Mata Rea terlihat sembab karena menangis sejak pagi. Napasnya pun masih terasa sesak dan berat. Mental dan pikirannya bagai diterjang badai setelah ibunya mengembuskan napas terakhirnya pagi ini. "Rea! Apa yang kau lakukan? Masih banyak tamu yang berdatangan!" sergah Lydia, saudara jauh yang sering ia panggil bibi itu. Rea berkedip untuk mengaburkan lamunan. Benar saja. Tamu yang datang untuk berbela sungkawa semakin banyak. Entah sudah berapa lama Rea termenung di sini. Wajah gadis itu pun terlihat pucat dan lesu karena bersedih sejak pagi. "Ayahmu juga tidak ada! Cepat cari dia. Siapa yang akan mengurus semua tamu-tamu ini jika bukan Ryan? Bibi tidak mengenal mereka!" gerutu Lydia. Tak heran jika ia menjadi temperamental, sebab wanita yang sebenarnya saudara jauh ibunya itu pun sudah lelah sejak pagi. Rea menghapus air mata di pipinya dan cepat-cepat berdiri untuk mencari sang ayah. Padahal, Rea melihat pria itu masih berada di antara tamu-tamu beberapa menit lalu. Gadis itu mencari ke mana-mana, tetapi tidak berhasil menemukannya hingga ia melihat siluet sang ayah di area belakang rumahnya. Rea mencoba menjulurkan kepala dan ia melihat sang ayah tengah berbicara dengan seseorang. Dalam jarak ini, ia tak bisa melihat lawan bicaranya karena terhalang mobil yang terparkir. Gadis itu berniat berjalan mendekat, tetapi langkahnya terhenti saat tahu-tahu sang ayah memeluk lawan bicaranya. Deg Jantung Rea seolah berhenti saat itu juga. Seluruh tubuhnya membeku, tak dapat digerakkan sedikit pun. "Sabar sedikit, Baby." Suara sang ayah terdengar, mengusap lembut rambut wanita di pelukannya. Rea tak bisa melihatnya karena wajahnya tertutup dekapan sang ayah. Namun, ia bisa melihat rambut panjang, lurus, dan berwarna kemerahan itu. "Aku benar-benar merindukan Mas." Wanita itu menjawab. Ryan mengangguk dan memeluknya lebih erat. Mata Rea membelalak dan terpaku seolah lupa berkedip. Baru kali ini melihat sang ayah bersikap begitu hangat dan lemah lembut. Sebelumnya, kepada ibunya yang sakit pun Ryan tak pernah menunjukkan kasih sayang. "Aku tahu, tapi aku masih disibukkan dengan upacara pemakaman ini." "Wanita itu benar-benar merepotkan, ya? Untung saja sekarang dia sudah mati. Mas tidak akan kerepotan lagi," jawab wanita itu. Napas Rea menjadi semakin berat mendengarnya. Jantungnya berdenyut nyeri tiap kali ia bernapas. Rea tak percaya dengan apa yang dilihat. Makam ibunya bahkan masih basah dan ayahnya justru bermadu kasih dengan wanita lain. "Kau benar. Mulai sekarang, aku bisa fokus menghabiskan waktu bersamamu," jawab sang ayah, kemudian mengecup puncak kepala wanita itu. Rea yang menjadi anaknya saja belum pernah dikecup semenjak ia kecil. "Bagaimana jika putrimu mengetahuinya?" "Dia sibuk dengan kuliahnya. Dia tidak akan tahu sampai kapan pun. Lagi pula, jika dia curiga, aku hanya perlu menyentaknya." Wanita dalam dekapan sang ayah itu terkekeh. Rea masih tak bisa melihat wajahnya. Hanya satu langkah. Rea akan mengetahui wajahnya jika ia maju satu langkah. Namun, hal itu juga akan menunjukkan keberadaan dirinya. "Baiklah. Mas pasti capek. Aku akan memberi pelayanan tambahan jika kita bertemu