"Andra! Jadi, pekerjaan kamu selama ini tukang parkir?!" "Nadia?! Nadia, kamu ngapain di sini?! Aku ... aku ...." Aku berusaha meraih lengan Nadia—kekasih yang sudah lama menemani hari-hariku tanpa pernah tahu profesi apa yang membuatku selama ini bisa cukup makan tiga kali sehari. Nadia tak mau mendekat, ia menjaga jarak. Sangat jelas ia tidak menerimaku, tampak dari kening yang mengerut serta tatapannya yang tampak terkejut. Ia mungkin tidak mau menerima kenyataan bahwa kekasih yang selama ini selalu ada untuknya adalah seorang tukang parkir yang serba berkecukupan. "Jangan deket-deket. Jangan mendekat! Gue nggak mau tangan kotor lo nyentuh kulit gue. Malu-maluin lo!" Setelah membentakku dengan kasar, Nadia berjalan pergi dari seonggok raga yang kini bergeming tak berdaya memaksa ia untuk tetap tinggal. Aku sangat tahu keadaanku, tetapi aku juga mencintainya dengan seluruh perasaan yang ada. Sejak SMA hingga ia berkuliah di kampus ternama saat ini. Namun, aku tak melanjutkan ke universitas hanya karena tidak punya biaya. Entahlah, mungkin aku hanya ditakdirkan menjadi orang serba berkecukupan. -II- Suatu peristiwa terberat yang pernah kuhadapi di masa lalu membuat diriku trauma dengan hubungan romansa. Mulai saat itu, aku memutuskan bekerja keras melakukan apa saja. Aku mengerjakan semua hal yang bahkan tidak bisa aku lakukan. Hanya kegigihan dan ketekunan yang mampu membuatku mengalahkan semua ego dan rasa malas yang bergelimang di dalam diriku. Aku pikir Tuhan tidak akan pernah menjadikanku seseorang dengan kelebihan atau memiliki kekayaan melimpah. Hingga pada suatu hari, aku mulai sadar untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku, bekerja di rumah-rumah tetangga, menjadi sopir, menjadi tukang ojek. Aku bahkan mengurangi pengeluaran harianku, meminimalisir porsi makan. Sampai pada suatu ketika, aku mulai berinvestasi, mencoba bisnis besar dengan risiko yang lebih besar pula. Bisnis properti adalah kategori yang aku pilih. Setiap waktu, aku tak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Mengikuti segala macam seminar kewirausahaan. Mengikuti pelatihan bisnis yang sekiranya dapat memberi ilmu bagiku di bidang yang sedang aku geluti. Melampaui kemampuan sendiri adalah tujuanku saat ini. -II- "Andra ... maafin gue, maafin gue ...." Seketika tangis perempuan berambut lurus hingga punggung itu pecah di kesunyian ruang kantorku. Sementara ia menumpahkan air mata yang bagiku tidak berarti apa-apa, aku hanya mengalihkan pandangan sambil menyaksikan riuhnya kota ini dari balik kaca yang membalut gedung besar tersebut. Ia datang ketika aku telah menjadi seseorang, yang mungkin sudah pantas baginya untuk menjadi yang diakui. Meski begitu, aku masih ingat betapa dulu ia bahkan tidak ingin tangan kotorku menyentuh dirinya. Sangat disayangkan perempuan sepertinya kini mengemis maaf dengan sangat tertatih. "Saya sudah memaafkan kamu." "Jadi, kalau begitu, kita bisa—" "Tidak. Memberikan kamu maaf bukan berarti saya juga harus menerima kamu sebagai kekasih seperti dulu," tandasku, masih tak mau menatap dirinya yang hancur, bersimbah air mata dengan begitu banyak penyesalan menelungkupnya. Tangisnya makin jadi. Ia sudah mendapat maaf, tetapi mengapa ia menuntut lebih? Aku berjalan melewati tubuh rampingnya yang terbalut gaun brokat panjang didominasi warna biru muda serta tas di lengan kanannya. Aku akui ia amat indah, tetapi tidak pantas untukku setelah sekian lama aku menyadari. "Maaf, saya ada meeting hari ini. Seorang klien akan datang, kamu boleh pergi melewati pintu ini untuk keluar." Aku memutar kenop pintu, membukakan pintu untuknya. Nadia memandangku dengan sesal bergelimang kesal. Tubuhnya yang begitu indah bergerak pelan, lalu melewati pintu hingga keluar dari ruanganku. Sebelum aku menutup kembali pintu, ia menatap ke arahku dengan keadaan hancur. Tak ada kesempatan kedua untuk seorang pengkhianat di mataku. Aku tidak peduli dengan kata maaf yang begitu diucapkan lalu dilupakan. Semua paradoks, sewaktu-waktu pasti akan diulangi kembali. Aku mungkin telah menjadi lelaki bergelimang harta, tetapi masalah tidak akan berhenti datang. Itu