Panas Dingin Selingkuh
Bab 1 Helena (1)

Meskipun awalnya merasa cemas, akhirnya dia dapat rileks dan menikmatinya. Saat ini Helena dan Revan sedang berdouble date bersama temannya, Farel yang bertunangn dengan Anggi. “So, gimana ceritanya kamu dan Farel bisa saling kenal, Len?” tanya Anggi pada Helena. “Waktu di kampus, aku dan Farel punya beberapa teman yang sama, sampai akhirnya kami bekerja di tempat yang hampir sama. Maksud aku, kantor kami masih dalam satu gedung hanya beda perusahaan. Jadinya pertemanan kami terus berlanjut.” Helena mengaeang cerita seperti yang biasa dia lakukan kepada siapapun yang bertanya hal itu. “Wah keren ya, lalu apa kalian berdua pernah kencan atau mungkin pernah punya hubungan khusus yang lain saat masih berteman dulu?” Anggi menyelidik dan tersenyum, tapi Helena bisa memperhatikan jika Anggi memegangi lengan Farel, tunanganna itu dengan sangat posesiv. “Oh, gak pernah, hahahaha.” Helena menjawab yang diiringi derai tawa, “Kami hanya berteman saja, gak lebih. Farel sepertinya seleranya bukan aku, Gi. Dia menyukai cewek lembut keiburan seperti dirimu. Terbukti kalian sekarang sudah tunangan kan? Aku turut bahagia.” Helena terus berkata bohong. Walau demikian dia memang sangat menyukai Anggi yang cantik, lembut, ramah dan keibuan. “Pastinya seru ya, soalnya kan Farel orangnya agak maksa gitu, anggaplah keras kepala hahahah,” lanjut Anggi seraya menyenggolakan bahunya pada tubuh Farel. “Sejujurnya, aku merasa sudah sangat mengenalmu, Gi. Farel terlalu banyak bercerita tentang kamu. Dia termanat menyukai semua yang ada dalam dirimu, ya, segalanya!” timpal Helena. “Oh ya?” Anggi semringah. “Farel sudah menceritakan semuanya, bahkan sejak dia pertama kali ketemu sama kamu.” Helena pun menyikut Farel, memintanya untuk menanggapi obrolan mereka. Namun Farel tetap saja diam. “Sejujurnya juga, Gi. Aku tak percaya kalau kamu dan Farel sudah jalan hampir dua tahun, tapi baru sekarang dia memperkenalkan kamu sama kami,” ucap Helena seraya memegang lengan Revan, kekasihnya. “Aku tahu,” Farel tiba-tiba angkat bicara menanggapi ucapan Helena dengan canggung, “Anggi menetap di Semarang, sulit mendapat waktu yang tepat buat aku memperkenalkan dia sama kalian,” lanjutnya sambil menatap Helena dan Revan bergantian. “Apa kamu akan pindah ke kota ini, Anggi?” tanya Revan yang mulai masuk dalam percakapan mereka, “Atau Farel yang akan pindah ke sana?” Revan balik menatap Farel sambil sesekali memandang Anggi dalam waktu bersamaan. “Tergantung dimana nanti Anggi magang atau kerja,” jawab Farel. “Dia baru akan lulus semester ini, dan kami baru akan memutuskan segalanya nanti setelah itu,” sambungnya. “Terus, apa kalian sudah memikirkan untuk hubungan yang lebih serius lagi? Maksud aku segera bertunangan seperti kami? Aku denger dari Farel, sesungguhnya kalian sudah jauh lebih mapan dan siap untuk berumah tangga.” Anggi balik menggoda Helena dan Revan. Dengan tersenyum, Revan merengkuh Helena ke dalam pelukannya. “Sebenarnya kami juga sudah jalan hampir dua tahun, tapi masih belum seserius kalian. Segala hal bisa terjadi, mohon doanya saja, semoga kami bisa secepatnya menyusul kalian.” Revan menjawab bijaksana. “Amiin..” Helena, Farel dan Anggi kompak mengaminya. Tak sampai dua jam kemudian mereka pun bubar. Farel mengantarkan Anggi ke bandara untuk segera terbang ke Semarang. Sementara Helena dan Revan melanjutkan kecan mereka dengan menonton bioskop, setelah itu pulang ke apartement Revan. *^* Tiga hari berikutnya. Ranjang berkasur empuk itu tampak bergerak-gerak mengeluarkan suara berdecit, membalas sapa gemerisik daun yang terembus angin dan suara bintang kecil yang berisik saling bersahut-sahutan mengiringi mentari yang bersinar terang di siang itu. Di bawah tempat berukuran sedang kamar apartemen, teronggok sebuah beha berenda warna hazzel. Tak jauh dari sana, celana dalam mini yang lebih menyerupai thong warna senada dengan bra, juga tergeletak sekenanya. Menemani celana