“Tinggalkan dia, Oliver!” Suara keras pria berpakaian rapi dengan tatapan serius tengah membentak putranya, pria itu bernama Hans Arnold, seorang pria yang ambisius dan memiliki kerajaan bisnis yang besar di Ibukota. Lelaki muda itu langsung menghentikan langkahnya saat mendengar perintah itu, ia menoleh dan berniat melawan. “Papa nggak punya hak untuk mengatur hidup aku, aku mencintai Lyla, dan hanya dia yang ingin kunikahi,” tegas lelaki bernama lengkap Oliver Hans, anak pertama dalam keluarga Hans, karena dia memiliki anak kedua, tetapi seorang perempuan. Oleh karena itu, satu-satunya pewaris perusahaan yang akan mampu mengembangkan kerajaannya hanyalah Oliver, tetapi watak Oliver yang keras kepala tak mau diatur oleh siapapun, termasuk ayahnya. Ia tak ingin berurusan dengan dunia bisnis, ia hany ingin hidup bebas dan menikmati apa yang ingin dia lakukan asalkan dia nyaman. Salah satunya menikahi wanita pilihannya sendiri, meski tanpa restu dari keluarganya. “Kamu memang tak bisa diatur ya, kamu tau kan Lyla itu siapa? Anak musuh keluarga kita, jadi bagaimana mungkin kamu akan menikah dengannya, pikirkan itu!” Hans sama sekali tak merestui hubungan mereka, lantaran wanita itu adalah anak dari musuhnya sendiri, dalam dunia bisnis. “Aku nggak akan pernah meninggalkan Lyla apapun yang terjadi, jadi percuma Papa melarangku, karena itu tak akan berhasil,” kata Oliver dengan tegas. Ia pun langsung pergi dari rumahnya menuju ke apartemennya. Sesampainya di apartemen, seorang wanita terbangun dari tidurnya ketika merasakan Oliver merebahkan tubuh di ranjang, tepat di samping wanita itu berbaring. Wanita tersebut masih memejamkan mata ketika Oliver bergerak perlahan, membawa tubuhnya mendekat pada wanita sexy itu, lalu menyentuh puncak kepalanya dengan lembut. “Oliv!” seru wanita yang menjadi kekasihnya selama ini dengan pelan sambil membuka mata dan mendongak. Namanya Lyla Queen. Senyum Lyla kontan mengembang ketika mendapati Oliver berbaring di sampingnya dengan kepala ditopangkan ke sebelah tangan, sedang menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa diartikan. “Apa aku membangunkanmu?” tanya Oliver sambil melayangkan senyumnya. “Nggak kok,” sahut Lyla. “Aku memang menunggumu pulang, aku hanya pura-pura tidur tadi,” guraunya. Mendengar hal itu, Oliver menjadi sedikit gemas. Ia lalu mencubit salah satu pipi Lyla, sejak lama Oliver memang selalu suka melakukan itu ketika dia mulai gregetan dengan sikap Lyla yang menggemaskan. Lyla adalah wanita sederhana yang sengaja diasingkan oleh ayah kandungnya di kota ini untuk melindungi wanita itu dari ancaman para mafia di Jakarta. Dan di kota ini, ia diangkat menjadi anak oleh Jhon Halim, musuh dari Hans Arnold. Itulah alasan utama kenapa Hans menentang keras hubungan Oliver dan Lyla. “Sayang, kamu jangan terlalu memikir urusan orang tua kita, biarkan saja mereka bermusuhan, itu bukan urusan kita, kamu harus menikah sama aku,” ujar Oliver dengan nada terdengar sangat manis. “Tapi tetap saja aku takut Oliv... aku takut jika mereka tak bisa mengendalikan diri, lalu saling menghabisi, bukankah tujuan kita untuk menghentikan permusuhan ini, iya kan?” Lyla menatap