Ultimatum. Betapa Diraja membenci kata tersebut. Terlebih lagi sekarang. Di hadapannya, ayah dan ibu duduk berseberangan setelah memberikan ultimatum keras kepada dirinya. Posisi duduk mereka pun tersirat menunjukkan di mana posisi mereka dalam pengambilan keputusan absurd ini. “Tapi Ayah! Aku menolak perjodohan ini! Ini skema pernikahan gila! Kita masih bisa selamatkan Sudibyo Corporation tanpa pernikahan bisnis ini!” tolak Diraja dengan tegas. Rahangnya mengeras dan dia menggerutukkan gerahamnya penuh amarah. “Bagaimana kamu mau tanggung jawab setelah ada insiden penembakan salah satu karyawan kita di Royal Ruby dengan keluarga Ong dari Singapura, huh? Mau ditaruh di mana muka kita jika bertemu kembali dengan keluarga Arka kelak?” Ayah bersuara keras memotong penolakan Diraja. Kejadian dua minggu lalu di Hotel Royal Ruby kembali terngiang di ingatan Diraja. Saat itu mereka sedang meeting di hotel milik salah satu korporasi terbesar di Indonesia, Danudihardjo Enterprise membicarakan masalah IPO atau Initial Public Offering perusahaan mereka demi mencari modal tambahan untuk ekspansi bisnis mereka. IPO tersebut akhirnya batal karena ternyata salah satu partner bisnis mereka, keluarga konglomerat Ong dari Singapura berniat menghancurkan Sudibyo Corp dan menjadikan perusahaan mereka sebagai boneka untuk kepentingan mereka di Indonesia. Berangkat dari temuan tersebut, Diraja berhasil membujuk ayahnya untuk menolak rencana IPO dan tertarik dengan ide merger dan akuisisi dari Danudihardjo Enterprise. Di tengah-tengah pembicaraan dengan Darius tempo lalu, ayahnya tiba-tiba mengajukan proposal pernikahan dengan keluarga Darius demi menjaga kekuatan Sudibyo dalam diskusi tersebut. Ide yang tentu saja ditolak oleh Darius, karena Amir mengusulkan adik ipar Darius–Ambar sebagai ‘tumbalnya’. Meski sudah ditolak, ayahnya masih bersikeras dengan ide perjodohan sebagai balasan tawaran merger dan akuisisi dari Darius Danudihardjo demi melindungi perusahaan ayahnya–Sudibyo Corporation dari ambang kehancuran karena terseret intrik dari keluarga konglomerat Ong yang berbasis di Singapura. Pertemuan di hotel tersebut dilakukan bersama penasihat terpercaya mereka, Mas Arka untuk mencari opsi terbaik bagi perusahaan mereka. Dan sepertinya Mas Arka juga setuju untuk menerima proposal merger dan akuisisi yang ditawarkan oleh Darius. Danudihardjo Enterprise tidak akan menjadi majority shareholder mereka, dan mereka menjanjikan first option untuk keluarga Sudibyo dalam right of first offer untuk membeli kembali saham mereka jika Danudihardjo Enterprise ingin exit strategy dari perusahaan mereka. “Ayah, aku akan cari cara supaya deal dengan Danudihardjo dapat memberikan win-win solution bagi semua pihak yang terlibat! Tapi aku menolak opsi perjodohan dengan anak yang bahkan masih belum lulus SMA!” ujar Diraja penuh frustasi. Dia tak bisa memungkiri kalau dia melakukan banyak langkah yang salah ketika membantu ayahnya memimpin perusahaan yang menyandang nama mereka. Tapi perjodohan? Pernikahan bisnis? Dengan bocah SMA pula? Itu adalah garis yang tak akan Diraja lewati sampai kapanpun! Ayahnya tetap menatap tak senang ke arahnya. Amir Sudibyo masih menganggap kalau pernikahan antara dirinya dan Ambar adalah hal terbaik untuk Diraja dan juga eksistensi perusahaan mereka. Konsolidasi dengan salah satu keluarga konglomerat di Indonesia yang mana silsilah dari pihak ibu Darius bahkan bisa ditelisik hingga beberapa generasi ke atas karena mereka keturunan ningrat sejak jaman penjajahan. Ambar Tri Handayani adalah satu anomali dalam business deal Diraja kali ini. Batu sandungan yang membuat Diraja sulit