Mantra Cinta
Bab 1 Chapter 1

Tasya Devanagayu adalah karyawan di salah satu perusahaan swasta yang bergerak pada bidang periklanan bernama Derling. Setiap hari ia harus memutar otaknya, agar suatu produk yang bekerja sama dengan tempat kerjanya dapat dipromosikan dengan baik dan laku di pasaran. Namun akhir-akhir ini, pikirannya harus terganggu oleh kemunculan sosok Ravi Ardiansyah kembali. "Kembali setelah mengambil cuti tahun ini." Tasya menoleh, mendapati rekan kerja satu divisinya yang baru saja datang. "Ya dan aku tidak menyangka bahwa mejaku sudah penuh dengan proposal." Ia memicingkan matanya pada meja kerja yang sebelum cuti telah kosong dan rapi, namun setelah resmi masuk kerja kembali hari ini, sejumlah proposal telah bertumpuk di sana. Dinaya, rekan kerja Tasya itu berhenti sejenak. "Semuanya baik-baik saja?" "Setidaknya aku tidak perlu memakai masker dan kacamata hitam, setiap berjalan di sekitar daerah kantor," balas Tasya mengerti maksud Dinaya. Apalagi kalau bukan tentang pernikahan yang batal. Tiga hari sebelum ikrar sehidup semati diucapkan, Tasya harus menanggung penderitaan bercampur rasa malu oleh perselingkuhan Ravi. "Abaikan saja mereka. Kau cantik, pintar dan memiliki banyak bakat. Sebagian mereka mungkin iri dan menjadikan musibah yang menimpahmu sebagai alasan membicarakannya." Dinaya bukanlah teman dekat Tasya di luar kantor, tetapi setahu Tasya, Dinaya adalah salah satu rekan kerjanya yang tidak munafik dan suka menjatuhkan orang lain. Dinaya bukanlah pekerja yang akan bergosip di kala waktu senggang, memilih menonton acara variety show di ponselnya atau membaca buku di kafe yang berada di depan perusahaan. "Thanks Naya, cuma kau yang bisa kuandalkan di sini," balas Tasya susah merasa tidak terharu dengan ucapan Dinaya barusan. "Apaan sih Tasya, lebay deh." Dinaya paling anti dengan ucapan manis, sehingga tak jarang orang menjulukinya 'putri yang dingin'. Dinaya mulai menuju meja kerjanya yang masih berada satu ruangan dengan Tasya, namun dipisahkan oleh sekat. "Kau masih memiliki kesempatan. Daripada aku, bercerai setelah dua tahun menikah." Tasya terdiam. Ia pun mensyukuri bahwa benar dikatakan oleh Dinaya. Lebih baik menanggung malu dan rasa sakit hati lebih cepat, daripada harus berujung penyesalan tanpa henti. Sudah jadi rahasia umum bahwa Dinaya adalah janda muda. Mantan istri dari seorang pengacara dan tidak memiliki anak. Tasya pun hanya bisa menghela dan menarik napas secara beraturan sambil mulai membaca proposal di depannya. "Oh ya, selama kau cuti Pak Bos sering lihatin meja kerjamu loh." Pernyataan Dinaya tak ayal membuat mata Tasya membeliak. "Apa?" Ia tidak pernah membayangkan tatapan serius dan tajam Albiru Prayoda--direktur dari Derling pada meja kerjanya. Pasti sangat menakutkan. Tasya bahkan telah bergidik membayangkan situasi tersebut. "Ouh, paling dia menggerutu dalam hati tentang bagaimana aku mengambil cuti libur padahal juga batal nikahnya." Dinaya terkekeh kecil. "Bagaimana kalau ternyata Pak Albi khawatir?" Rasa mual langsung menyerbu perut Tasya kala mendengar perkataan Dinaya tersebut. "Khawatir? Mustahil. Ingat ketika dulu kakiku keseleo dan dia tetap memintaku menghadiri rapat dengan klien yang berada di lantai lima tanpa elevator." Seutas kisah pilu yang sampai sekarang terus bersarang di pikiran Tasya dan sejak itu, ia tak pernah lagi mencoba memahami Albiru secara emosional. "Aku memintamu menghadirinya, karena tidak tahu kalau kakimu keseleo hari itu. Kau hanya berkata jatuh dan mengalami luka kecil, kukira hanya lecet di luar saja." Sebuah suara yang