Setelah menunaikan ibadah solat isya, Siska mengadahkan kedua tangannya, memohon kepada Allah SWT. Agar selalu menjaga suami tercintanya saat berada dimana saja. Suaminya adalah seroang lelaki berambut hitam lekat dengan perawakannya yang tinggi. Wajah berseri, mata kecoklatan dengan hindung mancung, serta ditambah dengan rahang yang ditumbuhi dengan bulu-bulu halus yang nyaris menyamai pangeran dari negeri Arab. Ia adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan penyayang dalam keluarga, serta taat beribadah. Sekalipun ia tak pernah alpa untuk membahagiakan Siska, lahir, dan batin. Bagaimana Siska tak semakin cinta pada suaminya jika semua sikap manis dan perhatiannya membuat hati Siska seakan di tumbuhi bunga-bunga yang disirami air surga? Setiap pagi suaminya itu selalu memberikan senyum manis dan pelukan hangat untuk Siska. Namun, sudah empat hari ini suaminya belum pulang ke rumah karena pergi keluar kota, ada beberapa urusan kantor yang harus suaminya kerjakan dan terpaksa meninggalkan istri dan putri kecilnya yang baru berusia tiga tahun di rumah. Siska meremas mukenahnya sembari menahan buliran air yang ingin keluar dari kedua kelopak matanya. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan sosok suaminya itu. Ia duduk diatas kasur seraya memandang wajah lugu dan manis putri kesayangannya yang bernama Aqila, lalu mengecup perlahan pipi chubby Aqila dan tersenyum. Putri kecilnya itu memang memiliki wajah yang sangat mirip dengan ayahnya, hingga tiap kali Siska merindukan suaminya ia akan memandang dan mengecup pipi putrinya itu. "Mas, kamu kapan pulang?" gumam Siska lirih, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat lampu duduk. Ia hanya memastikan ada pesan atau tidak dari suaminya itu, karena tidak ada ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur, membuka lemari pendingin dan menuangkan air dingin ke dalam gelas kaca dengan gagang kecil di bawahnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. 'Ceklek.' Terdengar suara pintu terbuka, Siska melihat suaminya membawa koper dan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum," ucap Ilham, suami Siska yang baru saja kembali dari luar kota. Seketika senyum Siska merekah lebar, ia sangat bahagia. Akhirnya suaminya sudah kembali, ia pun segera mengampiri suaminya itu. Mengecup punggung tangan Ilham dan menghamburkan tubuhnya ke pelukan Ilham. "Mas, lama banget si," ucap Siska dengan suara manja. Ilham tertawa ringan sembari membelai kepala istrinya. "Iya sayang, maaf. Kan Mas kerja begini juga demi kamu sama Qila," balas Ilham, lalu tersenyum memandang wajah manis istrinya. "Bagaimana kabar, Mas? Apa urusannya lancar?" "Alhamdulillah lancar," balas Ilham dan diiringi dengan senyuman. "Mas kelihatan sangat tampan sekali, abis cukur ya, Mas?" tanya Siska sembari menatap wajah suaminya dan masi diiringi dengan senyum. "Uhm, i-iya," jawab Ilham, namun dengan nada sedikit bergetar. Ilham melepaskan pelukannya dan kini tatapannya berubah sedikit canggung, lalu ia pun menundukkan kepalanya. Jelas saja Siska merasa heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah. "Mas!" panggil Siska dengan suara lembutnya, tetapi tidak ada jawaban dari Ilham. Sehingga membuat Siska sedikit merasa khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya itu. "Mas! Ada apa?" tanya Siska seraya menguncang lirih pundak Ilham. Kini barulah Ilham kembali mengangkat kepalanya dan memandang Siska dengan tatapan bersalah. Membuat Siska sedikit mengernyitkan dahinya dan menatap Ilham dengan terheran-heran. "Mas, ngomong dong! Jangan bikin orang bingung!" Ilham mencoba menenangkan hatinya