panjang jeans chonos warna biru dongker yang bertumpuk dengan blouse wanita kantoran. “Ummpph, Yees I like it’s….” Lenguhan binal yang tertahan terdengar samar di antara pasangan yang sedang saling brpacu birahi di sana. Di atas kasur itu sesosok gadis bertubuh padat berisi, berkulit putih bersih dalam keadaan telanjang bulat sedang beraksi meliuk-liuk erotis di atas tubuh seorang lelaki perkasa yang telentang dalam keadaan telanjang juga. Keringat mereka pun tampak membasahi tubuh keduanya. Kedua tangan gadis itu lurus di atas kepalanya, terkadang siku tangannya pun menekuk, dan kedua telapak tangannya menguyel-uyel rambut di kepalanya sendiri dengan gerakan yang sensual, sembari mengeluarkan desisan-desisan vulgar yang sangat erotis. Menambah gairah dan kenikmatan bagi sang pejantan yang ditungganginya. Sesekali sang gadis binal itu pun mendongakkan kepala ke atas dan mengibas-ibaskan rambut panjang nan ikalnya ke kanan dan ke kiri, sebagai ekspresi kenikmatan yang mennyusup ke setiap aliran darah dan sumsum sanubarinya. Punggung yang terlihat mulus dan licin itu mengkilat karena keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori kulit tubuhnya yang bugil. Dia bergoyang makin lincah bertambah erotis, ketika batang rudal yang sedang dikendarainya makin menancap jauh ke dalam tubuhnya yang dihiasi bulu-bulu yang tercukur tipis membentuk segi tiga. “Sstth ouoow aaaaah, Yeees…!” Suara desahan wanita yang sedang memacu birahi itu terus meluncur menggenapkan suara desahan dan erangan sang lelaki. Suara-suara seksi yang bersumber dari gerakan ritmis sepasang kemaluan mereka yang berlendir karena rangsangan pun kian menambah pekatnya atmosfir mesum di kamar itu. “Ooooh yeeees oooh sssst… kamu binal sekali, Sayaaang,” lenguh sang lelaki sambil kedua telapak tangannya meremas pinggul wanitanya yang tiada henti menguleg seakan mencoba menghaluskan rudal yang sedang terperangkap dalam kehangatan lembah surgawainya. Sang lelaki mengusap pinggang ramping itu perlahan ke atas, sampai kedua jempolnya menyentuh dinding payudara berkulit mulus yang sekel di bagian luarnya. Dan seiring remasan itu gadis cantik berkulit eksostik itu pun seketika mencondongkan tubuhnya ke belakang dengan kedua tangan lurus ke belakang bertopang pada lutut lelakinya yang terus menggenjotnya dari bawah. Gerakan pinggul yang tadinya berupa goyang memutar itu pun berubah maju mundur dengan frekwensi yang cepat. Wajah tirus berhias bibir sensual itu memerah menahan letupan gairahnya menjadi rona yang sangat cantik nan binal menggoda. “Aaaaah nikmaaat Sayaaang ahh…,” rengek mesum gadis itu sambil memejamkan matanya. Pinggulnya masih terus merajam rudal sang lelaki dengan gerakan konstan cenderung menggencar. Sementara itu lelaki berwajah tampan pemilik rudal besar dan panjang itu segera menegakkan tubuhnya, lalu memburu buah dada wanitanya yang terlonjak-lonjak erotis di depan wajahnya. Sepasang payudara ranum yang berhiaskan puting cokelat terang itu pun tampak sudah mengacung keras, menandakan gairah yang dialami sang pemiliknya sudah berada dalam tatanan yang paling tinggi. Tak berapa lama, puting susu itu pun sudah terperangkap dalam kuluman nikmat sang lelaki, terbelit lembut lidah yang menjilati dan menyentilnya dengan penuh gairah. “Ooooh sssst….” Gadis itu melenguh sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher belakang sang lelaki. Lalu menekan kepala belakangnya itu agar terbenam diantara kedua payudaranya yang berbalutkan keringat. “Gi.. gigiiiit aaaah putingnya, gigiiiit, Sayaaang. Aaaah iya gituu.. uughhh, Sayaang, nikmaaaat,” lenguh gadis binal itu memberikan instruksi. Sejurus kemudian gerakan pinggulnya yang tadinya maju mundur, berubah menjadi gerakan spiral naik turun mengurut rudal hitam kecoklatan itu tampak makin gagah perkasa. “Ummpph aaaaah.. sssst!” desah lirih nan manja wanita itu terus meluncur ketika payudaranya diservice secara simultan sang lelakinya. “Shitt!! oouugh Sayaaang, aaah kamu