SUAMIKU TIDAK TAHU AKU PEMILIK RESTO
Bab 1 Terkuak rahasia

"Bu, akhirnya kita berhasil membuat Mas Aksa menikahi Mbak Selena. Sebentar lagi kita bisa menyingkirkan Mbak Aira dari rumah ini." Aku yang baru saja pulang dari pasar seketika menghentikan langkah tepat di depan kamar adik iparku. Bukan inginku menguping pembicaraan mereka, jika saja Ratu tidak menyebut namaku mungkin aku tidak akan sekepo ini. Aku akan menulikan pendengaran dan bersikap bodoh amat walau ibu mertua dan adik ipar selalu menghinaku. Bagiku, yang penting Mas Aksa mencintaiku, aku akan tetap bertahan di rumah ini walau mereka menganggapku hanya babu mereka. Aira Danendra namaku, orang tuaku sudah meninggal sejak aku berusia 17 tahun dalam sebuah kecelakaan. Sebenarnya, mereka mewarisiku sebuah rumah mewah dan usaha rumah makan yang sudah terkenal namanya. Aku dan Mas Aksa bertemu saat aku sedang melayani pembeli di rumah makan peninggalan orang tuaku. Meski mempunyai banyak karyawan aku tetap turun tangan melayani pesanan pelanggan. Mas Aksa tidak tahu kalau aku pemilik rumah makan yang biasa suamiku dan teman-temannya berkumpul, dia mengira aku hanya pelayan di sana. Awalnya, aku ingin memberitahu Mas Aksa dan keluarganya, sebenarnya aku pemilik rumah makan terkenal dengan ayam bakar madunya. Namun, aku urungkan melihat ibu mertua dan adik iparku tidak suka denganku. "Kamu benar, Ratu. Ibu juga sudah muak dengan Aira, dia miskin mending juga Selena, orang tuanya kaya pemilik peternakan ayam dan juga punya usaha ayam potong." Terdengar suara ibu dan Ratu tertawa bahagia. "Oia, Bu. Tadi Mas Aksa telepon, hari ini akan membawa Selena tinggal di rumah ini." Apa jadi Mas Aksa sudah menikah lagi? Aku memegang dada seakan tertusuk ribuan jarum. Sebenarnya, sudah 3 bulan Mas Aksa berubah semenjak ibu mengenalkan gadis cantik berpakaian seksi itu. Hanya saja, aku tidak menyangka Mas Aksa sudah menikahi Selena. Kupikir dia akan selalu setia denganku, nyatanya dia mengkhianati cintaku. Bodoh, aku memang bodoh. Karena cinta dan ingin memiliki keluarga utuh, aku rela menggadaikan harga diri, diinjak, dihina, bahkan dijadikan babu oleh ibu mertua dan juga iparku. Cepat kuseret kaki ini meninggalkan kamar Ratu menuju dapur. Aku mengadah kepala keatas menghalau air mata agar tidak tumpah. Aku tidak boleh menangis untuk seorang pengkhianat. Cukup sudah pengorbananku berbakti menjadi seorang istri yang baik. Aku harus menunjukkan ke mereka aku bukan Aira yang lemah. Selama menikah sengaja aku menyuruh sahabatku yang menghandle rumah makanku, hanya sesekali aku mengunjungi usaha milik orang tuaku. Sejak ibu menjodohkan Mas Aksa dengan Selena, aku sudah menyiapkan hati ini untuk tidak terluka. Namun, tetap saja rasanya begitu sakit. Dulu, sikap Mas Aksa sangat lembut walau sedikit pelit, tapi semenjak mengenal Selena sikapnya berubah dingin dan sering memarahiku tanpa sebab. Kubuka belanjaanku lalu mengambil ayam yang sudah aku beli. Hari ini, aku akan membuat masakan spesial untuk keluarga penghianat untuk terakhir kali. Sengaja aku akan memasak ayam bakar madu makanan kesukaan Mas Aksa, agar saat aku pergi dia akan selalu mengingatku dengan penyesalan. "Eum ... baunya wangi sekali." Adik ipar lacknat menghampiri meja makan sambil mencoel ayam bakar madu yang sudah aku buat. Aku hanya meliriknya sekilas sambil mengulek sambal spesial yang pasti pedesnya akan membuat mereka sekarat. "Nah, gitu dong, Mbak! Setiap hari kek, masak enak kaya gini. Bosen tau masaknya sayur, tempe, telor terus," lanjutnya dengan mulut penuh ayam. Aku hanya bisa mendengkus kesal, memangnya makan enak tiap hari tidak pakai uang. Kakaknya saja hanya memberiku uang tidak lebih dari 1 juta itu pun untuk kebutuhan seisi rumah. Pernah aku mengeluh meminta tambahan ke Mas Aksa, tetapi ibu selalu ikut campur dengan gaji suamiku. "Ratu, kamu sedang makan apa?" tanya ibu mertua yang baru saja keluar dari dalam kamar. "Ini, Bu, Mbak Aira masak enak," sahut Ratu. "Wah, sepertinya kakak ipar kamu tahu akan ada tamu istimewa hari ini," balas ibu menghampiri putrinya. "Kayanya, Bu. Jadi, kita tidak usah pesen makanan di rumah makan ayam bakar madu, bisa ngirit. Apa lagi Mbak Aira dulu mantan karyawan di sana dan pasti rasa ayamnya sama enaknya, Bu." "Masa sih?" Ibu mencomot ayam bakar madu lalu memakannya dengan rakus. "Benar enak," ucap ibu sama seperti anaknya, makan sambil bicara dengan mulut penuh makanan dan cukup menjijikan. Sebenarnya, bisa saja aku memasak ayam bakar madu setiap hari, andai Mas Aksa memberikanku jatah lebih. Aku tidak mau uangku untuk kebutuhan mereka. Setahun berumah tangga hanya sakit hati yang aku rasa. Beruntung belum ada benih di rahim ini, aku tidak mau anakku nanti menderita memiliki keluarga seperti mereka. Selesai, aku menaruh sambel setan di atas meja. Kemudian meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar. Aku akan memberikan kejutan untuk suamiku tercinta. Sudah satu jam aku menunggu pasangan penghianat di dalam kamar. Suara ibu dan Ratu terdengar di luar, pasti Mas Aksa dengan Selena sudah datang. Sebelum keluar aku mematutkan diri di cermin. Aku sengaja memakai baju bermerk yang aku punya sebelum menikah dengan Mas Aksa dan tak lupa aku memoles wajah ini dengan make up flawless. Semua kulakukan agar terlihat sempurna. Biasanya aku hanya memakai daster bila di rumah. Kali ini, aku akan membuat Mas Aksa menyesal sudah menghianatiku. Suara tawa mereka menggema di ruang tamu. Sebelum keluar kamar, kutarik napas lalu mengeluarkannya perlahan. 