beriringan dengan penjelasan membuat Tasya bangkit dari kurisnya dan ketika berbalik, ia telah menemukan seorang pria memakai jas sedang menatapnya datar. "Selamat pagi Pak Albi," sapa Tasya sedikit membungkukkan badannya. Dinaya telah menahan tawanya. Ia bisa melihat Albiru seolah baru saja ditampar oleh perkataan Tasya, tetapi lelaki itu tetap bersikap cool seperti biasanya. "Ya, pagi juga Tasya dan ... selamat bekerja kembali," sapa Albiru balik. "Naya, bagaimana bahan presentasi besok?" Albiru melewati meja Tasya menuju Dinaya. Hal itu membuat Tasya kembali duduk sambil menggigit bibir bawahnya. "Ini Pak, sudah siap. Jam sepuluh besokkan?" Naya bertanya untuk lebih yakin akan jadwal presentasi tersebut. "Benar," balas Albiru mengambil materi presentasi yang telah tercetak, meski ia yakin Dinaya telah mengirimkan bentuk PPT-nya lewat surel. Albiru kemudian mulai berjalan beranjak dari ruangan tersebut, namun sebelum mencapai pintu, ia menoleh ke arah Tasya. "Besok kau yang akan presentasi," tukas Albiru langsung memberi perintah kepada Tasya pada hari pertama kerja wanita itu. "Tapi aku belum tahu materi, bahkan ... tentang tidak tahu apa itu besok," sanggah Tasya seolah mendapat serangan fajar, karena sambutan hangat dari bosnya itu. "Makanya pelajari. Ambil materinya di Dinaya dan datang ke kantor satu jam lebih cepat, kita berangkat bersama." Albiru tidak melihat situasi Tasya sebagai sebuah masalah bahwa wanita itu tidak bisa melakukan presentasi di hadapan klien esok harinya. Setelah pintu kembali tertutup, Tasya tak segan memukul meja kerjanya dengan tinju. Rasa malu dan takut, karena ucapannya tadi telah berubah menjadi rasa kesal dan amarah. "Naya, apa sebaiknya aku sekalian menulis surat pengunduran diri?" Tasya menoleh kepada Dinaya yang sekali lagi menahan tawanya. "Sudah berapa kali kau mengatakan itu, setiap kesal sama Pak Albi?" Dinaya sudah tidak asing dengan penawaran Tasya tersebut. Namun pada akhirnya ia akan melihat wanita itu tetap mengerjakan tugas dengan baik. Tasya meringis. "Harusnya aku datang terlambat tadi," ucapnya kemudian merebahkan kepalanya di atas meja. Menjadikan sejumlah proposal sebagai bantalan. ♡♡♡ Kehadiran Tasya kembali menjadi pusat perhatian karyawan Derling, meski berada dalam divisi yang berbeda. Sangat terlihat ketika berada di kantin perusahaan. Membicarakan Tasya yang pernikahannya batal karena perselingkuhan. Sebenarnya Tasya bisa menyembunyikan penyebab kandasnya rencana pernikahannya, tetapi undangan telanjur disebar dan karena emosi, ia mengirimkan pesan ke seluruh kontaknya bahwa pernikahan itu batal karena perselingkuhan dari calon mempelai pria. Ada yang menganggapnya berani, tetapi banyak juga yang menyindirnya bodoh dengan mengungkapkan aib tersebut. "Tapi harus kuakui, bahwa kau tidak berubah bahkan setelah kejadian itu," ujar Dinaya telah selesai menyantap makan siangnya. Alis Tasya terangkat. "Maksudmu?" "Kau tidak kurus, kering dan pucat. Seperti orang yang patah hati." Tawa Tasya langsung meledak, seolah membahana kemudian perlahan berubah menjadi miris. "Hanya minggu pertama setelah hari pernikahan. Aku sempat dirawat di rumah sakit tahu." Mata Dinaya terbelalak. "Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" Ia berpikir Tasya melewatinya dengan cukup baik. Meski tahu bahwa rencana pernikahan yang batal adalah neraka fana bagi seorang wanita. "Aku tidak ingin menunjukkan kerapuhanku. Bahkan aku menerima hal itu sebagai pelepasan terakhir atas penderitaan dan kesedihan yang kurasa. Lalu setelahnya ... aku mulai fokus peduli pada diriku sendiri," ujar