seksi dan makin binal, Sayaaang,” desah lelaki muda perkasa itu setelah merasakan gerakan memutar badan yang tiba-tiba dari gadis yang sedang terbakar gairahnya itu, hingga dia merasakan batangnya seakan dipelintir kuat-kuat. Sekarang, gadis berwajah cantik dengan rambut ikal yang indah terawat itu sudah memunggungi lelaki berotak brilian, dengan masih tak henti-hentinya menggoyang, memaju-mundurkan dan menaik-turunkan pinggulnya untuk menciptakan dan memberikan rasa nikmat yang terus-terusan tanpa henti. Lelaki berbadan atletis itu mulai memposisikan tubuh gadisnya sedikit merunduk dan merangkak untuk dia berikan service doggy style. Suara hantaman batang rudalnya yang merajam celah vagina sang gadis yang masih sangat sempit dan tampak memerah itu kian keras, hingga gesekannya kian membuat keduanya gelonjotannya didera nikmat yang tiada tara. “Aaaah mmpphhh!” lenguh nikmat mereka berdua bersahut-sahutan bagai orkestra riang, mana kala gerakan mengocok sang pejantan makin cepat Wajah gadis itu semakin memerah, kobaran gairahnya terus melanda saat merasakan vaginanya mulai berkedut-kedut, meremas, dan menyedot rudal yang masih terus menghunjam dan menjajah vaginanya, mengail segala kenikmatan yang ada hingga sepuas-puasnya. Sang gadis menegakkan tubuh telanjangnya ke atas dan menolehkan kepalanya ke belakang untuk melakukan hot deep kiss, 99 style berlangsung. Kedua tangannya pun melingkar di leher lelakinya. Kedua tangan lelaki itu serta merta langsung memeras, meremas bongkahan buah payudara wanitanya yang terpental-pental. Putingnya pun dipilinan dengan lembut. Suara benturan pangkal rudal yang menghantam pantat bulat sang wanita, terdengar begitu jelas. Urat syaraf mereka sudah terpenuhi oleh pancaran gelombang penuh nikmat. Tak lama kemudian, “Akuuuu mau sampaaai aaarh… aakh, aku gak kuu.. aaaat….” teriak sang wanita menahan sesuatu yang hampir meledak dari dalam tubuhnya. “Keluarin, tuntasin ssemuaaaa aaaah… rasakan nik….niikmatnyaa, Sayaaaang…” jawab lelakinya seraya tetap menghunjam-hujamkan rudalnya semakin cepat dan sedalam-dalamnya membelah vagina yang terlihat mencengkeram rudalnya dengan sangat kuat. “I’m cumming uugh yees aaaaah ssst mmph!” teriak gadis hypersex itu melepaskan gairah binal yang bersemayam dalam jiwanya. Gadis itu menggigit bibirnya sendiri, ketika tubuhnya menggelinjang tergodam badai orgasmenya. Kedua tangannya menancapkan kuku-kuku di paha belakang sang lelaki yang tetep tak berhenti menusuk-nusukan batang rudalnya ketika puncak klimaks sedang melanda sang wanita. “Aku mau sampaaaaai Helenaaaa… aaaah…” lenguh lelaki itu tiba-tiba. “Oh, jangan dikeluarkan di dalam, Farel!” teriak Helena sambil menarik tubuhnya ke depan, hingga rudal Farel terlepas dari tubuhnya. Kemudian Helena telentang menghadap Farel yang berdiri di atas kasur dengan kedua lututnya. “Oh ya?” Farel mendesis geram penuh ancaman. “Terus aku keluarkan di mana?” desaknya sambil dengan kasar menjambak rambut Helena, dan meanriknya hingga Helena tersentak kesakitan saat Farel menarik kepalanya mendekat selangkangannya. “Gimana kalau di wajahmu aja?” geram Farel sembari mengarahkan ujung rudalnya yang besar dan panjang itu ke wajah cantik Helena. Tangganya pun dengan sagat kencang mengocok batang rudalnya yang sudah sangat licin dengan cairan vagina Helena itu. “Jangan, jangan, Fareeeel, aku….” tolak Helena namun semua terlambat. “Oooooh yeeeees!” Diiringi dengan suara geraman kuat, Farel menyemproti wajah Helena dengan cairan kenikmatan yang menyembur dari lobang kencingnya. “Shiiiit!” Helena memaki namun tak bisa menolaknya. Tak lama kemudian keduanya ambruk di atas ranjang, terekapar dalam kelelahan dan nikmat yang tak terperi. Nyaris tak ada gerakan selain naik turun dada keduanya yang mengatur degup jantung dan napasnya masing-masing. “Thank you, Helena,” bisik Farel, dengan mata yang tetap terpejam. Tak ada jawaban dari Helena. Suasana kamar itu terasa hening dan sunyi untuk beberapa saat.

