Tawanan Cinta Mafia Psikopat
Bab 1 Anak Buah Musuh Tertangkap

Tawanan Cinta Mafia Psikopat. Bab:1 BAB 1 "Target telah tiba." Sebuah pesan terdengar ke telinga Arthur melalui microphone yang tersambung dengan anak buahnya. Arthur menggenggam gelas wiskinya erat, rahangnya menegas seiring dengan detak jantungnya yang mengencang. Anak teri dari pesaing bisnisnya berhasil diculik untuk diserap informasinya. Dendamnya akan segera terbalas. "Ini, Arthur!" Bryan mendorong seorang lelaki yang kepalanya masih terbungkus kantong gandum. "Bagus, buka!" perintah Arthur dengan setengah mendesis. Bryan pun membuka penutup kepala lelaki target mereka. "Jadi Kamu karyawan di Fantazio Fuel?" tanya Arthur kepada lelaki yang berlutut di hadapannya dalam kondisi terikat. Lelaki itu menggelang, Arthur pun beralih menatap Bryan dengan tajam. "Ia sudah menyadari siapa kita, Arthur," tukas Bryan menjelaskan. "Bagaimana bisa?" Arthur pun meminta penjelasan meskipun sebenarnya Ia tahu bahwa penangkapannya tidak semulus yang diduga. "Ada yang kabur?" Arthur mengulangi pertanyaannya. "Iya, satu masih menjadi buronan," jawab Bryan dengan yakin. "Buronan kalian satu tapi yang memburu kalian tidak terhitung," decak Arthur dengan kesal. "Tapi tim kita sudah berusaha semaksimal mungkin, Arthur." Bryan tidak terima karena Arthur tidak menghargai usahanya. Plak! Satu tamparan melayang di pipi kiri Bryan, hal yang biasa Arthur berikan pada anak buahnya jika kinerja mereka kurang memuaskan. Itu adalah makanan sehari-hari yang paling ringan. Tidak jarang, Arthur sampai melayangkan nyawa mereka dengan sadis. "Aku tidak peduli bagaimana kalian mengerjakannya. Aku hanya ingin kalian berhasil," desis Arthur. Target yang kabur tidak menutup kemungkinan bisa melapor kepada atasan mereka atau orang lain yang lebih kuat. "Kita selesaikan yang ini dulu," ucap Arthur kemudian sambil menghela nafas. Ia beralih ke lelaki yang baru saja menyaksikannya menampar Bryan. "Dari mana D'Fantazio mendapat bahan mentah?" tanya Arthur sembari mengangkat dagu lelaki itu dengan ujung sepatunya. "Saya ... saya tidak tahu, Tuan," jawabnya dengan tubuh gemetar. Arthur memberi kode Bryan supaya melakukan sesuatu. Dengan senang hati, Bryan mengeluarkan pisau siletnya. Lelaki itu beringsut namun tidak bisa bergerak banyak karena kaki dan tangannya terikat. Bryan tersenyum miring sembari menurunkan badannya, berjongkok hingga wajahnya dan wajah lelaki itu sangat dekat. "Kau sudah menemukan jawabannya?" tanya Bryan pelan, tetapi ujung pisau siletnya menempel ke pipi lelaki itu. "Saya tidak tahu, Tuan. Sungguh. Saya hanya pegawai biasa," jawabnya dengan gugup. "Itu karena pangkatmu diturunkan. Sebelumnya, Kau bekerja di bagian produksi. Benar bukan?" Arthur menebak dengan maksud memancing. "Tidak, Tuan. Saya hanya pegawai rendahan." Lelaki itu menggeleng. "Beritahu kami apapun yang Kau tahu. Dari mana bahan mentah itu berasal." Arthur mengembalikan pertanyaan dari awal lagi sementara Bryan menekan ujung pisau siletnya dengan sedikit menggeser. Darah merah segar menetes dan membuat lelaki itu pucat pasi. "Dari subsidi pemerintah," jawabnya mencoba memasang wajah netral. Arthur dan Bryan hanya menyeringai karena D'Fantazio Fuel sudah pasti