Tasya mengingat bagaimana setiap proses yang ia lalui setelah musibah yang menimpanya itu. "Kau ... benar-benar luar bisa Tasya." Tasya mengulum senyuman tipis. "Mungkin memang beginilah nasibku. Harus merasakan kegagalan menuju pelaminan." Ia mengembuskan napas panjang. Mencoba kembali mengumpulkan rasa ikhlas dalam dirinya. Tidak mendapat makanan penutup di kantin, menjadikan Tasya berniat mencari ice coffee dan cake di kafe seberang jalan. Namun baru berada di lobi, langkah kakinya terhenti oleh apa yang baru saja dilihatnya saat ini. Ravi Ardiansyah berdiri beberapa meter darinya dan tampak lelaki itu berjalan ke arahnya. "Tasya." "Sialan." Ravi terkesiap sesaat mendapat balasan secara alamiah dari Tasya. "Aku tahu kau kesal--" "Berani sekali kau datang ke sini," potong Tasya dapat melihat beberapa karyawan yang mengenali Ravi sebagai mantan calon suaminya tersebut. Bagaimana tidak, selama menjalin hubungan Tasya tentu pernah mengunggah kemesraannya dengan Ravi di media sosial. "Itu karena kau memblokir nomorku." Tasya mengepalkan tangannya. Ia menahan air matanya yang mulai tergenang. Rasa sakit hati oleh perbuatan Ravi adalah sesuatu yang akan selalu membekas dalam dirinya, tetapi rasa muak dan malu dengan kemunculan Ravi di tempat kerjanya, tentu hal yang sama sekali tidak bisa ditolerirnya. "Kau benar-benar tidak tahu malu. Apa maumu lagi? Bukankah kau sudah bebas bercinta dengan Vania?" Ravi mengambil satu langkah lebih dekat, tetapi Tasya dengan sigap melangkah mundur juga. "Tidak Tasya, bukankah sudah kukatakan bahwa aku mengalami masalah akan hal itu ... tetapi saat aku memikikranmu--" Plak! Satu tamparan keras berhasil mendarat pada pipi Ravi oleh telapak tangan Tasya. "Menjijikkan." Cukup satu kata membuat Tasya ingin segera menyingkir dari hadapan Ravi, takut ia mungkin akan membunuh lelaki itu apabila Ravi kembali membuka mulutnya. Namun ketika akan melangkah menuju elevator untuk kembali lantai tempat kerjanya, ternyata sudah banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Tentu saja, adegan tamparan yang baru terjadi adalah tontonan gratis yang mungkin sulit ditemukan, selain di sinetron atau film. Termasuk Albiru yang berdiri tak jauh darinya. Untuk sesaat, mata Tasya menangkap seringaian kecil dari sudut bibir bosnya itu. ♡♡♡

Bab 2 Chapter 2

"Bukan tidak mau, tapi Derling dulu ingin berfokus pada produk benda," bantah Albiru secara halus. "Ya ya, setelah iklan e-commerce yang sukses bulan lalu, kau ingin mencoba untuk Monitus bukan?" Albiru menjentikkan jarinya. "Monitus akan bisa memperluas jaringannya." Galan tersenyum tipis. "Baiklah, ayo kita strategi Derling dalam mempromosikan Monitus nantinya." Mendengar hal itu, Albiru segera memberi aba-aba kepada Tasya untuk memulai presentasinya. Wanita itu pun menarik napas panjang, sebelum bangkit sambil membawa flashdisk untuk naik ke sebuah podium yang mejanya telah terintegrasi dengan sebuah monitor layar sentuh yang canggih. Monitus pada dasarnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan memiliki banyak anak perusahaan pada berbagai bidang, seperti Monitus Health yang menawarkan klinik dan konsultasi kesehatan, lalu ada juga Monitus Law Firm yang bergerak pada bidang advokasi. Tempat yang kini didatangi oleh Tasya dan Albiru adalah induk dari Monitus yang mengawasi manajemen anak perusahaan tersebut. Galan secara saksama memperhatikan cara Tasya yang mempresentasikan awal rencana promosi Monitus. Dengan menyasar promosi secara digital dengan isi konten menarik, pihak Derling percaya cara itu jauh lebih baik. "Monitus selama