Crack! Pranggg! Pecahan kaca berhamburan di lantai. "Fiona, hentikan!" ucap pria paruh baya dengan nada tegas. "Aku tidak akan menghentikan semua ini sampai Ayah menarik kembali apa yang Ayah katakan. Kau tahu, Ayah! Aku tidak suka dengan leluconmu ini!" teriak seorang gadis yang masih berusia 18 tahun. Dia terlihat sangat marah. Jelas saja, dia begitu marah ketika baru saja bangun tidur dari mimpi indahnya semalam. Namun, saat bangun, dia harus mengalami mimpi buruk. Masa depan yang Fiona bayangkan akan begitu indah setelah lulus sekolah ternyata sia-sia. Dia harus menikah dengan seorang pria yang terpaut umur jauh lebih tua darinya. Bahkan Fiona tidak mengenal pria itu. "Ayah tidak bisa menarik apa yang Ayah katakan sebelumnya. Kamu memang telah resmi menikah dengan Tuan William Stefanus Thene. Ayah telah menikahkan kalian berdua semalam. Sekarang, kau pergilah ke rumahnya dan tinggal di sana menjadi istrinya," ucap Fawzi Sanjaya, ayah Fiona, dengan tegas. “Bagaimana bisa Ayah menikahkan aku dengannya tanpa persetujuanku?” teriak Fiona penuh dengan emosi. “Ayah tidak memerlukan persetujuan darimu,” jawab Fawzi dingin, membuat raut wajah Fiona terlihat kecewa. Fiona tidak habis pikir dengan apa yang Ayahnya katakan. Bagaimana mungkin dia bisa menikahkan dirinya tanpa persetujuan? Bahkan, Fiona pun tidak tahu kapan Ayahnya menikahkan dirinya semalam. Sekarang, Fiona berdiri menatap bangunan megah yang menjulang tinggi, mungkin sekitar empat atau lima tingkat, dengan luas yang tidak dapat dihitungnya. Ini adalah kediaman Stefanus Thene. Fiona begitu anggun berjalan, meskipun penampilannya sangat tidak pantas untuk gadis remaja sepertinya. Dia mengenakan dress merah dengan tali pengikat di belakang lehernya, memperlihatkan bagian punggungnya, serta heels merah yang dipadu dengan stocking jaring. "Nyonya, Tuan sedang menunggu Anda di kamarnya," kata pembantu itu, mencoba menunjukkan jalan menuju kamar Tuannya. Fiona sama sekali tidak tertarik untuk menjawab. Entah berapa banyak pembantu yang berbisik-bisik membicarakan penampilan Fiona saat ini. Namun, dia tidak peduli. Orang yang seharusnya berada di tempat ini bukanlah Fiona, melainkan Azalea Liona Fawzi. Gadis itulah yang seharusnya berada di kediaman Stefanus Thene. Namun, Azalea telah melarikan diri dengan selingkuhannya, dan sekarang Fiona yang harus menanggung semua konsekuensinya. Jika tidak, perusahaan ayahnya akan hancur begitu saja. Sudahlah! Lupakan soal itu. Sekarang Fiona akan melakukan rencana agar pria itu segera menceraikannya. Lebih cepat lebih baik, bukan? Brak! Fiona menendang pintu kamar yang nantinya akan ditempatinya, dengan salah satu kaki. Dengan penuh percaya diri, dia masuk ke dalam kamar tersebut. "Ah!" Fiona terperanjat kaget melihat wajah tampan yang begitu sempurna, seperti patung yang memiliki pahatan yang begitu indah, kini berada tak jauh darinya. "Oh... Baby, kau sangat tampan sekali. Mungkin aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia ini yang dinikahi olehmu, jika kau tidak lumpuh!" kata Fiona tanpa basa-basi, langsung menghina fisik William. Walaupun Fiona tidak mengenal wajah suaminya, pembantu sebelumnya telah menyebutkan bahwa Tuannya menunggu di dalam kamar, maka pria itu adalah suaminya. Fiona cukup terkejut melihat pria yang menjadi suaminya ternyata lumpuh. Sekarang Fiona mengetahui alasan kakaknya