Musim dingin tahun 423 kekaisaran Pytolarin. Suara riuh pesta akhir tahun yang selalu rutin keluarga Grand Duke Swiss adakan terdengar begitu meriah, Ballroom utama yang selalu di buka hanya saat pesta perayaan sekali setahun itu di hias begitu mewah dan glamour. Namun tokoh utama dalam perayaan tersebut justru tampak begitu menyedihkan, duduk di pojokan sembari menyaksikan sang Suami yang tengah tersenyum begitu ramah kepada banyak orang yang mengajaknya berbicara. ‘Setidaknya aku merasa bersyukur masih bisa menatap senyuman yang begitu indah itu, meskipun dari jauh begini. Suamiku, kapan kau bisa memberikan senyuman yang begitu manis itu padaku?’ Wanita itu terus menatap suaminya, hingga sang suami yang merasa sedang di tatap melirik ke arahnya, hal itu membuat si wanita salah tingkah, empat tahun pernikahan mereka tapi baru kali ini sang suami tampak tersenyum manis kepadanya bahkan sampai menghampiri si wanita di kursinya. Sebelum sampai di posisi si wanita, sang suami tampak memberhentikan seorang pelayan yang membawa sebuah wine, lalu kembali melanjutkan langkahnya menghampiri istrinya. “Ayesha kenapa kau duduk diam di sini? Bukankah ini adalah pesta yang sangat meriah?” Si wanita yang ternyata bernama Ayesha itu mendongakkan kepalanya menatap suaminya, “Saya tidak memiliki teman.” “Pft!” “Hahaha!” Ayesha terkejut kala mendengar suaminya tertawa, di susul oleh beberapa orang tamu yang sepertinya memang mendengar percakapan singkat mereka. Ayesha menyadari kalau beberapa dari mereka tampak saling berbisik-bisik seraya menatap ke arahnya, wanita itu menundukkan kepalanya karena ia merasa sangat malu dan rasanya ingin menangis. “Minumlah, pesta meriah ini di buat untuk merayakan sesuatu yang akan terjadi di masa depan, jadi apakah kau ingin bergabung dalam kegembiraanku ini?” tanya sang suami sembari memberikan segelas wine yang tadi ia ambil. Meski merasa sedang bersedih, Ayesha kembali mengangkat kepalanya dan menerima uluran gelas wine yang disodorkan oleh suaminya sembari mengangguk pelan, “Saya mau.” Tanpa sepengetahuannya, beberapa pasang mata menatap dengan serius Ayesha yang sedang meminum wine tersebut dengan begitu tenang, suaminya juga sedang menatapnya dengan tersenyum kecil penuh makna. Sementara itu gelas wine yang sedang di pegang oleh Ayesha langsung terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping begitu mengenai lantai. “Na-nafas sa-saya... Ke-kenapa begini?” tanyanya sambil bergumam pelan, sorot matanya yang biasa begitu tenang kini tampak melebar dan pupil matanya juga tampak bergetar. “Bagaimana rasanya, Istriku?” Dengan cepat Ayesha mendongakkan kepalanya, seluruh tubuhnya kini mulai bergetar hebat, air mata juga mulai membanjiri pipinya, kini ia tahu penyebab dirinya seperti ini, “Ka-kamu... ke-kenapa Derick? Kenapa? Hm?” Matanya mulai kehilangan fokus, tubuhnya juga mulai melemas hingga akhirnya jatuh tersungkur ke lantai, namun matanya sempat menatap ke arah suaminya yang justru terlihat tersenyum begitu lebar. ‘Kenapa? Apa salahku? Apakah mencintai Suamiku sendiri begitu berdosa? Aku tidak tau, aku tidak tau, aku tidak tau kalau selama ini Aku telah mencintai orang yang salah. Aku selalu berharap di Cintai olehnya, Ayah dan kakak tolong maafkan aku. Aku sudah salah memilih masa depan.” Air mata bercampur dengan darah yang keluar dari celah bibir Ayesha, membuat pakaian indahnya jadi terlihat begitu mengerikan. Namun, tidak ada satu pun dari sekian banyak orang yang mau membantu dirinya yang sedang meregang nyawa dengan begitu mengenaskan. Telinganya juga berdengung, tidak dapat mendengar ucapan suaminya yang sedang berbicara, ia hanya dapat menangkap beberapa kata saja. “Menyedihkan... Jalang sialan... tamat.” Rasa sakit yang ia rasakan ternyata masih lebih baik dari rasa sakit pengkhianatan suaminya yang justru mampu mencabik-cabik seluruh jiwa raganya, ‘Dewa, apa begitu bercandanyakah hidupku ini di mata para manusia-manusia bejat ini? Dosa apa yang sudah aku lakukan? Dari mana masalah ini bermula? Ah, ternyata karena pernikahan busuk ini. Tolong, jika kau sungguh ada, berikan aku kekuatan untuk membalas dendam pada suami brengsek itu, Dewa.’ *** Musim panas tahun 419 kekaisaran Pytolarin. ‘Hei Dewa! Apa-apaan ini?! Kenapa kau malah melempar jiwaku ke dalam tubuh wanita malang ini?! Udah gitu kenapa harus di saat Ayesha sudah menjadi Istri dari pria Brengsek itu satu jam setelahnya?!’ Begitulah teriakan tanpa suara seorang gadis muda yang sedang menatap cermin di sebuah kamar mewah, di belakangnya terdapat taburan bunga mawar dari pintu sampai ke atas kasur, sebab malam ini adalah malam pernikahan mereka. Gadis bersurai pirang pucat itu tampak beberapa kali menjambak rambutnya yang sedikit bergelombang, beberapa ingatan bercampur menjadi satu, bagai kaset rusak yang terus berputar dan menyatu dengan ingatan masa lalunya. Dia adalah Delisha, gadis yang sudah bekerja seumur hidupnya untuk melunasi hutang kedua orang tuanya yang menumpuk begitu banyak, yang menyebabkan perusahaan ayahnya mengalami kebangkrutan. Hingga dirinyalah yang harus bekerja mati-matian untuk melunasinya, sebab ayah dan ibunya yang justru lebih memilih bunuh diri bersama di rumah kontrakan yang baru satu bulan mereka sewa, hanya menyisihkan Delisha sebagai satu-satunya ahli waris hutang-hutang yang menumpuk sekian ratus juta tersebut. Namun tampaknya takdir sedang merencanakan sesuatu yang lebih luar biasa padanya. Tepat setelah Delisha melunasi hutang-hutang orang tuanya setelah 10 tahun lamanya, saat itulah sebuah kejadian mengenaskan menimpa Delisha, dirinya yang sedang berjalan di pinggiran trotoar malah menjadi korban dari sebuah bus sekolah yang kehilangan kendali, yang menyebabkan Delisha tewas seketika itu juga. ‘Tapi kenapa aku harus merasuk ke dalam tubuh perempuan ini?!” Kembali teriakan tanpa suara itu Delisha, ah tidak lagi, karena kini ia sudah menjadi Ayesha, tokoh yang akan bernasib malang sebab di bunuh oleh suaminya sendiri yang begitu ia cintai. Ayesha yang sudah di rias oleh para pelayan untuk menyambut malam pertama pernikahan mereka, kini tampak berjalan mondar-mandir karena merasa gelisah bukan main. ‘Kumohon jangan datang. Kumohon jangan datang. Kumohon jangan dat...’ Cklek! Secara spontan Ayesha memutar tubuhnya ke arah pintu kamar yang baru saja dibuka. Di sana, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap dan tinggi, pria tersebut menatap Ayesha dengan tatapan dingin dan tajam, membuat seluruh tubuh Ayesha yang sedari tadi merasa gelisah, kini bertambah menjadi gemetar ketakutan. Pria itu berjalan menghampiri Ayesha dengan perlahan, salah satu tangannya masuk ke dalam saku celana putih bersihnya. “Minggir, aku ingin istirahat.” ucapnya begitu berdiri di hadapan Ayesha. ‘Ha? Apa kata laki-laki bangsat ini? Minggir? Woilah, jalan menuju ke kasur kan banyak, aku yang berdiri di pinggir ini mau di suruh kemana lagi? Mau ngusir ya?’ makian hanya bisa Ayesha lontarkan di dalam hati, ia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk menantang tokoh Antagonis di hadapannya. Namun, karena tidak ada respon dari Ayesha, membuat Pria itu merasa kesal, “Apa kau tidak bisa mendengar ucapanku? Aku bilang minggir!” Ayesha mendongakkan kepalanya ke atas, guna melihat wajah pria yang kini berstatus suaminya tersebut, “Matamu buta atau kau sengaja mencari perkara denganku?” Lalu ‘Maafkan aku, silahkan lewat tuan,’ ucap Ayesha dari dalam hati sembari menggeser tubuhnya mepet ke dinding. “Apa katamu?” tanya Derick balik sembari menggertakkan giginya. “Ups!” oh tidak, ternyata Ayesha ke balik dalam mengatur dialog yang seharusnya ia lontarkan kepada Derick. Ia justru mengutarakan isi hatinya dan membatin dialog yang seharusnya ia ucapkan.
