ALBIAN dengan motor gedenya menuju ke tempat tujuan yaitu di pinggir sungai ada seorang wanita anggun berparas cantik berambut panjang memakai dress berwarna putih yang sedang duduk sambil memperhatikan sekitar sungai, dia adalah Ayudia wanita cantik dan feminin, Ayudia wanita yang Albian pacari sejak di bangku SMA, Albian berniat ingin menikahi Ayudia setelah dia lulus kuliah dan mempunyai pekerjaan tetap. Saat itu Albian membawa makanan favorit Ayudia yaitu Roti berisi selai coklat. “My Baby,... ini makanan Favoritmu...” sapa Albian pada Ayudia. Albian memberikan rotinya penuh rasa sayang terhadap Ayudia, lalu Albian bergabung duduk di samping Ayudia. “Thanks you, My Baby ” Ayudia meraih tangan Albian dengan senyumannya yang manis, Ayudia langsung melahap roti favoritnya. Albian memejamkan matanya merasakan angin sore yang begitu dingin, seketika Albian juga tersenyum melihat pacarnya yang sedang asik makan roti dengan lahap, saat itu Albian mengambil sesuatu di bibir Ayudia. “Makanlah dengan pelan! Jangan terburu-buru nanti keselak, jangan seperti anak kecil yang kelaparan” Albian penuh perhatian pada Ayudia. Ayudia tidak menjawab apa-apa dia hanya tersenyum. Terlihat pipinya di penuhi roti, dia sangat lucu. Namun Tiba-tiba Albian jadi ingin bertanya-tanya pada Ayudia. “Sayang, kenapa kita selalu bertemu di tempat ini?” seketika Albian melihat sekeliling, suasana yang amat sepi dan tenteram. Ketika Ayudia ingin menjawab pertanyaan Albian. “Disini tempat, dimana kita....” Sontak Ayudia berhenti bicara. Karena tiba-tiba handphone Albian berdering. (Ringtone handphone Albian music asli dari Handphone-nya) Ternyata dari Ibunya yang menyuruhnya untuk segera pulang cepat. “Kau dimana? Ibu ingin menjelaskan sesuatu pada mu” terdengar suara ibunya dari handphone. “Menjelaskan tentang apa Bu?” tanya Albian yang penasaran. “Nanti ibu jelaskan, maka dari itu ibu menyuruh mu untuk segera pulang” “Iya baiklah, sebentar lagi aku pulang” “Cepat ya, jangan lama-lama tapi nanti pulang mampir dulu beli kecap manis” “Iya, siap Bu” Selesai bicara di via telepon dengan Ibunya, Albian melanjutkan pembicaraannya dengan Ayudia tapi... “Bagaimana kalau kita...” saat Albian menaruh Handphone di saku celananya dan menoleh ke samping. Albian bingung dia celingak-celinguk karena Ayudia sudah tidak ada di sampingnya, Albian menghela nafasnya! “Seperti biasa, pacarku menghilang, tanpa konfirmasi!” Albian menunjukkan wajah datarnya. Albian mencari Ayudia di beberapa tempat namun Ayudia entah tau kemana, Tapi Albian memberitahu kalau dia akan pulang. “Ayudia dimana kamu? Aku harus pulang, karena Ibu ku menyuruh ku pulang” Albian meninggikan suaranya agar Ayudia mendengar ucapannya. “Kemana anak itu?...” Albian sungguh bingung. Albian mengeluarkan Handphone nya di dalam saku celananya untuk kirim pesan pada Ayudia. “Ayudia, besok aku akan datang kembali, karena Ibu ku menyuruh ku pulang... Ingat, kamu pulang jangan malam-malam. Jika terjadi apa-apa hubungi ku segera” isi chat untuk Ayudia dari Albian. Albian pun pergi meninggalkan lokasi sungai. *** Di perjalanan arah pulang, Albian baru ingat, Ibunya minta dirinya untuk membelikan kecap manis. “Hampir saja aku lupa, ibu menyuruh ku untuk membeli kecap manis” Albian memberhentikan motornya tepat di depan minimarket, lalu Albian turun dan masuk ke Minimarket itu. *** Setelah selesai membeli keperluannya, Albian menuju motornya namun ada seorang anak kecil laki-laki sepertinya usianya sekitar 8 tahun yang terus menatapnya dengan tajam dan tiba-tiba anak kecil itu mengikutinya, Albian