Cinta Rahasia Sang Pewaris
Bab 1 Amarah Tak Terkendali

Mungkin aku memang pria yang tidak memiliki perasaan, tidak memiliki cinta dan itu terjadi setelah kematiannya ... ibuku .... Aku pernah mendengar bahwa ibu adalah cinta pertama seorang laki-laki, sepertinya itu benar karena aku merasa ibuku adalah cinta satu-satunya yang aku miliki di dunia ini. Aku selalu ingin melakukan hal-hal yang membuatnya bangga dan senang jika melihatku. Apapun sulitnya itu … pasti akan kulakukan, hanya untuk melihatnya bisa tersenyum padaku. Aku mencintai ibuku segala-galanya. Cara dia menjagaku, mengurusku, mengajariku … bahkan saat ia memarahi dan membentakku sekalipun, cara ia tersenyum ketika bangga padaku dan mengacak-ngacak rambutku ketika aku melakukan kebodohan, rasa cintaku malah terus bertambah. Ah, dia sudah tiada. Aku tidak akan pernah merasakan cinta lagi. Tidak ada harapan dan cita-cita lagi untuk membuatnya bangga. Semuanya sirna … dan kini hidupku tidak memiliki arah dan tujuan, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Kurasa tidak ada lagi wanita yang bisa membuatku kagum atau hanya sekedar menyukainya … selain ibuku .… *** Namanya Nanda, pria berambut jabrik dengan cat berwarna silver, memasuki bar sambil mendengus marah. Wajahnya terlihat sangat menakutkan, seakan-akan ia hendak membunuh seseorang. Tak peduli siapa pun yang ada di depannya, ia pasti menyambarnya. Kursi, meja, semuanya ia sambar sambil melemparnya dengan kasar, bahkan mungkin seorang jompo sekalipun yang lewat di depannya mungkin tak segan-segan ia mendorongnya. Semua orang-orang di bar dibuat terkaget-kaget oleh keonaran yang ia lakukan. Sebenarnya, apakah yang sedang terjadi pada anak muda berambut jabrik itu? Akhirnya, Nanda terhenti di suatu ruangan yang dikenal dengan ruang VIP di kelab itu. Ia menatap geram pintu masuk yang tertutup rapat. Ia mengambil kuda-kuda untuk menendang pintu itu. Brak! Dan pintu itu langsung melayang setelah mendapatkan tendangan keras dari Nanda. Tampak di dalam ruang seorang gadis berambut panjang dengan cat blonde nan bergelombang bersama pria berambut Mohawk dengan tattoo yang penuh di lengannya sedang bermesraan. Apakah hubungan kedua orang yang jelas-jelas terlihat seperti sepasang kekasih itu dengan Nanda? Pria berambut Mohawk terlihat kaget akan kedatangan pria berambut jabrik secara tiba-tiba, apalagi pria itu mengganggu kesenangannya bersama gadis pujaannya. Sedangkan, gadis blonde itu terlihat pucat melihat kedatangan Nanda. Tampaknya ada sesuatu antara gadis itu dengan Nanda. "Hei, apa yang kau lakukan?!" seru pria berambut Mohawk bernama Bazz itu ke arah Nanda. Nanda tidak menjawab, ia malah mendekati kedua orang itu dengan wajah sangar yang menggeram penuh emosi. Nanda menarik bagian depan baju Bazz lalu meninju wajah pria itu dengan penuh kekuatan. Bazz pun terpental jauh. "AAAAA!" teriak menjerit sang gadis yang ternyata bernama Maya. "Kau diam saja di situ!" bentak Nanda ke arah Maya sambil menunjuk gadis itu, "jangan kemana-mana, aku belum selesai dengan pacar gelapmu itu, tunggu bagianmu!" Ia lalu mendekat ke arah Bazz dan menghajarnya habis-habisan. Maya yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menangis menjerit-jerit melihat Bazz seperti akan dibunuh oleh Nanda. Malang sekali nasib Bazz. Sebenarnya, ia sendiri tidak mengenal Nanda. Setelah puas menghajar Bazz yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Nanda mendekati Maya dan menarik lengannya dengan kasar. "Ikut aku!" perintah Nanda pada Maya. "Tidak mau!" teriak Maya berusaha meronta, "aku tidak mau!" "Aku bilang ikut!" bentak Nanda tak kalah nyaringnya, "kau belum aku beri pelajaran, ya!" "Tidak mau!" teriak Maya, "kita putus, aku tidak mau lagi berhubungan denganmu! Kau gila! Sadis … kau tidak punya perasaaan! Kau bukan manusia tapi kau monster, setan!" BUAK! Nanda meninju wajah cantik Maya dan Maya yang lemah tentu saja terlempar. "Huh, kau bilang aku tidak punya perasaan?" ucap Nanda dengan seringai tajamnya, "lalu … kenapa dulu kau mengejar-ngejarku, hah? Sudah tahu aku tidak punya perasaan eh tetap ngotot mau jadi pacarku," Nanda lalu tertawa seperti kesetanan, "kau pikir … aku bersedia mau jadi pacarmu karena aku benar-benar menyukaimu?" Nanda membuang ludahnya ke samping, "sudah bagus aku bersedia jadi pacarmu, asal tahu saja … aku mau jadi pacarmu karena aku bosan melihat kau terus mengejar-ngejarku, dasar perempuan jalang!" teriaknya mengumpat. Maya lalu menangis, menangis sejadi-jadinya. Selama ini Nanda memang kasar tapi ini pertama kalinya Nanda melakukan kekerasan yang sesungguhnya. Awalnya, ia hanya menganggap Nanda adalah tantangan baginya karena Maya terkenal sebagai gadis yang mampu membuat pria mana pun pasti tergila-gila padanya. Ternyata… ini di luar perkiraannya, Nanda benar-benar pria yang sangat mengerikan. Tidak lama kemudian polisi datang. Sepertinya manager kelab itu memanggil polisi sejak keonaran yang Nanda lakukan di bawah tadi. Dua orang polisi menahan kedua tangan Nanda. "Hei … kalian mau apa? Lepaskan aku!" sergah Nanda pada polisi-polisi itu namun polisi-polisi itu tetap menyeret Nanda. "Hei, kubilang lepaskan! Kalian tidak punya telinga, ya? Aku belum selesai dengan murahan itu!" *** Nanda kini berada di balik jeruji besi. Di mana lagi kalau bukan di penjara. Ia duduk melantai dengan kedua lutut tertekuk sambil mendengus marah. Rupanya, ia belum puas telah menghajar sepasang kekasih yang telah membuatnya kalap. Kalap bukan karena cemburu melihat pacar sendiri menjalin hubungan dan bermesraan dengan pria lain tapi karena Nanda merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Maya, pacar Nanda. Yah yah yah … dengan kejadian barusan hubungan Nanda dan Maya bisa dinyatakan telah putus tapi sepertinya Nanda masih ingin menghajar mantan pacarnya itu. "Ananda Edward?" seorang petugas memanggil Nanda, petugas itu membukakan jeruji penjara untuk Nanda. "Ada yang ingin menemuimu," katanya. "Siapa?" tanya Nanda rada malas. "Ishan Edward, ayahmu." Nanda langsung merasa lega. Akhirnya, ayahnya akan membantu Nanda keluar dari tempat membosankan itu. Segera Nanda berdiri dan bergegas untuk menemui ayahnya, ia pun berjalan mengikuti petugas itu. Ketika sampai di suatu ruangan untuk menjenguk para kriminal, ia melihat ayahnya duduk di depan meja, Ishan terlihat memejamkan matanya dengan tangan terlipat di perutnya. "Ayah!" seru Nanda begitu memasuki ruangan dan langsung mendatangi ayahnya. "Syukurlah ayah cepat datang, aku sudah tidak sabar lagi ingin keluar dari tempat ini, tempat ini sangat membosankan." Tiba-tiba Ishan berdiri, menarik bagian depan baju Nanda dan .… BUAK! Tinjuan yang pasti sangat keras mendarat dengan mulus di wajah Nanda, Nanda langsung terjatuh. "Kenapa ayah memukulku?!" teriak Nanda. Ishan kembali mendekati Nanda dan .