TERPERANGKAP GAIRAH ALAM GAIB
Bab 1 Koleksi Video Porno

"El... Elfira?" Ia adalah seorang anak kuliahan yang memiliki watak pemalas dan lebih menyukai hal-hal ketenangan. Lihat saja, hari Minggunya hanya di gunakan untuk bersantai dan lesehan menghabiskan waktu sendiri di dalam kamar. "Kamu ini lagi ngapain ajah sih El? Ibu banyak pesanan ini, ayo bantuin ibu?" Bu Mayang terus saja memanggil putrinya sambil terus menggedor pintu. Hampir saja suaranya habis karna terus-terusan memanggil Elfira yang sama sekali tidak menghiraukannya. Sedangkan di dalam kamar Elfira tengah asyik menonton film hot luar negri yang begitu ia gemari. Hampir setiap seri tentang sex ia koleksi seluruhnya. "Sssshhhh ahhhh ahhh ahhh, menggiurkan sekali. Aku sampai keluar banyak walaupun hanya menonton saja. Mmphh uhhh ahhhh..." Pasti setiap alur yang di lewatinya tak luput dari desahan yang keluar dari mulutnya. Mana mungkin gadis senormal dia tidak terangsang dengan hal kenikmatan duniawi yang banyak di buru setiap kalangan. Matanya terus saja terfokus pada adegan film yang menyajikan tubuh beda kelamin yang saling beradu. Bahkan berbagai gaya ia sudah kuasai semuanya. Untung saja koleksi video porno yang di milikinya sama sekali tidak di ketahui Bu Mayang. "Elfira.....denger ibu gak sih?" Suara lantang ibunya benar-benar mengganggu konsentrasi menonton film hot yang tengah di puncak menegangkan. Ia berdecak kemudian memakai kembali celana dalam yang sedikit melorot. Lalu mencuci tangan bekas di pakai masturbasi. "Apa sih Bu? Ini hari libur kan'?" "Mentang-mentang hari libur, kamu seenaknya saja diam diri di dalam kamar. Ayo bantuin ibu, banyak pesanan baju yang harus segera selesai hari ini El!" Bu Mayang mengoceh setelah cukup lama menunggu di luar kamar. "Males ah Bu, kan ini hari libur masasih aku harus ngerjain pekerjaan ibu di rumah!" Wanita paruh baya itu hampir saja kehilangan kewarasannya setiap meminta bantuan pada putri sulungnya. ***** Sore hari telah dilewati keduanya, Elfira di paksa oleh Bu Mayang untuk membantu pekerjaan nya dan akhirnya ia nurut walaupun dengan rasa terpaksa. Walaupun orang baru di kampung ini, tapi para tetangga sangat mengandalkan kemampuan Bu Mayang dalam hal jahit menjahit. Mereka sangat puas dengan hasil desain baju yang Bu Mayang buatkan. "Udah selesai kan Bu? Aku mau mandi dulu, badan aku udah kayak bawang mentah baunya!" Elfira beranjak dari posisi duduk di lantai. "Mandi? Gak boleh mandi menjelang Maghrib lho El, pamali!" Ucapan Bu Mayang membuat langkah gontai Elfira terhenti. "Ah ibu, percaya sama begituan. Jaman udah maju, ibu masih saja percaya sama yang namanya mitos!" "Kamu ini El, udah berapa kali ibu kasih tau. Seorang perawan, Jangan mandi menjelang Maghrib. Kamu terus ajah membantah." Sambil terus sibuk mengepak tumpukan baju, wanita paruh baya itu bisa menjalankan kebiasaan menasehati tanpa batas waktu. Sama seperti emak-emak pada umumnya. Elfira menutup pintu kamar dengan keras, ia begitu kesal pada ibunya yang selalu memberi nasehat berlebihan. "Bisanya cuman ngoceh doang! Buktinya, aku selalu mandi tiap menjelang Maghrib tapi gak ada kejanggalan apapun." Elfira melanjutkan