Sembari menutup bibirnya, Ayesha menundukkan kepalanya, ‘Mati aku, kenapa bisa salah ucap sih?!’ Sementara itu Derick masih terus menunggu jawaban dari istrinya, namun karena merasa tidak akan mendapat jawaban, pria itu memilih menghiraukannya dan melanjutkan langkah menuju kasur yang sudah bertaburkan bunga-bunga mawar. Derick menarik selimut dan mengibaskannya guna membersihkan kasur tersebut dari taburan kelopak bunga, Ayesha menyaksikan kegiatan suaminya dari posisi dirinya berdiri tadi. ‘Dia ngapain?’ batin Ayesha sembari menaikkan sebelah alisnya. Derick menoleh ke belakang, “Apa yang kau lakukan? Kau tidak ingin tidur?” “Ha? Tidur?” “Iya, atau kau mengharapkan sesuatu hal yang lain?” tanyanya sembari menarik sudut bibirnya sedikit ke atas, tampak seperti meledek Ayesha. “A-apa maksudmu?! Memangnya hal apa yang ingin ku lakukan bersamamu?!” tanpa sadar Ayesha berbicara dengan suara keras. "Ya 'tidur' dalam artian yang lain? Bukankah malam ini adalah malam pertama kita? Haruskah kita menghabiskan malam yang panas?" tanya Derick sambil menarik sudut bibir sebelah kiri dan alis sebelah kanannya. Sayangnya tubuh Ayesha kini di isi oleh Jiwa Delisha, yang mana memilliki sifat bar-bar dari dunia modern, tanpa sadar ikut terbawa sampai saat ini. Sambil menunjuk Derick yang sudah berbaring di atas kasur, Ayesha berucap, “Dasar cowo sialan! Bajingan buaya darat yang taunya hanya seputar Selangkangan! Awas saja jika kau berani menyentuh tubuhku, aku akan membuatmu jadi pria tidak berguna,” ucapnya sambil melirik ke arah ‘sesuatu’ yang ada di antara kedua paha Derick. Tentu saja hal itu membuat Derick seketika merapatkan kakinya yang sedari tadi sedang tertekuk sembari berbaring dengan santai, “Ada apa denganmu? Kenapa mulutmu sangat kejam seperti itu?” tanya Derick untuk ke sekian kalinya, tapi kali ini dengan raut wajah meringis ngilu. Perasaan takut yang tadi menghampiri Ayesha sudah hilang entah pergi kemana, kini gadis yang memiliki kulit pucat dan mata biru muda itu menekuk bibirnya kedalam dan melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menghampiri Derick yang masih menatapnya, “Awas!” ujarnya dengan galak. “Apa-apaan ini, kau mengusir suamimu di malam pernikahan?” tanya Derick dengan bibir cemberut. ‘Ha, apaan mulutnya itu? Ih gemes, Kok beda dari yang diceritakan di komik? Mana sifatnya yang kejam dan dingin sama Ayesha di malam pertama?’ Karena tidak mendapat jawaban dari istrinya, Derick menarik tangan Ayesha yang sedang berdiri di pinggir kasur, hal itu menyebabkan gadis itu tersungkur dan jatuh tepat di atas tubuh suaminya. Untuk beberapa saat, kejadian seperti kebanyakan dalam sinetron dan drama, mereka selama beberapa menit saling beradu pandang, sembari merasakan degup jantung yang kian membuncah di dalam dada masing-masing. Ayesha adalah yang pertama menguasai kesadarannya, dan segera berguling ke sisi samping tubuh Derick dan segera masuk ke dalam selimut. ‘Waduh, jantung ku kena penyakit kah? Kok ngeri kali degupnya?’ ucapnya dari dalam hati, wajahnya juga terasa sangat memanas. ‘Sepertinya ini karena Ayesha sangat mencintai manusia Bangsat yang kini berbaring di belakangku itu.’ Ayesha yang sedang menata hatinya yang sedang berdegup begitu kencang, tidak tahu kalau manusia Bangsat yang barusan ia katakan sedang menatap punggung istrinya itu, dengan sorot mata yang sulit di artikan. Derick mengangkat lengan kanannya dan menutup kedua matanya dengan lengan kokohnya, helaan nafas berat berulang kali ia hembuskan. *** Pagi hari menyambut, di iringi dengan cuap-cuap para burung yang bertengger di pohon yang bersebelahan dengan ruang kerja Duke Clark di lantai dua, Pria yang tahun ini baru berusia akhir tiga puluhan itu terlihat menatap kosong sekawanan burung di luar jendela. Bahkan pria itu tidak menyadari kalau sang putra sulung sudah sejak tadi menatap ayahnya dengan wajah yang tidak jauh berbeda dengan sang ayah, sama-sama terlihat mellow. “Ayah, sudahlah. Mungkin ini adalah hal yang terbaik untuk Ayesha, bukankah ayah sudah menyetujui pernikahan mereka? Sudah terlambat jika mau memisahkan dua sejoli yang saling mencintai itu.” ucap sang putra sulung yang ternyata bernama Yustas von Clark. Duke Clark menoleh ke arah di mana putra sulungnya berada, “Ya, aku menyesal tidak mencegah pernikahan itu lebih awal, rumah ini jadi sangat sepi setelah Ayesha pergi.” Jawabnya dengan nada mellow. “Sudahlah, aku ke sini karena ada hal yang ingin aku laporkan kepada ayah,” pemuda itu yang tidak ingin melihat ayahnya merasa kesepian, langsung mengalihkan topik agar ayahnya itu memiliki hal lain yang dipikirkan. Duke Clark menegakkan punggungnya dan mulai terlihat fokus dan serius kembali, “Apa itu?” Diam-diam Yustas menghela nafas lega, “Ini tentang kekaisaran Timur yang sepertinya mulai bergerak secara diam-diam mengeksploitasi makanan.” “Kata mata-mata yang di tempatkan di sana bagaimana? Apa alasan mereka?” Yustas menyerahkan sebuah dokumen yang di bungkus dengan kertas coklat, “Mereka mengatakan kalau kekaisaran Timur beralasan ingin meredakan kasus gagal panen dan kelaparan yang melanda wilayah mereka, namun ada yang aneh...” Duke Clark tersenyum sinis setelah membaca dokumen yang tadi di berikan oleh putranya, “Sepertinya mereka ingin mengumpulkan makanan untuk para tentara. Yustas, beritahu kepada Grand Duke Swiss tentang apa yang kau temukan ini, lalu setelah mencapai sebuah kesepakatan, segera temui Baginda Kaisar untuk segera mengambil tindakan. Bisa saja kali ini target mereka adalah wilayah tengah.” “Tapi ayah, kenapa harus wilayah tengah? Bukankah untuk mencapai ke tengah, mereka harus melalui Sungai Citmerun? Ayah kan tahu, kalau sungai itu sangat luas dan dalam?” tanya Yustas dengan kening berkerut. Selama beberapa detik, kedua manusia ayah dan anak itu saling beradu pandang, “Benar, dari sini saja sudah mulai ada yang janggal. Segeralah temui Grand Duke Swiss, lalu bawakan ini kepada putri tunggalku itu, dan sampaikan salamku padanya.” Yustas meringis kecil, ‘Cepat sekali ayah kembali mengalihkan fokusnya kepada Ayesha, ck ck ck.’ Pemuda itu menerima uluran kotak kecil yang Duke Clark sodorkan, Yustas sedikit menimang berat kotak tersebut, bisa ia tebak kalau isi dari kotak itu adalah sebuah aksesoris yang memang sering ayahnya itu berikan kepada adik perempuannya tersebut. Setelah itu, Yustas segera undur diri untuk segera menjalankan amanat yang ayahnya sampaikan tadi, tapi baru saja membuka pintu ruang kerja ayahnya, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun langsung muncul di hadapannya. “Ashley, apa yang kau lakukan di sini? Kau menguping?” Dengan sorot mata yang di buat sesedih mungkin, Ashley berkata, “Kakak, ayo bawa aku juga ke rumah kakak ipar, aku kangen dengan kakak perempuanku satu-satunya.” Yustas menghela nafas pelan, ia menatap adik bungsunya, “Kakak perempuan satu-satunya yang kau miliki itu adalah adik perempuanku satu-satunya. Lalu, kau pasti hanya akan mengacau saja di sana, kau sebaiknya di rumah saja, bukankah kau masih ada kelas berpedang sore ini?” “Kak, aku janji tidak akan membuat kekacauan.” ‘Aku hanya akan memberi pelajaran kepada pria yang sudah merebut kakak perempuanku satu-satunya,” sambungnya dari dalam hati. Meskipun sedikit ragu dan melalui berbagai pertimbangan, namun Yustas akhirnya membawa sang bungsu menuju ke kediaman Grand Duke Swiss