bergerak dan bahkan harus beradu kepala seperti ini dengan ayahnya sendiri. Sosok yang begitu Diraja hormati karena etos kerjanya yang tinggi dalam membangun perusahaannya sendiri. “Pasti ada cara lain, Ayah!” ujar Diraja keras kepala. Setengah memohon agar ayahnya melunak dan mencari pilihan lain. Ibu yang duduk di samping ayah hanya terdiam, meskipun tangannya secara tak sadar mengusap lengan sang suami agar pria paruh baya itu tetap tenang dan tidak terpancing emosinya. Rumah mereka yang biasanya hangat mendadak menjadi seperti neraka bagi Diraja. Sudah beberapa bulan ini dia merasa tidak betah jika berkunjung ke rumah dan memilih untuk tinggal di kondominium apartemen dekat kantor. Ketika ibu menanyakan kenapa Diraja jarang pulang, dia selalu berkilah kalau banyak kerjaan dan akan menyita waktu jika dia bersikeras untuk kembali ke kediaman orang tuanya setiap malam. “Bagaimana caranya, huh? Kemarin waktu kita mau IPO, kamu bersikeras untuk menghentikannya karena kita tak ingin terseret dengan kegiatan kriminal keluarga Ong! Lalu ketika Darius datang dan menawarkan merger dia memberikan penawaran yang tak bisa kita terima karena terlalu memberatkan!” “Maka pernikahan adalah jalan tengah terbaik supaya kepemilikan saham kita tetap turun kepada keturunanmu kelak!” Ayah menjelaskan panjang lebar. Pernikahan bisnis demi menjaga kekayaan dan aset agar tidak berpindah tangan dan kepemilikan. Harta dan garis keturunan adalah sesuatu yang bisa ditukar guling dalam lingkungan Diraja. Diraja mengerti tentang konsep pernikahan bisnis seperti itu di luar kepala. Kakak perempuannya, Rengganis juga mengalami nasib serupa, dan kini dia harus melakukannya demi menyelamatkan Sudibyo Corporation dari ambang stagnasi bisnis yang bisa berlanjut pada kemunduran dan tak menutup kemungkinan–kebangkrutan. Sudibyo Corporation adalah pengejawantahan darah, keringat, dan air mata Amir Sudibyo dan Larasati Sudibyo, kedua orang tua Diraja. Mereka membesarkan perusahaan ini dari nol hingga akhirnya seperti sekarang. “Sekarang kamu pilih, Diraja. Kamu cari cara untuk menikahi Ambar, atau turun dari jabatanmu dan biarkan sepupumu Bian yang naik dan mengambil alih tanggung jawab keluarga ini!” Itu adalah ultimatum terakhir yang ayah berikan kepada dirinya. Diraja duduk mematung di kursi kulit mewah berwarna coklat yang senada dengan warna meja jati Jepara yang membatasi jarak antara sofa dirinya dan kedua orang tuanya. “Ayah!” Diraja tak percaya dengan apa yang baru saja ayahnya ucapkan. “Ayah yakin Bian tak keberatan memikul tanggung jawab ini, kalau kamu memang tidak tertarik membangun Sudibyo Corporation dan menanggung beban. Ya sudah! Berarti kamu memang tidak cocok untuk posisi tersebut. Ayah akan berpikir ulang untuk mencari penggantiku kelak kalau hal seperti ini saja tak bisa kamu hadapi, Diraja!” Ayah bangkit dari sofa dan menggelengkan kepalanya penuh kekecewaan. “Kamu tahu, berdiri di atas itu memang penuh dengan pengorbanan. Sampai mana kamu mau berkorban dan bertanggung jawab bukan hanya untuk keluargamu, tapi juga ribuan karyawan yang menggantungkan nasib di atas pundakmu itu,” ujar Ayah dengan nada suara berat. Tak lama ayah dan ibu beranjak dari ruang keluarga. Ibu menghampiri dirinya dan meremas bahunya penuh empati sebelum akhirnya menyusul suaminya masuk ke dalam. Sunyi menghampiri ruang ini setelah mereka meninggalkan Diraja yang diam terpaku sendiri. Suara penuh ritme dentang jam besar antik peninggalan Belanda yang terpajang rapi di ruang tamu kediaman keluarga Sudibyo membantu Diraja menjernihkan pikirannya yang sempat kalut setelah konfrontasi dengan ayahnya tadi. Diraja memejamkan