Terpikat Pesona Tuan Remington
Bab 1 TPTR BAB 1

“Barang selanjutnya yang akan kami lelang berhasil menggemparkan dunia perhiasan.” Sang pembawa acara mengeluarkan senyum misteriusnya lalu menyingkir dari tengah panggung. Lima detik kemudian seorang wanita keluar dari sudut panggung dengan peti kaca berisi kalung dengan liontin berlian biru besar. Rantai kalung itu dihiasi berlian putih yang lebih kecil. Siapa pun yang melihatnya bisa tahu kalau kalung ini akan mencapai harga fantastis. Sang pembawa acara kembali berjalan ke tengah panggung, menatap orang-orang yang sibuk mengagumi kalung itu. Dia berdeham. “Saya akan membuka harga untuk kalung yang sangat cantik ini seharga 500 juta.” Terdengar kasak-kusuk suara sebelum seorang wanita bergaun merah ketat dengan topeng yang juga berwarna merah mengangkat papan nomornya lalu berkata, “700 juta.” Sang pembawa acara tersenyum. “700 juta satu, 700 juta dua, tujuh ra—“ “750 juta,” potong seorang pria botak berjas hitam dan kemeja putih. Pembawa acara itu menepuk tangannya sekali. “750 juta. Ada yang ingin menawar harga lebih tinggi lagi?” Terjadilah pertengkaran harga antara si wanita bergaun merah dan si pria berkepala botak. William memperhatikan mereka dalam diam. Tidak tertarik. Pikirannya melayang ke seseorang. Seorang perempuan yang berhasil merebut hatinya dan menghancurkannya dengan berkeping-keping. Kalau saja perempuan itu tidak memutuskan hubungan mereka, William pasti akan mengangkat papan nomornya dan menawarkan harga paling tinggi hingga tidak ada siapa pun yang bisa mengalahkannya. William dapat membayangkan bagaimana penampilan mantan kekasihnya ketika memakai kalung tersebut. Mata William terpejam selagi bayangan sang mantan kekasih muncul. Saat helai demi helai pirangnya tertiup angin hingga berantakan. Senyumnya yang menampilkan deretan gigi putih dan rapi. Mata biru yang selalu menatap William penuh cinta, yang mungkin tidak akan pernah sama lagi. William membayangkan kalung itu bertengger manis di leher jenjang miliknya. Bagaimana kalung itu menyatu bersama rambut pirang miliknya. Indah. Bibir William terangkat sedikit kala membayangkan hal yang tidak akan pernah terjadi. Lamunan William buyar saat ketukan palu terdengar. Pada akhirnya wanita bergaun merah yang memenangkan pertengkaran merebutkan kalung berlapiskan berlian itu dengan harga lima miliar. William bisa membelinya dengan harga sepuluh miliar. Seratus miliar pun sanggup aku beli.  Wanita yang tadi membawa keluar peti kaca itu kembali untuk menyimpan kalung hingga akhirnya sampai ke tangan si wanita bergaun merah. Sang pembawa acara mengoceh di tengah panggung. Tentang betapa menyenangkannya malam ini. Banyaknya barang-barang antik dan mewah. Namun, William tidak mendengarkan semua itu. Dia ingin acara ini segera berakhir dan pulang ke rumah. Harapannya tidak terkabul karena sang pembawa acara berkata kalau masih ada satu barang terakhir. Barang yang katanya dapat membuat mata semua orang yang ada di ruangan tertutup ini melotot. Kali ini dua orang pria mendorong sesuatu yang ditutup oleh kain hitam dan diletakkan di tengah ruangan. Melihat peti kaca yang digunakan amat besar, William menebak kalau barang yang satu ini adalah patung. Pikirannya berkelana, sehebat apa sebuah patung hingga membuat semua orang melotot? Menurutnya, patung apa pun bentuknya tetaplah sama. Pajangan. Tidak bisa dibawa pergi ke mana pun. Tidak bisa dipamerkan setiap saat. Hanya benda mati besar yang diletakkan di tengah ruangan atau di taman dan terkadang menjadi menyeramkan saat malam hari. William tidak tertarik. Dia berniat untuk pergi sebelum acaranya selesai, tetapi niatnya hilang begitu kain hitam itu disingkap. Sang pembawa acara benar. Semua mata orang yang ada di sana membulat dengan sempurna. Yang berada di dalam peti kaca tertutup kain itu bukanlah patung seperti yang William pikirkan sebelumnya. Di sana ada manusia. Manusia sungguhan. Perempuan. Dengan gaun hitam ketat yang menempel erat di tubuhnya, sepatu hak tinggi bertali yang juga