'Ai, kamu harus tenang jangan emosi menghadapi mereka,' batinku. Ceklek! Aku membuka pintu kamar dan benar saja mata mereka terbelalak menatapku. Selena yang sedang bergelayut manja di lengan suamiku di dorong kasar Mas Aksa. "Aaaw," pekik gadis bermake up tebal itu. "Ai sayang, kamu cantik sekali." Mas Aksa berdiri lalu mendekatiku, tatapan matanya memancarkan kekaguman. "Mas Aksa!" teriak Selena. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal. "Masa sih, Mas," balasku tersipu malu. Sengaja akan aku buat pelakor itu kepanasan karena suaminya memuji istri tuanya. Siapa suruh mau jadi istri kedua. "Iya, Sayang. Sumpah kamu cantik sekali," pujinya masih terus menatap wajah ini. "Aksa, kamu itu apa-apaan," bentak ibu seraya menarik lengan suamiku agar menjauh dariku. "Iya, Mas Aksa itu gimana, sih. Biar pun Mbak Aira berubah cantik tetap saja dia gadis miskin tidak selevel dengan Mbak Selena," ejek Ratu. Selena tidak tinggal diam, dia menarik tangan Mas Aksa. "Mas, kamu bilang istri kamu itu jelek, dekil, bau. Lalu apa ini?" protes Selena. Mas Aksa terkesiap, mungkin dia baru sadar istri yang dia bilang dekil, jelek, bau bisa berubah cantik. "Sudah, jangan bertengkar. Mas, aku sudah masak spesial untuk kamu dan Selena. Sebaiknya, kita makan dulu," tawarku. Aku meninggalkan mereka, sengaja berjalan dengan anggun menuju meja makan. Terdengar umpatan, ejekkan dari Ibu, Ratu dan juga Selena. Mas Aksa mengikutiku, dia duduk disampingku. "Mas, aku masak spesial untuk kamu. Mungkin untuk terakhir kalinya," ucapku berpura-pura sedih. Wajah Mas Aska berubah kaget. "Ai, kamu jangan bicara sembarangan. Kamu tidak akan pergi dari rumah ini!" bentaknya emosi. "Mas Aska, kamu itu gimana, sih? Bukannya bagus kalau Mbak Aira pergi dari rumah ini? Kamu bilang akan menceraikannya, 'kan!" seru Selena dengan wajah memerah. Aku kembali berpura-pura kaget. "Apa itu benar, Mas?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca. "Semuanya bohong, Ai. Aku masih mencintai kamu, sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi istriku." Hueek! Rasanya ingin muntah mendengar rayuan gombal Mas Aksa. Dulu, mungkin bahagia mendengarnya mengatakan mencintaiku, tapi sekarang aku benar-benar sudah muak. "Mas Aksa, jahat," teriak Selena histeris. "Selena, kamu tenang dulu. Aksa hanya bercanda, mana mungkin dia mencintai gadis miskin itu," bujuk ibu seraya merengkuh bahu menantu barunya. "Mas, sana kamu tenangkan Selena. Lebih baik kita makan dulu, nanti baru kita bicara lagi. Aku butuh penjelasan dari kamu," ucapku berusaha setenang mungkin. Akhirnya dengan raut terpaksa Mas Aksa membujuk Selena, aku tidak mau rencanaku gagal. Mereka harus makan sambel spesialku. Ibu dan Ratu menatapku sinis, walau begitu aku sudah tidak perduli atau takut dengan mereka. Toh, sebentar lagi aku akan angkat kaki dari rumah ini. Namun, sebelum itu aku akan buat mereka kesakitan, sama seperti rasa sakit yang aku alami. "Ai, ambilkan nasinya!" Mas Aksa menyodorkan piring kosong kearahku. "Mas, sini biar aku yang melayani kamu." Selena menarik lengan suamiku, kemudian mengambil piring kosong dari tangan Mas Aksa. Aku hanya mengangkat bahu tidak perduli, kuambil nasi ke dalam piringku. Begitu pun ibu dan Ratu sudah makan dengan lahap, padahal sebelum Mas Aksa dan Selena datang mereka sudah makan hanya saja sambalnya saat itu belum selesai aku buat. Sesekali Mas Aksa melirik kearahku. Aku tersenyum puas melihat Selena mengambil sambal sangat banyak. Mungkin karena dalam keadaan emosi dia tidak sadar sudah mengambil sambal hampir setengahnya. "Mas, di makan dulu. Jangan liatin aku terus nanti Selena marah sama kamu!" ucapku berbisik. "Iya, Ai. Mas hanya kangen sama kamu," balasnya. Wajah Selena memerah. "Aaaw, pedes sekali," pekik Selena. Gadis itu mengambil air putih lalu meneguknya sampai tandas, keringat sudah membanjiri pelipisnya. "Enak banget sambalnya," sahut Ratu. Ibu dan Ratu sama-sama pecinta pedas, mereka begitu santai memakan sambal setan yang aku buat. "Mbak Aira, kamu sengaja, ya, mau bikin kami masuk rumah sakit!" tuduh Selena seraya mengelap wajahnya yang sudah basah oleh keringat. Bibirnya sudah dower karena kepedesan. Kulirik Mas Aksa terlihat wajahnya seperti udang rebus. Aku yakin dia sedang menahan pedas namun gengsi mengatakan dia tidak kuat dengan rasa pedasnya. "Kamu jangan asal menuduh! Kalau aku ingin membuat kalian masuk rumah sakit lihat ibu dan Ratu biasa saja makan sambal yang aku buat," elakku. "Kamu itu apa-apa, Selena. Seharusnya kamu berterima kasih dengan Aira karena sudah masak untuk makan siang kita," bentak Mas Aksa. Selena memanyunkan bibirnya. "Mas Aksa sekarang sudah berubah!" Gadis itu berdiri lalu mendorong kursi dengan kasar. Ibu dan Ratu yang sejak tadi asik makan menghentikan aktifitasnya. "Selena tunggu!" panggil ibu melihat menantu kesayangannya pergi. "Ini semua gara-gara Mbak Aira." Ratu juga mengikuti ibu mengejar si ulet keket. "Ai, Mas minta maaf karena diam-diam sudah menikah lagi, Mas menyesal. Mas janji akan berbuat adil sama kamu dan juga Selena." Mas Aksa meraih jemari ini, lalu menciumnya dengan lembut. Entah, sudah berapa lama Mas Aksa tidak seromantis ini. Adil, apa dia pikir selama ini dia sudah adil denganku dan juga ibunya? Apalagi sekarang bertambah kehadiran Selena? "Maaf, Mas! Lebih baik aku sendiri dari pada harus berbagi suami," jawabku tegas. Aku menarik tangan ini, terlihat wajah Mas Aksa berubah sendu. "Aku tidak akan menceraikan kamu, Ai. Aku janji kamu prioritasku, walau sudah ada Selena," tegasnya. Aku tersenyum kecut. Setelah aku berubah cantik, Mas Aksa baru menyadari aku adalah istrinya. Sebelumnya, mana pernah dia menganggapku istrinya hanya bulan pertama dia memperlakukanku seperti ratu, setelahnya dia berubah ketika