Oliver dengan penuh harapan. “Iya, kamu benar, makanya aku ingin menikah denganmu, mungkin dengan begitu kita bisa membuat mereka bersatu dan bersahabat, aku benar kan?” tanya Oliver. Tangan Lyla masih mengelus dada Oliver dan tersenyum. “Kamu benar, aku setuju sama idemu, untuk sementara ini kita jalani hubungan kita dan kamu harus segera melamarku,” pinta Lyla dengan tatapan sendu. Hubungan mereka memang sudah cukup lama, hari ini tepat satu tahun Lyla menjadi kekasihnya, mereka tinggal di apartemen yang sama semenjak enam bulan yang lalu. Kehidupan Oliver yang bebas, lebih memilih tinggal di apartemen pribadi ketimbang bersama ayahnya karena ia tak ingin Hans mencampuri urusan pribadinya, termasuk pasangan hidup. Hans tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Oliver. Namun, di tengah hubungannya dengan sang anak kurang baik, ia pun merencanakan sesuatu untuk Oliver. “Aku janji sama kamu, aku jagain kamu dan kita akan hidup bahagia, punya anak yang banyak biar kamu nggak kesepian.” Oliver tertawa kecil. “Kamu selalu berhasil membuatku tersenyum, aku bahagia bersamamu.” Lyla kemudian memeluk Oliver. Oliver lalu memeluk kekasihnya dengan penuh cinta, ia ingin melewatkan malam ini bersama Lyla sebagai hadiah anniversary mereka yang pertama. “Kamu siap melepas perawanmu malam ini, seperti janjimu satu tahun yang lalu.” Oliver menuntut janji Lyla saat itu. Lyla otomatis mengangguk. “Iya, aku akan menepatinya hari ini, tapi kamu harus nikahin aku ya.” “Iya, aku janji,” ujar Oliver. “Dan kita akan menyatukan permusuhan kedua orang tua kita.” Senyum Oliver mengembang lagi, lalu mengecup kening Lyla dengan penuh cinta. *** Beberapa jam kemudian, Lyla baru saja selesai mandi. Oliver yang melihat hal itu, mendekati Lyla dan memeluk kekasihnya dari belakang. Ia mengecup tengkuk Lyla sambil tangannya melepas tali pakaian Lyla, kebetulan wanita itu hendak pergi menemui papanya. “Indah sekali,” batin Oliver saat melihat punggung putih dan indah itu. Ia terus membukanya hingga punggung Lyla terlihat, ia pun mulai menyusuri punggung yang putih dan lembut itu tanpa hilaf sedikit pun dari kecupan bibir Oliver. Hal itu membuat Lyla merasa kegelian. Hingga pakaiannya terlepas, Oliver lalu melepas bra yang dipakai Lyla. Seketika itu pula terlihat lekuk tubuh Lyla dari pantulan cermin. “Beautiful,” ucap Oliver dengan perasaan yang begitu deg-degan. Oliver membalikkan tubuh Lyla menghadap dirinya, tangan Oliver menggiring tangan Lyla untuk membuka pakaiannya. Saat tangan Lyla membuka satu persatu kancing baju Oliver, laki-laki itu meraup bibir lembut Lyla. Keduanya hanyut dalam pergautannya masing-masing. Tubuh keduanya kini sudah ada lagi yang menutupi sehelai benang pun, ketika kulit mereka saling bersentuhan, keduanya seperti tersengat listrik voltase tinggi. Ada sensasi yang berbeda ketika kulit mereka bersentuhan. “Sayang, aku sudah sangat siap, aku ingin memulainya segera,” bisik Oliver tersenyum, Lyla tersipu malu mendengar hal itu. Oliver menggendong tubuh Lyla ke atas ranjang, tubuh wanita itu sudah terbaring di atas ranjangnya. Oliver mengecup setiap lekuk tubuh Lyla, setiap sentuhan dari bibir Oliver