nanti," jawab wanita itu dengan nada manja. Rea nyaris muntah mendengarnya. Daun telinganya terasa panas dan air mata nyaris tak bisa ia bendung lagi. Gadis itu cepat-cepat pergi dari sana. Hingga saat ia tiba di dalam rumah, air mata kembali tumpah membasahi wajahnya. Rea tak bisa mempercayai ini. Ayahnya sendiri berselingkuh tepat pada hari pemakaman ibunya. Tidak, mungkin saja ayahnya sudah sebelum hari ini? Semenjak ibunya sakit-sakitan? Gadis itu masih berusaha menghapus air matanya saat tahu-tahu ayahnya berjalan masuk. Dia menatap ke arah Rea dengan tidak senang. "Nangis melulu," komentarnya, "Apakah kamu tidak capek menangis sejak pagi? Cepat! Banyak tamu yang berdatangan!" omel Ryan. Pria itu memang selalu bersikap galak dan tegas kepada Rea dan ibunya. Oleh sebab itu, ia terheran-heran menatap sikap lembut Ryan terhadap wanita itu. Rea masih terisak saat Ryan berjalan pergi meninggalkannya. Pria itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa, tetapi satu noda di sisi leher Ryan berhasil menarik perhatian Rea. Warnanya kemerahan dan tampak samar. Namun, dari ukurannya, Rea bisa langsung menerka apa itu. Ia sungguh merasa jijik. *** *** Pikiran Rea masih berkecamuk sehari setelah pemakaman ibunya. Benaknya dibanjiri kesedihan, tetapi pikirannya terus tertuju pada wanita yang memeluk ayahnya kemarin. Siapa dia? Tidak ada kenalan mereka yang berambut kemerahan. Apakah dia dari kantor ayahnya? Pikiran-pikiran itu terus memenuhi otak Rea hingga rasanya mau meledak. Dering ponsel tanda pesan masuk seketika mengalihkan perhatiannya. "Biaya kuliah untuk mahasiswi atas nama Reaneta Alisha masih belum dibayar dan sudah menunggak dua minggu. Jika belum dibayarkan sampai akhir bulan, yang bersangkutan tidak akan diizinkan menghadiri kelas." Rea seketika memejamkan mata membacanya. Belakangan ini, ia terlalu fokus mengurus sang ibu yang sakit-sakitan sampai lupa jika SPP kuliahnya belum terbayarkan. Tanpa pikir panjang, Rea menghampiri sang ayah di kamarnya. Rasanya aneh berbicara dengan pria itu setelah menyaksikan semuanya. "Papa belum membayar SPP kuliahku?" Rea bertanya tanpa basa-basi. Bahkan kini gadis itu tak bisa berbicara lembut kepada ayahnya. Nadanya selalu datar ataupun kecewa. Ryan yang tengah mengelap tongkat golfnya seketika mendelik ke arah sang putri. "Dasar anak tidak tahu diri!" bentaknya, "Kamu tidak lihat kemarin Papa sudah mengeluarkan berapa banyak untuk kematian ibumu? Berani-beraninya kamu menagih uang itu! Kamu pikir Papa ladang uang!?" Bahu Rea berjengit kaget karena tahu-tahu sang ayah meledak. Ini bukan kali pertama Rea terkena semprotan emosi pria itu. Dahulu, Rea selalu merasa bersalah dan ketakutan tiap ayahnya murka. Kini, entah mengapa Rea justru merasa kecewa. "Aku bisa dikeluarkan dari kampus jika tidak segera bayar, Pa," ucapnya. "Masa bodoh!" sergah Ryan, "Sudah Papa bilang, seharusnya kamu bekerja saja, tidak usah kuliah segala! Kalau bekerja, kamu bisa dapat uang dan membantu keluarga, bukan justru terus-menerus menyusahkan Papa seperti ini," komentarnya. Tangan Rea tanpa sadar mengepal erat mendengar cacian sang ayah. "Mama ingin aku