Sesi perbincangan dibuka setelah Helga selesai menaruh sendoknya, dan hendak minum. Emma memulai obrolan dengan muka lebay andalannya. “Kalian berdua sudah dengar isu terbaru di kampus kita belum?” tanya Emma sesudah menelan ayam gorengnya. Hujan yang turun kala beberapa mahasiswa berhamburan di kantin, membuat suasana makin teduh dan menyenangkan bagi Galenka Helga. Namun, tidak banyak mahasiswa yang berada di sana. Kondisi kantin tak seramai saat matahari sedang terik-teriknya. Karena lokasi kantin berseberangan dengan gedung tempat Helga selesai belajar, sudah bisa dipastikan bahwa banyak mahasiswa yang lebih nyaman di kelas atau pun di tempat bersantai yang ada di belakang gedung kampus. Dengan begitu, Helga dan dua temannya bisa makan tenang tanpa takut diganggu mahasiswa tengil yang belum dewasa. Ketiganya makan siang dengan duduk di satu meja yang sama. Helga dan Nafa satu bangku, sedangkan Emma duduk sendiri berhadap-hadapan dengan Helga. Nafa yang selalu tertarik dengan berita gosip pun menggeleng. “Memangnya ada gosip apalagi?” balas perempuan itu yang tubuhnya sudah condong ke Emma. “Pak Hadyan...! Pak Hadyan kepergok ciuman di depan ruangannya sama salah satu seniorku pas jalan di koridor.” “Ciuman sama kating?!” pekik Nafa dengan mulut yang sudah menganga. “Bukan, Fa! Ciuman sama perempuan, tapi bukan kating ... sepertinya, ya.” Nafa lantas cemberut. Dia dengan muka tertekuk meraih jus mangga lalu meremas pegangan gelas. “Siapa yang gak tertarik? Dosen tampan, bentuk otot lengan yang menyegarkan, keturunan bule pula. Mana ada yang nolak?” terang Nafa sehabis minum. Spontan Emma menunjuk Helga dengan tatapan matanya. Nafa pun menepuk jidat. “Helga tuh, mana mungkin tertarik sama pak Hadyan?” sahut Emma sebelum melanjutkan makannya. Sementara Helga yang disinggung tetap saja makan tanpa beban. Ia memang tidak tertarik dengan isu-isu tentang dosen di universitas mereka. Terutama isu mengenai dosen mereka yang dicap paling tampan dan gagah, Hadyan. Karena menurut Helga, yang paling penting adalah belajar dan belajar. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh dengan gosip yang tersebar semenjak dirinya menjadi mahasiswa baru hingga kini ia sudah sampai di semester enam. Nafa menoleh ke kiri, di mana Helga sudah berdiri. “Eh! Kamu mau ke mana, Hel?!” “Ke kelas.” “Bahas gosip dulu!” “Hah! Isu itu tidak mutu!” balas Helga cuek sambil mengantongi dompetnya. “Panjang umur!” semprot Emma mendelik. Dua temannya pun menoleh di mana mata Emma terarah. “Itu perempuan yang tadi dicium Pak Hadyan,” timpalnya berbisik saat sang dosen berjalan makin dekat ke arah mereka. Nafa yang tampak terkejut pun kembali menatap Emma dan memuji, “Cantik. Pantas kalau Pak Hadyan suka! Belum lagi body seksinya.” Emma refleks mengangguk setuju. Helga tanpa basa-basi langsung melanjutkan langkah kaki setelah sepasang matanya tak sengaja bertatapan dengan Hadyan. Kepala Helga menunduk sopan saat akan melewati pria berumur tiga puluh tahun itu. * Jarum jam yang rasa-rasanya seperti cepat berputar, sudah menunjukkan pukul delapan malam. Waktu makan malam sudah terlewat satu jam, karena Helga lebih mementingkan tugas kuliahnya ketimbang memasak di dapur. Sang kakek yang menonton televisi pun dipanggilnya agar makan bersama di ruang makan. Meja dengan empat kursi itu hanya dipakai oleh dua orang saja. Karena tak ingin ada jarak, Helga dan sang kakek makan berhadap-hadapan. “Calon suamimu bernama Gavi,” celetuk sang kakek yang membuat Helga berhenti mengunyah seketika. Lagi-lagi soal pria yang akan dinikahkan dengannya. Helga tak menyukai pembicaraan ini. “Dia sudah setuju.” Melanjutkan kunyahannya sebelum menelan, Helga menatap sang kakek