Hadiah Madu Untuk Suamiku
Bab 1 Ujian bermula

“Zein... mengapa kamu meninggalkan aku? apa kamu tahu bahwa aku sangat membutuhkanmu Zein,” ratap Inda pada pria tampan yang telah menghilang selama 2 tahun silam. Hari itu begitu indah, cerah nan sejuk, yang terlihat hanya pemandangan alam dengan kabut putih yang tersorot cahaya matahari. Inda berjalan menyusuri taman bunga yang terhampar sejauh mata memandang. Ia duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon yang daunnya berwarna kemerahan, entah pohon apa namanya,  hanya pohon itu yang berada di taman bunga tersebut. Pria tampan dengan rambut sedikit panjang, bagian depan terbelah dua ala Angga Yunanda, kulitnya putih, tubuhnya tinggi berisi, semakin terlihat perfect dengan outfit kaos dan celana jeans yang saat ini ia kenakan.. Pria itu menghampiri wanita yang tengah duduk menatapi bunga, mengikutinya duduk seraya menggenggam tangan wanita di sampingnya. Sambil menatap pria itu dalam-dalam dan membalas genggamannya. Tak terasa suaranya terdengar terisak pilu Llu merebahkan kepalanya di bahu seorang pria yang baru saja datang menemani kesedihannya. “Inda, aku tidak akan pernah membiarkanmu tersakiti, aku tetap bersamamu disini. Maaf saat itu aku harus pergi, karena cita-citaku belum tercapai. Aku selalu menyayangimu, aku ingin terus bersamamu,” jelasnya sambil memegang tangan Inda dan tatapan yang penuh kasih. “Tapi sekarang aku sudah menikah Zein! Tidak ada gunanya kamu menyatakan cinta lagi,” ujarnya, matanya menatap sendu pada Zein. “Aku akan tetap menyayangimu!” kekeh Zein meyakinkan. Air mata Inda terus berderai, mengingat Zein adalah pria impian yang selalu membuatnya bahagia. Namun sayang, ia sirna, tenggelam di dalam lautan. “Astaghfirullahal adzim!” kumandang subuh menyadarkan Inda dari mimpinya. “Huff... memang pria impian,” lirihnya sambil menghela nafas. Di sampingnya terlihat pria lain yang masih tertidur pulas. Benar, aku sudah memiliki suami, yang lebih tampan dan menawan dari Zein. Gumamnya dalam hati sambil tersenyum memandangi Jidan, pria halalnya. *** Rutinitas harian mereka sangat padat, hingga membuat mereka sulit untuk saling bercerita. Hanya menjelang tidurlah kesempatan keduanya untuk berbagi cerita tentang hari ini, hingga hal yang tidak penting sekalipun. “Mas... Apa Mas sudah mulai bicara dengan Umi dan Abi soal kita ingin melanjutkan S2 kita di Mesir Mas?” tanya Inda yang sedang duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya, ia memulai percakapan. “Sudah. Tapi tanggapan mereka masih seperti itu. Besok coba Mas bicarakan lagi dengan Abi,” jawabnya sambil merebahkan diri di bad ranjang. “Oke Mas, tapi... tolong yakinkan mereka ya Mas,” pinta Inda mulai bermanja. “Iya Sayang... Mas akan usahakan. Sini tidur, jangan bersolek terus,” goda Jidan sambil menepuk bad ranjang sebelahnya yang masih kosong.   Esoknya, sepulang mengajar di pesantren milik abinya, Jidan mampir terlebih dahulu ke rumah kedua orang tuanya atau para santri menyebutnya dengan Ndalem. “Assalamu’alaikum Umi,” ucapnya sambil mendekatkan wajah ke sela-sela pintu kayu.  Tanpa mengetuk pintu, beberapa detik ia menunggu jawaban, lalu mengulanginya sekali lagi, hingga terdengar suara yang mendekat  dari balik pintu tersebut. “Wa’alaikumussalam Nak, masuk Nak, kebetulan kami lagi mempersiapkan makan siang nih,” jawab wanita paruh baya yang tengah membukakan pintu untuk putranya. Kemudian Jidan mencium tangan wanita paruh baya yang terlihat masih cantik di umurnya yang sudah menginjak angka lima puluh. Harum tangannya masih tetap sama, parfum Sabaya dari Mekkah yang selalu membuatnya terngiang-ngiang saat di Mesir lalu.  