bingung dan bertanya pada anak kecil itu. “Kenapa, kau terus mengikuti ku?” Albian menegur dengan nada sedikit kesal pada anak itu. “Paman bisa melihat ku?” Anak kecil itu yang menjawab pertanyaan Albian yang sedikit takjub. Albian bingung dengan pertanyaan anak kecil itu tapi dia jawab. “Tidak!” jawaban Albian berbohong. Karena dia tak ingin berurusan dengan anak kecil, Albian tak peduli dengan anak itu dan dia langsung menaiki motornya. Tapi disaat mau siap-siap pergi, anak kecil itu tiba-tiba memegang tangan Albian. Terlihat Anak itu merasa tak percaya dia bisa memegang tangan Albian. “Lepaskan tangan ku” perintah Albian. "Tidak akan aku lepaskan, kalau paman tidak menjawab pertanyaan ku?” Anak itu bertanya-tanya yang amat penasaran, anak kecil itu menunjukan wajah polosnya. “Pertanyaan yang mana?” Tanya Albian. “Kau benar-benar bisa melihat ku?” tanya Anak itu. “Pertanyaan konyol, Berhenti bicara denganku, lepaskan tangan ku dan jangan mengikuti ku... mengerti!!” Dengan nada tegas Albian menjawab, lalu Albian pergi meninggalkan Anak itu. *** Ubay nama anak kecil itu merasa bingung, dia harus kemana dan dari mana dia berasal. Sudah seringkali Ubay meminta bantuan pada orang-orang untuk mencari tahu tentangnya namun orang-orang mengabaikannya. Seketika Ubay bertemu dengan Albian, Tiba-tiba Ubay merasa Paman Albian akan membantunya untuk mencari tahu tentangnya. *** Sampai di rumah, Albian membuka pintu rumahnya. “Aku pulang...!!” Albian melantangkan suaranya. Ajeng nama Ibu Albian, menyautnya dari dapur. “Kau sudah pulang nak, mana pesanan Ibu?” Ajeng sibuk dengan aktivitasnya yaitu memasak kesukaan Albian. Albian menghampiri Ibunya di dapur dan memberikan pesanan Ibunya. “Pesanan Ibu sudah tiba, tapi ibu menyuruh ku hanya beli kecap manis kan?” tanya Albian untuk memastikan pesanan Ibunya. “Iya betul.. makasih ya sayang” jawaban Ajeng yang masih sibuk masak. “Iya..” Albian mencium aroma masakan. “Wah... aromanya sangat-sangat mengoda sekali” Albian jadi semangat.. “Iya jelas lah... siapa dulu dong Ibu yang masak” Ajeng memuji dirinya sendiri. “Iya.... I know, masakan Ibu itu selalu menggoda dan aku selalu tergoda dengan masakan Ibu” Albian memuji Ibunya. “Anak Ibu paling bisa, membahagiakan Ibunya” Albian tertawa hehehe. Ajeng menyuruh Albian untuk mandi. “Sebelum makan, kamu bersih-bersih dulu sana, Ibu mau bicara sesuatu sama kamu dan kebetulan Ibu masakin makanan favorit kamu yaitu nasi goreng dan telor ceplok” “Wah pasti enak, baik Bu aku bersih-bersih dulu” Albian menuruti perintah Ibunya. *** Di meja akan, Ajeng menyiapkan makanannya, lalu Albian tiba dan langsung duduk di kursi meja makan. Albian langsung menyantap makanan favoritnya walaupun masih panas dia tidak peduli. “Wah... ini makanan terenak yang sering aku makan” Albian senang. Ajeng tersenyum melihat Anaknya yang begitu lahap memakan masakannya tapi Albian mulai curiga dengan Ibunya. “Kenapa, Ibu hanya melihat ku makan. Ibu tidak makan?” Albian sedikit curiga. “Ibu jadi kenyang melihat kamu makan” nada bicara Ajeng sedikit menggoda Albian. Albian hanya membalas dengan senyuman terpaksanya, Ajeng memberikan segelas air putih pada Albian. “Oh Iya... Tadi kata Ibu mau ngomong sesuatu, apa itu?” Albian jadi penasaran. “Sebenarnya...” Ajeng sedikit ragu untuk membicarakannya. “Lanjutkan Bu!” Albian tidak sabar mendengarnya. “Ibu ingin minta izin sama kamu, untuk memperbolehkan Ibu pergi bekerja” Ajeng sedikit takut karena anaknya tidak mengizinkannya. ”Hanya itu, ya baiklah...” Albian kembali melahap makanannya. “Kamu mengizinkan Ibu, pergi keluar kota?” Ajeng senang tapi bingung. “Hah... keluar kota?” Albian tersedak karena kaget. “Kau baik-baik saja?” Tanya Ajeng yang sedikit khawatir. Albian mengangguk.
