Alexandra Mata-mata sang CEO
Bab 1 Perjanjian

"Pria itu?" Alexa menundukkan kepalanya, setelah tak sengaja bertemu pandangan dengan netra berwarna abu muda, milik lelaki yang baru saja turun dari mobil. "Kau benar-benar datang menepati janjimu, bocah kecil," ucap lelaki itu. Ya. Alexandra menepati janjinya, setelah 2 tahun lalu, lelaki yang berada di hadapannya saat ini pernah menolongnya. Memberikan bantuan, untuk membantu perusahaan daddy-nya kembali bangkit. Alexa sempat berpikir untuk menjual diri, demi mendapatkan uang dengan jumlah yang sangat besar, dalam waktu singkat. Untuk menolong perusahaan sang daddy, yang hampir saja disita oleh bank. Namun, dia sadar jika perbuatannya diketahui oleh media, bukan tidak mungkin perusahaan dan keluarganya akan tercoreng. "Ya, aku datang. Terima kasih, sudah menolongku saat itu. Aku benar-benar tidak tahu jika saat itu tidak bertemu denganmu, Tuan Ef," kata Alexa. Lelaki yang dipanggil Tuan Ef itu, menarik satu sudut bibirnya dan menatap Alexandra penuh maksud. "Aku sudah yakin, kau adalah gadis yang bisa dipercaya," imbuh Ef. Dua tahun yang lalu. Alexandra sangat frustasi, dia tidak ingin perusahaan keluarganya yang sudah dibangun jauh sebelum dirinya lahir, kolaps begitu saja akibat ditipu rekan bisnis daddy-nya. Saat itu juga, dia bertemu dengan lelaki yang usianya 15 tahun di atasnya, Ef. Tanpa banyak pertanyaan, Ef langsung menawarkan bantuan apa pun yang sedang Alexa butuhkan. "Apa dia benar-benar ingin membantuku?" batin Alexa. Di dunia ini tidak boleh ada yang Alexa percaya. Begitulah pesan sang mommy, tetapi saat ini, Alexa sangat membutuhkan bantuan itu, Alexa pun memberitahu jumlah uang yang dia butuhkan. "Itu sangat kecil untukku, aku akan memberikan cek untukmu," ujar Ef tanpa ragu. "Sebelum itu, tanda tangan dulu di sini," kata Ef, memberikan selembar kertas kosong pada Alexa. Alexa menerimanya, membolak-balikkan kertas kosong tersebut. Setelahnya dia menatap Ef, dengan keheranan. "I-ini tidak salah, Tuan? Untuk apa aku tanda tangan di kertas yang kosong?" tanya Alexa. "Tanda tangan saja atau aku tidak akan membantumu," kata Ef, membuat Alexa takut untuk menolaknya. "Kau tidak perlu takut, saat ini aku belum memikirkan imbalan apa yang aku inginkan darimu," kata Ef. "Imbalan?" Ef tersenyum smirk, membuat Alexa sedikit tak nyaman. "Kau pikir, semua itu gratis? Jangan naif, di dunia ini tidak ada yang gratis, Alexa." Alexa tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar ucapan Ef. Dia tidak bisa menolak, dia membutuhkan cek tersebut, untuk membantu perusahaan sang daddy agar tidak gulung tikar. "Baiklah, aku akan tanda tangan," ucap Alexa, kemudian membubuhkan tanda tangannya di sana. "Good girl. Sampai bertemu dua tahun lagi, di tempat ini, jam yang sama, bulan dan tanggal yang sama. Kau mengerti Alexa?" tanya Ef, yang dengan cepat Alexa angguki. **** Saat ini, Alexa sudah berada di apartemen Ef, sesuai permintaan Ef. "Kau benar-benar sangat