berwarna hitam, dan sebuah kalung murahan yang melingkari lehernya. Rambut cokelat keemasan perempuan itu dikepang dan disampirkan ke bahu kanannya. Sebuah topeng kecil berwarna hitam bertengger manis di wajahnya. Semua orang tahu apa yang akan terjadi padanya saat berhasil terjual. Sang pembawa acara membuka harga sebesar 25 miliar untuk perempuan itu, yang berdiri tanpa berbicara apa pun. “26 miliar,” ucap seorang pria yang memiliki janggut tebal di dagunya dengan topeng biru tua yang menutupi setengah wajahnya. William ikut menoleh ke belakang seperti yang lainnya. William mengangkat papan nomornya lalu berkata, “30 miliar.” Dia lalu menoleh ke belakang kembali, bertatap mata dengan pria berjanggut itu. “32 miliar.” Si pria berjanggut kembali mengucapkan harga, membuat William mengepalkan tangannya kuat. “40 miliar.” Kini si pria berjanggut yang mengepalkan tangannya. Dia menatap William tajam meski tidak tahu siapa orang di balik topeng itu. Pria berjanggut itu kembali mengangkat papan nomornya, mengucapkan nominal besar lainnya dan berharap William tidak bisa menandinginya. Namun, harapannya langsung pupus begitu William mengangkat papan nomornya lagi. “100 miliar!” seru William lagi, merasa sudah lelah tawar menawar. Dia yang awalnya tidak tertarik sama sekali pada acara lelang ini dan berpikir tidak akan mengeluarkan uang sedikit pun, justru menjadi orang yang paling banyak mengeluarkan uang. Tujuan awalnya hanya datang untuk memenuhi undangan. William sendiri tidak menyangka dia akan membeli seorang perempuan dari pasar lelang dan berebut dengan seorang pria yang tidak dia ketahui wajahnya. Sebelum si pria berjanggut sempat memberi harga baru, sang pembawa acara terlebih dahulu mengetuk palu, menyebutkan nomor milik William, dan berkata selamat padanya. Seperti sebelumnya, dua pria itu datang ke panggung untuk membawa si perempuan yang sudah berhasil terjual kembali ke dalam. Nantinya William akan menemui sang pembawa acara lalu membawa pulang ‘barang’ yang dibelinya. Mata William terus menatap ke arah perempuan itu, bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan olehnya. Selepas kepergian peti kaca besar itu, sang pembawa acara kembali bersuara. Mengatakan betapa malam ini sungguh luar biasa. Semua perkataannya diulang-ulang untuk mengulur waktu hingga membuat William tidak tahan dan memutuskan untuk pergi dari sana. William membuka pintu berwarna emas sedikit dan keluar. Segera dia menarik napas panjang. Rasa sesak di dadanya sedikit berkurang, tetapi tidak menyembuhkan. William memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar gedung ini hingga sebuah email pemberitahuan datang padanya. Tampaknya William tidak butuh email pemberitahuan itu karena sekarang dia tengah melihat perempuan tadi. Perempuan yang dia beli dengan harga 100 miliar. William akhirnya memutuskan untuk mengikuti dua orang pria yang membawa perempuan itu hingga ke ruangan lainnya. Ruangan tempat menyimpan barang lelang. Kalung berlian biru itu juga ada di sana, membuat bayangan sang mantan kekasih kembali datang. “Saya ingin mengambil ba–perempuan itu.” William menunjuk si perempuan lalu menampilkan papan nomornya. Dua pria tadi memanggil seseoran dari ruangan lain. Pria tua berambut putih tersenyum ramah begitu keluar dari sana. Dia menyodorkan secarik cek pada William yang langsung dia tulis dengan harga kesepakatan sebelumnya. Sang pria tua meminta dua pria sebelumnya untuk mengantarkan perempuan itu ke mobil William, tetapi William menolak. Tangan kiri William terselip di pinggang perempuan itu ketika dia membawanya pergi dari gedung mewah itu. Menyusuri lorong sunyi yang hanya diisi oleh gema sepatu mereka berdua hingga tiba di parkiran yang penuh dengan lampu dan penjaga. Salah satu penjaga menghampiri William dan memberikan kunci mobil padanya yang diterima William tanpa mengucapkan satu kata pun. William membuka pintu mobil untuk perempuan itu. Sekilas mereka bertatapan dan William dapat melihat. Tidak ada kehidupan di mata abu-abu milik perempuan itu.

