"Ahk sakiiiiit...." Pekik seorang wanita tanpa busana dengan paha terbuka lebar. Tanpa basa basi pria tampan itu langsung menghantam lobang kewanitaan wanita berkulit putih itu sampai terasa hangat cairan membasahi batang pusakanya. Tangan nya segara memeriksa cairan hangat yang menempel di kepala dan batang pusakanya. Bau amis darah membuatnya tersenyum puas seraya meraih saputangan putih dari sisi ranjang. Ia lalu membersihkan batang pusakanya dan lobang kewanitaan dari darah, bahkan ia membungkus telunjuknya dengan saputangan putih lalu ia masukan ke dalam lobang kewanitaan perempuan yang sedang berbaring itu. Setelah meletakan saputangan dengan noda darah perawan. Didalam kotak yang selalu ia siapkan disamping ranjang. Pria tampan bertubuh kekar dengan kulit putih itu menjilati lobang nikmat wanita itu. Wanita itu menggelinjang nikmat. Dengan tangan meremas dua gundukan daging sinyal di dada wanita itu, pria gagah itu menaikinya dan mulai membenamkan kembali pusaka nya. Mengayun perlahan dan semakin cepat. Desahan wanita itu membuatnya semakin bergerak cepat,bokongnya terangkat dan menekan sampai akhirnya menekan dalam dan dengan cepat mencabut pusakanya dan menyemprot kan cairan kental berwarna putih diatas saputangan yang sudah ia siapkan. Ritual tirakat darah perawan pertama yang ia lakukan selesai sudah. "Lirik linglang sanggurilang asih, asih aing Sanghyang mata. Bumi graha darah harta, Artha na Santosa, Lumintang Sangkala Batara Artha loh jinawi.." Ucap Japri membacakan mantra turun temurun leluhur nya sambil membakar kain putih dengan darah perawan yang baru ia nikmati. **** Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Japri Darmawan pemilik group Indra jaya utama. Yang usahanya seperti kerajaan gurita, dari mulai pom bensin, rumah sakit, gunung batu dan pengerukan pasir, rental alat berat,toko emas dan entah berapa juta pintu kontrakan yang dimiliki nya. Japri Darmawan adalah keturunan ketiga dari Indra jaya group. Dan ia hanya mempunyai satu orang putera tunggal pewaris kerajaan bisnis nya. Darmawan Indra pria tampan yang berusia 23 tahun yang baru menyelesaikan studinya diluar negri. Walaupun belajar diluar negri Indra dari kecil sudah dijejali ilmu leluhurnya. Dan dengan patuh Trisna mengikutinya. " Indra, mulai lah melakukan tirakat setiap Selasa legi dengan seorang perempuan yang masih perawan...!" Ucap Japri pada putra tunggalnya saat baru saja ia merayakan ulang tahun nya yang ke 23 tahun. Dan sebagai hadiah ulang tahunnya Japri memberikan hadiah kunci kamar hotel dengan wanita perawan didalamnya. " Ini pelepasan bujang kamu, air mani ( sperma) pertama kamu, jangan kamu keluarkan didalam rahim perempuan itu. Tapi kamu simpan dalam saputangan ini bersama dengan darah perawan wanita itu." Pesan Japri pada Indra. Sesuai adat leluhurnya ia harus langsung mengajarkan pada putranya. Begitupun nantinya Indra harus mengajarkan keturunannya seperti ayahnya mengajarkan dia sekarang. " Bapak..? bagaimana kalau ternyata wanita itu sudah tidak perawan...?" Tanya Indra. " Untuk tirakat Selasa legi, perempuan yang akan masuk kamar akan diperiksa dulu apakah dia masih utuh selaput daranya atau tidak. Kamu tidak usah khawatir, si Desi asistennya Pak Dadamg sudah mengetesnya. Dan untuk selanjutnya Desi akan mengatur kan setiap waktu tirakat." Jawab Japri sambil menepuk bahu putranya. Indra bukan pemuda yang bergaul bebas, untuk ukuran pemuda tampan dan