penurut, Alexa. Duduklah!" pinta Ef, yang sejak kedatangan Alexa, Ef sudah duduk di sofa ruang tamu, dengan kedua kakinya yang berada di atas meja. Alexa pun duduk di sebrang Ef, jantungnya berdegup kencang karena rasa takutnya. Dia belum pernah melakukan kerjasama apa pun dengan lelaki, apalagi usianya 15 tahun di atas Alexa. "Sebenarnya ada apa, Tuan memintaku untuk datang ke sini?" tanya Alexa. Ef menyerahkan satu lembar kertas yang sudah terisi dengan huruf. Memang tak banyak yang tertulis di dalam kertas tersebut, tetapi tetap membuat Alexa terkejut. "Baca ini, ini adalah perjanjian kerjasama kita, yang pernah kamu tandatangani dua tahun yang lalu," ucap Ef. Alexa mulai membaca lembar kertas tersebut. "Pihak Pertama adalah Ef dan pihak kedua adalah Alexandra Johnson. Pihak kedua bersedia bekerjasama dengan pihak pertama, dan menuruti apa saja yang diperintahkan pihak pertama. Termasuk menjadi mata-mata dari Ef." Membaca perjanjian tersebut, sukses membuat kedua bola matanya membulat sempurna. "Kapan aku menandatangani perjanjian ini?" Alexa tak merasa pernah menandatangani itu. "Dua tahun yang lalu saat kau menandatangani kertas kosong ... dan inilah kontrak kerjasama kita," ucap Ef. "Aku akan memberi tahu tugas awalmu. Kau sudah menyiapkan berkas-berkas yang aku minta?" tanya Ef. Alexa mengangguk, kemudian menyerahkan berkas yang Ef minta. "Ini, Tuan." Ef mengambil dan memeriksa berkas tersebut. Lelaki itu mengangguk senang. "Mulai besok, bawa berkas ini dan melamarlah di perusahaan Williams Group. Sebagai asisten pribadi Arley Williams," ucap Ef. "W-Williams Group, apa aku tidak salah mendengar? Itu perusahaannya yang—" "Yang menipu perusahaan daddy-mu," sela Ef. Alexa membekap mulutnya sendiri, Ef banyak mengetahui tentang dia dan keluarganya. Alexa menggeleng, dia tidak mungkin melamar pekerjaan di sana, orang tuanya pasti akan marah jika mengetahuinya. "Untuk apa aku bekerja di sana? Aku sedang tidak ingin bekerja," kata Alexa. "Ini adalah pekerjaan untukmu Alexa. Pekerjaanmu saat ini adalah menjadi mata-mataku, untuk memata-matai Arley Williams dan perusahaannya," kata Ef. "Ingat, kamu sudah menandatangani kertas tersebut." Lagi-lagi dia tidak bisa berkutik saat Ef mengingatkannya mengenai kontrak perjanjian mereka. "Saat ini, CEO dari Williams Group. Sedang mencari seorang asisten pribadi dan ini kesempatan untukmu, agar bisa masuk ke dalam perusahaan itu, Alexa," kata Ef. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa, dia seceroboh itu menandatangani kertas yang bahkan dia sendiri tidak tahu, apa yang akan menjadi kerjasama antara mereka. "Jika aku menolak, apa yang akan terjadi?" tanya Alexa. Ef terkekeh. "Ada banyak kerugian yang akan kamu terima." Ef membalikan kertas tersebut dan di sana sudah jelas tertulis, mengenai kerugian yang Alexa dapatkan jika mencoba memutuskan kerjasamanya. "Namun, untuk saat ini kamu tidak perlu tahu apa kerugian itu," ucap Ef. Alexa hanya menghela napasnya, mendengar ucapan