yang tengah memandangnya. “Kita sedang makan malam, Kek,” balasnya malas. “Bukankah Kakek tidak suka kalau ada orang yang makan sembari bicara?” “Kakek hanya memberitahumu.” Makan malam itu pun dilanjutkan tanpa ada dialog. Helga yang merasa terganggu sejak Adi menyebut nama lelaki, buru-buru menyelesaikan makannya. Dia juga segera membawa piring miliknya ke bak pencucian, dan lekas membersihkan kotoran di piring tersebut. Suara Adi kembali mengusiknya. “Kakek minta maaf karena harus memaksamu menikah di usia muda dengan pria yang juga belum kamu kenal, Helga.” Gadis itu meletakkan piringnya yang sudah bersih ke rak, dan memutar badannya hingga menghadap Adi. “Kalau Helga tahu dari awal uang kuliah dibantu teman Kakek, Helga tidak mungkin mau kuliah, Kek. Yang Helga sayangkan adalah Kakek tidak bicara dari awal kalau biaya kuliahku ditanggung teman Kakek,” ujarnya kecewa. “Teman Kakek ingin pernikahan kalian dipercepat.” Pupil Helga membesar begitu mendengar suara serak sang kakek. “Itu berarti tidak akan dilaksanakan setelah Helga wisuda?” Dengan muka sedih Helga menatap Adi. “Iya. Persiapan pernikahan sudah delapan puluh persen.” Mendengar itu air mata Helga tiba-tiba menggenang. “Sekali lagi Kakek minta maaf karena tidak bisa mengulur rencana pernikahanmu,” ucap Adi dengan satu tangan yang terulur ke kepala sang cucu. Tumpah sudah tangis cucunya begitu kedua tangan Adi merangkul. “Percaya pada Kakek, suamimu adalah pria yang bertanggung jawab dan menyayangimu.” “Bagaimana Kakek bisa tahu? Melihatku saja dia tidak pernah.” “Kakek sudah pernah mengirim foto-fotomu pada teman Kakek, dan anaknya tidak mungkin setuju menikah denganmu tanpa tahu wajahmu lebih dulu.” Helga mundur dan kembali menatap Adi sambil menyahut, “Itu tandanya dia hanya menyukai fisikku, Kek. Bagaimana kalau dia tidak sesuai dengan penilaian Kakek setelah kami menikah?” “Itu tidak mungkin. Kakek sudah mengenalnya sejak dia masih kanak-kanak. Hingga dia dewasa pun Kakek tahu kepribadiannya, Helga.” Adi menghapus air mata yang turun di pipi sang cucu, lalu mengusap rambut hitam panjang itu. “Berjanjilah pada Kakek untuk menjadi istri yang penurut, layanilah suamimu kelak dengan sepenuh hati, dan pertahankan rumah tangga kalian walaupun pernikahan itu didasari dengan perjodohan.” “Helga belum siap, Kek ...,” lirih Helga yang sudah menangis begitu membayangkan dunia pernikahan. Ada rasa takut yang begitu besar setelah mengetahui bahwa pernikahannya dipercepat, teramat kilat. Karena baru tiga bulan lalu ia diberitahu sang kakek bahwa dirinya akan dijodohkan dengan anak dari teman sekaligus majikan Adi serta kebenaran bahwa hampir tujuh puluh persen biaya kuliah dibantu oleh Hans Anderson, teman sang kakek tersebut. Lalu sekarang dia harus mendengar lagi bahwa pernikahan mereka dipercepat, membuat Helga ingin kabur saja. “Tentu saja cucuku mampu menjadi istri yang baik. Helga yang Kakek kenal adalah gadis yang dapat diandalkan.” Adi kembali membawa tubuh Helga ke dalam pelukannya. “Hanya itu tadi pesan Kakek sebelum meninggalkanmu. Kakek tidak ingin cucu Kakek satu-satunya kesepian jika Kakek lebih dulu tiada, dan menyusul kedua orang tuamu,” bisiknya yang membuat air mata Helga tidak bisa berhenti menetes. * Bila kemarin Helga mendengar isu bahwa Hadyan tengah berciuman dengan perempuan yang diduga sang kekasih, kini gadis itu harus melihat lengan Hadyan dirangkul oleh perempuan berbeda lagi. Ya, orang itu berbeda dengan perempuan yang diajak ke kantin kemarin saat makan siang. Beberapa mahasiswi yang berada di sekelilingnya pun turut terkejut melihat pemandangan tersebut. “Ini Pak Hadyan yang terlalu tampan sampai cewek-cewek berdatangan, atau memang Pak