ibunya ikut campur rumah tangga anaknya. "Mas Aksa!" jerit Selena. Aku menutup telingaku mendengar suara cempreng ulet keket. Belum sehari rumah seperti layaknya di hutan. Aku mendorong piring masih setengah isinya, rasa lapar seketika hilang. "Selena, bisa tidak, kamu tidak teriak-teriak!" bentak Mas Aksa. "Aksa, kamu juga ngapain memegang tangan Aira?" "Ibu, Aira juga istri Aksa. Tidak ada larangan Aksa menyentuh istri sendiri," balas Aksa emosi. Ibu membuang pandangan kearah lain mendengar bantahan putra kesayangannya. Aku cukup puas, Mas Aksa sudah sedikit melawan ibunya. Bukan, aku ingin suamiku durhaka dengan wanita yang melahirkannya. Hanya saja, aku ingin ibu tidak terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga anaknya. "Mas, sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin." Aku masih harus berpura-pura menjadi wanita baik untuk meraih simpati Mas Aksa. Mas Aksa menatapku, lalu dia merengkuh bahuku. "Terima kasih, Ai. Kamu benar-benar istri sholeha," bisik Mas Aksa lembut. Selena menghentakkan kakinya, dadanya membusung dengan napas memburu. Aku yakin dia sedang cemburu melihatku dengan Mas Aksa. Aku meraih lengan suamiku meninggalkan meja makan. Ibu menarik menantu kesayangannya menuju ruang tamu. Aku dan Mas Aksa duduk bersisian, jemari kami masih saling bertautan. Selena menatap kami penuh kebencian. "Aksa, sekarang kamu talak Aira!" titah Ibu dengan nada tinggi dan cukup lantang. Aku hanya menunduk berpura-pura sedih. Mas Aksa meremas jemari ini, seakan memberi kekuatan untuk melawan ibunya. "Benar kata, Ibu. Aku lebih memilih Mbak Selena menjadi kakak iparku," sahut Ratu. "Cepat Mas talak Aira!" Pinta Selena yang semakin mendesak Mas Aksa. "Cukup, aku tidak akan menceraikan Aira!" jawab Mas Aksa tegas. Aku mengangkat wajah, kutarik sudut bibir. Kuberikan senyum menyerigai kearah Selena. Gadis itu terkejut melebarkan pupil matanya. Ini baru permulaan, tunggu kejutan berikutnya.

Bab 2 Mengerjai Pelakor

Geram. Selena tampak menahan kesal, peluh sebiji jagung telah membasahi wajahnya yang kian memucat. Bruut! Sontak, kami saling memandang satu sama lain. Selena meringis seraya meremas perut rampingnya. "Eeeum, Mbak Selena jorok banget, sih," celetuk Ratu sambil menutup hidungnya. "Maaf, aku sakit perut," ringis Selena. "Kalau sakit perut kenapa tidak ke toilet," sahut Ratu ketus. Aku, Ibu, dan juga Mas Aksa melakukan hal yang sama menutup cuping hidung bersamaan. Bau busuk menguar hampir memenuhi ruangan, rasanya ingin muntah. Selena berlari sambil memegang bagian tubuh belakangnya. "Dasar nggak punya adab, ada orang tua membuang gas berancun sembarangan," ceplos ibu sambil mengipas-ngipas dengan telapak tangan ke arah wajahnya. Aku tersenyum puas, menantu baru ibu yang dibanggakan ternyata tidak punya adab. Kulirik Mas Aksa disamping mulai gelisah, bulu-bulu tangan mulai berdiri. "Kamu kenapa, Mas?" tanyaku bingung. "Perutku sakit, Ai. Aku ke kamar dulu, ya." Mas Aksa bangkit lalu terbirit-birit masuk ke dalam kamar. Kamar kami memiliki toilet dalam, di rumah ini hanya ada 2 toilet. Di kamar utama kami dan toilet luar dekat dapur. Rumah ibu mertua bukan rumah yang mewah seperti di rumahku yang memiliki banyak toilet di setiap kamarnya. "Loh, Aksa kamu juga sakit perut." Ibu berteriak melihat putra kesayangannya tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. "Aneh, masa mereka sakit perut bersamaan," gumam Ratu tampak berpikir. "Iya, pasti ada yang tidak beres," sahut ibu. Aku masih duduk dengan tenang, tinggal menunggu giliran ibu dan Ratu merasakan sakit perut seperti Selena juga Mas Aksa. "Jangan-jangan ...." Ratu menggantung ucapannya seraya melirik kearahku. "Jangan-jangan apa, Ratu?" tanya ibu tidak sabaran. "Mbak Aira, ini pasti ulah kamu, ya!" tuduh Ratu. Ibu melihat kearahku dengan ekspresi bingung. "Memangnya aku melakukan apa?" tanyaku santai. "Mbak Aira jangan pura-pura bodoh, pasti sambel yang mbak buat dicampur obat pencahar, ya!" "Jangan menuduhku sembarangan, Ratu!Kalau memang aku mencampur obat pencahar pasti semuanya sakit perut termasuk kamu dan juga ibu," elakku. Ratu terdiam mungkin mencerna perkataanku. Aneh, kenapa ibu dan Ratu tidak sakit perut. Apa lambung mereka sudah kebal dengan yang pedas-pedas. Memang aku akui mereka pecinta pedas. Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Selena berdiri diambang pintu dengan tubuh gemetar. Rambut pirangnya sudah acak-acakkan. Ibu mendekati menantu kesayangannya. "Selena, kamu tidak apa-apa?" tanya ibu cemas. "Sakit, Bu," lirih Selena tampak lemas. "Ya sudah, kamu istirahat dulu. Nanti ibu suruh Ratu beli obat." "Kok, aku yang beli obat. Suruh Mbak Aira saja yang beli," protes Ratu. "Ai, tolong." Suara Mas Aksa memanggilku dari dalam kamar. "Aduh, maaf, ya, aku harus mengurus suamiku dulu." Cepat aku meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar. Bodo amat ibu akan marah aku sudah tidak perduli, apa lagi obat itu untuk menantu kesayangannya. Mas Aksa terkapar di ranjang, wajah tampannya nampak pias. Duh, apa aku sudah keterlaluan, ya. Sebenarnya sakit mereka belum seberapa dibanding dengan sakit hati yang aku rasakan. "Ai, sakit. Apa kamu punya stok obat sakit perut?" tanyanya lemas. Melihat keadaan Mas Aksa sudah tak berdaya dengan terpaksa aku mengambil obat dari dalam kotak P3K yang selalu aku taroh di atas meja riasku. "Ini, Mas." Aku memberikan obat ke tangan Mas Aksa. Urusan Selena biar ibu yang mengurusnya. Ini baru permulaan, nanti setelah puas aku bermain-main dengan mereka, kupastikan selamanya aku akan pergi dari hidup mereka. "Terima kasih, Ai. Sejujurnya mas menyesal sudah mengkhianati