Ef. Dia benar-benar terjebak, memang benar apa yang diucapkan mommy-nya. Tidak ada satu pun orang di dunia ini, yang bisa dipercaya. Termasuk Ef, bantuan yang Ef tawarkan, membuat Alexa terjebak di dalamnya. "Sampai berapa lama, aku bekerja denganmu, Tuan?" "Belum bisa kupastikan," jawab Ef, "ah iya, panggil saja aku Ef," kata Ef. "Sebenarnya terdengar tidak sopan, tetapi aku akan pikirkan lagi. Kalau begitu aku permisi," ucap Alexa. *** Pagi ini, Alexandra sudah berada di Williams Group, dia diantar oleh Ef untuk sampai di sana. "Jangan tegang seperti itu," ucap Ef. Mudah sekali Ef mengatakan itu, sementara kening Alexa sudah berkeringat, menahan segala ketakutannya. "Apa yang kau pikirkan? Ayo cepat keluar dan datang ke front office. Katakan, kau akan melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi CEO!" perintah Ef. "Aku belum siap, kita undur besok saja ya, Tuan," kata Alexa. "Keluar." Suara itu terdengar sangat datar dengan tatapan yang tertuju pada Alexa. ____ Alexa baru saja sampai di front office, sesampainya di sana dia melakukan apa yang diperintahkan Ef tadi. "Anda bisa tunggu sebentar, aku akan menghubungi ruangan Tuan Arley," kata staf di sana. Sementara staf itu menghubungi ruangan Arley, tatapan Alexa terfokus pada seorang wanita yang menangis, berjalan ke arahnya. "Nona, Anda kenapa?" tanya Alexa. "Aku ditolak, CEO di sini sangat kejam." Alexa menelan kasar air liurnya. Bagaimana jika dia juga ditolak, dia sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun. Alexa segera membawa langkahnya menjauh dari sana. Dia tidak peduli jika Ef akan memarahinya. "Nona Alexa! Anda sudah diminta datang ke ruangan CEO!" teriak staf tadi.

Bab 2 Melamar untuk memata-matai

Dengan langkah berat, Alexa masuk ke dalam ruangan CEO, yang sudah dia ketahui lebih dulu namanya, Arley Williams. "Permisi," ucap Alexa. "Berjalanlah lebih cepat, dan duduk. Jangan membuang waktuku." Arley berucap sembari memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Napas Alexa mendadak berat, setelah melihat sendiri betapa dinginnya seorang Arley Williams. "Sekarang aku lebih berharap, aku tidak diterima bekerja di sini," batin Alexa. Wanita berusia 22 tahun itu pun, berjalan mendekat pada meja kerja Arley, di mana lelaki itu sedang duduk angkuh di kursi kebesarannya. "Duduk." Sekali lagi lelaki itu memerintahkan Alexa agar duduk. Agaknya Arley tak senang jika melihat orang terlalu lambat. "Iya, Tuan." Alexa duduk di kursi yang berada di seberang meja Arley. "Siapa namamu?" "N-namaku?" tanya Alexa sembari menatap Arley kebingungan. "Vas bunga!" Suara Arley terdengar sedikit meninggi. Membuat Alexa semakin gugup. Namun, dia tidak ingin dibuat menangis oleh calon bos-nya seperti wanita sebelumnya. "Tuan, jika Tuan ingin tahu namaku, baca saja berkas ini," ucap Alexa menyerahkan berkas lamarannya. "Berapa usiamu?" "Sudah ganti lagi pertanyaan, padahal namaku saja, Tuan belum tahu," ucap Alexa. Sungguh, Alexa benar-benar ingin