membuat Lyla hanya bisa mendesah dan menutup matanya, ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Oliver. Oliver dan Lyla pun memulai permainan mereka, segala perjuangan Oliver untuk melepas keperawanan kekasihnya penuh dengan drama. Desahan lembut Lyla yang terdengar penuh gairah itu semakin membuat Oliver begitu semangat menghentakannya. Oliver ingin membuat anniversary pertama mereka ini menjadi sesuatu yang tidak akan pernah Lyla lupakan dalam hidupnya. Kemudian wanita itu mencengkram lengan Oliver dengan penuh hasrat, sekalipun rasa sakit itu terasa menyiksa, tapi ia mulai menikmatinya. Tangan Lyla lalu melingkar di leher Oliver sembari merasakan kenikmatan yang sudah mulai dia rasakan. “Tidak akan terasa sakit, nikmatilah!” seru Oliver sembari mengembangkan senyum separuhnya. Pada akhirnya mencapai puncak kenikmatan mereka. Oliver menghapus peluh Lyla yang sudah banyak di keningnya. Keesokan harinya, Lyla terbangun dengan tubuh yang pegal-pegal, ia mengerjapkan matanya yang masih berat. Telinganya yang sensitif menangkap suara dering yang familier, terdengar dari sebuah ponsel yang terletak persis di samping bantalnya. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Oliver yang masih terlelap sembari memeluk tubuhnya yang tak berbusana. “Sayang, telepon dari Papa, angkat gih!” pinta Lyla dengan lembut, sikap manja Oliver membuatnya semakin gemas. Ia lalu mengecup bibir pria itu sebelum akhirnya Oliver meraih ponselnya. Oliver melirik layar ponselnya sekilas, sebelum menempelkan benda itu di telinganya. “Hallo Pa, ada apa?” sapanya dengan suara serak karena tenggorokannya terasa sakit. “Papa mau bertemu kamu jam 9 pagi ini di kantor, PENTING!” ***
Tak lama kemudian, Oliver tiba di kantor ayahnya. Ia hanya memakai pakai santai, semua staf perusahaan Hans Corporation merasa terkejut dengan kedatangan pewaris tunggal pimpinan perusahaan tersebut. “Apa kabar Oliver?’ tanya Hans yang duduk di kursinya. Tatapan pria itu sangat santai memandang putranya yang baru saja masuk. “Aku baik-baik aja Pa, ada apa memanggilku ke sini?” Oliver balik bertanya. Hans bangkit dari duduknya lalu menghampiri Oliver yang duduk di sofa. “Papa ingin kamu menggantikan posisi Papa menjadi President Direktur bulan depan!” jawab Hans. “Direktur?” Mata Oliver terbelalak. “Tapi aku tidak suka mengurus perusahaan ini, aku ingin bebas dan menjalani hidup dengan santai,” tolaknya. “Tolong jangan mengecewakan Papa, ini demi masa depan kamu, siapa lagi yang melanjutkan kerajaan bisnis kita selain kamu Oliver,” tegas Hans sedikit memaksa. Oliver tetap tak bisa menerima permintaan ayahnya, bekerja dan berpakaian rapi sungguh bukanlah sesuatu yang dia inginkan, dia ingin tetap bebas menjalani hidupnya. “Baiklah, jika kamu belum siap untuk memimpin perusahaan sekarang, Papa mengerti.” Hans mencoba memahami putra semata wayangnya. “Kalo gitu, kamu ke Jakarta dan menetaplah di sana sementara waktu,” pintanya. “Jakarta?” Oliver menatap dengan mata yang terbuka bulat sempurna. “Kenapa harus ke sana? Ada apa?” Oliver bingung. “Kamu lanjutin keliahmu di sana, Papa sudah mendaftarkanmu di sebuah universitas swasta terbaik di sana, kamu