modern masih langka di isi 23 tahun masih perjaka tingting, yang dengan sabun pun belum pernah. Indra begitu patuh dengan aturan keluarga nya. Dan malam ini malam pertama ia melakukan ritual tirakat darah perawan dengan perempuan uang ia sendiri tidak tahu namanya. Sejak malam itu Indra menjadi lebih bersemangat lagi menjalankan bisnis keluarga nya yang semakin maju saja. Dan malam ini bersama beberapa orang kawannya ia mendatangi club' malam di kawasan puncak. Untuk pria tampan dan berduit seperti nya tidak lah susah mendapatkan wanita mau model apapun. Tanpa ragu Indra menarik seorang wanita pemandu lagu yang paling cantik menurutnya. Indra masih penasaran dengan lobang hangat yang ia nikmati dua hari lalu. Setelah minum beberapa sloki ia segera menarik wanita itu ke sofa bed yang ada diruang karaoke itu. Beberapa orang kawannya mentertawakan dirinya. " Nafsu banget yang baru pulang dari Amrik..!?" Ujar salah seorang sahabat nya. Indra tidak memperdulikan nya, ia langsung membuka blouse yang dipakai wanita itu dan menghisap puting susunya dengan sangat bernafsu sambil meremas nya. Wanita itu begitu menikmati sentuhan Indra. Bahkan dengan berani wanita itu mengeluarkan pusaka Indra yang sudah berdiri tegak dari dalam celana nya. Wanita itu menjilati pusakanya yang besar dan panjangnya melebihi rata-rata pria Asia. Indra yang sudah tidak tahan segera mengarahkan pusaka nya kedalam lobang milik wanita itu. Namun Trisna sedikit kecewa , karena ia tidak merasakan kenikmatan seperti dua hari lalu. Kenikmatan perawan yang masih disegel. Rasanya pusaka nya keluar masuk biasa saja tidak ada jepitan atau cengkraman seperti yang ia rasakan kemarin. Indra menoleh pada kawannya yang juga sedang menyodok liang wanitanya dengan posisi dari belakang. Indra yang memang belum berpengalaman segera mengikutinya. " Ahk lumayan agak terasa sempit.." batin nya. Sementara wanita nya terus memekik nikmat dengan sodokan Indra yang luar biasa dengan pusakanya yang besar. Entah berapa kali wanita itu sudah mencapai puncaknya. Hampir satu jam Indra baru bisa menemukan kenikmatan nya. **** Bik Desi asisten pribadi Haji Japri Bapaknya Indra sudah bekerja hampir 30 tahun dari sejak Haji Japri masih bujang. Bik Desi jugalah katanya yang dulu mengatur kan ritual tirakat perawan untuk haji Japri. Bik Desi adalah adik ayahnya haji Japri. Bik Desi tidak menikah lagi sejak suaminya meninggal dan ia terus ikut dengan haji Japri setelah orangtuanya meninggal. " Ndra ..?lusa ritual Selasa legi. Mulai lah hari ini puasa tiga hari dan baru buka puasa hari Selasa jam 3 pagi."ucap Bik Desi sambil merapikan kamar persembahan dipondok kecil seperti rumah minimalis di sudut kediaman Japri yang lebih iantas dibilang istana. " Bik, apa harus selalu dikamar ini,, ? Kenapa ga dihotel aja sih..?" Tanya Indra. " Sebaiknya nya dikamar ini Dra ini kamar lumbung abadi. Kakek buyut kamu juga selalu disini melakukan ritualnya..." Ujar bik Desi menjelaskan. " Bik, apa kalau nanti aku punya anak perempuan hatus melakukan hal ini juga...?" Tanya Indra yang masih saja penasaran. Bik Desi menganggukkan kepalanya. " Iya Ndra seperti bibi. Tapi bibi gagal, karena bibi malah jatuh cinta dengan pria bujang yang ke empat kali sampai bibi hamil." Jawab bik Desi dengan sedih. " Terus anak bibi mana...?" Bik Desi menggelengkan kepalanya. " Dia meninggal sehari setelah dilahirkan, dan suami bibi meninggal tiga bulan dari itu. Sejak