pandai mendidik para karyawannya supaya menjaga rahasia perusahaan. "Semua perusahaan pengolah minyak juga dapat subsidi dari pemerintah. Tetapi dari mana pasokan utama biasa kalian dapatkan?" tanya Arthur terus menekan lelaki itu dengan berbagai model pertanyaan. "Saya tidak tahu tepatnya, Tuan. Tetapi saya masih ingat pada sebuah logo di tangki yang masuk ke salah satu pabrik kami." Lelaki itu membuka suaranya karena tidak ingin pipinya hilang oleh sayatan silet. Bryan pun melunak, Ia melepaskan cengkeramannya pada kepala lelaki itu dan menyingkirkan silet yang dipegangnya. "Jelaskan pada kami seperti apa logonya," ucap Arthur penuh harap. Mungkin hanya dengan logo, Ia bisa mengenali siapa yang memasok bahan mentah untuk D'Fantazio. Atau setidaknya mendapat sedikit petunjuk. "Lepaskan ikatan di tangannya dan beri Ia bolpoin serta kertas," perintah Arthur pada Bryan. Dengan cekatan, Bryan pun melepas ikatan di pergelangan tangan lelaki itu lalu beranjak mencari bolpoin dan kertas. Arthur kembali menyesap minumannya dengan beragam tebakan bagaimana bentuk logo yang akan digambarkan oleh lelaki itu. Bryan kembali dengan bolpoin yang Ia lemparkan dengan kasar ke depan lelaki itu. "Agghh! Bryan terkesiap saat lelaki itu dengan secepat kilat menusuk kakinya menembus sepatunya menggunakan bolpoin, hingga bolpoinnya patah menjadi dua bagian. Arthur langsung mengacungkan pistolnya tanda mengancam, Ia membuka pengunci pelatuknya tetapi lelaki itu sudah melompat dengan ikatan kaki yang sudah lepas. Dorrr..! Tembakan meleset. Bryan mengikuti Arthur mengambil pistol dari ikat pinggangnya. tanpa diduga, lelaki itu bisa menjebol pintu seng mereka hanya dengan tendangan yang memekakkan telinga. Ia berlari dan membuat Arthur mendesis. "Sialan," umpat Bryan dengan kakinya yang sedikit pegal hingga mengganggu konsentrasinya. Arthur tidak menghentikan tembakannya dengan pistol lain yang lebih berbahaya karena mudah untuk mengelabui musuh dengan bunyinya yang teredam. Mereka terlibat aksi kejar-kejaran menjauhi sebuah gedung usang yang digunakan oleh Arthur dan Bryan biasa menyimpan targetnya dalam jangka waktu sementara. Lelaki itu berlari sekuat tenaga hingga berhasil menuju ke jalan raya, namun naas kaki kirinya tertembak hingga tidak bisa melanjutkan langkahnya. Arthur dan Bryan tidak melanjutkan perburuannya terhadap lelaki itu karena akan berbahaya. Mereka tidak bergerak di ruang terbuka secara terang-terangan. "Gunakan helm dan buntuti Ia," perintah Arthur. Bryan berlari menyambar helmnya dan mengenakannya, sementara di saat yang sama, Arthur menghidupkan mesin motor hingga siap dijalankan. Bryan menuju lokasi terakhir tempat lelaki itu berhenti tepat di tepi jalan. Lelaki itu mengaduh dan terduduk lemas, darah mulai mengucur deras. Para pengendara tidak terlalu memperhatikan meskipun lelaki itu melambai-lambaikan tangan. Wajar saja, karena mereka yang melintasi jalan raya yang sepi itu, melaju sangat kencang. Tetapi ada seorang gadis yang berhenti lalu meminggirkan motornya. "Anda tidak apa-apa?" tanya gadis bernama Livy, Ia membelalak melihat darah mengucur deras dari kaki kiri lelaki itu. "Tolong," rintihnya. "Aku akan menghentikan mobil," ujar Livy dengan panik. Tanpa butuh