Hadyan yang kurang tegas?” tanya Nafa, tentunya tak berani kencang-kencang, karena Hadyan dan perempuan itu makin berjalan ke arahnya dan Helga. Helga yang sudah berpapasan cuma menunduk sampai pasangan itu melewatinya. Sembari membuang napas panjang, Helga menutup mata lantaran ucapan Nafa cukup membuatnya merasa bosan. Lagi-lagi tentang skandal dosen paling tampan dan gagah di universitas mereka. “Daripada pusing mikir itu, lebih baik kita fokus sama tugas akhir, belum lagi skripsi. Bulan besok sudah semester tujuh,” cuma itu yang bisa Helga katakan sebelum buru-buru melanjutkan langkah kakinya. Nafa yang tahu betul bagaimana Helga, membuntuti dari belakang. Namun, tetap saja mulutnya tak bisa berhenti bicara. Ia terus mengatakan bahwa Hadyan dosen yang sebenarnya layak dikagumi, walaupun banyak perempuan yang sudah dianggap sebagai ‘mainan’ pria itu. “Kemarin aku dapat foto Pak Hadyan di mall, Hel.” Helga hanya bergumam sembari melirik sekilas saat Nafa mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemeja. “Coba, lihatlah!” ujarnya seraya menunjukkan perempuan yang berbeda lagi. Kali ini perempuan yang lebih dewasa, dan sepertinya seumuran dengan Hadyan. “Mungkin itu istrinya,” jawab Helga enteng. “Pak Hadyan belum punya istri!” sembur Nafa kesal. “Pak Hadyan pernah bilang kalau target menikahnya masih lama, Hel.” “Sejak kapan Pak Hadyan bicara masalah pribadi?” kali ini Helga bertanya dengan sedikit tertawa. “Setahuku Pak Hadyan tidak pernah bilang begitu.” “Dulu, di saat awal-awal kita masuk kampus. Itu juga alasanku kenapa suka sama Pak Hadyan, siapa tahu aku bisa jadi kandidat.” “Kandidat?” “Ya, siapa tahu aku jadi salah satu calon istrinya ... mungkin aku masih bisa daftar!” Nafa memekik kegirangan dan diakhiri dengan senyum lebar. Helga yang malas membahas dosen misterius itu geleng-geleng kepala seraya mengembalikan ponsel Nafa. "Lihat baik-baik fotonya. Pak Hadyan pakai cincin yang sama persis sama perempuan itu,” ungkap Helga memberitahu. Seketika itu juga Nafa mengecek kembali, dan menahan napas dengan mata membulat. “Ja-jadi ... jadi dia sudah menikah, Hel? Pak Hadyan su-sudah menikah?!” “Mungkin saja,” sahut Helga makin mempercepat langkahnya. Meninggalkan Nafa yang masih menatap foto Hadyan bersama seorang perempuan cantik dengan tampang kaget. Nafa bahkan diam mematung, merasa kaget sekaligus kecewa yang sangat besar setelah melihat cincin berwarna silver melingkar di jari manis sang idola. “Pasti foto editan!” pekiknya sembari meremas gawai lalu berlari menyusul Helga. “Ini pasti tipuan, Hel!” Helga yang sudah berjalan jauh di depan tak ingin menoleh lagi. Ia sudah tak sabar ingin ke perpustakaan untuk mengerjakan sebagian tugas akhir yang membuat otaknya harus kembali mengingat semester awal lagi. Namun, belum sampai di dalam perpustakaan, seorang mahasiswa menghalanginya masuk dengan menarik salah satu pergelangan tangannya. “Kenapa?” tanya Helga heran. “Kamu dipanggil pak Hadyan di ruangannya.” “Ada urusan apa pak Hadyan sampai panggil aku ke ruangannya?” Lelaki itu mengangkat bahu, lalu menepuk-nepuk pundak Helga sebelum berlari dan menjawab, “Jangan lupa aktifkan ponsel untuk jaga-jaga.” Sesudah itu dia menyingkir dari pandangan Helga. Sedangkan Nafa yang baru sampai, merasa bingung karena Helga justru meninggalkannya lagi tanpa bersuara. Ingin menyusul dan bertanya, tapi dia sendiri kelelahan karena berlari. Alhasil ia memilih ke kantin untuk membeli minuman segar. Helga yang sudah berdiri di depan pintu ruangan berwarna cokelat itu segera mengetuk. Sampai ketukan ketiga, barulah pintu dibuka dan menampilkan sosok pria berkemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga melewati