yang aku sadari saat ini. Bahkan masalah yang lebih pelik telah menunggu di depan sana. Ingin melahapku, mencengkeram kesombongan serta keangkuhanku ketika harta ternyata mengalahkan kerendahan hati yang dulu pernah aku miliki. --II-- "Pak, ada perempuan yang mau bertemu. Katanya dia mau melamar sebagai sekretaris baru di kantor ini. Saya sudah bilang kalau kita lagi nggak butuh karyawan baru, tapi orangnya keras kepala." "Ya, ampun! Tidak becus kamu, Lina. Seharusnya kamu bisa meyakinkan dia kalau kita memang tidak butuh karyawan baru! Kalau perlu, panggilkan satpam dan usir dia." "Tapi, Pak. Orangnya—" "Ya, sudah. Saya akan temui dia. Di mana dia sekarang?" "Di ... depan ruangan Bapak." Aku menatap tajam pada Lina—seorang receptionist di perusahaan yang aku kelola. Dengan sebelah alis yang mengangkat, aku mendengkus kesal. Bagaimana bisa dia bekerja sangat tidak becus? Seharusnya dia dan satpam yang sudah aku gaji bisa bekerjasama dengan baik. Jika ada orang seperti perempuan yang dimaksud, dia dan satpam berkewajiban mengusirnya. Dengan bergelimang kesal, aku berjalan ke kantorku yang berada di lantai tiga gedung raksasa ini. Perusahaanku memang terdiri dari tiga lantai. Di atas lantai tiga terdapat beberapa perusahaan juga. Ada sekitar tiga ratus karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinanku. Ada banyak penyumbang dana yang menghabiskan uang demi membantu perusahaan ini maju dan berkembang. Sampai di lorong menuju ruang kerja, aku melihat seorang perempuan. Rambutnya lurus terikat rapi sepunggung. Ia mengenakan rok selutut berwarna hitam serta atasan berwarna putih. Ia melihatku yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Dengan sungkan ia menyunggingkan senyuman. Di tangan kanan ia membawa sebuah amplop cokelat. Sepertinya identitas diri dan kumpulan sertifikat kerja sebagai bukti pencapaiannya, agar aku berminat menerimanya sebagai karyawan di perusahaan ini. Tapi, ayolah. Di perusahaan ini, aku punya HRD yang bertugas mengurus perihal sumber daya manusia atau karyawan umum. “Maaf, Pak. Nama saya ... Tari,” ucapnya sambil sedikit membungkuk memberi hormat atas kedatanganku. “Ada perlu apa kamu menemui saya?” tanyaku dengan dahi berkerut dan mata yang malas menatapnya. “Saya ... mau melamar pekerjaan—“ “Maaf, kami sedang tidak butuh karyawan. Kantor ini sudah kebanyakan karyawan. Kamu melamar di kantor lain saja.” Aku melanjutkan langkah ke pintu, mulai memutar kenop pintu ruangan, tetapi ia menghentikanku dengan sedikit bernada tinggi. “Pak! Maaf, tapi ... Bapak boleh lihat dulu berkas-berkas saya. Saya sudah bawa semua berkas yang diperlukan. Saya juga sudah bawa portofolio agar Bapak tertarik merekrut saya.” “Tidak perlu. Saya memang tidak butuh karyawan. Kalaupun saya membuka lowongan pekerjaan, saya akan meminta HRD mengurusnya.” “Pak!” Perempuan bernama Tari itu tiba-tiba saja meraih ujung kemeja hitam yang aku kenakan. Di titik ini, aku benar-benar kesal. Tak habis pikir diriku, mengapa perempuan keras kepala seperti dia ada di dunia ini. Rahangku mulai mengeras, aku membalik badan. “Saya, tidak, butuh, karyawan!” Aku menegaskan dengan tatapan tajam mengintimidasi. Namun, tetap saja ia tidak gentar. Ia semakin berani menyodorkan berkas-berkas prestasinya. “Kenapa kamu ingin sekali bekerja di sini?” “Pak, tolong. Saya sedang butuh uang. Saya harus bekerja. Saya punya alasan tersendiri kenapa sangat ingin bergabung dengan perusahaan Bapak. Saya punya pengalaman sebagai sekretaris. Bapak bisa mengandalkan saya untuk urusan yang berkaitan dengan pencatatan dan manajer jadwal kerja.” Aku bungkam seketika. Ya, aku tahu semua orang punya masalah masing-masing dalam hidup ini. Kita tidak pernah tahu alasan seseorang untuk bekerja, berharap mendapat upah dari pekerjaan yang mereka tekuni. Seketika itu, aku teringat diriku enam tahun yang lalu. Enam tahun lalu saat aku dapat makan dan minum hanya dari hasil parkir kendaraan. Ketika melamar pekerjaan dengan ijazah lusuh tamatan sekolah menengahku, tidak ada satu perusahaan pun yang mau menerima. Aku bingung apakah sebuah kertas menjadi tolok ukur di dunia pekerjaan? Bisakah secarik