Vina. “Be…belum, Bu.” Jawab Vina gugup. “Kemana dia? Sudah dua hari tidak masuk kerja.” Bu Mega mulai memasang wajah judesnya. “Ma’af, Bu. Saya juga kurang tau, soalnya Asmitha tidak memberi kabar apapun kepada saya.” Bu Mega melipat kedua tangannya di dada, “kalau besok dia masuk, suruh menghadap ke ruangan saya.” Titah Bu Mega yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Vina. ‘Fiuhh…’ Vina menghembuskan nafasnya lega, “kenapa kalau ada orang itu suasana jadi horror sih? Ampun dah.” Ujarnya yang terlihat lega karena atasannya sudah pergi. Tidak ada jawaban dari Fahri. Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kira-kira ada masalah apa ya sama Mitha? Gak biasanya loh dia begini.” Ucap Vina lagi, melanjutkan obrolannya dengan Fahri. “Atau jangan-jangan dia lagi patah hati?” Mendengar ucapan Vina, membuat Fahri menghentikan aktifitasnya. Ia pun terdiam, teringat dengan kejadian di malam hari sa’at ia hampir menabrak seorang perempuan. *** Bersambung…
Flashback… Malam itu sedang hujan lebat. Fahri usai berkunjung ke sebuah panti asuhan, nekat pulang dengan mengendarai motornya menerobos hujan karena takut pulang kemalaman. Sebab pagi nya ia harus kembali bekerja ke kantor. Dalam perjalanan pulang menuju kost-annya, ia kesulitan melihat jalan dengan jelas. Sebab terhalang oleh kucuran air hujan yang begitu deras. Sa'at tiba di sebuah tikungan, datang seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Membuat Fahri kehilangan kendali. Ia tidak ingin wanita itu sampai tertabrak dan terluka, hingga akhirnya ia memilih membanting stir motornya ke arah kiri jalan. Ban motor pun tergelincir, dan ia jatuh bersama motornya. Beruntung tidak ada luka yang serius di tubuhnya. Sedangkan wanita itu, tanpa merasa bersalah langsung masuk ke dalam angkot yang sedang berhenti. Fahri memerhatikan wanita itu dari sebrang jalan. Wajahnya begitu familiar. Meski terlihat samar, tapi Fahri yakin wanita itu adalah orang yang ia kenal. Sa’at ia hendak menghampiri wanita itu, tiba-tiba angkot pun melaju. Membuat ia kehilangan kesempatan untuk mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu. Dari wajahnya terlihat mirip dengan Asmitha. Tapi matanya begitu sembab, seperti orang yang habis menangis. Apa mungkin wanita itu memang benar Asmitha? Jika memang benar, lalu kenapa malam-malam ia berlarian di bawah derasnya hujan dengan mata sembab. Tanpa memikirkan keselamatannya, malah main nyebrang aja. Begitu batinnya. "Gimana kalo nanti sore Mas Fahri ke rumahnya Mitha aja? Kasih tau kalo Bu Mega nyariin dia. Jangan sampe nanti dia dipecat gara-gara keseringan gak masuk kerja. Kan kasian.” Vina masih dengan celotehannya, namun tetap tidak ada jawaban dari Fahri. Pria itu masih fokus dengan fikirannya sendiri. Menyadari tidak ada respon dari Fahri, Vina pun menelisik wajah temannya itu, “Mas? Mas Fahri!” Tegurnya sambil sedikit mendorong pundak Fahri. Fahri yang lamunannya buyar pun tampak gelagapan, “eh iya… sorry… kenapa tadi?” sahutnya. "Yeee… diajak ngomong malah ngelamun. Mikirin Asmitha deh pasti.” Balas Vina yakin. "Apaan sih? Nggak kok.” Fahri berkilah. "Alah alasan aja. Terus gimana usulku tadi? Mau gak?” "Usul yang mana?” fahri tampak bingung. "Ya Allah Gustiii…” Vina menepuk jidatnya, “gimana kalo nanti soreee… Mas Fahri ke rumahnya Asmitha. Bilang sama dia kalo Bu Mega nyuruh dia menghadap ke ruangannya besok.” Vina menekan ucapannya. "Oh… iya…gampang.” Balas Fahri. "Jangan iya-iya aja. Ini menyangkut masa depannya Mitha. Emang Mas Fahri mau dia sampe dipecat dari kantor ini?” Fahri diam sesa'at, “ya… gak mau lah.” "Makanya bujuk dia supaya masuk kerja lagi.” Titah Vina. "Kenapa gak kamu aja yang bujuk