matanya sejenak. Berpikir langkah selanjutnya yang harus dia ambil ke depannya. Menikah dengan orang asing yang tidak dia cintai, atau turun jabatan dan membiarkan kerja kerasnya diambil alih oleh sepupunya, Biantara? Diraja menghembuskan napas beratnya, dan menarik ponsel dari saku celananya. “Hey Tito, maaf mengganggu malam-malam. Saya mau minta tolong bisa?” Diraja menelepon asisten pribadinya di malam seperti ini. Pria itu tentu saja sudah terbiasa dengan permintaan Diraja yang seperti ini. “Ada apa, Pak Diraja?” tanya Tito dengan sigap. “Bisa cari nomor telepon adik ipar Darius yang bernama Ambar? Saya butuh teleponnya.”
AMBAR 6 Bulan yang lalu Ambar selesai bersolek dan merapikan kembali riasan wajahnya yang mungkin sempat mengkhawatirkan karena dia menangis melihat kakak tersayangnya berdiri di pelaminan bersama pria yang begitu besar mencintai kakaknya. Kakak perempuannya–Amira Dwi Handayani hari ini menggelar resepsi pernikahannya dengan sang suami atau kakak ipar Ambar–Darius Richard Danudihardjo. Si konglomerat muda mantan playboy yang akhirnya bertekuk lutut di hadapan kakaknya. Kini Mas Darius begitu bucin dengan Mbak Amira dan setiap orang yang melihat gerak geriknya pasti akan mengatakan 100% kalau Mas Darius itu heads over heels fall in love with Mbak Amira. Rasa harunya juga muncul begitu saja karena dia tiba-tiba mengingat peristiwa penculikan di Pulau Laguna karena upaya Carlos Danudihardjo, ayah Mas Darius, untuk memisahkan dan bahkan mencelakai Amira karena berhubungan dengan Darius. Untung saja Mas Darius telah menyelesaikan semua permasalahan, dan memberikan keyakinan kalau mereka semua telah aman dan yang tersisa adalah bahagia selamanya layaknya cerita dongeng. Setelah yakin bahwa makeup-nya tidak bergeser dan tetap memperlihatkannya sebagai salah satu pagar ayu yang sempurna, Ambar bergegas kembali ke aula dan berkumpul dengan Pagar Ayu lainnya yang merupakan empat orang teman kerja Mbak Amira. "Kamu lihat pengantinnya? Menarik sih memang, tapi rasa-rasanya Darius bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik. Lihat saja, ada satu Pagar Ayu yang sangat cantik. Dia benar-benar seperti model." Di dalam bilik toilet tadi Ambar mendengar selentingan ucapan miring murahan yang keluar dari mulut tamu undangan. Ambar tentu saja mendidih mendengarnya! Enak saja menghina kecantikan Mbak Amira! Tanpa pikir panjang, dia menggebrak bilik toilet dan menyuruh kedua perempuan yang bergosip itu keluar dari biliknya masing-masing. "Bilang apa kalian?" Ambar membentak kedua perempuan muda yang matanya membelalak ketakutan. "Kalian tidak menghargai sekali! Sudah baik-baik diundang, malah menjelek-jelekkan pemilik acara!" Ujar Ambar dengan nada tinggi. Kedua perempuan yang sudah kadung malu bukannya meminta maaf malah justru menyerang Ambar balik dan mendorong tubuh Ambar. Dia meradang dan mendorong perempuan gengges itu kembali. "Hey!" pekik perempuan yang berdandan heboh itu tatkala Ambar balas mendorongnya. "Pakaian saja bermerek, tapi kelakuan kalian tidak menunjukkan kelas! Kalian iri ya sama Mbak Amira?" ucap Ambar dengan kesal. Kedua perempuan itu malu dan wajahnya sontak memerah. "Money can't buy a class memang benar ternyata! Aku melihat kedua contohnya di hadapanku sekarang." Dengan angkuh, Ambar keluar dari toilet dan meninggalkan kedua perempuan yang tak berkutik dalam kemarahan dan perasaan malu mereka. Di luar, dia hampir saja bertabrakan dengan seorang pria yang juga baru keluar dari toilet pria. Karena heels-nya yang lumayan tinggi, serta kain batik yang melilitnya begitu sempit, Ambar hampir saja terjatuh jika dia tidak dipegang oleh