Bab 2 TPTR BAB 2

Mobil William melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan, mengingat waktu yang sebentar lagi tengah malam. Tidak ada percakapan apa pun selama perjalanan. Merasa sesak karena kesunyian yang menyelimuti, tangan William bergerak menuju head unit dan menyalakan musik. Setidaknya nyanyian seseorang yang William hanya tahu nama dan wajahnya cukup mengusir kesunyian. Sesekali William melirik pada perempuan di sebelahnya yang tengah menyandarkan kepala ke jendela. Matanya menatap kosong jalanan yang dilalui empat sampai lima mobil. Setir berbelok ke kiri, menjauh dari rumah besar miliknya, menuju sebuah hotel yang tadi sempat William masukkan ke Maps. Tadinya Ia berencana untuk membawa perempuan itu ke rumahnya, tetapi dia berubah pikiran. Mengingat banyaknya kenangan bersama sang mantan kekasih di sana membuat William sering kali terbayang wajahnya. Dia tidak ingin membayangkan wajah itu, rambut pirang, atau mata biru milik seseorang yang pernah sangat disayanginya. Kalau bisa, wajah perempuan di sampingnya ini yang nanti akan memenuhi kepalanya. Setidaknya untuk satu malam ini saja. Dari kejauhan William dapat melihat gedung hotel. Tinggi dan gemerlap karena cahaya lampu. Beberapa jendela lampunya tidak menyala, menandakan kalau kamar tersebut masih kosong. William mengembuskan napas lega dalam hati. Dia harus mencari hotel lain kalau tidak ada kamar kosong di sini. Tangan William bergerak memutar setir menuju jalanan menurun, tempat di mana mobil-mobil lain terparkir. Begitu selesai memarkir mobilnya, William segera mengajak perempuan itu masuk ke dalam hotel. Topeng masih melekat di wajah William dan perempuan itu. William tidak berniat membukanya sampai masuk ke dalam kamar hotel. Beberapa orang yang berlalu-lalang di lobi mengenakan pakaian mewah dan topeng. Jelas sekali mereka orang-orang yang menghadiri acara lelang. Semua mata mereka tertuju pada William dan perempuan di sebelahnya, sang bintang utama di acara lelang malam ini. “Tolong kartu identitasnya,” kata resepsionis setelah William menyampaikan maksudnya. William mengeluarkan dompet dari saku jasnya dan memberikan kartu identitas pada si resepsionis. Dia lalu membuka topengnya sedikit, hanya agar si resepsionis dapat memastikan kalau kartu yang William berikan tidak palsu. Selepas membayar biaya hotel dan mendapatkan kunci kamar berbentuk kartu, William menuntun perempuan yang sejak tadi hanya diam ke arah lift. Kartu kamar William tempelkan di papan sensor hingga pintu lift terbuka. Tombol dengan angka lima belas menyala begitu ditekan oleh William. LCD di atas pintu lift perlahan mengganti angkanya makin besar seiring makin tinggi lantai yang dituju. Ketika LCD menunjukkan angka tujuh, lift berdenting dan pintu lift terbuka, menampilkan dua orang berbeda jenis kelamin yang menempel satu sama lain lalu terkejut ketika lift datang. Mereka berdua masuk, masih saling merangkul dan cekikikan. Dulu William pernah mengalami hal seperti mereka. Dulu. Sebelum semuanya menjadi berantakan. Mereka kembali melanjutkan kegiatannya setelah menekan tombol angka satu. William menatap mereka sebentar sebelum kembali memperhatikan LCD. Sekilas sudut matanya menangkap gerakan dari perempuan di sebelahnya. William menebak perempuan itu merasa tidak nyaman dengan pemandangan di depannya.  