ini menawarkan jasa, lalu bagaimana orang akan melihat hasilnya? Apakah cukup dari opini konsumen yang telah mendapatkan hasil perawatan wajahnya atau seorang wanita yang berhasil mendapatkan hak asuh anaknya setelah perceraian?" komentar Galan setelah Tasya selesai menjelaskan materi yang dibawakannya tadi. "Ya, mengambil video tentang opini dari hasil wawancara mungkin kurang efektif. Tampak seperti testimoni pada umumnya," balas Tasya berhenti sejenak. "Tetapi aku melihat sebuah program baru dari Monitus, sebuah program yang terbilang cukup konservatif dari bidang yang digeluti oleh Monitus selama ini." Tasya melirik Albiru sekilas. Ia bisa menjawab pertanyaan Galan dari hasil revisi materi presentasi oleh Albiru. "Monitus Love. Bukankah itu program terbaru Monitus yang menyasar anak muda dan rencana akan dibawahi langsung oleh anda?" Galan tersenyum dan langsung melempar pandangan kepada Albiru. "Kau benar-benar licik ya?" Ia sangat tahu bahwa rencana yang masih ingin dirahasiakannya itu pasti telah dicari oleh Albiru. "Make a wish, bukankah slogan Monitus Love yang menawarkan jasa kaula muda dalam mengatasi persoalan asmara mereka? Dan itu bukan aplikasi kencan, meski dalam draft-nya, aku melihat adanya kencan buta melalui pencocokan algoritma." Tasya melanjutkan dan ikut penasaran akan program Monitus Love tersebut. Galan mengangguk pelan. "Tidak hanya sebatas memberi bantuan akan persoalan asmara, tetapi juga ... langkah membalas rasa sakit mereka," katanya memandang lekat Tasya. "Membalas?" ulang Tasya sedikit terkejut. "Ya, apakah ... kau sudah mengalami penderitaan dan rasa sakit hati karena persoalan asmara?" Tasya terdiam mendapat pertanyaan dari Galan. Sesuatu yang telah memiliki jawabannya, tetapi terasa keluh untuk diucapkan. Akhirnya Tasya hanya bisa menganggukkan kepalanya dan itu ditatap saksama oleh Albiru saat ini. "So, make a wish and we'll make it happen." Galan berucap sambil tersenyum lebar. ♡♡♡

Bab 3 Chapter 3

Tasya sama sekali merasa tidak bersalah akan pernyataan Ravi bahwa lelaki itu mengalami impoten. Lagipula ia hanya tersulut emosi saat bercerita kepada @yourwitch. Ia juga bukan tipikal orang yang percaya akan kekuatan magis seperti itu. Meski santet online sering didengarnya. "Serius amat Neng." Sebuah suara reflek membuat Tasya mendongak, melihat Argus yang datang terlebih dahulu. Pria yang telah dikenal selama delapan tahun. Bekerja sebagai karyawan pada salah satu Badan Usaha Milik Negara dan merupakan anak pengusaha properti. "Baru pulang kerja?" tanya Tasya melihat pakaian dinas harian yang melekat pada tubuh lelaki itu. Argus mengangguk, lalu mulai menarik kursi di depan Tasya. "Tadi ada sedikit masalah, jadi nggak sempat pulang dulu. Entar kau sama Alika marah lagi." "Tentu saja. Kau kan ... lama bersiapnya," balas Tasya telah mengetahui bagaimana Argus selalu datang paling terlambat jika mereka memiliki janji temu. "Tapi kali ini Alika yang telat, tumben. Tadi aku telepon buat berangkat bareng, tapi nggak diangkat." Alika bekerja sebagai aparatur sipil negara pada salah satu kementerian yang dekat dengan kantor Argus. Jika Tasya lulusan manajemen, maka Alika adalah lulusan hukum, sedangkan Argus lulusan teknis sipil. "Paling dapat panggilan mendadak dari kepala seksinya," balas Tasya mengira-ngira. Ia masih ingat alasan Alika yang mengundurkan diri dari firma hukum terkenal, karena tidak kuat dengan tekanan selama bekerja, namun ketika memutuskan menjadi aparatur sipil negara yang kebetulan kementerian pusat, maka tidak banyak yang berubah. Alika tetap super sibuk, meski