lelaki di hadapannya itu, langsung menolak dia dan memintanya segera keluar dari kantor tersebut, setidaknya dia memiliki alasan untuk diberikan pada Ef jika dirinya bukanlah orang yang dibutuhkan oleh Arley Williams. Arley sangat geram dengan jawaban Alexa. "Apa saja pengalamanmu dan kenapa kau bisa berpikir untuk melamar menjadi asistenku?" tanya Arley. Lelaki itu menatap netra berwarna biru muda milik Alexa, seolah ingin masuk ke dalamnya. Di bawah meja, tangan Alexa bertautan menahan kegugupannya. "Jawab semuanya!" "Baiklah. Tolong tenang sedikit," kata Alexa, kemudian menghela napas dan membuangnya pelan. "Namaku Alexa, usiaku 22 tahun. Aku tidak memiliki pengalaman apa pun, maka dari itu aku ingin bekerja di sini. Mencari pengalaman," jawab Alexa sekenanya. Dia tidak perlu seserius orang yang sedang interview, karena dia berharap tidak diterima di sana. Dari tatapan yang awalnya tertuju pada Alexa, kini Arley malah fokus menatap laptop miliknya dan mengabaikan Alexa begitu saja, setelah mendengar jawaban Alexa. "Dia tidak bicara apapun, benar-benar aneh," gumam Alexa yang tentu saja masih terdengar oleh telinga Arley. "Kau diterima." Dua kata yang terdengar dari mulut Arley, mampu membuat kedua bola mata Alexa melebar. Apa dia tidak salah mendengar? Bagaimana bisa, perusahaan sebesar Williams Group. Menerima pegawai yang tidak memiliki pengalaman apapun. "Tuan, kau pasti bercanda. Aku tidak memiliki pengalaman sebagai asisten pribadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan," kata Alexa, berharap Arley bisa merubah keputusannya. "Aku memang sedang mencari yang belum berpengalaman!" Arley mematahkan harapan Alexa, tanpa melihat sedikit pun ke arah Alexa. "Aku akan menyiapkan surat kontrak yang akan kau tanda tangani." Sementara Alexa, dia duduk mematung menatap Arley. Dia tidak tahu harus senang atau sedih. "Keluarlah dari ruanganku! Ruanganmu ada di sebelah kiri ruangan ini," kata Arley sangat dingin. Alexa segera keluar dari ruangan Arley, dia juga malas berlama-lama dengan lelaki dingin dan penipu. Dia berjalan menuju ke dalam ruangan yang katanya adalah ruangan dirinya. "Besar," ucap Alexa. "Apa yang harus aku kerjakan di ruangan ini?" gumam Alexa dengan wajah yang bingung. **** Saat pintu kamar terbuka, Alexa segera menoleh ke arah tersebut. Di mana sang mommy sudah berdiri menatapnya. "Hai Mom," sapa Alexa sembari tersenyum. "Dari mana saja kamu seharian ini? Pergi sejak pagi dan baru pulang sekarang, apa kamu tidak lihat hari sudah hampir malam!" Wanita bernama Daisy dengan rambut sebahu itu berjalan ke arah Alexa. "Mom, pagi tadi aku melamar pekerjaan di perusahaan besar, dan aku sudah diterima di sana. Mulai besok aku akan bekerja," ucap Alexa bersemangat. "Mommy tidak akan pusing-pusing lagi melihat aku yang terus menganggur," imbuh Alexa. Daisy memang selalu meminta Alexa untuk segera bekerja, setelah lulus kuliah entah kenapa anaknya terus mengulur waktu untuk mengejar cita-citanya yang sejak