kamu, Ai," paparnya seraya memasukkan obat ke dalam mulut. Dreet! Aku melirik ponsel yang sejak tadi dalam genggaman bergetar, nama Nadia--sahabatku terlihat dilayar benda pintarku. "Mas, aku terima telepon dulu, ya." Aku meninggalkan Mas Aksa di dalam kamar. Ya, aku harus cari tempat yang aman untuk berbicara dengan Nadia. "Jangan lama-lama, Ai," teriak suamiku di dalam kamar. Hening. Aku mengedarkan pandangan ke penjuru rumah, ibu, Ratu, juga Selena tidak ada. Mereka kemana? Kulangkahkan kaki ke belakang. Setelah dirasa aman, aku mengangkat panggilan dari Nadia. "Hallo, Nad," sapaku. [Ai, gawat. Supplier ayam potong tidak bisa dihubungi bahkan nomorku diblokir. Resto sudah membayar full tapi pihak mereka tidak memberi konfirmasi jika hari ini mereka tidak bisa mengirim ayam mentah] jelas Nadia. "Apa? Jadi Raja Ayam Potong belum mengirim bahan mentahnya?" tanyaku kaget. [Iya, Ai. Bahan mentah sudah menipis, Resto sedang ramai. Kita tidak mungkin menunggu lebih lama] Raja Ayam Potong adalah pemasok ayam mentah untuk resto kami. Kami sudah bekerja sama dari sebelum orang tuaku meninggal, memang setelah Pak Raja sudah tidak memegang usahanya karena menurut sopir yang biasa mengantar, usaha Ayam Potong itu sudah diwariskan ke anaknya. Biasanya mereka tidak pernah telat mengirim ayam mentah, kami percaya sehingga kami selalu membayar full diawal. "Nad, kalau begitu kamu coba hubungi Ajun Ayam Potong saja sampai pihak Raja Ayam Potong bisa dihubungi," kataku memberi saran. Tidak mungkin kami menunggu Raja Ayam Potong mengirim barangnya bisa-bisa resto kehabisan bahan mentah. [Ok, Ai. Oh, iya, kapan kamu ke Resto? Sudah lama kamu tidak kesini, pemasukan Resto naik pesat, Ai] "Nanti aku ke Resto, tapi sebelum itu aku harus menyelesaikan urusanku dulu, Nad. Terima kasih, kamu sudah membantuku memajukan Resto orang tuaku," ucapku terharu. [Kamu itu bicara apa, Ai. Kita sahabat, selama aku bisa membantu, akan kuberikan seluruh tenaga yang aku punya untuk kamu] "Bu, aku yakin ini gara-gara sambel yang dibuat Mbak Aira." Suara Ibu dan Ratu terdengar dari dalam rumah. "Nad, sudah dulu, ya. Nanti aku hubungi kamu lagi," ucapku berbisik. Tanpa menunggu jawaban Nadia aku mematikan sambungan telepon sepihak. Cepat aku masuk ke dalam. Ibu, Ratu, juga Selena melirikku sinis. Ulet keket itu ternyata sudah tidak lemas lagi. "Heh, Aira. Kata dokter Selena sakit perut karena sambal yang kamu buat, kamu harus tanggung jawab!" ujar ibu. "Kenapa menyalahkan sambal yang aku buat, seharusnya salahkan Selena kenapa dia makan sambal banyak-banyak. Seharusnya kalau sudah tau perutnya tidak kuat pedas jangan sok-sokan makan sambal," jawabku tegas. "Mbak Aira, pasti sengaja ingin menyingkirkanku biar bisa memiliki Mas Aksa seutuhnya, ya, kan!" tuding Selena sengit. Aku membuang napas kasar, jangan sampai emosiku terpancing. Kejahatan jangan dibalas kejahatan tapi harus dibalas dengan taktik yang cerdik. 'Sabar, Ai.' Aku terus mensugestikan diri agar sabar menghadapi mereka. "Terserah kamu mau menuduhku seperti apa. Kamu harus tau, aku bukan tipe wanita yang mengambil bekas orang lain, paham!" ujarku menekan. Selena terlihat semakin murka, kedua tangan terkepal. "Aku pastikan Mas Aksa akan menalakmu secepatnya!" "Aku tunggu saat itu," jawabku cuek. Aku meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar. "Awas, ya, kalau itu terjadi jangan menangis," ejek Selena. Tumben ibu dan Ratu hanya diam saja, biasanya mereka digarda paling depan membela Selena. Tiba di dalam kamar, aku melihat Mas Aksa baru saja keluar dari toilet, wajahnya semakin kuyu tak bertenaga "Ai, kok, obatnya belum bereaksi, ya." Mas Aksa sampai jalan membungkuk menuju ranjang. "Masa, sih, obatnya belum bereaksi, Mas?" tanyaku bingung. Setahuku obat itu manjur mengobati sakit perut. "Sewaktu kamu diluar mas sudah bolak-balik kamar mandi 3 kali, Ai," ringisnya. Aku yang penasaran, akhirnya mengecek obat yang aku berikan untuk Mas Aksa. Aku melebarkan mata, kaget. Ternyata aku salah memberi obat yang seharusnya obat mampet malah obat pelancar untuk orang yang sedang mengalami sembelit. Pantas saja obatnya belum bereaksi. "Kamu kenapa, Ai? Obatnya benar, kan?" tanya Mas Aksa cemas. Reflek aku menutup mulut dengan tangan menahan tawa, ternyata aku salah memberi obat. Mungkin itu balasan untuk suami yang sudah menyakiti istri. "Be--benar, kok, Mas," jawabku gugup seraya menggaruk leherku yang tidak gatal. Aku tidak mau Mas Aksa curiga kalau aku memberinya obat yang salah. Aku harus membuat Mas Aksa jatuh cinta lagi sama aku agar misi balas dendamku berhasil. "Syukurlah, mas pikir kamu marah lalu ngasih obat yang salah, Ai." Wajah Mas Aksa terlihat lega. Aku mendekati Mas Aksa lalu duduk disampingnya. "Kalau mas berpikir aku akan balas dendam ke mas dan Selena, mas salah. Aku bukan orang yang bodoh meracuni kalian hanya dengan obat pencahar. Karena aku pintar aku pasti akan memilih meracuni kalian dengan racun sianida biar sekalian kalian bisa bersatu di akhirat," ujarku. Tak lupa kuberikan senyum menyerigai. Mas Aksa tersentak kaget, bisa kulihat perubahan wajahnya ketakutan. Dia pikir aku akan diam dan menerima dengan ikhlas dimadu. Sorry, ya. "Ai, Mas minta maaf sudah menyakiti kamu, Mas mohon kamu jangan jadi orang yang jahat. Mas nggak mau mati muda, Ai," katanya memelas. Cih! Enak sekali bilang maaf dan menyuruhku jangan jadi orang jahat. Aku berubah seperti ini karena kamu yang menyakitiku lebih dulu, Mas. "Semua sudah terjadi, percuma aku marah sama kamu mas tidak akan merubah keadaan, kamu juga tidak mungkin menceraikan Selena, kan," gumamku berpura-pura sedih. "Ai, Mas janji akan adil sama kamu