Jiddan berjalan menuju ruang keluarga, mendekati abinya yang sedang duduk di sofa, Dengan pakaian sederhana, dikhiasi tasbih yang selalu berputar di tangan kanannya, membuat aura wibawanya begitu terpancar. Jidan mulai menyampaikan niatnya pada kyai yang berwibawa di depannya tersebut. Setelah semua tersampaikan, tidak menunggu lama dan basa-basi, kyai Nur langsung menanggapinya. “Umi sudah bercerita pada Abi soal kalian ingin ke Mesir, Umi setuju, tapi menurut Abi, tetaplah di sini Jidan, pesantren ini kamu yang kembangkan, kalau kamu berkenan lanjutlah s2 di dekat sini saja, agar kalian masih bisa membantu Abi, kalian tahu sendiri, Umi khususnya Abi ini kan sudah mulai tua Nak, cobalah pikir-pikir lagi,” tutur kyai Nur santai penuh harap. Mendengar jawaban abinya,  Jidan tidak bisa berkutik, mau tidak mau dia harus mematuhi orang yang amat ia hormati itu, namun di sisi lain ia tidak ingin mematahkan impian Inda yang ingin terus belajar di negri Kinanah sana. “Baik Abi, akan Jidan pikirkan lagi. Terimakasih Bi, izin pamit pulang dulu Bi,” Jawab Jidan kemudian mencium tangan abinya.  Wibawa seorang kyai Nur membuat siapapun tidak mampu untuk mengelak setiap perkataannya, termasuk dengan anak-anaknya. *** Setelah selesai mengisi pengajian rutinan hari rabu di masjid pesantren. Jidan berniat untuk membicarakan apa yang diinginkan sang abi kemarin sebelum ia pulang. “Tentang S2 kita, Abi menyarankan kita untuk melanjutkan S2 di sini, sambil membantu Abi dan Umi. Lalu sedikit-sedikit kita bisa membangun rumah di dekat pesantren,” jidan mulai menjelaskan maksudnya pada Inda. “Kita kan sudah membuat komitmen Mas,”  timpal Inda ketus. “Kamu sudah janji Mas, bahwa pernikahan kita tidak akan mengganggu cita-cita kita! Di sanalah cita-cita aku Mas, masih banyak yang harus aku cari di negeri Kinanah sana, Mas pasti tau itu,” emosinya meluap, mengungkit semua komitmen mereka sebelum menikah. “Iya, kita cari solusinya bersama, kita pertimbangkan, mana yang terbaik dan bermaslahat di Tengah keadaan yang diluar dugaan kita ini,” jawab sang suami dengan tenang.   DING ! Ponsel Inda berbunyi, Rena sahabatnya mengabarkan bahwa Jidan dan Inda diterima masuk S2 dan mendapatkan beasiswa. “Tuh kan Mas, kita diterima!” ujarnya bersemangat. “Serius?” tanya Jidan memastikan “Iya Mas serius, ini coba lihat,” Inda menyodorkan ponselnya. “Alhamdulillah, kita bisa bicarakan lagi dengan Abi. Semoga dengan berita ini, Abi bisa mengizinkan kita untuk berangkat ke sana lagi,” lanjut Inda masih dengan wajah berserinya. “Iya sayang, insyallah bisa,” hanya sedikit meyakinkan. Jidan amat tahu bagaimana abinya jika sudah membuat keputusan. *** Di balik kebahagiaan itu esoknya. Langit pagi terlihat mendung, angin menghembus syahdu, tidak dingin tidak juga panas, semuanya terasa tentram, tidak seperti biasanya.   Mereka sudah bersiap untuk menuju pesantren, bertemu abi dan umi, membantu aktifitas rumah sang ibu mertua. Namun tiba-tiba, seorang santri datang menaiki motor milik pesantren, penampilannya compang-camping, sangat tergesa-gesa, wajahnya merah, bukan karena mabuk atau ditampar, tapi terlihat juga air matanya berderai. Ia mengucapkan salam dengan suara bergetar, dan mengabarkan bahwa. “Ustadz... A-abi Ustadz,” kata santri itu terbata, tak kuat menahan tangis, santri yang masih berdiri di samping motor itu tiba-tiba berlari menuju Jidan yang berdiri di pelataran rumah bersama Inda, lalu memeluk Jidan layaknya seorang adik yang tidak bertemu kakaknya selama puluhan tahun. “A-abi meninggal Ustadz,” tangis santri itu pecah kembali. Perkataannya melesat seperti tombak, tepat mengenai jantung Jidan dan Inda. Keduanya bergetar mendengar kabar yang bak petir menyambar, air matapun berderai cepat.  