penjelasan, Livy sudah tahu bahwa kaki kiri lelaki itu ditembak. Ia melambaikan tangan, tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Pengendara mobil itu membuka pintu penumpang dengan remote hingga pintu pun terbuka secara otomatis. "Aku bisa sendiri," gumam lelaki itu menahan sakitnya sambil berusaha berdiri. Livy memapahnya untuk masuk ke dalam mobil. Livy tidak menyadari sang sopir tersenyum menyeringai, lelaki itu yang sedang kesakitan pun tidak menyadari karena terlalu fokus pada kakinya. Pintu penumpang kembali tertutup rapat saat mobil mulai melaju. "Bapak, tolong ke Rumah Sakit. Kaki orang ini terluka, terima kasih atas tumpangannya," ujar Livy mencoba berbicara dengan sopir. Bukan jawaban yang Livy dapatkan dari sopir itu, tiba-tiba saja muncul orang di belakangnya dan ketika Livy menoleh, orang itu membekapnya. "Kau pikir bisa lari dari kami begitu saja?" Sopir dengan sinis menyapa lelaki itu. "Bukannya selamat, Kau malah menyeret orang lain ke dalam masalahmu," lanjutnya kemudian mengencangkan laju mobilnya. Livy terkejut dengan apa yang tengah menimpa lelaki itu dan kini menyebabkannya terseret ke dalam masalahnya.

Bab 2 Di Culik

Tawanan Cinta Mafia Psikopat bab:2. BAB 2 Livy menggeleng berusaha berteriak tetapi mulutnya disumpal dan tangannya terikat ke belakang. Mobil yang mereka tumpangi melaju sangat cepat. Tiba-tiba saja Ia mengantuk berat, Ia baru menyadari bahwa mereka memberi obat tidur di kain yang digunakan untuk menyumpal mulutnya. Obat itu mulai bereaksi. Saat terbangun, Ia sudah duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Ia juga melihat lelaki yang kakinya tertembak berada di ruangan yang sama. Darah berceceran di lantai karena luka lelaki itu masih menganga. Seorang lelaki berperawakan tinggi besar masuk ke ruangannya. "Siapa anak ini?" tanya lelaki itu sembari menunjuk Livy dengan dagunya. "Ia ada di sana bersamanya, mungkin sedang menolongnya, Arthur," jawab lelaki lainnya yang Livy ingat menyetir mobil. "Tidak mungkin, di zaman seperti ini tidak ada orang yang sudi berhenti di pinggir jalan kecuali petugas," decak Arthur tidak percaya. "Kukira juga begitu," tanggap lelaki lainnya yang Livy tahu membekap dirinya. "Kita tanya saja anak itu, aku yakin Ia tidak bisu," celetuk Bryan karena bosnya dan kedua temannya sama-sama banyak basa-basi. Ia mencabut sumpalan kain di mulut gadis itu. "Hei, siapa namamu?" tanya Arthur ketus, Ia merutuki mengapa tidak berpikir seperti Bryan. "Livy," gumam Livy pelan. "Kau ada hubungan apa dengan anak ini? Kau temannya?" tanya Arthur lagi. "Tidak, aku melihatnya ada di pinggir jalan. Memangnya salah kalau aku menolongnya?" ujar Livy kesal karena orang-orang di hadapannya terus-terusan bertanya. Handphone Livy berdering sangat nyaring tanda ada yang menelponnya. Bryan merogoh saku celana gadis itu. Ia melihat siapa penelponnya dan melihat pesan di sana. "Katakan bahwa ban motormu bocor," ucap Bryan. Di sudut lain, Archie mengambil pistol di pinggangnya dan membuat Livy bergidik ngeri. Mereka pasti sedang mengancamnya supaya Ia mengatakan sesuai yang mereka inginkan. "Hallo," ucap Livy dengan panik. Temannya pasti menanyakan karena Ia belum juga sampai di tempat yang mereka sepakati. "Ban motorku