dan juga Selena." Aku tersenyum kecut. "Oh, iya, Karena mas sudah menikah lagi. Jadi, mulai besok urusan keuangan rumah aku serahkan ke Selena termasuk kebutuhan rumah dan dapur," lanjutku. Mas Aksa terkejut dia menatapku tak percaya. "Kamu tidak mau mengurus mas lagi, Ai?" tanyanya dengan suara bergetar. Aku menghela napas kasar, untuk apa dia menikah lagi kalau tugas istri baru hanya melayaninya di ranjang. Ibu dan Ratu menjadikanku babu sedangkan Mas Aksa dengan Selena tugasnya bersenang-senang saja, itu tidak adil. "Mas, karena mulai besok aku mau kerja lagi. Aku hanya ingin menyiapkan diri, jika sewaktu-waktu kita tidak lagi bersama aku sudah bisa mencari uang sendiri. Dan, sebaiknya mas mulai ajari Selena mengurus rumah jangan hanya bisanya dandan dan goyang saja! Tapi dia juga harus bisa menjadi istri yang baik seperti aku yang bisa mengurus semuanya." Mas Aksa meremas rambutnya bisa lihat dia sedang frustasi karena aku mau kerja lagi. "Kamu mau kerja lagi, Ai? Terus yang masak siapa?" Ya Tuhan, bisa-bisanya aku jatuh cinta dengan orang yang tidak punya perasaan. Yang ada dalam pikirannya hanya makan. "Ya, Mas suruh Selena masak. Dulu waktu aku baru masuk ke rumah ini saja harus bisa masak oleh ibu kamu. Kalau mas keberatan aku kerja lebih baik kita pisah saja, Mas" ancamku. "Jangan, Ai. Mas tidak mau kita bercerai, mas akan menyuruh Selena menggantikan tugas kamu walau masakkan Selena tidak enak," jawabnya lesu. Siapa suruh punya istri dua pusing, kan. "Terima kasih, Mas," ucapku. Brak! Brak! "Mas Aksa, keluar kamu! Kamu tidak boleh tidur dengan Mbak Aira, apa kamu lupa mas kita masih bulan madu," teriak Selena sambil menggedor pintu kamar dengan kencang. "Tuh, istri baru mas minta ditemani, belum apa-apa dia mau menguasai kamu," sindirku. "Ya sudah, malam ini mas mau tidur sama kamu saja, ya. Mas kangen kamu, Ai." "Tidak bisa, Mas. Kalian penganten baru, aku tidak mau menanggung dosa karena kamu tidak adil membagi waktu," tegasku menolak. "Tapi mas sedang sakit, Ai. Mas mau dimanja sama kamu." Enak saja saat sakit dia mau aku yang mengurusnya sedangkan saat senang dia dengan Selena. "Mas Aksa, kalian sedang apa!" teriak Selena semakin kencang. Pintu kamar sampai bergetar karena digebrak dengan keras. "Mas, sebaiknya kamu keluar. Memangnya mas tidak malu kalau tetangga dengar, ini sudah malam," ujarku kesal. Bisa-bisa pintu kamar roboh jika dibiarkan saja. "Ok, Mas akan keluar tapi nanti kalau Selena tidur mas pindah ke kamar ini, ya." Aku hanya menggedik bahu, terserah. Sejujurnya aku sudah malas melayani Mas Aksa, apa lagi perkakasnya bekas Selena. Dengan langkah berat suamiku melangkah mendekati pintu, aku mengikuti Mas Aksa dibelakang. Tapi sebelum itu aku sengaja sedikit mengacak-ngacak rambutku tak lupa juga membuka satu kancing baju bagian atas. Mas Aksa membuka pintu perlahan, Gadis itu sudah berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang, seolah sedang menggerebek suaminya yang selingkuh. "Kenapa lama sekali buka pintunya! Pasti kalian sedang macam-macam, ya!" ujarnya menyelidik. "Kamu itu kenapa, sih, Selena! Mau kami macam-macam juga tidak ada larangan. Aku dan Mas Aksa masih sah pasangan suami istri," sahutku. Aku sengaja mengapit lengan Mas Aksa mesra agar Selena cemburu. Selena melengos tidak suka, aku yakin dia sedang cemburu karena suaminya berduaan dengan wanita lain walau itu dengan istri sahnya. Tidak ada satu wanita pun yang ikhlas suaminya berduaan di kamar dengan wanita lain. Makanya jangan jadi yang kedua. "Ada apa ribut-ribut," sela ibu dibelakang Selena. "Ini, Bu. Mbak Aira melarang Mas Aksa tidur denganku, aku itu lagi sakit butuh suamiku, Bu," rengek Selena. "Aku juga sedang sakit, Selena. Hanya Aira yang bisa merawatku, kalau kamu sakit ada ibu," keluh Mas Aksa. "Aksa, apa kamu tidak kasihan dengan Selena. Dia itu baru pindah ke rumah ini, masa ibu yang menemani istri kamu tidur," bentak ibu. "Ibu benar, Mas. Aku tidak mau ribut, sebaiknya kamu tidur di kamar Selena," kataku. "Tuh, Mbak Aira saja menyuruh kamu tidur denganku. Ayo, Mas." Selena menarik tangan Mas Aksa menuju ke kamar mereka. Gegas, aku menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Aku tidak mau tengah malam Mas Aksa masuk ke dalam kamar lalu memintah jatah malam. ***** Hari ini aku bangun lebih awal, bukan untuk menyiapkan sarapan pagi mereka tapi aku mau luluran dulu sebelum ke resto. Ya, mulai sekarang aku akan merawat diri seperti dulu. Semalam aku tidur sangat nyenyak sekali. Aku tidak tau semalam Mas Aksa mencoba masuk ke dalam kamar atau tidak karena pintu kamar aku kunci dari dalam. Kulirik jam di dinding sudah jam 6 lebih lima belas menit. Tanda-tanda kehidupan belum terdengar diluar karena biasanya setiap pagi akan ada suara teriakkan ibu, entah meminta sarapan pagi atau menyuruhku ini itu, aku yakin mereka masih belum bangun. Setiap hari rutintasku tidak jauh dari memasak sarapan pagi, siang, malam untuk mereka, lalu dilanjut beres-beres rumah tanpa jeda. Kadang aku baru istirahat sampai jam 11 malam. Selesai membersihkan diri aku mengaplikasikan wajah dengan make up flawless. Setelah dirasa sempurna dandanku, aku keluar kamar. Gelap. Lampu-lampu di seluruh ruangan masih padam. Ternyata benar mereka belum bangun padahal sudah siang. Kulirik kamar Selena dan juga Mas Aksa masih tertutup. Apa mungkin Mas Aksa belum bangun? Sebentar lagi waktunya Mas Aksa berangkat ke kantor. Ah, bodo amat. Mulai sekarang aku tidak peduli mau Mas Aksa telat kerja atau tidak karena tugasku sudah aku alihkan ke Selena. Toh, gaji Mas Aksa juga bukan untukku. Baru saja akan meninggalkan kamar, samar terdengar suara seseorang dari dapur. Karena penasaran aku jalan jinjit mendekati dapur. "Apa peternakkan kita kebakaran, Pa," pekik Selena. Ternyata Selena yang sedang menelpon mungkin dengan orang tuanya. Wajah gadis itu nampak panik, lalu tidak lama tubuhnya luruh di lantai sambil menangis. Bersambung