kertas itu membuktikan kemampuan seseorang? Dan apakah memiliki berkas itu, berarti menjamin kemampuan dan dedikasi seseorang? Aku menatap lamat-lamat perempuan di hadapanku tersebut. Ia tampak sendu. Kulihat matanya memang menyimpan sebuah kesedihan. Selain itu, ada pendar harapan yang timbul-tenggelam di bola matanya yang hitam. Aku membalik badan, lalu berkata, “Masuklah.” Kemudian, aku duduk di kursi kerjaku, sedangkan perempuan itu masih berjalan pelan. Ia tampak lega, tetapi mungkin ada pula perasaan gugup di dalam benaknya. “Duduklah.” Segera ia duduk. Bola matanya memicing, seolah-olah menghindari tatapan tajamku. Ia menyodorkan amplop cokelat yang berisi berkas-berkas lamaran dan beberapa kertas bukti prestasinya di beberapa bidang seperti keahlian mengelola data dengan komputer, dan lain-lain. “Saya tidak butuh berkas-berkas kamu. Tidak penting!” tandasku. “Lalu, apa yang harus saya lakukan agar bisa diterima bekerja di sini, Pak?” “Kamu ingin melamar sebagai apa di perusahaan ini?” “Saya punya pengalaman sebagai sekretaris, Pak. Kalau bisa—” “Mau kerja langsung jadi sekretaris?” Aku mendengkus. “Dulu pernah bekerja di mana?” “Saya pernah bekerja di perusahaan advertising, Pak.” “Kenapa berhenti bekerja di perusahaan itu?” “Saya—“ “Oke, tidak perlu kamu ceritakan panjang lebar.” “Yang harus kamu ketahui, di perusahaan ini, semua karyawan harus mengikuti perintah saya. Saya bos di sini. Tidak boleh ada yang terlambat datang. Juga, ada peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang kedisiplinan karyawan. Yang lebih penting adalah, karyawan yang bekerja di perusahaan ini dilarang keras untuk saling jatuh cinta, berpacaran, dan sesuatu yang berbau percintaan!” tegasku sambil memutar kursi. Gegas aku bangkit, kemudian berjalan ke samping tempat Tari duduk. Tari terlihat sangat gugup ketika aku mendekatinya. Ia tampak menelan saliva. “Apa pun perintah yang saya berikan kepada karyawan, tidak boleh dibantah. Harus dilaksanakan dengan baik. Pendapat saya tidak boleh dilawan, harus diterima, tanpa kecuali.” Tari mengangkat tangannya ragu-ragu. “Ada apa?” tanyaku. “Saya mau bertanya, Pak. Kenapa karyawan di sini tidak boleh saling ....” “Saling jatuh cinta maksud kamu?” “I-iya, Pak.” “Karena itu adalah peraturan yang saya buat. Tidak ada yang boleh melanggar aturan itu. Tidak ada yang boleh membantah. Perintah saya mutlak harus dilaksanakan. “Kalau kamu bersedia dengan aturan-aturan yang saya sebutkan ataupun belum saya sebutkan secara lisan, kamu saya terima bekerja di sini sebagai sekretaris saya. Karena kebetulan sekretaris yang dulu tidak kompeten dan terlebih lagi selalu bolos bekerja, saya akan memecatnya.” Aku mengambil sekumpulan kertas di laci meja, lalu melemparkannya ke depan Tari. “Itu kontrak. Baca, kalau kamu siap, kamu resmi bekerja di sini. Nanti kamu akan saya berikan salinan yang lain. Yang penting dibaca saja isinya. Baca dan pahami pasal-pasal dan ayat-ayatnya.” Dengan pelan, Tari mengambil kumpulan kertas di hadapannya, ia mulai membaca pasal-pasal yang bercetak tebal pada kontrak, lalu pandangannya naik ke wajahku yang ada di depannya. “Bagaimana? Kamu paham? Apa sudah siap? Kalau sudah, tanda tangani saja kontrak itu,” kataku seolah menantang sambil memiringkan senyum dan menajamkan tatapan. Tari menghela napas dalam-dalam, ia meletakkan kertas ke atas meja. Ia mencabut pulpen yang ada di meja, tak menunggu lama ia menandatangani kontrak yang kuberi. Maka, akhirnya ia resmi menjadi sekretarisku hari itu juga. “Oke. Sekarang kamu resmi menjadi sekretaris saya. Dan ... ada beberapa hal lagi yang lupa saya sebutkan. Kamu tidak boleh bicara sebelum saya memerintahkan kamu bicara, atau sebelum saya bertanya kepada kamu. Akan ada peraturan-peraturan lain yang akan saya sebutkan jika saya sudah ingat nanti.” Sekali lagi, Tari menelan saliva. Napasnya terdengar berat saat menghela, lalu ia mengangguk pelan. “Bagus kalau kamu sudah mengerti. Mulai sekarang, kamu bekerja.” “Jadi, saya—“ “Berhenti! Saya belum meminta kamu bicara! Ingat? Itu adalah aturan yang saya buat dan mutlak ditaati.” Tari mendengkus, sepertinya ia begitu kesal