siku. “Silakan duduk,” ujar dosen berhidung mancung dan punya bibir merah pucat itu sembari menunjuk sebuah kursi merah di depan mejanya. “Mohon maaf, Pak. Jika boleh tahu, ada apa Pak Hadyan memanggil saya?” “Tugas laporan milikmu masih memiliki beberapa kesalahan.” Hadyan juga mengulurkan laporan yang cukup tebal itu pada Helga. “Harap periksa di bagian pertengahan sampai akhir. Perhatikan pula beberapa kata yang masih kurang atau salah ketikan. Saya tidak suka kesalahan kecil.” Mendengar itu jelas saja Helga kaget. Ia baru ingat kalau sebelum mengumpulkan laporan itu, dia belum mengeceknya lagi. Jadilah kini harus direvisi, dan tentunya mengulang dari awal. Dengan senyum yang dipaksakan Helga menerima laporannya. “Baik, Pak. Akan saya revisi secepatnya. Mohon maaf atas kesalahan saya, Pak.” Hadyan mengangguk lalu mempersilakannya keluar. “Terima kasih, Pak. Saya permisi,” pamit Helga seraya berdiri. Begitu ingin berbalik, ia mendengar handle pintu toilet di ruangan itu seperti dibuka dari dalam. Tak lama, sosok perempuan keluar dengan ekspresi terkejut saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan Helga. Helga pun sama, ia juga terkejut melihat perempuan dengan kucir ekor kuda itu. Saking kagetnya, Helga cuma bisa menyebut namanya, “Emma ...." “He-Helga?” “Kalian berdua bisa keluar dari ruangan saya sekarang.” Helga dan Emma pun sama-sama keluar dari ruangan Hadyan. Begitu sampai di luar, Helga yang penasaran dengan Emma ragu ingin bertanya. Sementara Emma juga tak ada tanda-tanda ingin menjelaskan sesuatu. Mereka berdua hanya diam dengan suasana canggung. Hingga Helga yang memiliki kepentingan pun bersuara lebih dulu. “Aku harus revisi tugas laporan. Mungkin aku tidak akan ke kantin.” Emma mengangguk saja, dan Helga pun berbelok ke kiri dimana perpustakaannya berada. Akan tetapi, belum lama berjalan Emma memanggilnya. Membuat Helga berhenti dan seketika menoleh. “Ya?” “Aku enggak ada sesuatu sama pak Hadyan.” Helga cuma tersenyum kecil. “A-aku serius, Hel.” “Aku tidak peduli itu, Em. Privasi orang bukan ranahku.” Helga lantas melambai dan buru-buru. Ia sampai mempercepat larinya agar dapat cepat juga mengerjakan tugasnya. Anehnya, ketika sampai di perpustakaan dan mengeluarkan laptop, Helga sulit untuk fokus. Ia justru kepikiran akan Emma yang keluar dari kamar kecil sang dosen dengan muka basah dan tampang terkejut. Dia jadi teringat pula akan tampilan Hadyan yang rambut cokelatnya seperti habis dikeringkan. Meski begitu, Helga dengan kuat menggelengkan kepalanya. “Tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk! Lagi pula aku tidak berhak ikut campur dengan urusan orang lain,” pekik Helga tertahan sebelum menaruh kepalanya di atas meja dengan mata terpejam kuat. Beberapa detik kemudian, ia merasa ponsel di saku celana jeans bergetar. Sang kakek mengirim pesan. Seketika itu juga Helga menegakkan kepala serta tubuhnya dengan mulut menganga lebar. Ternyata bukan cuma pesan yang dikirim padanya, tetapi nama lengkap beserta foto calon suaminya. “Ini adalah Hadyan Gavi Anderson, calon suamimu,” tulis sang kakek tepat di atas foto sang dosen. Pria itu tengah memakai jas, dipotret dari samping. Sudah bisa dipastikan Helga syok bukan main. Tanpa berpikir panjang, Helga mengangkut barang-barangnya dan tujuannya cuma satu, pulang ke rumah.