Bab 3 Cemburu

Suara pintu dibanting terdengar dari kamar Selena, tak lama Mas Aksa keluar hanya memakai celana kolor tanpa memakai baju. "Selena," teriaknya. Aku meninggalkan dapur menghampiri Mas Aksa. "Mas, kamu itu kenapa masih pagi teriak-teriak?" tanyaku bingung. Suamiku mengusap wajahnya kasar, rahang kokohnya mengeras menandakan Mas Aksa sedang dalam keadaan benar-benar marah. "Ini sudah siang, Selena tidak membangunkanku," ujarnya. "Aksa, kamu itu kenapa teriak-teriak berisik, tau!" protes ibu berdiri diambang pintu dengan rambut acak-acakkan. "Selena tidak membangunkanku, sekarang sudah setengah 7 kalau aku telat gimana, Bu? Ibu, sih, menyuruh aku tidur dengan Selena. Kalau gajiku dipotong karena telat apa ibu mau jatah ibu dikurangi!" ungkap Mas Aksa begitu kesal. Memangnya enak beristri dua, pusing sendiri kan. Gaji Mas Aksa sebenarnya tidak terlalu besar, dia hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan jasa. Gaya hidup ibu mertua dan adik iparku selalu mewah. Menurut cerita Mas Aksa, mereka dulu orang kaya, selepas bapak mertua meninggal hidup mereka berantakan karena ibu gemar berhutang. Warisan bapak mertua hanya tinggal rumah ini yang kami tempati sekarang. Tanah, aset-aset yang lain sudah dijual untuk biaya hidup dan membayar hutang ibu. "Ibu tidak mau jatah ibu dipotong. Harusnya kamu salahin Aira. Kenapa dia tidak membangunkan kamu," bentak ibu. "Maaf, ya, Bu. Hari ini tugas sebagai istri Mas Aksa aku alihkan ke Selena karena mulai sekarang aku mau kerja lagi," sahutku sembari membenahi blazer yang aku kenakan. Mata ibu melotot, melihatku dari atas sampe bawah. Sepertinya wanita paruh baya itu baru sadar aku sudah rapi hendak berangkat kerja. "Loh, loh, kalau kamu kerja siapa yang masak sama beres-beres rumah," protesnya. "Tadi aku sudah bilang, Selena yang menggantikanku," jawabku santai. "Kamu tidak bisa membuat keputusan seenaknya, Aira. Aksa, kamu harus larang Aira bekerja. Ibu tidak mau Selena yang masak dan beres-beres rumah," tolak ibu. "Bu, sudah biarkan Aira bekerja karena ku sudah mengizinkannya," sahut Mas Aksa. "Apa, Mas," sela Selena dari arah dapur. Mata Selena sembab karena habis menangis. "Aku tidak mau masak apa lagi beres-beres rumah," tolak Selena berang. "Selena kamu dari mana saja! Kenapa tidak membangunkanku," bentak Mas Aksa melihat istri keduanya keluar dari arah dapur. Wajah Selena berubah sendu. "Aku minta maaf, Mas. Tadi papa telepon, katanya abis kena tipu. Orang yang biasa memesan ayam potong belum membayar, kami rugi besar," jelas Selena sembari terisak. Aku mengeryit kening mendengar perkataan Selena. Bukannya tadi di telepon Selena mengatakan peternakan mereka kebakaran? Lalu kenapa Selena berbohong. "Ya ampun, jadi besanku kena tipu. Kasihan sekali," sahut ibu ikut prihatin. Selena mengangguk, air matanya luruh membanjiri pipi mulusnya. "Iya, Bu. Papa tadi menanyakan, apa Mas Aksa mau membantu papa untuk menambah modal, nanti kalau usaha ayam potong berjalan lagi, ibu dan Mas Aksa akan dapat untung besar," jelas Selena antusias. Aku masih belum paham arah pembicaraan Selena. Tapi, sudah lah aku tidak mau pusing memikirkan masalah mereka. Lebih baik aku fokus membesarkan usaha restoku, aku akan menunjukkan ke ibu dan Mas Aksa kalau aku bukan beban mereka. "Bu, Mas, aku mau berangkat kerja dulu," selaku berpamitan. Ibu yang tadinya ingin menghibur menantu barunya terhenyak kaget. "Tidak boleh, pokoknya kamu jangan bekerja, Aira. Kamu harus siapkan sarapan pagi kami lalu membereskan rumah," tegasnya. Aku merubah wajah sedih seraya menatap Mas Aksa. Suamiku terlihat bingung, memilih antara istrinya atau ibu yang melahirkannya. Beberapa kali dia menyugar rambutnya, frustasi. "Mas, kamu harus tegas dengan Mbak Aira. Jangan biarkan Mbak Aira bekerja, pokoknya aku nggak mau menggantikan Mbak Aira jadi babu di rumah ini," tolak Selena tegas. "Mas, kamu mengizinkanku bekerja, kan?" tanyaku dengan tampang memelas. Aku yakin dia tidak akan tega. "Cukup ibu memperlakukan Aira seperti babu, dia juga istriku. Selena, kamu harus menggantikan Aira kalau kamu masih mau menjadi istriku. Selama ini Aira sudah mengabdi di keluarga ini, sekarang gantian karena kamu juga sudah bagian keluarga ini kamu harus mengikuti aturanku," tegas Mas Aksa. Kuberikan senyum jahat kearah Selena, karena Mas Aksa membelaku. Gadis itu begitu kesal, ingin membantahnya pun dia pasti takut akan jadi janda. Selena menghentakkan kakinya, kesal. Ibu hanya diam tidak membantah perkataan putranya. Ternyata ibu juga takut jika Mas Aksa marah. "Selena, untuk sekarang kamu dengarkan omongan suami kamu, jangan sampai membuat Aksa marah," bisik ibu masih bisa aku dengar. "Tapi, Bu. Aku tidak biasa memasak apa lagi beres-beres rumah," lirih Selena. "Selena cepat kamu siapkan pakaian kerjaku," titah Mas Aksa. Selena menghela napas berat. "Baju kamu ditaroh di mana, Mas?" tanya Selena kebingungan. "Selena, aku lupa belum menyetrika baju kerja Mas Aksa," sahutku santai. Selena melebarkan mata coklatnya. "Apa," gumamnya dengan mulut melongo. "Selena cepat kamu setrika bajuku," perintah Mas Aksa lantang. "Ai, kamu jangan berangkat duluan. Kita berangkat bersama, nanti kita cari sarapan dulu di luar." "Iya, Mas," balasku manja. "Mas, kamu mau mengajak Mbak Aira sarapan. Lalu, aku gimana? Aku juga lapar." "Kalau kamu lapar, kamu bisa masak. Nanti