padaku saat itu juga. Ya, aku tahu itu. “Kamu harus mulai bekerja hari ini. Ruangan kamu ada di sebelah ruangan saya ini. Saya harap kamu bekerja dengan baik. Sekarang, pergilah ke ruangan kamu. Jobdesk sudah tersedia di sana. Kamu bisa mulai berkenalan dengan karyawan-karyawan lain. Tapi, saat saya memanggil kamu, kamu harus datang cepat-cepat. Tidak pakai lama. Saya benci menunggu.” “Tapi, Pak. Hari ini saya—“ “Berhenti! Kamu sudah menandatangani kontrak. Artinya, saat kamu sudah menandatangani kontraknya, kamu sudah resmi jadi bawahan saya. Kamu tidak boleh membantah. Sekali lagi kamu membantah, saya akan memberikan kamu sanksi.” Dengan berat hati—mungkin—Tari bangkit dan berjalan keluar. Seraya menutup pintu, ia menatapku dengan tajam. Tampak bahwa rahangnya mengeras. Kupikir ia memang sangat kesal padaku. Dan bisa kutebak, kebencian atasku pun akan lahir di dalam benaknya dari hari ke hari. Sekeluarnya perempuan tersebut, aku menyeringai. Pada akhirnya, mereka akan merasakan apa yang pernah aku rasakan. -II-
“Tari! Ke sini kamu!” Tari berjalan masuk ke ruanganku yang pintunya sedang terbuka. Aku duduk berhadapan dengan Damar, seorang HRD yang seharusnya mengurus perihal lamaran pekerjaan dan sumber daya manusia di perusahaan ini. “Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tari, sopan. “Kenalkan, dia Damar, HRD di sini. Seharusnya kemarin dia yang mengurus lamaran pekerjaan kamu di sini. Dokumen prestasi memang tidak penting bagi saya, tapi bagaimanapun juga, dokumen kamu akan tetap diarsipkan untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang. Kamu pasti mengerti maksud saya. Silakan berikan dokumen kamu pada Damar.” “Baik, Pak. Tunggu sebentar, saya akan ambil di meja saya.” Sementara itu, Damar menatap lamat Tari yang tengah berjalan keluar. “He, Damar. Ada laporan apa hari ini?” Seketika itu, Damar terhenyak dan menolehkan pandangannya ke depan sambil mengatur posisinya senyaman mungkin. “Oh, iya. Maaf, Pak. Iya, ada beberapa karyawan yang kinerjanya mulai menurun.” “Saya serahkan semuanya padamu. Ingat, kesalahan fatal dalam perusahaan ini adalah jatuh cinta sesama karyawan. Bahkan kamu sekalipun tidak boleh melanggar aturan itu, kecuali kamu memang sudah menikah. Tapi tetap saja, jika istrimu juga bekerja di perusahaan ini, bermesraan adalah hal yang terlarang. Kalau ingin bermesraan, silakan di rumah saja.” Cukup banyak yang tidak setuju dengan aturan tidak logis yang aku terapkan. Ya, aku tahu hal itu cukup menyebalkan. Namun, jika memang maksud dan tujuan mereka adalah bekerja, maka masalah percintaan seharusnya bukanlah apa-apa. “Permisi, Pak. Ini dokumen saya.” Tari berdiri di sebelah sofa, lalu memberikan Damar beberapa dokumen penting yang beberapa waktu lalu ia bawa untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini. Damar menerimanya dengan baik dan sopan, lalu membuka beberapa dokumen. Ia membacanya kemudian. “Tari Fitrianti. Kamu pernah bekerja sebagai sekretaris juga di sebuah perusahaan advertising. Pendidikan terakhir kamu adalah Administrasi Perkantoran, S1. CV-mu bagus menurut saya. Tidak ada masalah.” Damar manggut-manggut sambil memasukkan kembali dokumen-dokumen tersebut ke dalam amplop. “Damar, bagaimana dengan Rani, sekretaris tidak becus rekomendasi dari kamu? Kenapa dia tidak pernah ada di saat saya butuh?” “M-maaf, Pak. Rani tidak pernah bisa dihubungi. Terakhir kali ia ngobrol dengan saya, dia bercerita sedang ada masalah keluarga.” “Pecat dia! Berikan pesangon yang cukup. Saya tidak butuh orang tidak becus.” Lelaki dengan hidung pesek, serta alis tebal tersebut tampak menelan saliva. Ia mengangguk atas perintahku. “Baik, Pak.” “Dan kamu, Tari! Karena saya sudah berbaik hati mau menerima kamu di perusahaan saya, kamu tidak boleh mengecewakan saya!” “I-iya, Pak. S-saya tidak akan mengecewakan Bapak.” “Bagus kalau kamu sudah mengerti. Sekarang, lakukan tugasmu dengan baik. Kembali ke ruangan. Kamu juga, Damar. Hari ini saya ada pertemuan penting dengan Pak Hartono.” “Permisi, Pak.” Tiga detik kemudian, keduanya keluar dari kantorku. -II- “Tari! Apa jadwal saya hari ini?” “Pukul 10.00 pagi, Bapak ada