itu bibi trauma untuk menikah lagi. Sudah berapa puluh kali dijodohkan, bibi ga mau. Bibi ga sanggup kalau keturunan bibi harus melakukan ritual ini."ujar bik desi. " Memangnya benar ya Bik, kalau ritual ini tidak dilanjutkan, harta kita akan habis...?" Tanya Indra. " Iya Ndra, seperti paman kamu yang melanggar adat leluhur, dia menikahi wanita persembahan karena... yaitu tadi godaanya adalah jatuh cinta. Makanya kamu jangan sampai jatuh cinta sama wanita persembahan, karena kalau sampai kamu menkahi wanita persembahan kamu harus mengulang dari awal lagi, dengan persembahan 333 darah perawan, dan itu kamu lakukan setekah menikah. Itu susah sekali." Indra merinding mendengar penjelasan bik desi tentang adat leluhurnya.
Beberapa tahun sebelumnya, Dengan peluh membasahi tubuhnya Japri terus berjalan menyisir tepi pantai karang Nini Pangandaran. Tujuannya hanya satu,menemui kuncen tempat keramat di karang Nini seperti yang di lihat dalam mimpinya. Hampir Maghrib Japri baru menemukan kediaman kuncen yang bernama Abah Wiranta. Setelah mengisi buku tamu, pria tua dengan kopiah hitam itu menyerah kan kertas putih dan tiga batang dupa juga tiga butir batu menyan berwarna hitam dan tiga batu menyan berwarna putih. " Weton kamu Selasa nak...? Puasa lah di keramat 4 selama 3 hari. Abah antar kamu besok, tirakat dimulai besok hari minggu jam 3 sore, mulai lah puasa dan dihari terakhir puasa selasa pukul 3 dini hari. Kamu hanya boleh minum air putih,telur ayam rebus, singkong rebus...! Mengerti...?" Ucap Abah Wiranta. Japri mengangguk. " Lalu dupa ini dibakar saat dimulainya tirakat besok pukul 3 sore dupa ini jangan sampai padam, segera nyalakan dupa lainnya ketika hampir mencapai kayu merah,,,! Ingat jangan sampai padam..! Kalau sampai padam kamu harus mengulang dari awal...!"tegas Abah Wiranta. Japri kembali mengangguk. " Ini hapalkan,,,! didalam gua itu gelap sekali kamu tidak akan bisa membacanya.!"Abah Woranta menunjuk selembar kertas putih yang berisi petunjuk ritual didalam gua keramat empat, dan tiga ajian utama yang harus diucapkan. Dan satu ajian yang harus terus di kumandangkan dalam hati sambil memejamkan mata dalam keheningan semesta. " Kalau tidak hapal bagaimana Bah...?" Tanya Japri. " Kalau memang jodoh kamu, kamu akan mudah menghapalkannya.!" Ucap Abah Wiranta seraya berdiri. Sepeninggal abah Wiranta, Japri keluar dari ruangan kuncen laku duduk diteras rumah Abah Wiranta sambil memegang kertas dan perutnya yang mulai menjerit. Sambil bersandar di dinding ia memejamkan matanya pikiranya menerawang terbayang wajah istrinya pasti sama kondisinya sedang kelaparan, kemiskinan membuatnya nekad mendatangi tempat ini, entah karena ucapan seorang sopir yang datang ditambalban nya sehungga terbawa mimpi atau memang ia diundang untuk datang ketempat ini menemui Abah Wiranta. Sakit hati karena hinaan orang sekeliling nya membuat kakinya terasa ringan berjalan kaki tidak seperti yang lainya datang dengan ojek. Beruntung Japri bisa menumpang Bus Budiman sampai ke Karang Nini, hanya saja karena ia tidak tahu kediaman kuncen hampir seharian ia berjalan mencari kediaman Abah Wiranta. " Jang, sini makan dulu...!" Ajak Abah Wiranta. Japri menyusut airmatanya, saat melihat nasi putih dengan asap yang mengepul saat tutup bakul di buka oleh Emak istrinya Abah Wiranta. " Malah nangis...!" Ujar Abah wiranta. " Apa anak dan istri saya makan bah..?" Isak Japri. " Insyaallah anak istri