Sejujurnya William juga, tetapi karena topeng yang menutupi seluruh wajahnya kecuali mata kanan, tidak akan ada yang tahu seperti apa ekspresi dirinya saat ini. Lift berdenting untuk kedua kalinya. Kali ini sampai di lantai yang William tuju. Segera dia menarik gadis di sampingnya dan berjalan dengan cepat menuju kamar 1583. Kartu kamar William tempelkan di kenop pintu hingga berbunyi ‘bip’ lalu membuka pintu. Kamar luas berisi satu ranjang ukuran paling besar yang sedikit tersembunyi, satu set sofa di tengah ruangan dengan sebuah televisi, lemari yang memenuhi satu dinding penuh, kamar mandi berada di sebelah kanan pintu masuk, dan bar yang penuh dengan minuman berbagai merek. Begitu perempuan bergaun hitam ketat itu masuk ke dalam, William menutup pintu. Dia berjalan menuju sofa, meninggalkan si perempuan di depan pintu. Tangan William bergerak melepas kancing jas lalu menyampirkan jas itu ke lengan sofa. Dasi yang sejak tadi melekat kuat di kerah kemejanya menjadi pilihan keduanya. William mendudukkan tubuhnya di sofa panjang. Matanya terpejam selagi kepala dan tubuhnya menyender, tenggelam di dalam empuknya sofa. Beberapa detik kemudian mata tajamnya kembali terbuka dan melihat ke arah perempuan yang masih berdiri di depan pintu. “Kemarilah,” ucapnya sembari melambaikan tangan.  Perempuan itu dengan ragu berjalan ke arahnya. William dapat melihat tangan perempuan itu yang bergetar. Ini pertama kalinya William melihat tanda-tanda kehidupan darinya. Sejak tadi perempuan yang ikut bersamanya dari gedung di mana acara lelang digelar hingga sampai ke hotel ini hanya diam saja, berjalan mengikuti William tanpa ada kata atau gerakan apa pun darinya. William memperhatikan perempuan itu selama beberapa detik sebelum berkata, “Buka bajumu.” Perempuan itu diam, tidak berkata ataupun bergerak, tetapi tangannya bergetar makin hebat. Dia menggigit bibir bawahnya seiring tangannya yang terus bergetar. William menunggu dalam diam. Hingga beberapa menit kemudian perempuan itu masih saja tidak melakukan apa yang William perintahkan dan membuatnya berdiri. Melihat William yang beranjak dari sofa, perempuan itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, berlutut di depan lelaki yang membelinya di lelang. “Maaf,” cicitnya, “Aku—aku tidak bisa melakukannya.” Air mata meleleh membasahi wajah perempuan itu. “Bukan aku yang ingin menjual diri di acara tersebut. Aku dijebak.” Perempuan itu mengangkat kepalanya, menatap ke arah William yang menunduk. Wajahnya berkilau ketika terkena cahaya lampu. Bibirnya sedikit berdarah karena terus-terusan digigit dengan kencang. Kedua tangan perempuan itu mencengkeram celana hitam milik William sambil terus mengucapkan kalau dirinya tidak bisa melakukan apa yang William pinta. William tidak bereaksi apa pun selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk berjongkok di depan si perempuan. Tangan William bergerak ke arah kepala perempuan itu, menarik tali yang mengikat topengnya. Begitu topeng terbuka, William dapat melihat jelas wajah perempuan itu. Alis hitam tebalnya, bulu mata lentik yang basah oleh air mata, iris abu-abu yang menyimpan beribu macam kesedihan, hidung kecil dengan tulang yang tinggi, dan