Sesampainya mereka di rumah sang abi, di sepanjang jalan menuju gerbang pesantren, terparkir mobil-mobil pengunjung untuk bertakziyah.  Lapangan pesantren penuh dengan para santri dan penyelawat, mereka semua menangis, tak menyangka kyai yang paling mereka sayangi dan hormati pergi begitu cepat. Ketika mereka masuk, terlihat segujur tubuh diselimuti kain batik panjang dan kain putih menutupi kepala sang pemimpin itu. Dengan sigap Jiddan memeluk tubuh tak bernyawa itu dengan kuat, menangis meraung-raung, dadanya sesak, terhimpit, sakit karena perpisahan tak terduga ini. Ia peluk tubuh ibunya yang lemas, mereka menangis, suasana semakin kelam. Tidak ada lagi abi, tidak ada lagi Kyai yang sangat disegani dan terhormat di tengah-tengah mereka. Abi yang selalu bijaksana dalam mengambil tindakan, yang selalu berbaur pada santri, yang banyak sekali mengajarkan segala hal untuk anak-anaknya. “Abi... semua telah usai Bi, aku tidak akan bisa sesempurna dirimu dalam memimpin. Kenapa engkau pergi begitu cepat di saat aku masih membutuhkan bimbinganmu untuk mengemban amanah besar ini,” hatinya berdesir, tak kuasa menahan perih. Beberapa hari setelah kepergian kyai Nur, langit pesantren masih kelam dan haru, suasana terasa sunyi. Kini mereka hanya menunggu dan bertanya-tanya, siapakah yang akan menggantikan kyai Nur, akankah seperti abi yang bagi mereka kyai Nur adalah abi terbaik tak tergantikan. Hati mereka tertuju pada satu nama. Bukan karena hanya ia salah satu dari 3 anak laki-laki kyai Nur yang berhasil menyelesaikan S1nya di luar negeri, tapi juga kepribadiannya yang sungguh mirip dengan abinya, membuat santri selalu nyaman berada dalam bimbingannya selama ia mengajar.

Bab 2 Bencana yang tak disadari

Setelah shalat maghrib di Masjid, Jidan langsung kembali pulang, ingin mengatakan sesuatu pada istrinya, yang sedari sore tadi ia mencoba melatih dan memilih kata dalam fikirannya. Kini keduanya berada  di ruang keluarga, lampu kuning menjadi latar suasana obrolan mereka, tidak ada televisi yang menyala atau HP yang sedang dimainkan. Keduanya santai saling menatap. “Inda... maaf aku harus mengatakan ini,” Jidan memulai pembicaraan.  Diambillah tangan putih halus di hadapannya, dan menggenggam punggung tangannya. Insting Inda sudah melayang menerka perkataan yang akan diucapkan sang suami. “Menurut saya, alangkah baiknya kita menuruti perintah Abi, sekarang beliau sudah tidak ada, kitalah yang menggantikannya,” lanjutnya dengan hati-hati. Jidan langsung membicarakan inti percakapannya malam ini. Wajah cantik Inda mulai menangkap segala isi dan maksud dari perkataan suaminya yang merupakan keinginan mertuanya. “Apa itu artinya mimpi kita akan berhenti di sini?” tanyanya mengernyitkan dahi. “Tidak begitu Sayang, pesantren ini membutuhkan pemimpin, akulah yang dipinta Abi untuk menggantikannya, tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja, Umi pun sudah mulai tua,”  jelasnya mendapati wajah istrinya yang berubah muram, ia sangat mengetahui sekali perasaan istrinya. “Belum saatnya mas kita memimpin pesantren, Al-Hidayah itu terlalu besar untuk dipimpin seorang yang hanya lulusan S1 saja Mas, terlalu beresiko, aku tidak siap!” tolaknya “Aku harus bagaimana? Memang ini yang Abi perintahkan padaku,” tegas Jidan. “Itu yang aku tidak suka darimu Mas, kamu tidak pernah teguh dalam prinsipmu, dari awal kita menikah, bukankah kita sudah saling menguatkan prinsip kita  untuk tetap melanjutkan S2 di Cairo?” beber Inda yang kian kecewa dengan tanggapan Jidan. “Tapi sekarang keadaannya berbeda Nda, Abi yang berpesan begitu! aku tidak mampu untuk menolaknya, ini wasiatnya!” tegas Jidan lagi. “Aku sudah menduga kamu akan terbawa arus keadaan tanpa memegang erat komitmen kita Mas,” keluhnya sambil memalingkan wajahnya ke samping dengan pelan.  “Oke kalau begitu, aku saja yang akan pergi melanjutkan S2, sendiri!” kekeh Inda lalu beranjak dari hadapan Jiddan.       Pukul 14: 20 sore, Inda sudah bersiap untuk  pergi ke rumah sahabatnya, sekalian akan pergi ke toko buku.   TOK! TOK! TOK! “Ren...!” suara lirih Inda terdengar dari balik pintu. “Yaaa... Inda,” sahut Rena sahabatnya dan mempersilahkan Inda masuk. Keduanya berada di ruang TV, menyeruput green tea kesukaan, dan bercerita. Rena mengetahui gelagat yang terpampang di wajah sahabatnya, ada kekecewaan yang baru saja terjadi dalam hatinya. “Ren... sepertinya aku tidak bisa melanjutkan S2 ku di Cairo Ren,” desis Inda sedikit putus asa. “Hah? kenapa bisa? Kamu sudah terdaftar di sana Nda!” sahut Naya terkejut. “Kita, aku dan Mas Jidan sudah terdaftar di sana. Tapi entahlah mertuaku berpesan agar Jidan tetap di sini membimbing pesantren,” ujarnya kecewa. Mereka menghela nafas panjang, karena melihat rancangan hidup Inda mulai kusut. “Beasiswa di sana itu adalah keberuntungan Nda, apalagi kalian berdua yang diterima,” Rena memberi nasehat pada sahabatnya “Tapi ya Nda, Istri itu harus ikut suami, meski keinginanmu besar ingin ke sana,” ujarnya kembali menasehati. Inda hanya tertegun merenungi.   *** “Mas aku ingin bicara dengan Umi! Aku akan izin pada Umi untuk berangkat kuliah S2 ku di Mesir!” ucap Inda ketus. Ia sadar bahwa keputusannya akan menimbulkan banyak resiko, terutama pernikahannya. Ia akan meninggalkan suami tercintanya. jika benar ia saja yang akan berangkat, lalu bagaimana kehidupan masa depannya? “Kamu akan meninggalkanku?” tanya Jidan kecewa. “Mas, aku tidak bisa hanya sampai di sini, perjalananku masih cukup panjang, umurku masih 23 tahun!” balas Inda menangkis pertanyaan Jiddan yang seakan melarangnya. “Nda, mengertilah, pernikahan tidak akan aman jika saling berjauhan, kamu tahu itu kan. Sementara menuntut ilmu bisa di mana saja, kita lanjutkan S2 di sini bersama,” suara Jidan lirih, memahamkan wanita yang amat ia cintai di hadapannya. “Kalau kamu pergi, siapa yang akan kuajak diskusi jika aku membutuhkan sesorang untuk itu. Jika kamu sendirian di sana, tanpa aku, siapa yang akan menjagamu di sana? Di negara Timur Tengah itu tidak mudah, kamu sudah hafal itu Nda, dengan tabi’at mereka dan hiruk pikuk kehidupannya,” lanjutnya mengingatkan istri tercintanya. Ditataplah dalam-dalam wajah tampan nan bercahaya yang tepat berada dihadapannya , memberikan tatapan hangat dan meyakinkan. Ke dua tangan mengatup di wajah sang suami,  ibu jarinya menyeka pipi halus nan bersih tersebut. “Sayang... aku akan baik-baik saja, aku akan kembali untukmu, percayakan aku hal itu oke? kita jalani sebagaimana sebelum kita menikah, itu akan lebih mudah,” pinta Inda seraya mengecup punggung tangan suaminya. Sementara Jidan masih tenggelam dalam sorot mata wanita di hadapannya yang indah, dihiasi dengan bulu mata lentik nan tebal. Meluluhkan hati siapa pun yang menatapnya. Sungguh sempurna penciptaan wanita di hadapannya ini. ‘Inikah caramu Nda, membuat aku nyaris tidak bisa mengatakan tidak, bahkan untuk hal seberat ini. Tegakah kamu membuatku menunggu -lagi- seperti sebelum kita menikah?’ batin Jidan.  