IDENTITAS LAIN NYONYA BRUNO
Bab 1 Terpuruknya sang pewaris Colbert

Bruno mengerjapkan mata kebingungan, saat selusin petugas kepolisian menggeledah kamar yang ditempatinya. Dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu berdecak kesal. Baru sadar kalau tak ada sehelai benangpun yang melekat disana. “Cepat bangun, ikut kami ke kantor polisi!” kata seorang petugas. Netra Bruno melihat petugas lainnya yang menunjukan kantung plastic tranparan, berisikan satu kilogram serbuk ganja. Bahkan di kantung yang lain ada bong juga pemantik api yang masih mengeluarkan asap. Benda itu didekatkan ke wajah Bruno,”apa ini milikmu?” Dia langsung terbatuk berulangkali, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Seorang petugas melemparkan baju ke tubuh Bruno,”pakai ini cepat. Ikuti kami ke kantor!” “Dimana Brenda?” dia celingukan ke setiap sudut ruangan. “Siapa Brenda? Kami hanya menemukan kamu sendirian di kamar ini, setelah menerima laporan dari unit sebelah.” “Fuck! Aku tadi bersama seorang gadis. Dia teman kuliahku.” “Jadi kamu seorang mahasiswa. Apa jadinya Negara ini kalau punya pemuda macam kamu?” “Hiash, damn!” umpat Bruno dalam hati. Bagaimana bisa seseorang lenyap begitu saja tanpa ada yang tahu. Apalagi gadis itu telah melewatkan malam yang panas dengannya selama berjam-jam di apartemen yang disewanya. Bruno baru tersadar dari kesurupan saat tangannya sudah terborgol dan punggungnya di dorong menuju lift ke bawah. Tuduhan sebagai pemakai dan pengedar narkoba, melekat di tubuh Bruno. Dia tidak bisa mengelak saat semua bukti-bukti mengarah padanya. Meskipun dia bersikukuh bersama Brenda malam itu, tapi tak ada satu bukti pun yang mengendus keberadaan sang gadis. Bruno betul-betul sangat putus asa. Dia hendak menghubungi sang ayah, namun ponselnya dirampas sebagai barang bukti. Terpaksa dia menginap di penjara. Ke esokan harinya, Bruno dipindahkan ke penjara pusat. Dengan dalih tidak adanya keluarga yang menjemput. Dia berteriak dengan marah sambil menyebutkan nomor HP sang ayah juga Bernard. Tapi pihak kepolisian hanya mengangguk tanpa berusaha menghubungi nomor-nomor tersebut. Bruno merasakan keanehan tapi mau berkata apa. Kemalangan yang dia alami seolah sudah settingan seseorang. “Brenda!” geramnya ketika sang petugas menutup pintu jeruji. “Barang baru nieh, cantik sekali.” Kata salah satu tahanan yang dia lewati. “Hai cantik boleh kenalan dong.” Godanya. Wajah Bruno yang imut dan tampan bak oppa Korea, menarik minat tawanan yang ada disana. Para lelaki yang sudah lama tidak menyentuh wanita itu, mulai menyusun rencana kotor di benaknya. Apalagi saat melihat bibir tipis Bruno yang berwarna pink. Air liur langsung menetes dari bibir-bibir tebal mereka. Tibalah saat makan di sore hari. Semua tahanan berkumpul di sebuah ruangan yang luas dengan kursi dan satu meja panjang. Antrian makanan bertambah panjang saat kedatangan para tawanan dari sel sebelah. Bruno dengan sabar menunggu saat para tahanan mulai menggeser antriannya semakin ke belakang. Walau perutnya terasa pedih, semalaman tidak makan. Apa mau dikata, dirinya orang baru yang masih lemah. Bruno tidak suka olah fisik, jadi tubuhnya kelihatan ringkih dengan tulang-tulang menonjol di beberapa bagian. Sasaran yang empuk bagi mereka yang beringas, membutuhkan penyaluran hasrat biologisnya. Para tahanan disini, merupakan