dia? Kamu kan lebih dekat sama Mitha dibanding aku.” "Yaelah Maaas… ayolaah... Mas Fahri aja yang bujuk Mitha. Dia pasti lebih dengerin omongan Mas Fahri daripada aku. Mau ya… pliiissss.” Vina memohon pada Fahri dengan menempelkan kedua telapak tangan didepan dagunya. Fahri menarik nafas lalu menghembuskannya lagi, “Oke… Insya Allah nanti aku ke rumahnya Mitha. Tapi gak sore juga… mungkin agak maleman,” balas Fahri. "Ya pokoknya terserah mau sore ataupun malem, yang penting Mas Fahri samperin dia ke rumahnya. Tapi kali ini beneran jadi ya, janji?” pinta Vina. "Iyaaa janji.” Vina pun mengulas senyum, ‘semoga kali ini Mas Fahri beneran ketemu sama Mitha, dan semoga juga besok dia udah masuk kerja lagi, aku kangen sama kamu, Tha,’ batinnya. *** Selepas Maghrib… Suasana rumah Mitha tampak sepi. Hanya suara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang terdengar dari kamar Bu Ning. Sementara Dio sudah tidur di kamar Niar yang sudah lama kosong semenjak Niar menikah dan tinggal di luar kota bersama Reza, suaminya. Sedangkan Pak Yusuf masih berada di mushola dekat rumah mereka. Biasanya akan pulang setelah menunaikan shalat Isya. Mitha yang baru selesai menunaikan shalat maghrib dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya menghampiri ibunya yang sedang mengaji di kamar. 'Tok…tok…tok’ Asmitha mengetuk pintu. Bu Ning menghentikan bacaan ngajinya sebentar, lalu melambaikan tangannya pada Mitha yang sedang berdiri di depan pintu. Mitha pun berjalan masuk sambil mengangkat mukenanya yang menjuntai ke lantai. "Ada apa?” tanya Bu Ning. Mitha menggelengkan kepalanya, “aku cuma pengen dengerin Ibu ngaji aja,” jawabnya. Bu Ning pun menepuk-nepuk pahanya memberi isyarat pada anak bungsunya itu agar ia merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya. Mitha pun menuruti. Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil setiap kali Bu Ning mengaji, Mitha pasti merebahkan kepalanya di pangkuan Bu Ning. Entah kenapa suara Bu Ning sa’at membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an selalu membuat hati Mitha jauh lebih tenang. Dan di sa’at seperti ini hanya itulah yang Mitha butuhkan untuk menenangkan hatinya yang sedang terluka. Mitha merebahkan tubuhnya dengan kepala di atas pangkuan ibunya. Sambil memejamkan mata, ia menikmati suara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang keluar dari mulut Bu Ning. Begitu nyaman. Hati dan fikirannya yang kacau pun menjadi tenang. Beberapa waktu kemudian… "Sodakallaahul'adziim.” Bu Ning mengakhiri bacaan ngajinya. Lalu melirik pada wajah Mitha yang sudah tertidur pulas dengan suara dengkuran halus. Diusapnya kepala putri bungsunya itu dengan lembut. "Yang sabar ya, Nak. Ibu yakin kamu pasti kuat melewati cobaan ini. Ibu do’akan semoga kelak kamu mendapat jodoh yang jauuuh lebih baik dari Saga.” Ucap Bu Ning berbisik. Namun ternyata suara bisikan Bu Ning membuat Mitha terbangun dari tidurnya. "Ibu sudah selesai ngaji nya?” tanya Mitha sambil membangunkan tubuhnya. "Sudah…” jawab Bu Ning. Mitha mengucek-ngucek matanya yang terasa lengket. "Ya sudah sekarang kamu masuk kamar sana, lanjutin tidurnya di kamar kamu aja.” Titah Bu Ning sambil meletakkan Al-qur’an di atas meja. "Gak usah deh, Bu. Nanti aja. Lagian aku juga belum shalat isya.” Ujar Asmitha. "Ooh… ya sudah. Kakakmu mana?” tanya Bu Ning sa’at suara Niar tak terdengar. "Ngelonin Dio di kamarnya, Bu.” Jawab Mitha. "Sudah shalat Maghrib belum dia?” tanya Bu Ning lagi. "Kata Kak Niar, dia lagi halangan.” Keluarga mereka memang keluarga yang ta’at pada agama. Bu Ning maupun Pak Yusuf selalu mengingatkan kedua putrinya itu untuk selalu melaksanakan kewajibannya itu. Di tengah obrolan mereka tiba-tiba… 'Tok…tok…tok….’ "Assalamu’alaikum…” Suara ketukan pintu juga salam yang terdengar dari luar rumah. "Sepertinya ada tamu, Bu. Mitha liat dulu ya.” Mitha beranjak hendak keluar membukakan pintu, namun Bu Ning mencegahnya dan menyuruhnya menunggu di kamar saja. "Gak usah, Tha. Biar Ibu aja yang liat keluar.” Ujar Bu Ning. Asmitha pun menuruti. Bu Ning menanggalkan mukena yang ia pakai dan langsung bergegas keluar kamar. 'Cekreeeeekkkkk’ Bu Ning membuka pintu perlahan. Dilihatnya sosok laki-laki sedang berdiri membelakanginya. Dilihat dari perawakannya yang tinggi seperti Saga, tapi Bu Ning tau betul jika itu bukan Saga. Tapi siapa? Batinnya. *** Bersambung…
"Ma’af, cari siapa ya?” tanya Bu Ning sambil mengernyitkan alisnya. Mendengar suara Bu Ning, laki-laki itupun memutar tubuhnya. "Malam Tante.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya dan sungkem pada Bu Ning. "Nama saya Fahri. Saya teman kerjanya Asmitha. Mitha nya ada, Tante?” ucap Fahri dengan sikapnya yang begitu sopan. "Oooh…temannya Mitha?” Bu Ning menganggukkan kepala, “jangan panggil Tante, saya gak biasa, panggil Ibu aja.” "Oh…iya ma’af, Bu.” Balas Fahri. "Mitha nya ada kok. Sebentar Ibu panggilkan dulu ya. Silahkan duduk.” Titahnya pada Fahri sambil menunjukkan bangku yang ada di teras rumah itu. "Iya, Bu. Terima kasih.” Balas Fahri lagi. Segera Bu Ning masuk lagi ke dalam untuk memanggil Mitha. "Tha, ada teman kamu di depan.” "Siapa, Bu?” tanya Mitha penasaran. "Katanya teman kantor kamu. Namanya Fahri.” "Hah? Mas Fahri?” Mitha tampak terkejut, ‘ngapain Mas Fahri kesini? Tau dari mana dia rumah aku? Aaah…pasti dari Vina,’ gumamnya dalam hati. "Sudah sana kamu temui dulu. Gak baik membiarkan tamu menunggu lama-lama.” "Iya, Bu.” Mitha pun melepas mukenanya dan melipat asal, lalu bergegas keluar menemui Fahri yang sudah menunggu sejak tadi. "Mas Fahri?" sapa Mitha sambil berjalan mendekati Fahri yang sudah duduk di bangku teras. Kemudian ia pun menjatuhkan bokongnya ke bangku yang ada di depan Fahri. "Mas Fahri ngapain datang kesini? Tau rumah aku dari mana?” lanjutnya. "Dari Vina.” Jawab Fahri. "Hmmm… sudah aku duga. Terus ada apa Mas Fahri datang kesini?” Mitha mengulangi pertanyaannya lagi. "Aku cuma ingin tau keadaan kamu aja. Udah 2 hari kamu gak kerja. Kamu baik-baik aja kan?” tanya Fahri kawatir. Asmitha mengulas senyum yang terpaksa, “aku baik-baik aja kok,” dustanya. "Tapi wajah kamu pucat banget, Tha. Kamu sakit?” "Nggak kok, aku baik-baik aja.” Mitha masih saja berbohong. Ia tidak ingin ada orang lain lagi yang tau permasalahan yang sedang terjadi antara ia dengan Saga. "Aku gak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi sekarang, Tha. Aku juga gak akan maksa kamu untuk cerita. Tapi ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, 2 hari yang lalu sa’at malam dan hujan lebat. Apa kamu ada di jalanan dan hampir tertabrak motor?” tanya Fahri yang masih penasaran dengan kejadian malam itu. "Dari mana Mas Fahri tau?” bukannya menjawab pertanyaan Fahri, Mitha malah balik bertanya. Mendengar pertanyaan Mitha, kini Fahri merasa yakin jika wanita yang hampir ia tabrak itu memanglah Asmitha, wanita yang kini ada di hadapannya. "Karena aku sendiri, orang yang sa’at itu hampir menabrak kamu. Untung aku bisa menghindar. Kalo nggak, pasti kamu yang celaka.” Jawab Fahri. Mitha tampak kaget mendengar ucapan Fahri. “Tapi Mas Fahri gak apa-apa kan? Ada luka gak? soalnya seingat aku, pengendara motor itu sampe terjatuh.” Mitha menelisik keadaan wajah dan tubuh Fahri, “ada luka gak?” ia mengulangi pertanyaannya lagi. "Alhamdulillah aku gak apa-apa. Gak ada luka juga” jawab Fahri. Mitha pun menghela nafas