kamu makan...! Ikuti Abah...!" Ucap abah Wiranta. Japri yangvtadinya menundukkan kepalanya langsung mendongak, melihat dan memperhatikan yang dilakukan abah Wiranata. Bah wiranta mengisi piringnya dengan Nasi putih tiga centong, lalu menyerahkan centong nasi pada Japri. Japri segera mengikutinya,mengusi piringnya dengan tiga centong nasi putih. Lalu Bah Wiranta mengambil sepotong ayam goreng,sambal, tahu goreng, sesendok tumis kankung dan sepotong mentimun lalu menunjuk Japri untuk mengikutinya. Dengan cepat Japri mengikuti apa yang dilakukan Abah Wiranta. " Sekarang ikuti Abah, lakukan dengan hati dan bayang kan anak istri kamu..!" Ucap bah wiranta. Japri mengangguk. " Sangu Jeung deungeuna, lain seubeuh jang beueteung sorangan, sangu jeung deungeuna, seuebuh jang anak pamajikan. " Ucap abah wiranta yang segera di ijuti oleh Japri yang sedikit kesulitan saat mengucapkan bahasa sunda,karena dia orang Sumatra. Bah Wiranta tersenyum. " Intinya, kamu niatkan makan semua hidangan ini untuk mengenyangkan anak dan istri kamu, insyaallah anak dan istri kamu juga disana makan. Entah darimana ,,? Insyaallah mereka makan.." ujar Abah wiranta. Dengan berlinang airmata kapri menyantap dengan nikmat makanan nya, entah kenapa dalam penglihatannya ia melihat Arini dan Indra putra nya sednag makan dengan nikmat bersamanya. Esoknya selepas sholat Dzuhur, Abah Wiranta mengajak Japri untuk bersiap berangkat ke keramat empat. " Jang, ini buat bekal disana ada singkong rebus dan telur ayam. Ini air putihnya..!" Japri langsung memeluk lutut Emak yang spontan mengelus kepala Japri. " Yang kuat Jang, sabar..! Didalm banyak godaannya...! Emak doakan kamu akan jadi orang yang sukses.." ujar istrinya abah Wiranta. Dengan menggunakan mobil Toyota hardtop milik Abah Wiranta yang dikemudikan oleh seorang pria, Japri duduk di belakang. Sampai di bawah bukit karang Nini, termuata sidah Banyak orang disana menunggu Abah Wiranta. " Mandi lah dulu di pancuran air pohon keramat untuk membersihkan badan kamu...!" Titah Abah Wiranta. Tepat pukul dua siang Japri yang sudah membersihkan diri berjalan mengikuti Abah Wiranta bersama beberapa orang lainya yang mempunyai niat yang sama. " Yang lainya tunggu dulu disini, Abah mau mengantar yang ke keramat satu dulu,," ujar Bah Wiranta. Ada sepasang suami istri berjalan mengikuti Bah wiranta naik menuju bukit keramat satu. " Itu mau nyalon kades, keramat satu itu untuk orang-orang yang mau pangkat atau jabatan, banyak juga yang mau masuk polisi atau tentara tirakat disitu." Ujar pria yang jongkok disebelah Pak Rahman pembantu Abah Wiranta. Pak Rahman kuncen jaga di tempat keramat karang Nini. Setelah hamoir lima belas menit menunggu Abah Wiranta turun dari bukit keramat satu. Kami pun berjalan lagi menyusuri hutan, " Kalian tunggu dulu disini...! Abah antar yang ke keramat dua dulu..!" Ucap Abah Wiranta. " Keramat dua ini apa Pak...?" Tanya Japri pada pak Rahman. " Ini pinjaman Goib, ," jawab pak Rahman sambil merokok. Setelah abah wiranta turun kamipun melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi Abah Wiranta berhenti dan menyuruh kami menunggu. " Ini keramat juga...?" Tanya Japri pada pak Rahman. " Iya ini keramat tiga, perjanjian pribadi dengan penguasa laut. Biasanya pemyerahan anggota keluarga." Japri melihat kebawah menatap punggung seorang pria yang begitu ringkih berjalan mengikuti Bah Wiranta. Tinggal Japri dan pak Rahman yang menunggu