residivis puluhan tahun. Dengan level kejahatan yang sadis, bagi orang awam. “Mengapa aku berada disini? Seharusnya aku di adili dulu sebelum mengirimku kesini?” keluhnya pelan. “Hei pendatang baru. Tidak boleh mengeluh!” seseorang menabraknya dari belakang. Makanan di tangan Bruno langsung jatuh berantakan. Tawa pun menggelegar di seantero ruang penjara. “Ambil makananmu, jangan buang-buang makanan. Tidak baik!” kata laki-laki yang menabraknya tadi. Bruno mendongak. Pria ini tak lebih kurus darinya. Tapi mengapa dia ditakuti semua orang. “Apa melotot!” sebuah tamparan dilayangkan ke muka Bruno, hingga dia terjengkang. Kembali tawa riuh rendah terdengar, mentertawakan kebodohannya. Bruno menangis. Air mata meleleh di pipinya. Apalagi saat mereka mengatainya sebagai ‘banci’. “Banci apartemen elit,” kata mereka. “Beri dia pelajaran, Jack!” kata salah seorang. Laki-laki yang menabrak Bruno tadi mengangguk. Dengan sekali gerakan dia menyeret Bruno menjauh dari tempat makan. Jack membawa Bruno ke bagian belakang gedung, tepatnya di kamar mandi. “Akhirnya kita hanya berdua saja cantik. Puaskan aku.” Tawa jack, menunjukan gigi-giginya yang menghitam. Bruno hampir muntah melihatnya. Apalagi bau mulut Jack yang sangat busuk. “Plak! Kamu jijik padaku, heh!” membenturkan kepala Bruno ke tembok. Bruno merasa pusing, kesadaran hampir lepas dari dirinya. Saat Jack hendak melakukan aksinya, dia mencoba menjaga kesadaran dengan menendang dan memukul ke segala arah. Satu cakaran mengenai muka Jack. Dia marah lalu mematahkan tangan yang telah melukainya. Jeritan Bruno menyayat hati saat jemari-jemarinya terasa patah. Tanpa belas kasihan, Jack menjambak rambut Bruno. Menindih tubuhnya,”masih punya tenaga untuk melawan.” Dia meludahi muka Bruno. “Lepaskan aku, brengsek!” teriaknya. Itu adalah perlawanan terakhir dari Bruno sebelum dia pingsan di lantai yang basah. Jack tampak senang. Dia mengelus wajah mulus Bruno. “Kamu tampak semakin cantik kalau patuh seperti ini.” Jack melucuti baju Bruno sebelum membuka bajunya sendiri. Dengan penuh semangat dia menelungkupkan tubuh Bruno. “Lepaskan dia!” bentakan terdengar saat Jack hendak menindih tubuh Bruno. Pria ganas itu langsung menoleh. Matanya membeliak sempurna melihat sosok di belakangnya. “Aku bilang, lepaskan dia!” disusul dengan tendangan. Tubuh Jack langsung melayang seratus meter dari tempat semula. Pria itu menghampiri Jack. Meludahi wajahnya,”manusia menjijikan. Lalu dia memakaikan pakaian Bruno. Memanggulnya di pundak sebelum membawanya ke sel bagian ujung. Tempat hukuman bagi para tahanan pembangkang, seperti dirinya. Sang penolong membaringkan tubuh Bruno di kasur. Dia duduk menunggu di kursi kayu sambil melihat keluar jeruji. Pandangan matanya jauh ke atas langit yang mulai memerah. Rupanya matahari mulai tenggelam di ujung langit. Sudah tiga jam lamanya, dia melihati tubuh yang tak berdaya itu. “Mengapa dia belum sadar juga? Apa benturan di kepalanya terlalu keras?” Pria itu mendekati Bruno. Memegang dahinya sebentar. “Masih dingin.” Lalu dia menoleh ke jari jemari Bruno yang tampak bengkok. Dia pun menarik jemari itu dengan bunyi kretekan yang keras. “Ouch. Apa yang kamu lakukan padaku!” teriak Bruno sambil menatap horror. “Hahaha. Akhirnya kamu sadar juga.” “Siapa kamu?” tanya Bruno. Laki-laki itu hanya tersenyum sinis padanya.