bibir penuh yang meneteskan darah. Kini tangan William bergerak melepas topengnya. Lagi-lagi perempuan itu menggigit bibirnya. “Kumohon ... lepaskan aku.” “Melepaskanmu?” William bertanya. Wajahnya tidak menampakkan ekspresi apa pun. “Setelah saya mengeluarkan uang sebesar 100 miliar?” Si perempuan menunduk. Tangannya meremas gaun hitam ketatnya hingga kusut. Apa yang dibicarakan William ada benarnya. Tidak mungkin lelaki itu akan melepaskan dirinya begitu saja setelah mengeluarkan uang sebesar 100 miliar. Bertahun-tahun kerja pun dia tidak yakin bisa membayar uang tersebut. “Aku ... aku masih perawan,” lirih perempuan itu masih menunduk. Mendengarnya William mendengus. “Kamu pikir saya peduli?” William berdiri, mengusap rambutnya kasar sembari menghela napas. Ditatapnya perempuan yang masih setia berlutut dan menunduk itu. Perasaan tidak tega sedikit mengetuk pintu hati William, tetapi mengingat uang yang dia keluarkan, William mengeraskan hatinya. “Siapa namamu?” tanya William beberapa detik kemudian sembari membuka kancing rompinya. Si perempuan menjawab, “Sarah.” Kepalanya kini sudah terangkat, menatap William yang meletakkan rompi di lengan sofa, di atas jas, menyisakan kemeja putih di tubuhnya. William diam menatap perempuan itu. Menatap mata abu-abu yang memelas belas kasihan. Selama beberapa detik mereka hanya bertatapan tanpa melakukan apa pun hingga William beranjak dari sana menuju kamar mandi.

Bab 3 TPTR BAB 3

Sarah tetap dalam posisinya ketika air pancuran di kamar mandi mulai menyala. Sarah takut kalau dia bergerak sedikit saja akan membuat masalah menjadi makin runyam. Detik-detik yang terlewati rasanya menjadi sangat suram dan lama, seperti sudah puluhan tahun terlewati. Tiga menit kemudian suara pancuran air berhenti dan tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan William yang terbalut jubah mandi berwarna putih dengan garis-garis biru tua tipis di sepanjang lengan. Saat mata milik Sarah bertemu dengan William, Sarah dengan cepat menundukkan kepala. William berjalan ke lemari dan mengambil satu dari lima piama yang ada di dalam sana lalu kembali ke dalam kamar mandi. Begitu keluar, tubuh William sudah terbalut sempurna oleh piama yang di sakunya terdapat nama hotel. Sarah masih dalam posisinya semula, tetapi dari sudut matanya dia dapat melihat William yang melangkah menuju bar. “Pergilah mandi,” ucap pria tampan itu sembari menuangkan cairan bening dari botol transparan ke gelas kecil. Awalnya Sarah merasa ragu, tetapi dia memutuskan untuk melakukan hal yang William perintahkan. Lagi pula, tubuhnya memang sudah terasa lengket. Pikirannya pun harus dijernihkan di bawah guyuran air. Mungkin nanti setelah mandi dia dan William bisa berbicara mengenai masalah ini dan membuat kesepakatan. Sebelum masuk ke kamar mandi, Sarah mengambil piama dari tempat yang sama dengan William. Kamar mandi dengan nuansa emas dan putih menyambut kedatangan Sarah. Aroma sampo dan sabun yang sebelumnya digunakan William masih tersisa. Sarah berjalan ke arah wastafel lalu menatap pantulan dirinya di depan cermin bulat besar yang terdapat lampu di belakangnya. Wajahnya terlihat amat lelah, matanya merah dan riasannya hancur. Tatapan Sarah beralih ke deretan botol-botol perawatan kulit, mencari