kali ini. " Pak,emangnya disini ada berapa keramat..?" Tanya Japri. " Disini ada lima keramat, yang kelima itu guanya masuk kebawah laut. Yang kesana hanya orang-orang pilihan. Sama dengan kamu ke keramat empat biasanya karena undangan melalui mimpi atau wangsit dan bisa juga wasiat atau turunan." Pak Rahman menjelaskan. Japri terdiam, dia berpikir labagaiman pak rahman tau kalau ia datang karena mimpi. " Yuk kita jalan...!" Ajak abah wiranta. Perjalanan menuju keramat empat cukup jauh, menyusuri pasir pantai. Japri melihat laut lepas dengan ombak nya yang tinggi. Setelah berjalan hampir dua puluh menit akhirnya sampai di mulut gua, di pojok sebelah kanan Japri melihat ada seorang pria sedang berbaring memejamkan matanya. " Selama didalam kamu tidak boleh bertanya ataupun berbicara dengan orang yang ada disini. Tidak boleh bersuara..! Kalau kamu merasa tidak kuat, segera turun ke bawah temui Rahman...!" Ujar abah Wiranta sebelum merek masuk kedalam gua. Abah wiranta menggelar tikar lalu menggajak Japri duduk diatasnya. Dari tas tikar yang dibawanya Bah wiranta mengeluarkan dupa dan korek api lalu menyalakan nya. Hawa dingin tiba-tiba terasa meniup tengkuk Japri. " Kamu niatkan tirakat dan selalu sebutkan keinginan kamu dalam hati. Dan teeus baca ajian nya. Hadapi apapun yang datang...! Ingat dupa jangan sampai padam, kamu boleh makan telur dan singkong kalau kamu merasa lapar. Tidak boleh merokok..!" Pesan Abah wiranta sebelum meninggalkan Japri. Dupa yang dibakar bah wiranta mulai mengeluarkan wangi. Japri mwmejamkan matanya mulai fokus pada ajian. Yang terdengar hanya suara deburan ombak. Sampai suara deburan ombak berganti menjadi suara Gending yang merdu mengiringi langkah para wanita cantik dengan kemben hijau dengan selendang hijau kain sinjang putih, para wanuta berambut panjang dengan mahkota kecil di kepala nya tersenyum pada Japri.
"Aaaahk... Sakiiiiit....!" "Ampuuuuun pak .....! Ampuuuuun sakit...!" Jerit suara perempuan yang kalau didengar dari suaranya masih belia. Suara jeritan berasal dari dalam sebuah kamar. Selang dua puluh menit Japri keluar sambil membawa baki dan masuk kedalam kamar kecil dipojok rumah dan menguncinya dari dalam. " Pangersa semesta raya Ratu Kadita, ratunya ratu raja nya raja, aku persembahkan darah perawan ini...!" Lalu Japri memejamkan matanya. Sambil kedua tangannya terangkat keatas seolah memohon sesuatu. Adzan subuh Japri baru keluar dari ruangan kecil itu. Gegas ia keluar pondok, dan menjalankan motornya pulang. " Pak, sebenarnya kamu dari mana sih..? Apa yang kamu lakukan sebenarnya...?" Tanya Arini istrinya. " Aku sedang merubah hidup kita dek...!" Jawab Japri lalu masuk kedalam kamar mandi dan membwrsihkan dirinya. Japri tersenyum melihat lumbung berasnya penuh, dan penggilingan padi pun tidak pernah sepi. Satu bulan setelah kepulangan nya dari karang Nini hidupnya mulai berubah. Ia mengaku pada istrinya kalau ia dimodali kawannya, dan mulai membuka usaha gilingam padi dan jual beli beras. Satu bulan kemudian Japri meminta istrinya yang pandai masak membuka runah makan Padang yang juga ramai pembeli. Namun setiap selasa legi Japri akan pamit pada istrinya untuk menjumpai kawan nya yang meminjamkan modal, dan Japri selalu menghilang selama tiga hari. Karena kesibukannya, Arini tidak begitu memperhatikannya. Sampai suatu hari mereka membangun rumah besar layaknya istana. Japri berpesan pada istrinya untuk jangan pernah