… BUAK Tendangan yang tak kalah kerasnya mendarat di perut Nanda. "Kau bertanya kenapa ayah memukulmu? Ho … pertanyaan yang sangat bagus, dengan senang hati ayah akan menjawabnya!" bentak Ishan ke arah Nanda, "pertama… kau membuat onar di kelab, kedua … kau memukul seorang pria yang ternyata tidak mengenalmu … ketiga … aku benar-benar tidak menyangka kau bisa memukul seorang perempuan! Siapa yang mengajarimu, hah?" "Si jalang itu pantas mendapatkannya!" DUAK! Kembali Ishan menendang Nanda tanpa belas kasih. "Selama ini ayah tahu kau memang kasar tapi … ayah benar-benar tidak menyangka kau bisa memukul seorang perempuan … ayah benar-benar kecewa, kau benar-benar sudah sukses jadi bajingan, Nanda…" Ishan menatap Nanda penuh kekecewaan, "jangan harap ayah akan membantumu keluar dari sini!" teriaknya lalu berbalik meninggalkan Nanda. Nanda mendengus. Pikirnya, ayahnya datang untuk membawanya keluar dari penjara tapi ternyata tidak seperti dengan apa yang dipikirkannya, ayahnya datang tapi hanya untuk memberinya pelajaran. "Cih .…" *** Lagi! Ishan menuangkan minuman alkoholnya ke gelasnya kemudian meneguknya dengan sekali tegukan. Pria blasteran seumuran dengan Ishan, berambut coklat sebahu dengan kemeja hijau bernama Roman Keith hanya terus menatap sahabatnya yang jelas terlihat sedang mengalami stress, tidak biasanya sahabatnya yang sering terlihat konyol itu malah terlihat gundah. "Apa ini tentang putramu lagi?" Roman memulai percakapan. Ishan menuangkan kembali minumannya ke gelas. "Jangan sebut dia putraku … aku ingin menghapusnya dari kartu keluarga," lalu ia meneguk minumannya. Roman terperangah dengan ucapan Ishan. Ingin menghapus Nanda dari kartu keluarga? Berarti putra Ishan telah melakukan hal diluar batas, memang Ishan selalu kecewa dengan tingkah laku Nanda yang sulit diatur tapi sebelumnya Ishan tidak pernah mengatakan ingin menghapus Nanda sebagai putranya. "Jangan bicara begitu…" ujar Roman, "bagaimana pun … Nanda adalah putra satu-satumu, kau jangan lupa kalau Nanda itu anak kebanggaan Maria," ia memperingatkan Ishan. Ishan malah tertawa tapi terdengar getir. "Maria pasti akan menangis terisak-isak jika melihat anak laki-lakinya sekarang." Ia lalu menuangkan lagi minumannya ke gelasnya, kali ini benar-benar penuh, "aku tidak tahu sebenarnya apa yang salah, anak itu dulunya baik, baik sekali malah tapi … sewaktu Maria meninggal, anak itu jadi pendiam. Kupikir dia akan kembali seiring waktu … tahu-tahunya … dia sudah jadi berandalan …," ia meneguk minumannya. Akhirnya, Ishan sudah mencapai batasnya. Ia mabuk, mabuk berat hingga tak kuasa berdiri sendiri dan terpaksa Roman membantunya berdiri. "Maria!" teriak Ishan begitu Roman membopongnya berjalan, "apa kau lihat putramu? Dia sudah berhasil … tapi berhasil jadi preman! Anak kebanggaanmu itu! Ahli waris semua kekayaanmu! Maria! Anak itu jadi kurang ajar!" tiba-tiba Ishan menangis dan Roman terkaget-kaget dengan sahabatnya itu. Menangis? Ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya menangis. "Maria! Apa salahku? Kenapa anak laki-laki kita … putra satu-satunya … bisa keterlaluan seperti itu. Dia berandalan, apa salahku? Siang-malam aku bekerja untuknya, memberikannya pendidikan terbaik agar kelak ia bisa menjadi pemimpin di perusahaanmu, Maria … kenapa anak itu malah … malah …." Tangis Ishan terdengar menggelegar.