satu botol yang bertuliskan cairan pembersih makeup. Botol itu berada di ujung, tertutup oleh sabun muka. Sarah beralih mengambil kapas yang berada di rak yang tergantung di dinding. Dalam diam Sarah membersihkan wajahnya. Setelah memastikan seluruh wajahnya sudah bebas dari riasan, Sarah mulai melepaskan gaun hitamnya yang kemudian dia taruh di keranjang berisi kemeja dan celana milik William. Pakaian dalam Sarah letakkan di rak samping kapas karena nantinya dia akan memakai dua benda itu lagi. Tidak mungkin Sarah tidak memakai pakaian dalam, terutama setelah menolak perintah William sebelumnya. Sarah pun mulai membasahi tubuhnya dengan air yang mengalir dari pancuran.  Air yang membasahi tubuhnya mengantarkan memori-memori menyakitkan yang ingin Sarah buang jauh-jauh. Masih Sarah ingat hari-hari itu, hari di mana neraka tampaknya jauh lebih baik. Ingatan paling buruk dalam hidupnya mulai datang. Saat itu Sarah baru saja pulang kerja, lebih tepatnya dipecat secara sepihak. Sepanjang perjalanan pulang Sarah sudah menahan tangis, dia tidak tahu lagi bagaimana mencari pekerjaan lain, mengingat sulitnya mencari kerja sekarang. Namun, begitu sampai di rumah, bukan sambutan hangat yang menyambutnya, justru sebuah tamparan keras di pipi hingga membuat gadis bersurai cokelat itu tersungkur. “Maksud kamu apa nyimpen uang begini? Saya bilang kasih semua gaji kamu ke saya. Mau jadi anak durhaka kamu?!” Sarah mengangkat kepalanya, melihat lembaran uang berwarna merah di tangan seseorang yang baru saja menamparnya. Uang yang sengaja Sarah simpan seandainya ada keperluan penting dan mendadak. Dengan cepat Sarah berdiri, berusaha merebut kembali uang itu, tetapi dirinya kalah cepat. “Ayah, tolong, balikin uang Sarah. Itu buat keperluan penting. Aku butuh uang itu, Ayah,” pinta Sarah dengan memelas. Sang ayah menepis tangan Sarah. “Halah! Palingan juga mau kamu beliin barang-barang gak guna!” Jari telunjuk sang ayah mendorong kepala Sarah hingga membuatnya mundur beberapa langkah. “Harusnya kamu, tuh, sadar diri. Uang yang saya keluarkan buat ngurus kamu gak sebanding dengan ini!” makinya lagi. Sarah menggeleng. Bulir-bulir bening mengalir keluar dari pelupuk matanya. Sarah masih berusaha untuk mengambil uang itu yang berujung kembali ditampar oleh sang ayah. Namun, Sarah tidak menyerah. Dia terus berusaha merebut uang yang mati-matian dikumpulkannya. Sarah perlu uang itu, apalagi dirinya baru saja dipecat. “Dasar anak sialan!” murka sang ayah saat Sarah berhasil merebut sebagian uangnya. Melihat wajah ayahnya yang memerah karena murka, Sarah gemetar. Ayahnya memang selalu marah, tetapi kali ini berbeda. Rasanya Sarah seperti melihat iblis yang baru saja lepas dari neraka. Tepat sebelum sang ayah mengayunkan botol beling berwarna hijau bekas minuman alkohol yang dikonsumsinya hampir setiap hari, Sarah melarikan diri. Gadis itu berlari tanpa alas kaki, menyebabkan rasa perih ketika kakinya menginjak kerikil. Pandangannya buram karena air mata yang tidak kunjung berhenti, membuatnya tidak melihat bongkahan batu di depan kakinya. Belum sempat Sarah meratapi rasa sakit sehabis jatuh, rambutnya ditarik dengan kencang dan tubuhnya diseret. Tangan Sarah menggapai batu yang tadi membuatnya terjatuh. Dia gunakan batu