Bab 2 Helena (2)

Beberapa saat kemudian, Helena bangkit dari telentangnya, lalu turun dari ranjang dan mengambil handuk kecil yang tersedia di sana. Dalam keadaan masih telanjang bulat, dia lantas berdiri depan cermin besar seraya menyeka seluruh wajahnya membuang semua lendir yang tersisa. Kedua bola mata Helena sesekali menatap jengkel bayangan Farel dari balik cermin besar itu. Sementara Farel yang masih telentang dalam keadaan bugil, tersenyum penuh kemenangan saat membalas tatapan kesal dari Helena, “Seharusnya kamu biarkan, Helena. Kamu lebih cantik dengan lendirku itu,” ucap Farel enteng. “Kenapa sih sampai kena rambutku segala?” gerutu Helena sambil mengusap rambutnya dengan handuk. “Hehehe,” Farel terkekeh sambil bangkit dari telentangnya, lalu duduk bersila di atas kasur. “Biarkan saja lendir itu, Len. Aku yakin, Revan akan suka melihat wajahmu yang telah aku facial itu,” goda Farel sambil tertus terkekeh. Helena menyeringai, dengan jahilnya dia melemparkan handuk bekas ngelap kotoran di wajahnya itu ke arah Farel. “Hey, jangan lempar sama aku!” protes Farel. Helena tak peduli, dia lantai memakai kembali celana dalamnya lalu meraih branya. “Janga pergi dulu. Tinggallah sebentar lagi, Hel,” cegah Farel. Helena merapikan stockingnya kemudian berusaha mengenakan pakaiannya. “Gak bisa. Aku harus pergi karena ada janji dinner dengan Revan!” balasnya. Farel mengamati Helena yang tengah mengenakan kembali pakaiannya. Bentuk tubuhnya tampak begitu indah. “Bisa bantu dengan resleitingku?” ucap Helena, seraya menaikan dan menahan rambutnya ke atas, lalu memunggungi Farel. Bukannya membetulkan resleiting Helena, Farel malah menjulurkan tangannya ke depan. Dia lantas meraba dan merams buah dada Helena dari luar branya, kemudian menciumi leher Helena dengan lembut. “Tinggallah sebentar lagi, Len,” bisknya, “Masih banyak waktu, kita bisa mengulanginya lagi,” rayu Farel. “Tidah, Farel!” tolak Helena, namun di saat bersamaan dia justru merasakan putingya kembali mengeras. Farel juga merasakan itu dan dia makin kuat mengelus dan menjepitkan dua jarinya pada putting itu. Tak ayal, rasa nikmat kembali menyergap tubuh Helena, dari puting hingga clotirsnya. ‘Oh God, Farel sangat tahu betul cara merangsangku,’ maki Helena. Tapi akhirnya dia berhasil mengumpulkan kesadarannya dan segera mendorong Farel untuk menjauh. “Farel, aku gak bisa. Sudah aku bilang, ada janji dinner dengan Revan!” Farel mengangkat bahunya, menyerah dan kemudian dia tarik resleiting baju Helena ke atas. “Terus, apa hubungan kalian akan berlanjut lebih serius lagi?” tanya Farel. Helena merapikan rambut dan make up-nya. Berusaha mengabaikan denyutan geli pada belahan selangkangannya. “Aku belum tahu. Aku sangat menyukai Revan, tapi belum yakin apa ini akan terus permanen atau tidak. Maksud aku, kami bahkan belum pernah bicara tentang pertunangan apalagi pernikahan,” jawab Helena. Farel meraih paha Helena dan mulai merayap naik hingga berhenti pada pantatnya yang kencang. “Lalu kalau kamu jadi tunangan dan menikah dengan Revan, apakah kamu masih mengijinkanaku menikmati tubuh indahmuini?” goda Farel sambil menyeringai. “Aku gak tahu!” tukas Helena. “Kenapa gak kamu tanyakan itu pada Anggi, tunanganmu?” Nada suara Helena membuat Farel sedikit terkejut. “Apakah kamu marah padaku karena pertunangan itu?” tanya Farel. “Tidak. Tentu saja tidak,” jawab Helena cepat. “Aku turut bahagia untuk kalian dan aku suka dengan Anggi. Dia sangat baik, ramah dan cerdas,” jawab Helena. “Tapi, seharusnya kita tidak boleh lagi melangkah terlalu jauh karena masing-masing sudah mempunyai pasangan. Apakah kamu tidak merasa, kalau seharusnya kita segera menyudai semua ini. Kita sudah sama-sama milik orang lain.” Helena lebih menegasakan. “Ayolah, Len,” jawab Farel dengan sedikit sinis. “Kita dulu sudah pernah punya pasangan, tapi sama-sama tidak protes. Kamu juga kan enjoy menjalaninya,” paksa Farel. “Tapi sekarang kamu sudah tunangan dengan Anggi, brengsek!” teriak Helena kesal. Farel masih tetap sinis. “Oh, oke-lah. Hubunganku dengan Anggi belum berjalan terlalu lama. Kamu kan tahu kalau tunangan kami baru berjalan sebentar. Kenapa kamu jadi marah dengan tunangan itu?” sergahnya. “Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Helena balas menantang, “Apa kamu selamanya akan terus selingkuh di belakang Anggi?” Tatapan mata Helena makin tajam. Farel kembali rebahan di atas