berselingkuh dan meninggalkan calon suaminya. Fiona sama sekali tidak mengenal William Stefanus Thene, pria yang telah menjadi suaminya itu. Meskipun kakaknya seharusnya menikah dengan pria itu, Fiona tidak pernah melihat wajah calon kakak iparnya. Fiona baru saja kembali dari Italia beberapa hari yang lalu, berniat menghadiri acara pernikahan kakaknya karena ibunya tidak dapat hadir. Setelah bercerai dengan Ayahnya, Ibunya memilih menetap di Italia bersama Fiona, sementara Azalea tinggal di Indonesia bersama Ayahnya. Fiona terpaksa datang karena Ayahnya menekannya untuk hadir di hari pernikahan kakaknya. Namun, malah Fiona yang sekarang harus menjadi pengantin pengganti. Fiona sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan menikah di usianya yang masih belasan tahun. William menatap Fiona dengan datar, seakan tidak tertarik dengan gadis di depannya. Kata-kata yang diucapkan Fiona untuk mengejeknya tampak sudah biasa baginya. William tidak peduli dengan tingkah laku Fiona yang tidak pantas, namun wajah cantiknya mampu menarik perhatiannya. Ada sesuatu yang menggelitik di dalam hati William saat melihat wajah cantik Fiona, berbeda dengan mantan kekasihnya, Azalea. Saat mengingat Azalea, wajah William terlihat marah, rahangnya mengeras sampai terlihat dengan jelas. Fiona yang melihat perubahan mimik wajah William yang terlihat marah, tersenyum senang. Dia mengira William marah dengan perkataannya. Fiona berjalan perlahan mendekati William, tiba-tiba dia mengangkat satu kakinya yang masih menggunakan heels tinggi untuk menekannya pada dada bidang William dengan penuh percaya diri. William hanya diam tanpa bergerak sedikit pun dari kursi rodanya, memperhatikan gerak-gerik istrinya yang mungkin sangat keterlaluan. Meskipun William sudah bisa menebak maksud dan tujuan Fiona, dia memilih untuk mengabaikannya. Tingkah dan keberanian Fiona cukup menarik perhatiannya. Fiona tersenyum layaknya perempuan yang sedang menggoda. Bahkan William bisa melihat paha mulus Fiona yang terangkat di depannya. "Sayang, apa kau ingin sesuatu dari dalam tubuhku, sesuatu yang akan membuat kita mencapai puncak dengan penuh kehangatan? Tetapi sepertinya aku belum siap melakukannya. Aku masih belum lulus sekolah, dan sepertinya kau tidak akan mampu melakukannya dengan kakimu yang lumpuh. Mungkin salah satu bagian tubuhmu juga akan sama seperti kakimu!" ejek Fiona pada William yang hanya memperlihatkan wajah datar. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Fiona segera pergi dari kamar yang akan ditempatinya sebagai istri William. Fiona merasa lega saat berada di luar. "Huu… kenapa dia begitu tampan," gumam Fiona. Fiona merasa tidak mampu menahan keinginannya untuk memuji William. Namun, yang diinginkan Fiona saat ini hanyalah perceraian. Bagaimana pun caranya, mereka berdua harus berpisah. "Sekarang apa yang harus aku lakukan di sini? Aku tidak bisa membiarkan pria itu menyentuhku malam ini," gumam Fiona sambil berjalan menelusuri rumah mewah milik William. Fiona cukup khawatir William akan menyentuhnya malam ini. Sebagai pasangan pengantin baru, setiap orang pasti akan menunggu momen yang menggairahkan di malam pertama. Fiona tampak gelisah, tidak ingin kehormatannya direnggut oleh pria lumpuh. Meskipun William adalah suaminya, pernikahannya saat ini bukan keinginannya, dan dia tidak ingin memberikan haknya pada William. Fiona