pria asing ini. "Oh, terima kasih!" Ucap Ambar seraya melemparkan senyumnya. Tapi wajah Ambar membeku ketika dia melihat pria yang menggapai tubuhnya dan kini memegang pinggang dan punggungnya untuk menstabilkan dirinya adalah pria yang pernah Ambar temui di Royal Ruby Hotel satu bulan lalu. Diraja Sudibyo. Pria itu pun menyadari siapa yang dia bantu pun akhirnya melepaskan genggamannya dan rahangnya kembali mengeras. "Ambar–" panggilnya singkat. "Mas Diraja," jawab Ambar tak kalah singkatnya. Ambar melirik pergelangan tangannya yang masih ditahan oleh Diraja. Menaikkan sebelah alisnya dan meminta pria itu segera melepaskannya. Diraja paham itu, tapi dia justru mengetatkan pegangannya sampai akhirnya Ambar menyentakkan tangannya untuk melepaskan genggaman pria itu. Tapi belum jauh dia melangkah, pergelangan tangannya kembali ditarik oleh Diraja dan membuat Ambar hampir terjatuh kembali karena kehilangan keseimbangan. Untungnya pria itu kembali mendekap pundak Ambar dan menjaganya tetap berada di dalam pelukannya. "Apa kamu punya waktu hari ini? Ayo kita bicara," pinta Diraja dengan nada dingin yang sungguh tidak Ambar sukai. "Ingin bicara masalah apa? Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Kita tidak saling mengenal," ujar Ambar dengan tegas. Dia mencoba untuk melepaskan genggaman pria yang berdiri di hadapannya. "Kita perlu bicara mengenai masalah pertunangan kita." Kesal karena ucapan semaunya pria tampan di hadapannya kini, Ambar dengan sengaja menginjak sepatu kulit pria itu dengan stiletto tajamnya dan sikap brutalnya itu sukses membuat pria itu berjengit kesakitan dan mundur beberapa langkah. Secara otomatis pelukannya mengendur dan Amira terbebas dari kungkungan Diraja. “Kamu tuh delusi ya! Nggak ada pertunangan di antara kita! Nggak usah telpon-telpon lagi, apalagi bicara hal ngaco seperti ini lagi sama saya!” Benar-benar orang kaya di lingkungan Mas Darius isinya banyak sekali orang gila dan stress! Seperti pria yang akhirnya mengekor di belakang Ambar sekarang. “Bisa nggak sih jangan dekat-dekat! Ngapain juga ngikutin saya!” seru Ambar sambil berjalan cepat, mencoba menghindari pria yang tingginya seperti Mas Darius. “Ambar!” Suara Diraja yang mengeras akhirnya membuat Ambar menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. Tangannya berkacak pinggang dan matanya mengerjap kesal. Di depan pintu aula tempat pernikahan kakaknya, Ambar menatap sengit Diraja yang wajahnya juga menahan kesal karena dicuekin terus menerus oleh Ambar. “Kapan kamu ada waktu untuk bicara? Ini pembicaraan yang penting untuk kita berdua,” ujar Diraja dengan serius. “Saya sibuk,” jawab Ambar seraya menelengkan kepalanya ke arah aula, memberi gestur implisit kepada pria mapan di hadapannya ini. Ambar mengerutkan keningnya, mungkin saja keluarganya sekarang sedang mencari dirinya yang menghilang dari pos Pagar Ayu sejak tadi. Diraja memejamkan matanya. Seakan-akan mencoba bersabar atas jawaban yang baru saja Ambar berikan. “Kalau begitu kapan?” Diraja mengulangi pertanyaannya lagi. Ambar mengedikkan bahunya cuek. “Kalau bisa nggak usah ketemu sekalian,” gumamnya pelan. Diraja menyipitkan matanya, “Gimana?” ulangnya sekali lagi. “Nanti deh saya hubungi lagi,” ucap Ambar berkelit. Haha tentu saja dia tak ada niatan untuk menghubungi pria ini sama sekali! Dan sepertinya Diraja dapat menebak jalan pikiran Ambar dan dia sontak menggelengkan kepalanya, menolak opsi tersebut. “Kamu pilih, antara kamu kasih saya waktu yang jelas, atau saya datang ke rumah dan bahkan ke sekolahmu!” ancam Diraja yang membuat Ambar ingin sekali memukul pria itu sekarang. “Nggak bisa, nggak bisa! Ngapain