hanya tinggal pergi ke sana, paham!” tutur Hans menatap putranya senyum miring. “Kuliah?” Oliver semakin tak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. “Nggak, aku nggak akan pergi, aku nggak akan pernah ninggalin Lyla di sini sendirian,” tolaknya. “Astaga, Oliver. Kenapa kamu begitu lemah sama wanita itu, pikirkan masa depanmu, jangan diperbudak oleh cinta,” kesal Hans. “Ingat, kamu pewaris perusahaan ini, pergi ke Jakarta dan tinggalkan wanita itu!” titah Hans dengan tatapan tajam. “Aku nggak akan pernah menuruti permintaan Ayah, jadi tolong jangan paksa aku, dan jangan pernah berpikir untuk memisahkan aku dengan Lyla, tolong!” tegas Oliver sembari membalas tatapan itu. Sekarang Oliver mengerti kenapa ayahnya mengirinya dia ke Jakarta, ternyata masih dengan tujuan yang sama, memisahkan dia dengan sang kekasih. “Jangan pernah membantah, Oliver, kamu akan menyesal jika kamu tetap keras kepala,” ancam Hans kepada putranya. “Aku tidak takut!” seru Oliver. Oliver bangkit dan berniat untuk pergi dari ruangan itu. Namun, Hans memanggilnya. Kontan Oliver menghentikan langkahnya. “Kamu ingat satu hal Oliver...” ucap Hans menatap putranya dengan tajam. Oliver hanya menoleh sedikit. “Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, jadi jangan bertindak seperti pecundang, camkan itu!” Oliver hanya mendengar tanpa berkomentar apapun. Ia merasa sudah tak punya urusan lagi di perusahaannya dan memutuskan untuk pergi. Selepas Oliver pergi dari ruangan itu, Hans mencoba menghubungi seseorang. Ia menaruh benda persegi panjang itu di telinganya. “Sepertinya anak itu tak bisa diatur, jadi lakukan pekerjaan kalian dengan baik, saya tak suka kegagalan,” ujar Hans kepada pria di seberang teleponnya. Setelah itu, ia menutup teleponnya secara sepihak. Tidak lama kemudian, Oliver dan sahabatnya bernama Nicole sampai di rumah Lyla . Oliver turun dan menghampiri Lyla yang sudah menunggu di depan rumahnya. “Kamu cantik sekali malam ini!” puji Oliver kepada sang kekasih. “Makasih,” jawab wanita itu tersipu malu. Keduanya saling memandang sejenak menikmati detik kebersamaan mereka. “Helloooo! Buruan! Romatisannya nanti aja!” teriak Nicole meledeki keduanya. “Bawel lo Nic!” seru Oliver. “Yuk!” ajak Oliver. Lalu membuka pintu mobil untuk Lyla, Oliver bergegas kembali ke kemudinya lagi yang ada di sebelah kanan. *** Mobil Ferrari berwarna merah tiba di Garden Bar. Oliver dan Lyla turun dari mobil lalu penjaga Bar pun mengantar mobil mereka ke parkiran. Nicole menyusul di belakang mobilmereka. Mereka bertiga masuk ke Bar, terdengar suara musik khas sebuah Bar. Mereka langsung menuju bartender. “Tiga botol bir,” kata Oliver. Inilah kebiasaan yang tak bisa dia hilangkan dalam hidupnya, minuman sudah menjadi kekasih keduanya. “Jangan terlalu banyak minum, nanti kamu mabuk lagi,” anjur Lyla. Hampir setiap hari ia selalu mengingatkan hal ini, tapi Oliver tetap saja tak bisa menjauhi minumannya. “Iya sayang, jangan khawatir.” Oliver hanya tersenyum santai, seperti biasanya. Mereka lalu duduk di sofa yang terlihat masih kosong. Beberapa menit kemudian pelayan membawa minuman mereka. Lyla hanya memesan red wine, karena dia tidak