bocor, kita batal aja gimana. Esok 'kan masih ada waktu," ucap Livy sambil memejamkan mata. Ia tidak bisa berbohong, tetapi Ia juga tidak mau peluru itu bersarang di kepalanya saat ini. "Archie, amankan motor itu. Kau pasti tahu di mana Ia menaruhnya," ujar Arthur memberi perintah. Archie pun bergegas melaksanakan apa yang dikehendaki Arthur. "Kau tidak perlu mengamankan motorku. Lepaskan saja aku, aku akan kesana sendiri," ujar Livy tetapi justru membuat Arthur menyeringai. "Kau pikir kami akan repot-repot membawakan motormu ke sini?" ucap Arthur dengan sinis. Livy pun bingung dibuatnya. "Jangan berpikir kami akan dengan mudah melepasmu setelah Kau tahu semuanya tentang kami," ucap Arthur. Ia menyentuh dagu Livy dengan ujung jarinya. "Aku tidak tahu siapa kalian. Hanya saja aku yakin kalian bukan orang baik-baik," ucap Livy membuat Arthur tertawa terbahak-bahak. "Anak pintar, sekarang pikirkan bagaimana hidupmu kedepannya nanti," ucapnya sembari mengacak-acak rambut Livy dengan tangannya. Mendengar hal itu, Livy mendapat sinyal bahwa orang-orang yang membawanya sangat berbahaya. Livy membayangkan jika dirinya akan mati mengenaskan atau hidup dengan keadaan tersiksa sepanjang waktu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang-orang ini. Niat baiknya untuk menolong orang lain malah berujung malapetaka. "Urus dia, Fano," perintah Arthur sembari menunjuk lelaki buronan mereka yang sudah mulai sadar. Stefano dan Bryan pun menyeret lelaki itu dengan kasar ke ruangan lain. Livy terkejut melihat perlakuan mereka yang tidak peduli pada erangan lelaki itu. "Apa yang akan terjadi padanya?" gumam Livy dengan bibir bergetar. "Kau akan tahu nanti," jawab Arthur sembari mengangkat alisnya. Ia menilai bahwa gadis itu memiliki tingkat kepedulian yang lumayan. "Mengapa Kau menolongnya?" tanya Arthur sembari menunjuk pintu, mengingatkan tentang lelaki yang baru saja diseret keluar. "Aku memang suka menolong," sahut Livy asal. Ia heran dengan lelaki di hadapannya, bukankah menolong orang lain merupakan hal yang manusiawi? Arthur kembali tertawa mendengar jawaban Livy yang dianggapnya klise. Ia terkesan dengan sikap anak itu, tetapi tetap waspada karena bisa saja Livy memiliki hubungan dengan lelaki buronannya. Atau bahkan Livy punya hubungan dengan D'Fantazio. "Kau kerja di mana?" tanya Arthur sembari menebak di dalam hati bahwa Livy mungkin bekerja di D'Fantazio. "Aku masih kuliah," jawab Livy singkat. Jawaban Livy membuat Arthur tidak penasaran lagi mengapa Livy bersikap sepolos itu. Ternyata Ia hanyalah gadis belia yang masih kuliah. Dari wajah, perawakan, dan cara bicaranya, Livy nampak tidak memiliki beban dan masalah berat dalam hidupnya. "Kau tahu D'Fantazio Fuel?" tanya Arthur mencoba memancing dengan cara lain. Ia khawatir dugaannya tentang kepolosan gadis itu salah. "Perusahaan bahan bakar minyak?" tanya Livy ragu. "Ya, tentu saja," sahut Arthur sembari menatap wajah Livy lekat-lekat. "Aku sedang menyelidiki perusahaan itu," gumam Arthur. Ia menyesap minuman di gelas anggurnya. "Perusahaan sebesar itu, untuk apa Kau selidiki?" tanya Livy terheran-heran. "Untuk merebut keuntungan," jawab Arthur tanpa beban sambil menyeringai. Mendapati jawaban Arthur, Livy heran