mencoba untuk tetap tenang dan berpikir lebih jernih. Sepertinya akan sulit bagi William untuk melakukan hal tersebut karena kondisinya yang lumpuh. Seulas senyum tercetak jelas di wajah Fiona. Fiona melanjutkan langkahnya dengan sedikit kebingungan saat mencari jalan menuju balkon di rumah William yang sangat besar. Karena ini kedatangannya pertama kali, sehingga Fiona beberapa kali tersesat dan harus berputar-putar untuk menemukan jalan yang benar menuju balkon, tanpa bantuan pembantu yang beberapa kali berpapasan dengannya. Setelah beberapa saat, Fiona berhasil menemukan tempat yang ditujunya.
Fiona yang sedang berada di lantai dua, tiba-tiba dikejutkan oleh suara seseorang yang ada di belakangnya. "Apa kau sedang menyebar pesona?" kata William, membuat Fiona terkejut. "Hah! Kau membuatku terkejut! Bagaimana jika aku terjatuh dari atas balkon ini?!" teriak Fiona dengan suara nyaring. Gadis itu benar-benar terkejut setengah mati karena dia sedang berusaha untuk meraih salah satu buah anggur yang menjalar di atas balkon. Tubuhnya tidak bisa menggapainya, sehingga Fiona mencoba naik ke atas kursi demi meraih buah anggur kesukaannya. Meskipun Fiona sudah memakan beberapa buah anggur itu langsung dari pohonnya, dia ingin meraih buah yang lebih tinggi dan lebih besar. William sama sekali tidak peduli dengan kata-kata Fiona. "Turun!" perintahnya, menyuruh Fiona untuk turun dari atas kursi. William, yang sebelumnya memperhatikan Fiona dari balik CCTV, sangat dikejutkan dengan tingkah istrinya yang seperti anak kecil. Meskipun William tahu bahwa istrinya masih sangat muda, ia khawatir gadis itu akan terjatuh. Sebelumnya, Fiona mencoba mengendap-endap seperti pencuri untuk mencuri buah anggur dan memakannya langsung dari pohon tanpa memperdulikan risiko jatuh dari balkon. Belum lagi pakaian seksi Fiona yang bisa saja terlihat dari lantai bawah oleh penjaga yang ada di sekeliling rumah Stefanus Thene. Hal itu membuat William datang untuk menyuruhnya turun. William bisa saja menyuruh pembantunya untuk menegur Fiona, tetapi pria itu lebih tertarik untuk menyuruhnya turun dengan caranya sendiri. Fiona dengan wajah cemberut, menatap ke arah buah anggur yang hampir saja bisa dimakan olehnya jika tidak dikejutkan William. Dengan terpaksa, Fiona hendak turun dari atas balkon. Matanya membulat saat melihat ketinggian dari atas, membuat kakinya gemetar dan kehilangan keseimbangan. "Ah…" Fiona teriak dengan mata terpejam dan bersiap untuk merasakan tubuhnya yang akan terjatuh. Pluk! Fiona terjatuh ke dalam pangkuan William yang duduk di kursi roda. Gadis itu masih saja terpejam dengan detak jantung yang berdebar kencang, merasakan seperti ada sesuatu yang aneh saat terjatuh dari ketinggian. Fiona mengira jika dirinya terjatuh, tetapi tidak merasakan sakit sedikitpun. "Berapa lama lagi kamu akan terus berada di atas pangkuanku?" bisik William di telinga Fiona. Tubuh Fiona menegang, dan dia membuka matanya melihat tubuhnya sendiri yang ternyata tidak terjatuh ke bawah melainkan ke atas pangkuan William. Dengan refleks, Fiona hendak berdiri, tetapi karena kakinya belum benar-benar tertatah dengan benar, Fiona malah kembali terduduk di atas pangkuan William. Mata William menyipit saat tubuhnya harus tertimpa dengan begitu keras oleh tubuh Fiona. "Ah! Maaf-maaf, aku tidak sengaja," kata Fiona lalu kembali berdiri dari atas