menyukai bir. Ia duduk di sebelah Oliver, lalu menuangkan red wine kesukaannya. “Cheers!” ucap mereka bersamaan saat mereka bersulang. “Oh iya, Lyla!” ucap Oliver sedikit meninggikan suaranya. Suara musik yang keras cukup membuat mereka kesulitan berbicara pelan. “Iya, kenapa Oliv?” Lyla menoleh ke arah Oliver, masih terlihat santai sekali sembari menikmati red wine-nya. “Aku ke Jakarta dalam waktu dekat,” jawab Oliver memandang wanita itu. Awalnya dia ragu memberitahukan ini kepada Lyla, ia tahu hal ini akan membuat wanita itu kecewa. “Kenapa harus ke Jakarta?” tanya Lya. Pertanyaan itu memang sebuah tanda jika wanita itu tidak menyutujui hal itu. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun untuk melarang Oliver melakukan apapun yang dia inginkan. “Aku kuliah, ayah memintaku untuk berangkat ke sana melanjutkan kuliahku, aku juga nggak paham jalan pikirannya,” keluh Oliver. Ia meraih tangan wanita itu dan mengecupnya. “Aku ingin kita tetap sama-sama, lalu menikah dan hidup bersamaku,” ujar Oliver. “Tolong bersabar dan tunggu aku kembali, atau kamu menyusulku ke sana,” harapnya. “Aku juga ingin melakukan itu, tapi papaku... dia pasti akan melarangku,” lirih Lyla. Adegan penuh dramatis tersaji di depan mata Nicole, lalu dia menderham dengan sengaja. Hampir saja dua bibir itu menyatu jika saja Nicole tidak mengganggu. “Berasa kayak nonton drama korea gue,” ledek Nicole, sifatnya yang lucu sedikit selalu membuat dua sejoli itu merasa terhibur. Oliver tahu perasaan Lyla saat ini, tapi ia terpaksa menuruti keinginan ayahnya. Tak ada pilihan lain bagi Oliver untuk menolak hal itu. “Maafin aku ya, Lyla,” lirih Oliver. Nicole hanya terdiam tidak ingin ikut campur urusan Oliver dan Lyla. “Aku mau ke toilet sebentar,” Sontak Lyla bangkit dan mengayukan langkahnya ke toilet. Matanya sudah terlihat berkaca, rasanya ingin segera menumpahkan kesedihannya. Oliver berusaha membuat dirinya santai. Ia meneguk sebotol bir ada di depannya. Sehabis botol pertama, lalu menegukkan botol kedua dengan cepat. “Udahlah Oliv! Santai aja! Urusan perempuan itu gampang, nggak usah dipikirin,” ucap Nicole menepuk-nepuk bahu Oliver. Pria itu hanya tersenyum mendengar kalimat motivasi dari sahabatnya itu. “Aku hanya takut, terjadi sesuatu sama dia, itu aja.” Oliver mengangkat bicara. “Lyla akan baik-baik aja,” ucap Nicole mencoba meyakinkan kegundaan sahabatnya. Ia sepertinya sudah mulai merasa mabuk. Sudah tiga botol bir ia habiskan. Ia memang penggila minuman, bahkan satu krat pun tidak cukup untuknya. Dua puluh menit telah berlalu, Oliver sudah mulai mengkhawatirkan Lyla, ia belum juga kembali ke meja itu. Tanpa berpikir panjang, Oliver langsung menghampiri wanita itu ke toilet. Ia mencari keberadaan sang kekasih, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam toilet pria. “Lyla!” Mata Oliver membelalak sekaligus emosinya memuncak ketika melihat seorang laki-laki berbadan kekar sepertinya mencoba memperkosa Lyla. ***