sekaligus penasaran tentang lelaki di hadapannya. Lelaki itu berkata bahwa Ia akan merebut keuntungan, bukan hanya mengambil keuntungan. Livy pun tahu bahwa D'Fantazio Fuel adalah salah satu perusahaan raksasa di tanah air ini. "Kau seorang pebisnis?" Atau mafia? tanya Livy tidak berani menyuarakan pertanyaan keduanya. Arthur hanya mengangguk. "Lelaki yang Kau tolong barusan adalah salah satu karyawan di sana. Di profil akunnya, Ia adalah salah satu manajer, tetapi Ia mengaku hanya karyawan biasa kepadaku," papar Arthur menjelaskan lelaki yang diculiknya tanpa diminta. Livy terkesiap, Arthur menculik lelaki itu untuk diperas informasinya tentang D'Fantazio. Tidak menutup kemungkinan jika lelaki itu akan dibunuh setelahnya. Livy semakin yakin bahwa Arthur bukanlah orang biasa, Ia adalah penjahat kelas kakap. Arthur seorang mafia. Archie muncul tepat setelah Arthur selesai menjelaskan tentang lelaki itu kepada Livy. "Beres, Arthur. Rupanya motor itu tidak dilengkapi GPS," ujar Archie. "Bagus, kita tidak perlu menghilangkan jejak," sahut Arthur membuat Archie heran. Arthur sangat jarang mengapresiasi kinerja anak buahnya. Pimpinan mafia itu lebih sering mengomel dan menghardik. "Tetapi masih ada satu yang Kau lupakan," ucap Archie membuat Arthur mengerutkan dahi. "Gadis itu masih punya handphone," ujar Archie sembari menunjuk Livy. "Jangan ambil handphone-ku! Itu pemberian mendiang kakekku," teriak Livy tidak terima namun Archie tetap mengambilnya secara paksa. "Aku bisa memberimu handphone yang harganya puluhan kali lipat dari itu. Kalau Kau mau menurut padaku," ucap Arthur memiringkan wajahnya. "Aku tidak peduli. Aku hanya mau handphone-ku," teriak Livy. Ia memberontak dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari ikatannya di kursi. Kakinya berhasil terlepas dan secepat kilat Ia menendang tulang kering Arthur, membuat Arthur mendesis kesakitan. Archie yang khawatir Livy bertindak membahayakan Arthur, langsung mencabut pistol dari ikat pinggangnya. Ia mengarahkannya ke depan wajah Livy.

Bab 3 Memberikan Misi

Memberikan Misi. "Tenang, Ia tidak berbahaya," ucap Arthur menghentikan Archie. Archie pun menurunkan pistolnya. Livy bernafas lega merasa nyawanya baru saja terselamatkan. Semua orang disini sangat melindungi Arthur dan tidak segan-segan melayangkan nyawa orang lain demi lelaki itu. "Pastikan kita tidak terlacak gara-gara handphone itu. Setelahnya, Kau tahu apa yang harus Kau lakukan untuk membungkam gadisku." Arthur berbicara dengan santai kepada Archie. "Oke," gumam Archie kemudian keluar ruangan lagi sambil membawa pergi handphone Livy. Kata terakhir yang disebutkan dalam ucapannya barusan, cukup membuat bingung Livy. Lelaki itu dengan entengnya berkata 'gadisku' pada dirinya. "Aku tidak melakukan hal yang buruk kepadamu. Tetapi Kau menculikku dan menghancurkan barang-barang milikku," ucap Livy dengan suara yang membuat Arthur sedikit iba, tetapi hanya beberapa saat. Arthur kembali memasang wajah datar. "Itu salahmu sendiri telah membantu lelaki buronan ku untuk kabur," jawab Arthur. "Aku tidak tahu, aku hanya membantunya pergi ke Rumah Sakit. Kau harus mendengarkan sopirmu," tukas Livy kesal karena dituduh. "Apa yang Kau inginkan dariku?" tanya Livy