kuliah agar hidupku lebih terjamin, Pa," jawab gadis itu. "Hidupmu terjamin, tapi hidup Papa sengsara! Ibumu sudah sakit-sakitan dan Papa juga harus bayar uang kuliahmu! Kamu dan ibumu sama saja, sama-sama menjadi beban bagi keluarga ini," tukas Ryan dengan wajah penuh emosi. Bibir Rea terbuka untuk menjawab, tetapi terhenti karena tiba-tiba ponsel ayahnya berdiring. Wajah Ryan yang semula jengkel seketika berubah saat melihat layar ponselnya. Namun, ia tak langsung menjawab panggilan itu. Dia kembali menatap tajam ke arah Rea. "Papa tidak mau tahu, kau harus mencari uang sendiri untuk biaya kuliahmu itu! Terserah bagaimana caranya. Jual diri juga tidak masalah! Minggir!" Dia menyentak tubuh Rea dan melewatinya begitu saja. Hati Rea berdenyut nyeri mendengarnya. "Ya, aku akan segera ke sana." Suara sang ayah masih terdengar sementara dia berjalan pergi. Rea langsung menoleh ke arah sang ayah dengan curiga. Penampilan pria itu jauh lebih rapi dari biasanya. Tidak salah lagi, dia pasti hendak menemui wanita selingkuhannya itu. Ini kesempatan bagi Rea untuk melihat identitasnya! Tanpa berpikir panjang, Rea mengikuti sang ayah. Pria itu pergi dengan mobil dan Rea menyewa taksi untuk membuntutinya. Gadis itu sedikit heran saat mobil sang ayah memasuki mal yang terkenal mewah. Rea terus mengikuti Ryan dengan hati-hati dan benar saja Ryan bertemu dengan wanita berambut kemerahan yang sama. Rea memicingkan mata berusaha melihat wajahnya dan matanya membelalak seketika. Ia tak mengenal wanita itu, tetapi dia terlihat sangat muda. Tubuh dan wajahnya bahkan nyaris sepantar dengan Rea. Tenggorokan Rea seakan tercekat saat melihat keduanya bergandengan tangan. "Apa-apaan ini?" Rea bergumam dalam hati. Ia tidak salah lihat, bukan? Seketika merasa jijik dengan sang ayah yang berselingkuh dengan gadis seusia putrinya. Masih tak percaya, Rea mengikuti mereka memasuki toko yang khusus menjual tas dan sepatu. Ryan tampak setia mengikuti wanita—gadis— di sisinya melihat-lihat. "Benar tidak apa-apa Mas membelikan ini untukku?" Gadis itu bertanya dengan nada manja seraya memegang sebuah tas yang Rea yakin harganya menyentuh belasan juta. Ryan mengangguk ringan dan tersenyum. "Tidak masalah. Aku akan membelikan apa pun untukmu." Jawaban itu bagaikan panah yang melesat langsung menembus jantung Rea. Ayahnya menyuruh dia untuk menjual diri demi biaya kuliah, tetapi membelikan gadis itu tas bernilai belasan juta. "Tapi, Mas pasti sudah keluar banyak untuk pemakaman wanita sakit-sakitan itu." Gadis itu berkata lagi. Masih dengan nada manja yang membuat Rea jijik. "Biayanya aku bayar dengan uang wanita itu. Enak saja aku mengeluarkan banyak uang untuk dia. Lebih baik aku simpan untuk membahagiakanmu, Baby," ucap Ryan, kembali merangkul mesra bahu sang kekasih. Kesabaran Rea sudah habis. Cara mereka membicarakan ibunya dan sikap sang ayah sungguh menyulut emosinya hingga ke ubun-ubun. Tanpa pikir panjang, Rea meraih salah satu tas di sisinya dan berjalan mendekati keduanya.