ranjang, kedua tangannya di pakai sebagai bantal kepalanya, “Mungkin,” jawabnya ngambang namun tanpa beban. Dengan mata terbelalak, Helena menyusul duduk di tepian ranjang. “Kamu bercanda kan, Farel? Bahkan setelah kamu menikah nanti, kamu akan tetap selingkuh? Bagaimana mungkin kamu mengkhianati Anggi seperti itu? Aku kira kamu benar-benar mencintai Anggi, Farel!” Suara Helena sedikit pelan, seakan mengandung kesedihan mendalam. “Tentu saja aku mencintai Anggi, karena itu dalah alasanku akan menikahi dia.” Farel lantas bergeser dan duduk di sebelah Helena. “Dengar Helena, kita sudah berteman sangat lama, kan? Jadi jangan marah kalau aku katakan realita seperti ini. Dan kamu harus dengar ini, ‘selingkuh itu sangat menyenangkan’, Helena.” “Apa? Menyenangkan maksudmu?” tanya Helena dengan gusar. “Kamu dengar apa yang sudah aku katakan barusan? Ini semua tentang jadi nakal. Tentang melanggar batasan. Dan tentang resikonya. Kalau kamu menjalani segala sesuatu dengan cara lurus-lurus saja, kehdiupanmu, termasuk seksualmu akan jadi sangat membosankan.” “No!” sergah Helena tak terima. “Itu sebabnya yang mungkin kamu sering dengar, sesungguhnya orang-orang yang sudah menikah itu banyak yang jarang berhubungan badan stelah lama menikah.” “Why?” “Karena seks itu hanya jadi menyenangkan kalau dilakukan dengan nakal dan sedikit terlarang. Kamu bisa baca juga novel-novel dewasa, kalau ada unsur dewasanya, tapi yang bermain ranjang itu pasangan suami istri yang sah, tentu kurang seru dibacanya.” “Kamu memang gila, Farel!” “Jadi, mungkin aku akan terus selingkuh di belakang istriku, demi mendapat kesenangan seks, bukan untuk mengalihkan cinta. Selingkuh hanya sekedar iseng agar hidup tidak membosankan, Helena!” “Oh my God, Farel!” Helena makin terbelalak. “Selingkuh akan membuatku tetap tertarik dengan seks bersama istriku. Dan itu bagus untuk pernikahan kami nantinya.” Farel bela diri dan Helena benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Ya, kalau menurutmu benar begitu, tetaplah dengan prinsifmu itu, hahahaha,” ucap Helena sambil tertawa. “Tapi kamu harus cari selingkuhan yang lain, karena kalau Revan sudah melamarku, maka semua ini harus kita akhiri,” tukas Helena tegas. “Hmmm,” gumam Farel sambil menjulurkan tangannya kembali membelai paha Helena, lalu dia dekatkan wajahnya pada wajah Helena, “Ayolah, Len. Kamu tak mungkin bisa melakukan itu,” bisiknya di telinga Helena. “Ini akan jadi jauh lebih menyenangkan, setelah kita sama-sama punya tunangan apalagi setelah menikah.” Tangan Farel berhenti di balik pakaian Helena. Detik berikutnya dia sudah membelai kulit telanjang Helena di atas stocking. Farel juga mencumbu leher Helena, arena sensitifnya akan selalu dengan mudah memicu Helena terangsang hebat. Tangan Helena mencoba menghentikan laju tangan Farel dalam pakaiannya, tapi Farel terus melaju dan berikutnya dia sudah sampai pada bahan tipis celana dalam berenda yang dikenakan Helena. Farel memberinya sebuah french kiss dan Helena tiba-tiba saja kembali membuka kedua pahanya untuk memebrika keleluasaan pada tangan nakal lelaki tunangannya Anggi. Farel segera menggesek-gesek kembali clitoris Helena dari luar celana dalamnya. ‘Oh my God,’ Helena melenguh dalam hati sambil kembali meresapi sesuatu yang sangat nikmat dalam dirinya. “Apa? apa maksudmu, lebih menyenangkan tadi itu, Farel?” Dengan susah payah Helena coba bertanya saat dengan perlahan tubuhnya mulai menggeliat menahan geli akibat serangan tangan Farel. Farel menarik Helena untuk berdiri, ujung tumit sepatunya mengentak di atas lantai keramik. Farel singkapkan kembali rok Helena hingga pantatnya. Lalu dia tarik celana dalam Helena ke samping, dan menurunkan tubuh Helena menuju ujung rudalnya yang telah siap tempur kembali. Sembari menusukkan rudalnya membelah vagina Helena, ”Selingkuh di belakang Revan yang hanya pacar saja, sudah sangat menyenangkan begini, bukan? Apalagi kalau dia sudah menjadi suamimu, nikmatilah, Helena,” ucap Farel sambil kembali membenamkan rudalnya dalam vagina Helena lalu menggenjotnya pelan-pelan. “Oooh, kamu gila, Faeeeel, aaah, sssst..” Helena tak kuasa menahan serangan nikmat yang kembali melemparkan dirinya di ambang orgasmenya. Helena tahu kalau Farel juga sama, sudah berada di ujung puncakanya. “Faaar, jangan dikeluarin di dalaaaaaam, aaaah ssst, pelasssse..” Dengan napas tersengal dia meminta pada Farel Tapi Farel tak mengacuhkannya. Dia malah mengencangkan cengkeramannya pada pinggang Helena saat menyodoknya semakin keras, mencegah Helena agar tidak menjauh. Farel ingin keluar di dalam Helena. Dia ingin agar Helena terisi dengan air maninya saat nanti malam bertemu dengan Revan, kekasihnya. Setelah cukup lama terkulai lemas, Helena pun akhirnya bisa keluar dari apartemen Farel, bergegas menemui kekasihnya yang sudah menunggu di sebuah resturan mahal. ‘Selingkuh itu menyenangkan.’ Ucapan Farel terus terngiang-ngiang dalam benak Helena, bahkan saat dia sudah duduk di depan Revan di sebuah restoran. Dan di sepanjang dinner itu, Helena terus memikirkan semua ucapan Farel. Saat Revan mengecup pipinya, Helena berpikir, ‘Beberapa jam lalu, wajahku penuh dengan sepermanya Farel.’ Saat Revan menggenggam tangannya, dia pun membatin, ‘Tadi tangan ini aku gunakan untuk menggenggam rudal jumbonya Farel.’ Dan Helena merasa senang saat memikirkan itu semua. Helena tahu itu salah. Itu terlarang. Tapi itu hal tabu yang menyenangkan. Dia raih dua kali orgasme bersama Farel hanya beberapa jam sebelumnya, tapi hanya memikirkan itu semua bisa membuat birahinya menggelegak. Seusai dinner Revan dan Helena pergi ke gedung film. Helena menyilangkan kedua kakinya dan tangan Revan berada di pahanya seperti biasa. Tangan Revan mulai bergerak meraba paha Helena dan ujung jarinya berhenti tepat di bawah gaun Helena. Tapi karena di sekeliling mereka banyak orang, Revan pun tak melanjutkan aksi nakalnya. ‘Kalau Revan menyentuh vaginaku sekarang, dia akan merasakan sisa seperma Farel.’ Pikiran nakal itu membuat Helena sedikit bergidik namun juga darahnya berdesir hangat. “Kamu gak apa-apa, Len?” tanya Revan khawatir. “Gak.” Helena coba menjawab dengan nada sewajarnya, “Hanya agak dingin aja.” ‘Harusnya pejuh Farel tidak dikeluarin di dalam. Sialan! Dia terkadang memang jadi sangat menyebalkan begitu!’ maki Helena dalam hati. Tapi harus dia akui, kekurang-ajaran Farel itulah yang membuatnya mudah terangsang setiap kali memikirkannya apalgi jika dekat dengannya. ^*^

Bab 3 Helena (3)

Hubungan ranjang Farel dan Helena sebenarnya tidak bisa dikatakan mesra apalagi romantis. Farel tak pernah berlaku lembut atau penuh perhatian pada lawan bercintanya. Dia cenderung mendominasi bahkan jika dibutuhkan dia akan sangat bersikap kasar. Ketika sedang berhubungan badan, Farel senantiasa memperlakukan Helena sebagai perempuan jalang, atau setidaknya budak seks yang diajdikan sebagai obyek percobaan gaya baru dan pelampiasan seks yang rada ekstrim. Farel tak pernah melakukan itu dengan Anggi, calon istrinya. Namun anehnya, justru kekasaran dan sikap melecehakn itu yang pada akhitnya sangat disukai Helena. Dia seakan ketagihan dilecehan dan diperlakukan kasar oleh Farel. Birahinya selalu berkobar-kobar saat Farel memegang kendali seutuhnya di atas ranjang. Hal yang tak pernah Helena dapatkan dari Revan. Dengan wajah yang cantik dan imut, ditambah rambut bergelombang yang hitam legam, Helena terlihat begitu angun dan lugu seakan tanpa dosa. Tapi sesungguhnya dia suka bertingkah nakal dan liar dalam satu kesempatan. Dia suka dimanupulasi, diperlakukan sebagai wanita murahan dan jalang oleh lelaki. Dan Farel mampu memberikan semua fantasi gila Helena itu. Revan sama sekali tidak mengetahuinya. Apa yang disampaikan Helena pada Anggi tentang awal pertemuan dirinya dengan Farel, hanya isapan jempol belaka. Sejatinya Frel dan Helena baru saling mengenal lebih kirang lima bulan yang lalu dalam sebuah moment yang serba kebetulan. Ketika itu, Helena berjalan perlahan menuju sebuah bar, melewati remangnya suasana tempat itu. Helena memilih sebuah bangku tanpa penghuni di ujung bar. Dia menatap botol berkilau yang menawarkan kenyamanan instan untuknya, Helena tersenyum ketika sang bartender mendekat. Sambil memainkan rambutnya yang indah dengan jarinya yang lentik. Bartender itu tersenyum menatapnya, Helena pun tersenyum kembali, mata hitam indahnnya membalas kembali tatapan sang bartender . “Malam Kak, ada yang bisa saya bantu?