Bab 2 Nana luput dari kematian

Sementara itu di belahan bumi yang lain, berpuluh tahun yang lalu. “Mereka sudah datang, bawa anakku pergi dari sini!” Shanti memerintahkan Braja, anak buahnya. “Bagaimana dengan Nyai?” Laki-laki itu enggan meninggalkan sang majikan. Dia melihat ke tanah, dimana majikan prianya sudah tergeletak tak bernyawa. “Jangan khawatirkan aku, Braja. Selamatkan anakku. Kelak dialah yang akan membalaskan kematian kami. Dengan sekali dorongan, Shanti melemparkan Braja menjauh dari arena pertempuran mereka. Meskipun berat hati, Braja terpaksa menuruti keinginan terakhir majikan wanitanya. Saat lompatan yang dia lakukan telah mencapai sisi hutan. Kebakaran hebat pun terjadi seusai ledakan yang memporak porandakan seisi hutan. “Aku akan melindungi bak anakku sendiri, Tuan Putri.” Braja mengelus wajah bayi yang masih terlelap dibalik selimut. Air mata pria itu mengalir dengan deras. Dia melihat kebakaran hutan di depannya sambil bergumam lirih,”semoga dewa-dewi menerima arwah anda Nyonya.” Kalimat terakhir yang diucapkan Braja sebelum dia menjejakan kaki ke tanah, lalu tubuhnya melayang menjauh. Brajamukti tour and travel, masa kini,“Nana, aku boleh minta tolong, nggak?” Lulu sedang merayu temannya. “Ada apalagi, Lu? Aku sedang sibuk nie. Coba minta bantuan si Made.” Jawabnya tanpa menoleh dari layar laptop. “Aish, nggak seru.” Lulu menghentakan kaki. “Mereka mintanya tour guide perempuan.” Nana melihat sahabatnya sambil melipat dahi. “Mereka nganggur tuh,” tunjuknya pada Dewi dan Prita. Lulu cemberut,”mereka nggak seru, tahu nggak.” “Apa maksudnya, bukannya prosedur tour guide yang disiapkan perusahaan sama?” “Bukan yang itu Nana, tapi tentang ini nieh.” Lulu menggesekan jempol dan jari telunjuk.” “Cuan, nieh.” “Iya, Nana cantik. Uang, kalau mereka dapat tips gedhe dari pelanggan suka pelit kasih fee-nya ke gue.” “Mesti saja, dodol. Mereka yang kerja, mengapa juga harus kasih hasilnya ke kamu.” “Haish, Nana kayak nggak ngerti saja. Kan aku yang ngasih orderan nieh. Masa nggak ada uang denger juga. Setidaknya nol koma sekian nol persen lah.” Nana terbahak mendengar alasan sang sahabat. “Memangnya aku selalu kasih prosentasi ke kamu, kalau ngambil jatah yang seharusnya jadi pekerjaanmu.” “Tentu saja, walau kamu tidak memberikannya dalam bentuk uang setidaknya aku masih dapat semangkuk bakso, kan.” Lulu mengedip-ngedipkan matanya. Nana menepuk jidat,”haish, baiklah-baiklah. Tapi ada syaratnya.” “Apaan?” “Bantuin gue ngeprint laporan itu.” Tunjuknya pada layar laptop. “Beres deh.” Lulu berjingkrak kesenangan. Dengan pelan di dorongnya pinggang sang sahabat. “Berapa orang rombongannya?” Nana menyampirkan tas selempang sambil mendengus. “Senyum dong, Na. Tour guide tidak boleh pasang muka cemberut. Lulu mengangkat sudut bibir sahabatnya dengan kedua tangan. Senyum Nana tampak kaku. “Isssh, lepasin. Wajahku malah kayak boneka, tau.” “Hehehe, maaf.” Lulu membuat tanda piece