sampai nyamperin ke rumah atau ke sekolah!” ujar Ambar setengah histeris. “Minggu ini di Plaza Indonesia, deal?” Diraja akhirnya menentukan waktu dan tempat pertemuan mereka. Meskipun Ambar merasa tidak ada tujuan yang jelas dalam pertemuan mereka kelak. “Setelah bertemu, jangan ganggu saya lagi, deal?” Tak gentar, Ambar akhirnya menjabat tangan besar dan kekar milik Diraja dan membalas pernyataan Diraja dengan dingin. Tanpa menunggu jawaban dari Diraja, Ambar membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan dagu terangkat. Ini hari bahagia dirinya dan keluarganya. Tidak akan dia biarkan pria asing yang mulai mengusik ketenangan hidupnya itu membawa mood-nya turun. Ambar terus melenggang masuk ke dalam aula penuh percaya diri dan keanggunan yang dipaksakan. Walau begitu, dia masih merasakan tatapan menusuk yang dari belakang yang membuat bulu tengkuknya meremang. Tentu saja, satu minggu kemudian Ambar tak menghiraukan permintaan Diraja untuk menemuinya. Dia sengaja ghosting pria itu dan langsung memblokir nomornya. Pria sinting seperti itu memang tidak perlu dihiraukan!
Hampir enam bulan lebih telah berlalu sejak resepsi pernikahan Mbak Ambira dan Mas Darius. Itu pula waktu yang bergulir sejak dia bertemu dengan Diraja Sudibyo, rekan kerja Mas Darius yang entah kenapa kesetanan ingin sekali menemuinya dan berbicara hal gila seperti pertunangan dan pernikahan. Ambar tentu saja memblokir nomor pria itu dan menghiraukan segala usahanya untuk bertemu dan membicarakan tentang masalah absurd pertunangan tersebut. Ambar memilih untuk menghabiskan waktunya fokus dalam ujian sekolah dan ujian masuk kuliah dalam enam bulan belakangan tersebut. Maka ketika dia telah lulus SMA beberapa waktu lalu dan sibuk dengan persiapan ujian masuk kuliah, dia tak lagi memikirkan dan cenderung lupa tentang Diraja. Dia terlalu sibuk menikmati hidup sebagai adik ipar Mas Darius yang dilimpahi kekayaan. Banyak hal baru yang membuka mata Ambar. Padahal ketika mereka terakhir bertemu sebelum adanya insiden penembakan di hotel Royal Ruby–Ambar sudah jelas-jelas mendengar kalau Mas Darius dan Mbak Amira menolak mentah-mentah rencana gila tersebut. Bahkan Ambar benar-benar mengingat bagaimana tersinggungnya Diraja saat ayahnya sendiri mengemukakan pendapat tersebut, dan meminta ayahnya untuk menghentikan omong kosongnya. Lalu sekarang apa yang mendasari perubahan signifikan ini? “Ambar, hari ini kamu mau ke mana?” tanya Ibu yang sedang menyirami tanaman di rumah mereka. Sudah beberapa hari ini mereka kembali lagi ke rumah mereka setelah sebelumnya tinggal beberapa bulan di apartemen milik kakak iparnya. Mas Darius Danudiharjdo. Sebelumnya Mas Darius bersikeras ‘memaksa’ mereka untuk pindah ke apartemen miliknya demi keamanan keluarga. Masa-masa sulit ketika Mas Darius menghadapi masalah yang cukup berbahaya dan menyebabkan dirinya serta Mbak Amira diculik di suatu pulau pribadi milik keluarga Danudihardjo di daerah Kepulauan Riau. Awalnya Bapak dan Ibu menyetujuinya demi menjaga keselamatan keluarga, namun setelah pernikahan Mas Darius dan Mbak Amira, Ibu bersikeras kembali ke rumah mereka dan menganggap keadaan sudah aman terkendali sehingga tak ada alasan lagi bagi mereka untuk tinggal di apartemen. “Ibu nggak suka tinggal di apartemen seperti itu. Ibu lebih suka kita kembali ke rumah kita yang sederhana, tapi begitu nyaman bagi Ibu. Ibu kangen dengan tanaman dan bunga anggrek Ibu.” Ambar ingat sekali itu yang ibu ucapkan ketika mengutarakan keinginannya kembali ke rumah mereka di hadapan Mas Darius. Mas Darius tentu saja awalnya menolak dan kembali membujuk. Kakak iparnya itu mengatakan