Bab 2 Perjanjian

Dengan terhuyung-huyung Ishan menuruni tangga, efek bir semalam ternyata belum hilang rupanya dan ternyata di rumah ia hanya sendirian. Kedua putri kembarnya, Putri dan Dara sudah tidak tampak lagi di rumah. Sepertinya mereka sudah berangkat kuliah. TING TONG … "Sabar!" teriak Ishan, ia membuka pintu dan tampak pria yang bersamanya semalam, sahabatnya, Roman. "Halo, Ishan!" sapa Roman begitu pintu terbuka, "aku ke sini untuk melihat keadaanmu." Ishan langsung mempersilahkan masuk sahabatnya itu, membuatkannya teh dan menyediakan kue-kue ringan. "Apa kau tidak ke rumah sakit, Ishan?" tanya Roman ketika Ishan sudah duduk di sofa. "Mungkin hari ini tidak," sahut Ishan, "kepalaku berat sekali … aku juga sudah menelpon rumah sakit dan mengatakan aku sedang tidak sehat." "Oh …," ujar Roman, "hm … lalu … dimana putramu itu?" tanya Roman sambil hendak meneguk teh-nya. Ishan malah mendecak. "Berandalan itu sudah masuk penjara." Prooooooooooott Roman langsung menyemburkan semua teh yang ada di mulutnya. "Nanda masuk penjara?" tanyanya dengan ekspresi yang agak berlebihan. "Ya, sudah dua malam dia ada di sana." "Memangnya, apa yang anak itu lakukan?" tanya Roman, masih terheran-heran, "bukan kamu kan yang membawanya ke penjara?" Ishan mengernyit. "Tentu saja tidak!" sahutnya, "dia masuk penjara karena sudah melakukan keributan di kelab malam … dan juga … dia memukul dua orang di sana, salah satu yang dia pukul adalah seorang gadis .…" "Gadis?" Roman terkejut. Nanda memukul seorang gadis? Itu benar-benar sangat keterlaluan, pantas saja semalam Ishan terlihat murka, batin Roman. "Ya, dia memukul seorang gadis," terang Ishan kembali, "aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan? aku bisa saja mengeluarkannya dari sana tapi aku benar-benar kecewa dengan anak itu." "Ishan," gumam Roman, "tapi … Nanda itu ahli waris perusahaan milik keluarga Edward dan seharusnya umur dia sekarang sudah bisa mengambil alih perusahaan. Bagaimana pun dia tidak bisa berada di penjara, seharusnya kita mempersiapkan anak itu agar bisa memimpin perusahaan," Roman mengingatkan Ishan. "Mau bagaimana lagi, Man?" Ishan malah terlihat bingung sendiri, "aku juga tidak bisa membiarkan Nanda yang sekarang memimpin perusahaan Maria … yang ada dia akan menghancurkannya." Roman merenung sejenak. Selama ini yang mengurusi perusahaan adalah dia dan sahabatnya, Sheren. Tapi bagaimana pun perusahaan itu harus memiliki pemimpin demi mengembangkan bisnis keluarga Edward. Tanpa pemimpin, perusahaan itu hanya akan berada di situ-situ saja sementara perusahaan saingan sudah berkembang pesat. Tidak bisa dibiarkan, Nanda harus segera keluar dari penjara. "Aha, aku tahu bagaimana merubah anak itu!" seru Roman tiba-tiba, seperti habis mendapat ilham. "Hah? Kau punya cara?" ujar Ishan bertanya-tanya. Roman mengangguk penuh keyakinan. "Mungkin Nanda menjadi berandalan karena di sekitarnya penuh dengan berandalan," ucapnya, "tapi, jika di sekitar Nanda adalah orang-orang hebat, orang yang berambisi dan para pesaing, kurasa Nanda akan beradaptasi dan termotivasi." Ishan mengernyit, tidak begitu mengerti maksud sahabatnya itu. "Maksudmu … Nanda dipekerjakan di