dengan jemarinya. Dia merengkuh bahu Nana, diajaknya menuju parkiran. Disana mobil wagon putih tengah menunggu. Sang sopir tersenyum senang saat kedua gadis primadona agensi pariwisata Brajamukti semakin mendekat. “Ngapain senyum-senyum?” Lulu dengan judesnya melihat ke arah sang sopir. “Waduh Non Lulu, tumben galak banget. Habis sarapan mercon, Non.” “Iya. Sudah mau meledak nieh. Mangkanya nggak usah lihat-lihat kesini. Kalau enggak…” dia membuka mulutnya lebar-lebar. Pardi langsung mengarahkan kepalanya ke depan mulut Lulu. “Kalau cukup dalam sekali telan, saya rela Non.” Gadis itu menjitak kepala Pardi. “Sialan, loe kira mulutku gua lawa, apa.” Tawa Pardi menyembur keras, membuat para bule yang ada di sekitar tempat parkir menghentikan langkah. Nana membungkukan badan,”We’re sorry for interrupting. Please continue your activity.” “What a nice girl.” Kata mereka sebelum melanjutkan aktifitasnya. “Sudah nggak usah di dengerin.” Lulu mencondongkan tubuhnya ke arah Nana. “Mereka turis dari Amerika. Cowo-cowo semuanya.” “Iya sudah tahu. Yang gue tanyakan ada berapa orang, Lulu.” “Dua orang,” jawabnya enteng. “Apa, nggak salah dengar kan gue?” “Nggak.” “Waduh parah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku, kamu berani bertanggung jawab?” Nana berkacak pinggang. “Kamu kan bisa beladiri, Nana. Kalau Pardi sama bule itu macam-macam, kamu tinggal…” Lulu menendang ke udara. “Haish, baiklah-baiklah. Asal jangan lupa print-out fileku segera. Sudah ditunggu kakek di kantornya.” Lulu langsung membekap mulut,”harus aku ya, yang ngasihkan berkas ke kakek?” “Tentu saja.” “Nanti kalau kakek bertanya macam-macam, bagaimana?” “Bilang saja aku lagi nganterin tamu ke tempat wisata. Beres, kan.” “Idih, beres sih beres pasti ujung-ujungnya kena ceramah juga.” “Lulu kamu itu becus tidak sih, jadi guide. Masa nganter dua tamu saja pakai diwakilkan sama Nana. Kamu tahu tidak bahayanya kalau cucuku itu pergi dari rumah. Bagaimana kalau dia nanti bertemu dengan orang jahat?” Lulu menirukan gaya Brajamukti saat marah. Nana terpingkal sambil memegangi perut. “Sudah mirip. Mengapa tidak ikut drama yang di adakan hotel, minggu depan.” “Iiish, Nana nggak seru. Aku kan hanya menirukan gaya kakek.” “Oke-oke. Tapi masa sampai segitunya kakek ngasih ceramah. Memangnya dia tidak tahu kalau aku sudah pergi hingga ke Sumbawa sendirian.” “Sendirian, bukannya kamu pergi sama Made, ya?” “Nggak. Aku sendirian.” “Loh, tapi Made sendiri yang bilang sama kakek kalau kamu pergi bersamanya.” “Dia mencoba melindungiku, barangkali. Supaya kakek tidak marah.” “Haish, kamu benar Nana. Ya, sudah deh berangkat gih, nanti aku cari alasan supaya kakek tidak menceramahiku.” “Bilang saja kamu mau ada kuliah. Beres, kan.” “Bingo. Kamu benar, Nana. Aku akan bilang seperti itu.” Lulu menelisik sekujur tubuh sahabatnya. “Tapi janji, tidak ada perkelahian.” “Janji.” Nana mengangkat tangan kanan ke udara, yang Lulu tidak lihat kalau dia