tekanan yang dirasakan wanita itu tidak seberat dulu. Pertemanan Tasya, Alika dan Argus tetap terjalin baik setelah SMA, karena masih dalam lingkup satu universitas. Meski Tasya dan Alika lah yang paling sering bertemu ketika masih kuliah. Argus mulai intens melakukan pertemuan lagi sejak lulus dan bekerja. "Oh kalian sudah datang." Kali ini Alika yang memasuki restoran. Wanita itu memakai pakaian kasual, tanda tidak dari tempat kerjanya. "Wah kau tampak segar," komentar Tasya melihat penampilan rapi Alika yang berbanding terbalik dengannya. Argus terkekeh. "Padahal cuaca cukup terik akhir-akhir ini." Alika mendengkus dan mulai duduk di sebelah Tasya. "Gus, katanya Erza selingkuh ya?" Mata Tasya membulat mendengarnya. Bukan karena bagaimana santainya Alika bertanya kepada Argus tentang kekasih pria itu yang selingkuh, tetapi fakta bahwa Erza yang tampak obsesif dan bucin kepada Argus, namun ternyata bermain di belakang sahabatnya itu. "Pasti Timo yang cerita bukan?" balas Argus membalas Timo yang tak lain sepupu Alika dan orang yang menangkap basah Erza. Timo juga adalah rekan kerjanya di kantor. Alika mengangguk tanpa ragu. "Jadi ... kalian putus?" Tasya melirik Alika, lalu mencibir. "Tentu saja Argus harus memutuskannya. Iyakan?" Ia kembali memandang ke depan untuk memastikan kepada Argus. Argus terdiam membuat Tasya dan Alika hampir bangkit dari kursi mereka. "Iya, semalam aku ke rumahnya membawakan pizza dan berkata ingin putus." Tasya dan Alika menganga mendengar hal itu. "Membawa pizza?" "Apa kau sudah gila?" Tasya dan Alika berkata hampir bersamaan. Argus pun hanya mengendikkan bahu. Kedua wanita itu langsung menghela napas panjang. Mereka bukan pertama kali mendengar kisah kelam Argus seputar percintaan lelaki itu. Sosok Argus tampak sempurna dengan tubuh tinggi, pekerjaan bagus dan berasal dari keluarga menengah atas. Hanya saja menurut Tasya dan Alika, Argus itu kurang tegas, plin-plan dan membuat semua hal seolah baik-baik saja. "Ka, untung sekarang kau jomblo. Cukup aku dan Argus yang menderita karena perselingkuhan," ujar Tasya melihat nasibnya yang sebelas dua belas dengan Argus. Alika terkekeh. "Sekarang aku tidak punya waktu dekat dengan pria. Sebentar lagi ada diklat yang harus kujalani selama sebulan." "Oh ya, Ravi gimana? Dia nggak pernah hubungin kau lagi?" tanya Alika baru mendengar Tasya membicarakan tentang perselingkuhan sang mantan. Argus ikut menatap serius Tasya, ikut penasaran. Selama satu menit, Tasya tampak berpikir sebelum bersuara. "Apa kalian pernah menghubungi Ravi setelah tahu dia berselingkuh?" Bukan menjawab, Tasya malah mengajukan balasan pertanyaan. "Aku meneleponnya dan memakinya pada hari kau bercerita," jawab Alika tanpa ragu. Tasya beralih memandang Argus setelah mendengar ucapan Alika. "Aku mengiriminya pesan berisi ujaran kebencian," kata Argus membuat Tasya berdecak. "Bilang saja kau mengirimkannya kalimat penuh sumpah serapah," balas Alika mempersoalan pemilihan kata Argus yang terdengar sangat baku. "Apa ... kalian melakukannya dengan sering?" tanya Tasya lagi. "Apa Ravi mengadu? Lelaki berengsek itu?" Mata Alika telah membeliak mendengarnya. Tasya menggeleng singkat. "Kemarin dia datang ke kantor, tapi sebelum itu ... dia mendatangi apartemenku dan berkata ... mengalami impoten." Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Tadi pagi juga mengirimkanku pesan bahwa keadaannya saat ini karena faktor psikologis dari seseorang yang menerornya." Emosi Alika langsung naik mendengarnya. Ia bahkan telah mengepalkan tangan. "Dasar pria tidak tahu malu! Masih sempatnya menyalahkanmu." "Meski aku laki-laki, tapi melihat perbuatannya padamu, dia pantas mendapatkannya," tambah Argus tidak menyangka bahwa Ravi seburuk itu. Sudah tahu salah, tapi masih bermuka tebal untuk menghubungi Tasya. "Tapi aku terakhir menghubunginya hari itu," lanjut Alika menjawab pertanyaan Tasya. Argus menganggukkan kepala. "Aku juga. Lagipula pria sepertinya hanya menghabiskan tenaga untuk mengetikkan sebuah pesan." "Oh begitu ... katanya selama hampir sebulan dia terus mendapatkan teleponan pada tengah malam dan pesan secara langsung atau pada akun media sosialnya," ujar Tasya mengingat kembali pesan yang diterimanya dari Ravi. "Atau mungkin dari Tisha, bukankah kau bilang ketika Tisha mendengarnya, dia hampir terbang dari Bali untuk menebas Ravi?" Alika berucap dan terpikirkan oleh saudari kembar Tasya tersebut. "Benar, Tisha bisa senekat itu." Sebagai saudari kembar Tasya, Argus juga cukup mengenal Tisha. Tasya mendelik. "Ya, Tisha memang awalnya sangat murka, tapi kurasa dia telah mengubur ingatan tentang Ravi. Bahkan menawariku kencan buta di Bali." Ia merasa ragu bahwa Tisha akan membuang waktunya untuk meneror Ravi. Alasan kenapa Alika dan Argus tidak bersahabat dengan Tisha, meski merupakan kembaran Tasya adalah karena sejak SMP Tasya dan Tisha telah menempuh pendidikan pada sekolah yang berbeda. Tisha sempat masuk sekolah khusus perempuan, sebelumnya akhirnya muak dan ingin masuk SMA reguler saja. Sayangnya, Tisha ternyata salah daftar sekolah dan berakhir pada SMA yang berbeda lagi dengan Tasya. Jika Tasya masuk SMA yang tergolong favorit, maka Tisha malah masuk SMA yang terkenal akan tingkat kenakalan remaja yang tinggi. Meski begitu, Tisha dapat lulus dengan baik tanpa memiliki masalah berarti. "Kalau begitu, siapa yang melakukannya?" tanya Alika heran. "Teman kuliahmu?" Tasya berdecak. "Mereka bahkan baru tahu Ravi selingkuh setelah bertanya kenapa kami batal menikah. Lagipula tidak ada yang mengenal Ravi sebaik kalian." "Rekan kerjamu?" Kali ini Argus yang bersuara. "Aku bahkan tetap mengambil cuti, karena tidak ingin membicarakannya di kantor," jawab Tasya merasa bukan itu juga. "Bagaimana jika ... itu orang asing?" Tasya mulai mengambil tebakan terakhirnya. Alika dan Argus mengernyitkan dahinya. Merasa tidak mengerti perkataan Tasya. "Maksudku ... aku sempat berbincang dengan sebuah akun di Twitter dan dia menawariku bantuan. Aku berkata ingin mengutuk Ravi ... menjadi impoten," tukas Tasya bercerita akan akun @yourwitch. Awalnya Alika dan Argus terdiam dan mencoba mencerna ucapan Tasya, sebelum akhirnya kedua orang itu tertawa keras. "Selamat malam, makanannya sudah siap." Pelayan restoran yang membawa meja troli kemudian membuat Tasya tertahan untuk mendapat balasan dari Alika dan Argus tentang perkataannya tadi. Ia saja sulit percaya, apalagi kedua sahabatnya itu. Makan malam ketiga orang itu berlangsung sambil membicarakan banyak hal, termasuk menggosipkan Albiru yang sering dikeluhkan oleh Tasya. Setelah makan malam bersama, ketiga pulang terpisah dan ketika Tasya telah sampai di apartemen, ia segera mandi lalu berganti pakaian dengan piyama. Telah bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah kepenatan bekerja, Tasya memutuskan mengecek surelnya sekali lagi. Takut akan ada pesan atau tugas mendadak dari Albiru. Ternyata tidak ada. Iseng, Tasya beralih menuju Twitter dan akun @yourwitch ternyata baru saja membuat tweets terbaru. Apa permintaanmu besok? Tasya tersenyum tipis sekilas. Ia melihat ada dua balasan di sana, ada yang meminta agar besok hujan sehingga tidak perlu menjalani