lega, “Alhamdulillah, syukur kalo gitu.” Ujarnya. "Kamu kenapa nyebrang gak liat-liat? Gak perduli sama keselamatan kamu sendiri? Aku liat mata kamu juga sembab. Apa malam itu kamu sedang menangis?” tanya Fandi. "Aku…” Mitha berusaha mencari alasan, “aku gak apa-apa kok. Mungkin karena kehujanan jadi mataku perih terus keliatan bengkak deh. Padahal sebenarnya gak kenapa-napa.” Dustanya. "Tapi yang aku lihat kamu seperti orang yang sedang bersedih, kenapa?” Mitha terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat Mitha seperti itu, Fahri pun jadi merasa bersalah. "Ma’af kalo pertanyaan aku bikin kamu gak nyaman. Gak usah dijawab juga gak apa-apa kok.” Masih tidak ada jawaban dari Mitha. Membuat Fahri jadi kebingungan. Tak lama Bu Ning keluar dengan membawa segelas teh hangat yang ia suguhkan untuk Fahri. "Silahkan diminum, Nak Fahri. Ma’af hanya ada air minum saja.” "Iya Bu, gak apa-apa. Terima kasih.” Jawab Fahri sambil menganggukkan kepala nya. Tanpa berlama-lama, Bu Ning pun kembali masuk. "Ada siapa, Bu?” Tanya Niar yang baru saja keluar dari kamarnya. "Teman kantor nya Mitha.” Jawab Bu Ning. Niar membuka sedikit gorden jendela dan mengintip ke arah luar. "Namanya Fahri, keliatannya dia pria yang baik.” Ujar Bu Ning yang ikut mengintip di samping Niar. "Ganteng juga, Bu. Gak kalah ganteng lah dari Saga mah.” Niar menutup kembali gordennya lalu duduk di sofa. “Mudah-mudahan dia bisa membantu Mitha move on dari Saga ya, Bu. Aku kasian liat Mitha terpuruk kayak gitu.” Sambungnya lagi. "Iya… mudah-mudahan aja,” balas Bu Ning dengan wajah penuh harap. "Aku kesini juga mau menyampaikan sesuatu. Bu Mega nanyain kamu terus. Dia juga nyuruh kamu menghadap ke ruangannya besok. Aku harap besok kamu bisa masuk kerja lagi, Tha. Karena kalo nggak, kamu bisa kehilangan pekerjaan kamu.” Ucap Fahri panjang lebar. Mitha menghela nafas, “aku bingung, Mas. Aku gak tau besok bisa masuk kerja atau nggak.” Ucapnya bimbang. "Hmm… tadi bilangnya baik-baik aja. Terus sekarang apa masalah nya?” Fahri menatap Mitha dengan tatapan penasaran. Gadis yang ia kenal selalu ceria kini terlihat murung. Wajahnya pucat juga tak bersemangat. 'Sebenarnya kamu kenapa sih, Tha?’ tanya Fahri dalam hati. "Sebenarnya aku lagi galau, Mas.” Ucap Mitha seakan menjawab pertanyaan dalam hati Fahri barusan. "Galau kenapa? Saga lagi?” Mitha mengangguk. "Kalo kamu mau cerita, cerita aja. Aku siap kok jadi pendengar yang baik.” Mitha terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali mencurahkan isi hatinya. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang. Ia butuh teman yang bisa mengerti perasaannya. Tapi ia bukan tipe orang yang bisa curhat ke sembarang orang. Hanya kepada orang-orang tertentu yang sekiranya bisa membuat ia nyaman. "Ikut aku yuk!” ajak Fahri. "Kemana?” "Nanti juga kamu tau. Mau gak?” Mitha berfikir sebentar. Merasa jenuh beberapa hari di rumah terus, akhirnya Mitha menyetujui ajakan Fahri. Lagipula ia dan Fahri sudah kenal lumayan lama. Fahri laki-laki yang baik. Ia juga pernah menolong Mitha dari gangguan preman. Jadi Mitha merasa aman. "Ya udah,,,aku pamit sama Ibu dulu ya. Sekalian ganti baju.” Ujar Mitha. Fahri membalas dengan anggukan. Mitha pun bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Setelah selesai berganti baju, ia pun berpamitan kepada Bu Ning dan juga Niar. "Aku keluar dulu ya, Bu. Sama Mas Fahri.” "Jangan pulang larut malam ya,” balas Bu Ning, “Ibu titip Mitha ya, Nak Fahri.” Lanjutnya pada Fahri yang berdiri di samping Mitha. "Iya Bu,,, Insya Allah Mitha akan selalu aman.” Balas Fahri yang membuat hati Bu Ning tenang. Setelah berpamitan, mereka pun langsung meluncur ke suatu tempat. ***