justru membuat tanda silang dengan tangan kirinya di balik punggung. “Kita lihat nanti, kalau dua bule itu macam-macam. Aku pastikan mereka tidak bisa berjalan dengan benar esok hari.” Nana mengancam dalam pikirannya. “Kemana kita akan jemput tamunya, Na?” Pardi bertanya saat mobil berhenti di lampu merah. “Hotel Sanur, loby dua.” “Pintu selatan?” “Betul. Tapi mampir dulu di toko Sekar.” “Mau membeli bunga?” “Ya, sekalian mampir ke kuburan kedua orang tuaku. Mumpung searah, kan.” “Oke.” Nana selesai melantunkan doa di kuburan kedua orang tuanya. Dia melihat jam di pergelangan tangan. Sebuah bayangan tampak terlihat dari kaca jam-nya. Gadis itu memejamkan mata, berusaha memperjelas potongan-potongan gambar yang ada disana. “Ibu…Ayah.” Nana menggesah pelan. “Maafkan Nana yang tidak bisa berbakti pada kalian.” Lalu bayangan yang ada di depan Nana, berganti menjadi dua pria bule yang hendak saling membunuh. Pria yang usianya tampak dua tahun lebih muda dari yang satunya, memberikan minuman yang telah dibubuhi racun. Kejadian itu dalam sebuah pesta keluarga. Nana terkesiap, dia berusaha memperingati pria bule itu. Namun dia tidak bisa, bayangannya hilang bersamaan dengan teriakan Pardi. “Nana, kurang lima belas menit lagi kita harus tiba di hotel Sanur!”

Bab 3 Love at the first sight

“Kamu yang bernama, Lulu?” tanya seorang pria bule berotot pada Nana di lobi hotel. “Bukan, namaku Nana Mukti, yang akan mengantarkan anda Tuan Bruno.” Dia sedikit membungkukan tubuh, memberi hormat pada pria di depannya. “Mengapa ganti orang? Pihak hotel bilang tour guide-ku bernama Lulu.” Dia membetulkan kunciran rambutnya. “Maaf Tuan Bruno. Nona Lulu masih punya urusan yang tidak bisa ditinggal.” “Tidak becus.” Ejeknya. “Kalian pekerja yang tidak professional. Seharusnya ada pemberitahuan terlebih dulu sebelum mengganti orang.” Mata hazel-nya menatap dengan dingin. “Jangan khawatir Tuan Bruno. Cara kerjaku tidak beda jauh dengan Lulu. Kami telah dilatih trainer yang sama sebelum mengambil tamu.” Jelas Nana dengan senyum. “Aku tidak peduli.” Bruno menggebrak meja. “Aku mau Lulu yang mengantarkan tour kali ini. Bukan gadis penganti macam kamu.” Dia menatap dengan pandangan menghina. “Coba jelaskan, apa yang membuat anda tidak menyukaiku?” “Kamu seperti anak laki-laki. Aku tidak suka.” “Anda lebih suka wanita yang feminine, Tuan. Aku bisa mewujudkannya.” Nana langsung melepas kaitan celananya. Menyilangkan waist band-nya dan terbentuklah rok ketat yang panjang. Memperlihatkan bentuk tubuh Nana yang langsing. Rambut Nana yang semula dikuncir kuda, dia gelung ke atas dengan memakai jepitan rambut. Mengekspos leher jenjang Nana. Warna kuning gading dari leher Nana, membuat Bruno langsung menelan ludah. Gegas dia berdiri, meraih lengan gadis itu. “Ayo segera pergi dari sini.” Nana tersenyum manis, dia mengekori langkah lebar Bruno. “Hei, Bruno. Wait for me!” teriakan terdengar dari lift depan lift lobi. “Hurry