kembali tontonannya yang sempat tertunda. Membuka kembali celana dalamnya kemudian melakukan masturbasi sampai mencapai orgasme. "Ahhh sshh ahhh ahhhhh....kapan aku bisa merasakan rudal sebesar itu masuk kedalam lubang jomblo ku ini? Rasanya benar-benar sudah tak tahan lagi. Mmhhh shhh Ahhh ahh...!" Lenguh Elfira menatap fokus rudal besar yang keluar masuk ke dalam vagina di adegan film. Bersamaan dengan itu, Ia memompa gerakan tangan lebih cepat, menyodok lebih dalam lagi sampai keluar cairan panas dari Dalam lubang intimnya. "Uuhhhh nikmatttt sekali... Mungkin jika menggunakan rudal sebesar itu akan semakin terasa lebih nikmat dari sekaranggghhhh... Ahhh." Elfira mengejang merasakan titik terpuncak kenikmatan. Tanpa ia sadari, waktu sudah menunjukan pukul 18.20. bahkan itu sudah lewat dari waktu larangan ibunya. "Yaampun, magrib sudah lewat. Ucapan ibu benar atau tidak ya?" Ia sedikit gelisah, tapi dengan cepat ia menepis fikiran buruk itu. Mengambil handuk yang tergantung di lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi. "Astaga!" Lampu yang menyala Tiba-tiba mati, membuat jantung Elfira terpompa dengan kencang. "Yaampun, pake mati lampu segala! Ada apa sih ini? Apa ibu lupa beli token listrik ya? Eh, tapi kan yang kemarin masukin voucher token itu aku." Tanpa cahaya yang menerangi ia memaksakan terus berjalan ke dalam kamar mandi. Sudah berapa kali barang berjatuhan tertabrak oleh nya. "Susah banget sih! Kayaknya aku harus pinjam dulu seratus agar cahaya lampu tidak terputus!" Bathub kosong sudah penuh dengan air dingin di dalamnya. Elfira melepas handuk yang melilit tubuhnya. Karna tubuhnya sudah lengket dan beraroma khas air kenikmatan, mandi di kegelapan pun harus terus berlangsung. Seluruh tubuh Elfira masuk kedalam bathub mandi tanpa merasa bersalah karna tidak menuruti larangan ibunya. Perlahan ia menggosok kaki, lengan dan area ber daki lainnya. "Hah, cahaya apa itu tadi?" Kelibat cahaya lewat di hadapannya. Tapi ia tidak menghiraukan, mungkin saja itu hanya sebuah kilat yang menembus jendela kaca. Tanpa ia sadari ada sesuatu yang menjalar ke tubuhnya, meremas-remas payudara besar yang teronggok di dada. Rasa nikmat dari sentuhan sensual yang entah dari mana asalnya menggelora di dalam dirinya. Elfira belum sadar dengan apa yang di alaminya sekarang. Ia malah semakin menggelinjang kenikmatan. "Ahhhh. Ternyata tanganku ini masih belum puas menjelajah." Ia menganggap gerakan itu terjadi oleh ulahnya sendiri, sedangkan tangannya masih menggenggam busa sabun yang menempel di kakinya. ***** "Yaampun Elfira, bangun El? Kamu kenapa malah tidur di kamar mandi sih?" Bu mayang sangat terkejut mendapati putrinya memejamkan mata di dalam bathub kosong. "Kamu ini keras kepala banget sih El! ibu sudah melarang kamu untuk mandi menjelang Maghrib, tapi kamu malah mandi selarut ini? Lihat El, ini sudah pukul sepuluh malam!" Elfira yang masih di ambang kesadaran hanya diam dan celengukan ke sana kemari seperti orang kebingungan. Tubuhnya terasa linu seperti sudah di pukuli banyak orang. "Cepetan pakai pakaian kamu! Ibu sudah buatkan makan malam di dapur!" Bu Mayang melengos meninggalkan Elfira