Rea sangat tergoda untuk menghajar keduanya dengan tas di tangannya. Namun, gadis itu tak mampu melakukannya. Ia justru terlarut dalam kesedihan dan memutuskan untuk pergi karena tak tahan berlama-lama melihat keduanya. Sekalipun ia memberi pelajaran kepada mereka, ayahnya akan kembali mengecam Rea di depan publik. Bahkan, Rea tak akan heran jika Ryan tega melaporkannya ke polisi. Pada akhirnya, ia hanya bisa meninggalkan mal itu dengan berlinang air mata kesedihan sekaligus dendam. *** *** Tak sulit untuk mencari informasi tentang selingkuhan sang ayah. Kebetulan, gadis itu merupakan tipe yang haus pengakuan. Setelah Rea berhasil menemukan akun sosial medianya, ia mendapatkan banyak informasi. Namanya adalah Gianna Covey. Usianya sama seperti Rea, mendekati dua puluh satu tahun. Itu berarti dia memiliki jarak lebih dari dua puluh tahun dengan sang ayah. Gianna berasal dari keluarga yang cukup berada. Namun, dari beberapa keterangan yang Rea lihat, sebagian besar barang-barang bermerk miliknya dibelikan oleh sang ayah. Hati Rea berdenyut nyeri saat melihat foto Gianna tengah berlibur di salah satu pantai yang letaknya di luar provinsi. Berpaku pada tanggalnya, hal itu berbarengan dengan jadwal operasi sang ibu. Saat itu, ayahnya memang tidak datang dengan alasan pekerjaan di luar kota. Rea yang tengah mengerjakan tugas kelompok sampai harus izin demi mendampingi sang ibu menjalani operasi. “Ternyata, semua itu hanya kebohongan,” gumam Rea dengan pahit. Ayahnya sama sekali tak memedulikan istrinya yang sakit-sakitan dan justru bersenang-senang dengan gadis seusia putrinya. Pikiran itu terus memenuhi pikiran Rea hingga gadis itu melamun sepanjang perkuliahan. “Kamu baik-baik saja, Rea?” tanya Amira, salah satu teman dekat gadis itu. Biasanya, Rea selalu aktif bertanya kepada dosen, tetapi kali ini gadis itu termenung. Tangannya bahkan tak bergerak untuk mencatat satu kalimat pun. Rea tak berkutik. Hingga ketika bunyi notifikasi dari ponselnya terdengar, Rea baru berkedip. Ada pembaruan status dari akun sosial media Gianna. Menunjukkan gadis itu yang tengah menghabiskan waktu di bar langganannya. Seringai tipis secara otomatis terbit pada wajah Rea. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Gianna terlihat bahagia setelah menghancurkan keluarga seseorang. “Rea? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?” Amira kembali bertanya, kali ini dengan nada segan. Rea masih tidak menjawab. Dia mengabaikan Amira dan mulai merapikan bukunya. “Aku harus pergi ke suatu tempat,” ucap Rea, kemudian bergegas pergi. Tak butuh waktu lama untuk tiba di bar tempat Gianna berada. Rea langsung bisa menemukan gadis itu yang tengah berkumpul bersama dua temannya. Ia tak ingin melabrak Gianna. Itu bukan bagian dari rencananya. Rea ingin mengumpulkan informasi tentangnya terlebih dahulu, kemudian menyusun rencana. Akhirnya, Rea mengambil tempat duduk yang tak jauh dari mereka, memastikan ia bisa mendengar pembicaran gadis-gadis itu dari tempat duduknya. “Bukankah itu tas keluaran terbaru?” ucap gadis berambut blonde di sisi Gianna. Menunjuk pada tas yang tempo hari dibelikan Ryan. Gianna tersenyum bangga dan memamerkan tasnya. “Kau benar. Seseorang membelikanku tas ini kemarin,” ucap wanita itu dengan sombong. Rea memutar bola matanya