up! Hari sudah mulai siang, aku tidak mau terlambat jalan-jalan!” sahutnya tanpa menoleh. “Aku duduk disini.” Bruno berebut tempat dengan Jhon. “Tidak bisa. Aku mau duduk dengan Nana.” Kekeuh Jhon, mendorong tubuh Bruno keluar mobil. “No way, Jhon. Kamu harus mengalah padaku.” “Urusan gadis cantik, Jhon tidak akan mengalah walau kamu sahabat baikku.” Tunjuknya pada diri sendiri. “Ouh, ya. Berani taruhan?” Bruno mulai mengepalkan tinjunya. “Baik. Siapa takut?” Jhon mengambil ancang-ancang. Keduanya memasang kuda-kuda. Saling melayangkan tinju ke muka masing-masing. Dan dengan sigap pula Bruno dan Jhon bisa berkelit, menghindari. Nana dan Pardi tak hendak turut campur. Setelah turun dari mobil, keduanya duduk di bangku parkiran hotel. Memesan minuman dingin sambil melihat perkelahian di depannya. “Aku pasang, Jhon.” Pardi meletakan uang lima puluh ribu di meja. “Oke. Aku menjagokan Bruno.” Nana pun melakukan hal yang sama. “Siapa yang menang, nieh. Kalau cara berkelahinya seperti itu.” Cemooh Pardi. “Bagaimana kalau kamu ikut campur di dalamnya?” Dia melirik Nana, penuh arti. “Mau naikan taruhannya?” “Oke. Siapa takut.” Dia mengeluarkan tiga lembar uang seratusan. “Good.” Nana langsung mengambil uang itu dan meletakannya di saku bajunya. Gadis itu menguap. Menggeremetakan leher juga kedua buku-buku tangannya. Sebelum berdiri di antara Bruno dan Jhon. “Minggir Nana, jangan sampai terkena tinjuku!” Bruno menarik tubuh gadis itu ke samping. Nana tampak ketakutan. Dia melindungi wajahnya dengan kedua tangan. Badannya menggigil. Jhon yang hendak melayangkan tendangan ke dada Bruno, menjadi urung. Dia mendengkus,”haish sudahlah. Kita hentikan perkelahian ini.” “Kamu benar, Brow. Kita menakuti gadis cantik ini.” elusnya pada bahu Nana. Gadis itu langsung mendelik,”watch your hand!” “Iiish, takut.” Bruno dan Jhon mengedikan bahu bersamaan sebelum terbahak. Bruno tidak pernah memalingkan mukanya dari Nana, saat mereka bepergian. Bahkan ketika di toko souvenir maupun di resto, pria itu selalu mengajak Nana di sampingnya. Walau dengan canggung, Nana mengingatkan jika dia harus menunggu mereka diluar toko. Tapi Bruno selalu bersikeras, tidak mau jauh darinya. Walhasil Nana pun hanya mengangguk pasrah. “Pilihkan barang-barang untuk gadis seusiamu.” “Untuk kekasih anda, Tuan Bruno.” “Semacam itulah. Dia seumuran denganmu.” “Hei, siapa nama gadis itu. Mengapa kamu belum mengenalkannya padaku?” Jhon menimpali. Bruno langsung mendorong pelan tubuh sahabatnya. “Get lost.” “Oke fine.” Jhon menjauh sambil terkekeh geli. Sore harinya, Nana meletakan tas selempang ke meja kerjanya dengan tanpa tenaga. Rasa lelah tampak kentara dari wajahnya. “Na, dipanggil kakek Braja.” Dewi berdiri di samping gadis itu sambil melipat tangan di dada. “Ada apalagi?” dia meletakan kepalanya di meja. “Kurang tahu, tuh. Ada yang mau dibicarakan mungkin? Atau tunggulah ceramah-ceramahnya.” Dewi menggerak-nggerakan kedua tangan ke