perusahaan?" tebaknya mencoba. "Yup, benar sekali!" seru Roman sambil mengangkat telunjuknya dengan semangat. "Kau ini bercanda, ya? Nanda yang sekarang malah akan menghancurkan perusahaan Maria jika memimpin perusahaan!" "Hehehe ...," Roman malah terkekeh, "Nanda memang akan kita pekerjakan di perusahaan … tapi bukan di Edward Group." "Lantas?" "Nanda akan bekerja di perusahaan lain, perusahaan yang penuh dengan orang-orang hebat seumurannya … agar dia bisa belajar." *** Setelah mendengar penjelasan Roman yang panjang lebar, Ishan seperti kembali memiliki secercah harapan. Segera ia menghubungi pengacara keluarga Edward untuk mengurus pembebasan putranya lalu ia menghampiri putranya. Kini Ishan bersama Nanda, duduk berhadapan sambil saling melemparkan tatapan tajam. Yang Ishan kesalkan dari Nanda, yaitu tatapan anak itu ternyata tidak memiliki penyesalan sama sekali atas tindakannya. "Apa ayah datang ke sini untuk memukuliku lagi?" Nanda bertanya dengan tajam. "Apa kau ingin keluar dari sini?" Ishan malah melemparkan pertanyaan. Nanda mengernyit. Apa maksud ayahnya? Bukankah kemarin jelas-jelas ayahnya mengatakan tidak akan membantunya keluar dari penjara lalu kenapa ayahnya malah bertanya seperti itu? "Tentu saja aku ingin keluar dari sini!" sahut Nanda tegas. Ishan lalu melempar map ke meja, tepat di depan Nanda. "Baca itu!" perintahnya, "Ayah akan membantumu keluar dari sini tapi kau harus menandatangi perjanjian itu!" Segera Nanda mengambil map itu, membukanya dan membacanya dengan seksama. Ada beberapa point isi perjanjian tersebut, antara lain; tidak melakukan keributan di tempat umum, tidak melakukan kekerasan tanpa alasan yang jelas, tidak menyentuh wanita dalam hal melakukan kekerasan fisik, bersedia mengikuti kegiatan apa pun yang Ishan Edward perintahkan, bersedia bekerja keras, tidak menggunakan nama Edward sebelum Ishan Edward mengizinkan. Nanda tertawa geli begitu membaca point kelima dan keenam. "Apa ayah serius mau mempekerjakan aku di perusahaan ibu?" "Siapa bilang kau akan bekerja di sana?" sergah Ishan tajam, "kau akan bekerja di tempat lain!" Nanda mendengus. "Lalu … apa maksudnya point keenam ini? Tidak menggunakan nama Edward? Masa iya namaku cuma Ananda …" Nanda lalu tertawa geli. "Kau akan memakai nama keluarga ayah," kata Ishan serius, "yaitu … Iskandar." *** Akhirnya, Nanda pun lepas dari penjara. Dan keesokan harinya, perjanjian itu langsung dimulai untuk point keempat, mengikuti kegiatan yang ayahnya perintahkan. Sesuai dengan perjanjian, Nanda kini berada di halaman kediaman milik seseorang dari konglomerat dan juga bangsawan. Ia bersama Roman, mengenakan jas hitam, berjalan menuju kediaman keluarga itu. "Ananda Iskandar," Roman tertawa terpingkal-pingkal setelah memanggil Nanda dengan sebutan "Ananda Iskandar" dengan tambahan aksen yang berlebihan. "Kenapa kau tertawa?" geram Nanda yang merasa agak risih dengan cara Roman memanggilnya. "Hahahahaha …" Roman tertawa, "aku sangat senang menyebut nama "Iskandar" lagi, kau tahu … sudah lebih dua puluh tahun aku tidak menyebut nama itu. Haha." "Lalu apanya yang lucu?" "Tidak ada memang … hanya terdengar asing saja … ahahahaha … Ananda Iskandar~" "Berhenti