yang masih terduduk di dalam bathub. Ia meremas setiap persendian dan sesekali terlihat mengernyit kesakitan. "Awww, kenapa rasanya sakit sekali?" Membaringkan tubuh di atas kasur dengan keadaan masih telanjang bulat. Mengingat ingat kejadian yang di alaminya tadi sore. "Aduh perih!" Semakin banyak keluhan yang di rasakan olehnya, bahkan area intimnya sedikit membengkak seperti sudah di jamah oleh beberapa rudal besar. **** "El, ibu mau anterin baju ke pemiliknya dulu ya? Kamu jaga rumah sebentar!" Wanita paruh baya itu begitu cekatan dalam menjaga kepercayaan para pelanggannya. Tentu saja ini semua demi putri sulungnya yang masih membutuhkan banyak biaya, sekaligus menyambung hidup. Ia harus menjalani tugas sebagai ibu sekaligus ayah karna suaminya telah meninggal karna kecelakaan kapal laut. Ya, suami Bu Mayang merupakan mantan nahkoda kapal laut. Dan naasnya kapal yang di naiknya karam karna di terjang ombak dahsyat. Saat itu, usia Elfira masih balita. Ia harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup dan sekaligus menjaga putrinya. "Jangan lama-lama ya Bu! Aku harus berangkat kuliah bentar lagi!" "Iya, lagian ibu cuman nganterin beberapa pesanan ajah kok, Gak semuanya!" Elfira masuk kembali ke dalam kamar. Ia masih memikirkan kejadian semalam. Apa yang telah membuatnya sampai tertidur pulas di kamar mandi? Bahkan tubuhnya mendadak sakit semua.

Bab 2 Kejadian Aneh Yang Mulai Dirasakan

"Elfira! Kemana ajah sih loe? Hampir ajah loe telat masuk kelas pagi!" Dinar dan Sira menyambut kedatangan Elfira dengan pertanyaan. Mereka teman terdekat nya dan memiliki hobi yang sama yaitu mengoleksi video porno. Bisa di bilang sahabat seperjuangan yang selalu susah senang bareng. Bahkan bulan yang lalu hampir saja ketiga kawan itu kena skors karna tidak menyelesaikan tugas skripsi dari dosen killer nya. Untung saja masih ada keringanan bagi mereka bertiga untuk menyelesaikan tugas dalam waktu singkat hari itu juga. "Biasa lah, namanya juga anak baik. Harus bantu nyokap dulu sebelum berangkat kuliah!" Celetuknya. Elfira beralasan terlalu tinggi sampai-sampai membuat Dinar dan Sira hampir berguling-guling dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. "Bacot doang lu! Setahu gue, teman silent gue ini, anti-anti ribet dalam hal penurut. Ia nggk sih?" "Yup, benar sekali." "Dah ah, gue lagi males debat konvensi sama loe pada. Gue cabut ke kelas duluan, ya!" Elfira bergegas menuju ruang kelas meninggalkan kedua bidadari tak bersayap itu. Rasanya setelah mendapat kejadian aneh tadi malam membuatnya hilang gairah. Hawa dingin yang di rasakan membuat dirinya hanya ingin terus bersantai dan mendapat ketenangan. "El, kebiasaan benget sih loe! Kita udah nungguin loe lama-lama di depan. Orang yang di tunggu nya malah nyelonong main masuk ajah, gak ngajak-ngajak!" "Yah elah, buat apa juga di perdebatin sih! Kan sekarang kalian udah ada di kelas juga kan!" Selalu ada cara untuk memenangkan perdebatan di konversi meja bundar versinya sendiri. Sergahan Elfira membuat keduanya garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak terasa gatal. Kelaspun di mulai, Elfira memilih duduk di kursi paling pojok di belakang. Menatap fokus pada dosen yang sedang menerangkan pembelajaran hari ini. "Ehelfiraaaaa......!" Kefokusan matanya terganggu dengan suara samar seorang pria yang memanggil namanya. Pelan tapi terasa begitu jelas di gendang telinganya. Ia menegang, sambil terus menengok ke kiri dan ke kanan. 