"Lillahi taala, Umi tidak akan pernah ridho dunia akhirat kalau kamu masih saja berhubungan dengan wanita yang tidak jelas nasab nya seperti wanita itu, Emran." Tangan yang hendak mengetuk pintu, tiba-tiba membeku. Bibir mungil yang sepanjang jalan tersenyum, perlahan memudar. Manik mata berbinar-binar, seketika berubah nanar. Dada berasa ditimpa batu-batuan besar, begitu berat dan sesak mendengar ucapan lantang seorang wanita baya berpakaian sari' yang pernah menyambutnya dengan sangat hangat. Ya, dia masih ingat betul pada pemilik khas suara itu. Emran memegang lengan sang ibu yang sudah nampak keriput,hendak mencoba menenangkan emosinya yang tengah meluap. Namun, sang ibu justru menepis kasar tangannya dan berkata lantang. "Jangan pegang umi, umi kecewa sekali sama kamu. Jauh-jauh kamu sekolah ke negara Korea, kenapa menjalin hubungan dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya dan juga agamanya? Kamu tau bukan, kalau keluarga kita ini keluarga terhormat dan terpandang. Abi mu seorang ustad dan pengelola pondok pesantren yang cukup terkenal. Apa kata orang nanti, Emran! Apa kamu mau mempermalukan umi dan Abi mu?" "Bukan kah kemarin umi sudah setuju? kenapa sekarang berubah pikiran? dia gadis baik-baik, umi. Dia gadis yang selalu menjaga kehormatannya." "Jangan paksa umi. Pokoknya umi tidak sudi punya menantu anak haram." Brugh Suara dentuman yang terdengar cukup keras itu mengalihkan perhatian dua pasang mata ke arah pintu yang tertutup rapat. "Anna, apa itu Anna!" ucap bathin Emran. Raut wajahnya berubah tegang. Dia ingat jika hari ini meminta sang kekasih untuk datang ke rumahnya. Nanti malam akan ada acara keluarga sekaligus ingin mengenalkan dia pada ayahnya yang masih dalam perjalanan pulang dari luar daerah. Emran berlari ke arah pintu. Namun setelah pintu dibuka, dia tidak menemukan siapapun di luar sana. Dia cukup terkejut ketika melihat di bawahnya, ada sebuah pot bunga dalam keadaan pecah berserakan. "Apa yang terjadi, Emran?" Sang ibu berdiri di belakang Emran. Karena Emran tidak menjawab pertanyaannya, dia membuka pintu lebar-lebar agar dapat melihat apa yang terjadi diluar. Bola matanya melebar ketika melihat apa yang terjadi. "Astaghfirullah hal adzim, siapa yang berani merusak pot bunga kesayangan umi, Emran?" Emran tidak mempedulikan pertanyaan wanita baya itu. Dia berjalan keluar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling pekarangan rumah yang cukup luas. Namun, dia masih belum menemukan sosok yang membuat pot bunga kesayangan sang ibu berserakan. Belum puas hanya dengan mencari disekitar pekarangan, Emran berjalan lebih jauh. Tanpa sengaja, ekor mata menangkap sosok wanita berhijab sedang memasuki sebuah taksi di seberang jalan yang cukup jauh sehingga dia kesulitan mengejarnya. Meskipun wajahnya tidak nampak dengan jelas, tapi Emran meyakini bahwa gadis itu adalah kekasihnya. Emran masih ingat betul warna dan motif hijab yang pernah dibelikan untuknya. Pada saat dia baru tiba di Indonesia, Emran memberikan dua hijab yang berbeda warna dan motif. Emran sengaja memberikan hijab agar kekasihnya memakai hijab-hijab itu ketika bertemu dengan keluarganya. Dret Dret Tas kecil milik seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam taksi bergetar. Dia merogoh tas itu dan menatapnya nanar. Nama "love" di layar ponsel merk biasa sedang memanggil. Dia mematikan dan menyimpannya kembali kedalam tas. "Maaf nona, kita mau kemana ya?" Tanya sang sopir ketika taksi sudah bergerak melaju. "Jalan saja, pak!" Gadis