dengan geram. Tak habis pikir bagaimana bisa sang ayah jatuh cinta pada gadis serendah Gianna. “Siapa? Pacarmu yang kaya itu? Dia yang tempo hari mengajakmu berlibur, bukan?” tanya gadis lain di sisi Gianna. “Dia bukan pacarku!” Gianna langsung membantah. Rea sontak menoleh ke arahnya dengan terkejut. “Aku hanya memanfaatkannya. Dia terlalu jelek dan rendah untuk menjadi pacarku,” jawab Gianna. Mendengar itu, Rea tersenyum pahit. Ayahnya benar-benar bodoh karena merelakan keluarga tulusnya demi gadis yang hanya menganggapnya sebagai ATM berjalan. “Kalau begitu, seleramu pasti yang seperti itu,” ucap gadis berambut blonde seraya melirik ke arah seorang pria yang baru saja tiba. “Pria idamanmu sudah datang. Tebakanmu benar,” ucap sahabat Gianna yang lain. Rea menyaksikan Gianna tersenyum malu-malu dan mencuri pandang pada seorang pria. Rea mengikuti arah pandangnya dan menemukan seorang pria bertubuh tegap. Kontras dengan pengunjung yang lain, pria itu mengenakan pakaian kerja yang formal, bahkan lengkap dengan jasnya. Wajahnya tampan dan tubuhnya berpotongan alisnya. Pandangan matanya pun terlihat tajam dan cerdas. Dalam sekali lihat, Rea bisa menilai pria itu kaya raya, jelas jauh jika dibandingkan dengan ayahnya. “Sudah kuduga pria itu akan datang,” ucap Gianna dengan lebih lirih, “Tidak sia-sia kita menunggunya.” … jadi, dia adalah pria idaman Gianna? Rea bergumam dalam hati. “Pria itu datang lagi.” Seorang bartender di depan Rea ikut bersuara. Gadis itu tak melewatkan kesempatan ini untuk menggali informasi. “Anda mengenalnya?” Bartender itu mengangguk. “Sudah empat kali dia kemari. Dia selalu datang jika memiliki masalah di pekerjaannya,” ucap bartender itu. Rea menganggukkan kepala. Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari pria itu berjalan ke arahnya. Bahkan, pria tampan itu duduk tepat di sisi Rea. “Seperti biasa,” ucapnya dengan suara baritone yang berat. Bartender itu mengangguk dan langsung membuatkan pesanannya. “Ada masalah lagi?” Bartender itu bertanya. “Orang-orang kantor sungguh tidak becus!” sergah pria itu. Sedetik kemudian, ponselnya berdering, berulang kali. Namun, pria itu hanya mengusap wajahnya dengan kasar dan mematikan ponselnya. Seakan lelah dengan semua teror itu. “Di mana sekretaris Anda yang kemarin, Tuan?” Bartender itu bertanya seraya menyerahkan pesanan. “Saya pecat,” jawab pria itu dengan tegas, “Kerjanya sangat lambat dan membuat kesabaran saya habis.” Bartender itu hanya tersenyum mendengar ucapan geram pria di sisi Ayana. “Sepertinya, Anda harus segera merekrut sekretaris baru. Minggu ini sudah tiga, bukan?” tanya bartender itu. Rea nyaris tidak percaya mendengarnya. Memangnya ada orang yang dalam seminggu sudah ganti sekretaris tiga kali? Sekretaris atau jaket? “Mereka semua tidak kompeten,” umpat pria itu dengan geram, “Ke depan, seleksinya harus lebih ketat. Bahkan, kalau bisa, aku akan menyuruh mereka lembur sampai pagi!” Rea sampai menelan saliva mendengarnya. Begitu pula Gianna dan kawan-kawan yang seketika tercengang. Pria itu menenggak minumannya sampai habis, meninggalkan beberapa lembar uang, kemudian berjalan pergi dengan