sejenak, mengirup napas dalam-dalam sembari memejamkan kedua matanya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kedua tangan Ilham kini telah memegang kedua tangan Siska dengan lembut, lalu mengecupnya perlahan. "Sebelumnya Mas mau minta maaf ya sama kamu," ucap Ilham dengan nada yang sangat lirih. Siska merasa tenggorokannya seperti ada yang mencekik dengan sangat kuat, hingga ia kesulitan untuk menelan tali safinya. Ia tau pasti ada hal buruk yang kini telah terjadi, tiba-tiba air matanya menetes tanpa ia tahu apa penyebabnya. "Sebenarnya ada apa, Mas? Tolong katakan!" "Ehm, anu Sayang, aku ingin bicara," kata Ilham sambil menuntun tangan Siska menuju kursi ruang tamu. Siska yang dituntun seperti itu mengikuti namun dalam hatinya mulai berdesir tak nyaman. "Mas mau bicara sama Siska, tapi Mas mohon agar Siska tidak terburu-buru marah dan emosi dulu ya!" "Apa sih, Mas? Bilang aja! Jangan bikin mati penasaran deh, mau bicara kabar baik atau kabar buruk sih?" "A-anu." Ilham tampak sangat ragu-ragu. "Mas..." Siska menunggu kalimat Ilham yang terjeda tadi. "Kamu percaya sama Mas engga, kalau semua yang Mas lakuin itu demi kebaikan keluarga kita? Mas yakin kamu istri terbaik yang Allah kasih dan Mas akan selalu mencintaimu, Sayang." "Apa sih, jangan bertele-tele!" ucap Siska dengan perasaan yang tidak karuan, tanpa bisa ia bendung lagi air matanya kembali mengalir membasahi pipi. Terdengar suara langkah kaki yang sedang mengenakan high heels. "Siapa itu, Mas?" Orang yang ditanya Siska hanya menunduk dalam. Ia menguncang-guncang lengan Ilham agar segera menjawab pertanyaannya. Ia paham sesuatu tidak baik telah terjadi, sebuah bencana atau entahlah. Siska terus bertanya-tanya dan air matanya kian menderas hingga bayangan wanita itu hadir sempurna di depan pintu utama. Mengenakan gamis berwarna armi dengan jilbab menjulur ke depan. Wanita itu menunduk tak sedikit pun menatap ke arah Siska. "Kamu siapa?" tanya Siska dengan suara yang hampir tercekat. Wanita itu tidak menjawab dan tetap menunduk sambil meremas gamisnya. "Dia siapa, Mas?" Intonasi Siska seketika meninggi. "Nabila, istriku." Seketika pendengaran di telinga Siska menghilang, semunya bening. Ia bak tersambar pentir di siang bolong, semuanya hening, hanya hembusan angin yang dapat Siska tangkap sejenak. Ia menatap wajah wanita cantik itu, ya, Siska memastikan dirinya tidak bermimpi. Kini dadanya terasa sangat sesak hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. Ia memadang wajah suaminya yang kini sedang menatap dirinya dengan mata nanar. "Mas, yang benar saja? Ini hanya mimpi, kan?" tanya Siska lirih, energinya terkuras habis hingga membuatnya sangat lemas dan tersungkur ke lantai. "Ini kenyataan Siska, bukan mimpi," ujar Ilham dengan tegas. Membuat hati Siska seperti tercabik-cabik dan ia menjadi sangat lemah, lalu terisak dalam tangisnya yang sudah tak sanggup untuk ia tahan. "Sebenernya aku sudah sampai ke rumah sehari yang lalu, tapi di jalan ada suatu musibah. Aku tak sengaja menabrak seorang kyai di pondok besar yang sedang berdiri di pinggir jalan di dekat dengan pondoknya," ucap Ilham terhenti sejenak lalu menarik napasnya, ia mencoba untuk merilekskan pikirannya dulu sebelum menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kemarin pagi. "Lalu Kyai itu tidak terima dan memintamu untuk menikahi wanita itu? Wanita itu anak seorang Kyai?" tanya Siska dengan nada tinggi sembari masih terisak-isak. "Kyai itu adalah guru besar di pondok yang telah lama ia besarkan, ia hanya ingin melihat putrinya segera menikah sebelum Allah mengambil nyawanya. Keadaanya kemarin sangat kritis, aku merasa sangat bersalah, karena aku lah yang menyebabkannya menjadi seperti itu, Siska" jelas Ilham dan menatap Siska dengan penuh rasa bersalah.