itu menjawabnya datar. Sang sopir mengangguk tanpa bertanya ulang. Dia memegang dadanya yang begitu sesak, sesak sekali. Bersamaan dengan itu, airmata yang sudah menumpuk di kelopak mata akhirnya mengalir deras. Hinaan orang tua kekasihnya tadi sangat menyakiti perasaannya. Seburuk itukah dia di mata keluarga pria yang dicintainya? Hanya karena dilahirkan dari rahim seorang wanita tanpa memiliki seorang suami. Dia merasa keputusannya hingga menentang sang mama untuk pindah sekolah ke negara dimana pria yang dicintainya tinggal merupakan hal yang sia-sia. Ternyata, keluarga pria yang dicintainya tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Keluarga yang agamis, baik, hangat, ramah dan mau menerimanya tanpa memandang bibit, bebet serta bobot. "Maaf, sebenarnya tujuan nona mau kemana? Apa hanya mau memutar-mutar kota saja? Mendengar pertanyaan sang sopir yang sudah kesekian kalinya, gadis itu hanya bergeming. Dia bingung tidak tau harus pergi kemana. Tapi yang pasti, dia ingin menghindari Emran untuk sementara waktu. "Nona!" "To-tolong bawa saya ketempat yang dapat menenangkan hati, pak!" ucapnya setelah sekian lama terdiam. "Kemana, non?" "Terserah." "Lah, kok..." sang sopir garuk-garuk kepala kebingungan. "Saya orang baru. Jadi tidak hapal nama-nama tempat yang ada di kota ini." "Memangnya nona ini berasal dari mana? wajah nona seperti bukan wajah orang Indonesia asli, tapi nona fasih berbahasa Indonesia." Dia tersenyum hambar, haruskah bercerita dari mana asalnya? Bagaimana jika sang sopir mengulik latar belakangnya lalu bersikap seperti orang tua kekasihnya? Dia pun memilih bungkam. Dari pantulan kaca diatas kepalanya, sang sopir dapat melihat pancaran kesedihan di raut wajah gadis itu. Tiba-tiba, dia teringat pada suatu tempat yang mungkin lebih cocok dikunjungi bagi orang yang sedang bersedih. "Kita sudah sampai ditempat yang tenang, nona!" Dia tersentak sadar setelah sepanjang jalan hanya duduk diam dan termenung. Bahkan dia tidak sadar, berapa kilo meter perjalanan yang sudah mereka tempuh. Dia melihat keluar. Di penghujung sana, nampak deburan ombak saling menggulung-gulung. "Bapak membawa saya ke pantai?" "Iya non, habis saya bingung mau membawa nona kemana. Kata orang-orang sih pantai itu tempat yang cocok untuk nenangin pikiran." Dia menghembuskan nafas besar. Sebenarnya, dia tidak menyukai pantai, sebab pantai pernah menyisakan trauma saat dia berkunjung ke pantai bersama sang mama dan sang paman beberapa waktu silam. Namun, dia tidak mungkin menyalahkan sang sopir, sebab sopir itu tidak bersalah, dan dialah yang salah telah memintanya terserah hendak membawanya kemana saja. Dia berdiri di bibir pantai yang jaraknya cukup jauh dari laut. Menatap lautan biru dengan ombak yang saling kejar-kejaran. Burung-burung beterbangan di atasnya menambah keindahan pantai tersebut. " Uncle, teman-teman ku sering diantar sekolah oleh papa dan mamanya. Tapi kenapa aku hanya diantar sama mamaku saja?" "Kalau kamu mau, uncle yang akan mengantar kamu ke sekolah tiap hari." "Tapi uncle Choi bukan papaku. Aku hanya ingin diantar oleh papaku seperti teman-temanku. Dimana dia sekarang uncle? "Uncle..." "Kalau uncle tidak ingin memberitahu, aku akan menanyakan nya pada mama. Mama pasti tahu dimana papa." "Jangan, jangan pernah bertanya pada mamamu. Kamu...tidak ingin melihat mamamu sedih bukan?" Dia memejamkan mata. Kalimat terakhir kepercayaan keluarga Lee itu kembali terngiang di otaknya. Kalimat larangan yang membuatnya bungkam hingga belasan tahun lamanya. "Aaaaaaa..." "Woy, jangan berisik." Sontak dia terkejut. Di tengah sedang menumpahkan rasa kekecewaannya, terdengar suara seseorang melarangnya berteriak.