kesal. “Ini kesempatanmu, Gianna!” ucap gadis berambut blonde. Mereka kembali histeris setelah pria itu pergi. “Cecil benar! Jika kau menjadi sekretarisnya, kau bisa bersamanya sampai pagi!” ucap sahabatnya yang lain. Rea menyaksikan sendiri bagaimana wajah Gianna berubah menjadi berseri. Saat itu, sebuah ide terbesit dalam pikiran Rea. Rencana balas dendam yang rapi langsung tersusun dalam benaknya. Gadis itu telah merenggut kebahagiaan dari keluarga Rea. Sebagai gantinya, Rea tak akan membiarkan wanita itu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah. Ia akan menaklukan pria itu lebih dahulu dan membiarkan Gianna mengerti rasa sakitnya. Dia telah merebut Ryan dari sosok ayah bagi Rea. Kini giliran Rea untuk merebut pria idaman wanita itu. Tepat di depan matanya. “Maaf, apakah kau menyimpan kartu nama pria itu?” Rea bertanya kepada bartender di depannya.
"Papa! Apa yang Papa lakukan!?" sergah Rea. Gadis itu baru saja keluar dari kamarnya di pagi hari dan tahu-tahu melihat sang ayah sudah memporak-porandakan barang-barang ibunya. Ryan melirik sekilas ke arah Rea yang menatap ke arahnya. Namun, pria itu tidak peduli dan lanjut memilah-milih barang sang istri. Yang cukup berharga dikumpulkan pria itu, sementara yang lain dibuang begitu saja seperti barang tak berguna. "Hentikan, Papa!" Rea menerjang masuk dan menghentikan tangan sang ayah. "Lepaskan!" damprat pria itu seraya menepis tangan Rea dengan kasar. "Papa sedang memilih barang-barang berharga yang bisa dijual," ucap pria itu. Hati Rea seakan mencelos mendengarnya. Ia menatap sang ayah dengan sorot tak percaya. "Tapi, ini semua barang-barang kesayangan Mama, Pa! Makam Mama bahkan masih basah dan Papa sudah mau membuang barang-barang Mama!" Rea melawan dengan alis mengerut. Tanpa sengaja pandangannya menangkap album foto ketiganya saat Rea kecil. Benda itu ditempatkan bersama barang lain yang tak berguna dan siap untuk dibuang. Gadis itu cepat-cepat memungutnya dan membersihkan debu di sekitarnya. "Ini foto kita bertiga, Pa. Kenapa Papa mau membuangnya?" "Sampai kapan kamu mau bersikap kekanakan, Rea!?" Ryan balas membentak. "Kau harus realistis! Kita butuh uang. Lebih baik kita menjual barang-barang ini!" sergah Ryan. Seakan amat mengerti, pria itu dengan tepat memilih tas dan sepatu yang cukup bernilai untuk dijual. Hingga tanpa sengaja pria itu menemukan cincin pernikahan mereka dahulu. Ryan masih memiliki surat-suratnya. Jika dijual, dia bisa mendapatkan belasan juta. Namun, dengan cepat Rea mengambil alih perhiasan itu dari sang ayah. "Kembalikan, Rea," pinta Ryan dengan nada tegas. Gadis itu menggeleng dan menyembunyikan cincin itu di belakang punggungnya. "Tidak akan!" jawab Rea, tidak kalah tegas. "Dasar gadis bodoh! Cincin itu sangat bernilai jika dijual. Cepat kemarikan! Kita sangat membutuhkan uang setelah pemakaman ibumu!" sergah Ryan. Jika ia mendengarnya beberapa hari lalu, Rea mungkin akan mempercayai perkataan sang ayah begitu saja. Namun, ia telah mendengar sendiri jika Ryan menggunakan uang ibunya untuk pemakaman. Bisa-bisanya dia mengungkit itu tanpa merasa bersalah. "Mengapa Papa butuh uang?" tanya Rea