Ada rasa tak yakin dengan keputusan ini, namun di sisi lain ia meridhoi istrinya untuk menuntut ilmu. Perasaan itu berkecamuk dalam dadanya. “Aku akan berangkat bersama Rena bulan depan Mas, jika kamu mengizinkan. Dan tinggal bersama dia di rumah sewaannya. Aku juga akan segera pulang Mas, setelah ujian diploma selesai, aku akan mengerjakan tesis di Indonesia. Atau aku akan pulang sesuka yang Mas inginkan, setahun sekali juga bisa Mas,” kekeh Inda melanjutkan. “Jangan berhubungan dengan lelaki lain meski itu untuk pelajaran! atau hal apapun itu!” perintah Jidan menampakkan aura ke setujuannya. Inda tersenyum merekah, matanya mengedip lalu mendelik merespon bahagia perkataan yang memiliki aura ke setujuan suaminya itu. Yes Inda akan kembali belajar dan belajar.   Sebulan kemudian, pukul 6 pagi, hari ini adalah hari keberangkatan Inda ke negri Mesir bersama Rena sahabatnya. Meski keberangkatan Inda memunculkan banyak kontroversi di kalangan keluarganya, namun ini adalah suatu keputusan antara suami dan istri, antara prinsip dan tujuan bersama. Maka biarlah mereka yang menjalani semua, tanpa pengalaman sendiri mereka tidak akan percaya bahwa resiko setiap keputusan itu memang ada. “Pak, agak cepat ya pak, kami take off jam 9!” Pinta Inda gugup karena perjalanan menuju bandara dari rumahnya memakan waktu 1 jam, belum lagi kena macet. Mereka bisa terlambat. Benar sekali dugaan semua masyarakat, bahwa di antara jam itu kemungkinan besar mereka terjebak macet. Matahari mulai beranjak ke atas kepala, menghangatkan mereka yang bermotor, menyemburatkan cahaya melalui jendela mereka yang bermobil. Inda mulai panik, celingak-celinguk dari jendela kanan dan kedepan, memastikan apakah kemacetan ini akan berlangsung lama. Bibir indahnya terus berdo’a, dadanya berdegup kecang.

Bab 3 Dalam ketegangan

Hari menunjukkan pukul 8:10, itu artinya kurang dari satu jam pesawat akan lepas landas. Tegang sekali, bukan hanya dirinya, tapi seisi mobil pun ikut dalam ketegangannya. “Tenang Nda, waktu masih lama, paling sebentar lagi sudah tidak macet,” suara lirih Jidan dari kursi depan menenangkan Inda yang gugup setengah mati. “Memang ada apa sih di depan itu, ko sampai tidak bisa jalan sama sekali?” tanya mamah Inda yang duduk di sebelahnya. “Entah” lalu dijawab sama dengan supir dan umi Jidan. 20 menit berada dalam kemacetan, akhirnya mereka terbebas dan melaju dengan cepat seperti anak burung yang di lepas dari sangkarnya. “Oh ternyata truk angkutan barang yang mogok toh!” kata umi Jidan, serempak sorot mata mereka tertuju pada truk yang di gerek dengan mobil lain di depannya. *** Inda harus mempercepat langkahnya, ia hanya membawa 1 koper besar dan kecil untuk di bagasi dan 1 koper kecil lagi untuk di kabin, untuk mempermudah perjalanannya. Lima orang tersisa yang mengantri di sana, syukurlah masih setengah jam lagi sebelum pesawat lepas landas, tapi dia harus cepat. Ia berpamitan pada kedua ibunya, mencium tangan serta meminta ridho, juga kepada adik iparnya yang masih remaja. Terakhir, meminta ridho pada suaminya tersayang.  Matanya mulai berkaca-kaca, ia cium punggung tangan suaminya dan memeluknya erat. Tidak ada kata-kata yang mewakili bahasa kasih mereka, yang ada hanya tatapan cinta serta kepercayaan yang mereka tanamkan dalam benak mereka masing-masing. Ada rasa ragu dalam hati Jiddan untuk melepas sang istri, namun, cita-citanya pun harus tercapai, pernikahan bukanlah penghalang bagi diri mereka masing-masing. Karena itulah ia meyakinkan diri pada takdir, pada Sang Penentu jalan cerita. “Do’akan aku ya mas? aku akan kembali untukmu, yakin itu mas!” desisnya lirih dengan terus menciumi bolak-balik tangan suaminya. “Hati-hati sayang, do’a dan kasih sayangku akan terus menjadi pendampingmu,” balas lirih lelaki tampan nan bercahaya di hadapannya. “Lekas berangkat, sisa dua antrian lagi di sana!” suruh Jiddan memecah kesedihan.  