Ini sangat menyesakkan dada Siska, apa tidak ada laki-laki lain sehingga beliau memilih suami Siska untuk menikahi putrinya? Segala pertanyaan berkecambuk dalam benak Siska. "Tapi, kenapa harus kamu yang menikahi anaknya, Mas?" "Mas bingung, Siska. Kyai itu yang meminta Mas untuk menikahi anaknya waktu itu juga karena ia tahu keadaanya sedang sangat kritis," jawab Ilham. "Memangnya Kyai itu kenal sama Mas Ilham, sehingga beliau percaya untuk menikahkan anaknya sama Mas?" "Mas sempat beberapa kali berkunjung ke pondok itu bersama dengan teman-teman lama Mas, untuk sekedar menghadiri kajian atau terkadang mengisi sebuah kelas. Dan pernah sekali Mas berkunjung ke rumah beliau," jelas Ilham dengan sangat lembut, ia takut istrinya semakin merasa sakit hati dengan apa yang telah ia katakan. Memang ini bukan lah kemauan atas dirinya sendiri, ia sama sekali tak berniat memberi adik madu untuk istrinya yang telah menemaninya dari nol sampai suskes seperti sekarang ini. Semua ini terjadi karena keterpaksaan dan karena ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab, ia rela untuk menikahi anak perempuan dari Kyai yang telah ia tabrak demi untuk menebus rasa bersalahnya. Walaupun, hal itu akan menyakiti hati istri tercintanya dan menjadi boomerang untuk keluarga kecil yang telah ia dan Siska bina selama empat tahun lebih. "Kenapa Mas tidak bertanya dulu padaku? Bukan kah Mas juga tahu, kalau Mas Ilham hendak menikah lagi itu harus ada persetujuan dari istri pertama?" tanya Siska dengan nada yang semakin lirih dan bibirnya bergetar. "Sayang, Mas benar-benar minta maaf sama kamu. Mas tetap mencintai dan menyayangimu," ucap Ilham berusaha menenangkan Siska yang sedang larut dalam kesedihannya. "Ngga! Mas Bohong!" Siska memalingkan wajahnya. Bagaimana bisa wajah seteduh dan setenang itu bisa menciptakan rasa sakit yang begitu hebat? Ia masih tak mempercayai akan hal yang telah terjadi padanya. "Aku tidak Ihklas, Mas! Benar-benar tidak ihklas, jika harus berbagi suami yang sangat aku cintai dengan wanita lain." "Mas tidak akan menyentuhnya jika kamu tidak meridhoi-nya, Sayang." "Jangan seperti itu, Mas! Mas tidak boleh berperilaku tidak adil kepada istri-istrimu, atau nanti di hari akhir Mas akan berjalan dengan badan yang miring sebelah," ujar Siska dengan berat hati, walaupun ia tidak ihklas tapi ia tidak membiarkan suaminya untuk salah jalan. Nabila berjalan ke arah Siska dan berniat menolongnya. "Jangan..... jangan sentuh aku! Kalian licik dan sangat jahat kepadaku." Nabila mundur beberapa langkah dari hadapan Siska. "Kamu, wanita yang terlahir dari keluarga terhormat dan agamis, kenapa tega-teganya merusak kebahagiaan wanita lain? Kenapa? Katakan!" Siska kalap dalam tangisnya. "Maaf, Mba." "Maaf katamu?" ujar Siska dan bangkit dengan membelalakan kedua matanya, ia bersiap-siap untuk mencakar Nabila, tapi dengan sigap Ilham langsung memeluk Siska dengan kuat. "Lepas, Mas! Lepasin aku!" Siska berusaha memberontak namun usahanya gagal karena tubuh kekar Ilham telah mengukung dirinya. "Tenang, Siska! Istighfar!" ucap Ilham seraya menepuk-nepuk pundak Siska. "Mas jahat... jahat." Siska terus memukul dada Ilham dengan sekuat tenaga. "Aku mau cerai! Sekarang juga!" Aqila yang mendengar keributan dari luar kamarnya pun terbangun, lalu menangis dan memanggil-manggil bundanya. "Bunda... Bunda." tangis Aqila. Lama-lama penglihatan Siska buram, tubuhnya lemas lalu semuanya menggelap. Siska jatuh pingsan di pelukan Ilham, sontak Ilham tersentak memandang