'suara apaan itu tadi? Kayak ada yang panggil nama gue!'. Elfira melirik pada Dinar dan Sira yang terlihat hanya fokus memperhatikan pak dosen. Segera ia memikirkan hal-hal ketenangan untuk menepis rasa gelisah dan takutnya. Ia memegang tengkuknya yang tiba-tiba meremang, hawa dingin menyeruak di sekitarnya. Padahal ruangan ini sama sekali tidak memakai AC, hanya ada kipas angin di pertengahan langit-langit dan itupun tidak menyela. "Hayooooo..... Bersenang-senang..... Laghiiii dengan khuuuuu...... Elfhiraaaaaaa....." Bisikan tadi kembali terdengar di telinganya, semakin melengking. membuat ia benar-benar sudah tidak bisa fokus menangkap penjelasan di depan. 'rese banget tuh yang ngerjain gue! Tapi, siapa yang bikin suara-suara aneh kayak gitu? Gak ada kerjaan banget tuh orang!' ia menggerutu dalam hatinya, sambil terus menahan diri dari rasa takut. "Kurang ajar!" Ia merasakan sesuatu yang menyapu paha mulus nya. Tapi nihil, tidak ada sama sekali orang lain yang bersembunyi di bawah meja nya. Kejadian aneh yang mulai di rasakannya membuat fikirannya traveling mengingat ucapan ibunya. Dan kebetulan sekali malam itu ia tiba-tiba di pergoki Bu Mayang sedang tertidur di bathub. 'aneh banget! Ah, mungkin itu hanya perasaan gue ajah kali ya! Kan kemarin gue nonton video sex horor, jadi gue masih kebawa suasana.' Elfira mencoba tetap berfikir jernih, mana mungkin sebuah mitos bisa terjadi di kehidupan yang serba maju di jaman sekarang. "Kalian silahkan kerjakan tugas dengan baik, jangan sampai ada yang bolos mengumpulkan tugas dari saya!" Mata elang pak dosen melirik Elfira. "Itu berlaku untuk kamu Elfira!" Ucap nya dengan lantang. "Saya pak!" "Iya kamu! Kan yang suka beralasan setiap ada tugas dari saya itu hanya kamu!" Dosen itu mempermalukan Elfira di depan teman-temannya. Bagaimana tidak, semua orang yang di dalam kelas menertawai Elfira saling bersahutan. ****** "Ngeselin banget tuh dosen killer, bisa-bisanya mempermalukan anak rajin kayak gue di depan semua siswa!" Elfira ngedumel di dalam kantin, berbagi penderitaan yang di rasakan hati polosnya. "Hahahah, El! Elo hari ini aneh banget tau gak!" "Aneh apaan sih?" "Iya, hari ini loe kelihatannya hilang gairah gitu! Apalagi tadi waktu di kelas, biasanya juga selalu fokus kalo menghadapi dosen killer! Lha, ini malah enjoy staying sambil merebahkan kepala di atas meja!" Sebiadab apapun seorang sahabat, kadang kala omongannya ada benarnya juga. Elfira kembali mengingat kejanggalan tadi. "Tadi kayak ada yang manggil-manggil nama gue di kelas! Jadi, gue tiba-tiba gak bisa fokus!" Elfira berbicara dengan tatapan serius pada keduanya. "Ah, banyak banget sih alasan loe El! Gue tau, akal bulus loe kalo lagi beralasan!" "Iya El! Kayak kita baru berteman satu hari ajah!" Sira menimpali ucapan Dinar sambil melahap spaghetti bolognese. "Loe pantes banget deh ngedapetin