masuk ke rumah pondok tempat nya tirakat tiga hari daei hari minggu sampai selasa pagi. Dan pondok itu selalu terkunci rapat hanya Japri yang bisa keluar masuk ke pondok itu. Namun saat Indra putra tunggalnya mulai remaja Japri mulai menceritakan rahasianya. "Bu, ada yang mau aku bicarakan...! Duduklah...!" Ujar Japri pada istrinya. " Ada apa sih pak...? Serius banget. Lagi banyak kerjaan ini. Ada catering ...!" Jawab Arini. " Duduk sebentar...! Lusa kita berangkat ke Pangandaran...ada yang harus kamu tahu...!" Ujar Japri. Arini memandang curiga pada suaminya. " Apa bapak nikah lagi...?" Tanya Arini. Japri tersenyum,, " Ini bukan tentang aku, ini tentang Indra Putra kita..." Ujar Japri. Arini dengan kepala yang berisi banyak pertanyaan meninggalkan kamar. Ada apa dengan putra nya sampai suaminya segitu merasa penting untuk ke Pangandaran. Dan hari sabtu pagi Japri membawa istrinya ke pantai Pangandaran. Sampai dihotel, Japri meminta istrinya berganti pakaian dengan yang baru ia beli. " Kok daster putih sih pak, ,..?" Tanya istrinya aneh. " Pakai saja,..!" Lalu Japri menyuruh istrinya juga memakai jaket. " Yuk kita temui guru bapak..." Ucap Japri. " Guru apa..?" Tanya istrinya bingung. Japri tidak menjawab, dengan menggunakan mobil Pajero nya jaori membawa istrinya menemui Abah Wiranta. " Bah, ini istri saya..." Ucap Japri mengenalkan Arini pada Abah Wiranta yang nampak semakin tua. Bah Wiranta tersenyum melihat Arini. " Kamu jangan kaget dengan apa yang nanti akan kamu lihat dan kamu ketahui. Taoi kini sudah saatnya kamu sebagai istrinya tahu apa yang membuat hidup kalian berubah, dan apa yang menjadi kewajiban kalian agar semuanya tetao seperti sekarang." Ujar bah Wiranta. Arini menatap bah Wiranta dengan bingung. " Apa kamu bahagaia dengan keadaan sekarang atau kamu ongin kembali seperti tujuh tahun lalu...?" Tanya bah Wiranta. " Ihk amit-amit atub Bah...! Jangan sampai ngalamin lagi kelaparan, aku ga mau Bah, dikejar bayar kontrakan. Anak sakit ga punya uang buat berobat."jawab Arini. Bah Wiranta tersenyum. " Kalau kamu mau terus seperti sekarang dan lebih maju lagi, kalian harus menjaganya dan jangan sampai melanggar nya...! Ya sudah kita berangkat sekarang." Ajak bah Wiranta. " Sedekah lautnya sudah disiapkan sama Rahman ...!" Ucap Bah Wiranta, Japri mengangguk. Beberapa hari lalu ia sudah membeli tiga ekor sapir untuk sedekah laut dimana dagingnya dibagikan ke warga sekitar dan kepalanya akan dibawa ketengah laut. " Bu, mandilah dulu disana...!" Japri menunjuk pancuran air dibawah pohon besar. Walaupun bingung arini mengikuti perintah suaminya yang duduk menunggu di gubuk tidak jauh dari pancuran. Setelah mandi Arini kembali mengenakan daster putih dengan selendang kain sinjang kebat. " Kita puasa tiga hari, dimulai nanti jam tiga sore." Ujar Japri. Arini hanya mengangguk. Dengan berbekal tiga botol besar air mineral singkong rebus dan telur rebus, Arini berjalan sambil berpegangan oada suaminya memgikuti bah Wiranta yang walauoun sudah tia tapi masih berjalan cepat. Arini melihat sekelilingnya, sejauh mata memandang hanya pohon besar yang doa tidak tahu pohon apa namanya besar dan tinggi. " Kalian akan tirakat di keramat lima lanjutan dari keramat empat yanh sebenarnya sudah selesai, kalian hanya tinggal tiap tahun sedekah laut. Namun kalau kalian tidak mau anak kalian akan susah seperri kalian dulu, kalian harus melanjutkan ke keramat lima yang nantinya