yang memakan waktu tiga jam perjalanan menggunakan kereta kuda. Tadinya Yustas ingin menggunakan kuda biasa, yang bisa mempersingkat waktu hingga satu setengah jam, tapi lagi dan lagi karena ia tahu kalau adiknya yang begitu bucin dengan kakaknya itu pasti akan mengamuk jika tetap tidak di ajak. *** Malam kian larut saat seorang pria keluar dari ruang kerjanya, suasana yang sunyi menyambutnya sepanjang lorong menuju ke kamarnya. Bulan yang bersinar terang di luar kastil hanya mampu memberikan bias samar melalui jendela yang pria itu lalui. Hingga ia tiba di sebuah kamar dengan pintu berwarna putih, begitu ia hendak mendorong pintu, seorang pria paruh baya datang menghampiri pria tersebut. “Yang Mulia, ada sesuatu yang ingin saya berikan kepada Anda.” Pria itu menatap pria paruh baya tersebut, “Apa yang ingin kamu berikan, kepala pelayan Ash? Tidak biasanya kamu mendatangiku larut malam seperti ini,” tanya pria itu dengan raut wajah bingung. Kepala pelayan Ash menghembuskan nafas pelan, seraya menyodorkan sebuah buku dengan sampul berwarna coklat terang, “Ini adalah buku harian yang pernah mendiang Nyonya Grand Duchess berikan kepada Saya, Beliau berkata agar saya menyimpannya, dan jangan berikan kepada Anda. Namun sepertinya saya harus melanggar perintah Beliau, sebab saya merasa Anda harus membaca buku yang Nyonya tinggalkan ini.” Meskipun terlihat enggan untuk menerima, namun akhirnya Pria itu tetap mengambil buku yang di sodorkan oleh kepala pelayan Ash, “Baiklah, buku ini sudah Aku terima, sebaiknya kamu segera kembali dan lanjutkan istirahatmu.” “Yang Mulia, bolehkah saya berbicara dengan Informal hanya untuk sesaat?” tanya kepala pelayan Ash dengan sopan. Pria itu diam untuk sesaat, tapi kemudian lantas menganggukkan kepalanya, “Ya, silahkan.” “Derick, Aku sudah bekerja di kediaman Grand Duke ini sejak aku berusia Dua Puluh tahun, dan itu di saat kakek kamu masih hidup, dan Ayahmu saat itu masih berusia Tiga Belas tahun. Bahkan aku menyaksikan tumbuh kembang dirimu sedari bayi hingga kamu menikah dan sampai saat ini, aku tahu dirimu orang yang seperti apa, ini adalah pemikiranku pada awalnya, namun ternyata tidak demikian, sebab aku tidak mengenali dirimu di saat kamu dengan tega membunuh wanita yang paling mencintaimu dengan tulus, wanita yang setiap harinya selalu menyanjung betapa hebat suaminya ini, namun malah mendapat nasib tragis di tangan pria yang dirinya Cintai dengan begitu besar. Derick, satu permintaanku untuk yang terakhir kalinya, tolong... Tolong merasa menyesal setidaknya sedikit saja untuk Nyonya yang sudah dirimu hilangkan nyawanya.” Kepala pelayan Ash mengangkat kepalanya, mata yang terlihat sayu itu tampak basah oleh air mata, “Yang Mulia Grand Duke Derick De Swiss, dengan ini saya, Ashfren mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai kepala pelayan, posisi saya akan di gantikan oleh keponakan saya,” ucapnya sembari menyerahkan sepucuk amplop putih yang ia ambil dari balik jasnya. “Kepala pelayan Ash, kau tau apa konsekuensi karena sudah membuatku marah kan?” tanya Derick dengan raut wajah emosi. Ashfren menganggukkan kepalanya, “Ya, saya sudah siap mati di tangan anda, Yang Mulia.” Jawabnya. Terlihat wajah Derick yang sangat marah, namun tampaknya pria itu tidak mau bersikap gegabah, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan, “Kembalilah, aku anggap tidak pernah mendengar ucapanmu, kepala pelayan Ash.” Setelahnya Derick langsung masuk ke dalam kamarnya, mengabaikan pria paruh baya yang masih setia menunduk dengan tubuh yang bergetar. Derick berjalan menuju perapian yang menghangatkan kamarnya ini, duduk di sebuah kursi yang langsung menghadap ke perapian dan meletakkan buku bersampul coklat terang itu ke atas meja. Untuk sekian menit pria itu hanya