memanggilku dengan cara menjijikkan!" Mereka berdua kini berada di dalam kediaman rumah megah, menghadiri acara ulang tahun seorang pria pemilik rumah megah itu. Ini pertama kalinya Nanda mengikuti acara formal tersebut. Kebanyakan pesertanya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu, seumuran dengan Roman dan Ishan. Nanda bingung mengapa ayahnya memerintahkannya untuk mengikuti upacara orang-orang kaya tersebut, katanya penting tapi menurut Nanda pasti akan sangat membosankan. "Kenapa lama sekali mulai? Bukannya tuan rumahnya si kakek-kakek botak itu? Apa lagi yang ditunggu?" bisik Nanda ke Roman yang duduk di sampingnya. "Tunggu tamu spesialnya toh ...." "Siapa? "Itu dia." Tidak lama kemudian seseorang menggeser pintu dan tampaklah seorang pria berkemeja putih berambut hitam sebahu terurai rapi dan berwajah tampan dengan wajah keturunan jepang yang terlihat jelas di raut wajahnya yang tampan dan seorang gadis cantik berambut hitam yang dikonde, mengenakan dress ungu. Mereka berdua masuk dan memberi salam. Pria tampan itu kemudian duduk di samping Roman. Masih sangat muda, entah apa yang mereka kagumi hingga ada yang berbisik-bisik mengatakan ingin sekali mempunyai anak atau menantu seperti gadis itu. Yah, memang sih, gadis itu lebih cantik dari Maya, tapi penampilannya sangat biasa menurut Nanda. Dan juga, dia agak tukang pamer. Nanda malas melihat seorang perempuan yang selalu ingin mengumbar kelebihannya. Gadis itu tiba-tiba menoleh ke arah Nanda, Nanda cepat-cepat memalingkan pandangannya. Mungkin dia sadar kal bahwa Nanda terus memandanginya dari tadi tapi ketika Nanda melirik ke arahnya kembali, gadis itu sudah sibuk kembali dengan para tamu yang lain.

Bab 3 Hari Pertama Bekerja

Mau tidak mau akhirnya Nanda bekerja juga, sesuai rencana Roman dan ayahnya. Nanda bekerja di perusahaan milik Harry Royal Fashion, bergerak di bidang fashion dan masih di bawah naungan Kingdom Group. Di sana memang hanya mempekerjakan anak muda yang memiliki bakat dan kreatifitas yang tinggi. Nanda kini duduk di ruang kerjanya yang bersekat-sekat dan gabung bersama karyawan biasa lainnya. Ia duduk dengan kaki diangkat dan disilang ke atas meja. Ia merasa sangat bosan. Dari pagi ia hanya berdiam saja, menatap layar komputer yang terus menyala. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, setidaknya mungkin ada seseorang yang bisa membimbingnya. Seorang gadis berambut coklat pendek dan bertampang polos bernama Mira sedang sibuk mencari-cari orang untuk membantunya mem-photocopy-kan beberapa file. Kepalanya celingak-celinguk untuk melihat karyawan yang sedang tidak ada kerjaan. "Ah, sepertinya itu karyawan baru .…" gumamnya melihat Nanda dari belakang yang sepertinya sedang bermalas-malasan, ia lalu mendatangi Nanda. "Hei… kamu!" panggilnya, "kau karyawan baru kan? Aku mau minta tolong…" Nanda menoleh ke arahnya dan ketika Mira melihat wajah Nanda dengan alis yang mengerut, siapa saja akan mengira bahwa pria itu sedang marah. Mira yang memang tidak kuat berhadapan dengan pria pemarah pun langsung lari entah kemana. Nanda terbengong-bengong melihat tingkah laku gadis itu. "… Bukannya tadi dia memanggilku?" gumamnya lalu kembali bermalas-malasan. Sekelompok gadis-gadis yang sedang berkumpul menyaksikan kejadian tadi dari jauh. "Kasihan sekali Mira … pasti tadi dia dibentak-bentak sama karyawan baru itu .