jangan lupa kamu juga masakin untuk ibu dan juga Ratu," titah Mas Aksa lalu meninggalkan Selena yang masih tertegun. Suamiku menarik tanganku masuk ke dalam kamar. "Mas, kamu jahat. Terus gimana uang modal buat papa," teriak Selena. "Selena, cepat kamu setrika baju Aksa. Kamu tidak mau kan jadi janda," ucap ibu masih bisa aku dengar dari dalam kamar. Mas Aksa menuntunku kearah ranjang, lalu mendudukkanku di tepinya. "Kamu tunggu disini, ya, Ai. Mas cuma sebentar mandinya, ingat jangan kemana-mana." "Iya, Mas. Aku tidak akan pergi, kamu cepat mandinya sudah siang. Oh, iya, terima kasih, ya, mas sudah membelaku di depan ibu," ucapku terharu. "Ok, Sayang. Mas tidak akan lama. Kamu istriku, Ai. Mas akan membela kamu," ucapnya. "Ya sudah, mas mandi dulu, ya." "Iya." Sambil menunggu Mas Aksa, aku berselancar di dunia maya. Terkadang selesai tugas membereskan rumah, aku membaca novel di aplikasi untuk menghibur diri di tengah genjatan senjata dengan ibu dan juga Ratu. Aku membaca novel di platform berbayar, di sana ada salah satu novel yang paling aku suka judulnya "Cinta Sang Duda" mengisahkan seorang gadis bernama Rania menjadi korban pelecehan, orang tua Rania mengusir Rania karena pengaruh ibu tirinya yang jahat. Di jalan Rania bertemu dengan polisi tampan bernama Dewa berstatus duda. Kisah cinta Rania dengan Dewa begitu romantis, terbesit iri dengan perlakuan Dewa ke Rania. Andai Mas Aksa seperti tokoh Dewa, aku pasti menjadi wanita paling beruntung di dunia. Brak! Aku berjengit kaget, pintu dibuka dengan kencang, Selena masuk ke dalam kamar sambil membawa baju kerja Mas Aksa. "Di mana Mas Aksa?" tanyanya dengan wajah masam. Aku hanya membalas dengan melirikkan mata ke arah pintu kamar mandi. Selena mendengkus kesal. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Mas Aksa keluar hanya memakai handuk kecil melilit pinggangnya, tubuh kekarnya terpampang jelas membuat wanita mana pun pasti terpesona melihat pahatan sempurna wajah tampan Mas Aksa. Seandainya, suamiku tidak menikah lagi tentu saja waktu seperti ini yang aku suka. "Mas Aksa, kamu tampan sekali," puji Selena. Wanita itu mendekati suaminya seraya mengelus dada bidangnya. Aku yakin Selena menginginkan Mas Aksa. Aku membuang pandangan, tiba-tiba ada perasaan nyeri melihat mereka. Aku menepuk dada pelan untuk mengurangi rasa sesak. "Selena, lepas. Aku mau berangkat kerja," tolak Mas Aksa seraya mendorong istri mudanya. "Mas, tapi aku pengen," rajuknya manja. "Memangnya kamu mau aku dipecat," bentak Mas Aksa. "Sebaiknya aku menunggu kamu diluar saja, Mas. Cepat mas pakai baju, jangan lama-lama nanti aku tinggal," ucapku tegas. "Ai, kamu tunggu mas, ya." Aku meninggalkan kamar dengan hati berdarah. Walau sudah berusaha ikhlas tetap saja rasanya sakit sekali. Tiba di teras aku menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengurangi beban yang menghimpit di dalam dada. Tidak sampai 5 menit Mas Aksa keluar dengan pakaian tidak rapi, malah aneh karena warna pakaian bertabrakan. Aku memijit pelipis melihat Mas Aksa tidak terurus. "Ayo, Ai. Kita berangkat," ajaknya. "Mas, yakin mau pakai baju seperti ini?" tanyaku. Mas Aksa melihat pakaian yang dikenakan, keningnya berkerut. "Selena, tidak bisa memilih baju seperti kamu, Ai. Dia payah hanya bisa dandan, shoping, jalan-jalan," cetusnya sembari menarik napas panjang. Aku tersenyum dalam hati, nikah baru beberapa hari kamu sudah kacau mas. Bagaimana kalau aku tinggalin kamu. "Ya sudah, lebih baik kita berangkat," ajakku. "Iya, Ai." Mas Aksa membukakan pintu mobil untukku. Selama menikah dengannya baru kali ini dia membukakan pintu mobil untukku. "Mas, tunggu. Kamu makan dulu, aku sudah buat telor ceplok spesial untuk kamu." Selena berlari mendekati kami, di tangannya dia membawa piring. Tapi bukan itu fokusku, aku melihat isi di dalam piring telor ceploknya berwarna hitam. "Aku mau sarapan diluar saja," tolak Mas Aksa. Suamiku mendorong piring yang disodorkan Selena. "Sedikit saja, Mas. Aku sudah capek-capek masak masa mas nggak mau mencicipinya." Selena terlihat kecewa karena suaminya menolak masakkannya. "Selena, sudah aku bilang tidak mau. Kami sudah telat, cepatan minggir," bentak Mas Aksa. Tubuh Selena membeku, aku bisa melihat ada mendung di matanya dia hampir menangis. Mas Aksa berjalan memutari mobil lalu masuk ke dalamnya, dia benar-benar menghiraukan tatapan sedih Selena. Suamiku melajukan mobil meninggalkan rumah. "Ai, memangnya kamu kerja di mana?" tanya Mas Aksa memecah keheningan. "Aku kerja di Resto lagi, Mas. Nadia sudah menerimaku kembali kerja di sana," sahutku tanpa mengalihkan pandangan keluar jendela. Mas Aksa hanya tau pemilik Resto ayam bakar madu milik Nadia--sahabatku. "Oh, kamu kerja lagi disana," gumamnya. "Iya, Mas." Beberapa saat kami saling diam terjebak dengan pikiran masing-masing. Mobil Mas Aksa menepi ke salah satu gerobak bubur ayam di pinggir jalan. "Ai, kita sarapan dulu," ajaknya. Rasanya lucu, aku seperti sedang pacaran dengan suami orang. Mungkin seperti ini sebelum Selena dan Mas Aksa menikah. Aku yakin mereka sudah banyak menghabiskan waktu bersama dibelakangku. Mas Aksa keluar mobil lebih dulu, lalu dia membukakan pintu mobil untukku. Tangan Mas Aksa terulur, agar aku mengenggam tangannya. Namun, aku menghiraukannya. Aku memilih berjalan masuk ke dalam warung bubur ayam lebih dulu, sekilas aku melihat ada guratan kecewa di wajah tampan Mas Aksa karena aku sudah mengabaikannya. "Pak, aku pesen bubur ayam yang pedes jangan pakai kacang tapi yang banyak daun bawangnya," kataku ke bapak penjual bubur ayam. "Ai, kok, kamu cuekin Mas." Mas Aksa sudah berdiri disampingku. "Maaf, Mas. Tadi