Di saat Albian ingin minum tapi air di gelasnya sudah habis, Albian menuangkan air putih pada gelasnya, namun Albian sekilas melihat pada jendela depan rumahnya ternyata ada Ubay yang lagi berdiri sambil menatapnya tapi Albian tidak peduli. “Iya,..” Ajeng melanjutkan pembicaraannya. “Pekerjaan yang sekarang ibu kerjakan, hanya cukup untuk kita makan... dan di luar kota Ibu ingin bekerja sebagai asisten rumah tangga, ibu ingin pergi karena gajinya lumayan” Ajeng menjelaskan secara perlahan agar Albian tidak marah. Albian menghela napas, Albian memegang dan mengelus tangan Ibunya. “Bu maafkan aku, yang belum bisa membantu Ibu tapi aku akan berusaha mencari pekerjaan paruh waktu” mata Albian sedikit berkaca-kaca. Sebenarnya Albian tidak mengetahui kalau Ibunya menahan beban, karena harus bayar hutang-hutangnya pada seseorang rentenir. Terpaksa Ajeng bekerja jauh agar bisa melunasi hutang-hutangnya bekas biaya berobat Albian disaat masih koma dan bekas biaya kematian suaminya. “Ya boleh-boleh saja... tapi untuk saat ini, biar Ibu yang cari uang dan kamu cukup fokus dengan pendidikan mu saja” Ajeng mengelus balik tangan Albian. Ajeng memberikan perhatian penuh pada Albian karena sangat menyayangi Albian. “Aku pasti akan merindukan Ibu... tapi Ibu seorang perempuan, memangnya... Ibu bisa jaga diri sendiri di luar sana?” Albian bertingkah manis agar suasana tidak sedih lagi. “Jangan khawatir, dulu Ibu pernah di ajarkan bela diri sama Alm Ayah mu” kata Ajeng yang tersenyum lebar. Dulu Ayah Albian adalah pelatih taekwondo, tapi sekarang Ayah Albian sudah meninggal sebelum Albian mengalami koma. Semenjak Ayahnya meninggal Albian sangat dekat dengan Ibunya. “kapan Ibu pergi?” Albian pasang wajah melasnya seperti anak kecil yang mau di tinggal oleh ibunya. “Rencananya besok, nanti kamu bantu Ibu beres-beres keperluan Ibu ya?” pinta Ajeng yang tersenyum. Albian kaget karena mendadak sekali. “kenapa mendadak sekali Bu?” Ajeng merasa gemas karena melihat wajah Albian manyun seperti anak kecil yang lucu karena tidak mau di tinggal sendiri. “kamu jangan pasang wajah melas mu, nanti Ibu nggak tega ninggalin kamu!” Ajeng mengelus rambut Albian dengan gemas. “biarlah, biar Ibu tidak jadi pergi” Albian pasang wajah bete ya. Untuk pertama kalinya Ajeng meninggalkan Albian sendiri dengan waktu yang tidak di tentukan, sedikit berat untuk meninggalkan Albian tapi tidak ada jalan lain untuk bisa melunasi hutang-hutangnya. “Biarkan Ibu pergi” Albian mengangguk tapi terlihat dari wajahnya, merasa tak ikhlas dengan kepergian sang ibu. *** Keesokan harinya Albian mengantarkan Ibunya di depan rumah, di satu sisi taksi sudah menunggu. “Ibu pergi dulu ya, ingat jangan bandel, kamu harus fokus sama pendidikan kamu” Ajeng mengelus pipi Albian. Albian hanya mengangguk dan menahan kesedihannya, Albian langsung memeluk Ibunya. “Hati-hati di jalan dan jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai..” Albian pura-pura tegar. Ajeng melepaskan pelukannya sekilas mengelus rambut Albian. “Kamu nangis??. Ajeng tersenyum sambil meledek Albian “Tidak!” Albian mengelak, langsung mengusap air matanya. “ugh... anak Ibu nangis. Ihh... apa enggak malu sama umurnya” Ajeng sedikit meledek Albian. “semua ini karena Ibu...” Albian hanya menundukkan kepalanya. “Iya, maafkan Ibu yang harus meninggalkan mu. Taksi sudah lama menunggu, Jadi Ibu pergi dulu ya?” Kata Ajeng. Albian