tubuh William. Wajah William tampak tidak bersahabat, menatap Fiona dengan tajam. "Masuk!" William menyuruh Fiona untuk masuk. "Untuk apa aku masuk? Apa kau sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama kita?" Fiona berucap dengan nada suara yang berubah. Suaranya seperti dibuat-buat agar terdengar lembut layaknya wanita murahan yang sedang berusaha menggoda mangsanya. "Berbicaralah dengan benar!" William menyuruh Fiona berbicara dengan nada yang sebenarnya. Saat Fiona meminta maaf, suaranya begitu lembut dan mampu menggetarkan hati William. Selain wajahnya yang cantik, suaranya pun begitu enak untuk didengar, tidak seperti yang digunakan saat ini. "Kau menyukai suaraku?" Fiona berucap dengan suara aslinya sambil berjalan mendekati William. Saat langkah kakinya hanya tinggal dua langkah lagi, Fiona memutar tubuhnya sambil tersenyum. William berdecak melihat tingkah Fiona yang terus berusaha menggoda dirinya. Fiona terus berputar sampai kepalanya terasa pusing. Fiona berniat menggoda William dengan gerakan yang biasanya dilakukannya saat berolahraga, seperti gerakan pole dance. Namun, karena tidak ada tiang yang biasa digunakannya, dia hanya berputar seperti orang yang sedang menari. Akibat beberapa kali berputar dengan gaya menggairahkan, Fiona kehilangan keseimbangan tubuhnya, menyebabkan tubuhnya terhuyung ke depan. "Ah!" Brughh… Fiona terjatuh dan berlutut tepat di kaki William yang berada di depannya, membuat setengah tubuh Fiona berada di kursi roda yang diduduki William. Wajah Fiona hampir saja menyentuh bagian lain jika pria itu tidak menahan pundak Fiona. Fiona mendongak sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. "Hehe! Maaf-maaf, aku tidak sengaja, lantainya sangat licin!" Fiona berucap sambil hendak berdiri. Saat tangannya berusaha menahan kursi, kursi roda yang diduduki William sedikit bergeser. Fiona lagi-lagi menjatuhkan tubuhnya. William berdecak kesal dan langsung mengangkat tubuh Fiona ke atas kursi rodanya. William begitu mudahnya mengangkat Fiona, walaupun duduk di kursi roda. Tangan William begitu kuat mengangkat Fiona, membuat gadis itu cukup terkejut dengan tindakan William yang membawanya masuk ke dalam kamarnya. "Ah!" Fiona terkejut saat tubuhnya tiba-tiba dilempar ke atas ranjang. "Kau, jangan kurang ajar, ya!" ucap Fiona sambil menunjuk William, dengan satu tangan lagi menutupi tubuhnya. William mengabaikan perkataan Fiona, padahal dia sendiri yang sejak tadi terus bersikap menggoda. "Ganti bajumu." "Hah! Untuk apa aku mengganti bajuku? Apa kau ingin aku…” Fiona menatap William dengan gaya duduk dalam pose tunduk, sengaja dibuat-buat untuk mencoba menggoda William. Fiona tersenyum dengan begitu imut. Mungkin jika William tidak lumpuh dan tidak duduk di kursi roda, tingkah Fiona yang seperti ini akan membuatnya diterkam langsung oleh William, yang kini sedang meremas kedua tangannya, mulai kesal dengan tingkah Fiona yang terus berusaha menggodanya. 'Ck, gadis ini benar-benar minta diberi hukuman!’ William berucap dalam hati. "Kau tidak perlu repot-repot menggodaku, karena aku sama sekali tidak tertarik!" William berkata dengan datar, lalu kembali berbicara. "Ganti bajumu, walaupun aku tidak tertarik padamu, jangan merendahkan dirimu sendiri!" William berucap dengan begitu dingin lalu segera pergi dari hadapan Fiona. "Sial! Mana mungkin dia tidak tertarik padaku? Tapi ini cukup bagus untukku.” Fiona berbicara sendirian. Fiona segera berdiri untuk mengganti pakaiannya, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam di air hangat. Setengah jam kemudian, Fiona baru saja selesai keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang telah lengkap. Fiona mengenakan jeans pendek dan t-shirt. William, yang sedang mengerjakan beberapa pekerjaannya di atas meja kerjanya, tak sengaja melihat Fiona yang melintasinya begitu saja. William langsung menutup dokumennya. "Siapkan air hangat untukku," kata William sambil melihat ke arah Fiona yang kini menoleh ke arahnya. "Hah! Apa?" Fiona berpura-pura tidak mendengar dengan jelas perkataan William. "Kau harus memandikan suamimu ini!" ucap William dengan datar. Dengan kedua matanya yang terbelalak, Fiona tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pria itu baru saja memintanya untuk memandikannya, membuat Fiona cukup terkejut. "Apa kau sudah tidak waras? Aku tidak mau melakukannya," jawab Fiona dengan nada tegas, menolak permintaan William tanpa ragu. “Kamu harus memandikanku! Kau istriku sekarang,” balas William. Fiona memutar kedua bola matanya. "Ya, aku tahu, sekarang aku telah menjadi istrimu! Tetapi menikah denganmu tidak berarti aku harus menuruti pada keinginan anehmu itu," katanya dengan sinis. "Ini bukan tentang keinginan aneh, ini tentang tanggung jawabmu sebagai istriku! Sekarang siapkan air hangat,” desaknya.
"Hah! Tidak, aku tidak mau memandikanmu. Kamu bukan bayi, untuk apa aku memandikanmu? Kamu juga bukan mayat!" seru Fiona sambil langsung membekap mulutnya, memandang ke arah William yang memperlihatkan wajah tidak senang. "Ups!" 'Astaga, Fiona, kenapa kamu menyebutnya mayat? Lihatlah tatapannya seperti ingin menerkammu,' pikir Fiona dalam hatinya. "Kamu bicara apa tadi? Kemari!" ujar William sambil menggerakkan tangannya, menyuruh Fiona mendekat. "Euh… tidak ada, aku tidak bicara apapun! Jika kamu ingin mandi, aku akan memanggil salah satu pembantumu," Fiona hendak berjalan untuk memanggil pembantunya, tetapi William menghentikan langkah kakinya. "Cepat kemari!" Suara William mulai terdengar marah. "I'm sorry, baby! Perutku tidak dapat dikondisikan untuk saat ini, aku lapar dan harus segera pergi untuk makan," ucap Fiona berbohong, demi menghindari William, karena bagaimana mungkin dia memandikan pria itu. Fiona dibuat gelisah, dia sama sekali tidak menginginkan semua itu terjadi, akan sangat menggelikan jika dia melakukannya. Fiona memilih untuk pergi dari kamar William, namun suara yang begitu keras membuatnya terperanjat kaget. "Fiona!" Panggil William dengan begitu keras, saat melihat Fiona hendak pergi keluar. Fiona tidak menyangka, William akan secepat itu mengetahui namanya. Fiona yang sudah membelakangi William, meremas tangannya dengan begitu erat sambil menghela nafasnya, lalu membalikkan badan dengan senyum yang terpaksa di bibirnya sampai terlihat gigi putihnya itu. "Ya, ada apa? Rupanya kamu sudah tahu namaku," ucap Fiona mencoba berjalan satu langkah maju ke depan William. “Cepat kemari, atau dalam hitungan menit perusahaan ayahmu akan mengalami kerugian!” ancam William. Fiona merengutkan wajah cemberut dengan ancaman William. “Oh, baby, kenapa kamu sangat kejam sekali dengan ayah mertua sendiri! Kamu tidak perlu melakukannya, aku akan segera menghampirimu.” Fiona kembali menambah