“Hentikan!” teriak Oliver seraya memberi satu tendangan ke punggung pria itu. Sontak pria itu pun terkapar di lantai, ia segera menarik tangan Lyla untuk memastikan wanita itu dalam perlindungannya. Lyla tahu bagaimana jadinya jika Oliver sedang marah, ia tidak akan peduli siapa dan bagaimana besarnya orang itu. Oliver pasti akan menghajarnya habis-habisan. “Lo udah berani sentuh kulitnya, berarti lo harus masuk rumah sakit, bajingann!” teriak Oliver seraya menghantam wajah laki-laki itu berkali-kali, hingga ia terpental ke tembok. “Oliv, sudah Oliv! Dia sudah nggak berdaya, Pliss...” pinta Lyla dengan nada lirih. Ia berusaha menahan tangan kekasihnya yang hendak melangkah dan menghajar pria tinggi berkepala botak itu. “Tapi Lyla, aku harus menghajarnya—” “Sudahlah Oliv,” potongnya. “Kita balik ya, Pliss! Aku nggak mau terjadi apapun sama kamu, apalagi berurusan dengan polisi, kita pulang ya,” ajak Lyla sedikit memohon. Mereka keluar bar lalu bergegas pulang, mereka terpaksa pulang lebih dulu daripada Nicole. Dan Oliver juga sudah mengabari Nicole jika mereka sudah pulang. “Thanks ya, Oliv. Untuk kesekian kalinya kamu jadi pahlawan buat aku,” ucap Lyla. “Itu tugas aku, kewajiban aku, dan aku harus selalu melindungimu.” Oliver menatap dengan teduh wajah cantik di sebelah kirinya. “Aku nggak tau cara membalasnya, kamu pria terbaik dalam hidupku,” ucap Lyla memperlihatkan senyum yang berbeda malam ini, sedikit datar. Oliver memandang wanita dengan rasa bersalah, lalu tangan kirinya mencubit pipinya. “Hei, tersenyumlah, aku nggak suka melihatmu bersedih,” ujar Oliver sembari melayang senyum menawannya. “Bagaimana aku bisa tersenyum, sebentar lagi kamu akan pergi ninggalin aku, Oliv,” lirih Lyla. Bola mata coklatnya berkaca saat memandang kekasihnya. “Berpisah bukan bukan berarti kehilangan, aku akan selalu ada dalam hari-harimu, sekalipun aku nggak ada di sampingmu, percayalah,” tegas Oliver seraya mengelus pipi Lyla dan tersenyum. Tidak lama kemudian, mereka tiba di apartemennya. Tak ingin menghabiskan drama di dalam mobil, mereka langsung ke apartemennya yang berada di lantai 10. Terlihat wajah Oliver sangat lelah, Lyla pun membiarkan pria itu duduk sejenak di sofa. Ia lantas masuk ke dapur dan kembali membawa obat untuk membersihkan luka yang ada di sudut bibir pria itu. Setelah selesai membersikan daraah yang keluar dari bibir Oliver, Lyla pun berniat untuk bangkit dan kembali ke dapur mengantar obat itu, tapi Oliver menarik tangan Lyla. “Duduklah, temani aku malam ini.” Suara lembut Oliver berhasil menghipnotis wanita itu hingga menurutinya. Lyla pun tidak banyak komentar, ia menuruti Oliver. Lyla menaruh obat itu di atas meja, lalu kembali duduk seperti posisi semula. “Kamu tetap cantik di mataku,” puji Oliver menatap wajah Lyla yang anggun. Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa menatap Oliver dengan tatapan mesra. Lalu senyuman terbit di wajahnya. “Kamu hati-hati di Jakarta, aku janji akan menemanimu di sana,” ucap Lyla. Suaranya memang terdengar sedih, Oliver segera memeluk wanita di depannya itu dengan penuh cinta. “Iya, aku pasti tunggu kamu,” sahut Oliver dengan penuh keyakinan. Ia melepas pelukan itu, perlahan Oliver mendekati wajahnya ke muka Lyla. Seketika wanita itu pun memejamkan matanya ketika wajah Oliver mulai mendekat. “Aku pasti akan sangat merindukanmu,” bisik Lyla. Ia