Betapa terkejutnya Helga begitu turun dari motor ojek online, dilihatnya sosok berumur tengah berbincang dengan sang kakek. Helga bisa menebak bahwa yang berdialog dengan Adi tak lain dan tak bukan adalah calon mertuanya, Hans Anderson. Mengetahui dirinya datang, sang kakek lantas melambai dan menyebut namanya. “Helga! Kemarilah!” titah Adi dan Hans yang memerhatikan ikut melihat ke arah Helga berada. Gadis itu pun makin cepat berjalan menuju teras. “Tuan Hans akan membawamu ke butik, pergilah bersamanya.” Bagai disambar petir, tubuhnya tiba-tiba kaku. Helga bahkan hanya melotot menatap Adi, antara terkejut dan protes karena sungguh dadakan. Ia pikir sang kakek tengah memohon pada Hans untuk mengulur hari pernikahannya, tapi ternyata permintaan calon mertuanya yang tak ingin dia dengar. Hans mengajaknya dengan menunjuk mobil yang terparkir di halaman rumahnya. “Mari, masuk ke mobil, Nak,” ucap Hans. Gadis itu tak langsung setuju, tapi berlari ke arah Adi. “Bukankah ini terlalu cepat, Kek?” tanya Helga dengan suara bergetar dan meraih tangan sang kakek. “Bisa diulur lebih lama lagi?” tambahnya dengan tatapan memohon, dan hal itu semakin membuat Adi merasa bersalah padanya. “Aku pikir Kakek ingin mengajukan pertimbangan lagi, supaya pernikahan ini diundur lebih lama lagi.” “Tidak ada yang perlu kau takutkan, Nak,” sahut Hans yang ikut mendekat. “Tidak ada yang harus kau khawatirkan. Kau masih bisa meneruskan pendidikan meskipun menikah dengan anakku.” “Benar, Helga. Ikutlah Tuan Hans.” “Aku ingin Kakek ikut,” jawabnya yang disetujui Hans. Pria itu pun meminta Helga masuk ke dalam mobil lebih dulu. Sementara dirinya dan Adi masuk kemudian. Ketiganya berangkat dengan menaiki mobil hitam elegan milik Hans yang tiga tahun lalu masih dikendarai oleh Adi. Karena alasan umur yang sudah menginjak angka lima puluh lima tahun, Hans memberhentikan Adi dan meminta bawahan sekaligus temannya itu untuk beristirahat. Di dalam perjalanan itulah Helga baru teringat akan foto dari Nafa, di mana Hadyan tengah berada di pusat perbelanjaan bersama seorang perempuan. Tentunya Helga tersenyum senang, ia bisa menunjukkan foto itu pada Hans dan menjadikan cincin yang dipakai Hadyan sebagai alasan untuknya menolak pernikahan ini. Dengan muka semangat, ia pun meminta foto sang dosen pada Nafa. Jelas Nafa menghujaninya dengan berbagai pertanyaan sebelum mengirimkan foto itu padanya. Butuh kesabaran untuk memohon sampai Nafa akhirnya mengirimkan foto dua manusia bak sepasang suami istri yang harmonis tersebut, walau berujung Nafa menuntut penjelasan Helga. “Maaf Tuan Hans, saya ingin bertanya dan tolong jawab dengan jujur,” ujarnya sambil menatap layar ponsel yang menampilkan sosok Hadyan dengan sang wanita. “Baiklah, tanya saja apa pun itu, aku akan menjawabnya, Nak.” “Apakah pak Hadyan sudah menikah?” tanyanya yang membuat Hans menoleh ke belakang, ke arahnya, dengan tatapan bingung lalu tertawa kecil. “Mengapa Tuan tertawa?” “Helga,” cegah Adi karena merasa sang cucu sudah berlebihan bertanya. Tanpa banyak bicara lagi, Helga pun menunjukkan foto itu pada Hans. Foto yang hampir menampilkan seluruh tubuh anaknya dan bergandengan dengan seorang wanita. “Tuan bisa lihat dengan sangat jelas bahwa itu adalah anak Tuan.” “Apa maksudmu, Helga?” tanya Adi yang juga ikut menoleh. Begitu melihat ke arah handphone sang cucu, ia tak lagi bersuara. “Lihat cincin yang dipakai mereka, bukankah ini sebuah cincin pernikahan? Mereka juga tampak bahagia. Oh, atau ... mungkinkah mereka menikah diam-diam tanpa sepengetahuan Tuan?” Tiba-tiba mobil yang ditumpangi mereka berhenti. Disusul dengan suara sopir yang memberitahu bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan. “Mari kita turun, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu di dalam,” terang Hans dengan senyum penuh wibawa. Helga yang merasa masih ada kesempatan untuk lepas dari perjodohan, dengan ragu-ragu turun setelah Adi dan Hans keluar. Ketiganya memasuki butik, dan disambut oleh pekerja di sana dengan sangat ramah. Hans pun meminta ruangan khusus, dan dengan cepat