dengan nada marah. "Kau ingin informasi tentang Fantazio? Aku hanya mahasiswa biasa, aku tidak memiliki akses ke informasi perusahaan besar seperti itu!" Livy menghembuskan angin dengan nafas kasar. Ia sudah sangat frustasi dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tidak disangka, Ia bisa terlibat dengan seorang mafia yang tengah mengincar perusahaan besar. "Kau, diam di sini. Jangan berani kabur, jika Kau melangkah sedikit saja dari sini, nyawamu akan melayang," bisik Arthur ke telinga Livy kemudian beranjak pergi. Terdengar suara kenop pintu yang berputar dan pintu pun terkunci dari luar. Livy menoleh ke kanan kiri, di sekitarnya hanya ada dinding yang warna catnya sudah memudar. Ruangan ini cukup luas namun juga menyeramkan, seperti tidak terawat. Sekitar lima belas menit kemudian, Arthur kembali dan kini membawa Bryan. "Ini handphone barumu dan kunci motor yang juga baru. Semua tidak gratis untukmu," ucap Arthur mengambil handphone dari tangan Bryan dan menunjukkannya ke Livy. "Tidak gratis, apa maksudmu?" tanya Livy kebingungan. Lelaki itu telah melenyapkan handphone dan motornya, dan kini membawakan penggantinya dengan tidak gratis. Bukankah itu sama saja bohong? Dengan kata lain, Arthur memaksanya untuk membayar. "Ya, Kau harus bekerja di Fantazio. Aku sudah membuatkan berkas palsu untukmu," ujar Arthur menjelaskan. "Bekerja?" Livy tidak percaya. Ia sama sekali tidak punya pengalaman, bagaimana mungkin Ia bisa melamar di Fantazio Fuel, perusahaan minyak ternama. "Ya, Kau harus melamar kesana dan tidak perlu melanjutkan kuliahmu." Arthur mengangguk yakin. "Tapi ...." Livy masih ragu. "Percaya padaku, dengan semua berkas ini Kau pasti akan diterima," ujar Arthur mengangkat sebuah map yang berisi berbagai dokumen. Bryan melepaskan ikatan di tangan Livy, Arthur membebaskan Livy dengan syarat Livy harus menuruti apa yang Arthur kehendaki. Betapa mengejutkannya karena handphone dan motor yang Livy terima, sama persis tipe dan merk dari sebelumnya. "Semua kesepakatan kita selanjutnya ada di handphone itu. Sekarang pulanglah, Bryan akan mengantarmu sampai jalan yang bisa terbaca oleh maps," ujar Arthur. Livy tidak berpikir panjang dan langsung keluar dari ruangan diikuti Bryan. Ia terlalu bahagia karena akhirnya bisa bebas dari seorang mafia. Sesampainya di kontrakannya, Livy langsung membuka handphone-nya. Di sana sudah ada daftar kesepakatannya bersama Arthur. Lelaki itu telah mengetahui segala hal tentang Livy termasuk alamat rumah, keluarga, dan data kampusnya. Livy diminta untuk tidak menyebarkan info apapun tentang Arthur. Keesokan paginya, Livy dijemput oleh Bryan di tempat kontrakannya. Bryan telah mengurus berkas di kampus supaya Livy tidak perlu melanjutkan kuliah. "Apa itu berarti aku dropout?" tanya Livy dengan sedih. "Dropout ataupun bukan, nyatanya sekarang Kau sudah punya ijazah," tanggap Bryan cuek. Mereka menuju bandara, di sana beberapa anak buah Arthur yang lain sudah menunggu. Livy pergi menuju perusahaan Fantazio Fuel dengan pesawat pribadi milik Arthur. Segala fasilitas seperti apartemen, pakaian, dan mobil telah disediakan oleh Arthur. "Tugasmu hanya bekerja sebagai resepsionis di sana. Kau pasti tahu itu bukan pekerjaan yang sulit," ujar