tahu apa yang akan Oliver lakukan kepadanya, ia hanya pasrah dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang dia inginkan malam ini. Lyla merasakan sebuah getaran dalam tubuhnya ketika bibir Oliver mendarat di bibirnya. Suhu tubuhnya mendadak panas, degup jantungnya berdetak sangat cepat. Ia turut menikmati kecupan itu dengan perasaan bahagia. Cukup lama hal itu berlangsung, lalu Oliver menghentikan tindakannya, dan kembali menatap Lyla dengan tatapan teduh dan menyenangkan. “Aku bahagia malam ini,” ujar Oliver seraya menangkupkan tangannya di kedua pipi Lyla “Aku juga Oliv, terima kasih untuk kehangatan ini.” Lyla merasa malam ini memiliki atmosfir yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, ia merasa sebentar lagi akan berpisah dengan kekasihnya. “Beristirahatlah, kamu pasti lelah hari ini,” suruh Oliver dan menarik pelan tubuh Lyla ke arahnya. Dan memeluk wanita itu dengan erat. “Tolong kabari aku jika kamu di Jakarta,” pinta Lyla dengan penuh harapan. “Iya, aku janji.” Oliver lalu membiarkan Lyla istirahat. Ia selalu berharap situasi seperti ini akan selalu mereka temui, sekalipun ia tahu waktunya hanya tinggal sebentar ia berada di kota ini. Oliver pun mencoba memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia senang bisa melewatkan malam bersama sang kekasih, keadaan yang tidak akan dia temukan lagi setelah ini. *** “Oliver,” ujar seorang wanita yang sangat menyayanginya, seorang Ibu yang selalu mendukungnya selama ini. “Mama rindu kamu,” ungkap wanita itu. “Maafin aku ya Ma, aku mau cerita sama Mama,” kata Oliver. Ia lalu duduk di sebelah mamanya. “Kamu mau ngomong apa? Tentang Lyla?” tanya Wina. “Aku ingin minta restu Mama untuk menikah dengan Lyla, aku sangat mencintainya Ma, tolong jelasin ke Papa, mungkin dia akan mengerti setelah Mama berbicara dengannya,” pinta Oliver. “Mama selalu mendukungmu, siapapun wanita yang kamu pilih, Mama setuju,” kata Wina dan tersenyum. “Baiklah, Mama akan coba bicarakan ini,” sambungnya. “Makasih ya Ma, mama memang terbaik.” Oliver lalu bangkit dan mengecup pipi ibunya. Ia bergegas pergi dari tempat itu dan kembali ke apartemennya. Beberapa jam setelah kepergian Oliver, Wina menemui Hans di ruang kerjanya yang ada di rumah. Ia juga tak tega melihat putranya tersiksa. “Hans, kita bisa berbicara?” tanya Wina sesampainya di dalam ruangan itu. “Katakan saja, ada apa Wina?” Hans baru saja menyelesaikan isapan rokoknya. “Mau sampai kapan, kamu dan Oliver terus seperti ini, apakah kamu sebagai orang tua tak bisa mengalah untuk anakmu?” Nada Wina terdengar kecewa. “Oh, soal Oliver, apa yang anak itu katakan padamu, jangan membelanya, karena dia tak pernah menghargai kita sebagai orang tuanya,” kesal Hans. “Bersikaplah dewasa, anak kita sudah gede, dia bisa menentukan pilihan dan jalan hidupnya sendiri, kita dukung, bukan memaksa kehendak kita, tolong pikirkan lagi tujuan kamu memisahkan dia dengan Lyla dengan cara mengirimkan Oliver ke Jakarta, dia akan tersiksa,” lirih Wina. “Sudahlah Win, tolong jangan membela mereka, aku melakukan ini untuk kebaikannya, kebaikan keluarga Hans, paham!” tegas Hans. “Kamu memang egois, Hans,” ucap Wina dengan