Gadis yang terlahir bernama Anna Lee memutar tubuhnya mengedarkan pandangan ke segala arah mencari keberadaan sumber suara yang baru saja dia dengar. Namun sayangnya, dia sama sekali tidak menemukan satu pun orang di sekitarnya. Pantai itu sangat sepi, hanya ada dia dan sebuah pohon yang berdiri kokoh di atasnya. "Suara apa sebenarnya tadi. Apa suara makhluk halus!" Anna memegang tengkuk yang tiba-tiba terasa merinding. Sebenarnya, dia tidak percaya pada hal-hal ghaib. Tapi kali ini, suara yang sangat jelas di indera pendengarannya membuat dia berpikir pada keberadaan makhluk yang tak kasat mata itu nyata adanya. Bluuss "Aaaa..." Anna berteriak. Dia sungguh sangat terkejut bahkan hampir saja berlari ketika sosok makhluk besar tiba-tiba menggantung di dahan pohon tepat di hadapannya. "Ka-kamu..!" Ucap Anna menunjuk makhluk yang menggantung itu menggunakan jari telunjuknya yang gemetar. "Apa yang membuatmu takut, nona?" Dalam posisi menggantung di dahan sebesar lengan orang remaja, sosok itu mengeluarkan suara. Kedua bola mata Anna semakin membulat saja mendengar sosok itu berbicara padanya selayaknya seorang manusia. Belum sempat Anna menimpali ucapan sosok itu, tiba-tiba dia menjatuhkan tubuhnya hingga kedua kaki menapak pada pasir dan berdiri tegap, lalu kedua tangannya melipat di atas perut yang terlihat sixpack meskipun terhalang oleh kaos tanpa lengan. Di tengah detak jantungnya tak karuan, Anna memperhatikan sepasang kaki tanpa alas, lalu menjalar hingga ujung rambutnya. Tubuh tinggi atletis, berkulit putih di balut celana kolor dan kaos tanpa lengan. Memiliki rambut gondrong, berkumis serta berjenggot tipis. "Kamu...manusia dan seorang laki-laki!" ucap Anna dengan mimik wajah bengong. Sosok makhluk yang berjenis kelamin laki-laki itu pun berdecak kesal." Apa kamu pikir aku ini makhluk wanita yang menyebalkan sepertinya mu?" Wajah bengong Anna berubah kesal. Ternyata, pria yang disangka makhluk halus itu merupakan seorang pria yang cukup menyebalkan. "Apa kamu bilang, menyebalkan! kamu sendiri yang menyebalkan. Kenapa menakut-nakuti orang?" "Hahaha." Pria itu tertawa nyaring hingga nampak deretan gigi putih dan rapih." Dasar penakut. Siapa yang menakuti mu. Lagi pula ngapain kamu berteriak di sini? mengganggu tidur ku saja." "Tidur!" ucap Anna. Kemudian menengadahkan kepala. Keningnya mengernyit melihat pada dahan-dahan pohon di atas kepalanya. Anna pikir bagaimana mungkin pria besar ini bisa tidur diatas dahan yang kecil-kecil? Apa dahan-dahan sebesar tangannya itu kuat menyangga bobot seberat tubuh pria ini? Anna meletakkan jari telunjuknya di atas kening lalu menggeleng. Raut wajah pria itu nampak kesal melihat ledekan Anna padanya. Lalu dia pun berkata," apa kamu pikir aku gila!" "Kemungkinan besar." "Kamu.." Anna berbalik badan begitu saja ketika pria itu hendak melayangkan protesnya. Sikap Anna yang demikian terang saja membuat pria itu semakin kesal padanya. "Hei..!" Langkah Anna berhenti dan berdiri mematung saat pria itu berseru. "Apa kamu sedang patah hati? kasihan sekali! haha." Ledekan pria itu menyulut emosi Anna. Tangan Anna mengepal lalu berbalik badan menghadap pada pria itu kembali. Kemudian dengan cepat, Anna membuka hijabnya yang sudah acak-acakan tak karuan. Setelah itu, dia melemparkan pada pria yang sedang menertawakan nya dengan amat puas. Plak. Tiba-tiba suasana berubah