beberapa langkah untuk mendekati William, sampai jarak Fiona hanya tersisa beberapa langkah lagi dengan William yang ada di hadapannya. William berdecak kesal, dengan gerakan cepat pria itu telah berhasil menarik Fiona ke dalam pangkuannya, walaupun dia menggunakan kursi roda. Tangan William yang panjang, cukup mudah menarik Fiona yang hanya terhalang beberapa langkah darinya. “Hei… Apa yang kamu lakukan?” Fiona mencoba berontak, apalagi posisi mereka begitu dekat. “Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh para pengantin baru,” bisik William membuat tubuh Fiona menegang seketika. “Tidak-tidak! Aku-, aku belum siap melakukannya sekarang! Bagaimana jika lain kali saja,” Fiona mendadak gelagapan karena perkataan William. “Bukannya sejak tadi kamu menggodaku? Aku pikir kamu memang telah menginginkannya, jadi aku akan melakukannya padamu sebelum aku mandi. Sedikit olahraga sebelum mandi akan lebih baik untuk menambah kesehatan kakiku,” perkataan William membuat mata Fiona membulat. Fiona berpikir sangat keras untuk mencoba menolak permintaan William secara halus. Dia tetap bersikap tenang, tanpa memperlihatkan bahwa dirinya sedang ketakutan. ‘Pria itu lumpuh, Fiona, jadi tenanglah, dia tidak akan mungkin melakukannya padamu,’ Fiona berbicara pada dirinya sendiri. “Aku menggodamu bukan berarti aku menginginkannya. Lagi pula, saat ini aku sedang datang bulan, memangnya aku tidak boleh menggoda suamiku sendiri? Kalau memang tidak boleh, aku akan mencari pria lain. Lagi pula, pernikahan ini bukan keinginanku, aku masih kecil dan tidak seharusnya berbicara seperti itu padaku. Sekarang lepaskan tanganmu.” kata-kata yang diucapkan Fiona sungguh berani. Dia tidak peduli dengan perubahan mimik wajah William. Fiona segera berdiri dari atas pangkuannya. William terdiam mendengar perkataan Fiona dan melepaskan tubuhnya begitu saja. Fiona menoleh ke belakang sebelum beranjak pergi, “Kamu harus ingat baik-baik! Pernikahan ini bukan keinginanku, aku harap kamu mengerti, dan mulai besok aku ingin pergi ke sekolah. Kamu harus mengurus semua keperluanku, dan satu hal lagi, kamu tidak boleh banyak melarangku untuk apapun. Aku tidak suka banyak dilarang oleh siapapun, termasuk kamu, suamiku. Jika kamu tidak suka, maka ceraikan aku saja! Lagipula aku bukan wanita yang kamu inginkan,” ucap Fiona segera pergi. **** Fiona baru saja turun dari lantai atas dengan pakaian lengkap, memakai seragam SMA. William benar-benar menuruti apa yang Fiona katakan kemarin. Dia telah mengurus perpindahan sekolah Fiona ke sekolah barunya. Fiona melihat sekeliling ruang makan, tak ada sosok William di sana. “Pagi, Nyonya,” sapa beberapa pembantu dengan kepala menunduk. Fiona hanya diam tanpa menjawab sapaan pembantu tersebut, dan melewatinya begitu saja. Hingga mereka berbisik diam-diam di belakang Fiona. “Kalian, hobby sekali membicarakan orang lain!” Perkataan Fiona membuat para pembantu itu segera meminta maaf padanya. **** Di sekolah, saat Fiona baru keluar dari mobilnya, beberapa pasang mata terus tertuju pada Fiona yang membawa mobil keluaran terbaru. Sebelumnya, William telah menyiapkan mobil beserta sopir pribadi untuk Fiona, namun Fiona memilih membawa mobil itu sendirian. Gadis itu berjalan dengan percaya diri di koridor sekolah. Ada banyak pasang mata yang menatap kecantikannya. Fiona memakai pakaian cukup pas di badannya. Belum