akan dilanjutkan oleh putra kalian, atau anak kalian lainya." UjarBah Wiranta. Mendengy itu Arini merinding. Suara tongeret mulai bersahutan. Saat alan masuk kedalam gua yang berada tepat dinding laut, dimana untuk lesan mereka harus berjalan miring dengan deburan ombak yang sesekali mengenai mereka. " Ga apa-apa, yakin saja dan oasrah. Insya Alloh kita selamat sampai kedalam gua. " Ujar Abah Wiranta seolah tahu ketakutan Arini yang melihat dinding batu terhantam ombak saja dia sudah takut. " Yuk kita masuk lewat sini...!" Ajak abah Wiranta yang berjalan didepannya. Dengan takut Arini berpegangan erat pada suaminya. Dan sebelum masuk ke sisi lain dalam gua yang mulai gelap. " Kamu hanya duduk disping suami kamu, dengarkan saja apa yang ia ucapkan. Jangan membantah atau bertanya. Ucapkan lafal yang diajarkan oleh suami kamu, teris berukang dalam hati sambil memejamkan mata sampai suami kamu membangunkan kamu...!" Arini mengangguk mengerri walaupun ia takut setengah mati. Di dalam Gua, setelah menggelar tokar Abah Wiranta membakar dupa dan mulai mengucapkan mantra panjang, sbil memejamkan mata. Sementara Japri dan istrinya duduk dibelakang Abah Wiranta. " Abah pulang dulu, kalian yang kuat...!" Pesan Abah Wiranta. " Kita mulai bu, yang tenang...! Atur nafas ucaokan dalam hati ajian yang aku surib hapalkan...!" Ucap Japri pada istrinya. Keduanya mukai memejmkan mata, berserah diri pada alam dengan suara deburan ombak yang menghantam dinding gua. Suara desis ular bersahutan tak menganggu Japri, sementara Arini dengan keringat dingin hampir kencing di celana menahan takut. Namun teringat oesan Abah wiranta dan suaminya, kalau mereka lakukan ini untuk Indra putra tunggal mereka. Wangi melati tiba-tiba mengganti kan wangi dula yang dibakar,dan aemakin lama wangi itu semakin mendekati dengan amgin dingin yang aeolah mwniup wajah Arini. Arini terjaga saat mendengar suaminya seperti berbicara dengan seseorang, lamat terdengar suata halus perempuan dam suara berat laki-laki. " Wilujeung sumping Ratu pangeursa. Ratuna Ratu rajana raja..." Ucap Japri. " Anak kami haeus sudah mulai melakukan tirakat selasa lego sesuai weton nya, dan ingat dia tidak boleh menikah sebelum menyelesaikan syarat darah 333 orang perawan di malam selasa legi. Dan jangan sampai putra kamu jatuh cinta atau menikahi wanita persembahannya. Lakuka. Ini selama tiga turunan, atau kalian akan jadi abdiku selamanya...!" Ucap suara wanuta itu. Arini nyaris pingsan mendengar suara wanita itu, namun ia terus mengucapakan ajian dalam hatinya. Arini sudah tidak bisa lagi mendengar apapun yang ia rasakan adalah tertidur diatas paha seorang wanita canti berkebaya hijau dengan mahkota yang mengusap kepalanya. " Dampingi suami kamu, dan bekali anak kamu dengan apa yang kamu dengan dan kamu lihat sekarang. Itu tugas kamu. " Ucap wanita itu dengan suara lembut dan senyuman. " Bu... Bangun bu... Kita pulang...!" Japri membangunkan istrinya. Arini terkejut dan terduduk. " Pulang pak...? Sekarang...?" Japri tersenyum. Arini berdiri mematung saat dolihatnya ular hijau panjang dengan mahkota dikepalnya seolah menjaga pintu gua. "Pak... Ada ular...!" Ucap Arini sambil berpegangan pada lengan Japri. " Tidak apa-apa,.." " Nyimas,kami pamit...!" Ujar japri saat melewati Ular hijau yang terlihat cantik dengan mahkotanya. Dan saat Arini berjalan ular itu seolah mengantar nya sampai ujung tebing dan yeeus memandang Arini dan Japri.