hanya mengangguk, Ajeng kembali memeluk anaknya. “I love Ibu..” Albian menahan kesedihannya. “love you to sayang” Ajeng melepaskan pelukannya. Ajeng menaiki mobil, lalu Ajeng sambil melambaikan tangannya, begitu juga Albian di tambah matanya berkaca-kaca, tak lupa Albian memberikan isyarat pada Ibunya untuk segera meneleponnya, jika sudah sampai ke tempat tujuan! “Berharap Ibu ku baik-baik saja di sana” Albian mengusap sedikit air matanya. Ketika Albian berbalik badan, dia kaget karena Ubay tepat di hadapannya. “Sejak kapan kau disini? dan kenapa kamu terus mengikuti ku?” Albian bertanya-tanya selain bingung di tambah kesal. “Aku akan selalu mengikuti mu Paman!!” jawaban Ubay dengan senyumnya yang cute. “apa kamu bilang..?? Albian makin kesal. “(Anak ini aneh sekali..)” Albian berbicara di dalam hatinya yang begitu kesal, menatap Ubay. *** Albian mengabaikan Ubay karena dia harus pergi ke kampus. *** Sampai di kampus Albian di datangi Ayudia. “Albian...” Panggilan Ayudia pada Albian. Albian kaget dan bingung. “Kok, kamu ada di sini?” Albian dengan ekspresi senang. “Nanti sore kita ketemu di tempat biasa ya...” pinta Ayudia. “Kenapa enggak di tempat lain, emang kamu enggak bosan?... mending kita ke tempat” kata Albian. Tiba-tiba Ayudia menutup mulut Albian. “Huusst... jangan banyak omong,... kalau enggak mau, ya sudah” kata Ayudia dengan ekspresi bete ya. “Iya... iya...! aku akan turuti apa yang kamu perintah” Albian pasrah dari pada Ayudia mengambek. Namun di belakang Albian anak-anak kampus pada membicarakan tentangnya yang mulai aneh, Albian juga bingung kenapa Anak-anak kampus membicarakan tentang dirinya tapi Albian tidak peduli karena saat ini dia ingin fokus kuliah dan mencari pekerjaan. *** Selesai kuliah Albian menghampiri motornya di tempat parkir tapi saat itu ada Ubay yang sedang duduk di motornya. “kamu lagi... turun” Albian merasa kesal. Tapi Ubay hanya menggelengkan kepalanya. “Astaga anak ini, kau siapa kenapa kau selalu mengganggu ku, Apa kau tidak punya rumah atau orang tua?” Albian habis kesabaran dia marah-marah sama Ubay. Ubay merasa sedih setelah Albian membahas tentang orang tuanya. “Jangan pasang wajah sedih mu, karena itu tidak mempengaruhi ku, jadi turun dari motor ku dan menjauhlah dari ku” pinta Albian. Namun tiba-tiba Ubay nangis di depan Albian. “kenapa kamu nangis... berhentilah! Nanti orang-orang mengira aku berbuat jahat padamu?” Albian bingung dan mulai panik. Tangisan Ubay semakin menjadi, menangis dengan keras. “Astaga kau ini merepotkan ku saja” Terpaksa Albian membawa Ubay pergi. Setelah Albian pergi dari kampus, Anak-anak kampus kembali membicarakan Albian. Albian berhenti di tempat sepi namun Ubay masih saja menangis. Albian bertanya pada Ubay tentang identitas Ubay. “Kamu itu siapa? kenapa kamu terus mengikuti ku?.." “Aku Ubay, Paman” kata Ubay sambil mengelap air matanya. “Terus kenapa, kamu terus mengikuti ku, memangnya kau tidak punya rumah atau orang tua?... apa Jangan-jangan kau anak hilang?” Albian memberikan pertanyaan yang sangat detail. “Aku juga tidak tahu alamat rumah ku, dan aku lupa nama kedua orang tua ku” jawaban Ubay yang tidak tahu apa-apa. Albian menyuruh Ubay berhenti menangis. “Berhenti menangis” Albian merasa kesal. Terpaksa Albian membawa Ubay kesuatu tempat. “Baiklah ikutlah denganku” pinta Albian. *** Sampai di tempat yaitu depan kantor polisi, Albian ingin melaporkan tentang Ubay kalau Ubay kehilangan kedua orang tuanya. Di saat Albian dan Ubay duduk bersama berhadapan dengan polisi, Albian langsung menjelaskan pada polisi tentang Ubay.