kalau apartemennya tersebar banyak di Jakarta dan kosong tidak ditempati. Semua fasilitas tentu saja lebih baik dibanding rumah sederhana mereka, jadi sebenarnya tak ada alasan bagi keluarga Ambar untuk menolak pemberian apartemen tersebut. Namun tentu saja Ibu keras kepala dan mengatakan kalau dia tak nyaman berulang kali, sehingga membuat Mas Darius mengalah dan akhirnya membiarkan Ibu, Ayah dan Ambar kembali ke rumah mereka. “Tapi Ambar bisa pergi ke apartemen tersebut kapanpun kamu mau. Lokasinya dekat dengan kampus unggulan Cahaya Ilmu International College dan bisa dipakai kelak jika Ambar sudah mulai berkuliah,” ujar Mas Darius yang sama keras kepalanya. Dia menyerahkan kunci apartemen kepada Giselle dan mengatakan feel free to use the apartment. Ambar kembali tersadar dengan pertanyaan ibu dan menghampiri ibu yang sedang merawat tanamannya secara telaten di halaman rumah. “Uh, aku ada perlu sebentar. Ketemu teman,” ujar Ambar berbohong. Dia bukan ingin bertemu temannya hari ini. Dia akan menemui Diraja Sudibyo setelah mereka ‘janji’ akan bertemu hari ini di Plaza Indonesia. Ini juga merupakan peringatan Ambar terakhir kepada pria itu agar tidak mengusiknya lagi setelah ini. Ibu menatapnya penuh tanya sampai akhirnya berceletuk ringan, "Ibu kira kamu mau bertemu pacarmu," ujar ibu santai. Ambar langsung menyanggahnya, "bukan Bu! Aku nggak punya pacar! Mana sempat mikirin begitu!" kilah Ambar. Ibu hanya menatapnya dalam diam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Jangan pulang malam-malam, ya!” ujar Ibu yang dibalas oke olehnya. “Iya, Bu. Ketemunya juga sebentar, kok.” Ambar menambahkan. Dia akan membuat pertemuan ini begitu singkat karena dia malas sekali bertemu dan berinteraksi dengan pria yang jauh lebih tua dari dirinya. Bertemu hanya berdua pula! Setelah izin dengan ibu dan bapak, Ambar pergi menuju salah satu mall elit di Jakarta dengan bantuan ojek online. Dia hanya memakai kaus hitam lengan pendek dengan celana jeans dan sepatu converse-nya. Rambutnya sengaja diikat kuda untuk alasan kepraktisan, dan wajahnya benar-benar make up free. She doesn’t want to impress anyone, makanya hari ini dia benar-benar datang ke mall elit tersebut tanpa persiapan matang. Sampai di sana, Ambar mengecek kembali ponselnya dan sudah ada pesan dari nomor yang sengaja tak disimpan, namun Ambar sudah dapat menebak siapa gerangan yang mengirimkan pesan itu. [Saya sudah di Starbucks.] Ambar melengos membaca pesan tersebut. Setelah bertanya kepada security di mana letak kedai kopi waralaba tersebut, Ambar berjalan dan masuk ke dalamnya. Wangi kopi yang khas menyeruak masuk indra penciumannya, dan dia mengedarkan pandangan mencari di mana Diraja berada. Benar, pria itu sudah duduk di sebuah set kursi sofa yang tersembunyi dan sepertinya belum sadar kalau Ambar telah tiba. Dia langsung duduk di hadapan Diraja tanpa disuruh dan bersedekap seraya menatap Diraja dengan tatapan penuh curiga. “Langsung aja, Mas Diraja. Nggak perlu basa-basi, karena saya nggak punya banyak waktu,” ujar Ambar dengan cepat. Di sudut matanya dia tahu beberapa pengunjung melirik ke arah mereka dan bahkan ada beberapa wanita yang dua kali menengok ke arah mereka. Seakan memastikan pemandangan yang mereka lihat di kedai kopi ini. Diraja mengangkat wajahnya dan menatap Ambar dengan tatapan tajamnya. Mungkin saja itu efek alisnya yang tebal, namun Ambar tidak takut sama sekali dan justru menatap pria itu balik, setengah menantangnya. "Mau minum apa?" Diraja memilih tidak menanggapi ucapan Ambar dan bertanya hal lain. Ambar menggelengkan kepalanya, dia tak ingin berbasa-basi. "Nggak perlu, langsung saja