…" ucap gadis berambut ikal berkacamata bernama Chika. "Kenapa memangnya?" tanya gadis berambut pendek ikal dan berdada besar bernama Nayla. "Pria itu adalah preman!" kata Chika, "aku melihatnya mengamuk di kelab beberapa hari yang lalu, benar-benar mengerikan …." "Mengamuk di kelab?" ujar gadis berambut hitam panjang dan berkacamata bernama Rani. "Iya, pokoknya pria itu benar-benar mengerikan sampai-sampai dia memukul wanita." "Lalu, kenapa pria itu bisa kerja di sini?" tanya Rani. "Iya, bukannya seleksi karyawan di tempat ini sangat ketat … kan butuh surat keterangan berkelakuan baik!" kata Nayla. "Entahlah … aku juga tidak tahu kenapa pria itu ada di sini," sahut Chika. Malang sekali nasib Nanda, ternyata salah satu karyawan yang bekerja di tempat itu adalah saksi kemurkaan Nanda di bar. Dan karena gosip begitu cepat beredar kini hampir semua karyawan wanita tahu akan sifat temperamental Nanda. Pria berambut sebahu bernama Kevin sedang berjalan sambil berjoget-joget dengan riangnya di dekat Nanda. Begitu melihat Nanda ia langsung menyapanya. "Eh, kau karyawan baru kan?!" serunya, "kalau tidak salah namamu Nanda!" Nanda menoleh ke arah pria itu. "Ternyata benar kata orang-orang … kalau kau tinggi dan menyeramkan!" Nanda mendengus mendengar seruan Kevin. Hal yang paling ia benci adalah ketika menyinggung fisiknya. Tapi, Nanda harus menahan emosinya, ia ingat betul perjanjian point pertama dan kedua yaitu tidak boleh melakukan keributan di tempat umum dan juga tidak boleh melakukan kekerasan. "Perkenalkan, namaku adalah Kevin Aprillio, kau boleh memanggilku Kevin dan ruanganmu tepat di sampingku." Kevin memperkenalkan dirinya dengan heboh. "Dan itu …" katanya sambil menunjuk pria berambut hitam bertampang polos yang sedang sibuk merayu gadis yang lebih tua darinya, "namanya adalah Kiki … kalau kau mengalami kesulitan, kau bisa bertanya dengan kami." "Okay," sahut Nanda malas. Tiba-tiba semua karyawan berdiri. Pemilik perusahaan datang rupanya. Pria dewasa berambut panjang sebahu, rapi, bertubuh tinggi kurus dan berwajah tampan. Pria itu adalah pria yang dikenalkan Roman sewaktu di upacara minum teh. Di belakangnya ada beberapa anak muda yang mengikutinya, Nanda tidak mengenali mereka kecuali gadis pemain piano berambut hitam sebahu. Tidak salah lagi, gadis itu adalah gadis pemain piano, batin Nanda. Semua karyawan termasuk Nanda berdiri dan membungkuk begitu direktur perusahaan, Harry, melewati semua karyawan. Rombongan itu pun memasuki suatu ruangan. Mungkin mereka akan mengadakan rapat atau semacamnya. "Hei … siapa pria bernama Pak Harry itu?" Nanda bertanya ke arah Kevin. Kevin membelalak menatap Nanda. "Dia itu direktur di sini, Nanda!" serunya. "Oh …," ujar Nanda dengan polosnya, "Lalu … semua pengikutnya itu?" "Mereka adalah manajer dari merek-merek produk perusahaan ini, Nanda," sahut Kevin, "mereka itu adalah anak muda yang cerdas dan kreatif, mereka juga andalan di perusahaan ini." "Hah? Maksudmu, gadis berambut hitam sebahu