Inda bergegas menuju boarding pass dengan senyuman termanis yang selalu ia tampilkan untuk orang-orang tercintanya, lalu melambaikan tangan pada mereka yang sudah berjarak jauh darinya. *** Di balik jendela Fortuner yang menuju arah pulang, seseorang pemilik wajah bercahaya itu tengah memandangi pemandangan yang berjalan seiring mobil bergerak melesak, ada rasa sesak karena telah merelakan istrinya pergi sendiri. Sementara amanah yang diberikan padanya, harus diemban sebagaimana abinya dulu memimpin. ‘Adakah suami yang seikhlas ini? Membiarkan istrinya pergi, bahkan untuk waktu yang lama, bukankah pernikahan harusnya telah menyatukannya?’ gumamnya dalam hati merutuki takdir juga keputusannya. Ia pijat dahi dengan tangan kanannya, menyandarkan siku  ke arah jendela mobil sebagai sanggahan kepalanya. Ada rasa penyesalan yang membuncah dalam dadanya. Kini ia harus menghandle keduanya, antara amanah dan rumahtangga jarak jauhnya. *** Chek in ke dua, bandara Soekarno Hatta. “Mana bukti kamu masih jadi mahasiswa di universitas Mesir?” tanya sang petugas. Inda terbelalak, melotot, sejak kapan ada pemeriksaan seperti ini?. Sambil ia mengobrak abrik koper kecilnya, mencari surat tasdik, bukti ia sebagai pascasarjana di sana. “Tunggu sebentar ya pak?” sambil membuka ponselnya, ia akan mencari bentuk foto dari surat itu, karena ia meletakkan surat tasdik itu di koper bagasi. Ia semakin panik, 20 menit lagi pesawat akan terbang. “Bentuk foto bisa kan pak?” tanyanya mulai gemetaran. “Memang tidak ada yang asli? Surat-surat penting seperti itu simpan di kabin, karena petugas berbeda-beda dalam memeriksa!” tegas sang petugas menasehati. Orang-orang di sekitarnya memandanginya seksama, entah apa yang ada di benak mereka, mungkin kasihan, atau sebagiannya menggerutui kelalaiannya. “Yang asli tidak ada pak, saya taruh di bagasi,” jawabnya melemah. Sang petugaspun menuju meja chek in lain, menanyakan bisakah surat tasdik itu cukup diwakili dengan foto saja. Inda semakin ketakutan, dadanya mulai berdegup cepat, jantungnya memompa tidak beraturan. Ia terus mengotak-atik ponselnya, karena ia lupa menaruh file tersebut di mana. “Mana file fotonya?” pinta petugas berbadan tegap tinggi tersebut. Pas berbarengan dengan pertanyaan tersebut Inda mendapatkan foto tasdiknya. “I-ini pak!” jawab Inda tergugup sambil menyodorkan Iphonenya. Helaan nafas panjang keluar dari mulut mungilnya, akhirnya ia terlepas dari ketegangan yang membuatnya masih bergetar sambil berjalan. Diliriklah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kurang dari 15 menit lagi pintu pesawat akan ditutup. ‘Oh Allah... Tolonglah aku,' desisnya lirih sambil terus berlari kecil. Lorong demi lorong sudah terlewati, chek in terakhir pun sudah ia labuhi. Akhirnya pintu pesawat itu ada di hadapannya, hanya beberapa orang yang belum masuk, termasuk dirinya dan orang-orang yang mengantri di belakangnya. Penumpang telah memenuhi kursi-kursi pesawat, begitu juga dengan sahabatnya Rena yang sudah menunggu di sana sejak setengah jam lalu. Ia berjalan menghampiri kursi kosong di samping sahabatnya. “Nda... Kenapa lama banget siiih! Pesawat sebentar lagi takeoff tau!” keluh temannya yang sudah duduk rapih di sana. “Huuufff... Parah banget si emang kali ini,” Ia menghela nafas panjang sambil menaruh koper di  kabin pesawat. Kemudian ia menceritakan beberapa gangguan yang terjadi barusan. 13 jam lamanya mereka berada di atas awan, akhirnya burung besi raksasa itu akan landing tepat pada malam hari. Pemandangan yang menakjubkan yang selalu disuguhkan oleh kota Cairo. Bangunan kotak yang dikhiasi pernik lampu terlihat dari ketinggian, bak ratusan kunang-kunang yang terhempas oleh angin lalu berhambur, beterbangan, mengerlipkan titik sinar yang mereka miliki. Sungguh sempurna.

Lanjut baca