dengan berani. "Papa tidak perlu lagi membiayai pengobatan Mama. Papa bahkan tidak membayar uang semester kuliahku. Kenapa Papa butuh uang sampai tega menjual cincin Mama?!" sergah Rea. Matanya memerah dan berkaca-kaca, tetapi ia berhasil mengatakannya dengan emosi menggebu-gebu. Melihat perlawanan Rea membuat Ryan ikut naik pitam. "Anak ini benar-benar kurang ajar!" Tangan pria itu terangkat untuk menampar Rea. Namun, tampaknya Ryan masih bisa berpikir jernih dan berhenti sebelum benar-benar memukul putrinya. Rea sama sekali tidak takut. "Jangan-jangan, Papa memiliki tanggung jawab untuk menafkahi orang lain?" tuduh gadis itu. "Gaji Papa seharusnya lebih dari cukup. Mengapa Papa sampai harus menjual semua ini? Jangan-jangan—" "Diam!" bentak Ryan dengan geram. Jantungnya mulai berdegup panik saat Rea menghujaninya dengan sorot curiga. "Kau sama saja seperti ibumu! Hanya bisa membebani Papa! Tidak ada satu pun dari kalian yang berguna!" sergah Ryan, kemudian melangkah pergi dengan kesal. Air mata Rea kembali menetes begitu sang ayah pergi. Dia jatuh terduduk di atas ranjang sang ibu dan mulai menangis sembari mendekap foto keluarga itu. "Apakah Mama mengalami ini setiap hari?" Rea mulai bergumam. Air matanya terus berderai. Selama ini, ia hanya melihat sosok ibu yang penyayang dan lembut. Siapa sangka jika rupanya ibunya harus menanggung semua rasa sakit ini. *** *** Tekad Rea untuk balas dendam semakin membulat setelah melihat sikap sang ayah. Dia sama sekali tak menunjukkan rasa hormat kepada wanita yang sudah menemani separuh hidupnya. Karena itu, Rea pun tak akan menunjukkan rasa hormatnya kepada Gianna. Sesuai dugaan, Gianna turut mendaftar pada lowongan itu. Gadis itu tengah mempercantik riasan wajahnya saat Rea datang. Rea sudah mengenakan kemeja terbaiknya, tetapi penampilannya masih kalah jauh dengan Gianna yang terlihat bersinar dan modis. Ada tiga wanita lain yang menunggu bersama mereka. "Kau sudah mendengarnya? Katanya, CEO perusahaan ini langsung yang mewawancarai kita nanti," ucap salah seorang wanita yang ikut menunggu. Gianna tersenyum puas mendengarnya. Gadis itu semakin bersemangat untuk mempertebal riasannya. "Kudengar CEO perusahaan ini tampan." "Bukan tampan, tetapi luar biasa tampan!" Gianna mengangguk setuju. Pipinya terasa panas tiap kali membayangkan wajah tampan pria itu. "Gila!" sahut yang lain, "Tapi, katanya dia kejam banget sampai tidak ada sekretaris yang betah untuk bekerja. Minggu ini saja dia sudah ganti sekretaris tiga kali!" ucap yang lain. Rupanya rumor itu sudah tersebar luas, pikir Rea. "Semua laki-laki sama saja," ucap Gianna, ikut membuka suara. Dia paling terlihat bersinar di antara yang lain. "Kita angkat rok sedikit saja mereka pasti akan luluh," lanjut Gianna seraya tersenyum penuh percaya diri. Jawabannya membuat darah Rea mendidih. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya apakah Gianna melakukan hal yang sama untuk membujuk ayahnya. Keempat wanita lainnya lanjut bergosip, sementara Rea hanya diam. Dalam hati memikirkan taktik untuk mengeliminasi kandidat lainnya. Hingga tahu-tahu pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda. Dia tampan, tetapi terdapat cekungan di matanya yang membuatnya terlihat seperti zombie. Rea refleks menelan saliva. Apakah beban kerjanya begitu berat sampai seseorang bisa jadi seperti itu? "Semuanya bisa masuk sekarang," ucap pemuda itu mengarahkan. Kelimanya bergerak masuk secara bersamaan. Perhatian mereka langsung tertuju pada pria yang duduk di kursi kebesaran dan menunggu dengan punggung tegak. Logan Asher Maverick. Rea membaca nama di plakat itu dan menelan saliva dengan gugup. Namanya saja sudah terdengar mengintimidasi. "Semuanya, silakan perkenalkan diri kalian satu per satu," pinta pemuda yang tadi mempersilakan masuk. Wanita paling pojok tersenyum dan sudah membuka bibir untuk menjawab, tetapi Logan menginterupsi. "Tidak perlu," selanya, "Langsung putarkan rekaman itu." Dia memerintah. "Baik, Tuan," jawab pemuda itu. Dia menekan satu tombol di laptopnya dan benda itu mulai mengeluarkan suara yang tidak lain adalah rekaman pembicaraan mereka di luar. Satu per satu dari para wanita itu membelalakkan mata. Mereka saling pandang dengan panik. Logan membungkam mulutnya dan menatap para wanita itu dengan sorot tajam. Ia sengaja meminta bagian HRD untuk menyeleksi dengan ketat, salah satunya dengan mengamati pergerakkan mereka selama di ruang tunggu. "Dion!" Logan memanggil pemuda itu lagi. "Ya, Tuan?" "Buka pintunya. Usir para wanita dalam rekaman itu secepatnya! Aku tidak tahan melihat mereka!" kecam Logan dengan sorot dingin. Hati Rea seakan mencelos mendengarnya. Ia benar-benar merasa lega karena tidak mengatakan apa-apa di ruang tunggu tadi. "Tunggu, Tuan, kami bisa jelaskan—" "Tidak!" Logan menyela dengan tegas. "Saya butuh orang yang serius bekerja, bukan tukang gosip seperti kalian! Pergi dari ruangan ini sekarang juga!" sentak pria itu. Wajah Gianna yang sejak tadi terlihat percaya diri kini menjadi pucat pasi. Beberapa sekuriti berjalan masuk dan mulai mendesak mereka keluar. "Tunggu, kalian tidak bisa melakukan ini kepadaku!" Gianna cepat-cepat melawan dan memandang dengan sorot penuh permohonan ke arah Logan. "Aku tidak sengaja melakukannya! Kau akan menyesal menolakku. Aku adalah lulusan kampus ternama—" "Aku tidak peduli." Logan menjawab dengan suara dingin. "Sekalipun kamu membuka seluruh pakaianmu di depanku, aku tidak akan menerimamu. Cepat bawa wanita ini pergi!" titah Logan dengan suara tegas yang menggelegar. Gianna masih melakukan perlawanan hingga dua orang sekuriti harus menyeret paksa gadis itu keluar. "Kau akan menyesal menolakku. Aku adalah—" BAM! Pintu itu menutup dengan cukup keras dan kini hanya menyisakan Rea seorang. Pria bernama Dion itu memberi isyarat ke arah Rea dan gadis itu cepat-cepat berdiri. "Nama saya adalah Reaneta Alisha. Saya hanya lulusan—" "Sudah kubilang, aku tidak peduli," jawab Logan. Tatapan matanya terlihat dingin menusuk saat bertemu dengan iris Rea. "Apakah kamu serius ingin bekerja?" tembak Logan, tak ingin berbasa-basi. Rea mengangguk cepat. "I—Iya, Tuan." “Jawab yang benar!” “Aku siap, Tuan!” jawab Rea dengan lantang. Logan mengangguk puas. "Besok datang ke sini pukul enam pagi. Masa percobaanmu akan dimulai."