yang jalan tepat di belakang Pak Harry itu seorang manajer juga?" tanya Nanda tak percaya. "Maksudmu Erika?" Kevin malah bertanya, "tentu saja … dia itu yang paling hebat di antara semuanya!" "Benar, Erika memang yang paling pintar," sahut Kiki, "tidak hanya cerdas tapi dia multitalent … pantas keluarga bangsawan konglomerat mengangkatnya sebagai anggota keluarga." "Iya betul itu!" seru Kevin, "Erika … oh Erika … andai aku bisa dekat denganmu," ujarnya menghayal, "tapi tidak mungkin dia melirikku…," isaknya. "Hahahahaha … tentu saja!" seru Kiki tertawa, "pria yang pantas dengan Erika itu pastilah pria yang hebat dan sebanding dengannya!" *** Nanda bersumpah ia ingin sekali pergi dari tempat membosankan ini. Dia merasa tekanan darahnya meningkat karena terlalu bosan duduk sambil menatap layar komputer. Jam makan siang pun berlalu, selesai makan bersama Kevin dan Kiki, diam-diam Nanda bersembunyi di tempat lain. Di suatu ruangan di lantai paling atas. Ada ruangan luas yang sepertinya adalah ruangan yang biasa digunakan seorang pianist pada saat manggung. Karena tidak dikunci, Nanda masuk saja dan tiduran di tengah-tengah bangku penonton. “Aduh … ngantuk juga aku,” kata Nanda. Nanda tidur sebentar, dalam kegelapan hingga suara lantunan piano tiba-tiba terdengar dengan merdu. Sepertinya ada seorang pianist yang memasuki ruangan itu juga. Nanda mengangkat sedikit kepalanya. Wajah pianist itu tidak terlihat karena terhalang oleh bagian atas piano yang terangkat ke atas. Tidak lama kemudian pianist itu .… Ah, sepertinya dia juga adalah seorang penyanyi! Suaranya benar-benar merdu menurut Nanda walaupun ia bukan penyuka musik melow tapi suara ini benar-benar bagus, ia menyanyikan lagu When I was your man milik Bruno Mars. Suara seorang perempuan .… Nanda berusaha agar bisa melihat wajah gadis yang sedang bernyanyi itu dan .… BRAK! Ponselnya jatuh! Gadis itu langsung menghentikan nyanyiannya. "Siapa itu?" serunya. Cepat-cepat Nanda mengambil ponselnya dan menyembunyikan diri di belakang sandaran kursi-kursi yang berdempetan. "Siapa itu? Kenapa tidak mau menyahut?" Nanda mengintip di sela-sela kursi, ternyata penyanyi itu adalah gadis pemain piano itu! "Siapa?" Nanda bisa mendengar suara langkah kaki Erika yang mengarah ke arahnya. Gawat! Batin Nanda, ia kini mencari ide agar gadis kecil itu tidak menemukannya tapi bagaimana lagi? Lari dari sana tidak mungkin. Tiba-tiba Nanda punya ide. "Meong… meong…" Nanda menirukan suara kucing saja, berharap semoga gadis itu betul-betul mengiranya seekor kucing betulan. "Meong … meong .…" Nanda mengintip gadis itu lagi, ia bisa melihat dari sorot matanya, gadis itu tidak percaya bahwa suara tiruan Nanda adalah suara kucing. Gawat! Tentu saja tidak akan ada percaya bahwa suaraku itu betul-betul kucing! Batin Nanda menjerit takut. "…. Oh … kucing .… Ya, sudah." GUBRAK "Hei, siapa itu?" Gadis itu berseru kembali dan ia melangkah cepat mendekati Nanda! Nanda bergeming, bingung harus bagaimana, apa ia harus membiarkan dirinya ditemukan dalam keadaan seperti itu? Atau ia langsung menampakkan dirinya saja kemudian keluar dari ruangan ini dengan santai seolah-olah gadis itu tidak ada di sana?

Lanjut baca