hening. Pria itu menghentikan tawanya dalam sekejap. Dia segera menarik hijab yang menghalangi penglihatannya. Setelah hijab itu terlepas dari wajahnya, dia menatap tajam pada gadis yang telah berani melemparnya dengan hijabnya sendiri. Namun, tatapan tajam itu perlahan berubah ketika menyadari bola mata gadis itu tengah mengalirkan air mata. "Shakaa, Shakaa...!" Teriakan seseorang dari jarak yang cukup jauh mengalihkan perhatian pria yang bernama Shaka. "Shakaa...si Ricky hilang," teriak ulang orang itu. "What!" ucap Shaka dengan mimik wajah antara percaya dan tidak percaya. Bagaimana mungkin temannya yang sebesar drum minyak tanah itu bisa menghilang di pantai yang luas! pikir Shaka. Dalam keadaan pria itu lengah, Anna segera berlari. Shaka terkejut ketika menyadari gadis yang sedang berseteru dengannya sudah berlari menjauh. Shaka memperhatikan gerakan lari Anna yang cukup cepat. Rambut indah yang tergerai panjang terombang ambing oleh terpaan angin. Sungguh, gadis itu seperti seorang bidadari yang sangat cantik sekali di matanya. Shaka perlahan tersenyum. "Semoga kita bisa bertemu lagi, bidadari." Malam hari, Anna baru tiba di sebuah rumah kost. Rumah yang cukup besar itu di jadikan kamar kost khusus wanita oleh pemilik rumah. Anna memilih kost dengan alasan agar lebih simpel. Di masaki dan baju dicuci kan oleh pemilik kost. Meskipun sang mama sudah menawari Anna untuk tinggal di sebuah apartemen mewah berikut ART, dia menolak. Anna tetap memilih tinggal di sebuah kamar kecil berukuran 5x5 meter persegi. Sang mama yang tahu bagaimana sikap sang putri yang keras kepala dan sudah biasa dengan gaya hidupnya yang sederhana pun tidak bisa memaksa selain menuruti keinginannya. "Non Anna baru pulang?" Bu Danti pemilik kost menyapa Anna ketika dia hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Anna tersenyum nyengir. Dia pikir wanita baya yang sudah dikenal baik sejak seminggu yang lalu itu sudah tidur. Namun ternyata, dugaannya salah. Dia menjadi merasa tak enak hati karena telah melanggar peraturan kost. Di rumah kost itu menerapkan peraturan dan salah satu peraturannya adalah, anak kost dilarang pulang melebihi jam sebelas malam. "Maaf Bu, saya pulang terlalu malam." "Memang dari mana, non?" "Tadi saya jalan-jalan ke pantai, tapi pulangnya malah menyasar" "Ya ampun. Kenapa bisa menyasar?" "Saya belum hapal kota ini Bu, saya juga belum punya teman untuk diajak bermain." "Ah ya ibu mengerti, tidak apa-apa." "Terima kasih, Bu." "Non Anna pasti lapar. Ibu akan siapkan makan malam untuk non Anna. Kalau anak-anak yang lain sudah pada makan." "Terima kasih Bu, tapi saya sudah makan di luar tadi. "Oh begitu." Anna mengangguk meyakinkan Bu Danti. Padahal sebenarnya, dia sama sekali belum makan apa pun sejak tadi siang. Kejadian di rumah Emran tadi sangat mempengaruhi mood nya. Jangankan makan, minum saja rasanya sulit di teguk. "Saya ke atas dulu ya, Bu!" "Eh, sebentar, non." Bu Danti mengeluarkan sebuah amplop kecil dari dalam saku daster yang dipakai lalu memberikannya pada Anna. "Apa ini Bu?" Tanya Anna dengan rasa penasaran, sembari menerima amplop itu. "Itu titipan dari pacar non Anna. Tadi dia kemari nyariin non. Dia bilang nomer non Anna tidak aktif." Benar saja dugaan Anna, Emran mencarinya ke rumah kost. Mengingat ponsel yang tidak dapat dihubungi, Anna memang sengaja mematikan nya. Anna menaiki anak tangga dengan tergesa gesa. Dia sudah tidak sabar untuk membuka amplop yang ada di genggamannya. Tiba di dalam kamar, dia meletakkan tas ke sembarang tempat lalu duduk di atas ranjang berukuran yang hanya memuat dua orang saja. Kemudian dengan rasa tidak sabar, dia membuka amplop kecil dari Emran.