wajah pucat Siska. Ia sangat khawatir kepada Siska, tapi ini semua sudah terjadi. Mau tidak mau, Siska harus belajar ikhlas untuk menerima kenyataan bahwa Ilham telah menikah lagi. "Siska, Sis." Ilham mencoba membangunkan Siska sembari menepuk ringan pipi wanita yang sangat ia cintai itu. "Kamu masuk saja dulu ke kamar, itu kamar kamu," ucap Ilham kepada Nabila seraya mengangkat dagunya ke arah kamar tamu yang berada di dekat pintu ruang tamu. "Iya, Mas." Nabila mengganggukan kepalanya, lalu segera melangkah pergi. "Sayang, maafin Mas Ilham, ya," ucap Ilham lirih lalu mengangkat tubuh Siska dan merebahkannya ke atas kasur. Ia melihat putri kecilnya yang menangis memanggil-manggil Bundanya. "Ayah." Aqila memanggil Ayahnya dengan sangat lembut, sudah empat hari ini mereka tidak bertemu. Putrinya itu sangat merindukan Ayahnya, begitu juga sebaliknya. "Hai, Sayang!" Ilham merentangkan kedua tangannya, memeluk tubuh mungil putri kecilnya dan menghujaninya dengan ciuman. "Ayah kemana aja si, kok ngga pulang-pulang? Kan Qila kangen sama Ayah," ucap Aqila dengan sangat manja dan lugu. Segala kepenatan yang telah menimpa Ilham sekita lenyap setelah bertemu dengan putrinya, ia dapat melupakan sejenak segala beban berat yang sedang dipikulnya. "Maafin Ayah ya Qila, Ayah ada urusan jadi baru bisa pulang sekarang," ucap Ilham dengan lembut sambil mengusap kepala Aqila. "Yang penting sekarang Ayah udah ada di sini, kan?" Ilham tersenyum dengan sangat lebar dan Aqila pun ikut tersenyum, lalu memeluk Ayahnya dengan sangat erat. "Maaf Ayah telah membuat Bunda terluka, Sayang," batin Ilham dan tak sadar buliran air menetes dari mata kanannya. Dan dengan segera ia pun mengusapnya sebelum Aqila melihatnya. Pelan-pelan mata Siska terbuka, ia mendengar putrinya, Aqila memanggil sembari menepuk kecil pipinya. Siska menyadari bahwa kini ia sedang terbaring lemah tak berdaya di kasurnya. Ketika ia ingin bangkit, kepalanya berdenyut semakin kuat dan terasa sangat sakit. Ia mencoba mengingat peristiwa yang telah terjadi hingga ia bisa terbaring lemah seperti ini. Ah iya, suaminya telah menikah lagi dengan anak seorang kyai yang tak sengaja tertabrak oleh mobil Avanza milik suaminya itu. Membuat tubuh Siska nyaris tak bertulang, air matanya kembali menetes, ia kecewa, perasaannya terluka dan rasa cintanya terkoyakkan. "Bagaimana bisa Mas Ilham melakukan ini padaku? Apa salahku? Dosa apa yang telah aku lakukan hingga ia begitu tega menyakiti hatiku? Padahal selama ini aku selalu menjaga kehormatanku sebagai istrinya, merawat dan menjaga anak, setia menunggunya di rumah selama ia bekerja, patuh pada perintah dan larangannya. Tapi, apa balasan yang telah ia berikan padaku?" batin Siska, ia sangat kecewa berat kepada Ilham. "Ya Allah, berikahlah hamba kesabaran dan lapangkan hati hamba untuk menerima segala ketetapanmu," bisik Siska sendiri sambil memeluk tubuh mungil Aqila. Ilham mengetuk pintu kamar, lalu membukanya dengan perlahan. Ia melihat anak dan istrinya sedang berpelukan, diiringi dengan tangisan dari Siska. "Minum dulu, Siska!" ucap Ilham yang kini telah duduk di sebelah Siska sembari membawakan segelas air. Sekarang Siska sudah tak sanggup lagi menatap wajah orang yang selama ini menjadi sumber kebahagiaannya, namun dalam sekejap berubah menjadi luka yang sangat menyakitkan. Seorang yang dulu selalu ia rindukan, tatapannya, pelukan hangatnya, senyuman di bibirnya dan tatap matanya yang menjadi penentram jiwanya. Kini musnah semuanya, rasa cinta dan segalanya. "Buat apa Mas ke sini? Urus saja istri barumu!" ucap Siska dengan nada ketus sambil mengusap pipinya.