“ tanya sang Bartender. “Eh, kok kakak sih? Panggil aja aku Helena,” jawab Helena sambil menjulurkan tangannya. “Oh, iya Kak.. ehh, Helena maksudnya. Aku Fajar Merona, mau pesan minuman, Helena?” “Hmm , apa ya….? Jack Daniels aja ya, on ice please,” jawab Helena sedikit ngambang, tak sepenuhnya yakin dengan yang diinginkannya. “Oke, Jack Daniels on ice coming up!” jawab Fajar yang langsung menyiapkan minuman yang dipesan Helna. Helena mencoba untuk membuat dirinya senyaman mungkin di kursi bar itu, sambil menghindari tatapan dari orang-orang di sekelilingnya. Dia membetulkan gaun hitam yang dikenakannya, menarik turun sedikit ujung roknya untuk menutupi pahanya yang menjadi santapan liar para pria di sana. Helena memiliki sosok yang ramping , tubuhnya yang seksi semampai mampu membius setiap pria yang melihatnya, dengan belahan yang memanjang ke bawah memunculkan indahnya bentuk bongkahan payudara yang tercetak jelas. “Here you go, Helena!” Fajar menyodorkan minuman yang tadi dipesan Helena. "Ah, thanks Fajar Merona," balas Helena sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di bar. Fajar mengambilnya dan pergi untuk mengambil kembaliannya. Helena mengangkat gelas dan memandangi isi minuman di dalamnya seakan sedikit bersulang. "Sialan lu! Bajingan lu brengsek! Emang pantes lu dapetin apa yang lu dapet sekarang!" gumam Helena tak jelas dan pelan. Lalu diteguknya minuman itu dan merasakan kehangatan menyebar di dalam perutnya. Tetapi batinnya semakin bergejolak. Kemarahannya bangkit kembali. Helena masih tidak percaya, lelaki yang sudah dipacarinya selama hampir dua tahun, ternyata telah berselingkuh dengan wanita lain hampir enam bulan lamanya. Helena tertipu atas kebohongan yang diciptakan olehnya, sampai dia menemukan beberapa bukti pagi itu. Sebuah hadiah dan foto mesra yang disembunyikan di lemarinya beserta nama gadis tersebut. Ketika Helena bertanya pada pacarnya itu, dia mengakuinya. Dan yang sangat membuat Helena shock, ternyata hubungan mereka sudah terjalin dari semenjak mereka masih di bangku kuliah, jauh sebelum dengan Helena. “Jadi sebenarnya gue yang dijadiin selingkuhan sama si brengsek itu! Sialan!’ maki Helena dalam hati. Helena pun akhirnya memberikan ultimatum pada kekasihnya. Dia segera keluar dan kembali ke apartemennya, berharap pacarnya akan meneleponnya. Namun telepon itu tidak pernah ada. Berbagai macam pikiran gila berkecamuk dalam benaknya. Helena bahkan merasa sangat terhina karena dia telah menyerahkan segalanya pada pacarnya itu, termasuk kegadisannya. Tapi apa yang terjadi? Helena meneguk dalam-dalam minumannya. Mengutuk kesal para lelaki bajingan itu. Dia meneguk kembali minumannya dari gelas, kemudian dengan rasa malas bermain-main dengan es. Berputar-putar dengan jarinya. Sejurus kemudian Helena merasakan air matanya menggenang di matanya. Helena menggigit bibirnya untuk menjaga mereka agar tidak jatuh ke pipinya. Helena terkejut ketika dia tesadar bahwa minumannya telah kosong. Dia ingin mabuk. Dia berpikir memang harus mabuk. Helena ingin membebaskan dirinya dari belenggu sakit hati yang dirasakan akibat perbuatan lelaki pecundang yang telah mengkhianatinya. “Mau pesen lagi, Helena?” Bartender itu kembali tersenyum saat menawari Helena. Namun sekarang Fajar melihat ada sedikit ketidak-jelasan dari Helena yang tidak diperhatikan sebelumnya. “Iya! aku pesen satu lagi, Fajar…..,” Jawab Helena lemah karena sudah mulai sedikit mabuk. “Oke, Helena!” Bartender itu melangkah untuk menyiapkan minuman selanjutnya. “Hai cantik, kalau memang diizinkan biar aku yang bayar minuman itu.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari sebelah kanan Helena. Helena menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Terlihat seorang pria tampan, dengan rambut pendek rapi dan ada janggut tipis di dagunya. Tingginya mungkin sekitar 185 cm. Atletis dan berotot nyaris tanpa lemak, sama sepeti pacarnya yang berkhianat. Lelaki itu mengangkat alisnya, meminta jawaban dari Helena untuk tawarannya tadi. “Ah, oke thanks,” jawab Helena tanpa pikir panjang. Terlintas senyum di wajah pria itu. Dia lantas mengambil bangku di samping Helena dan mengeluarkan kartu kredit dalam dompetnya ketika bartender kembali dengan minuman Helena. Dia pun lantas memesan minuman satu untuk dirinya sendiri. “Aku Farel Membara, kamu?” tanya lelaki itu pada Helena. “Oh, panggil saja aku Helena, sorry…” jawab Helena yang sedikit kurang konsentrasi. “Gak apa-apa. Maaf ni, tapi kayaknya wajah kamu lagi sedih banget ya, Len? Kalau boleh tahu kenapa? Mungkin aku bisa sedikit ngebantu membuang permasalah kamu?” tawar Farel selanjutnya. Akibat pengaruh minuman yang sudah mulai menguasai dirinya, Helena pun menceritakan semua isi hatinya pada pria yang baru saja dikenalnya itu, seperti pada orang yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Setelah menceritakan kebrengsekan pacaranya, Helena juga menjelaskan pekerjaannya dan tempat tinggalnya. Farel benar-benar menjadi pendengar setia yang baik sambil terus menatapnya dan mengatur segela rencananya. Malam itu Helena terlihat manis, lucu dan menggemaskan dengan rambut bergelombangnya yang membingkai wajah cantiknya. Berpadu dengan mata terindah yang pernah dilihat Farel. Helena memiliki seluruh tipe wanita yang Farel sukai. Farel bahkan membiarkan pikirannya menduga-duga seperti apa bentuk dan ukuran benda yang ada dalam gaun hitam Helena. Sejuruh kemudian Farel pun sudah merasakan ada yang berontak di balik celananya. “Aku sedikit kesal denger ceritamu, Len. Maksudnya dengan mantanmu itu. Kok bisa ya? Memang sih kebanyakan cowok itu bajingan. Aku tahu itu, karena aku juga cowok,” sahut Farel menanggapi ocehan Helena yang mulai sedikit ngelantur. “Oh, jadi kamu juga bajingan dong, Farel? Hihihi…,” Helena meresponnya dengan sedikit Felisiaan geli. “Bukan, aku babi. Seenggaknya aku beda lah sama mantan pacarmu itu atau cowok lainnya, Hahahaha.” Farel tak kuasa menahan tawanya, gadis incarannya sudah mulai masuk dalam perangkapnya. “Hahaha bisa aja kamu, Farel!” Helena pun ngakak setelah itu tersenyum manis sekali. “Ya tapi kalau aku sih lebih milih buat nganggap kalau semua cowok itu baik, Far.” Helena melanjutkan ucapannya. “Seperti mantan pacarmu itu? Aah, sudahlah, lupain aja diaa. Kamu bener, Helena. Aku sedikit kagum dengan orang yang dalam keadaan bagaimanapun masih bisa melihat sisi kebaikan orang lain, bukan hanya yang buruk-buruknya saja. Mari kita bersulang!" seru Farel antusias. Mereka pun mengangkat gelas masing-masing dan kemudian Farel melanjutkan kata-katanya, “Bajingan itu pasti menyesal karena udah nyakitin bidadari secantik kamu, Helena,” puji Farel. “Hahaha, bisa aja kamu, Farel.. hahahah” Helena kembali berseru sambil meneguk minumannya hingga beberapa tegukan setelah tawanya reda. Obrolan antara Helena dan Farel mulai mengalir dengan mudah dan bebas seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama. Farel beberapa kali melontarkan lelucon yang sedikit garing, namun dapat membuat kedduanya tertawa. Dan itu tidak lama sebelum tangan Farel membelai bahu Helena dan mengusap lengannya. Dan entah mengapa Helena merasa hatinya tenang dan senang. Farel memang pandai merayunya, hingga Helena merasa telah menemukan semua keceriaannya lagi dalam sosok pria di depannya. Tidak lama kemudian, Farel telah menarik Helena dari kursi bar dan memangkunya di antara kedua pahanya. Helena bisa merasakan tangan Farel yang mulai mengusap punggungnya, hal itu membuatnya sedikit merinding. Farel terus menekan lebih dekat tubuhnya. Helena merasakan tangan Farel di lehernya, lalu mengusap lembut wajahnya. “Helena, kamu itu cantik, lucu, menyenangkan, sungguh dan sangat indah. Aku bisa memikirkan seenggaknya seratus hal yang bisa kulakukan bersamamu. Kamu begitu menyenakan dan menggairhakan. Kamu begitu sempurna di mataku. Bolehkah aku mencintaimu?” bisik Farel di telinga Helena. “Ahh, Farel uuuuh…” Helena mendesah saat hembusan napas Farel menelusuri telinga hingga lehernya. Sudah berbulan-bulan, atau mungkin setahun Helena tidak mendengar pacarnya membisikkan kalimat itu sejak awal dia membisikannya untuk menggoda dan Helena pun terbuai menyerahkan kesuciannya. Helena mengulurkan tangannya dan membelai lengan Farel , merasakan otot di bawah kemejanya. Farel mengerti jika saat ini Helena tidak dapat menjawab karena kegalauan hatinya. Namun Farel bukan lelaki tak berpengalaman. Dia lantan menghela napas dan menggerakkan tubuhnya lebih dekat dengan Helena. Bibirnya mengecup mesra tiap jengkal leher Helena sampai ke dagunya, kemudian ke bibirnya. Ketika bibir mereka menyatu, Helena merasa dunianya mulai berputar dan berbalik. Dia melingkarkan kedua tangannya ke leher Farel dan kembali berciuman dengan penuh gairah. Helena menerima pagutan lidah Farel saat meluncur di antara bibirnya. Helena merasakan tangan Farel mulai meluncur dari punggunggnya ke bongkahan pantatnya. Entah bagaimana awalnya, Helena bisa tidak peduli jika seluruh bar sedang mengawasi dirinya dengan Farel. Helena hanya sedang merasakan hidup kembali untuk yang kedua kalinya setelah dijatuhkan dan diterpurukan oleh kekasih yang paling dicintinya. Setidaknya untuk sebulan terkahir ini.

Lanjut baca