penghargaan, karna bisa berakting dengan sempurna kayak tadi." Kedua teman laknatnya terbahak memojokkan Elfira. "Yasudah kalo loe gak percaya, gue cabut duluan!" "Mau kemana loe El? Gitu ajah marah!" "Pulang." Singkatnya sambil beranjak dari duduknya. "Eh, gak asik banget sih loe El! Bukannya kita bakalan ke party ya sekarang! Dan kita bakalan ngajakin Kelvin, Diandra dan juga Bara ke sana! Loe inget gak sih?" "Party apaan sih? Apa loe bilang tadi? Kita mau ngajakin ketiga cowok culun itu, males benget gue" Sejenak Elfira terdiam membetulkan tas nya yang sedikit melorot. Kedua temannya saling pandang penuh keheranan dan tanda tanya. Bagaimana mungkin Elfira bisa beranggapan seperti itu, padahal Kelvin adalah pria yang tengah di incarnya baru-baru ini. "Loe serius sama ucapan loe barusan El? Kelvin cowok culun? Bukanya loe lagi ngejar-ngejar dia ya sekarang?" "Hah! Gue ngejar-ngejar Kelvin si cowok krempeng itu? Gak mungkin banget cewek semok kayak gue mau sama dia Din, ngarang ajah lu!" Elfira berdecak, kemudian tersenyum kecut sambil menyilangkan kedua tangan. "Udah ah, gue balik dulu! Bye..." Sira dan Dinar kembali saling tatap, mereka benar-benar tidak habis fikir pada Elfira. Seperti bukan Elfira yang mereka kenal dulu. "Loe ngerasain hal aneh gak sih sama dia?" "Iya, aneh banget tau gak" "Kelvin yang selalu menjadi incaran para cewek-cewek di sini, di bilang cowok kerempeng! Bulshitt banget." Dinar meminum jus jeruk yang sedari tadi hanya di anggurin. "Padahal Elfira ngincar dia kan' karna tampan, dan tubuh sixpack nya! Dan yang paling diinginkannya adalah tonjolan yang selalu tercetak dengan jelas di selangkangan Kelvin kalo lagi pake celana jins." Sira bercerita dengan gamblang pada Dinar. "Apa jangan-jangan Elfira kena kutukan?" Ceplos Dinar dengan nada tinggi mengejutkan. Dasar teman calon penghuni neraka, bisa-bisanya membicarakan sahabat sendiri di belakang. Memang namanya teman kadang begitu suyulit lupakan Parhan apalagi Parhan baik. Tapi, sebenarnya bukan itu maksud dan tujuan dari mereka berdua. Keduanya khawatir pada Elfira yang tiba-tiba sedikit hilang kewarasan.

Bab 3 Tidak Mungkin, Itu Hanya Halusinasi

Di tengah rumah yang cukup luas dan tidak begitu banyak barang. Elfira setengah tengkurap memandangi layar laptop. Bokong besarnya yang tercetak dengan jelas, begitu menggiurkan jika di sodok dari belakang. Menonton video hot sambil setengah tengkurap. Tidak seperti gadis pada umumnya yang suka bermain ke mall atau sekedar ke salon untuk mempercantik diri. Meskipun demikian, kecantikan yang di milikinya tidak kalah dati aktris bollywood papan atas. Tubuh sintalnya selalu di balut mengenakan dres mini yang mengekspos pahanya yang mulus tanpa bercak sedikitpun. Membuat, setiap pria yang melihatnya langsung meneteskan air liur, bahkan air sperma pun bisa sampai menetes karna saking menggiurkannya. "El, ada temen kamu di bawah! Coba kamu temuin mereka?" Bergegas ia menutup laptop sebelum bu mayang semakin mendekat. Bisa gawat jika ibunya mengetahui kelakuan putri sulungnya yang ternyata budak seksual. Bisa-bisa semua fasilitas di ambil kembali oleh bu mayang karna rasa kecewa yang