ujian praktek, ada juga yang meminta agar dikirimkan album terbaru penyanyi Kpop dan terakhir adalah tambahan dari Tasya. Semoga besok masih bisa dapat cheese bagels. Tasya merujuk kepada kue yang selalu habis setiap kali dirinya singgah di kafe depan kantor pada pagi hari. Setelah melirik jam yang hampir menunjukkan pukul sebelas malam, Tasya mulai beranjak menuju tempat tidurnya. Ia tersenyum sesaat sebelum memejamkan matanya. Tujuh jam berlalu dalam kesunyian apartemen Tasya, hingga suara alarm menggema dalam kamar wanita itu. Tasya merangkak segera mematikan suara berisik jamnya yang tergelatak di meja kecil samping ranjangnya. "Ah, tidurku nyenyak juga." Masih dengan mata terpejam, Tasya merenggangkan tangan ke atas. Ia lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu Tasya menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun ketika melewati ruang tengah, ia tak sengaja melirik ke arah jendela. Menemukan langit telah mendung dengan rintik hujan. Mata Tasya mengerjap. Setelah beberapa minggu berlalu, ia baru melihat hujan turun lagi. "Kuharap aku membawa pulang kembali payungku," ujarnya sering meninggalkan payung yang dibawanya dari apartemen dan hanya tergeletak di tempat penyimpanan payung di kantor. Mengetahui hujan dan ditambah kepadatan jalanan membuat Tasya segera bergegas mandi untuk berangkat pergi bekerja. Ia tidak ingin sampai terjebak macet berjam-jam. Secercah keberuntungan seolah memihak Tasya ketika melihat payung dengan jenis kanopi yang transparan. Ia mengambil payung tersebut dan segera memakainya begitu keluar dari gedung apartemen. Untung juga, taksi langsung didapatnya begitu berdiri di tepi jalan dan kurang dari satu jam, Tasya bisa sampai di kafe depan kantornya. Menyadari perutnya yang keroncongan karena belum sarapan, membuat Tasya berpikir mengganjalnya dengan cookies dan segelas latte hangat. Namun ketika mengantre, ia dikejutkan bahwa orang di depannya adalah seseorang yang dikenalinya sedang menggerutu lewat telepon. "Pesanannu sudah jadi dan kau ingin mengubahnya?" "Baiklah, akan kupesankan lagi." Orang itu langsung menutup telepon dan membuat Tasya berani mengambil langkah maju. "Pak Galan?" Menyebut nama pria itu membuat Galan seketika berbalik dan menebar senyuman ramah. "Eh Tasya." "Apa yang Pak Galan lakukan pagi-pagi di sini?" tanya Tasya heran melihat jarak Monitus cukup jauh hanya untuk menikmati kopi di kafe tersebut. "Aku memiliki urusan di sekitar sini. Hujan ... benar-benar turun ya?" ucap Galan menoleh ke arah jendela. Tasya mengikuti arah pandang pria itu. Menatap hujan yang semakin deras saja. "Pak, pesanannya sudah siap." Suara pelayan kafe membuat perhatian Tasya beralih menemukan bahwa ternyata kedua tangan Galan telah memegang kopi dan bungkusan yang pasti berisi kue atau biskuit. "Tasya, kau mau cheese bagels ini? Kebetulan orang yang datang bersamaku tiba-tiba ingin memakan espresso brownies." Galan menyodorkan kantong kartun yang pastinya berisi cheese bagels yang dimaksudnya. Tasya mengerjap mendengar tawaran Galan tersebut, namun ia tetap menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih Pak Galan." "Sip. Aku duluan ya," pamit Galan dengan minuman dan camilan yang dibelinya. "Mbak, silakan." Tasya tidak sempat berpikir, karena pelayan kafe telah memintanya maju. Ia pun memesan latté hangat sebagai pelengkap cheese bagels yang diterimanya dari Galan tadi. Namun ketika akan keluar kafe, Tasya teringat akan sesuatu. "Hujan, cheese bagels?" Tidak salah lagi, itu adalah kedua hal yang ditulis pada balasan tweets @yourwitch. ♡♡♡

Lanjut baca