dulu sangat diinginkan oleh putrinya itu. "Bekerja? Apakah itu di perusahaan fashion dan kamu menjadi perancang busananya?" tanya Daisy antusias. Alexa menggeleng menanggapi pertanyaan Daisy. "Bukan." Alexa menggaruk kepalanya. "Lalu?" "Aku bekerja di perusahaan ... jasa desain interior," jawab Alexa. Dia sangat khawatir dengan respon dari sang mommy. Bekerja di perusahaan desain interior jelas bukanlah keinginan, dia bercita-cita menjadi perancang busana, bukan perancang ruangan agar estetik. "Ya Tuhan, apa Mommy tidak salah mendengar?" Tubuh Daisy mendadak lemas, mendengar anaknya justru bekerja di perusahaan yang bukanlah keahliannya. "Jika seperti ini akhirnya, lebih baik kamu bekerja di perusahaan keluarga kita saja," ucap Daisy. "Aku tidak mau Mom!" tolak Alexa. Alexa bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. "Salah satu aku menolak untuk bekerja di perusahaan keluarga kita. Ya, hanya satu, aku ingin mandiri dan-" "Mandiri katamu? Lihatlah sekarang saja, dari mana uang jajanmu jika bukan dari kami? Gayamu terlalu tinggi ingin mandiri!" Daisy sudah terbawa kesal dengan ulah Alexa. Daisy duduk di samping Alexa. "Sekarang katakan, apa nama perusahaan tempat kamu bekerja?" Daisy bertanya dengan menatap serius putrinya. "Mommy tidak perlu tahu, yang jelas perusahaannya lebih besar dari perusahaan keluarga kita," jawab Alexa. **** Alexa baru saja keluar dari lift yang membawanya ke lantai di mana ruangannya berada. Dia sudah melihat punggung lebar milik lelaki yang kini menjadi atasannya, yang berjalan di depannya. Melihat Arley membuatnya teringat pada Ef. "Ya Tuhan, aku belum laporan bahwa aku sudah diterimanya bekerja di sani. Bagaimana ini? Apa tugasku hari ini dan apa yang harus aku laporkan pada Tuan Ef?" Alexa membawa langkah kakinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Hingga detik berikutnya, dia merasakan sakit pada keningnya. Karena, baru saja menabrak sesuatu yang keras. Alexa membekap mulutnya sendiri saat melihat apa yang baru saja dia tabrak. "M-maaf, aku tidak sengaja." Alexa segera menyadarkan pikirannya bahwa saat ini dia sedang berada di perusahaan Williams Group. "Ceroboh sekali. Cepat masuk ke ruanganmu, Alvin sudah menunggu!" seru Arley. Alexa menautkan kedua alisnya. "Siapa itu Alvin?" Bukan menjawab pertanyaan Alexa, Arley justru berlalu meninggalkan wanita itu. Menurutnya bertemu dengan Alexa pagi hari seperti itu, membuat mood-nya berantakan. "Eh, kenapa dia main pergi saja?" gerutu Alexa. "Tuan! Tunggu!" teriak Alexa. Saat akan mengejar Arley tiba-tiba saja ponselnya berdering, Alexa terpaksa mengurungkan niatnya dan segera meraih ponselnya dari dalam tas. "Tuan Ef?" Buru-buru dia menjawab panggilan itu. "Halo, Tuan," sapa Alexa. "Temui aku sekarang juga di depan kantormu, aku tahu kamu sudah mulai bekerja! Aku akan memberitahu tugasmu di kantor itu." "T-tapi Tuan-" Belum sempat Alexa menolak, Ef sudah mengakhiri panggilan itu lebih dulu. "Ya Tuhan bagaimana ini?"