teramat. "I...iya bu. Emangnya siapa dia?" "Ibu gak kenal, meskipun sering kelihatan main sama kamu waktu di rumah kita yang dulu, tapi kan ibu belum pernah kenalan sama mereka el!" Tidak salah lagi, pasti yang di maksud bu mayang adalah Dinar dan Sira. Tapi untuk apa mereka datang di jam sore seperti ini? "Halo, el!" Serempak dinar dan sira menyapa elfira yang baru saja tiba di lantai bawah. "Mau ngapain sih, loe pada ke rumah gue? Ini udah sore juga kan?" "Kan kita mau ke party,el! Masak sih, loe lupa?" "Yup, itu Kelvin udah nungguin kita El! Loe cepetan ganti pakean yang lebih hot lagi, ok?" Sira sedikit berbisik, takut Bu Mayang mendengar ucapan nya. Sedangkan Elfira hanya diam tanpa ekspresi apapun. Dia sama sekali tidak pernah ingin menghabiskan waktu di keramaian seperti party. Pasti di sana akan banyak orang-orang dan juga suara musik yang mengalun keras. "Males gue. Mending kalian ajah gih yang pergi!" "Lo kenapa sih El? Sejak kapan loe nolak yang namanya party? Semenjak loe pindah ke rumah ini, kelakuan loe itu aneh tau nggk?" Kedua temannya bersikukuh untuk membawa Elfira ke partai. Rasa heran semakin membeludak di fikiran keduanya. Tanpa menunggu jawaban apapun lagi dari mulut Elfira, Sira dan Dinar segera menyeret tubuh Elfira kembali ke kamarnya. "Ayo cepetan ganti pakaian loe El, kita nunggu di sini!" Karna memang sudah sangat akrab dengan Elfira, kedua temannya itu sama sekali tidak merasa canggung lagi jika berbuat hal senyeleneh apapun di rumah nya. Sudah seperti sodara kandung yang telah di takdirkan untuk terus bersama. Di dalam kamar begitu bising dengan perdebatan ketiga bidadari tak bersayap itu. Membuat bu mayang yang baru saja lewat di depan kamar, sedikit geram. "Ada apa di dalam? Kenapa kalian begitu berisik sekali, seperti sedang melaksanakan demo di gedung kejaksaan saja?" Ucapnya dengan suara lantang sambil mencoba membuka pintu kamar. "Elo berisik banget sih, jadi nyokap gue marah." "Maaf El, kan gue cuman pengen loe cepetan bersiap-siap! Itu Kevin pasti sudah kesel nungguin kita?" Suara mereka langsung mengecil menciut dengan tubuh yang sedikit menyender pada tembok. "Buka El?" Bu Mayang masih penasaran dengan keadaan di dalam kamar. Semakin menggedor pintu dengan kencang. "Kenapa Bu?" "Harusnya ibu yang nanya sama kalian? Kalian kenapa ribut di dalam kamar?" Tanya Bu Mayang sambil berkacak pinggang. "Gini Tante, kan kita banyak banget tugas yang harus di selesaikan. Tapi Elfira malah menye-menye! Jadi kami sedikit kesal!" Dinar beralasan. Elfira sedikit melotot pada teman laknatnya itu. "Benar seperti itu El?" Bu Mayang menatap putrinya dengan penuh tanda tanya. "I....iya Bu," Elfira terpaksa harus membenarkan ucapan temannya. Meskipun hatinya merasa begitu bersalah. "Yasudah. kalian jangan terlalu berisik, sebentar lagi mau magrib. Ibu mau ke rumah Bu Sinta dulu, untuk menanyakan kembali pesanan bajunya!" "Iya Bu" "Eh, tunggu Tante?" Langkah Bu Mayang terhenti, dengan panggilan dari Dinar. "Kita akan ke rumah Sira untuk mengerjakan tugas skripsi malam ini. Tante gak keberatan kan, kalo Elfira ikut sama kita?" Ada sedikit keraguan yang mengganjal di benak Bu