Di saat Albian dan Ubay duduk bersama berhadapan dengan polisi, Albian langsung menjelaskan pada polisi tentang Ubay. “Permisi... Pak saya mau lapor” “Iya... mau lapor, tentang kasus apa??” pak polisi sibuk memainkan laptopnya. Albian menunjukkan dan memperlihatkan Ubay yang berada di sampingnya. “Anak ini, merasa kehilangan keluarganya... namanya Ubay?” jelas Albian. “Anak yang mana?” tanya Pak Polisi sedikit bingung. Albian menunjuk Ubay. “Ini... anak laki-laki yang bersamaku” jawaban Albian dengan tegas. “apakah kau, habis minum?” Pak Polisi terheran-heran. “tidak...!!” Albian mengelak dengan tegas. Pak polisi makin bingung. “Lantas anak yang kamu maksud siapa?” Albian menunjuk Ubay dan mengulangi kata-katanya. “ini... dia di samping ku, duduk bersamaku...!!” Pak polisi menyuruh Albian untuk pulang. “Mungkin anda lagi kurang sehat, jadi anda berhalusinasi... lebih baik anda pulang dan istirahat di rumah” Pak polisi masih bersikap baik. Albian mulai kesal karena polisi tidak mempercayainya. “hah halusinasi... dan bapak menyuruh saya pulang, saya kan ingin melaporkan kasus anak hilang?” Albian kesal. “Iya,... tapi saya tidak meladeni orang sepertimu” Pak Polisi menahan amarahnya. “memangnya diriku, seperti apa?” Albian sedikit bingung. Pak polisi habis kesabaran, dia memanggil rekannya, untuk mengusir Albian dari kantor. “tolong bawa orang ini keluar” perintah pak polisi itu pada rekannya. “kenapa bapak, menyuruh rekan mu untuk mengusir ku” Albian bertanya-tanya dan sedikit kesal. Dengan amat terpaksa Albian keluar dari kantor polisi, tapi Albian masih saja terus menjelaskan di depan kantor. “Tapi pak... aku benar-benar mau melaporkan anak hilang” Berbicara dengan lantang tapi percuma Petugas tidak mempedulikannya. “orang-orang menganggap diriku aneh, masa mereka tidak melihat anak kecil yang bersamaku?” Albian melihat Ubay yang lagi berada di sampingnya. Begitu juga Ubay menatap Albian dengan wajah polosnya. *** Entah kenapa Albian begitu bingung dan dia ingin memastikan apakah perkataan pak polisi itu benar? kalau anak yang bersamanya tidak bisa di lihat orang kecuali dirinya. Albian melihat ada penjual es krim, Albian menghampirinya untuk membelinya. “pak, saya pesen dua...” Pinta Albian. Albian Bertanya pada Ubay, rasa apa yang Ubay ingin kan. “kamu mau pesen rasa apa?” Ubay bilang rasa coklat. “Pak, yang satu stroberi dan untuk adik ku... Rasa coklat” Penjual es kirim mencari tahu dengan siapa Albian bicara. “barusan, anda bertanya dengan siapa?” si penjual merasa kebingungan. “Adik ku!!” jawaban Albian yang gugup. “Tapi saya tidak melihat adik mu, saat ini?” kata penjual es krim itu. Seketika Albian terdiam tapi dia tak ingin di anggep aneh. “aku bicara dengan adikku lewat, earphone” Albian menunjukan eatphone di telinganya. Untungnya sejak tadi Albian memakai earphone. “kamu kakak, yang sangat menyayangi adikmu” si penjual percaya begitu saja. “(adik, adik yang tak kasat mata... dari dulu aku tak ingin punya adik.)” Albian bergumam di dalam hatinya. Albian hanya membalas dengan senyumnya, lalu Albian pergi dan membawa Ubay menjauh dari keramaian. Albian tanya tentang Ubay kembali. “sebenarnya kau ini siapa,... kamu bukan manusia??” Albian bertanya dengan tegas. “aku Ubay paman” Ubay menjawab sambil makan es krim dengan asik. “Iya aku tau, nama mu tapi kamu dari mana asal usulnya?” Albian sangat penasaran. Seketika Ubay terdiam karena dirinya juga merasa bingung. “Aku juga bingung, kenapa orang-orang di luaran sana, tidak bisa melihat ku kecuali Paman?” jelasnya. Seketika Albian memikirkan