Arthur seolah menenangkan Livy. Livy tidak mengatakan apapun, di dalam hati sebenarnya Ia sangat resah. Ini adalah hal yang sangat asing baginya. Ia tidak tahu banyak tentang Arthur. Yang Ia tahu hanyalah Arthur bukan orang biasa dan Ia sangat berbahaya. Livy sudah mencoba beberapa kali mencari tahu tentang Arthur tetapi data lelaki itu tidak ada sama sekali di internet. "Apartemen ini sudah siap Kau gunakan, Kau tidak perlu melakukan apapun jika Arthur tidak memberimu instruksi," ucap Bryan setibanya mereka di apartemen. "Aku ingin tahu tentang Arthur," ucap Livy tidak menanggapi ucapan Bryan. Livy menatap Bryan dan menunggu jawaban lelaki itu, namun sebaliknya Bryan hanya menghela nafas sembari menatap balik wajah Livy. "Singkat, padat, dan jelas. Ketika Kau sudah berurusan dengan Arthur, hanya ada dua pilihan. Mati atau ikut dengannya," ucap Bryan dengan yakin, membuat Livy bergidik ngeri. Livy menghembuskan nafas kasar, Ia sudah menyadari hal ini. Seandainya saja Ia tidak ingat akan keluarganya, mungkin Ia ingin mati saja daripada berurusan dengan Arthur. Saat ini saja Ia sudah kehilangan teman-temannya karena terpaksa berhenti kuliah demi mempertahankan nyawanya. "Tenanglah, Nona. Tugasmu sangat mudah, mungkin Kau akan hidup enak di sini karena sepertinya Arthur menyukaimu," ujar Bryan membangunkan lamunan Livy. Livy terkejut, Ia mengerutkan dahi dan menyipitkan pandangan ke arah Bryan. "Apakah itu alasan Ia meminta Archie untuk tidak membunuhku?" Livy teringat saat anak buah Arthur mengacungkan mulut pistol ke kepalanya. "Mungkin," tanggap Bryan singkat sambil mengangguk. "Arthur tidak pernah membiarkan orang yang mengusik atau mengejeknya hidup baik-baik saja," lanjut Bryan. Bryan mengambil remote dan memencet salah satu tombol hingga membuat dinding di sekitar mereka berganti tema. Ia menunjukkan bukti kepada Livy bahwa apartemen yang ditempatinya akan membuatnya merasa nyaman. Bryan juga menunjukkan denah digital 4D supaya Livy tidak nyasar di apartemen ini. "Aku harus pergi sekarang," ucap Bryan setelah dirasa cukup. Livy tidak mencegah lelaki itu pergi, Ia masih syok dengan apa yang tengah terjadi padanya begitu cepat. Kemarin pagi, Ia masih menjadi mahasiswa remaja yang bebas. Ia hanya disibukkan oleh mata kuliah juga organisasi. Kini, Ia adalah tawanan seorang mafia. Handphone-nya berdering. Ibunya menelpon. "Mama?!" pekik Livy. Ia ingin menangis, Ia rindu pada keluarganya sekaligus khawatir jika mereka diusik oleh Arthur. "Livy? Mengapa Kau tidak bilang-bilang kalau Kau diterima magang di Fantazio Fuel?" Di seberang sana, ibunya berteriak-teriak kegirangan seolah tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Memang tidak salah bahwa Arthur mengirimnya untuk magang. Lamarannya secara online ke Fantazio langsung diterima. "Ma, tolong dengarkan aku," ucap Livy dengan suara sendu. "Ah, Livy. Mama sekarang sedang menyiapkan pesta kecil-kecilan. Mama kasih tahu semua teman arisan Mama dan mereka semua akan datang ke sini," sahut ibunya tidak peduli. "Pesta?" gumam Livy tidak percaya. Ia menjadi tawanan mafia dan dikirimkan untuk menjadi mata-mata ke Fantazio, bukan magang. "Huh, bagaimana aku harus menjelaskannya?" geram Livy di dalam hati.

Lanjut baca