kecewa. Lalu pergi dari tempat itu dengan kekesalan. Oliver sudah tiba di apartemennya, ia mendengar suara seseorang sedang memotong sesuatu di dapur, ia pun langsung menghampiri suara itu. Dia melihat Lyla sedang memasak sop ayam, ia tak ingin mengganggu kekasihnya. Ia lalu bergegas mencuci wajahnya di washtafel, ia melihat wajahnya di cermin. “Aku yakin, suatu hari nanti, aku akan membelimu sebuah pulau dan kita akan menghabiskan waktu berdua di sana,” ucap Oliver seraya memandang wajahnya di depan cermin itu. Tidak lama kemudian, Lyla menghampirinya dan membawa semangkuk sop ayam. Ia tahu sejak dulu Oliver sangat menyukai sop ayam. “Kamu bakal kangen sop ayamku,” ucap Lyla melihat Oliver menikmati sop ayam buatannya. “Tentu saja aku bakal kangen, ini sop ayam terenak yang pernah aku makan,” ungkap Oliver tersenyum memuji masakan wanita cantik di depannya. “Makasih ya, aku seneng liat kamu kayak gini, andai saja aku bisa menahanmu untuk tetap di sini, tapi itu nggak mungkin,” ucap Lyla menatap Oliver dengan sendu. “Maafin aku ya, aku janji akan selalu menghubungimu.” Oliver tersenyum kemudian menghabiskan sopnya. “Aku percaya sama kamu, Oliv.” Lyla membalas senyuman itu. “Oiya, entar malam jalan-jalan ya,” pintanya di detik berikutnya. Ia berniat untuk menghabiskan sisa waktu ini bersama kekasihnya, ia tahu setelah itu hari-harinya akan terasa berbeda tanpa Oliver lagi. “Boleh, aku juga ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu,” ujar Oliver lalu meneguk secangkir teh yang sedari tadi dalam genggamannya. “Mumpung kamu masih di sini, aku pengen habisin waktu sama lo.” Senyum indah Lyla kembali terbit di wajahnya, sontak membuat Oliver ikut tersenyum. Ia sangat menyadari bahwa wanita itu begitu berarti untuknya. “Pasti, aku selalu punya waktu buat kamu nanti,” ujar Oliver dan kembali meneguk tehnya. Keduanya sangat bahagia menikmati pagi yang cerah ini, canda tawa tersaji bersama kehangatan pelukan mereka. Malamnya, Oliver dan Lyla dalam perjalanan menuju apartemennya. Tanpa diduga Mobil mereka dibuntuti oleh lima mobil hitam yang tak mereka kenal. “Oliv, mobil itu kayaknya mengikuti kita,” ujar Lyla seraya melirik lima mobil itu dari sepion mobilnya. “Kamu tenang ya, aku akan coba mengelabui mereka,” kata Oliver dengan tenang. Oliver lalu mempercepat laju mobilnya, ia meminta Lyla untuk tetap tenang dan mempercayakan semua masalah itu kepadanya. Ia melihat wajah Lyla sangat panik. “Oliv, mereka mengejar kita.” Suara Lyla sangat panik, tapi Oliver berusaha menanangkan kekasihnya. “Kamu santai ya Lyla, OKE, semua akan baik-baik aja,” Oliver tetap fokus melajukan mobilnya, kejar-kejaran terjadi di jalan Juanda menuju bandara. Oliver meminta Lyla untuk menelpon Nicole. Lyla yang sedikit panik tetap berusaha tenang dan mencari kontak Nicole di ponsel Oliver. Panggilannya tidak terjawab, ia lalu mengirim pesan kepada Nicole. Setelah itu ia menengok ke belakang. “Oliv, Gimana? Aku takut, mereka udah deket banget,” lirih Lyla merasa takut sekali. Oliver tiba-tiba menginjak rem secara mendadak. Dua mobil sudah mengahalangi mobil mereka. Beberapa pria keluar dari mobil itu menggunakan penutup wajah. ***