pertemuan dengan klien penting. Kemarin beliau sudah membuat kesepakatan, namanya Ibu Satia. Kemudian, pukul 11.00 siang, Bapak ada undangan ke kantor mitra untuk membahas kerja sama yang kemarin Bapak telah sepakati.” “Ada lagi?” “Tidak ada, Pak.” “Baik. Ini masih jam sembilan. Buatkan saya kopi.” “Tapi, Pak. Membuat kopi sepertinya bukan—“ “Sekarang juga!” potongku, bernada sedikit tinggi. Tari menunduk, entah ekspresi apa yang ia tunjukkan saat itu. Yang jelas dan memang tidak satu pun karyawan di perusahaan ini yang tidak menyimpan dendam padaku. “B-baik, Pak. Akan saya buatkan segera.” Tari berbalik badan, lalu berjalan untuk melaksanakan perintahku. Sebelum perempuan itu benar-benar keluar, aku berujar, “Tari! Ingat, saya tidak suka kopi yang terlalu pahit, juga tidak suka yang terlalu manis.” “Baik, Pak.” Perempuan dengan dagu lancip tersebut mengangguk, lantas keluar. Sekembalinya, ia meletakkan secangkir kopi hitam hangat yang asapnya masih mengepul di udara kantorku yang dingin. Aku mengangkat cangkir, lalu menciumi aroma kopi. “Tidak ada aroma kopi yang kental. Kamu yakin kopi ini akan nikmat saat saya meminumnya?” Aku mengangkat sebelah alis, mencari kepastian Tari yang masih berdiri di depan meja. “Saya ... yakin, Pak.” Melihat ekspresi Tari yang agak ragu, aku pun memutuskan menyeruput kopi itu perlahan. Beberapa kali kuseruput, dahiku mengerut spontan. “Bagaimana, Pak?” tanya Tari, memastikan. “Tidak terlalu spesial. Biasa saja.” Aku meletakkan kembali mug di meja. “Sudah. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu. Selama pertemuan nanti dengan Ibu Satia, temui saya di kafe depan gedung jika ada yang menelepon.” “Baik, Pak.” Tari berjalan keluar, tetapi aku menghentikannya lagi. “Oh, ya. Bekerja yang benar. Saya tidak tahu apa yang membuat kamu mau bekerja di sini sambil memohon-mohon seperti beberapa hari yang lalu. Tapi, jangan khianati kepercayaan saya.” “Terima kasih, Pak.” -II- Aku datang ke kantor pada pukul 8.00 pagi. Saat melewati ruangan Tari, tampaknya masih sepi. Ia sepertinya belum datang. Aku berjalan kembali ke meja receptionist. “Lina, apa Tari sudah datang?” tanyaku pada Lina. “Saya belum melihat Mbak Tari melewati lobi dari setengah jam yang lalu, Pak.” “Oke. Kalau kamu melihat dia datang nanti lebih dari lima menit dari sekarang, suruh dia ke ruangan saya saat itu juga.” “Baik, Pak.” Lima menit menunggu sambil memangku kepala di meja, Tari belum juga datang. Hari ini, tampaknya ia akan sangat terlambat. Kesalahan fatal kedua, dan aturan kedua yang tidak boleh dilanggar berkali-kali. Hingga lima belas menit berlalu, barulah kenop pintu ruanganku berputar. Pintu didorong masuk, muncullah sosok Tari dengan wajah berkerut. Setelah berdiri di hadapanku, aku memperhatikan keringatnya berlomba-lomba keluar. Mungkin bukan hal mustahil jika keringat itu karena dia berusaha tiba di kantor dengan cepat. Namun, juga bukan hal mustahil jika keringat itu adalah bukti bahwa dia sedang takut jika aku memarahinya. “Pak. Maaf—“ “Kamu tahu bahwa terlambat adalah aturan kedua yang sangat tidak boleh dilanggar. Ketika saya datang, artinya semua karyawan sudah harus datang dan berada di ruangan masing-masing.” Tanpa menatap perempuan itu, aku berdalih. “Maaf. Saya ... tadi ada keperluan penting, Pak. Dan jalanan—“ “Macet? Kenapa tidak berangkat lebih awal? Jika kamu tahu bahwa kamu ada keperluan, kenapa kamu tidak bersiap-siap lebih pagi? Saya tidak butuh alasan, TARI! Perusahaan ini bisa hancur karena kamu yang tidak disiplin!” Hal biasa yang aku lakukan ketika memberi teguran kepada karyawan, terutama sekretaris yang bekerja di bawahku adalah marah-marah dengan membentak atau nada tinggi. Meskipun kantorku dikelilingi kaca, tetapi jika berteriak demikian, suaranya bisa sampai keluar hingga akhirnya karyawan yang berada di luar sering kali tidak berani menatap ke kantor ini. Tari menundukkan wajahnya dengan gelimang sesal yang dapat aku lihat dengan jelas. Matanya sedikit memerah. Sedetik kemudian aku mengalihkan pandangan darinya. “Bekerja itu harus komitmen, Tari. Kamu tidak boleh seenaknya, karena ini adalah perusahaan saya.” “Saya—“ “Diam! Saya belum memberi kesempatan kepada kamu untuk bicara. Diam dan dengarkan saya. Apa begitu susah mendengarkan saja dulu?” Aku beranjak dari kursi, melangkah lebih dekat pada perempuan tersebut. “Kamu ingat? Aturan saya, apakah kamu ingat? Kamu tidak boleh bicara sebelum saya perbolehkan. Bila perlu, kamu catat di otak kamu!” Aku menghela napas dalam-dalam. “Saya tidak mau mendengar alasan apa pun dari kamu. Keluar dari ruangan saya, dan lakukan pekerjaan kamu seperti biasa.” Merespons dengan anggukan, Tari berjalan cepat meninggalkan ruangan. Aku memijat pelipis kemudian, lalu membanting pantat di kursi. Beberapa saat, ponselku berdering panjang, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Asyifa, aku mengangkatnya kemudian. “Halo. Ada apa?” “Sayang? Nada bicaramu, kok, kayak orang yang lagi marah gitu? Hari ini, kan, hari Sabtu. Kamu nggak lembur, kan, Sayang? Aku mau mengajak kamu—“ “Maaf, saya sibuk.” Klik. Asyifa—putri dari keluarga Hartono—pemberi modal terbesar di perusahaan ini. Perempuan yang hanya memanfaatkan harta orang tuanya. Tidak pernah tahu bagaimana rasanya berjuang, berusaha dari titik nol sehingga mengorbankan banyak hal sampai darah penghabisan. Pada dasarnya, aku tidak suka perempuan seperti Asyifa. Namun, karena kebetulan Pak Hartono selalu baik padaku, aku pun harus mencoba dekat dengan perempuan itu. Tidak ada yang spesial dari dirinya. Ia pun mengincarku karena harta dan kemewahan. Dia biasa hidup glamor dan berpoya-poya menghabiskan banyak uang. Aku keluar ruangan. Melewati ruangan Tari, aku melihatnya dari kaca jendela tengah menunduk sambil terpaku di kursi. Tiba-tiba dia menatap ke arahku dan kami bertukar pandangan, ia menyadari aku sedang berdiri di luar. Ia bergeming sesaat. Beberapa detik setelah itu, ia kembali bekerja, berkutat dengan komputer di depannya. Aku berjalan keluar dari gedung. Pada dasarnya aku tidak ingin tahu apa pun tentang perempuan tersebut. Meskipun beberapa saat yang lalu, aku melihat sebulir air mata di netrranya. -II-
“He, mau ke mana kamu?” Tari yang berjalan keluar dari gedung, lantas berhenti dan berbalik badan. “Saya ... mau makan siang, Pak.” “Ikut saya!” tandasku, tegas. “Tapi, Pak. Saya mau makan—“ “Nanti. Kamu harus ikut saya sekarang. Tidak ada bantahan apa pun!” Tari mengangguk pelan, kemudian mengikuti langkahku menuju tempat parkir di luar gedung. “Kita mau ke—“ “Berhenti. Jangan bicara lagi. Jangan banyak tanya.” Aku membuka pintu mobil hitam elegan—CR-V—milikku. “Masuk!” Tak banyak tanya lagi, Tari segera masuk ke mobil. Sebelum jam makan siang tadi, seorang pria bernama Abdi Jaya memintaku menemuinya di sebuah restoran hotel bintang lima. Abdi Jaya merupakan seorang investor kaya raya, sudah berpengalaman dalam investasi di bidang properti. Pria berusia 40 tahun yang pandai melihat peluang dalam berbagai bisnis. Sampai di hotel dan menambatkan mobil, Tari kembali buka suara. “Pak? K-kita mau ... ngapain di sini?” tanyanya dengan nada agak gugup. “Ikut saja. Kita mau bertemu investor penting. Kamu harus menjaga sikap. Saya meminta kamu menemani saya agar mencatat poin-poin penting yang nanti akan dipaparkan investor kita dalam pengembangan bisnis ke depannya.” Aku mematikan mesin mobil dan keluar. Berjalan menuju lobi hotel dan bertanya pada receptionist, kemudian menuju ke restoran diikuti oleh Tari di belakangku. Di meja nomor 37, pria bernama Abdi Jaya tersebut telah menunggu sambil menikmati minuman dan beberapa makanan. “Selamat siang, Pak Abdi Jaya,” ucapku dengan segurat senyum. Pria tersebut berdiri dan menjabat tanganku. “Selamat siang, Andra. Wah, Anda semakin terlihat tampan,” pujinya kemudian. Aku duduk berhadapan dengannya, sementara itu Tari berdiri sambil menautkan kedua tangannya di depan. “Dia ....” Abdi Jaya melirik Tari, meneliti perempuan dengan lesung pipit tersebut. Tari tersenyum tipis guna menghormati sang investor. “Oh, dia sekretaris saya, Pak.” “Oh, begitu.” Tatapan Abdi Jaya berubah seketika, ia manggut-manggut, masih memandang Tari dengan lamat. Aku berdeham untuk membuyarkan suasana hening di antara kami, lalu berkata, “Jadi, bagaimana soal