anak-anak kampus yang menganggap dirinya aneh mungkin karena... *** Flashback... saat itu anak-anak kampus melihat Albian sedang berbicara sendiri padahal saat itu Albian, di minta bantuan sama Bapak-bapak yang mencari alamat. Dan di saat membantu nenek-nenek yang ingin menyebrang tapi ternyata orang-orang tidak melihat apa yang di lihat Albian saat itu. Sekarang Albian baru menyadari kelebihannya. Albian mikir keras kenapa dia bisa melihat hal-hal seperti itu, padahal dia tidak mempunyai kelebihan sebelumnya. Mendengar dirinya di panggil Paman, Albian merasa keberatan dengan nama panggilannya pada Ubay. “hey.. berhenti memanggilku paman, aku bukan Paman mu... lagi pula wajahku masih terlihat muda dan usia ku masih muda” Ubay tidak peduli karena fokus makan es krim. Albian mengulurkan tangannya pada Ubay. “Mana uang mu, untuk bayar es krim mu” Ubay bingung. “saya kira ini gratis” Ubay pasang wajah datarnya. “Di dunia ini tidak ada yang gratis... Lebih baik kamu pulang kerumah mu dan minta uang jajan pada kedua orangtua mu” Kata Albian. Ubay melihat Albian dengan sinis. “(Paman ini, begitu pelit dan sangat pemarah)” Ubay ngedumel di dalam hatinya dengan amat sebal. Tapi Albian kesal karena mendengar isi hati Ubay. “Aku mendengar apa yang kau bicarakan, di dalam hatimu” “paman mendengar suara isi hati ku??” Ubay terkejut. Sebenarnya Albian juga bingung tapi dia tak ingin membahas ini, Albian mengalih pembicaraannya. “lebih baik kamu pulang dan jangan mengikuti ku lagi.” Pinta Albian. Tiba-tiba wajah Ubay berubah sedih. “heh... berhentilah pasang wajah sedih mu?” kata Albian. “aku bingung... mau pulang kemana” Ubay yang amat kebingungan. “(aishh... Kenapa sih, aku harus di pertemukan dengan anak kecil ini. Sungguh merepotkan ku)” Albian ngedumel dalam hatinya. Albian mencoba bersabar menghadapi Ubay. “udah jangan sedih lagi, nanti aku akan carikan kedua orangtua mu, dan soal es krim... kali ini gratis” kata Albian. “terima kasih Paman... ngomong-ngomong, es krim mu tidak di makan?... biar aku saja yang menghabiskannya” Ubay sangat maruk. “Aisssh... sudah ku bilang jangan panggil aku Paman” Albian yang amat kesal. Walau kesal Albian masih mau memberikan Ubay es krim ya. “nih makan es krim ku... aku tidak napsu makan, karena mu.” “terimakasih Paman, maksud ku kakak” Ubay amat senang dan langsung melahap es krimnya. Walaupun Albian tidak suka dengan kehadiran Ubay tapi dia merasa kasihan dan peduli sama Ubay. “(harus cari dimana, kedua orang tuanya? Dunia ini kan luas, kenapa aku bilang mau membantunya??)” Albian merasa bingung dan kesal sendiri. Albian baru ingat dia di suruh Ayudia untuk menemuinya di pinggir sungai. “(Gara-gara bocah itu, aku jadi melupakan janji ku pada Ayudia)” kata dalam hatinya. Albian meninggal Ubay sendiri. *** Sampai di tempat Albian menunggu Ayudia, namun Ayudia tak kunjung datang. “kemana Ayudia, padahal aku sudah membuatkan makanan favoritnnya.” Albian melihat jam tangannya karena cukup lama dia menunggu Ayudia. Tiba-tiba ada yang memanggil Albian, dari sampingnya. “kak...” suara Ubay yang mengagetkan Albian. “astaga kau ini... mengagetkan ku saja!!” Albian kaget. “kakak lagi menunggu siapa?” Ubay sedikit kepo. “anak kecil jangan banyak tanya, ini urusan orang dewasa” tegas Albian. Albian masih sabar menunggu Ayudia. “(Di tanya baik-baik, jawabnya malah ngegas)” Ubay ngedumel dalam hatinya. “aku mendengar, apa yang kamu katakan... jadi jangan menjelek-jelekkan ku atau aku tidak akan membantu mu” kata Albian yang sedikit kesal dengan Ubay. “Baiklah... maafkan aku kak” Ubay pasrah.