"Sayang, maafkan aku. Aku tahu tadi kamu ke rumahku. Aku tahu kamu pasti mendengar pembicaraan aku dan umi. Aku tahu sekarang kamu sedang sedih. Maafkan aku, maafkan umi ku. Dengar, apapun yang dikatakan oleh umi ku, tidak akan mengubah perasaanku padamu. Tolong, tetaplah di sampingku. Kita buktikan pada keluarga ku bahwa kamu pantas menjadi hawaku. Besok aku akan menjemput mu di kampus. Aku ingin berbicara denganmu. I LOVE YOU❤️" Anna mendekap kertas surat itu dengan erat. Air mata mengurai deras. Sungguh dia sangat mencintai Emran, pria tampan dan sholeh yang telah menjadi kekasihnya hampir satu tahun terakhir. Emran merupakan cinta pertama sekaligus pacar pertama Anna. Satu-satunya pria yang dicintainya dari sekian banyak pria yang menyukainya. Mereka bertemu di sebuah bus saat hendak ke sebuah universitas ternama di Seoul, Korea. Dan ternyata, mereka satu kampus namun beda fakultas dan tingkat. Agamis, dewasa, sikap itulah yang di sukai oleh Anna dari Emran. Merasa nyaman hingga akhirnya dia menerima Emran menjadi kekasihnya. Kekayaan materi bukan lah prioritas utama bagi Anna, sebab dia sudah memiliki semua itu. Emran tidak memiliki banyak harta tapi dia memiliki banyak pengetahuan agama. Itulah sebabnya, Anna menyukainya dan berharap Emran merupakan jodoh yang telah dikirimkan tuhan untuknya. Namun ternyata, syarat untuk menjadi istri Emran harus lah ber-nasab. Anna mengusap air matanya dengan kasar. Kemudian, dia mengambil tas yang tergeletak dan merogoh isinya mencari sebuah benda canggih berbentuk pipih. Lalu, dia menghubungi salah satu nomer yang ada di deretan kontak nomer. "Halo my sweetie, how are you?" Air mata Anna menetes mendengar suara lembut di seberang telpon sana. Suara yang selalu dirindukan olehnya di setiap waktu. "Maa...." "Iya, kenapa sayang? Apa kamu butuh sesuatu?" "Ma, apa aku boleh tahu dimana keberadaan papa ku sekarang?" Pertanyaan yang tak disangka dari seorang putri yang sudah beranjak dewasa, seperti sebuah bogem menghantam dadanya. Begitu sakit dan sesak. Dalam sekejap, air mata berjatuhan. Lubang yang sudah ditutup rapat belasan tahun lamanya, digali kembali. Pertanyaan Anna membuatnya teringat pada masa lalu. Masa lalu yang sudah dikubur bersama kenangan pahit. "Mama...mama...." "Please tell me, mom! untuk kali ini saja. Dan aku janji tidak akan bertanya lagi sama mama." Tidak ada jawaban sepatah katapun dari seberang telpon, yang ada hanya suara isakan tangis dari seorang wanita lembut yang sangat dicintai oleh Anna. Tut. "Ma, halo ma! tolong jangan ditutup telpon nya, ma! aku belum selesai bicara!" Berulang kali Anna mencoba menghubung ulang namun sayangnya, nomer itu hanya terdengar suara dengungan saja. "Kenapa ma, kenapa mama tidak ingin memberitahu aku? aku, aku hanya ingin tahu, ma! apa aku salah? Aku hanya ingin tau siapa papa ku, ma." Prak. Tanpa sengaja, Anna menjatuhkan benda pipih itu hingga mati tergeletak di atas lantai. Penglihatan mulai buram oleh air yang keluar dari sudut-sudut matanya. Dalam benaknya bertanya, apa yang salah dari pertanyaan yang baru saja dia lontarkan? Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan sebelumnya pada sang mama. Kedua kaki seperti tak mampu lagi menopang beban tubuhnya sehingga perlahan tubuh semampai itu ambruk. Anna menangis terisak dan memukul-mukul dadanya yang begitu sesak. Sembilan belas tahun dia tidak pernah menanyakan keberadaan sosok ayah biologisnya, sekalipun menanyakan keberadaan letak makamnya, demi menjaga perasaan wanita yang telah melahirkan dirinya. Tapi kali ini, Anna terpaksa bertanya pada sang mama. Dia pun melanggar janjinya pada sang paman. Sebab hatinya begitu sakit atas hinaan orang tua Emran yang mengatakan bahwa dia adalah anak haram. Tring. Tring. Berulang kali weker berbunyi, seolah berusaha membangunkan sosok gadis yang masih bergumul dibawah selimut tebal. Namun, gadis itu sama sekali tidak merasa terusik oleh bunyi weker yang cukup keras itu. Tok. Tok. "Non Anna sudah bangun belum?" Indera pendengaran Anna baru terusik setelah sekian kalinya Bu Danti berteriak memanggil namanya di depan pintu. "Iya Bu.." sahut Anna dalam keadaan mata tertutup. Tangan menjulur ke atas nakas mengambil benda bulat yang terus berbunyi. Setelah di dapat, mata yang terasa sangat lengket itu di paksa untuk melihat pada benda bulat tersebut. "Oh my God." Dia spontan duduk. Terkejut, bisa-bisanya bangun terlalu siang. Lekas mengambil handuk dan peralatan mandi lalu ke luar kamar dengan tergesa gesa. Kamar Anna tidak memiliki kamar mandi, begitu pula dengan ke empat kamar lainnya. Di kost itu hanya ada dua kamar mandi untuk dipakai bersama-sama. "Hei, hei, hei.." Seorang gadis tiba-tiba berseru sembari berjalan setengah berlari ke arah kamar mandi yang hendak di masuki oleh Anna. Anna yang baru saja akan menarik gagang pintu pun mengurungkan niatnya. Dan dia segera menunduk menyembunyikan wajahnya yang masih berantakan. "Minggir, aku duluan," ucap gadis itu, mendorong pelan tubuh Anna hingga Anna bergerak mundur. "Tapi kak, aku..." "Kamu tau tidak peraturan di kost ini? Orang baru harus ngalah sama orang yang sudah lama. Paham!" Setelah berkata, gadis itu masuk dan menutup pintu dengan kasar. Brak. Anna terperanjat hingga memegang dadanya yang ber-degub. Sejak pertama menginjakkan kakinya di rumah kost, gadis yang satu itu memang sudah menunjukkan sikap ketidaksukaan nya pada Anna. Krek. Tak selang lama, pintu kamar mandi yang lain terbuka. Kamar mandi yang letaknya berdampingan dengan kamar mandi yang hendak Anna masuki. Keluarlah seorang gadis memakai kimono panjang dan kepala ditutupi dengan handuk kecil. Gadis itu tersenyum hangat dan menyapa Anna. "Baru mau mandi, Ann?" Anna mengangguk pelan." Iya kak." "Ya sudah mandi gih, keburu siang lho." Setelah berkata, gadis itu beranjak pergi. Anna menghela nafas lega. Akhirnya, dia bisa mandi dan tak harus menunggu gadis arogan keluar dari kamar mandi. Anna memperhatikan wajahnya melalui pantulan cermin setelah selesai membersihkan diri. Mata sembab serta merah yang terpampang nyata itu sungguh membuatnya merasa kehilangan rasa percaya diri pagi ini. "Bagaimana bisa ke kampus kalau mataku dalam keadaan seperti ini." Tanpa sengaja, sorot matanya tertuju pada sebuah kacamata hitam yang tergeletak di atas meja rias. Bibir Anna perlahan tersenyum. Dia mengambil benda hitam itu lalu dipasangkan pada matanya. "Sempurna," ucap Anna, lalu menyisir rambutnya yang terurai panjang. Setelah penampilan wajah serta rambut terlihat sudah cukup sempurna, dia memperhatikan penampilan pakaian yang digunakan. Dress panjang bermotif bunga sakura dan memiliki ikat pinggang itu nyaris menutupi seluruh tubuh sempai Anna dari leher hingga mata kaki. Meskipun Anna tidak memakai hijab, tapi dia selalu memakai pakaian yang cukup sopan. Dia tidak terbiasa memakai pakaian yang terlalu terbuka atau pakaian yang menunjukan kejelasan lekuk tubuhnya.