aku laper, sebaiknya cepat mas pesan bubur setelah itu kita berangkat lagi." Mas Aksa menghela napas berat. Kutinggalkan Mas Aksa yang sedang memesan bubur, aku memilih duduk di kursi paling pojok. Kulirik jam dipergelangan tangan sudah pukul 7. Mas Aksa menghampiriku sembari membawa 2 mangkok bubur ayam di tangannya. "Ini bubur kamu, Ai." Mas Aksa menaruh mangkok di depanku. "Terima kasih, Mas. Oh, iya, sebaiknya kita makannya cepat nanti kita terlambat," titahku. Mas Aksa memilih duduk berhadapan denganku. Aku melahap bubur dengan cepat, rasanya malas lama-lama dengan Mas Aksa. "Ai, makannya jangan cepat-cepat." "Sudah siang, Mas. Aku tidak mau hari pertama telat kerja, walau Nadia--sahabatku aku tidak mau membuat dia kecewa," balasku. Aku menghabiskan mangkok bubur sampai tandas tapi tidak dengan Mas Aksa, sepertinya dia sedang tidak berselara makan. Dia hanya mengaduk-ngaduk buburnya. "Kenapa tidak dihabiskan, Mas?" tanyaku. "Ai, apa sebaiknya kita melakukan bulan madu kedua, mas merasa kita semakin jauh. Mas ingin mempererat lagi tali pernikahan kita, siapa tahu setelah bulan madu kedua kamu hamil, Ai." Aku yang sedang minum hampir tersedak mendengar keinginan Mas Aksa. Apa tidak salah Mas Aksa meminta bulan madu kedua denganku, sedangkan dia saja sedang masa bulan madu dengan Selena. "Maaf, Mas. Aku tidak bisa, aku mau fokus bekerja. Seadainya kamu tidak menikah lagi, ceritanya akan berbeda," tolakku tegas. Mas Aksa menundukkan wajahnya, biarkan saja dia marah. Bukan, aku tidak mau memiliki anak, andai dia setia pasti dengan senang hati aku menuruti keinginannya untuk bulan madu kedua. "Ayo, kita berangkat," ajakku. Mas Aksa hanya diam lalu membayar bubur ayam yang kami makan. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Mobil Mas Aksa berhenti tepat di depan Resto, walau masih pagi mobil pengunjung di parkiran sudah lumayan ramai. Aku bersyukur berkat Nadia resto semakin maju. "Mas, aku masuk dulu, ya," pamitku. Aku mengambil tangan Mas Aksa lalu menciumnya penuh takzim. Walau Mas Aksa berkhianat aku akan tetap menghormatinya sebagai suami. "Ai, mas mohon pikirkan lagi keinginan mas. Mas ingin menebus kesalahan karena sudah menikah lagi," pintanya. Aku menatap bola mata coklat dengan bulu mata tebal. "Nanti aku pikirkan lagi, Mas. Aku masuk dulu, ya." "Nanti pulang mas jemput, ya, Ai." Aku tidak menjawab ucapannya. Cepat aku menutup pintu mobil. Mobil Mas Aksa meluncur meninggalkan resto. Aku masuk ke dalam, karyawan yang kebetulan berpapasan denganku menyapaku dengan hormat. Seluruh karyawan di sini semuanya orang lama, mereka semuanya mengenalku pemilik resto ini. Walau selama setahun Nadia yang menghandle resto, mereka tidak lupa siapa pemiliknya. "Laras, Nadia di mana?" tanyaku. Gadis berwajah manis yang sedang melayani pembeli sedikit kaget melihatku. "Di dalam, Mbak," sahut Laras. Karyawan di sini semua memanggilku dengan sebutan mbak. Aku tidak mau dipanggil bos, karena aku sudah menganggap mereka bagian dari keluargaku. "Terima kasih, Ras." Kuayunkan langkah menuju ruangan khusus di dalam resto. Ruangan itu sebenarnya tempat kerjaku tapi selama Nadia yang mengurusnya, ruangan itu sekarang ruangan kerja Nadia. Aku membuka pintu, terlihat Nadia sedang duduk sambil menerima telepon. Wajahnya begitu serius seperti ada masalah yang sedang terjadi. Melihat kedatanganku Nadia hanya memberi kode untuk menerima telepon dulu. Sambil menunggu Nadia selesai menerima telepon, kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada yang berubah masih sama saat aku tinggal. Foto kedua orang tuaku juga masih terpajang di atas meja kerjaku. Nadia sama sekali tidak merubah interior ruangan. Nadia sudah selesai menerima telepon, gadis itu kemudian memelukku erat. "Akhirnya, kamu kembali ke resto, Ai," ucapnya dengan mata berembun. "Maaf, ya, Nad. Aku sudah lama meninggalkan resto." "Aku senang kamu kembali, Ai." "Aku juga, Nad. Akhirnya, aku bisa mengelola kembali resto orang tuaku." "Tapi, Ai. Ada sedikit masalah, Raja ayam potong sudah tidak bisa mengirim ayam mentah lagi. Tadi, orang suruhan kita mendatangi usaha Raja ayam potong yang ternyata sedang mengalami musibah. Peternakkan ayam mereka dilalap si jago merah. Kita harus mencari lagi pemasok bahan mentah yang bisa dipercaya, Ai," jelas Nadia. "Kalau begitu kita kerja sama dengan Ajun ayam potong saja, Nad." "Iya, Ai. Kemarin resto pesan ayam potong di Ajun, bahan mentahnya bagus-bagus dan juga berkualitas." "Bagus, nanti kamu menghubungi Ajun ayam potong untuk melakukan kerja sama. Oh, iya, Nad. Apa Raja ayam potong mau mengembalikan uang resto yang sudah kita bayar?" Nadia menggelengkan kepalanya. "Mereka belum mengembalikannya, Ai. Pihak Raja ayam potong meminta waktu." Sebenarnya tidak masalah dan tidak berpengaruh juga buat resto. Walau uang itu untuk modal kembali, bersyukur resto setiap hari semakin rame. "Ya sudah, beri waktu 2 minggu Raja ayam potong untuk mengembalikan uang kita, Nad," perintahku. "Ok, Ai. Aku akan konfirmasi ke Raja ayam potong." Nadia kembali menghubungi Raja ayam potong, aku sengaja diam menyimak pembicaraan Nadia dari sambungan telepon. "Ai, anak Pak Raja ingin bicara dengan kamu." Nadia menyerahkan pesawat telepon yang sedang dia pegang. Aku mengambil gagang telepon kemudian menempelkan ke indra pendengaranku. "Hallo, saya Aira pemilik Resto ayam bakar madu," sapaku memperkenalkan diri. "Hallo, saya anak Pak Raja ayam potong mau meminta keringanan waktu untuk mengembalikan uang yang sudah kami terima, Mbak," ucap seseorang dari sebrang telepon. Tunggu. Kenapa suara anak Pak Raja sepertinya tidak asing, ya? Bersambung

Lanjut baca