kita bicara sekarang," Ambar menekankan sekali lagi. Namun Diraja tentu saja bukan lawan yang sepadan bagi Ambar yang masih bau kencur. Pria itu justru menyandarkan tubuh tegap atletisnya ke kursi dan mengangkat sebelah alisnya, seakan menantang Ambar untuk melakukan hal yang lebih ekstrim. “Aku rasa kamu nggak suka kopi, so Matcha frappe or something girly drinks, perhaps?" ejek Diraja yang membuat Ambar semakin meradang. “Jadi mau bicara tentang apa? Saya risih duduk di sini bersama kamu, Mas Diraja. Banyak orang yang memperhatikan kita, jadi lebih baik kita selesaikan permasalahannya secepat mungkin!” Ambar menghiraukan pertanyaan Diraja sekali lagi. Dia sungguh-sungguh tak ingin terjebak dalam permainan Diraja yang seperti ini. Dan seperti berbicara dengan tembok, Diraja kembali mendiamkan ucapan Ambar dan memilih untuk beranjak dari duduknya. "Tunggu sebentar, saya butuh kopi. Makanya saya ajak kamu ke sini." Tanpa menunggu jawaban Ambar, Diraja pergi ke counter dan mulai memesan kopinya. Meninggalkan Ambar yang terbengong-bengong di kursi. Dengan diam-diam Ambar memperhatikan sekeliling. Benar, ini semua bukan perasaan Ambar semata. Dia yakin banyak yang memperhatikan dirinya dan Diraja. Ambar mengernyitkan dahinya. Apa mungkin Diraja seterkenal itu, sampai-sampai banyak orang yang mengenali pria itu dan membuatnya jadi pusat perhatian? Rasa tak nyamannya semakin meningkat ketika seorang pria melewati meja Ambar dan menyerahkan secarik kertas kepadanya. Ambar mengernyitkan dahinya, menatap pria asing yang berlalu yang tak lupa mengedipkan matanya kepada Ambar sebelum akhirnya pergi dari tempat ini. Dia meraih secarik kertas tersebut, dan di sana tertulis nomor telepon dengan beberapa untai kata yang membuat Ambar menjadi emosi! 'Call me, Aku bisa kasih penawaran lebih baik dari om kamu, kalau kamu mau jadi sugar baby-ku.' Ambar terkesiap saat membacanya! Astaga jadi selama ini orang-orang melihat Ambar dan Diraja lalu segera mengambil kesimpulan kalau dia seorang sugar baby! Belum sempat Ambar beranjak dan mengejar pria mesum itu untuk dia maki-maki sepuas hati, Diraja tiba di meja mereka dan menghalau langkah kaki Ambar. "Mau ke mana?" tanya Diraja dengan kaku. "Ck! Lepasin!" Ambar meronta dalam pegangan Diraja. Pria itu kemudian menaruh cup holder yang berisi dua cup minuman ke meja dan kedua tangannya meraih lengan Ambar. Meremasnya agar Ambar kembali fokus kepada Diraja. "Kenapa?" tanyanya dengan tajam. "Dari tadi sudah saya bilang, kan! Saya nggak nyaman bicara di sini sama kamu. Sekarang ada yang sampai kasih nomor teleponnya dan mikir kalau saya jadi sugar baby yang lagi jalan sama omnya!" ucap Ambar cukup keras yang akhirnya membuat beberapa pengunjung menoleh penasaran dan melempar senyuman mengejek ke arahnya. Diraja akhirnya mengendurkan pegangannya, dan mengambil cup holder di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan Ambar. Mereka mulai keluar dari Starbucks dan berjalan ke dalam area mall sebelum akhirnya Ambar melihat arah pergi mereka menuju apartemen privat yang memiliki akses dengan mall ini. "Tu... tunggu dulu! Kita mau ke mana?" tanya Ambar di tengah kepanikannya. "Katanya kamu nggak nyaman dilihat banyak orang, kita bicara di tempat saya saja." Diraja kembali 'menyeretnya' hingga mereka berdua melewati security check dan masuk ke dalam private lift yang langsung naik menuju unit apartemen milik Diraja. Ambar menghela napas kesal. Seharusnya tadi dia berontak saja dan membuat keributan agar tidak dibawa ke ruang pribadi Diraja. Lihat saja, kalau pria itu macam-macam, dia akan tendang bagian paling privat pria itu sampai tak berkutik!