rencana Pak Abdi untuk investasi di perusahaan saya?” Abdi Jaya menolehkan pandangan padaku. “Oh, oke. Keputusan saya sudah bulat untuk menanam modal di perusahaan kamu, Andra.” “Syukurlah. Rencana pengembangan kita bagaimana?” “Oh, ayolah, Andra. Jangan terlalu serius begitu. Kamu pesanlah kopi dulu biar kita bisa berbincang dengan santai.” Aku mengangguk dan mengacungkan tangan kepada pelayan untuk memesan secangkir kopi. “Iya, Pak? Anda mau memesan apa?” “Saya pesan kopi saja. Kopi hitam, tidak terlalu manis, dan tidak terlalu pahit.” Pelayan mencatat pesananku. “Ada lagi?” Aku menolehkan pandangan ke arah Tari yang masih setia berdiri di belakangku. “Nggak ada, Mbak.” Tari menundukkan wajahnya. “Eh, kamu nggak pesan makanan buat sekretaris kamu?” “Oh, nggak usah. Dia sudah makan tadi. Katanya kenyang.” Aku tahu Tari pasti akan sangat kesal, bahkan dendam padaku setelah mengajaknya ke restoran ini di jam istirahat, lalu tidak memesan makanan juga untuknya. “Jadi, bagaimana soal pengembangan perusahaan?” Pertemuan dengan Abdi Jaya berlangsung hingga 1 jam 30 menit. Tari terus berdiri, bahkan tidak pernah kutawarkan duduk dalam waktu yang cukup lama tersebut. Saat pertemuan berakhir, kami kembali ke mobil. Aku melihat wajah Tari, ekspresinya geram, menyimpan dendam yang mungkin sudah terkumpul cukup banyak di benaknya. “Kamu kenapa?” tanyaku sebelum melajukan mobil. Tari menggeleng pelan. “Ngomong.” “Saya tidak apa-apa, Pak.” “Oh, baguslah.” Aku pun melajukan mobil untuk kembali ke kantor. Sekitar dua puluh menit mengendarai, kami tiba di kantor. Tari langsung membuka pintu mobil setelah aku menambatkan mobil. “He.” Tari berniat berjalan duluan untuk memasuki gedung, tetapi berhenti lagi kala aku memanggilnya. Ia berbalik badan, masih bersikap lembut. Ekspresi geramnya sudah tak tampak lagi. “Kamu boleh makan. Saya berikan waktu lima belas menit. Setelah itu, kamu harus kembali bekerja.” “Baik. Terima kasih, Pak.” -II- Terdengar ketukan berasal dari pintu ruang kerja. Aku menghentikan aktivitas, lalu meminta seseorang di luar untuk masuk. “Maaf, Pak. Ada yang mau bicara sama Bapak.” “Bicara sama saya? Siapa? Klien penting?” “Bukan, Pak. Saya tidak tahu. Seorang perempuan.” “Ya, sudah. Kamu sambungkan dengan saya.” Tari melangkah kembali ke ruangannya. Tak berselang lama, telepon di mejaku berdering. “Halo. Dengan Andra di sini, ada yang bisa saya bantu?” “Andra ... ini gue, N-Nadia.” Aku melenguh gusar mengetahui penelepon ternyata hanya seorang mantan yang dulu membuangku saat aku belum menjadi apa-apa. Meremehkan nasib, menertawakan pekerjaanku sebelumnya. “Ada apa lagi kamu menghubungi saya? Dan apa harus kamu menelepon saya melalui sekretaris saya?” “Maaf, Ndra. Kalau gue nelepon ke nomor lo—“ “Saya tidak peduli lagi sama kamu. Apa belum cukup jelas kata-kata saya waktu itu, hah? Kamu mencampakkan saya enam tahun yang lalu. Kamu meninggalkan saya, bahkan tidak mau mengakui saya sebagai kekasih kamu. Orang tua kamu menendang saya, mengusir saya dengan kasar. Apa kamu punya otak? Dan sekarang kamu MEMINTA SAYA UNTUK KEMBALI MENJALIN HUBUNGAN DENGAN KAMU?!” Emosi meluap-luap tanpa bisa kukendalikan. Masih teringat sangat jelas bagaimana dia dan orang tuanya memperlakukanku seperti binatang yang paling hina di dunia ini. Mereka tidak menginginkan aku. Merendahkan pekerjaanku. Tidak mau tahu tentang cerita kerja keras dan pengorbanan yang aku lakukan untuk bisa menikahinya, membuktikan bahwa aku sangat mencintai dia kala itu. “Andra ... gue benar-benar minta maaf. Tapi, gue sangat mencintai lo, Andra. Gue—“ “DIAM KAMU! JANGAN PERNAH HUBUNGI SAYA LAGI!” Gagang telepon aku banting ke lantai hingga lebur, kepingan-kepingannya berserakan di mana-mana. Aku memijat pelipis, kulihat pada kaca beberapa pekerja bergeming dan pandangan mereka mengarah pada ruanganku. “KEMBALI BEKERJA!” Dengan lugas semuanya kembali duduk, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. -II- Malamnya, seperti biasa aku selalu sulit untuk tidur. Hal itu pun memaksaku untuk selalu mengonsumsi obat tidur. Aku tidak pernah tahu apa yang aku pikirkan sebenarnya. Kehidupanku sudah lebih dari cukup. Aku punya harta yang melimpah, perusahaan, punya uang untuk membeli segalanya. Namun, setiap hari aku merasa kosong. Aku merasa ada yang belum lengkap dalam hidup ini. Entahlah. Hal itu selalu membuatku berpikir keras hingga kadang-kadang membuat kepalaku sakit tak tertahankan. Pagi hari di hari libur, aku menyempatkan diri berolahraga di taman yang tidak jauh dari kompleks perumahan. Setelah memasang sepatu dan pakaian training, aku berlari santai mengelilingi taman. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja, setelahnya aku beristirahat dan duduk di bangku taman. Meneguk sebotol mineral yang aku bawa dari rumah, terselip di pinggangku. Melihat jalanan yang tengah ramai oleh orang-orang dari berbagai tempat, aku melihat sesosok perempuan yang tak asing. Tari, ia tidak datang untuk berolahraga. Namun, ia dengan pakaian kaus biasa berwarna putih sambil membawa tas, tengah berjalan menyusuri jalanan di sekitar taman. Aku penasaran ke mana perempuan itu akan pergi. Meskipun cukup jauh dari tempatku berada, aku berusaha mengejarnya. “Mau ke mana kamu?” tanyaku yang membuat Tari terkesiap dan buru-buru menoleh ke arahku yang berada di sebelah kanannya. “P-Pak Andra?” Mengetahui di sampingnya adalah aku, ia menolehkan tatapannya ke depan. “Tidak ke mana-mana, Pak. Saya ... hanya ....” Tari tiba-tiba diam. Ia seperti menyembunyikan sesuatu dariku atau mungkin kepada semua orang. “Ke mana? Kenapa kamu diam?” “Maaf, Pak. Ini bukan urusan Bapak.” Tari mempercepat langkahnya, berusaha menjauh dariku. Aku tidak ingin kalah darinya, lantas menambah laju kakiku. “He! Kenapa kamu tidak mau memberitahu saya? Kamu ingat peraturan yang saya—“ “Ini hari libur, Pak.” Tari menghentikan langkahnya kemudian. Ia menatapku dengan tajam. “Anda tidak bisa memerintah saya karena kita tidak sedang dalam jam kerja. Saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.” Cukup lamat ia menatapku. Memang benar apa yang ia katakan. Semua aturan dan perintahku tidak akan mempan padanya karena kami tidak sedang dalam jam kerja. Hubungan kami di luar sudah bukan lagi atasan dengan bawahan, tetapi mungkin hanya orang asing yang kebetulan saja bertemu. “Jangan ikuti saya. Anda tidak berhak melakukannya.” Bergeming. Aku memutuskan tidak mengikuti perempuan tersebut. Ya, sebelumnya aku berpikir tidak akan mengikutinya, tetapi setelah ia melangkah cukup jauh, aku melanjutkan langkah untuk mengikutinya. Aku berusaha sekeras mungkin agar dia tidak merasa curiga pada langkah kakiku. Aneh, ia masuk ke sebuah rumah sakit. Siapa yang sakit? -II- “Berada di ruangan ini, artinya kita sedang dalam jam kerja. Jika sedang dalam jam kerja, artinya apa pun pertanyaan saya, apa pun yang saya perintahkan, kamu wajib menjawab dan melakukannya.” Aku merebahkan diri di punggung kursi, lalu menaikkan kedua kaki pada meja. “Apa yang kamu lakukan di rumah sakit kemarin?” Tari menunduk sejenak, sedetik setelahnya kembali menatap lurus ke depan. “Maaf, itu bukan urusan Bapak. Itu urusan pribadi saya—“ “Jawab!” “Anda memang atasan saya, Pak. Tapi Anda juga tidak berhak masuk ke kehidupan pribadi saya. Cukup Anda perintahkan saya yang berkaitan dengan pekerjaan.” Cukup emosi dengan kalimat yang keluar dari mulut perempuan tersebut, aku berdiri dan mendekatinya. “Jadi, kamu sudah mulai membantah? Kamu berani membantah saya?” Aku menatap Tari dengan seringai. “Sekali lagi, Anda tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan—“ “DIAM! Kamu harus menjawab pertanyaan saya!” “Tidak, Pak. Bukan begini seharusnya sikap seorang atasan kepada bawahannya. Permisi, saya kembali ke ruangan saya. Kalau Anda butuh sesuatu, Anda hanya perlu menghubungi saya melalui telepon.” Tari dengan cepat melangkah keluar. “Tari! Tari!” Perempuan tersebut tidak mau menoleh atau berhenti. Ia membuka pintu, lantas keluar dan menutup pintu dengan tenaga yang cukup besar. “Ah! Sial!” Yakinlah, aku tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk. Aku hanya ingin tahu apa yang dia lakukan di rumah sakit, siapa yang sakit atau ada urusan apa dia di sana? Namun, mungkin caraku terlalu kasar dan tentu saja salah. -II-