udara. Bak hantu yang melayang-layang. “Sialan. Loe jangan nakut-nakuti gue dong.” “Aku bicara apa adanya, Nana. Kulihat tadi kakek cemberut dengan mata memerah.” Nana bergegas berdiri,”beneran loe?” “Suwer, deh.” Dewi terkekeh, meninggalkan Nana sendirian disana. Nana menunduk, melihat ujung sepatunya saat Braja mondar-mandir di depan gadis itu sambil berceloteh panjang lebar. Bahkan kalimatnya ada yang diulang-ulang. “Paham, kan.” “Iya, Kakek. Nana berjanji tidak akan pergi sebelum di ijinkan.” “Baguslah. Mulai besok, kakek sendiri yang akan mengawalmu kemana-mana.” “Waduh.” Nana menepuk jidatnya. “Bahkan saat kuliah juga.” “Tentu saja.” Pria tua itu tertawa lebar sembari mengulas senyum licik di wajahnya. Di kampus Nana berulangkali memperingati kakeknya agar menjaga jarak. Walau Braja berpenampilan modis bak anak muda, tapi kunciran rambut putihnya masih kentara. Orang lain tidak akan tahu, jika Braja sudah berusia sembilan puluh tahun. Laki-laki itu tidak mempunyai kerutan sedikitpun di sekujur tubuhnya. Braja tersenyum manis pada semua gadis yang dilewatinya. Mereka menoleh saat berpapasan dengannya. Dan jangan lupakan kata-kata mereka. “Aduh jantungku.” Para gadis berpura-pura hendak pingsan. Mereka jatuh ke pelukan Braja. “Bolehkah aku berkenalan dengan cogan macam kamu.” “Simpan nomerku, okay.” Kata salah satu gadis saat menyodorkan kartu nama. “Pria tampan macam dia, bak tokoh anime berjalan.” “Iya aku setuju denganmu. Wajahnya mirip dengan Tang San di serial dunia roh, tuh.” “Ouh, so sweet. Aku mau menjadi Xio Wu-nya.” “Oke girls. Jangan lupakan aku.” Braja meninggalkan para gadis dengan mengacungkan dua jempol ke udara. “Kakek, jangan membuat Nana malu. Ingat umur, heh.” Dia menghentakan kaki sambil berlalu. “Eh, Nana. Tunggu aku!” yang dibalas dengan juluran lidah oleh gadis itu. Bisik-bisik para mahasiswi di ruang kelas semakin menjadi. Topic utamanya si Braja, yang sedang duduk di deretan kursi tengah. Nana yang biasanya menjadi gadis yang jarang diperhatikan, kali ini berbeda. Gadis itu dikerumuni mahasiswi lainnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan absurb seputar tokoh anime yang dibawanya. “Hiash. Bisakah kalian pergi menjauh?” “Tidak bisa Nana. Sebelum kamu memberiku informasi yang jelas tentang si Braja.” Kekeuh Lila, sang model kampus. “Kamu boleh mencari cogan yang lain di kampus ini. Asalkan jangan dia.” Nana menunjuk pria tua, dua bangku di sisi kirinya. Laki-laki itu sedang tersenyum sambil dadah-dadah pada para gadis yang tengah mengagguminya. Nana menepuk jidat,”haish dasar tidak sadar umur.” “Oke-oke. Aku minta apa Nana. Baju, cluctch edisi terbatas atau menginap di hotel bintang lima. Aku bisa mewujudkannya.” Rayu Lila. “Asalkan kamu mau menjadi mak comblangku dengan cogan itu.” Lila melihat Braja dengan mata berbinar. Hati Nana mulai tergerak dengan tawaran Lila. “Kesempatan bagus. Kapan lagi aku bisa morotin Sultan di kampus ini.”

Lanjut baca