menatap buku itu dengan tatapan dingin, seolah sedang menatap wanita pemilik buku tersebut, wanita yang pernah menjadi istrinya selama empat tahun pernikahan mereka. Derick yang merasa enggan namun karena penasaran, memilih untuk mengambil buku itu lalu mulai membuka dan membacanya. Baris perbaris, halaman demi halaman semua Derick baca, perasaannya yang semula acuh tak acuh dengan buku tersebut, kini mulai menunjukkan emosinya. Tangan itu memegang buku dengan erat, jari telunjuk yang digunakan untuk menunjuk bait demi bait kata itu tamppak bergetar, hingga sebutir benda bening menetes di atas kertas berwarna coklat tersebut. “A-ayesha... Ayesha...” hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Sebenarnya apa yang Derick baca? *** Mata pria itu terbuka lebar, nafasnya terdengar seperti orang yang baru berlari ribuan meter jauhnya, netranya yang sudah mulai bisa menyesuaikan kondisi tampak memperhatikan sekitar. “Ugh, ternyata aku bermimpi,” gumamnya pelan, lalu ia menoleh ke sisi sampingnya, dimana terdapat sesosok gadis yang sedang tidur meringkuk dengan posisi menghadap ke arahnya. Senyum getir mampir di bibir tipisnya, “Ayesha,” gumamnya lagi, Derick merapatkan tubuhnya dan memeluk Ayesha yang sedang terlelap dengan nyenyaknya. ‘Maafkan aku, Suamiku. Maaf karena aku tidak bisa menjadi Istri yang sempurna untukmu.” Derick memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh istrinya, seolah dirinya mendengar suara seorang wanita di dalam pikirannya.
Di Timur benua, terdapat sebuah kekaisaran yang di kenal dengan nama Kekaisaran Dombraun, atau yang sering di sebut sebagai kekaisaran Timur. Hari ini di sebuah ruang pertemuan yang ada di istana, seorang pria yang memiliki perawakan bertubuh tambun dan postur yang tinggi, tengah duduk di ujung meja pertemuan tersebut, yang menandakan beliau adalah sang penguasa wilayah selatan. “Yang Mulia, apakah Anda yakin ingin melakukan rencana tersebut? Bukankah itu terlalu beresiko?” ucap salah seorang bangsawan yang merupakan penasihat kaisar Dombraun. Kaisar tersenyum sinis, “Aku sangat yakin, sebab ada pihak yang membantu rencana kita kali ini,” balasnya dengan senyum licik. “Jika pihak yang anda maksud adalah ‘orang itu’ maka saya bisa sedikit tenang, namun apa yang Anda janjikan kepada ‘Orang itu’, Yang Mulia?” Kaisar kali ini tertawa terbahak-bahak, setelah tawanya mereda ia berucap, “Kalian akan tahu ketika saatnya tiba.” *** ‘Ugh, nafasku sesak, tubuhku rasanya seperti terhimpit dua bukit besar.’ Ayesha menggeliat di dalam posisi tidurnya, namun sesuatu yang menghimpitnya itu seakan semakin kuat menjempit dirinya. “Ugh!” tanpa sadar suara rintihan Ayesha lontarkan karena dadanya yang semakin sesak nafas. Secara perlahan Ayesha membuka kedua matanya, hingga sebuah penampakan yang menggiurkan terpampang jelas di hadapannya. ‘Dada siapa ini?!’ “Akhirnya kau bangun juga, putri tidur.” Terdengar suara serak dari atas kepalanya, hal itu membuat Ayesha segera mendongakkan kepalanya, dimana Derick yang sedang menatapnya sambil berbantalkan tangan kirinya sedang tersenyum kecil ke arahnya. ‘Waaaaa! Serangan pagi macam apa ini?!’ tanpa sadar Ayesha menyilangkan kedua tangannya di depan wajah karena merasa wajah bangun tidur Derick yang sedang tersenyum terlihat begitu bersinar di matanya. “Kau kenapa?” Seketika Ayesha tersadar dengan tingkah gilanya, “Ma-maaf, sepertinya aku belum sepenuhnya bangun.” secara perlahan, Ayesha melepas rangkulan tangan Derick yang ternyata sedang memeluk erat pinggangnya. Untungnya Derick segera melepaskan Ayesha dari pelukannya, dan terus memperhatikan gerak-gerik Ayesha yang sepertinya bersiap hendak masuk ke dalam kamar mandi. “Haruskah kita mandi bersama, Istriku?” Gerakan tubuh Ayesha seketika membeku di tempat, dengan gerakan patah-patah, gadis itu memutar kepalanya ke samping, “Bicara apa kau?! Kau ingin mati ha?!” Namun gadis itu segera menutup bibirnya dan segera berpaling ke arah lain, ‘Gila, aku mancing singa tidur ini namanya, ingat Delisah, dia itu pria yang paling berpotensi memperpendek umurmu di dunia ini. Jangan cari gara-gara dengannya. Jangan kau bawa juga sifat bar-bar yang biasa kau tunjukkan di dunia asalmu.’ “Pftt!” “Eh?” secepat kilat Ayesha kembali menoleh ke arah kasur, dimana Derick masih berbaring di sana. “Kau barusan ketawa?!” Derick menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak ada tertawa. Apakah telinga Istriku bermasalah?” ‘Sialan, pengen kali rasanya aku mencakar-cakar wajahnya yang Sialan tampan banget itu.’ “Sudahlah, Aku mau mandi, dan Kau jangan mengintip. Awas saja kalau Kau ketahuan mengintip, Aku akan membuat perhitungan padamu!” setelahnya Ayesha langsung masuk ke dalam kamar mandi. Brak! “Pfft! Dia tadi bilang kalau ketahuan olehnya kan? Berarti tidak masalah selama ia tidak tahu?” Derick beranjak dari kasur, ia menarik lonceng guna memanggil pelayan yang berjaga di dekat kamar mereka. “Ya tuan muda? Adakah yang bisa saya bantu?” tanya seorang pelayan wanita dari luar ruangan tanpa membuka pintu kamar. Kemudian Derick menyahut dari dalam, “Panggil beberapa pelayan untuk membantu Istriku mandi, lalu bawakan sekalian air bersih untukku cuci muka.” “Baik Tuan muda,” setelahnya terdengar suara langkah kaki menjauhi kamar mereka. *** Begitu Ayesha keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat begitu tertekan. ‘Seumur-umur, aku belum pernah mandi di layani, semua aset berhargaku sudah di jamah oleh tangan-tangan dari orang asing. Aku sangat malu, rasanya ingin mengubur diriku ke dalam tumpukan pasir.’ “Istriku, jika kau sudah selesai bersiap, temui aku di ruang bacaku.” Ayesha langsung kembali tersadar dari rasa tertekannya begitu mendengar suara Derick, ternyata pria iti sudah selesai bersiap, pria itu menggunakan pakaian yang sederhana saja, hanya menggunakan celana panjang hitam dan kemeja berwarna putih polos. ‘Pakaiannya kek anak magang gak sih?’ “Istriku? Kau mendengar ucapanku?” Ternyata Ayesha kembali melanjutkan lamunannya, tapi kali ini bukan lamunan karena merasa tertekan, tapi karena sibuk menatap tubuh suaminya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Sudah seperti orang mesum. ‘puk’ Seketika Ayesha tersadar dari lamunannya begitu merasakan tepukan di kepalanya, “Ha? Apa?” Derick menghela nafas pelan, “Kenapa pagi-pagi kau sudah melamun? Kau melamun sembari menatap sekujur tubuhku, seolah ingin menelanjangiku, kau ingin ya?” Ayesha sontak melotot mendengar ucapan Derick, “Siapa juga yang menatap tubuhmu.” “Ya okelah, kau dengar apa yang ku ucapkan tadi kan?” “Iya, aku nanti akan ke sana.” “Jika kau tidak tahu letaknya, kau bisa minta tunjukkan jalan kepada kepala pelayan Ash. Baiklah, aku akan pergi sebentar, ada urusan mendesak yang harus segera ku kerjakan.” Setelahnya Derick maju beberapa langkah dan mencium kening Ayesha, meskipun terasa kaku dan canggung, tapi mampu membuat jantung Ayesha berdegup begitu kencang. Hingga ia tersadar, kalau pria yang kini berstatus suaminya itu adalah seorang Villain utama dalam komik yang Ayesha baca di kehidupan masa lalunya, dan pria itu juga yang telah tega membunuh Ayesha yang berstatus sebagai isrinya, wanita yang bernasib begitu malang karena mencintai pria yang salah. ‘Sadar hei Ayesha, pria itu adalah Derick De Swiss. Kau harus berusaha menjauhi pria itu agar tidak bernasib tragis seperti alur takdir yang sudah di gariskan. Sebisa mungkin aku harus bercerai dengan Derick, lalu hidup damai di pedesaan yang di kelilingi oleh padang rumput.’ Sementara Ayesha menyusun rencana agar bisa lepas dari Derick, kita berpindah ke sebuah ruangan dengan di kelilingi oleh buku-buku. Di ruangan itu duduk beberapa pria dewasa dan seorang anak kecil laki-laki. “Jadi, menurut Anda ada pergerakan mencurigakan yang di lakukan oleh Kekaisaran Dombraun?” tanya seorang pria dewasa yang masih terlihat muda meskipun ia sudah berusia di awal Empat puluhan. Pemuda yang di tanya menganggukkan kepalanya, “Benar Yang Mulia, mata-mata yang kami kirimkan mengatakan bahwa kekaisaran Dombraun melakukan eksploitasi makanan, tapi pihak mereka mengelak dengan mengatakan bahwa hal tersebut semata-mata untuk mengurangi efek dari gagal panen tahun lalu. Namun kami menangkap kejanggalan selama penyelidikan, apakah Anda tahu apa yang sudah kami temukan, Yang Mulia?” tanya Yustas dengan raut wajah serius. Derick yang baru saja datang dan bergabung lantas menjawab, “Mereka sedang mempersiapkan makanan untuk tentara?” tebaknya. Yustas dan Grand Duke Swiss menoleh ke arah Derick yang sedang berjalan ke arah mereka, “Benar yang Anda katakan, Grand Duke Muda Swiss.” “Derick, kau tidak sopan. Apakah kau sudah lupa pelajaran tata krama? Jangan langsung masuk dan ikut campur dalam sebuah percakapan, apalagi Yustas adalah kakak iparmu,” ucap pria dewasa itu dengan wajah tegasnya. “Maaf sudah bersikap lancang Tuan Muda Clark, lalu maafkan saya kakak ipar.” Ujarnya seraya menganggukkan kepalanya ke arah Yustas. Sedangkan Yustas yang mendapatkan permintaan maaf dari bangsawan yang memiliki kedudukan di atasnya itu merasa canggung, “Tidak perlu meminta maaf Grand Duke Muda, saya sama sekali tidak merasa tersinggung,” jawab Yustas dengan senyum ramahnya, kemudian pemuda itu kembali menoleh ke arah Grand Duke Swiss,”Lalu saya juga memerlukan Anda untuk menyerahkan Dokumen terkait masalah ini ke istana Kekaisaran Pytolarin, agar masalah ini segera di tindak lanjutin.” “Kau tahu kemana mereka akan menyerang?” tanya Derick. Yustas mengangguk, “Menurut perkiraan dan berbagai pertimbangan, kami menebak mereka akan menyerang wilayah Tengah,” jawabnya dengan yakin. “Wilayah Tengah berarti Duke Bren kan? Bukankah untuk menuju wilayah itu harus melewati sungai Citmerun yang sangat luas dan dalam, tidak ada akses juga jika ingin menuju ke Duchy Bren. Apakah itu mungkin? Jika mengingat perbatasan Duchy Bren dan Dombraun di jaga oleh pasukan Duke Reed.” “Benar Yang Mulia, hal itu juga memang mencurigakan. Tapi kita tidak bisa sembarangan menuduh keikutsertaan Duke Reed dalam rencana Kekaisaran Dombraun untuk merebut wilayah Tengah. Bukankah lebih baik dilakukan rapat terlebih dahulu?” Derick menoleh ke arah ayahnya, “Yang Mulia, kita harus bergerak cepat. Saya yakin pasti pihak musuh sudah mengetahui pergerakan kita ini, apalagi saya yakin kalau Baginda Kaisar yang tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan wilayah Utara pasti belum tentu percaya dengan apa yang kita ketahui ini.” Grand Duke Swiss menganggukkan kepalanya, “Benar apa yang di katakan oleh Derick, kita harus bergerak cepat. Yustas, kita langsung berangkat, selagi waktu belum petang.” Yustas menunduk sopan, “Baik Yang Mulia, namun bisakah saya menitipkan Adik saya di sini? Dia berkata ingin bertemu dengan kakak perempuannya,” jawab Yustas sembari melirik ke arah Ashley yang sedang duduk di sebelahnya. Derick dan ayahnya langsung menoleh ke sosok bocah laki-laki yang sedari tadi memperhatikan para pria dewasa itu berbicara. "Silahkan, biar Derick yang mengantarkan tuan muda Clark untuk menemui kakaknya." jawab Grand Duke Swiss dengan senyum ramah. *** 'Gawat, aku tidak boleh gegabah di sini. Ini adalah dunia yang asing bagiku. Sebisa mungkin aku harus membatasi diri dan tidak menyimpan perasaan suka apalagi cinta pada Derick, selama aku ingin memiliki umur yang panjang.'