mereka di antar ke sebuah ruangan besar. Hans duduk di sebuah single sofa. Helga dan Adi diminta Hans untuk duduk di depannya. Adi yang merasa bersalah tiba-tiba menyeletuk, “Maaf, aku belum menceritakan semuanya pada cucuku.” “Tidak apa-apa.” “Jadi, apa benar pak Hadyan sudah menikah?” “Benar, tapi itu dulu. Anakku sudah menduda cukup lama, bahkan sebelum Adi berhenti menjadi sopir pribadiku.” Helga sungguh terkejut sekarang, ia baru tahu bahwa dosennya itu seorang duda, lebih tepatnya duda keren nan genit yang digandrungi seluruh mahasiswi, kecuali dirinya pastinya. “Lalu, untuk apa mereka masih mengenakan cincin pernikahan?” Helga sangat tak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang itu. “Dan untuk apa mereka berdua berpisah jika masih saling mencintai?” “Kau salah, Nak. Anakku tidak mencintai wanita mana pun. Hatinya sudah mati sejak perselingkuhan yang dilakukan oleh mantan istrinya, Ilana Johnson,” balas Hans sembari melirik tangan Helga yang menggenggam ponsel. “Keduanya terlihat dekat demi anak mereka, dan kepentingan pekerjaan Ilana sebagai model di luar negeri. Di dalam foto itu seharusnya ada diriku yang tengah menggendong cucuku, Ivander." Ingin sekali Helga membantah itu semua dan mengeluarkan segala keburukan Hadyan di kampus yang sering gonta-ganti perempuan. Namun, ia belum punya bukti apa pun. Bisa-bisa dirinya dianggap menyebar fitnah. Tahu begini ia ikut bergosip saja saat di kampus, agar foto-foto Hadyan bersama para gadis bisa dia kantongi. “Jadi, aku harus menikahi anak Tuan yang duda beranak satu itu?” “Ya, dan aku mohon padamu ... buatlah dia kembali seperti Hadyan yang dulu.” Hans bangkit dari sofa dan mendekati Helga dengan ekspresi penuh memohon. “Aku percayakan dia padamu. Kau pasti bisa menumbuhkan cinta di hatinya kembali, Nak Helga.” Sembari mengeluarkan gawai, Hans mengotak-atik sebelum memberikan ponselnya pada Helga lalu berkata, “Jika tidak, tolong pikirkanlah cucuku.” Adi mengangguk dan merangkul sang cucu. “Dia bukan hanya membutuhkan kasih sayang orang tua, tapi juga teman dan perhatian, terutama cinta seorang ibu. Nasibnya hampir sama sepertimu, bedanya orang tuanya masih hidup.” “Apa selama ini pak Hadyan mengabaikan buah hatinya yang masih kecil ini?” Hans dan Adi mengangguk. Tampak raut wajah tak tega terpasang di muka Helga. Adi memandangi sang cucu sembari menepuk-nepuk pundaknya. “Siapa namanya?” tanya Helga setelah cukup lama memerhatikan foto dari sosok balita tampan bersama senyum mengembang di atas pangkuan Hans. “Ivander Gerald Anderson,” balas Hans yang membuat Helga berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu menyerahkan benda pipih berwarna hitam pada sang pemilik dengan muka datar. Hans menerimanya lalu kembali membuka mulutnya. “Jadi, bagaimana? Kau akan menikah dengan anakku tanpa terpaksa?” tanya Hans masih dengan tatapan memohon. “Hanya kaulah gadis yang terlihat tulus di mataku, Nak.” Adi ikut berdiri dan mendekat pada Helga. “Jangan lupakan biaya perkuliahanmu selama ini. Semua itu bantuan dari Tuan Hans, Helga. Kita berhutang budi padanya,” timpal Adi yang membuat Helga menghela napas lalu melepas pegangan tangan sang kakek di lengannya. “Aku setuju.” Helga menjawab sambil membelakangi dua pria berumur yang sama-sama tersenyum lega. “Tapi dengan satu syarat,” sambungnya sebelum membuka pintu ruangan. Adi yang kaget memperingatkan, “Jangan melewati batas, Helga. Ingat diri, kita ini siapa.” Hans tiba-tiba bertanya, “Apa syaratnya?” Pria itu penasaran. Dari awal ia sudah tertarik dengan Helga, dan ternyata dugaannya benar, Helga bukan gadis polos yang selalu menurut.