Ilham menghela napas dan menatap Siska dengan lembut, ia sangat paham dengan kekecewaan yang kini sedang Siska alami. Ia hanya berusaha bersikap baik kepada istrinya itu agar perlahan Siska mau menerima kenyataan ini. "Siska! Ini kan sudah malam, minum dulu airnya terus tidur, ya! Kasian Qila," ujar Ilham menatap istri dan anaknya dengan penuh kasih sayang dan sangat berhati-hati. Kalimatnya dulu seolah penyejuk jiwa Siska, kini hanya duri-duri yang tersisa menusuk tiap kali Siska mengengar suara lembut yang keluar dari mulut Ilham. Siska tak menjawab sedikit pun atau menerima segelas air yang telah Ilham bawakan, bahkan Siska enggan menatap wajah suaminya itu. "Ini airnya," ucap Ilham seraya meletakan segelas air itu di atas meja. Kemudian, ia mengambil tempat duduk di sisi kasur Siska. Istri pertama Ilham itu hanya terdiam dan tatap matanya kosong sembari meneteskan air mata, Ilham merasa sangat iba melihat kondisi istrinya, tapi semua sudah terjadi, mau bagaimana pun Nabila sudah menjadi istri keduanya. "Mas, aku tidak bisa seperti ini!" kata Siska sembari menatap Ilham dengan nanar. "Aku tidak mau dimadu, Mas! Tega sekali kamu melakukan hal semenyakitkan ini padaku, tega sekali kamu, Mas!" keluh Siska dengan napas tersengal-sengal dan terisak dalam tangisnya. "Lebih baik ceraikan saja aku, Mas! Rasanya aku tak sanggup jika harus melihat suamiku bersama dengan wanita lain di dalam rumahku sendiri." "Tapi, ini juga rumahku, Siska," balas Ilham, ia menatap Siska dengan lekat. "Lalu apa? Aku harus menahan sakit setiap saat aku melihat kebersaman Mas Ilham dengan wanita itu," kata Siska terbata-bata dan sesenggukan. "Maaf, Siska! Mas akan berusaha bersikap adil kepada kalian berdua," balas Ilham lirih sembari mengusap pipi Siska. "Adil katamu, Mas? Sekiranya memang kamu adil tidak akan terjadi hal seperti ini, kamu menikahi wanita itu tanpa sepengetahuanku, lancang sekali kamu, Mas! Kamu anggap aku ini apa? Haa?! Apa Mas?" cerca Siska dengan nada tinggi dan penuh dengan amarah. "Aku sudah menjelaskannya padamu, Siska. Aku melakukannya karena aku terpaksa, ini semua aku lakukan demi menebus rasa bersalahku pada kyai itu," ujar Ilham. "Tapi, apakah kyai itu tahu bahwa kamu sudah beristri dan mempunyai seorang anak?" Suami Siska mengangguk pelan dan hanya ditanggapi dengan senyuman getir oleh Siska, ia tak menyangka ada seorang kyai yang dengan teganya merusak kebahagian wanita lain hanya demi urusan pribadinya. "Cih, kyai macam apa dia itu?" ucap Siska dan membuang wajahnya ke arah lain. Ia merasa sangat pilu memandang wajah suaminya, hatinya begitu hancur dan tersayat-sayat. "Jangan bicara seperti itu, Siska! Aku lah yang memaksa agar menikah dengan putrinya." Siska mengeryitkan dahinya, ucapan suaminya itu membuat tenggorokannya terasa tercekik dan membuatnya susah bernapas. Amarahnya memuncak, ia menatap Ilham dengan kedua mata membeliak. "Berarti memang dasarnya kamu yang centil dan kegatelan, Mas! Cih, menjijikan sekali." "Kondisi ayahnya sangat kritis Siska, ia hanya ingin melihat anaknya bahagia dengan segera menikah sebelum ia tiada. Ia hanya ingin memastikan putrinya ada yang menjaga, merawat dan menyayanginya dengan tulus dan sepenuh hati," ujar Ilham dan masi terus menatap Siska dengan lekat. Ia menerangkan hal itu dengan lugas dan tanpa ragu-ragu. Betapa ia tak menyadari bahwa ucapannya itu telah menyakiti hati istrinya begitu dalam, dada Siska bergerak naik turun dengan cepat, napasnya memburu, dan air matanya terus menetes tanpa ia sanggup menahannya. "Tega sekali kamu melakukan hal itu tanpa memikirkan perasaanku sedikit pun, Mas." Siska menangis tersedu-sedu sembari menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Ilham merangkul Siska, berusaha agar istrinya itu tenang dan tidak tenggelam dalam amarahnya. "Istighfar, Siska! Istigfar! Semua akan baik-baik saja." Ilham mengusap punggung Siska dengan lembut, namun dengan segera Siska langsung menepis tangan Ilham dan sedikit mundur. "Apa katamu? Baik-baik saja? Itu tidak mungkin terjadi, Mas. Tidak semudah itu, andai Mas mengatakannya terlebih dahulu sebelum menikahi wanita itu, mungkin aku akan bisa menyiapkan mentalku dan lebih ihklas menerimanya. Tapi, ah. Semua sudah terjadi, dan aku sungguh tidak akan pernah ihklas jika harus berbagi pria yang paling aku cinta dengan wanita itu." Mata Siska menatap Ilham dengan penuh amarah. Ilham tertegun mendengar ucapan Siska, ia sampai tidak tahu akan mengatakan apalagi agar Siska mau menerima keadaan ini, lalui ia pun mengacak rambutnya frustasi. "Bunda." Aqila hanya bisa menangis melihat kedua orang tuanya yang sedang berdebat, apalagi sekarang Siska sedang murka dengan mata merahnya yang terbuka lebar menatap Ilham dengan sangat tajam. "Mas, aku benar-benar tak sanggup dengan semua ini. Aku ngga sanggup satu ru-rumah dengan wanita itu, ng-ngga sanggup, Mas!" ucap Siska terbata-bata karena terisak dalam tangisnya. Ia menekan dadanya kuat, meresapi sakitnya dimadu tanpa alasan. Kepalanya terasa berdenyut dengan kencang, ia memijat keningnya perlahan sembari menatap putrinya yang sedang menangis. Tiba-tiba segala macam pikiran buruk melintas dipikiranya, bagaimana jika Nabila sampai hamil dan melahirkan anak laki-laki? Pastinya Ilham akan sangat senang dan begitu bangganya hingga ia menghujani anak Nabila dengan sejuta ciuman. Sedangkan Aqila, dia hanya bisa terdiam menyaksikan hal itu. Tidak diperhatikan dan tidak mendapat kasih sayang lagi dari ayahnya. Hati Siska semakin pilu memikirkan kejadian-kejadian yang akan terjadi di esok hari itu. Sunggup rasanya ia tak sanggup dan ingin mati detik ini juga. "Siska! Lebih baik kamu istirahat dulu ya! Tenangkan dirimu!" "Tenang katamu, Mas? Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang ketika aku mengetahui kini suamiku telah direbut oleh wanita lain? Sungguh sakit hatiku ini Mas, sakit." Siska memukul dadanya di hadapan Ilham dengan tatapan nanar. "Aku masih suamimu Siska, aku masih milikmu, dan aku masih sangat mencintaimu," ujar Ilham sambil memegang pundak Siska yang sedang bergetar. "Aku ngga sanggup di madu, Mas. Ngga sanggup, ini sangat menyakitkan bagiku," ucap Siska kemudian menjatuhkan diri dilutut Ilham. "Aku mohon ceraikan saja aku,Mas! Aku tak sanggup di madu, aku benar-benar ngga sanggup Mas. Aku ngga mau di sini." Siska meratap pilu menangis, ia hanya ingin segera dijauhkan dari wanita yang sudah lancang mengancurkan kebahagian keluarga kecilnya ini. "Aku mohon Sayang, jangan seperti ini! Beri aku kesempatan, aku akan berusaha jadi suami dan ayah yang lebih baik lagi." "Tapi aku ngga sanggup melihat kedekatanmu dengan wanita itu, Mas. Ng-ngga sa-sanggup," ucap Siska sembari tersedu-sedu dan tenggorokannya terasa sangat kering. Semenjak kedatangan wanita itu Siska tak minum setengguk air pun untuk ia cerna. "Astagfirullah, Ya Allah. Rasanya aku tak sanggup dengan cobaan ini." "Maaf sayang, aku tak akan mendekati Nabila jika kamu tidak meridhoinya," kata Ilham sambil menyentuh pucuk rambut Siska. "Tidak ridhonya diriku atas kebahagian Mas Ilham adalah dosa besar." Air mata Siska kian deras hingga ia merasa matanya pedih karena sudah terlalu banyak mengucurkan kepedihan. "Tapi bagiku kamu tetap yang paling utama, Siska," jawab Ilham dan mengangkat tubuh Siska agar kembali duduk di atas kasur.