lagi rok sekolah yang terlihat sangat pendek dipakai, padahal sebelumnya William telah memerintahkan asistennya untuk membelikan baju yang sedikit kebesaran untuk istrinya itu. Namun, Fiona menyuruh pembantu untuk membelikan yang baru. Brugh! Seseorang yang sedang berlari dikejar salah satu temannya tidak sengaja menyenggol pundak Fiona, hingga gadis itu terduduk di lantai. “Maaf! Tidak sengaja,” ucapnya. Fiona menatap uluran tangan dari suara yang telah meminta maaf padanya. Namun, Fiona memilih berdiri sendiri dan pergi begitu saja melewatinya. Setelah insiden tidak sengaja di koridor, Fiona merapikan pakaiannya dan melangkah dengan percaya diri menuju kelas barunya. Saat dia memasuki ruang kelas, semua mata tertuju padanya. Dengan percaya diri dan penuh keberanian, Fiona berdiri di depan kelas. “Silakan perkenalkan dirimu pada teman-teman baru,” kata Pak Guru, meminta Fiona untuk memperkenalkan dirinya sebagai murid baru di depan kelas. “Namaku Fiona Isabella Fawzi, panggil saja Fiona,” ucapnya dengan suara yang terdengar angkuh. Beberapa siswa merespon sambutannya dengan anggukan, sementara yang lain terlihat penasaran dan berbisik-bisik dengan sinis memperhatikan penampilan Fiona yang memakai perlengkapan sekolah yang bermerek mahal, dari mulai jam tangan, tas, hingga sepatu yang dipakainya bukanlah barang biasa, melainkan barang limited edition. Fiona, silakan duduk di sebelah Adelia!” Pak Guru menunjuk ke bangku kosong di samping seorang gadis yang terlihat senang dengan kehadiran Fiona. Saat Fiona duduk di bangku kosong tersebut, beberapa teman barunya mulai mendekat dan memperkenalkan diri satu per satu. “Namaku Adelia Kristiana Putri, panggil saja Adel,” kata Adelia. “Sudah tahu!” jawab Fiona, lalu membalas uluran tangan dari salah satu orang yang duduk di bangku depan. “Aku Maya Sadega, panggil aku May atau Maya juga boleh!” ucap Maya sambil kembali berbicara, “Dan ini Azka, panggil saja Zaskia, haha…” Azka menoyor kepala Maya yang sedang menertawakannya. “Aw… Sakit, tahu!” kata Maya sambil mencoba membalas perbuatan Azka. Fiona hanya menggeleng kecil melihat tingkah laku teman-teman barunya, tiba-tiba ponselnya bergetar sedikit mengejutkannya. Fiona menautkan dahinya saat melihat pesan dari nomor yang tidak dikenal. “Jam istirahat, seseorang akan menjemputmu,” pesan tersebut membuat Fiona terkejut. Namun, sebelum ia bisa merespons pesan tersebut, Adel, teman sebangkunya, menyenggol tangannya. “Jangan main ponsel di jam pelajaran, nanti ponselmu akan diambil guru,” bisik Adel, memberitahu Fiona tentang peraturan sekolah. **** Saat jam istirahat tiba, beberapa pria berpakaian serba hitam dan mengenakan kacamata hitam yang menutupi mata mereka tiba di sekolah, menimbulkan rasa penasaran di seluruh sekolah terhadap keenam orang yang berjalan di koridor menuju kelas baru Fiona. Beberapa siswa dari kelas lain diam-diam mengikuti mereka dari belakang sambil berbisik-bisik. Di dalam kelas, Fiona yang sedang mendengarkan cerita dari Maya bersama Adel, terkejut melihat kedatangan keenam pria yang berbaris rapi di sebelah bangku Fiona. Maya dan Adel terlihat ketakutan melihat para pria tersebut, terutama karena tubuh mereka terlihat besar dan gagah. “Selamat siang, Nyonya muda,” ucap salah satu dari keenam pria tersebut pada Fiona. "What?!" serentak gadis-gadis itu berseru sambil saling melempar tatapan.