Helga balik badan sambil mengutarakan, “Karena calon suamiku sudah bercerai, aku ingin mereka tidak menunjukkan kemesraan di depan publik.” “Bagaimana bisa?! Kau jangan meminta yang aneh-aneh!” pekik Adi tampak murka. “Ingat, Helga ... selama ini kau dibantu Tuan Hans!” “Aku cuma meminta hakku sebagai calon menantunya. Bukankah itu masih menjadi hakku? Aku tidak mau calon suamiku dicap sebagai pria hidung belang,” terang Helga sebelum dia melewati pintu. “Selagi aku memilih gaun pernikahan, tolong pikirkan syaratku, Tuan Hans.” “Aku tidak bisa menyetujui syaratmu itu. Syaratmu sangat berpengaruh untuk karier mantan menantuku, dan dia tidak akan terima jika skandal perselingkuhannya muncul lagi.” “Lalu untuk apa aku dinikahi?” tanya Helga yang benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran keluarga Anderson itu, tidak ayah, tidak anak, ternyata semuanya sama saja. Terlihat bodoh hanya karena wanita. “Seperti kataku sebelumnya, jika kau keberatan menikah dengan putraku, tolong pikirkan cucuku ... selama ini dia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hanya aku yang terkadang masih memedulikannya, Nak.” Mengingat Ivander, ia kembali mengaca pada dirinya sendiri. Korban yang paling tersiksa jika orang tua bercerai, atau pun keluarga berantakan. “Tuan juga tidak memikirkan bagaimana orang-orang di luar sana menilai anak Tuan? Pak Hadyan ... maksudku, Gavi ... dia dicap sebagai dosen yang suka mempermainkan wanita, terutama gadis muda.” “Putraku kebal akan semua kabar miring itu. Ketahuilah, yang dia jaga hanya citra ibu dari anaknya, Ilana.” Dengan menghela napas panjang, Helga memilih pergi saja. Ia sungguh tidak mengerti dengan arti pernikahan dan perceraian di dalam keluarga itu. “Sebenarnya untuk apa pak Hadyan melakukan ini semua?” gumamnya dan dalam sekejap ia ditarik oleh seseorang dari arah kiri. Di saat Helga memberontak, tubuhnya sudah melayang. Refleks ia mengalungkan sepasang lengannya di leher pria itu. “Pak Hadyan?!” teriaknya terkejut. “Bapak mau apa?!” Ia dibawa Hadyan ke dalam sebuah ruangan, yang isinya hampir sama dengan ruangan sebelumnya. Bedanya, di ruangan ini terdapat lemari besar yang menampung puluhan gaun mewah. Helga menebak bahwa gaun-gaun itu dirancang khusus, sesuai permintaan klien. Dia di turunkan di tengah-tengah ruangan, dengan ekspresi Hadyan yang garang menatapnya lekat-lekat. “Jangan pernah sekali pun kau berbicara buruk mengenai mantan istriku.” Helga sedikit tersenyum mendengar nada suara Hadyan. “Oh, ternyata Bapak sangat mencintai mantan istri Bapak yang selingkuh itu dan sulit move on?!” Helga tersenyum miring. “Miris sekali, cinta tulus Bapak dikhianati.” Mendengar penghinaan Helga, wajah Hadyan memerah seperti orang menahan marah. Ia melangkah maju, sampai tubuhnya menempel dengan Helga yang membuat gadis itu menatap penuh waspada. Terlebih lagi saat tubuhnya sudah menempel pada dinding, akibat tubuh Hadyan menekannya. "Berhati-hatilah berbicara, batas kesabaranku bisa habis kapan saja ...," bisik Hadyan yang membuat Helga meremas kedua lengan pria itu, meminta Hadyan menjauh. "Ilana urusanku, dan tugasmu hanya menikah denganku, tidak lebih. Terima saja pernikahan ini sebagai bayaran atas semua uang yang dikeluarkan ayahku demi kuliahmu." Helga kian meremas lengan Hadyan saat harum napas lelaki itu terasa segar. "Jika tidak, aku tidak yakin kau bisa wisuda." “Jangan mengancamku!” “Tentukan pilihanmu,” balas Hadyan dengan sebelah tangannya membelai lembut pipi kanan Helga. “Menikah denganku sebagai bayaran uang kuliahmu, atau ... saya drop out sekarang juga, Galenka Helga.” “Bapak tidak pantas disebut dosen!” “Kau sendiri tidak layak dibantu, jika tidak tahu artinya balas budi,” balas Hadyan sambil mendekatkan mukanya. “Aku memang