Mayang. Kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang di tutupi kedua gadis remaja itu. Bahkan Elfira juga terlihat gelisah gundah gulana. "El? Apa kamu mau ikut sama mereka?" Bu Mayang bertanya dengan nada lembut. "Kalo ibu mengijinkan!" Jawab Elfira singkat. Ia paham, sekarang putrinya sudah tumbuh besar dan memiliki dunianya sendiri. Tapi sebagai seorang ibu yang hanya mendidiknya seorang diri tanpa dampingan suami tentu saja ia begitu takut, jika Elfira akan terjerumus pada dunia anak muda jaman sekarang. "Yasudah! Tapi, jangan pulang terlalu larut, ya?" Setelah mendapat izin dari Bu Mayang. Ketiga sodara beda induk itu kembali masuk kedalam kamar. Tadinya Elfira ingin mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke party, tapi karna hujan di tambah hawa dingin membuatnya mengurungkan niatnya. "Elfhiraaaaa...... Aku menunggu mu....... Khemarilahhhhh......." Lirih desahan seorang pria yang di dengar waktu di kampus kembali mengganggu fikirannya. Ia menoleh kebelakang mencari asal suara. Tapi sama sekali tidak ada orang di sana. Ia kembali fokus mencari baju ganti. Dan lagi, " uhhhhh sshhhh ahhhhh sshh ahhh... Aku sudah tak tahan elfhiraaa..... Kemarilahhhh....!" Ia kembali mendengar desahan yang semakin meresahkan gairahnya. Apa mungkin itu Kelvin? Tapi, Mana mungkin Kelvin berani masuk ke dalam kamarnya. Wushhhhhh..... Sebuah bayangan hitam melintas di hadapannya masuk kedalam kamar mandi. "Apa itu? Dinar? Sira? Kalian berdua lemparin apa barusan?" Ia berteriak-teriak memanggil kedua temanya.. Tapi tidak ada mereka di sana. Ia memegang tengkuknya yang tiba-tiba mulai meremang. Ini adalah kejanggalan kedua kalinya yang ia rasakan. Memberanikan diri untuk melihat sosok yang terlempar ke dalam kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang ketika pintu kamar mandi hampir terbuka sepenuhnya. Keringat dingin bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. "Arghhhhhh sshhh ahhhh.,.. khemarilahhh Elfhiraaaaa....." Suara desahan itu semakin menjadi, dan bersamaan dengan itu lampu kamar mandi langsung mati. "Astaga, aku harus keluar dari sini! Ini bukan mati lampu biasa!" Ucapnya lirih mencari keberadaan pintu keluar. Bughhhh.... Pintu itu di tutup dengan keras dengan hembusan angin yang mendesir kencang. "Akuuu.... Akan memuaskan kamuu.....kembali....elfhiraaa....." Desahan itu benar-benar membuatnya hilang kewarasan. Area intimnya berdenyut, meronta-ronta ingin mendapat gesekan dari rudal besar yang keluar masuk dari sana. Lengannya seperti bergerak sendiri mencabik-cabik dres mini yang membalut tubuhnya. "Tto....tolong....ahhhhh...." Susah payah ia mencoba berteriak, suaranya seakan tertahan oleh sensasi bergairah dari sesuatu yang menjalar di tubuhnya. Kekar dan sangat licin seperti tubuh berotot yang terkena oli. Meremas payudara besarnya, disusul dengan lumatan di sekita tengkuk menyertakan aliran aneh yang semakin meningkatkan hyper sensual. Cahaya lampu dari arah luar, remang-remang menampakan tubuh tinggi perkasa tepat di hadapannya. 'tidak mungkin, itu hanya halusinasi ku saja! Kelvin? Apa mungkin dia adalah Kelvin yang mengendap-endap masuk ke dalam kamarku?'

Lanjut baca