Bab 3 Tugas untuk Alexa

Alexa terpaksa menolak Ef dan meminta bertemu di jam makan siang. Lagi pula, ini adalah hari pertamanya bekerja, bukankah itu juga keinginan Ef yang memintanya bekerja di sana. Setidaknya Ef harus mengerti sedikit posisi Alexa. Beruntung Ef menerima alasan Alexa dan mereka akan bertemu di jam makan siang. "Akhirnya, Tuan Ef mengerti juga," gumam Alexa. Setelahnya, dia mengikuti langkah Arley, tetapi berakhir di ruangan yang berbeda. Alexa membuka pintu ruangannya di mana sudah ada seorang lelaki yang berada di dalamnya, dan duduk di meja kerjanya. "Permisi, apa kau—" "Namaku Alvin, aku asisten pribadi Tuan Arley Williams," ucap lelaki bernama Alvin itu. Tunggu! Alexa tidak mengerti, apa itu artinya Alexa sudah dipecat sebelum bekerja? "Aku baru saja melamar kemarin dan diterima menjadi asisten pribadi Tuan Arley," ujar Alexa. Wanita itu masih menampilkan wajah kebingungannya. "Ya, aku tahu." Alvin berucap sangat singkat dengan wajah yang datar. "Lalu, kenapa kamu masih bekerja di sini?" "Apa ada yang salah jika, Tuan Arley memiliki dua asisten pribadi?" tanya Alvin. "Jadi, asistennya dua?" Alexa malah balik bertanya. "Ini tab untukmu, semua jadwal Tuan Arley sudah aku catat di sana dan kerjakan apa yang harus kamu kerjakan." Alvin segera meninggalkan Alexandra setelah wanita itu menerima tab yang dia berikan. Alexa mematung dengan tab yang berada di tangannya, bukan bingung dengan benda itu, melainkan untuk apa Arley memiliki dua orang asisten? Apa menjadi seorang CEO begitu sibuk? "Aku akan pelajari dulu, apa saja pekerjaanku menjadi asisten pribadi dari seorang CEO muda itu," ucap Alexa terkekeh. Wanita itu membawa langkahnya duduk di kursi kerjanya dan mulai membaca isi tab itu. "Eh, apa-apaan ini? Kenapa tugasku hanya menyiapkan sarapan dan makan siang," gumam Alexa di tengah keterkejutannya. "Ini juga apaan? Selebihnya akan ada perintah langsung dari Tuan Arley," kata Alexa sembari membaca layar tab. Alexa melihat kembali penampilannya, yang sudah mengenakan rok span dengan atasan kemeja bermotif bunga. "Pakaianku sudah rapi seperti ini, kenapa hanya menyiapkan makanan. Di mana pekerjaan kantornya?" **** Alexa bergegas ke ruangan Arley setelah menerima pesanan makan siang yang dia titipkan pada OB di sana untuk membelinya. Sebenarnya dia sangat menyukai pekerjaannya itu, karena setelah dia mempelajari pekerjaannya, dia bisa tidur sampai waktu jam makan siang Arley tiba. "Permisi," sapa Alexa tersenyum. Arley baru saja melepaskan kacamata yang biasa dia kenakan saat sedang bekerja. Dia melihat ke arah Alexa yang berjalan mendekat pada meja yang berada di dekat sofa. "Taruh yang rapi, aku tidak suka sesuatu yang berantakan!" "Iya, silakan dinikmati makan siangnya, Tuan." Alexa berdiri menghadap ke arah Arley. Arley berjalan ke sofa dan duduk di sana. "Duduk," pinta Arley. Alexa terkesiap saat mendengar ucapan Arley, dia pun memastikannya sekali lagi. "Maksud, Tuan—" "Duduk dan cicipi dulu semua makanan ini," ucap Arley. Alexa masih tidak mengerti, mengapa dia harus mencicipi makanan yang bahkan makanan itu sering Arley makan. "Untuk apa?" "Untuk memastikan bahwa di makanan ini tidak ada racunnya, kau ini kan pegawai baru. Siapa tahu kau memasukkan racun ke dalam makananku," ucap Arley santai. "Enak saja! Tampangku memang sadis, tapi hatiku ini manis. Mana mungkin aku berbuat seperti itu," ujar Alexa. Dengan sedikit kesal, dia menghempaskan bokongnya di samping Arley, dan mulai mencicipi tiga menu makanan di atas meja tersebut. "Enak." Alexa menganggukan kepalanya