tidak tahu kalau dibantu tuan Hans, ayah Bapak! Aku juga tidak mengharapkan bantuan kalian!” “Masa depanmu ada di tanganmu,” tutup Hadyan masih dengan jemari mengelus pipi Helga. Sesudah itu tangan lain Hadyan menekan bel yang berada di samping kepala Helga. Beberapa detik kemudian dua orang pegawai butik memasuki ruangan, dan barulah Hadyan menyingkir dari hadapan Helga. Ia meminta mereka untuk membantu Helga mencoba beberapa gaun pernikahan. Sedang dia sendiri memutuskan untuk angkat kaki dari sana, masuk ke ruangan yang lain. “DASAR ...! DOSEN MURAHAN SIALAN!” pekik Helga yang tak tertahankan. Membuat dua pegawai yang tengah berusaha mengambil gaun terperanjat, kaget. “Ah, maaf ...,” sesalnya merasa tak enak hati. “Kalau kesabaranku masih tidak dihargai, jangan salahkan aku kalau berubah menjadi perempuan pemberontak,” batin Helga ketika teringat malam, di mana dia memohon pada Adi agar pernikahannya dan Hadyan diundur. “Dosen paling bodoh yang pernah kutemui, aku masih tak percaya kalau kau bodoh sekali hanya karena wanita,” ujarnya lagi di dalam hati sambil menatap pintu ruangan yang tertutup rapat. Tak apa, dia berusaha siap untuk masuk ke dalam dunia Hadyan dan mantan istrinya itu. Ia akan mengembalikan arti pernikahan yang suci, dan tidak akan ia biarkan Ivander menderita. “Tolong pilihkan aku gaun yang paling mewah, kalau ada gaun pengantin yang terlihat seksi juga. Calon suamiku suka dengan gaun yang terbuka,” pinta Helga dengan senyum lebarnya. “Lihat saja, aku akan membuatmu buka mata selebar dunia, Hadyan Gavi Anderson.” * Hari yang dinanti-nantikan oleh Hans akhirnya tiba. Putranya yang telah lama menduda, kini membuka lembaran baru. Di depan sana, Hadyan dan Helga berdiri saling berhadapan dan mengikrarkan janji sehidup semati kepada Tuhan di hadapan semua tamu yang datang. Acara pernikahan itu hanya dihadiri oleh rekan dan sanak saudara, yang jumlahnya tidak sampai seratus orang. Meski begitu, Helga sungguh merasa puas. Dirinya berhasil membuat Hadyan terus menatapnya sejak dia masuk ke dalam gedung pernikahan, tak sedikit pun sang dosen memalingkan muka. Terutama ketika kini dia berdiri di dekat Hadyan. Sampai tiba waktunya kedua mempelai dipersilakan untuk menunjukkan cinta suci mereka. Helga yang nyatanya belum siap menerima ciuman dari Hadyan, kakinya sedikit mundur. Ia merasa waktu berhenti sementara kala bibir mereka saling melekat. Melalui bibir Hadyan yang menempel pada bibirnya itu, jantungnya berdebar-debar. Riuhnya suara tepuk tangan para tamu undangan membuat suasana hati Helga makin tidak tenang. Walau gugup, dia mencoba untuk menikmati lembutnya sapaan bibir Hadyan. Tanpa disadari, dirinya semakin larut oleh permainan bibir sang dosen. “Aku tidak suka melihat istri kecilku mengenakan gaun sialan ini,” bisik Hadyan sambil meremas pinggang Helga sesudah ciuman mereka berakhir. Tak sampai sepuluh detik mereka berciuman di atas panggung. Helga yang ingin membalas bisikan Hadyan itu dikejutkan oleh suara seseorang. “Mama!” teriak bocah tampan berumur tiga tahun itu sambil berlari ke arah panggung. Semua orang di sana tak bisa menahan tawa melihat Ivander berlari dan mengangkat dua tangannya pada Helga. Dibantu salah seorang kru wedding organizer, Ivander berhasil naik dan berdiri di atas panggung, bersama papa dan ibu barunya. Bocah itu mendongak sambil tersenyum ke arah Helga. “Dia bukan ibumu, Vander,” ucap seseorang dengan tatapan tajamnya, duduk di kursi paling depan. Sejak acara dimulai, fokusnya hanya pada gadis di samping mantan suaminya. Gadis cantik nan muda yang mengenakan gaun pengantin putih glamour tanpa lengan, dengan belahan dadanya sangat rendah. “Akulah yang pantas kau panggil mama.”