itu untuk memukul kaki sang ayah hingga genggamannya di rambut Sarah lepas. Tidak mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Sarah berlari. Menjauh dari sana. Dari rumah itu. Dari uang yang berhamburan di tengah jalan. Dari orang yang selalu berkata dirinya adalah ayah padahal sebenarnya dia seorang iblis yang menyamar. Sarah terus berlari, mengabaikan sang ayah yang memanggil namanya dengan murka. Sarah terus berlari hingga kegelapan menyelimuti dirinya. Sarah membuka mata. Melihat tembok marmer berwarna putih dan emas lalu tersadar kalau tubuhnya menggigil. Cepat-cepat Sarah mematikan pancuran air. Keriput di jemarinya menandakan seberapa lama Sarah telah berdiri dibawah pancuran air. Sarah pun mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu memakai piama yang tadi dibawanya. Sarah membuka pintu kamar mandi dengan pelan dan mengintip. Tidak ada suara apa pun dari kamar. Baik suara televisi atau denting gelas yang saling bertabrakan. Begitu keluar dari kamar mandi, Sarah melihat William yang sudah terlelap di atas ranjang. Kaki Sarah melangkah ragu menuju ranjang dan berhenti dua langkah sebelum sampai lalu beralih melangkah menuju sofa. Embusan napas lega Sarah keluarkan begitu tubuhnya menyentuh sofa empuk itu. Sofa yang sekarang dia tiduri bahkan rasanya lebih nyaman dari ranjang di rumah lamanya. Sarah tidak langsung tidur, dia kembali mengingat. Ingatan saat tersadar di sebuah kamar yang bukan miliknya. Terkurung di sana selama berhari-hari sampai akhirnya dia harus berdiri di atas panggung di mana orang-orang berebut untuk membeli dirinya. Sarah memaksakan matanya terpejam sedetik kemudian, berusaha untuk tidak mengingat hal apa pun lagi. Tak lama setelah Sarah terlelap, William membuka matanya. Rasa haus mencekiknya dalam tidur. Masih setengah sadar William berjalan menuju bar dan membuka kulkas. Sebuah botol air mineral menjadi pilihan William. Segera dia meminumnya hingga isi botol itu tersisa setengah. Pikirannya mulai kembali jernih dan William mengingat Sarah. Terakhir kali dia tinggal tidur perempuan yang sedang mandi itu. Kepalanya menoleh untuk mencari keberadaan perempuan itu dan menemukannya di sofa. Setelah meletakkan botol kembali ke dalam kulkas, William berjalan ke arah Sarah, memperhatikannya yang sedang tidur. “Dijebak, ya?” gumam William mengingat apa yang diucapkan Sarah sebelumnya. William lalu mengangkat Sarah dengan hati-hati dan memindahkannya ke ranjang. Setelahnya William merebahkan diri, miring menghadap perempuan di sebelahnya. Tangan William terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sarah ketika dia menyadari luka di bibir perempuan itu. William bangkit kembali, berjalan menuju kamar mandi dan mencari kotak P3K di setiap laci. Kotak P3K itu ada di dalam laci wastafel. Dengan hati-hati William mengobati luka di bibir Sarah, berusaha setenang mungkin agar Sarah tidak terbangun. Selepas meneteskan obat merah, William menggunting kecil plester, seukuran luka, lalu menempelkannya. Pekerjaannya berhasil dengan sempurna tanpa membangunkan Sarah. William segera membereskan semua benda yang dia pakai untuk mengobati dan menyimpan kotak P3K di nakas lalu kembali merebahkan diri. Mata William terpejam, mencoba untuk kembali tidur.

Lanjut baca