merasakan lidahnya dimanjakan oleh makanan tersebut. Alexa menoleh ke arah Arley. "Sudah. Ini aman, lihatlah aku baik-baik saja, bukan?" Arley mengangguk tipis. "Minumnya juga," pinta Arley. "Ya Tuhan, dia sangat curigaan," batin Alexa. "Yakin, mau aku mencicipinya juga? Nanti lipstikku menempel di gelas loh, Tuan," kata Alexa. "Cepat." Alexa membuang napasnya pelan, dan segera mencoba minuman milik Arley. "Sudah. Aku tetap baik-baik saja, jangan mencurigaiku lagi. Aku itu tidak mungkin berbuat kejahatan seperti itu," ucap Alexa. "Baiklah, kau boleh keluar," pinta Arley tanpa melihat lagi ke arah Alexa. **** Sesudah menyelesaikan pekerjaannya, Alexa bergegas keluar dari kantor menuju restoran di mana Ef sudah menunggu di sana. "Benar, ini restorannya." Alexa membaca pesan di ponselnya sembari menatap nama restoran itu. Dia segera membawa langkahnya ke dalam restoran tersebut dan langsung diarahkan ke vip room oleh karyawan di sana, setelah dia menyebutkan nama Ef. "Apa sih yang mau dibicarakan, sampai memesan VIP room?" gerutu Alexa. Sesampainya di dalam ruangan, dia langsung disuguhkan pemandangan seorang lelaki yang sedang menatap ke arahnya. Jujur saja Alexa lebih takut melihat Ef jika, dibandingkan dengan Arley. Lelaki di hadapannya ini seakan lebih mendominasi, terkadang dia merasa tidak nyaman berada di dekat Ef. "Permisi. Selamat siang, Tuan," sapa Alexa. "Siang Alexa, duduklah. Aku sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi," ucap Ef. Alexa berjalan ke arah di mana Ef duduk di sana, wanita itu pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Ef terhalang meja bundar yang sudah terisi banyak makanan, lengkap dengan minuman. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Ef. "Lancar, aku mengerjakan dengan sangat baik," jawab Alexa merasa bangga dengan dirinya. "Apa saja yang sudah kau ketahui tentang Arley?" tanya Ef bersandar pada kursinya. Alexa kembali memikirkan pertanyaan Ef. Sungguh, dia tidak mengetahui apa pun tentang CEO di perusahaan Williams Group. "Aku belum tahu apa pun," jawab Alexa. "Apa kau sudah mengetahui design apa saja yang sedang dia kerjakan dan dengan perusahaan mana yang akan bekerjasama dengannya?" tanya Ef. Bukan menjawab, Alexa malah menatap bingung pada Ef. Pasalnya, dari sekian pertanyaan lelaki di hadapannya itu, jawabannya hanyalah tidak tahu. Alexa menggeleng, membuat Ef berdecak kesal. "Apa saja sebenarnya pekerjaanmu di sana, apa kau hanya tidur?" Terdengar nada kecewa dari Ef, karena mendapati gelengan kepala dari Alexa. "Sejak pagi, aku memang hanya tidur. Dan tugasku di sana hanya menyiapkan makan siang Tuan Arley. Aku belum mendapatkan pekerjaan untuk kantor seperti yang Tuan katakan," jawab Alexa. "Tidur?" Ef mengepalkan tangannya di bawah meja. Sementara Alexa, hanya mengangguk. "Aku memintamu untuk memata-matai, Arley Williams. Bukan untuk tidur dan bersantai, Alexa!" Rasanya dada Alexa sangat sesak, dia ingin menangis melihat Ef sangat marah padanya. "Aku juga kan baru di sana, Tuan–" "Ya, karena kamu baru di sana, akan lebih mudah mencari tahu apa saja yang dikerjakan Arley. Kau bisa berpura-pura bertanya, Alexa!" Ef sangat geram dengan wanita muda di hadapannya itu. "Aku tidak mau tahu, kau harus melaporkan sesuatu apa pun tentang Arley," ucap Ef. Alexa menghela napasnya, dia harus bisa menjalankan perintah dari Ef. "Dan, ini yang paling penting." Ef memberikan satu buah flashdisk pada Alexa. "Ini untuk apa?" "Copy file penting di laptop Arley. Jangan sampai ketahuan. Jika, gagal ... kau akan tahu akibatnya."

Lanjut baca